Minggu, 22 September 2013

This Is the End (2013)

Saat Seth Rogen untuk pertama kalinya keluar kadang dan langsung dipasangkan dengan si seksi Heigl, 

Sabtu, 29 Juni 2013

World War Z (2013)


Director: Marc Foster
Cast: Brad Pitt, Mireille Enos, Daniella Kertesz, David Morse
Rate: 3/5


Zombie tidak akan pernah punah. Bagaimana mau punah jika cerita kehidupan mereka selalu diumbar-umbar dengan menambahkan efek yang lebih mencekam dan dramatis. Baru kelar sebuah serial ternama yang juga mengedepankan zombie, The Walking Dead. Serial itu populer dan disukai karena jalan ceritanya yang menarik dan tampilan zombie-nya juga yang masuk akal. Jauh sebelum ini, era Resident Evil masih di jalan yang benar juga menumbuhkan rasa baru di kalangan perzombian. Muncul lagi 28 Days Later yang disusul sekuelnya, Dawn of the Dead dari tangan midas Zack Snyder, Shaun of the Dead yang brilian itu, hingga zombi kekanak-kanakan lewat Warm Bodies. Semuanya mencerminkan zombi dengan tipe dan keunikan masing-masing. Tak tinggal diam, di bawah naungan Plan B kepunyaan Brad Pitt, Marc Foster ikutan latah dan mengangkat novel karangan Max Brooks yang bernafaskan zombi juga. Kita tidak akan menemukan unsur komedi seperti di Zombieland, bahkan sebaliknya. Usungan tema basi ini dibuat seekstrim mungkin. Dan seperti ingin menekan budget, Brad Pitt pun diajak untuk menjadi pemeran utama.

Jika Anda sudah menonton Contagion, mungkin jika menonton permulaan World War Z akan langsung teringat dengan film tersebut. Dari awal, tanpa disuruh pemanasan, kita sudah ditempatkan di kursi dengan mata fokus ke layar. Pensiunan anggota PBB yang dipaksa untuk menemukan jalan keluar atas virus mematikan yang belum diketahui penyebabnya. Sebagai imbalan, istri dan anaknya boleh ditempatkan sementara di kapal raksasa yang menampung sebagai kecil masyarakat yang masih selamat. Perjalanan panjang dari negara satu ke negara lainnya membuahkan hasil yang positif walaupun sepanjang perjalanan tadi harus diisi dengan momen-momen yang tidak akan pernah ia bayangkan sebelumnya.

Untuk film yang mengatas-namakan zombi, World War Z telah memberikan apa yang kita harapkan. Adrenalin yang dipompa mati-matian memang sejajar dengan banyaknya adegan mematikan di sepanjang film. Belum lagi sosok zombinya sendiri yang jauh lebih sangar dari yang dimiliki I Am Legend. Dengan kecepatan berlari di atas rata-rata, memang sungguh mustahil jika kita ingin lolos dari kejaran mereka. Lebih parahnya lagi, infeksi yang terjangkit juga menular dengan amat cepat. Kontaminasi yang terjadi tak lebih dari 30 detik. Sejauh ini, Marc Foster sukses membangun tempo dan memainkan emosi penonton. Dan penulisan naskah yang disadur dari novelnya pun saya nilai pas dan tidak berlebihan. Ditambah dengan dukungan musik yang membahana sepanjang film serta sosok Brad Pitt yang menjadi satu-satunya tunggangan Foster dari departemen aktingnya.

Hanya saja, ya hanya saja drama yang menyelimuti World War Z semacam digampangkan begitu saja. Apalagi mengingat ending dan penyelesaian masalahnya terlalu mudah jika tidak mau dibilang membodohi. Klimaks yang dilempar setinggi mungkin tadi tiba-tiba dihempas begitu saja. Belum cukup juga, dan masih di ranah dramanya, ada banyak kejanggalan yang saya rasa dari film ini. Baik seputar kematian maupun teknis yang berhubungan dengan pesawat terbang. Jika saja film ini tidak berusaha menjadi film porak-poranda yang cerdas, hal-hal kecil akan luput dari perhatian. Sayangnya, Foster yang kita kenal cekatan dalam memberikan drama, di sini malah seperti kehilangan kendali akibat terlalu fokusnya untuk memerangkan aksi untuk film ini. Dan, tak ada satupun tokoh di film ini yang bisa kita jadikan panutan ataupun sekadar sosok cermin, terlebih lagi tampilan seorang ibu yang cengeng di kala genting tersebut.

Sudah bisa ditebak, penilaian saya untuk film ini terpecah menjadi dua, sangat bagus dan atau sangat buruk. Seperti yang sudah-sudah, saya selalu menghiraukan kelemahan kecil untuk film yang diproduksi di musim panas. Walaupun tidak sepenuhnya berbaik hati, dan saya masih mengesampingkan ego saya, World War Z tidak akan saya kutuk begitu saja. Adegan menyeramkan di film ini tidak mudah dilupakan begitu saja. Khusus Plan B, saya lihat sejauh ini eksistensi mereka semakin dipertanyakan. Walaupun Brad Pitt memegang benderanya, tapi rasanya PH ini harus sigap dalam bertarung di Hollywood sana. Terakhir, saya pada dasarnya merekomendasikan film ini sebagai tontonan yang bagus. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Monsters University (2013)


Director: Dan Scanlon
Voice-over: Billy Crystal, John Goodman, Steve Buscemi, Helen Mirren
Rate: 4,5/5


Kenapa banyak yang menyayangkan Pixar keluar dari zona amannya? Mengapa banyak yang tidak menyukai proyek lanjutan dari film-film sukses Pixar terdahulu? Mengapa Toy Story tidak dipermasalahkan? Sebagai produk tunggal, karya-karya Pixar memang memberikan sesuatu yang renyah dan baru. Bahkan hampir dari seluruh film keluaran Pixar Animation mendapatkan banyak gelar animasi terbaik dari berbagai ajang film. Minimal sebagai nominator. Di mata para fans, franchise Cars semacam tumbal karena keluar dari tujuan utama Pixar yang selalu menyajikan sebuah film yang manis dan mendidik. Padahal, untuk sebuah animasi Cars adalah sesuatu yang baru dan cerdas. Memang tidak sekuat apa yang diberikan Ratatouille atau Wall-E misalnya, tapi dengan ide seperti itu saja Cars sudah mempunyai daya pikat tersendiri. Sekarang Monsters, Inc. yang pada masanya dicap sebagai salah satu pelopor animasi terkini, diberikan prekuel. Secara komersil, Pixar masih menyetir apa yang diinginkan penonton. Monsters University ramai diperbincangkan, baik dengan penilaian yang positif maupun negatif.

Dikarenakan standard yang tinggi inilah mengapa Pixar selalu diklaim yang terdepan, jadi jika ada satu film yang menurut penonton lemah berarti taji Pixar sudah tumpul. Sebagai prekuel, Monsters University memberikan banyak info yang sebelumnya pernah kita temui di Monsters, Inc.. Semua yang tersaji di film tersebut perlahan dijelaskan secara detil di Monsters University. Bicara soal detail, Monsters University mempunyai detil yang diharapkan. Walapun harus saya akui jika cerita yang diangkat memang jauh dari harapan. Premis yang lemah ini mungkin menjadi penyebab mengapa Monsters University dinilai terlampau biasa saja. Tapi, di luar itu film ini memberikan lebih apa yang diinginkan untuk sebuah prekuel. Dari yang sudah-sudah, tema yang diangkat Pixar memang murni untuk menyadarkan apa itu arti persahabatan. Semua filmnya. Di samping itu, Pixar juga tidak enggan menyelipkan isu lain. Bantahan inilah yang membuat saya masih kagum atas kinerja para kru di belakang film ini. Semangat untuk memanjakan penonton bukan hanya lewat tampilan visual berhasil dimanfaatkan dengan baik.

Mematok harga tinggi untuk sebuah film memang sudah melekat di tiap penonton. Ekspektasi inilah yang kadang menjatuhkan atau malah menaikkan penilaian. Monsters University ibarat sebuah umpan sekaligus permulaan baru bagi Pixar untuk membuktikan jika Cars 2 dan Brave kemarin hanyalah produk selingan yang menguntungkan. Film ini memiliki segudang harapan yang berhasil direpresentasikan oleh sang kreator. Humor yang santai, karakteristik yang beraneka ragam bentuk beserta keunikan masing-masing, dan yang terpenting adalah bagaimana sang sutradara dalam menggiring kita untuk iba sekaligus puas dengan para tokohnya.

Layaknya film prekuel, Monsters University menjabarkan dengan sangat lengkap. Bagaimana menjadi monster yang menakutkan bagi anak kecil, dan ini mereka enyam di pendidikan formal tau ubahnya manusia yang bersekolah untuk mencapai tujuan hidupnya. Memperkenalkan kepada penonton pintu yang menjadi lorong antara dunia monster dan manusia serta tabung pendeteksi rasa ketakutan. Dan sekalipun sutradara film ini bukanlah tetua Pixar, namun tetap saja nyawa Pixar melekat kuat di film ini. Betul saja, 2 nama besar Pixar memegang penuh skrip untuk film ini. Kerja keras Pete Doctor dan Andrew Stanton berhasil mencairkan kekikukan tadi menjadi cerita yang luwes dan teknik animasi yang brilian. Dan beruntunglah Pixar memiliki aktor yang bisa menghidupkan tokoh mereka di tiap film yang mereka buat. Billy Crystal dan John Goodman ibarat Tom Hanks dan Tim Allen yang merupakan nyawa untuk kolaborasi kocak ini. Ditambah bantuan Helen Mirren yang berhasil membawa sang dosen ke ranah yang lebih menusuk dan dalam.

Saya belum menemukan kelemahan film ini, semakin saya mencari saya malah semakin suka. Jika penonton sedikit terbuka dan tidak dibayangi jika ini adalah keluaran Pixar, niscaya kepuasan menonton akan lebih dari yang mereka nilai. Untuk film yang dirilis di musim panas, ternyata Monsters University masih bisa bertengger di posisi puncak. Jelas saja, anak-anak akan menyukai film ini, dan orang dewasa akan diajak untuk mengingat sepak terjang Mike dan Sully di film sebelumnya. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Jumat, 14 Juni 2013

The Great Gatsby (2013)


Director: Baz Luhrmann
Cast: Leonardo Dicaprio, Tobey Maguire, Carey Mulligan, Isla Fisher, Joel Edgerton, Amitabh Bachchan, Elizabeth Debicki
Rate: 2,5/5


Bilamana sebuah cerita yang diisi dengan begitu banyak pemain papan atas tapi hasilnya biasa saja malah menjurus ke jelek? Kasus ini sering terjadi di belantika perfilman Hollywood. Sedikit memaksakan dengan mencampur banyak pemanis di sebuah film tanpa memikirkan alur cerita bisa jadi menggali lubang sendiri dan akhirnya filmnya terpuruk di lubang tersebut. Ambil contoh film Nine yang diserbu nama-nama berkelas Oscar tapi dinilai kurang seimbang dengan cerita filmnya yang sangat lemah. Sebelum tayang, The Great Gatsby juga kebagian isu yang sama. Disadur dari novel klasik karangan F. Scott Fitzgerald, The Great Gatsby yang awalnya akan dilempar ke pasar di tahun 2012 namun akhirnya mundur hampir setengah tahun dengan alasan sistem produksi. Tidak bisa disangkal, kutukan yang mengatakan film yang ditunda masa tayang begitu lama biasanya tidak percaya diri dengan hasil akhirnya. Dan kutukan tersebut juga menular ke The Great Gatsby.

Banyak yang menyayangkan mengapa The Great Gatsby hasilnya begitu mudah dilupakan. Padahal, jika kita melihat komposisi yang terkandung di film ini, kita seharusnya menaruh optimisme yang tinggi. Bayangkan, dengan Baz Luhrmann di belakang kamera dan nama-nama semisal Leonardo DiCaprio, Carey Mulligan, serta Tobey Maguire di dalamnya seharusnya, ya seharusnya bisa mendongkrak filmnya jauh mengawang di atas awan. Tampilan film ini sangat-sangat cantik, megah, anggun, dan tertekan secara bersamaan. Set dekorasi serta art direction film ini benar-benar visual orgasm bagi siapa saja yang menontonnya. Ditunjang pula musik dan peragaan busana yang menyejukkan telinga dan mata. Beberapa penyanyi ternama turut menyumbang suara mereka untuk meramaikan film ini. Dan sepertinya seluruh designer di dunia ini berbondong-bondong memberikan sponsorship kepada film ini. Bagaimana tidak, sepertinya bidang ini memang perlu dibidani layaknya fashion show karena cerita dan latar film ini memang memerlukan reklame sebuah kekayaan yang glamor dan flamboyan.

The Great Gatsby memiliki Leo, aktor ambisius yang akan selalu mencurahkan seluruh kemapannya agar terlihat berkualitas di depan layar. Sebagai Gatsby, hal itu berhasil ia buktikan. Dengan logat dan gaya yang ekspresif membuat kita yakin jika Leo adalah Gatsby yang parlente. Tidak kalah memukau adalah Tobey yang sukses menerjemahkan karakter Nick yang sendu, adil, dan bijaksana. Joel Edgerton dan Carey Mulligan sebagai pasutri kaya raya bagi saya sudah bermain dengan sangat pas, terhitung Isla Fisher yang tampil sebentar namun masih tetap mencuri perhatian. Di sektor ini, Luhrmann beruntung memiliki nama mereka di barisan cast-nya. Tidak untuk alur dan terlalu biasanya cerita yang dituju. Semuanya datar, dan tidak ada klimaks yang berarti yang bisa membangkitkan emosi penonton. Padahal, esensi dan masalah yang tertuang di film ini bisa dimanfaatkan dengan baik. Karena, bagaimanapun juga tema perselingkuhan apalagi di wilayah orang berduit pasti selalu menarik untuk disimak.

Lurhmann sepertinya tidak mau susah bagaimana filmnya akan bermuara dan berakhir seperti apa. Kecerobahan ini saya lihat karena Lurhmann lebih memfokuskan masalah teknis tadi. Setengah jam mendekati akhir film, di situlah saat terlemah The Great Gatsby. Kepergian salah satu toko sentral di film ini tidak memberikan efek iba kepada penonton.

Cukup sulit untuk bilang jika saya tidak menyukai film ini. Karena, jika saja Luhrmann tidak menyediakan kehidupan hura-hura yang terpampang di film ini, otomatis The Great Gatsby akan menjadi semakin tidak penting. Mungkin karena itu juga, kegelisahan penonton dibayar lunas oleh keartistikan sebuah lokasi di sebuah drama percintaan klasik ini. Namun, sebagai film yang dirilis di era musim panas, film ini pasti akan malu dengan serbuan film lain yang jauh lebih memukau baik di segi cerita maupun efek-efek canggih nan memukau. Dan sepertinya, Luhrmann harus belajar dari pengalaman agar tidak terlalu lamban untuk membuat sebuah film. Apalagi, ciri khas percintaan yang biasa ia torehkan di film-film sebelumnya semakin luntur. Saya (dan sepertinya para penonton yang lain juga) tidak mengharapkan lebih. Australia bisa begitu memorable bagi saya, karena apa? Karena Australia tidak neko-neko. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Man of Steel (2013)


Director: Zack Snyder
Cast: Henry Cavill, Amy Adams, Michael Shannon, Kevin Costner, Russell Crowe, Laurence Fishburne, Diane Lane
Rate: 3,5/5


Untuk memulai bahasan kali ini, saya ingin beritahu sedikit bahwa saya belum pernah nonton film Superman satupun kecuali buatan Bryan Singer tahun 2006 lalu. Superman Returns yang kata kebanyakan orang masih tetap setia memakai pola film Superman buatan Richard Donner, namun tetap dinilai lemah karena porsi dramanya terlalu padat sehingga membuat Superman Returns layaknya Hulk hasil kreasi Ang Lee. 7 tahun berselang, hadir lagi reboot manusia baja yang kali ini di bawah komando Christopher Nolan dan dinahkodai langsung oleh Zack Snyder, lelaki di belakang suksesnya 300 dan Watchmen. Namun, Snyder pernah tersandung dan jatuh di mata kritikus saat Sucker Punch dan animasi burung hantu Ga'Hoole-nya terperosok habis-habisan karena terlalu mengandalkan slo-mo secara berlebih hingga melupakan teknik lainnya. Akhirnya Man of Steel hadir di depan kita, dan pujian serta cacian pun tetap tak terbendung. Kecuali bagi yang merasa Man of Steel telah lepas jauh dari versi Richard Donner. What did you expect, guys?

Film ini memang diantisipasi sekali oleh fanboy maupun yang hanya sekedar ingin menonton, tapi lambat laun semua pandangan tertuju ke salah satu film ambisius ini. Apalagi banyak yang memasang target berlebih mengingat dayang di belakang layarnya tertera nama Nolan dan Goyer. Tapi, pembuat film tetaplah Zack Snyder, dan semestinya ikut campurnya Nolan di sini hanya sebatas sebagai produser. Snyder-lah algojo yang mengeksekusi filmnya agar lebih berbobot tapi tidak juga meninggalkan kesan komersil Superman-nya sendiri. Dan jika saya lihat, Man of Steel tetap memberikan ciri khas seorang superman dengan memberikan warna yang cukup berbeda dari seri yang terdahulu. Kita akan tahu cikal bakal Clark Kent menjadi superhero. Tidak sampai di situ, fase flashback saat ia masih kecil dan dirawat oleh keluarga Kent cukup menyita emosi saya. Sangat jarang saya menonton film bertemakan pahlawan yang begitu menyentuh. Walaupun editing-nya sangat kasar, setidaknya pencapaian dramanya tetap terjaga.

Dan kita memasuki bagian super-duper-berlebihannya film ini. CGI dan visual effect. Maksud saya saat final battle-nya. Penggambaran dunia Krypton dilukiskan dengan sangat indah, believable, dan megah. Setelah itu, visual-nya tampak sangat berantakan. Perkelahian antara dua kubu terlalu mengada-ada dan tidak relevan sama sekali. Efeknya terlalu manis sampai-sampai membuat mual jika dikonsumsi terus-terusan. Untunglah film ini diiringi dengan musik yang lumayan membangun filmnya sendiri. David S. Goyer sepertinya sedikit goyah dalam membuat ceritanya ini menjadi lebih menarik. Mungkin karena Goyer lebih menitikberatkan drama flashback-nya tadi daripada harus mengupayakan bagaimana percintaan Kent dan Lane diungkap di sini.

Henry Cavill si manusia baja telah menunjukkan kapasitasnya sebagai aktor baru yang siap mematahkan persepsi awal bahwa ia bisa menjadi pahlawan super. Dengan postur tubuh yang sangat memungkinkan untuk menjadi seorang superhero. Sayang, Cavill masih lemah dalam menerjemahkan emosi Kal-El di momen-momen penting sehingga membuat adegan tersebut tasteless. Amy Adams bermain pas, pun dengan Crowe sebagai Jor-El yang tidak berlakon berwibawa yang berlebihan. Namun yang menarik adalah penampilan Kevin Costner dan Michael Shannon. Selama saya menonton, semua adegan yang ada Costner-nya sukses membuat saya sedih, dan adegan yang ada Shannon di dalamnya berhasil membuat saya geram. Bintang tetaplah bintang, sebagai supporting actor pun mereka tetap menunjukkan kapasitas seorang bintang.

Sebagai film musim panas, Man of Steel bagi saya sudah memenuhi syarat. Menghibur namun tidak lupa membekaskan logika. Menyortir semua kejanggalan yang biasa terjadi di film superhero. Sayang, saya nilai Zack Synder terlalu tergesa-gesa membuat Superman agar menjadi pahlawan masyarakat yang kembali bisa dikenang. Akibatnya, Superman kali ini sepertinya mudah sekali untuk dilupakan. Setidaknya, sisi humanis yang menempel di film ini yang diproklamirkan sepanjang film cukup membuat saya begitu terpesona. Masih ada film bertema sejenis yang memiliki misi secara universal, bukan hanya untuk dunia perkomikan sahaja. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Senin, 03 Juni 2013

Laura & Marsha (2013)


Director: Dinna Jasati
Cast: Ardinia Wirasti, Prisia Nasution, Restu Sinaga, Afika
Rate: 3/5



Tahun ini film Indonesia semakin menggila. Dibuka dengan Demi Ucok yang menjadi bahan pujian dimana-mana (saya sendiri tidak sempat menonton karena cepatnya film ini turun layar di kota saya -red), lalu muncul Belenggu yang ternyata menegangkan kembali urat perfilman Indonesia yang semula kendur, lalu hadir What They Don't Talk About When They Talk About Love yang sunyi senyap namun mencekam ke dasar batin kita paling dalam. Walaupun saya begitu selektif dalam menonton film lokal di bioskop, namun saya cukup jeli film apa yang memang harus saya nikmati di layar lebar. Seperti contoh baru, Laura & Marsha yang memang telah saya tunggu dari awal-awal pemberitaan pertama film ini digaungkan. Terlebih lagi, film ini dibintangi oleh Ardinia Wirasti yang menjadi salah satu aktris favorit saya. Satu poin lagi yang membuat saya begitu antusias adalah tema yang melingkari film ini, tapi saya tidak tau-menau masalah sinopsisnya dan tibalah saya di puncak kekagetan.

Mengapa kaget? Karena Laura & Marsha menyajikan sebuah fragmen yang jauh dari pandangan saya sebelumnya. Mengadon semua bumbu yang sekarang dipertanyakan dalam kehidupan. Begitu sakral, intim, tapi tidak melupakan sisi hiburan di dalamnya. Hanya saja, apa yang telah diberikan sang sutradara terlalu lepas kendali dan tidak memikirkan alur serta tujuan utama tema yang diusung. Saya sedikit mengerti dengan subplot yang ingin disampaikan, tapi bagi saya hal itu sedikit terlalu dipaksakan. Boleh-boleh saja sih mencampur adukkan semua hal untuk sebuah road movie, tapi tidak lantas juga banting stir dan dilepas begitu saja. Si empunya film lupa tujuan awal film ini, karena penonton akan dibuat terkecoh oleh poster yang dijual film ini kendati sinopsisnya sendiri mungkin sudah membeberkan apa yang akan dituangkan lewat filmnya.

Saya cuma tidak menyukai bagian 'kematian' di film ini serta adanya bintang tamu yang kebetulan muncul untuk melengkapi atau bahkan kasarnya dipaksakan ada untuk membuat filmnya menjadi mempunyai cerita. Padahal, tanpa itupun film ini semestinya bisa sukses menjadi road movie. Dan jujur saja, banyak adegan yang membuat saya terhanyut dan terbuai ke dalam memori yang bisa jadi sangat personal buat saya. Saat dua tokoh utama kita bertengkat hebat, mungkin menjadi momok tersendiri bagi saya yang menontonnya. Hebatnya lagi, saya hampir terbawa emosi pula oleh segmen ending yang begitu cheesy namun sangat mengena. Dalam hal ini, Prisia Nasution serta Ardina Wirasti sudah mampu mengangkat beban dan tanggung jawab mereka dalam menransfer watak dari Laura dan Marsha. Persahabatan mereka yang diuji di negara orang lain cukup mewakili mental orang-orang yang hobi travelling. Satu dengan gaya ranselnya, dan yang lain tidak boleh ketinggalan kopernya. Film inipun sedikit banyak memberi gambaran akan sebuah kebebasan, derita masa lalu, serta bagaimana kita menyikapi hidup bahagia yang enggan bersama kita.

Segala teknis film ini tidak akan saya ributkan, karena film ini tidak memanfaatkan teknis yang begitu signifikan. Mungkin cuma pemilihan musiknya yang pas dan penataan kameranya yang sepadan dan mampu menangkap view-view bagus di beberapa negara di benua Eropa. Panorama yang mengikuti perjalanan spiritual (?) Laura dan Marsha sungguh sedap dipandang. My last verdict, kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi pada kita esok, dan kita hanya hidup sekali di dunia ini. Nikmatilah apa yang bisa kalian rasakan lewat alam dan lingkungan, rasakanlah jika dunia masih ada di dalam genggaman kita jika kita bisa menjaganya dengan bijaksana. Laura & Marsha memamerkan sekelumit liburan singkat yang penuh dengan pengalaman dan cobaan. Lebih dari itu, film ini memaparkan dengan sangat jelas sebuah arti persahabatan untuk saling menolong, mengisi satu sama lain, dan menjadikan satu dunia tadi untuk digenggam bersama-sama. Happy watching!


by: Aditya Saputra

Kamis, 02 Mei 2013

What They Don't Talk About When They Talk About Love (2013)


Director: Mouly Surya
Cast: Nicolas Saputra, Ayushita, Karina Salim, Jajang C. Noer
Rate: 4,5/5


Mengapa judul film ini begitu panjang dan terasa buang-buang karakter? Setelah Anda menonton film ini hingga usai, Anda akan mengerti mengapa si empunya film memberi tajuk demikian. Kita tidak akan menduga seperti apa film ini jika tidak membaca sinopsisnya. Dan saya, yang sudah berempati tinggi terhadap film ini dikarenakan latar belakang sineasnya, tidak tau-menau sebelumnya apa yang akan dibicarakan film ini saat kita sedang membicarakan film lain. Film ini mengemuka terlebih dahulu di festival luar negeri, mengambil start yang sangat bagus. Perlahan namun pasti, kesempatan WTDTAWTTAL untuk membuka tabir di layar sinema lokal akhirnya kesampaian, meskipun harus bertarung dengan film-film raksasa dari negeri seberang benua dan beberapa film domestik pesaing lainnya. Mouly Surya, di film pertamanya yang memenangkan Film Terbaik di ajang piala Citra, sekali lagi menyuguhkan sebuah cerita cinta tak biasa, layaknya fiksi. yang juga begitu kelam dalam membahas perihal jatuh cinta tak wajarnya.

Mengupas tema cinta anak remaja mungkin tidak akan ada habisnya, terlebih lagi jika menyangkut poin-poin penting khas keremajaan. Tapi, kita sangat jarang diperlihatkan bagaimana cara orang cacat mental dan fisik dalam memadu kasih. Saat kita didudukan di antara rasa iba dan kagum, kita seperti digambarkan sebuah reklame singkat sebuah dagelan lucu tentang arti cinta dari sudut pandang yang tak biasa. Maaf sekali, saya tidak akan memberikan sinopsis untuk film ini bukan tanpa alasan. Begitu kompleks dan detilnya film ini membuat saya berpikir ulang bagaimana memisahkan sub-plot dalam satu paragraf. Semuanya terasa sangat spesial dan terlalu hambar jika diceritakan begitu lengkap.

Kecekatan Mouly untuk film ini pasti karena adanya observasi terlebih dahulu dan memantau bagaimana 'kaum' mereka berkomunikasi dan mengartikan bahasa satu sama lain. Keterbatasan yang mereka miliki memang condong menjadi santapan menarik untuk sebuah drama penguras air mata, jika saja Mouly ingin bermain ke arah sana. Namun nyatanya, Mouly jauh lebih berani dalam memoles film 'miring'-nya menjadi lebih miring lagi. Menunjuk 3 karakter wanita utama lengkap dengan figuran dan ceritanya masing-masing. Dan hebatnya, (ya, jika kita tidak tau jalan ceritanya), Mouly memberikan kita banyak kejutan, dan seperti yang saya katakan sebelumnya, adegan yang cukup berani dan tragis pun dilibatkan oleh Mouly. Pengertian cinta di film ini sungguh luas, melebar hingga kita tidak tau lagi apa makna tersirat yang ingin disampaikan Mouly. Insting yang membabi buta dari para penyandang cacat fisik tersebut tidak memberi batasan bagi penonton dalam mengartikan cinta yang mereka refleksikan dengan sangat menohok.

Pergerakan kamera yang sangat dinamis, banyak adegan panjang nan kosong, namun juga memberi aura yang ganjil. Penonton akan terusik dan merasa tidak nyaman, namun membekas karena berkat itulah penyampaian Mouly berhasil. Dan yang paling mengesankan adalah akting 3 pemain utamanya yang tampak sangat kuat, solid, dan mengejutkan. Mereka mampu memberikan nyawa kepada karakternya cukup lewat body language-nya saja. Dari sinipun kita bisa menarik kesimpulan, diam itu memang bisa memberikan ungkapan yang sangat universal. Dan tanpa dialogpun, sebuah film mampu berbicara banyak jika memang gerak tubuh tadi bekerja dengan sangat baik.

Bagi mereka, mungkin hidup terasa tidak adil. Dan bagi kita, mungkin merasa bersyukur karena diberikan hidup yang lebih baik dan beruntung. Tapi, dengan cara mereka sendiri, merekapun bisa menemukan apa yang orang normal temukan, walaupun kondisi mengenaskan juga terkadang menyurutkan semangat mereka. WTDTAWTTAL ialah film langka dari segi penceritaan, memiliki pondasi yang kokoh, tidak sembarang memilih pemain, memaksimalkan lokasi yang itu-itu saja, membisingkan adegan tanpa dialog, serta mencairkan kekikukan suasana sekolah luar biasa. Salah satu film terbaik yang pernah saya tonton dari tangan sutradara Indonesia. Tidak membiaskan definisi cinta, namun juga tidak berterus terang dalam mengungkapkan arti cinta yang bersih. Buktikanlah, film ini akan membuat Anda tertegun melihat sebuah sisi lain dari penerjemahan akan cinta dan kasih sayang. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Senin, 29 April 2013

Iron Man 3 (2013)



Director: Shane Black
Cast: Robert Downey, Jr., Gwyneth Paltrow, Guy Pearce, Don, Cheadle, Ben Kingsley, Jon Favreu, Rebecca Hall, William Shadler
Rate: 3,5/5


Masih mengharapkan popcorn movie sekelas The Dark Knight dan Inception? Atau bahkan malah masih bersikeras jika film tentang superhero harus seintim dan sedramatis The Dark Knight? The Dark Knight boleh saja menjadi salah satu superhero movie terbaik yang pernah ada berkat tampilannya yang sungguh kokoh dan senyata mungkin. Tidak menitikberatkan CGI dan efek komputer lainnya, The Dark Knight justru hadir dengan kedigdayaan cerita, twist berlapis, hingga karakterisasi yang sama kuatnya. Paska film besutan Christopher Nolan tersebut, film tentang pahlawan super seakan memiliki anekdot dan memiliki pandangan lain. Marvel bahkan ketar-ketir menghadapi theme ini, namun nyatanya kekuatan Marvel dalam memberikan kepuasan tidak akan pudar selagi sisi komersil masih bermain dengan sangat jelas. Marvel tidak akan segelap DC dalam memindahkan cerita komik mereka ke dunia film, namun juga tidak akan meninggalkan kesan istimewa yang akan tetap melekat di hati fans dan penonton.

Iron Man salah satu produk Marvel yang ketika dilempar di industri perfilman menjadi produk yang kuat dari berbagai sisi. Sosok Tony Stark yang slengean serta flamboyan dalam satu gerak, memiliki ruang lingkup yang besar dan beralasan untuk menjadi seorang superhero. Tidak akan sekonyol manusia yang digigit laba-laba atau pemimpin sakti yang reinkarnasi dan bahkan Tony Stark bukanlah anak dewa. Stark jelas-jelas bilyuner pintar yang nyaris memiliki apa yang seharusnya pahlawan punya. Di seri ketiga ini, kilas flashback di awal film yang menceritakan Tony bertemu dengan orang yang akan menjadi musuh utamanya. Seperti yang Tony bilang lewat narasinya, "we create our own devil", begitulah kira-kira. Kenyataan yang ada memang terasa memberatkan Tony sebagai manusia yang memiliki kehidupan nyata dan juga sebagai Iron Man yang memiliki tanggung jawab dalam memberantas kejahatan.

Singkirkan dulu Iron Man 2 yang serba tanggung itu, tapi jadikan Iron Man sebagai patokan sukses untuk Iron Man 3. Yap, bagi saya, apa yang sudah dikemas oleh Iron Man sebagai film bagus tidak bisa diimbangi oleh Iron Man 3. Jangan salah, saya suka apa yang tersaji di seri terakhir ini, namun masalahnya Iron Man 3 tidak memiliki unsur spesial yang bisa disamaratakan dengan superioritas film pertamanya. Iron Man 3 berhasil sebagai film yang menghibur karena sang sutradara mampu membagi porsi yang beimbang untuk cerita, adegan aksi, efek CGI, hingga lelucon janggal yang lucunya sangat mengena ke penonton. Yang tidak bisa disangkal adalah kolaborasi menyenangkan di departemen aktingnya. Dan seperti yang kita tau, Robert Downey, Jr. seakan terlahir untuk memerankan tokoh Tony Stark. Membahas jeniusnya dia dalam menafsirkan tokohnya mungkin akan membuang-buang waktu. Begitupun dengan Gwyneth Paltrow yang sukses menjadi pendamping setia Tony Stark. Sedikit bocoran, ada sesuatu yang spesial dari Pepper Potts.

Don Cheadle, Guy Pearce, Ty Simpkins, serta Rebecca Hall tidak memiliki kendala yang berarti di film ini, semuanya bermain pas dengan porsinya masing-masing. Yang perlu dikasih sanjungan adalah betapa hebatnya Ben Kingsley dalam mengubah dirinya menjadi sosok The Mandarin yang miliki double side sekaligus. Bahkan saya berani bilang ini salah satu akting terbaik yang pernah ia berikan di sebuah film. Kesintingannya hampir sama saat ia menjadi ketua mafia bengis di Sexy Beast. Selain itu, Iron Man 3 memiliki alur terkontrol yang tidak asal dalam memberikan ledakan-ledakan semata yang bisa menjadi bumerang bagi filmnya sendiri. Shane Black yang belum mapan dalam memoles film berkomputersisasi tinggi, dalam hal ini berhasil memberi pondasi yang kuat ke Iron Man 3 dan tinggal menyusun beberapa fitur untuk saling melengkapi. Duetnya terdahulu bersama RDJ di Kiss Kiss Bang Bang memiliki dampak positif dalam memberikan kerja sama yang baik.

Stop berkekspektasi berlebihan terhadap popcorn movie, summer movie, superhero movie, you name it. Dugaan kita yang berlebihan terhadap sebuah film yang awalnya untuk menjadi film hiburan, bisa jadi akan menjadi dinding besar untuk kita sendiri dalam menilai filmnya secara kesuluruhan, bahkan yang ada kita akan mencari kesalahan-kesalahan yang tersebar di film tersebut. Iron Man 3 adalah contoh paket lengkap yang menjual cerita permen dan warna-warni yang menghibur segala pihak. Dan kita, sebagai penonton, tidak bisa mengelabuhi pasar internasional yang memang mengharapkan tontonan yang semenarik ini. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Senin, 01 April 2013

The Croods (2013)


Director: Kirk De Micco, Chris Sanders
Voice-over: Nicolas Cage, Emma Stone, Ryan Reynolds, Chaterine Keener, Cloris Lechman, Clark Duke
Rate: 4/5


Jauh sebelum ini, film animasi yang mengutamakan wanita sebagai bintang utamanya hanya dirajai film-film Disney yang bernuansakan percintaan. Princess di film-film semacam Beauty and the Beast, Cinderella, The Snow White, dll. hanya menceritakan keluh kesah mereka dalam mendapatkan cinta sejati. Spirited Away pun pernah memakai peran wanita "perkasa". Dan baru-baru ini Pixar sepertinya tidak enggan dalam mengedepankan wanita dalam film mereka. Brave seperti penyegaran di dunia animasi yang mana selama ini pasti diperan utamai oleh laki-laki. Dengan perolehan Oscar, Brave memang kuat hampir di segala sisi. Kali ini, Dreaworks Animation seakan latah dan mengikuti jejak pesaing utamanya, dan hadirlah The Croods yang juga memfokuskan tokoh wanita. Dan seperti yang kita tau, Dreamworks seperti telah belajar banyak bagaimana membuat film kartun yang mendidik namun juga tidak lepas dari teknik hiburannya. Franchise Shrek dan Madagascar yang makin menggelembungkan saldo dolar mereka dan yang sebentar lagi How To Train Your Dragon juga semakin meraksasa, tak salah Pixar harus tetap waspada kepada mereka.

Senang rasanya menonton animasi yang "tidak aneh", maksudnya karakternya tidak hanya hewan yang bisa berbicara, tapi benar-benar menggunakan figur manusia. Biasanya animasi tidak menitik beratkan pada cerita karena akan berpengaruh banyak pada kuantitas penonton yang dihuni oleh anak-anak dan berlanjut pada perolehan laba. Oleh sebab itu, The Croods pun tidak repot-repot memakai plot yang runyam, yang mereka perlukan hanyalah mempercantik diri secara visual dan lelucon. Cerita hanya seputar pencarian dunia baru yang dijelajahi oleh keluarga Croods yang selama ini hanya tinggal di goa pada malam hari. Bagi mereka, kegelapan adalah malapetaka dan hal-hal baru adalah bencana. Eep, anak tertua keluarga ini merasa tidak betah dan berani untuk keluar dari zona aman. Suatu hari, bertemu dengan pria bernama Guy yang mengajarkan dirinya banyak penemuan baru. Guy pun berupaya untuk mencari jalan keluar agak tidak terperangkap pada tanah yang diinjaknya sekarang. Apalagi disinyalir akan menjadi akhir dunia. Dimulailah perjalanan panjang mereka menyongsong alam yang pada kenyataannya susah untuk ditaklukkan.

Seperti yang diduga sebelumnya, The Croods banyak memiliki modal dalam menjadi animasi sukses. Mulai dari para tokoh yang menggemaskan dan membuat tawa, pesan moral yang dimilikinya juga mudah dicerna anak-anak. Dan lucunya lagi, The Croods mengambil pola road movie yang jarang dipakai oleh animasi-animasi pada umumnya. Sehingga setiap pemberhentian yang mereka lakukan, pasti akan kita temukan petikan-petikan moral yang baru. Yang paling ketara adalah bagaimana membangun sebuah keluarga yang harmonis dan saling menghormati. Dari sang ayah yang ingin menjaga keluarganya dari dunia luar, hingga Sandy yang bisa menghargai teman barunya. Walaupun banyak adegan kurang ajar, dan itu bisa dimaklumi karena film ini juga mengambil seting masa lampau di mana attitude dan kenyataan kadang tidak sinkron sama sekali. Penempatan karakter Guy di tengah-tengah ancaman bagi keluarga ini juga tepat.

Anda pasti tau Ice Age, film yang juga dilatar belakangi dengan masa pra sejarah. Film itu termasuk rusak jika saja tidak ada Scrat di dalamnya. The Croods dengan bebas dan bias bermain di dunia antah-berantah karena sekalipun tidak disebutkan jika mereka ada di bumi. Sehingga yang tampak di layar bisa dibuat sesuka hati para kreator. Dan secara komersialitas, visualisasi film ini sangat bersih dan menarik. Seperti misal penemuan sepatu hingga popcorn dan kembang api yang termasuk jenaka pada levelnya. Itulah mengapa saya katakan film ini akan sangat digemari oleh anak-anak. Dengan berhamburannya sisi positif dari film ini, siapa yang mengisi suara siapa menjadi tidak begitu penting. Aktor-aktor mahal semisal Nicolas Cage, Ryan Reynolds, Catherine Keener, dan Emma Stone untungnya pas dan tidak merusak The Croods yang kepalang bagus ini.

Belum apa-apa, The Croods sudah bisa memecah keheningan bioskop yang akhir-akhir ini tandus karena diisi oleh film-film semenjana semua. Semoga keberuntungan The Croods berlanjut pada dipilihnya sebagai nominator Oscar. Happy watching!

by: Aditya Saputra

The Host (2013)


Director: Andrew Niccol
Cast: Saoirse Ronan, Max Irons, Diane Kruger, Chandler Canterbury
Rate: 1/5


Bagaimana bisa, otak cerdas di balik luar biasanya The Truman Show, dan memberikan arti lain dari waktu kehidupan di In Time dan membuat Nicolas Cage dipuji di Lord of War, membuat film yang sangat lempem di segala sisi. Apa yang ada di benaknya saat terperosok dalam menggarap film yang diangkat dari novel karangan Stephanie Meyer ini. Sulit disangkal, Andrew Niccol menjadi salah satu alasan mengapa saya begitu antusias dengan The Host selain karena adanya Saoirse Ronan yang bermain di dalamnya. Ya, saya memang penggemar Ronan sejak ia menunjukkan akting luar biasa culasnya di Atonement dulu yang menghadiahinya sebuah nominasi Oscar dan belasan piala dari festival lainnya. Melanjutkan sisi melankolisnya di The Lovely Bones dan Death Defying Acts serta meneruskan sisi heroik dari film Hanna dan City of Ember, Ronan kembali menunjukkan sisi humanisnya lewat The Host. Berbeda dengan The Way Back yang mengharuskannya terlunta-lunta, di sini Ronan semakin memperlihatkan paras ayunya yang semakin mekar selama bertambahnya usia.

Di lain sisi, bakat mengagumkan yang Ronan punya selama ini dan terpendam begitu saja, malah menjadi suatu yang fatal tatkala ia menjadi 2 jiwa yang berlainan melalui film The Host ini. Boro-boro menampilkan performa brilian seorang buronan, sedikitpun Ronan menjadi lepas kendali. Lemahnya skrip The Host memang menjadi bukti kuat betapa buruknya film ini jadinya. Talenta yang Ronan miliki seakan sirna begitu saja. Niccol mungkin telah berupaya semaksimal mungkin membuat The Host layaknya Twilight yang chessy namun bisa memancing banyak penggemar. Tapi perlu diingat, Ronan bukanlah Stewart dan Irons bukanlah Pattinson. Sejauh mata memandang, kecemerlangan seorang bintang harus diimbangi sebesar apa nama mereka di mata penggemar. Tak hanya Ronan yang bermain biasa saja, hampir keseluruhan aktor berakting dengan amat buruk, terutama Diane Kruger. Perubahan karakter yang dijalaninya sangat annoying, dan peran antagonisnya tidak berhasil diimplementasikan dengan baik.

Seharusnya, film ini bisa dibuat lebih baik lagi. Dengan mengedepankan sisi sci-fi yang memang menjadi fokus utama dengan menyisipi romansa klasik di dalamnya. Selain sinematografinya yang terbilang indah, sektor lain semisal seting masa depan yang unbelievable, klimaks yang kurang matang, dan minimnya adegan aksi sangat mudah untuk dikritisi. Tidak ada yang salah dengan novelnya, yang salah jelas-jelas Niccol yang tidak berani bermain lebih liar lagi. Bahkan di sini, darah seakan haram untuk diekspos. Latar belakang tokoh utama kita juga tidak diceritakan secara lugas, dan dari mana sang musuh memiliki tujuan itu juga kurang dibeberkan sehingga penonton kebanyakan bertanya-tanya dan tidak akan mendapatkan jawabannya di akhir cerita.

Jujur, moral lesson The Host cukup padat. Kemanusiaan dan keadilan yang ditujukan langsung memang memberikan cermin singkat tentang kehidupan sosial di masa sekarang. Meyer yang ahli dalam memajemukkan kekuatan cinta di tengah-tengah ketidak-masuk-akalan cerita semestinya bisa membantu Niccol dalam menindak lanjuti The Host menjadi lebih dinamis dan cathcy. Saya, yang begitu bersorak-sorak saat filmnya rilis sehari sebelum waktunya, hanya bisa terkecoh dan mengakhirinya dengan tidur di dalam studio. Jika diliahat filmografi Ronan yang masih full-schedule hingga tahun depan, semoga The Host tidak menjadi momok baginya dan bisa belajar dari pengalaman untuk lebih bisa menyeleksi peran apa yang seharusnya ia mainkan. Dengan begitu, semoga ia bisa kembali terseret ke deretan nominasi-nominasi akting.

Sepanjang tahun 2013 yang baru memasuki bulan keempat ini, mungkin The Host bisa saya masukkan ke daftar worst movie ever. Secara subjektif, Ronan bisa saja menjadi penghasut bagi saya untuk tidak terlalu kasar untuk film ini. Nyatanya, penilaian tetaplah penilaian dan Ronan tetap menjadi idola saya. The Host seperti penghinaan bagi drama percintaan dan juga perusakan otak untuk mengharapkan sci-fi yang berlimpahkan knowledge bermutu sepanjang film. Meratapi The Host yang kecium bau sampahnya, mungkin film ini salah satu film terburuk yang pernah dibuat. Tapi jangan salah, di luar sana masih ada segelintir manusia yang masih menyukai The Host berkat sisi humanitas yang diangkatnya. Tidak masalah, setiap kepala memiliki persepsi masing-masing, dan 5 paragraf ini adalah persepsi saya. Happy watching!

by: Aditya Saputra

G.I. Joe: Retaliation (2013)


Director: Jon M. Chu
Cast: Dwayne Johnson, Jonathan Pryce, Byung-hun Lee, Elodie Yung, Ray Park, Ray Stevenson, D.J Cotrona, Adrianne Palicki, Channing Tatum
Rate: 2,5/5


Membuat film sekuel bisa dikatakan gampang-gampang susah. Hanya mencomot ide dan memanjangkan cerita dari film pertama hingga menambahkan beberapa karakter tamu yang siap dijadikan bintang utama kelak jika filmnya berlanjut ke instalmen berikutnya. Namun, ada banyak kasus film sekuel akhirnya terjerembab ke arah yang negatif berkat keegoisan sang produser yang hanya memiliki visi untuk mengeruk laba semata. The Hangover adalah contoh yang kasat mata bagaimana sekuel hanya diperuntukkan untuk berdagang sehingga image yang muncul di film pertamanya luluh lantak akibat buruknya film lanjutannya. G.I. Joe: Rise of the Cobra, yang sudah jelek dan bahkan masuk di Razzie tetap digemari para fans dan penggalang dana untuk -membuat satu film lagi yang kali ini dengan embel-embel Retaliation. Film pertamanya yang sudah nyata jeleknya sekalipun diisi dengan banyaknya aksi dan efek CGI namun tetap menjadi sasaran empuk kara kritikus. Kali ini, dengan janji Retaliation akan jauh lebih berbobot, hasilnya malah tidak lebih baik dari pemulanya.

Motif cerita Retailiation malah tidak jauh-jauh dari misi memberhentikan niat jahat musuh yang ingin menguasai dunia. Bedanya, kali ini sekutu G.I. Joe mendapat perhatian penuh dari pemimpin negara dan memiliki ajudan baru. Perubahan watak dari Storm Shadow juga diramu dengan maksud film ini jauh lebih berisi dan memiliki alur yang masuk di akal. Oke, untuk cerita yang seringan ini, visi sutradara dalam membaguskan film ini dan menyelamatkan kritik negatif hancurlah sudah. Dengan plot yang sesederhana ini, apa yang ingin disampaikan sutradara jelas berlawanan arah. Dan entah kenapa pihak produser memilih sutradara yang belum mahir di bidangnya untuk membidani film yang diharapkan mampu menjadi penyegar di bioskop. Rusaknya lagi, banyak dialog-dialog kacau yang entah kenapa saya tangkap malah menjadi sok bijaksana dan patriotik.

Masih ingat adegan Menara Eiffel yang dibumi hanguskan oleh virus hijau mematikan itu? Ya, itu menjadi satu-satunya adegan paling seru di Rise of the Cobra. Lantas, bagaimana di Retaliation? Untungnya ada satu adegan juga yang bisa menjadi nilai lebih. Silat para "pahlawan" dengan musuh di tebing dengan hanya menggunakan sling demi saling merebutkan Storm Shadow cukup membangun emosi. Walaupun sebelum dan sesudah adegan tersebut, lemahnya plot kembali terjadi. Setidaknya, latar belakang antara Snake Eyes dan Storm Shadow terkuak cukup lengkap sehingga bisa membuat penonton membuka mata bagaimana dampak bagi keduanya.

Layaknya film yang juga memeragakan mata-mata kelas kakap, di Retaliation menjadi serba tanggung. Rencana apik yang mereka lakukan di sini tidak menimbulkan kesan menghentak, bahkan terkesan membodohi. Dan yang paling memprihatinkan adalah bagaimana seluruh aktor di film ini bermain dengan sangat buruk. Lupakan Tatum yang in frame di awal-awal, keterlibatan Dwayne Johnson tak lebih hanya sebagai penarik minat penonton yang keburu mengidolai beliau. Sisanya, aktor-aktor yang saya kurang kenal namanya itu, juga menjadi momok yang membuat saya kurang nyaman selama berada di studio. Walaupun begitu, film ini setidaknya dibantu oleh musik pengiring yang -akhirnya- bisa menggenjot adrenalin. Kendati demikian, buruknya film secara keseluruhan akhirnya tidak bisa ditolerir oleh hanya sebuah musik.

Sebagai film yang direncanakan sebagai objek untuk memperbaiki seri sebelumnya, Retaliation dianggap gagal dalam mencapai tujuan itu. Penambahan beberapa karakter juga tidak terlalu berpengaruh, dan meminimkan efek spesial demi memberatkan di cerita (yang juga lempeng-lempeng saja) juga jauh dari kata bagus. Bagi Anda yang menyukai produk Hasbro dan cinta mati dengan film pertamanya, Retaliation jelas tidak boleh Anda lupakan begitu saja. Namun, bagi kalian yang ingin mencari film hiburan lengkap dengan cerita dan sisi-sisi lain yang maksimal, silakan judul ini dicoret dari list menonton Anda. Tanpa menimbulkan kesan menjelek-jelekkan serta menghasut pembaca, bagi saya sendiri, film ini jelas tidak direkomendasikan. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Selasa, 12 Maret 2013

4 Months, 3 Weeks, And 2 Days (2007)


Director: Cristian Mungiu
Cast: Anamaria Marinca, Laura Vasiliu, Vlad Ivanov, Alexandru Potocean
Rate: 4,5/5


Rata-rata, atau hampir seluruh film yang memenangkan piala di Cannes, atau setidaknya diikut-sertakan di festival itu, pasti akan mendapat sanjungan setinggi langit dari siapa saja. Sudah banyak bukti filem jebolan Cannes lambat laun akan mampir juga di Oscar, atau minimal Golden Globe sebagai saur sepuh kejuaran para sineas dalam menonjolkan karya mereka. Hebatnya Cannes adalah komunitas tersebut  berisikan film-film yang sangat jarang atau malah sangat terasa sekali independenitasnya. Niscaya, jika film mereka sukses mendapat perhatian juri dan publik, bukan tidak mungkin para distributor raksasa akan dengan senang hati mengiklankan film mereka dan akhirnya mampu bertengger di deretan box office. Sejauh ini, film "terbitan" Cannes bukan film sembarangan. Kali ini saya akan mengupas sedikit film edaran 2007 yang memiliki kualitas jauh dari kesan karbitan. Berjudul provokatif, dan sangat mudah sekali dibaca, namun isinya bukan kelas sembarangan.

Dua wanita yang tinggal di salah satu apartemen kecil sedang berencana melakukan praktek ilegal untuk mengaborsi kandungan salah satu dari mereka. Berbekal uang yang sedikit dan keberanian dalam menggugurkan janin tak bersalah, mereka akhirnya dipertemukan dengan the expert yang ternyata memiliki kebijakan-kebijakan khusus dalam menjalankan misi berbahaya ini. Dengan segala tindak-tanduk yang mungkin akan membahayakan banyak pihat, keterlibatan the expert malah memperkeruh keadaan. Di lain pihak, sang tokoh utama kita dihadapkan dengan kebelengguan yang tidak kalah menyita perhatian. Hubungan dengan sang pacar yang semula tidak berkonflik perlahan muncul dengan sendirinya dampak dari perbuatan asusila tersebut. Si wanita mulai mempertanyakan rasa tanggung jawab sang pacar.

Apa yang menjadi daya tarik film ini di luar ceritanya yang sangat brilian dan menggugah? Dialog-dialog yang dibangun sepanjang film salah satu penyebab mengapa film ini sangat nikmat untuk diikuti. Pada satu set, hanya diambil satu take dan para tokoh seperti diarahkan tanpa naskah dan mereka bebas untuk bercakap apa saja asal masih dalam ruang lingkup cerita yang dibangun. Emosi yang dipupuk lewat serentetan dialog tak berpola itulah, penonton diajak untuk duduk diam dan merasakan apa yang mereka lakukan. Kejeniusan teknik ini menimbulkan kesan yang luar biasa. Saya sendiri seperti ada di lokasi dan memperhatikan debat kusir mereka yang seperti tidak menemukan celahnya. Ending yang dibuat segamblang mungkin akan menjadi sisi yang menjengkelkan, namun dengan ini kita tidak akan menghakimi mereka satu persatu. Keberhasilan mengosongkan maksud dari filmnya sendiri meninggalkan tanda tanya besar. Terlebih untuk status hubungan sang tokoh utama dengan si pacar yang tidak dijelaskan konklusinya.

Tak dipungkiri, film ini termasuk berani dalam mengambil resiko yang melibatkan janin dalam menyempurnakan filmnya. Saya sendiri sampai kaget dan tidak berani melihat layar, dan itu ditunjukkan hingga beberapa detik. Penyampaian sang sutradara yang juga bertindak sebagai scriptwriter-nya memang tepat sasaran. Penggambaran situasi yang sangat riskan juga ditunjukkan dengan sangat sempurna. Traumatik serta paranoid yang menimpat tokoh-tokohnya pun masuk di akal. Dan, yang terpenting, film ini sangat minim adegan aksi sert efek-efek main berlandaskan komputer. Senjata utama 4 Months, 3 Weeks, And 2 Days adalah bagaimana mereka menempartkan adegan penuh derita menjadi pembelajaran yang sangat menohok. Yang hebatnya lagi adalah para aktornya yang bermain sangat santai namun believable. Kekikukan yang mereka perlihatkan memunyai banyak arti dan bersepakat dengan ceritanya sendiri.

Saya sangat merekomendasikan film ini. Kita seperti diajarkan untuk mengeksekusi kesalahan yang kita perbuat sendiri. Bagaimana kelugasan kita dipertanggungjawabkan dan menusuk kita untuk mengerti apa itu hidup. Tokoh sentral kita adalah cerminan nyata anak muda yang melakukan blooper dalam hidupnya dan menyelesaikannya dengan berjuta kesalahan jalan keluar. Mereka boleh saja berhasil melakukan tindakan kriminal ini, tapi mereka tidak akan pernah bisa kabur dari rasa penyesalan dan pertanyaan tak terjawab yang menimbulkan kesan dramatis dalam hidup mereka. Kitapun, khususnya para wanita, diberikan gambaran dan contoh akan sekelumit tipisnya moral dalam menjalani hidup. Saya tidak sedang menggurui atau apapun. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Oz the Great and Powerful (2013)


Director: Sam Raimi
Cast: James Franco, Mila Kunis, Michelle Williams, Rachel Weisz, Zach Braff
Rate: 2,5/5


Tampaknya, selepas dari meraksasakan tokoh komik Spider-Man, Sam Raimi mencoba kembali bekerja keras menelurkan proyek-proyek yang dapat diterima fans maupun penonton awam. Bermula dari menaikkan lagi pamor horor lewat Drag Me To Hell yang menjembatani antara fans dan hater, Raimi mencoba kembali membuka lahan baru yang diharapkan bisa memenuhi kepuasan banyak pihak. Sebelum kita disuguhi Evil Dead yang rencananya akan dibuka layar pada bulan Mei mendatang, Raimi di bawah dukungan Walt Disney, berdongeng bebas dengan efek komputer yang gemuk namun miskin di segi cerita. Mengangkat dunia Oz yang sempat terkenal di eranya, Raimi dengan sentuhan midasnya merakit kembali apa yang pernah ada dengan ramuan-ramuan modern.

Sebagai sebuah filem yang diperuntukkan kepada anak-anak dan keluarga, filem ini bisa dikatakan berhasil memanjakan mereka yang memang mengharapkan paket hiburan di bioskop tanpa memerhatikan keluwesan bercerita. Tentu saja, dengan iming-iming 3D yang benar-benar menyulap layar dengan sangat memesona, Oz the Great and Powerful jelas sangat powerful dalam menciptakan visual dan panorama dunia Oz dan lainnya. Raimi dan seluruh pekerja di sektor ini sudah berhasil memenuhi janji mereka. Berkat bantuan Danny Elfman pun, Oz tampak lebih membahana. Sepanjang filem, music score yang menggema memang sudah pas dalam menyesuaikan berbagai adegan dalam berbagai emosi. Negeri Oz yang sangat berwarna, makhluk-makhluk imajinasi yang tidak akan mungkin kita jumpai di alam nyata, serta tampilan busana-busana mereka yang menyerupai asli, adalah jualan utama filem ini. Meski dari itu, Raimi akhirnya dengan rela menyingkirkan kualitas cerita.

Secara pribadi, filem ini tidak ada kejelasan dalam memberikan alur. Cerita yang mudah ditebak, penokohan yang tidak kuat, dan banyakan lelucon yang gagal yang menyebabkan mengapa saya memberika nilai buruk untuk filem ini. Belum termasuk dengan penampilan aktor-aktor utama yang tidak menaikkan nilai kualitas filem Oz nya sendiri. James Franco seperti yang kehilangan arah mau seperti apa karakternya. Atau bahkan mungkin Raimi sendiri yang kebingungan dalam mengarahkan para aktor mahal ini. Sebagai juru kunci, James Franco tidak memberikan andil yang cukup mapan dalam memerangi apa yang menjadi topik utama di filemnya. Kehadiran Mila Kunis dan Rachel Weisz dalam mengantagoniskan karakter jahatpun tidak mencerminkan apa yang saya harapkan. Beda seperti Charlize Theron yang bisa membuat penonton percaya jika ia adalah evil queen yang tega membunuh orang baik. Apalagi Michelle Williams yang masih ingin terlihat cantik. Oke, perannya di sini memang sebagai puteri jelita, hanya saja niat cantiknya itu malah menutupi perannya di sini sebagai pendamping Oz.

Sekali lagi, Oz adalah produk yang ditujukan langsung untuk konsumen anak-anak ataupun orang dewasa yang menemani anak-anak mereka dalam meramaikan studio bioskop. Dan jelas, anak-anak akan suka dengan wahana yang sedap di mata yang terpampang jelas di filem ini. Hanya saja, Raimi tidak berani melakukan apa yang telah Tim Burton perbuat di Alice in Wonderland yang sukses memarodikan beberapa karakter lucu menjadi sangat menyeramkan. Raimi tidak mengindahkan kesempatan itu dan beliau memilih untuk tetap membuat Oz di garis amannya. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 02 Maret 2013

Hasduk Berpola: Ketika Pramuka Hanya Tinggal Kenangan Manis

Masa itu sudah menjadi lembaran kusut yang jika dibuka kembali akan menjadi potongan-potongan cerita membahagiakan selama saya mengikuti kegiatan pramuka. Dahulu, mulai dari kelas 4 hingga kelas 6 SD, saya yang termasuk aktif dalam ekstrakurikuler ini. Tidak ada yang spesial sebelumnya, karena saya bukan yang termasuk gemar beraktivasi dalam organisasi apapun. Tapi, berhubung saya dipilih langsung oleh sang guru pembimbing pada waktu itu, secara mengejutkan saya perlahan menggemari jadwal sampingan saya itu. Dengan satu hal yang harus digaris bawahi, pramuka tidak boleh mengambil jatah belajar utama saya di sekolah.

Kelas 4 mungkin saya tidak begitu menonjol, karena bisa dikatakan hanya dijadikan 'peran pembantu' untuk mengisi slot kosong di barisan. Kebetulan postur tubuh saya kala itu yang masih sangat pendek, jadi selalu berada di barisan kiri belakang. By the way, dalam LTBB di pramuka barisan harus disesuaikan dari yang paling tinggi ke yang paling pendek. Dan mungkin juga saat itu sang guru pembimbing belum melihat sisi lain dari saya yang begitu menakjubkan *ahem*. Kelas 5 awal, potensi lain saya akhirnya timbul bersama desiran angin alam yang tidak terkendali saat itu. Saya pun mahir dalam ber-semaphore. Sepasang bendera 2 warna dengan tongkat kecil menjadi teman baru bagi saya dan beberapa teman yang lain. Lupakan soal pelajaran tali-menali dan memasang tenda serta kiat khusus dalam memberikan P3K. Semaphore bagi saya jauh lebih menyenangkan dari itu semua. Meragakan huruf A - Z dengan bermacam bentuk yang berbeda, seperti belajar mengeja dengan menggunakan bahasa Inggris. Mudah, tapi jika salah pronouncation-nya akan sulit dimengerti.

Begitupun dengan teknik semaphore. Ada beberapa bentuk huruf yang sama dengan yang lainnya. Dan itu juga bukan kendala berarti bagi saya. Lambat laun, dengan semakin lincahnya saya berkomunikasi lewat bendera kepramukaan itu, saya dan 2 teman lainnya dipilih untuk mengikuti lomba semaphore tingkat provinsi pada waktu itu. Jujur, itu pengalaman yang paling mendebarkan bagi saya. Saya yang awalnya anti sosial dan jarang menjadi perhatian publik sekolah ternyata langsung melejit berkat keterlibatan di lomba tersebut. Lomba semaphore pada waktu itu bersistem 3 orang dalam 1 grup. Jadi ada 1 orang yang akan memeragakan satu baris kalimat dengan menggunakan semaphore dan 2 orang lainnya yang berada cukup jauh dari pegara tadi harus mengartikan apa yang ia peragakan. Dan saya kebagian peran sebagai pembaca kalimat aba-aba itu. Setelah saya paham, baru saya akan sampaikan kepada teman satunya lagi yang akan ditransfer dalam bentuk tulisan.

Luar biasa, dengan waktu dan ketepatan menjawab, akhirnya sekolah kami memenangkan turnamen tersebut. Sulit diungkapkan dengan kata-kata. Piala bergilir dari Bapak Pramuka setempat akhirnya bertengger di sekolah kami untuk pertama kalinya. Dan untung saja, nilai akademik saya tidak terecoki hingga masih bisa bercokol di jajaran juara kelas. Kelas 6 kami diberhentikan untuk sementara waktu dikarenakan harus fokus ke ujian nasional (waktu itu masih EBTANAS). Namun uniknya, ketika kami sudah pindah sekolah which is berganti seragam menjadi putih-biru, tiba-tiba guru pembimbing pramuka mengajak kami kembali untuk terus melanjuti klasemen sempahore yang diadakan di tahun bersangkutan. Sayang, dengan status kami yang sudah memang titel anak SMP, terpaksa niat tersebut harus tertimbun untuk selamanya.

Dari pramuka, saya mengenal banyak hal. Mulai dari kedisplinan, kekeluargaan, kerja sama, dan hidup bersosialisasi saya pelajari dari lingkungan tersebut. Belajar memakai hasduk (dasi pramuka-red), latihan baris-berbaris, hingga memraktekkan palang merah remaja juga menjadi bab-bab penting dalam hidup saya.

Tahun 2013, Maret ini tepatnya, akan hadir filem lokal yang juga mengedepankan tema persahabatan dan perjuangan anak bangsa dalam berpramuka. Semoga filem ini bisa mengisi dan melengkapi nuansa perfileman Indonesia. Menjadi oase untuk filem anak-anak yang masih setengah-setengah dalam penggarapannya. Tidak muluk-muluk mengharapkan akan menjadi superior di kelasnya, semoga Hasduk Berpola bisa memberikan contoh positif kepada penonton tanpa meninggakan kesan menggurui. Itu saja.

Trailer Hasduk Berpola:




by: Aditya Saputra

Rabu, 27 Februari 2013

Pitch Perfect (2012)


Director: Jason Moore
Cast: Anna Kendrick, Skylar Astin, Brittany Snow, Rebel Wilson, Ben Platt, Anna Camp
Rate: 3/5


Memasuki milenium 2000, dan semenjak Moulin Rouge! memperkenalkan kembali dunia musikal pada filem, semakin berganti tahun semakin banyak saja filem yang mengambil genre tersebut. Bahkan setahun sesudahnya, Chicago malah menjadi pemenang Best Picture di Academy Award. Disusul Rent, Be Cool, Dreamgirls, Hairspray, dan terakhir Pitch Perfect meramaikan ranah ini dengan sedikit cara yang berbeda. Bahkan, pagelaran Oscar Februari kemarin memberikan sedikit apresiasi dan tribute untuk pencapaian musical movie satu dekade ke belakang. Mengusung teknik akapela dalam mengaransemen serta mencampur adukkan beberapa lagu dalam satu performance, Pitch Perfect menghadirkan nuansa baru walaupun cerita filem ini sangat-sangat stereotype.

Beca, yang memiliki ambisi tersembunyi di dunia musik harus rela mengikuti kemauan sang ayah untuk melanjuti ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Terdamparlah Beca di Barden University dan mengikuti komunitas The Bellas sebagai salah satu kontender yang akan mengikuti kompetisi musik akapela yang digelar rutin tiap periodenya. Nyatanya, menjadi anak bawang sedikit menyudutkan Beca terlebih lagi hubungannya dengan Jesse meluap kemana-mana dan harus berurusan pula dengan sang ayah akibat keonaran yang dibuatnya di sekolah.

Pitch Perfect memang memberikan banyak asupan yang pas untuk sebuah filem remaja. Tema persahabatan dan kerja keras yang diusung lewat filem ini mengental hingga akhir filem kendati sutradaranya memoles filem ini menjadi sangat ringan. Kekuatan musik menjadi poin terpenting di filem ini. Karena, filem musikal tanpa sodoran lagu-lagu yang ciamik juga akan menjadi bumerang sendiri. Oleh sebab itu pemilihan lagu dan komposisasi musik di filem ini sangatlah juara. Menutupi semua departemen filem yang cenderung membosankan. Cerita Pitch Perfect hanyalah seukuran filem remaja kebanyakan yang diisi intrik basi dan mudah ditebak. Aktingpun tidak menjadi fokus utama. Hingga menular ke Anna Kendrick yang berakting dengan sangat payah. Pengecualian dengan aksi panggung dan taste musikalitas untuk filem ini. Koreografi serta aransemen yang enak didengar memang menjadi bagian terpenting untuk Pitch Perfect. Jika saja elemen ini juga di bawah rata-rata, Pitch Perfect tidak akan seramai sekarang diperbincangkan oleh kaula muda.

Berbahagialah saat menonton Pitch Perfect, buruknya naskah tidak diikuti oleh penokohan yang bisa ditempatkan pas sesuai porsi. Member The Bellas dibuat seunik mungkin dan mampu memberikan joke-joke segar. Terutama lelucon yang dilempar oleh Rebel Wilson. Brittany Snow yang sudah lama tak terlihat batang hidungnya di berbagai filem, di sini cukup memberikan sumbangsih berkat suaranya yang terasa enak didengar. Hanya saja, buat saya itu saja tidak cukup. Sebuah filem akan bernilai lebih jika seluruh partisinya digenjot semenarik mungkin, apalagi untuk urusan cerita. Berdiri sama kokoh dengan serentetan episode Glee dan beberapa filem Step Up dan Street Dance, Pitch Perfect hadir untuk menambah panjang daftar filem musikal yang berhasil menarik minat penonton untuk membuka mata ke arah genre ini. Happy watching!

by: Aditya Saputra

The Game (1997)


Director: David Fincher
Cast: Michael Douglas, Sean Penn, Deborah kara Unger
Rate: 3,5/5


Sebelum The Game mencoba mengelabuhi penonton dengan sejuta teka-teki tak terungkapnya, Fincher telah mendapat perhatian massa di feature panjang pertamanya, Seven, yang diramaikan oleh penampilan dahsyat Brad Pitt, Morgan Freeman, dan juga Kevin Spacey. Namun, yang menjadi momok Seven adalah penjelasan di akhir filemnya yang sangat cerdas. Tak dapat disangkal juga, filem paska The Game juga menimbulkan sebuah enigma yang tak bisa terbantahkan jeniusnya sebuah akhir cerita, Fight Club menjelma menjadi salah satu cult movie terbaik yang pernah ada. Namun The Game tidak mendapat perhatian yang sama dengan kedua filemnya yang lain. Kendati memiliki pengaruh yang besar akibat pola cerita yang berstruktur rapi, nyatanya The Game hanya dinilai sebagai filem bagus saja tanpa ada apresiasi tinggi. Bagi saya, The Game adalah salah satu filem paling pintar dalam membuat penonton mengikuti alurnya dan dibuat kaget oleh endingnya.

Di hari ulang tahunnya, financier kaya Nicholas van Orton mendapat hadiah spesial dari adiknya, Conrad, berupa kartu nama yang akan membawanya ke sebuah wahana bermain yang tak dapat diduganya sebelumnya. Paska cerai dengan istrinya, Nicholas menjadi sosok yang membosankan dan menjalani hidup dengan monoton. Namun, berbekal hadiah yang diberi Conrad, Nicholas mulai mencoba sesuatu yang baru di CRS (Consumer Recreation Services). Sialnya, Nicholas lambat laun mulai direcoki oleh keterlibatan tim CRS di kehidupan nyatanya. Merasa terganggu dan dikuntit sepanjang hari, kejengahan yang dirasakan Nicholas menuntunnya ke berbagai karakter yang terlibat langsung dengan CRS. Yang menggelegar adalah bagaimana Nicholas mengetahui kebenaran yang terjadi di ujung filem ini.

John D. Brancato dan Michael Ferris selaku scriptwriter The Game berhasil memberikan kiat pintar dalam membuat naskah yang berbobot. Pencapaian Fincher dalam menafsirkannya ke dalam gambar bergerak juga patut diberi skor tinggi. Dengan penyutradaraan yang dinamis, The Game ibarat sebuah puzzle yang harus disusun serapi mungkin oleh penonton, dan nantinya penonton bakal diberi kejutan yang teramat cemerlang. Yang saya salut adalah bagaimana kejelian Fincher dalam mengatur dan tidak memberikan clue sama sekali sepanjang filem berlangsung, padahal penonton sendiri sudah diberi acuan di awal filem. Mungkin karena adegan per adegan dibuat se-real mungkin, jadi banyak adegan yang berhubungan dikamuflase dengan poin-poin tak penting tadi. Sisi teknis filem ini memang agak kurang, seperti misalnya tata musik yang tidak begitu membahana. Untung saja hal itu bisa ditutup dengan penokohan yang kuat dan para figuranpun memiliki peran penting bagi filem ini.

Michael Douglas sebagai korban penguntit menunjukkan karisma di atas rata-rata. Sebagai seorang kaya yang congkak, ia mampu memberikan kesan tersebut, dan saat di klimaks utama Douglas dengan sukses meronta-ronta dan bertanya apa yang sedang dilaluinya. Rasa ketakutan dan penasaran beradu jadi satu, dan Michael Douglas membuat penonton percaya jika ia sedang berada di posisi tersebut. Sean Penn walaupun muncul di sedikit adegan tapi dialah poin kunci sebagai pembuka tabir semua kesialan yang menimpa Douglas.

My last verdict: twist The Game memang tidak terlalu membuat pusing penonton karena endingnya juga hanya memberi kejutan saja bukan pemecahan masalah yang dibuat timpang sedari awal. The Game juga tidak ada pesan khusus yang bisa diserap. Yang menjadi kenikmatan The Game adalah bagaimana filem ini bermain di luar zona aman sebuah filem cerdas. Namun nyatanya, saya rasa filem ini tidak akan memberikan kesan yang sama saat kita akan menontonnya untuk yang kedua kali. Kali serupa dengan filem ber-twist ending lainnya, menyaksikannya lagi akan terasa kosong dan seperti dibodohi. Cukup sekali tapi membekas sepanjang masa. Happy watching.

by: Aditya Saputra

Sabtu, 16 Februari 2013

Hitchcock (2012)


Director: Sacha Gervasi
Cast: Anthony Hopkins, Helen Mirren, Denny Huston, Scarlett Johansson, Jessica Biel, Michael Stuhlberg
Rate: 3,5/5


Saya tidak begitu mengenal Alfred Hitchcock. Saya bahkan belum menonton satupun karyanya, apalagi Psycho yang menjadi bahasan utama filem Hitchcock ini. Yang saya tau, Hitchcock adalah salah satu sineas terpandang yang dulu karya-karyanya sering dianggap sebelah mata namun perlahan menjadi acuan penting bagaimana sebuah mahakarya dibuat dan mampu dipuja-dipuja hingga bertahun-bertahun kemudian. Mungkin banyak sutradara yang menjadi sumber inspirasi bagi sineas baru atau mungkin disebut sebagai pengaruh penting dalam memberikan sumbangsih di metode-metode perfileman. Hitchcock bisa jadi tidak setenar Steven Spielberg yang karya-karyanya mampur bercokol di puncak box office dan selalu diapresiasi dengan belasan bahkan puluhan piala dari berbagai festival filem. Dan kembali ke filemnya, inilah sebuah poin plus dari sebuah biografi. Kita akan diberi gambaran singkat tentang tokoh yang sedang diangkat.

Hitchcock mengambil seting paska kesuksesan North by Northwest dan rencana sang sutradara untuk membuat suatu karya yang beda. Diilhami dari delusional yang sering ia alami akibat dari proyek yang akan digelarnya ini, Hitchcock membuat Psycho dengan penuh emosi, ambisi, argumentasi, hingga eksposisi yang berlebihan. Terlebih lagi kepada sang istri yang ia curigai memiliki affair dengan salah satu teman penulisnya. Sepanjang pembuatan filem, Hitchcock dan tim produksinya dihantui bahwa filem yang sarat violence serta unsur nuditasnya yang cenderung eksplisit akan merugikan pihak produser yang akhirnya Hitchcock membiayai segala beban filem ini dengan menggadaikan rumah kesayangannya. Perekrutan Janet Leigh dan Vera Miles pun menjadi cerita pinggiran yang memiliki plot sendiri yang sayang sekali kurang dikupas lebih dalam.

Hitchcock disadur dari buku semi otobiografi yang juga fase di mana Hitchcock membuat Pshyco. Skripnya ditulis ulang oleh John J. McLaughlin yang di sini memiliki amunisi yang pintar dalam memilih dialog-dialog berkualitas yang mampu mengembangkan isi ceritanya sendiri. Lempar pendapat yang diperlihatkan Hitchcock dan Alma sangat harmonis, bahkan sekalipun bertengkar masih terlihat menarik. Kekurangan justru terlalu buru-burunya dugaan Hitchcock kepada istrinya yang memiliki affair dengan seseorang. Bagian ini terasa datar bagi saya. Selebihnya, walaupun drama yang terkait tidak begitu mendalam, setidaknya masih bisa merealisasikan secara nyata bagaimana siklus kehidupan Hitchcock di tengah pekerjaannya sebagai seniman, dan suami untuk istrinya di rumah. Selain art direction yang mendekati aslinya, departemen kostum dan make-up untuk filem ini sudah bekerja dengan amat baik. Mereka memermak Anthony Hopkins menyerupai Hitchcock secara alami dan menyisakan sisi mistis di Hopkins.

Sebagai penyelenggara utama filem ini, Anthony Hopkins memang telah berusaha dengan amat optimal. Kinerjanya sebagai sang maestro patut dihargai setinggi mungkin. Gesture serta body language yang ia peragakan di depan layar memang menimbulkan kesan yang luar biasa. Terlebih lagi Helen Mirren sebagai Alma yang mampu beradegan kocak dan bijaksana dalam satu lini. Sebagai Janet Leigh dan Vera Miles, Scarlett Johansson serta Jessica Biel bukan saja mengeluarkan aura keseksian mereka dari postur tubuh namun juga berhasil menambah kesan manis di sepanjang filem. Sebenarnya peran mereka di filem Psycho sangat penting, namun berhubung ini adalah filem yang menyorot lingkaran kehidupan Alfred, mau tak mau keduanya harus puas sebagai pemeran pembantu saja. Sacha Gervasi selaku orang yang duduk di kursi sutradara berhasil memompa filemnya agar tidak menjadi kacangan. Pengalamannya sebagai scriptwriter seakan sebagai awal untuk meneruskan niatnya berprofesi sebagai sutradara di filem panjang perdananya ini.

Hitchcock bukanlah filem biopik yang sempurna, namun ada sisi entertaining yang ada tersembunyi di dalamnya. Kendati masih banyak kekurangan yang harus dibenahi sang sutradaranya, tapi dengan porsi durasi yang tidak berlebihan memang membuat Hitchcock terasa padat yang tepat sasaran. Didukung penampilan aktor kelas wahid dan ditunjang dua pesolek yang siap menyita perhatian para penonton pria, Hitchcock menambah daya pikatnya. Dan kesimpulan yang bisa saya tarik dari filem ini adalah semangat, kepercayaan diri, kerja keras, serta partner yang baik adalah beberapa elemen yang harus diperhatikan untuk mencapai hasil baik yang kita inginkan. Alfred Hitchcock biarlah tinggal nama, namun karya-karya monumentalnya akan tetap dikenang para penggemarnya yang tiap tahun akan bertambah. Happy watching!

by: Aditya Saputra