Rabu, 27 Februari 2013

The Game (1997)


Director: David Fincher
Cast: Michael Douglas, Sean Penn, Deborah kara Unger
Rate: 3,5/5


Sebelum The Game mencoba mengelabuhi penonton dengan sejuta teka-teki tak terungkapnya, Fincher telah mendapat perhatian massa di feature panjang pertamanya, Seven, yang diramaikan oleh penampilan dahsyat Brad Pitt, Morgan Freeman, dan juga Kevin Spacey. Namun, yang menjadi momok Seven adalah penjelasan di akhir filemnya yang sangat cerdas. Tak dapat disangkal juga, filem paska The Game juga menimbulkan sebuah enigma yang tak bisa terbantahkan jeniusnya sebuah akhir cerita, Fight Club menjelma menjadi salah satu cult movie terbaik yang pernah ada. Namun The Game tidak mendapat perhatian yang sama dengan kedua filemnya yang lain. Kendati memiliki pengaruh yang besar akibat pola cerita yang berstruktur rapi, nyatanya The Game hanya dinilai sebagai filem bagus saja tanpa ada apresiasi tinggi. Bagi saya, The Game adalah salah satu filem paling pintar dalam membuat penonton mengikuti alurnya dan dibuat kaget oleh endingnya.

Di hari ulang tahunnya, financier kaya Nicholas van Orton mendapat hadiah spesial dari adiknya, Conrad, berupa kartu nama yang akan membawanya ke sebuah wahana bermain yang tak dapat diduganya sebelumnya. Paska cerai dengan istrinya, Nicholas menjadi sosok yang membosankan dan menjalani hidup dengan monoton. Namun, berbekal hadiah yang diberi Conrad, Nicholas mulai mencoba sesuatu yang baru di CRS (Consumer Recreation Services). Sialnya, Nicholas lambat laun mulai direcoki oleh keterlibatan tim CRS di kehidupan nyatanya. Merasa terganggu dan dikuntit sepanjang hari, kejengahan yang dirasakan Nicholas menuntunnya ke berbagai karakter yang terlibat langsung dengan CRS. Yang menggelegar adalah bagaimana Nicholas mengetahui kebenaran yang terjadi di ujung filem ini.

John D. Brancato dan Michael Ferris selaku scriptwriter The Game berhasil memberikan kiat pintar dalam membuat naskah yang berbobot. Pencapaian Fincher dalam menafsirkannya ke dalam gambar bergerak juga patut diberi skor tinggi. Dengan penyutradaraan yang dinamis, The Game ibarat sebuah puzzle yang harus disusun serapi mungkin oleh penonton, dan nantinya penonton bakal diberi kejutan yang teramat cemerlang. Yang saya salut adalah bagaimana kejelian Fincher dalam mengatur dan tidak memberikan clue sama sekali sepanjang filem berlangsung, padahal penonton sendiri sudah diberi acuan di awal filem. Mungkin karena adegan per adegan dibuat se-real mungkin, jadi banyak adegan yang berhubungan dikamuflase dengan poin-poin tak penting tadi. Sisi teknis filem ini memang agak kurang, seperti misalnya tata musik yang tidak begitu membahana. Untung saja hal itu bisa ditutup dengan penokohan yang kuat dan para figuranpun memiliki peran penting bagi filem ini.

Michael Douglas sebagai korban penguntit menunjukkan karisma di atas rata-rata. Sebagai seorang kaya yang congkak, ia mampu memberikan kesan tersebut, dan saat di klimaks utama Douglas dengan sukses meronta-ronta dan bertanya apa yang sedang dilaluinya. Rasa ketakutan dan penasaran beradu jadi satu, dan Michael Douglas membuat penonton percaya jika ia sedang berada di posisi tersebut. Sean Penn walaupun muncul di sedikit adegan tapi dialah poin kunci sebagai pembuka tabir semua kesialan yang menimpa Douglas.

My last verdict: twist The Game memang tidak terlalu membuat pusing penonton karena endingnya juga hanya memberi kejutan saja bukan pemecahan masalah yang dibuat timpang sedari awal. The Game juga tidak ada pesan khusus yang bisa diserap. Yang menjadi kenikmatan The Game adalah bagaimana filem ini bermain di luar zona aman sebuah filem cerdas. Namun nyatanya, saya rasa filem ini tidak akan memberikan kesan yang sama saat kita akan menontonnya untuk yang kedua kali. Kali serupa dengan filem ber-twist ending lainnya, menyaksikannya lagi akan terasa kosong dan seperti dibodohi. Cukup sekali tapi membekas sepanjang masa. Happy watching.

by: Aditya Saputra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar