Senin, 16 Mei 2011

The Kids Are All Right (2010)


Director : Lisa Cholodenko
Cast : Annette Bening, Julianne Moore, Mia Wasikowska, Mark Ruffalo, Josh Hutcherson
Rate : 4/5


Tiap tahun pasti ada saja film bagus yang berasal dari tangan sineas pinggiran. Lisa Cholodenko yang mengaku jika The Kids Are All Right terinspirasi dari kehidupan pribadinya, yang mana memang membuat film ini jauh lebih personil dalam artian tidak meluber ke mana-mana. Titik fokus yang diperlihatkan memang kiasan cinta, tapi taburan sisi-sisinya juga yang menjadikan lebih spesial. Menyingkirkan opsi cita tadi, LIsa menyisipkan pesan singkat bagaimana cara bergaul, relasi sejenis dalam satu atap, hubungan keluarga, serta kepercayaan diri masing-masing. Memang Lisa tidak sendiri menulis skripnya, tapi kebolehannya memadu-padankan intrik tadi harus kita apresiasikan. Saya tidak kenal siapa itu Stuart Blumberg, tapi yang jelas karyanya ini begitu menyentuh.

Nic dan Jules adalah pasangan sejenis yang hidup dengan dua orang anak. Nic 'menelurkan' Laser, sedangkan Jules beranak seorang Joni. Saat kedua anak tersebut menginjak umur 18 tahun, mereka mulai menguntit, dari sperma siapa mereka berasal. Semula, pertemanan mereka dengan pemberi bibit ini diduga biasa saja. Namun kehadirannya memberikan dampak lain. Kehidupan rumah tangga Jules dan Nic mulai ada sedikit singgungan. Anak-anak mulai membangkang, dan Jules serta merta butuh seks yang berbeda dan sialnya itu ada pada diri Paul (sang pendonor sperma tadi).

Ketika saya tahu ada siapa saja yang bermain dalam film ini, dan nama Annette Bening muncul, ketika itu pula saya memasukkan film ini dalam list wajib tonton. Bukan apa, Annette salah satu aktris Hollywood yang selalu stabil dalam memberikan suguhan aktingnya. Tak terkecuali di sini. Sebagai Nic, si 'pejantan' rumah tangga ini benar-benar bermain cemerlang. Tampilan depresi, cemburu, lucu, serta perasaan sayang ditumpahkannya begitu saja. Chemistry yang menawan dengan Julianne Moore semakin memperkuat cita rasa film ini. Moore bukan hanya sebagai pendukung, tapi juga poin penting bagaimana film ini menjadi sangat hidup. Ruffalo yang jarang bermain santai, kali ini cukup memberikan pesona yang berbeda. Inilah mengapa Ruffalo dilirik juri Oscar untuk slot nominasi aktor pendukung terbaik.

Film ini sendiri memang jatuhnya hanya sebagai sebuah film keluarga dengan intrik cinta perselingkuhan di dalamnya. Kerennya, naskahnya tadi tidak terjebak pada kubangan tadi. Dengan cerdik, penulis naskah kita berhasil melemparkan dialog-dialog lucu sarkastik yang sangat memorebel. Selain itu juga, penempatan karakter yang tidak hanya tempelan dalam dunia film belaka. Ini bisa saja terjadi di kehidupan kita (oke, kecuali dunia lesbi satu atap), lengkap dengan segala permasalahannya. Namun sayangnya, ada sedikit kekurangan The Kids Are All Right yang mungkin sedikit fatal. Mengapa Jules diibaratkan sebagai perempuan murahan dengan mudahnya jatuh cinta kepada Paul? Padahal hubungan Jules dan Nic sudah terhitung belasan tahun. Walaupun tidak dipaparkan dengan jelas, The Kids Are All Right tetap tidak kehilangan tajinya.

Lisa Chodolenko berhasil bermain dalam area kerasnya Hollywood dan sukses bersebelahan dengan film-film sineas besar semisal True Grit dan Inception. Dengan tema sederhana plus kandungan feminis dan sensualitas yang cukup pakem, The Kids Are All Right terpuji berkat sederetan akting pemainnya dan dipuji karena naskah apiknya. Pesan singkatnya: cinta memang bak sekeping cokelat. Bentuknya menggugah perhatian, aromanya menusuk indera pembau, rasanya menggigit lidah yang mengunyhnya, tapi sekali kena uap panas sekecil apapun suhunya, cinta pasti cepat melumer. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar