Minggu, 20 November 2011

Cars 2 (2011)


Director: John Lasseter, Brad Lewis
Cast: Owen Wilson, Larry the Cable Guy, Michael Caine, Emily Mortimer, John Turturro
Rate: 4/5


Mengapa saya masih menyukai Cars sedangkan para penonton yang lain merasa tidak puas dengan film bertemakan racing itu? Bagi saya, Cars bukan cuma memberikan kesederhaan cita-cita dan tujuan hidup tapi juga mengajarkan sedikit filosofi akna pentingnya sosialisasi serta pengaruh persahabatan dan orang sekitar bagi hidup kita. Mengingat ini sebuah animasi, ditambah lagi keluar dari perut Pixar, memang tidak menyalahkan jika banyak orang yang kurang puas dengan sodoran cerita yang amat klise dan jauh dari kesan orisinalitas yang biasa Pixar ciptakan. Tapi itu tadi, bagi saya Cars adalah sebuah cermin untuk melihat gambaran hidup betapa menyenangkan berobsesi yang bertanggung jawab. Melewati Ratatouille, Wall-E, Up, serta Toy Story 3, Pixar membuka lagi perlombaan sakral itu untuk tahun ini. Cars 2 dilepas dengan harapan mampu menjadi lebih baik dari Cars pertama, atau jika perlu sanggup melebihi superioritas para mainan bernyawa.


Seri ini mengambil garis besar di tokoh Matter, sahabat Lightning McQueen yang diajak ke Jepang untuk menemani McQueen menerima tawaran lomba dari juragan minyak terkemuka. Di samping itu, ada hubungannya pula dengan pergolakkan ini, mata-mata ala James Bond hadir di layar. Entah bagiamana caranya Matter nimbrung di aksi kejar-kejaran ini. Menyenangkan semua pihak memang sulit, apalagi harus mengesampingkan hal-hal yang jelas menjadi tombak penting. Seperti Cars ini.

Cars
jelas sebuah film keluarga yang diharapkan mampu memberi pelajaran dan hiburan kepada anak-anak sekaligus menyenangkan untuk orang dewasa. Benar saja, anak-anak mungkin suka dengan penuturan dan gaya mobil-mobil mentereng ini di layar besar. Desiran suara mobil melecit, serta dentuman ledakan-ledakan yang memborbardir sepanjang film seperti amunisi yang tak terbendung dalam menyemangati anak-anak tersebut. Namun, orang dewasa kurang suka dengan ceritanya. Malah dianggap terlalu mengada-ngada. Saya membenarkan. Dan mereka juga merasa lesu dengan adegan spionase seperti pengulangan film-film live action lainnya. Tidak bisa dipungkiri memang, saya pun sesekali merasa de javu.
Ambil sisi positifnya, seluruh jajaran aksinya tadi tidak serta merta sebagai pelengkap film, tapi sudah menjadi bagian dari otak awak Pixar. Mereka seperti ingin menyelipkan sebuah selingan menghibur. Layaknya kisah superhero yang merusak kotanya, ataupun dunia angkasa Wall-E, manalagi ke-absurd-an mainan yang bisa menyetir mobil. Jelas sekali bukan, seluruh parodi di Cars kedua ini hanya sebuah luapan betapa kreatifnya mereka.

Mengesampingkan sisi cerita, polesan CGI untuk film ini semakin mengkilap. Pixar bukan sembarang studio animasi kemarin sore. Cars yang terbit tahun 2006 dulu saja sempat membuat saya menganga betapa indahnya para mobil berlenggak-lenggok di layar. Di sini, saya jadi berpikir jika Pixar menemukan program komputer terbaru untuk merender animasi mereka.
Satu hal yang menarik adalah, dengan pindahnya ruang lingkup film ini ke Jepang yang otomatis membuat kerja tambahan bagi para sineasnya. Dan mereka berhasil menunjukkan sekilas adat dan tata krama kehidupan di sana. Seperti sumo saja misalnya. Pernah terpikir olahraga ini dilakukan oleh mobil? Kebayang lucunya?

Dari sini saja detail-detail menarik tidak pernah lepas dari pengelolaan ceritanya. Belum lagi penambahan-penambahan karakter yang berarti penambahan jenis kendaraan. Interesting. Sedangkan untuk para pengisi suaranya tidak ada yang perlu ditambal. Semuanya melakukan tugas dengan baik, terutama Michael Caine yang masih pantas saja untuk mengisi proyek anak kecil seperti ini.
Jelas sudah, yang salah bukan di filmnya, tapi di pola pikir penonton yang sudah kepalang terpatri di benak untuk mengharapkan sesuatu yang wah dari Pixar. Bagi saya, seperti ini sudah lebih dari cukup.

Kombinasi yang hampir sempurna dari segi tampilan animasi hingga humor serta adegan pengikut aksinya. Minus cerita miringnya itu. Niscaya, anak-anak pasti akan menggandrungi seri kedua ini. Belum termasuk jika produk pengiringnya juga laris manis di pasaran. Bukankah salah satu tujuan utamanya tercipta Cars ini untuk memenuhi hasrat para anak kecil bermain mobil-mobilan? Selama hot wheels masih laku tentunya. Happy watching!


by: Aditya Saputra

Crazy, Stupid, Love. (2011)


Director: Glenn Ficcara, John Requa
Cast: Steve Carell, Ryan Gosling, Julianne Moore, Emma Stone, Analeigh Tipton, Jonah Bobo, Marisa Tomei, Kevin Bacon
Rate: 3,5/5


Lagi-lagi cinta. Poin yang tak akan lekang dimakan waktu untuk diangkat ke layar lebar. Baik percintaan remaja, anak-anak, hingga menyangkut rumah tangga seperti contoh satu ini. Crazy, Stupid, Love., seperti judulnya sendiri memang menyiratkan ketiga hal tersebut. Betapa gilanya, betapa bodohnya manusia jika sudah bersinggungan dengan cinta. Bahkan, manusia akan kehilangan pola pikir yang logic. Tema film ini sederhana, menyikut persoalan keluarga kebanyakan, menyentil aroma cinta yang baru mekar, menyorot cinta tak wajar, mengupas tata cara seorang playboy dalam menggaet mangsanya. Lengkap, belum lagi kita akan diberikan kejutan super pintar yang sudah jarang ditemui untuk genre seperti ini. Sutradaranya masih pemula, mereka baru membuat I Love You, Phillip Morris dua tahun lalu dengan Jim Carey sebagai wayangnya. Sekarang lagi-lagi duo director ini merekrut komedian untuk menuntaskan skrip ubahan Dan Fogelman, si pencetus ide banyak film animasi.

Mungkin karena itulah pula, Fogelman terasa santai dalam meramu naskahnya mencari komedi yang cerdas. Kendati Cars, Bolt, Tangled, dan Cars 2 beberapa proyeknya, tapi untuk film ini jauh dari kesan kekanak-kanakan. Sungguh dewasa malah. Hebatnya lagi, kejutan di seperempat filmnya malah menjurus menjadi salah satu naskah tercerdas untuk tahun 2011 ini. Tidak berlebihan mengingat saya dan beberapa orang yang sudah menontonnya juga terkesima akan suprise tak terduganya itu. Oke, tak akan lengkap jika scriptwriter-nya saja yang dipuji. Ficcara dan Requa jelas memberikan suntikan yang bagus kali ini. Mengambil pendekatan akan sosok pria yang terjebak cinta, filmnya menjadi sedikit berbelok untuk lebih mengubah pandangan jika pria bukan perusak cinta sebenarnya. Beberapa sorot dan musik yang mengalun renyah melengkapi betapa memorable-nya film ini untuk dikenang beberapa tahun ke depan.

Ceritanya ringan, pria berkeluarga ternyata dipercundangi istrinya sendiri yang berselingkuh dengan teman kantornya. Berasa gundah dan memustuskan untuk bercerai, secara tidak sengaja pria ini tadi bertemu dengan playboy di sebuah bar yang nantinya sedikit banyak mengubah attittude-nya menjadi seorang yang culas akan wanita. Si pria berkeluarga tadi belum menemukan betapa sebuah cinta itu bukan hanya sebuah cerita semu tapi juga topik yang harus dipelajari benar-benar. Di samping itu, sang playboy yang gonta-ganti pasangan hanya dengan rayuan gombalnya saja, bertemu dengan seorang gadis yang kisah cintanya juga seakan jalan di tempat bersama teman kantornya. Jauh di sana, si istri tadi juga tidak merasakan kesinambungan dengan pasangan selingkuhnya. Ditambah bibit cinta yang mulai tumbuh di darah anak mereka semakin menambah kompleks cerita.

Inilah yang melegakan, menonton drama cinta komedi tapi tidak hanya sekadar tertawa riang tapi juga meresapi sari pati isi filmnya sendiri. Banyak pelajaran penting akan cinta dan kebersamaan yang bisa diserap lewat gumpalan cerita tadi. Betapa bahayanya perselingkuhan, betapa bahayanya memainkan perasaan pasangan kita, dan betapa bahayanya egoisme di dalam diri. Sindiran tadi hebatnya berhasil dipadu hanya dengan waktu kurang dari dua jam. Sebut saya berlebihan, tapi benar, menonton film ini terasa bergulirnya waktu menjadi sangat cepat. Simple namun mengena ke hati. Jadi saya sedikit melupakan beberapa adegan konyol khas komedi bodor yang mugkin tidak disengaja oleh penyutradaraannya.

Steve Carell berakting dengan sangat mulus. Menyeimbangi kapasitas Oscar dari Gosling dan Moore, Carell tidak merasa minder bahkan sesekali malah menunjukkan sisi aktor dramanya. Memang Carell tidak pernah bermain buruk di tiap filmnya, sekalipun film ini buruknya setengah mati. Gosling, ah sudahlah, film seperti ini bisa disebut sebagai istirahat sejenak dari tabiat dan kebiasaannya bermain di film serius. Mengemban menjadi sosok playboy dijalani dengan penuh kharisma. Tidak ada canggung. Moore kendati cuma tampil sedikit juga bisa memberikan makna lebih untuk filmnya. Adegan guyuran hujannya bersama Carell sangat believeable. Stone, apa yang kurang dari dia? Setelah melejit pamornya sejak Zombieland, bintangnya tidak turun-turun mulai dari Easy-A hingga The Help yang keduanya dipuji habis-habisan. Untuk film selevel Crazy, Stupid, Love. ini dia cukup menunjukkan muka manisnya di depan kamera. Dan, scene stealer kita jatuh kepada Analeigh Tipton yang berberan sebagai pengasuh anak tapi malah jatuh cinta dengan bapak si anak. Lucu dan tidak terduga. Scene stealer lainnya jelas ada pada Marisa Tomei. Mungkin jika ada nominasi untuk special appearance, keduanya bisa masuk.

Tidak berkesudahan jika terus membahas film ini. Crazy, Stupid, Love. dengan wibawanya akhirnya membawa angin segar akan tampilan sebuah komedi drama. Tidak harus menurunkan logika untuk setiap adegannya, malah sangat realistis dan kemungkinan terjadi kepada siapa saja. Dengan dukungan maksimal dari para pekerja aktingnya serta pengejewantahan yang tidak asalan dari duo sutradaranya, menjadikan film ini masuk di dalam list saya sebagai salah satu film terbaik keluaran tahun 2011 ini. Hingga kini, baru film ini dan Cars 2 yang bisa melepaskan dahaga keringnya nafsu saya dalam menonton. Kerennya, kedua cerita film tersebut berasal dari satu otak. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Twilight Saga: Breaking Dawn part. 1 (2011)


Director: Bill Condon
Cast: Kristen Stewart, Robbert Pattinson, Taylor Lutner, Ashley Greene, Kellan Lutz, Anna Kendrick
Rate: 2,5/5

Melihat ke belakang, mulai dari Twilight, New Moon hingga Eclipse, semua menyisakan nol memori yang menjadi tolak ukur betapa membosankannya menonton sepak terjang antara si vampir penuh glitter di wajah dengan manusia serigala doyan shirtless hanya dalam merebutkan wanita menye-menye. Entah kenapa, parodi menggelikan itu malah menjadi isu global yang menyeruak di kalangan remaja dan ibu-ibu beberapa tahun ini. Tidak bisa menyalahkan mereka juga. Stephenie Meyer selaku penulis novelnya memang seakan mengobral kisah klasik tapi sedap untuk disantap para twihards. Lucunya, dari film pertama hingga keempat ini, sineas yang menyutradarainya selalu berbeda. Kali ini, bangku director diduduki Bill Condon. Condon, dialah yang membuat naskah film musikal bertutur klasik yang berhasil menganugrahi Oscar untuk Catherine Zeta-Jones, Chicago. Ia juga orang yang bertanggung jawab hingga Jennifer Hudson menang Oscar lewat Dreamgirls. Spesialis musikal?

Untuk Breaking Dawn sendiri sebenarnya tidak ada pembaharuan mutlak yang mampu membuat twi-haters banting stir untuk lantas mencintai waralaba ini. Dialog-dialog tidak kalah annoying-nya dari seri sebelumnya, akting juga masih segitu-segitu saja, konsep si baik melawan si jahat juga sekelebat muncul. Tapi ada pembeda di Breaking Dawn, situasi semakin kompleks. Klimaks semakin mengemuka. Klan werewolves dengan vampire kendati sudah melakukan perjanjian tapi tetap masih memukul gong perang. Awal mulanya, Edward dan Bella akhirnya menikah. Entahlah, Edward yang disebut pedofil atau Bella yang odipus kompleks. Yang jelas pernikahan mereka berjalan mulus hingga ke arena ranjang dalam suasana honey moon. Tak lama, bahkan terlalu singkat, Bella akhirnya mengandung anak yang tidak diharapkan untuk hidup. Bahkan Cullen menyebutnya 'makhluk'. Benar saja, jabang bayi ini menggerogoti tubuh Bella sampai pada akhirnya suatu keputusan mengubah garis besar kehidupan Bella.

Kita kesampingkan dulu minus film ini. Saya menemukan hal baru yang bisa jadi menjadi tolak ukur baru bagi saya untuk mengubah skeptis atas franchise ini. Condon yang semula saya ragukan kapasitasnya di projeknya kali ini ternyata bermain cukup menarik. Kendati awalnya sangat pelan bahkan terasa tidak habis-habis, tapi sesaat menuju ending film ini berubah total, mengasikkan. Unsur thriller-nya mengena, editing-nya juga bagus, membuat penonton ikut berkecamuk dan merasa iba terhadap tontonan di layar. Saya yakin, jika ritme kinerja sutradaranya stabil, mungkin saja seri kedua jauh lebih menyenangkan dan penuh kejutan. At least, jiwa musikalitas Condon masih berfungsi baik dengan sigapnya ia memilih lagu-lagu bagus pengiring film ini. Serupa tak sama, permainan akting para bintangnya juga lempem-lempem saja. Minus Kristen Stewart, hampir semuanya berdialog seakan membaca skrip. Flat, tanpa jiwa. Stewart sendiri yang bermain optimal, kerja kerasnya menguruskan badan sukses mengubah image cantiknya selama ini. Kencatikan seorang ibu hamil memudar begitu saja.

Jujur saja, saya lebih nyaman menonton Breaking Dawn jika dibandingkan dengan Transformers ketiga beberapa bulan lalu. Efek megah ternyata bukan segalanya, melainkan naskah yang tertata rapih. Untunglah Rosenberg kali ini bukan sekadar dapat honor tapi benar-benar bekerja. Rupanya, Condon berhasil mengatur posisi masing-masing krunya untuk memaksimalkan seri pamungkas ini. Terlebih untuk pergerakkan kamera dan sinematografi yang terlalu signifikan dan indah untuk dipandang. Nilai plus lain untuk film ini.

My verdict, euforia kebimbangan anak manusia dalam memilih cinta antara menjadi vampir atau manusia serigala memang masih membuncah dan akan terus begitu hingga filmnya usai sekalipun. Setali tiga uang dengan Harry Potter, Twilight memiliki selling point di atas rata-rata dan akhirnya memiliki dampak terkait juga terhadap perfilman masa depan nantinya. Terlihat bagaimana larisnya sebuah romansa sekalipun dibalut dengan unsur horor dan dialog super berlebihannya. Seburuk-buruknya kelima film Twilight, kelima-limanya tetap akan ditonton untuk melihat betapa fenomenalnya cinta terlarang ini. Happy watching!


by: Aditya Saputra

Senin, 17 Oktober 2011

The Help (2011)


Director: Tate Taylor
Cast: Viola Davis, Emma Stone, Bryce Dallas Howard, Octavia Spencer, Jessica Chastain, Mike Vogel, Sissy Spacek
Rate: 4/5


Film bertema rasisme? Sepertinya untuk periode sekarang mengangkat hal yang tabu semacam itu mungkin bukan suatu rintangan lagi. Hak-hak kaum hitam di masa sekarang berbeda saat mediasi 60-an. Para kaum kulit berwarna sudah berani berevaporasi dan menghilangkan jengkal perbedaan dengan kaum putih lainnya. Jadi, untuk mengingat kembali betapa nistanya kaum kulit hitam di mata para kulit putih pada tempo doeloe seringkali sineas Hollywood membuka topeng sendiri bagaimana nasib dan kejelasan juntrungan mereka dalam bersosialisasi. Tidak mudah bagi mereka (kaum kulit hitam-red) untuk bebas berserikat dan mengeluarkan pendapat. Jangankan begitu, untuk hanya menggunakan toilet saja seakan sudah ada ketetapan hukum tersendiri. Di sini, The Help sedikit banyak mengupas siklus butiran hidup para metropolitan Mississippi yang kali ini dipimpin oleh si keling Viola Davis dan beauty from Zombieland, Emma Stone.

Skeeter, gadis yang kembali ke kampungnya setelah menyelesaikan sekolahnya guna menjadi seorang penulis. Alih-alih begitu, ia malah mempunyai ide lain dengan mensurvei para pembantu-pembantu negro yang dengan setia 'mendedikasikan' hidup mereka mengurus anak dan keperluan rumah tangga lainnya di rumah-rumah warga kulit putih. Orang pertama yang diwawancarainya adalah Aibileen, PRT yang mengabdi di rumah Elizabeth. Sedikit waktu, akhirnya merekapun bisa mengintrogasi Minny yang kebetulan baru saja dipecat dari rumah Hilly hanya karena masalah sepele. Dan ternyata, hampir keseluruhan PRT berkulit legam ini merasakan betapa tidak adilnya hidup mereka jika hanya melihat sudut pandang warna genetikal kulit. Mengerikan memang melihat kenyataan yang ada. Untunglah, Skeeter dengan lugas membeberkan segala perihal busuk yang mempercundangi kehidupan sosial glamor mereka. Satu hal lagi, tahun itu para gadis diharuskan menikah muda dan segera memeliki keluarga. Yah, Skeeter salah satu yang membangkang pola tersebut.

Menakjubkan. Satu kata yang terlintas saat saya menyudahi film ini berikut dengan bergulirnya ending credit yang mendayu itu. Sebuah cerita yang mengandung beribu kiasan dan tombak batin bagi siapa saja yang menontonnya. Cermin hidup yang bisa kita resapi bagaimana sebuah toleransi dan tenggang rasa terhadap sesama. Ada protagonis yang mewakili kaum baik dan antagonis yang menegaskan jika orang seperti itu memang ada di belahan pelosok manapun. Ending film ini sangat jauh dari kesan klise. Patut dipuji adalah sutradara Tate Taylor yang berhasil menerjemahkan novelnya menjadi naskah apik serta pemanasan untuk penyutradaraannya yang hampir tanpa cela.

Viola Davis bermain dengan sangat gemilang. Ekspresi memesonanya sudah ditunjukkannya tepat saat ia pertama kali muncul di layar. Kesedihan, kekecewaan, serta haru saat perpisahan tergestur dengan sempurna. Stone pun demikian. Santai namun garang. Buktikan saja ketika ia beradu argumen dengan ibunya. Sehingga, Octavia Spencer, Bryce Dallas Howard, dan Jessica Chastain ikut-ikutan tertular berakting piawai. Jarang ada film rombongan wanita begini yang mencurahkan segenap hasrat mereka untuk adil berbagi layar dan menyatu menjadi simbiosis yang mutualisme. Terutama buat si film maker-nya. Bisa jadi, The Help menjadi kejutan Oscar tahun ini tatkala tahun kemarin atas kemunculan tak terduga film kurang terkenal Winter's Bone yang juga dimainkan oleh Tate Taylor.

The Help mungkin cerita yang diprioritaskan kepada penonton yang memiliki pikiran terbuka akan pentingnya keterbukaan. Kenaifan para sosialita serta keterperukan untuk sebuah kata keadilan memang hal-hal yang ingin diprimerkan oleh sutradaranya. Beruntung The Help didukung aktor dengan kemampuan prima serta keleluasaan ending yang tidak mengada-ngada. Lebih jamak lagi beruntungnya, kalau The Help diterima dengan tangan terbuka untuk award season akhir tahun nanti. Selamat Tate, karyamu satu ini patut dibanggakan. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 15 Oktober 2011

Rise of the Planet of the Apes (2011)


Director: Rupert Wyatt
Cast: James Franco, Freida Pinto, John Lithgow, Brian Cox, Tom Felton, Andy Serkis (voice of Caesar)
Rate: 4/5


Memalukan sekali rasanya menyadari diri kalau belum pernah menonton satupun film tahun-tahun belakang tentang kera besar ini. Jangankan untuk film lawas era 60-an, yang lewat satu dekade karya Tim Burton saja belum saya jamah. Akhirnya kesempatan menyaksikan para monyet ngamuk ke homo sapiens datang juga. Beruntung, kesan pertamanya ini sungguh menyenangkan. Filmnya rapih, bagus, dan ada beberapa adegan yang sangat membekas di kepala. Walaupun tema dan ceritanya sudah uzur, namun polesan sang sutradara serta pembaharuan lainnya telah mengkilapkan tampilan Rise of the Planet of the Apes ecara keseluruhan.

Entah kenapa, ada sensasi tersendiri saat menyaksikan film ini. Pertama, mungkin karena kuatnya chemistry para bintang dan binatangnya yang saling memadu-padankansatu sama lain. Kedua, keberanian sang kreator memilih adegan-adegan yang terbilang berani dalam penyampaian pesan ke penonton. Berikutnya mungkin karena efek, musik, dan tata kamera yang makin melengkapi agar film ini bukan cuma sebagai konsumsi mata dan telinga tapi juga demo sosial secara tidak langsung. Terakhir, mungkin juga berkat kepiawaan beberapa pekerja aktingnya. Singkarkan dulu si Pinto yang sedikit cemen, masukkan kuota akting dari Franco, Lithgow, Felton (bolehlah...), dan Serkis sebagai peraga monyet Caesar. Keseluruhannya menunjukkan akting yang tidak berlebihan sehingga tersaji dengan sangat meyakinkan kalau apa yang diceritakan besar kemungkinan bisa terjadi di dunia nyata.

Film ini sebagai contoh bagaimana manusia salah dalam mengaplikasikan kelebihan kepintaran otaknya. Ternyata terlalu pintar (juga rakus) dapan merusak apa yang sudah dipilah dengan baik. Tokoh si bos yang selalu kurang dengan apa yang didapatnya bisa jadi cambuk untuk para bos-bos besar di luar sana yang berotak sejenis. Ceritanya cukup sederhana, di mana serum yang memungkin para kera besar terlihat seperti manusia dalam kesehariannya. Namun sayangnya apa yang diharapkan tidak sesuai dengan rencana. Perlahan para simpanse ini merebak keluar jalur dan meresahkan manusia.

Mengambil point of view dari Caesar, evolusinya dari mula ia bayi hingga super cerdas untuk ukuran kera di usia dewasa cukup membantu jalur filmnya. Kesan mendalam yang dirasakan Caesar terbukti sukses dalam membangun emosi. Klimaks muncul saat ia mulai merasakan betapa leganya di dunianya sendiri. Caesar ingin bebas. Seolah penonton jadi sedikit terenyuh jika para binatang liar ini (dan juga para pet lainnya) butuh sebuah keleluasaan hidup, bukan untuk kelinci percobaan. Suatu pesan klasik yang masih ampuh hingga sekarang.

Kesimpulannya, memang tidak terduga jika summer movie tahun ini diisi oleh setidaknya satu film bermutu tinggi. Bukan merendahkan film summer lainnya, tapi laksana Inception, Rise of the Planet of the Apes seakan seperti suntikan darah segar di mana sekelilingnya masih menghantui film dengan tema serupa namun rendah kualitas. Selamat menikmati sajian menarik dari sutradara yang kurang pengalaman membuat film ini. Kans sekuelnya semakin membumbung tinggi. Can't wait for the next episode. Happy watching!

by : Aditya Saputra

Rabu, 12 Oktober 2011

Insidious (2010)


Director: James Wan
Cast: Patrick Wilson, Rose Byrne, Ty Simpkins, Barbara Hershey
Rate: 3/5


Mencekam? Tidak juga saya rasa. Film ini hanya berjalan berliku-liku. Kadang menggoncang adrenalin dan rasa takut, tapi seterusnya membuat saya lelah dan berharap untuk segera selesai. Film ini tidak begitu buruk, malah untuk awal hingga 3/4 film, Insidious bermain dengan jiwa yang jauh dari kesan menina-bobokan penonton. Dentuman sound sekaligus dengan adegan penggedor jantung cukup dibuat dengan penuh kejutan. Penampakan-penampakannya tidak sekonyong-konyong film hantu porno buatan dalam negeri. Kendati begitu, eksekusi untuk penuturan ending-nyalah yang meragukan saya jika film ini tidak berdiri di tarif normal film hantu khas Hollywood.

Apa yang tersaji dari awal tadi seakan jungkir balik jika melihat penyelesaian yang bagi saya, agak lucu. Simfoni rasa takut yang tiba-tiba sumbang jadi ingin nyengir.
Masalahnnya, kenapa sang sutradara seakan merasa takut untuk membuka opsi lain untuk ending-nya. Bagi saya, keikut-sertaannya sang ayah dalam ritual menakutkan ini seperti olok-olok akan filmnya sendiri. Dibuat creepy memang, tapi bekas kewajarannya jadi terbang entah ke mana. Cerita bermula dari sebuah keluarga yang baru pindah ke rumah baru tiba-tiba diganggu makhluk dari alam lain yang ternyata mengingingkan sosok sang anak. Hantu yang senang merecoki rumah tangga ini ternyata mempunyai ambisi lain yang ternyata sudah melekat di silsilah keluarga ini. Jreng!! Hantu mulai pamer bodi sana-sini. Saya merasa ikut dihantui dengan adanya perihal penampakan-penampakan yang cukup menyeramkan ini.

Patrick Wilson yang meski sudah bermain maksimal, begitu juga dengan aktor lainnya mungkin jadi jembatan penolong akan suramnya ending yang diberikan oleh sang sutradara. Tidak usah buru-buru semestinya. Pelan saja dalam memvisualisasikan sosok dalangnya, namun tetap dalam pakem yang sewajarnya. Kehadiran ghostbuster di sini juga sedikit memberi tahu tentang keberadaan cenayang di negeri Paman Sam tersebut.

Sulit meletakkan Indisious di deretan film kurang suntikkan pemicu kecemasan penonton, soalnya pada dasarnya film ini penuh adegan yang membuat buku kuduk merinding. Tapi, berkat ending-nya yang terlihat memudahkan beberapa cara, Insidious juga bisa ditafsirkan sebagai film horor yang ingin cepat selesai. Kalau boleh memilih, salah satu adegan favorit saya adalah ketika sang istri diganggu setan anak kecil yang awalnya sedang menari lalu lanjut hide and seek di dalam rumah. Ekspresi rasa takut dan kecemasan pun tidak berlebihan ditonjolkan artisnya.

Kesimpulannya, Insidious masuk dalam jajaran film horor yang bermutu dengan tampilan beberapa adegan yang sukses 'mengganggu' penonton dengan sosok hantu di film ini. Semoga beberapa di antara kalian cukup puas dengan episode penyelesaiannya. Mungkin ada beberapa yang memang setuju dengan ide exorcism tersebut, tapi tidak menggigit kalau bagi saya. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Rabbit Hole (2010)


Director: John Cameron Mitchell
Cast: Nicole Kidman, Aaron Eckhart, Dianne West, Sandra Oh
Rate: 3,5/5


Melihat poster film ini saja sudah terasa terombang-ambing. Potongan-potongan frame yang disatukan menyiratkan sedikit pesan bagaimana filmnya akan berbicara. Menegaskan sedikit dramatisasi yang akan terjalur sepanjang filmnya. Tunggu, kita masih menilai posternya. Sekeping gambar yang memiliki multi makna. Apa yang Nicole dan Aaron rasakan di dalam gambar tersebut? Tentang apa film ini akan bergulir? Lubang Kelinci akan menyudut ke arah mana? Penuh teka-teki. Laiknya poster, ternyata filmnya juga akan bercabang ke mana-mana. Gejolak emosi yang akan mempermainkan perasaan penonton. Lantas, apa pula yang membuat Kidman begitu terlihat depresi dalam mengembangkan karakternya kali ini?

Rabbit Hole sungguh di luar dugaan. Berangkat dari saduran cerita pentas, film ini ditulis kembali skripnya untuk dijadikan feature panjang. Untung saja, perjuangan sang penulis berakibat tidak pahit. Film ini sangat berkelas. Cerita tentang keretakan rumah tangga akibat kehilangan orang terkasih memang sudah sering diumbar oleh sutradara Hollywood. Namun, ada bumbu lain yang membuat Rabbit Hole tidak terlihat sama persis dengan yang lain. Kidman serta Eckhart berperan sebagai sepasang suami istri yang ditinggal meninggal kecelakaan sang anak lepas 8 bulan yang lalu. Ternyata, mereka belum menemukan jalan terbaik agar bayangan sang anak tidak selalu membuntuti kehidupan mereka yang alhasil kadang mereka lupa untuk meniti kembali apa arti sebuah keluarga. Perasaan cinta meleleh dan melebur entah ke mana. Masing-masing sibuk dengan dunianya. Terlebih lagi dengan sang istri yang mungkin seumur hidupnya tidak akan pernah bebas dari penjara masa lalu. Mereka salah kaprah, salah tujuan, serta salah solusi dalam menggapai semuanya. Parade percek-cok-an yang terjadi malah menambah api permasalahan yang sukar dipadamkan.

Menonton film ini seakan dibawa depresi juga. Semua gerak gambar terjalin indah dan terangkai cantik menghias gambar meski ceritanya agak buram untuk dinikmati. Perih. Melihat bagimana proses rumah tangga yang tersendat akibat keegoisan dan kukungan memori. Sinematografinya terbilang apik. Menyorot semua gerak-gerik karakterisasi si pelaku utama sehingga emosi yang terpancar ikut terasakan oleh penonton. Lihat betapa bernafsunya Kidman saat beradegan di mini market. Lihat juga 'festival' adu mulut Eckhart versus Kidman saat di rumah. Tanpa bantuan pergerakan kamera yang dinamis, mungkin saja terasa kurang efektif buat mencapai klimaksnya. Tone musiknya cukup mampu menyemangati penonton untuk tetap stay di tempat.

Nicole Kidman akhir-akhir ini memang jarang mendapat skrip yang bagus. Nine cuma ala kadarnya, Australia kendati bagus cuma kurang darah, ada lagi The Invasion yang dangkal dalam menarik minat tonton. Namun kali ini, kelihaiannya berakting semakin terasah. Lekuk rahang dan ekspresi mukanya memperlihatkan sekali bagaimana kondisi seorang ibu yang merasa kehilangan sang anak. Emosi yang terluapkan juga tidak main-main. Butuh aktor yang kompeten yang sanggup mencurahkan segala ekstra power akting seperti akting Kidman di film ini. Jadi, Eckhart merasa tertolong hingga mampu memberi bantalan peran yang hampir sama bagusnya dengan Kidman.

Inilah salah satu produk terbaik yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Kekuatan cerita yang diiringi dengan hembusan nafas akting yang memukau dari pemeran utamanya beberapa penyebab mengapa Rabbit Hole terhitung film dengan mutu di atas rata-rata. Koreksi untuk beberapa poin yang kurang sempurna juga tidak menyurutkan pesona Rabbit Hole sendiri. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Senin, 10 Oktober 2011

Coviction (2010)


Director: Tony Goldwyn
Cast: Hilary Swank, Sam Rockwell, Minnie Driver, Melissa Leo, Juliette Lewis
Rate: 3,5/5


Hilary Swank, salah satu permata Hollywood yang jarang mendapat film ber-budget bombastis dan juga hampir tidak pernah filmnya laris manis di pasaran. Dia tidak begitu cantik, memang, dan body-nya juga kurang masuk spesifikasi model dan artis terkemuka layaknya Angelina Jolie ataupun Natalie Portman yang sama-sama pernah menggondol Oscar. Tapi, Swank mempunyai bakat akting yang stabil yang kerap diperlihatkan dengan sangat prima di setiap filmnya. Dua piala Oscar lewat Boys Don't Cry dan Million Dollar Baby seakan membuktikan jika tidak harus super cantik untuk menjadi juara. Talenta cantik yang diutamakannya juga terpatri untuk film ringan semacam Freedom Writers, Amelia, ataupun P.S. I Love You itu. Lewat Conviction, sekali lagi dia menunjukkan batas maksimal seorang aktris, walaupun semangatnya kali ini kurang terekspos.

Conviction muncul dari kisah nyata tentang tuduhan kepada seorang pria akan pembunuhan keji yang tidak pernah dilakukannya. Namun, fakta berbicara lain. Dia dipojokkan dan diserbu dari sana-sini sehingga satu persatu bukti palsu menghakiminya bahwa ia harus mendekam di jeruji besi seumur hidupnya. Adiknya, yang sangat dekat dengan sang kakak merasa keadilan harus ditegakkan bagaimanapun caranya. Dia rela mengorbankan pernikahannya demi menemukan jalan terbaik agar sang kakak terbebaskan dari kukungan polisi tersebut. Walaupun ada oknum yang kurang setuju dengan tindakannya, namun lambat laun perjuangan keras sang adik membuahkan hasil yang manis.

Kronologis film ini memang mengalir dengan sangat rapi. Mulai dari lengangnya kehidupan mereka sampai akhirnya perkara puncak mulai menyeruak ke permukaan. Skripnya bagus, mengarah ke titik yang diinginkan. Perlahan penonton diajak mengenal karakter masing-masing perannya hingga menuju klimaks yang sayangnya tidak begitu menggelegar untuk ukuran film berbasiskan ruang sidang. Jika boleh usul, seharusnya ada sequence adegan di court room yang membimbing penonton ke puncak fantasi emosi yang lebih dari yang sudah ada. Adu mulut antar jaksa maupun hakim memang ada di pertengahan film, tapi penyelesaian yang seadanya itu yang kurang diposisikan dengan maksimal oleh sutradaranya.

Lebih dari itu, kita bisa sedikit menyaksikan sedikit refleksi hidup dua bersaudara yang saling mendukung satu sama lain. Mulai dari hidup kecil mereka yang dibadai masalah, rumah tangga berantakan, hingga terakhir harus berujung dengan hukum. Menjelaskan sedikit, ternyata tuntutan uang bisa lebih berjaya dari hukum itu sendiri. Di manapun negara itu berdiri. Mengerikan memang, melihat ketidakadilan harus merasa tersakiti oleh beberapa lembar rupiah (atau dollar). Kembali ke filmnya, hubungan kakak-adik yang direka oleh sutradaranya cukup mendiskreditkan jika persaudaraan itu memang diharuskan saling menopang, bukan menelantarkan.

Dari sektor akting, apa yang diberikan pemainnya lebih dari cukup. Swank seperti biasa membuat filmnya menjadi sangat hidup, lengkap dengan permainan mimik dan gesture aktingnya. Rockwell kali ini sanggup mensejajarkan kapasitasnya saat bersanding dengan Swank hingga mampu memberikan penampilan yang sama memukaunya. Para pendukung yang sekelebat muncul juga mampu memberi angin tersendiri. Minnie Driver, Leo, dan Lewis menunjukkan jika supporting role itu bukan hanya sekedar in frame lalu kabur, tapi juga berani memberi yang terbaik. And, they did it.

Dukungan lain semacam musik dan sebagainya memang kurang dioptimalkan oleh si empunya film. Sang sutradara, Tony Goldwyn mungkin kurang berpengalaman meng-handle film besar dengan banyaknya aktor mumpuni di dalamnya. Seringnya ia berkelana di dunia tv semestinya cukup membantu, namun sayangnya hal itu malah menjadi beban baik untuk dirinya maupun untuk hasil keseluruhan filmnya sendiri. My verdict, jika saja film ini tidak diisi para pemain hebat dengan dukungan kinerja yang hebat pula, bisa jadi Conviction hanya film based on true story biasa saja. Goldwyn harus bersyukur dan menjahit sulaman bolongnya untuk proyek berikutnya. Semoga, lebih bagus lagi. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Minggu, 02 Oktober 2011

Transformers: Dark of the Moon (2011)


Director: Michael Bay
Cast: Shia LaBeouf, Rosie Huntington-Whiteley, Josh Duhamel, Frances McDormand, John Malkovich, John Turturro, Patrick Dempsey, Tyrese Gibson
Rate: 2,5/5


Michael Bay mempersembahkan tontonan yang jauh dari kesan bergizi dengan tampilan dan polesan yang sangat menarik perhatian siapa saja yang melihatnya. Kali ini datang dengan plot cerita yang diharapkan berbobot dan kedatangan artis pendatang baru dengan penampilan bohay namun nilai minus untuk aktingnya. Tunggu, nilai minus bukan untuk dia saja, tapi untuk keseluruhan filmnya. Kasar, hah? Biarlah, memang sudah terbukti dengan nyata jika kualitas franchise ini bak kacang goreng yang sekali makan tapi sulit buat mengenyangkan hasrat perut. Robotnya makin banyak, aksinya makin cihuy, gerakan gambarnya makin memesona, efek suaranya semakin mendentum, embel-embel 3D di ujung judulnya, Shia nya udah kerja di kantor, banyak bunyi transformasi yang bikin ngilu buat didenger. Tapi tetep, nilainya gak mampu lebih dari 5. Angka merah, Bay!

Seperti yang disinggung sebelumnya, film ini sangat brutal untuk adegan perkelahian antar robotnya. Jadi, keterlibatan para serdadu manusia di film ini jauh dari kata menarik dibanding robot war-nya sendiri. Memang, ada beberapa sequence yang memompa adrenalin saat mereka--para manusia tadi, menyelamatkan diri. Sebagai penghibur belaka. Nilai sempurna jelas ditujukan buat sumbangsih para kreator CGI-nya yang dengan sukses membuat film ini tidak menjadi lebih sebagai obat tidur. Terus terang, drama panjangnya sungguh membosankan.

Shia dengan joke-nya yang semakin garing, lupa bagaimana menjadi sosok penting saat di film pertama. Kekonyolan yang tak bisa dibendung lagi tentu saja kehadiran orang tuanya yang maunya mengocok perut tapi jatuhnya krenyes tanpa isi. Bombastisnya, kita diberi hadiah pembuka oleh Bay, tepat sebuah anugerah indah dari kemolekan Rosie. But hey, bahkan bibir Megan Fox jauh lebih menggoda dari itu. No offense.


Untung saja, Bay seakan bisa membaca lahan kosong yang harus ditempatkan oleh orang penting agar filmnya tidak terkesan murahan. Sorry, filmnya jelas mahal, maksud saya agar tidak terkesan sangat buruk. Diberikannya slot akting untuk tetua seperti John Malkovich dan Frances McDormand jelas cukup membantu membuat neraca mutunya tidak jatuh bebas ke arah yang lebih buruk. Hitung kata buruk di postingan ini!

Bay, seperti umumnya yang kita tau, salah satu sutradara yang lebih menekankan kuantitas aksi daripada pusing memikirkan dampak kualitas ke depannya. Seolah sudah tau jika patung buah raspberry akan kembali dipegangnya. Sudahlah, semakin dikecam toh film ini semakin berjalan mulus di tol box office. Ditambah lagi dengan bantuan uang sewa kacamata tiga dimensi. Tapi, saat Bay mencoba membuat cerita sekalem The Island malah bisa dikatakan rugi. Padahal film itu saya nilai cukup menarik baik dari segi cerita maupun casting. Terbukti, label lebay sudah terpatri kuat di kening Bay. Pearl Harbor dan Armageddon contoh kecilnya.

Trannsformers tidak serta merta menjadi produk sampah, bahkan jauh dari kesan sampah itu. Sampah mana yang bisa menghasilkan uang ratusan juta dolar, coba? Dilengkapi dengan audio visual yang mencengangkan mata dan telinga dan juga soundtrack khasnya, Transformers: Dark of the Moon sangat cocok sebagai plural hiburan. Menyenangkan memang jika pertempuran dahsyat yang terpampang di film ini (dan di kebanyakan film aksi Hollywood) tidak terjadi di Indonesia. Biarlah mereka saja yang cemas bagaimana situasi itu terjadi. Simpan logika saat menonton film ini, tipiskan selera humor, niscaya, film ini sangat amat layak ditonton. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Water for Elephants (2011)


Director: Francis Lawrence
Cast: Reese Whiterspoon, Robert Pattinson, Christoph Waltz, Hal Holbrook
Rate: 3/5


Beberapa bulan yang lalu, saya membaca sebuah novel yang berisikan seluk beluk dunia sirkus. Salah satu tema dan dunia yang jarang disentuh oleh penulis. Kehidupan keras yang menyelimuti aneka ragam dari layar belakang panggung sirkus tersebut, ditelaah dengan sangat lugas di novel karang Sara Gruen tersebut. Water for Elephants, judul buku tersebut yang akhirnya diterjemahkan lewat untaian pita seluloid tahun ini dengan menghadirkan pesona vampir masa kini, Robert Pattinson. Agak riskan memang saat saya mendengar kabar jika si vampir ini akan bermain drama, apalagi akan didampingi oleh aktor sekaliber OScar semacam Resse Whiterspoon dan Christoph Waltz. Yah, nasi sudah menjadi bubur, dan Rob akhirnya menjadi tokoh utama yang diharapkan mampu mengimbangi filmnya ke jalur yang lebih baik.

Sialnya, tidak. Apa yang terkisah di filmnya sangat jauh dari harapan dan dugaan saya ketika saya membaca novelnya. STOP!! Dari casting-nya saja saya sudah punya bayangan jika Rob adalah miscast. Ternyata benar. Sosok karismatik, pintar, dan pendiam seperti Jacob di lembaran kertas novelnya seakan melenceng jauh dengan panorama akting yang dibawakan oleh Pattinson. Saya tidak bilang buruk, tapi sangat disayangkan--jauh dari kesan memorable. Jadi, apa yang telaph ditopang oleh Whiterspoon dan Waltz hilang tanpa bekas. Belum lagi, sang scriptwriter dan sutradaranya membuat kesalahan dengan tidak menyertakan adegan-adegan penting di novelnya untuk dilibatkan di filmnya. Tujuannya mungkin dibenarkan, yaitu agar terlihat mampu berdiri sendiri tanpa anekdot dari cerita aslinya. Tapi kalau sudah begini, tujuannya jadi tidak dibenarkan sama sekali. Soalnya, cerita yang terpampang dengan sangat cantik dan membumi itu sudah lebih dari cukup untuk diolah kembali sedemikian rupa demi kepentingan uang dan keegoisan ide pikir.

Jacob, seorang pelajar yang tidak selesai sekolahnya mencoba peruntungan dengan mengikuti perjalanan sebuah parade sirkus. Singkatnya ia bertemu dengan banyak manusia 'aneh' dalam bertingkah dan tentu saja Marlena dan August, sepasang cinta yang sebenarnya berlabel tidak saling mencintai. Kedatangan Jacob yang semula kurang berguna perlahan menjadi sosok penting karena selanjutnya diketahui jika ia cukup mahir dalam mengobati binatang. Tak lama, grup sirkus ini kedatangan si bintang utamanya, Rosie--seekor gajah yang berperilaku unik karena mampu berkomunikasi dengan manusia dalam bahasa Polandia. Dalam hal ini, Jacob lagi-lagi cumlaude berbahasa negara itu. Permasalahan muncul tepat saat August mulai menampakkan sifat asilnya dan beringas terhadap para binatang-binatang sirkus ini.

Inilah yang kata saya sangat disayangkan. Beberapa hal utama dalam novelnya kurang tergali dengan sangat intim. Keterlibatan para animalia ini seharusnya berpotensi menyegarkan mata penonton yang sudah kelewat lelah menyaksikan drama klisenya belaka. Keikut-sertaan Rosie sang gajah serta amuk massal saat pagelaran juga kurang dieksplor lebih. Kalau boleh memuji, art direction dan tata busana film ini terbilang kolosal dan cukup mewakili apa yang didongengkan penulis novelnya. Cuma itu saja kesalahan, kurang dieksplorasi apa yang terkandung di jiwa bukunya.

Terlalu memaksa memang jika memaksakan kehendak sendiri agar apa yang tersaji di filmnya harus 100% real dari novelnya. Tidak begitu juga, saya sebagai penonton yang sudah membaca bukunya, memang mengahrapkan suatu gejolak emosi dan mungkin perasaan gundah yang sama. Okelah, sebut saja sutradaranya memang belum ahli dalam menggodok emosi penonton, dan sebut saja Robber Pattinson salah satu tumbal yang membuat film ini semakin enggan ditonton, namun jangan lupakan penampilan menarik dari sosok Reese dan Waltz yang sudah bermain cukup bagus. Mampu menghalau penampilan seadanya dari Pattinson dan ekstra lainnya. Satu poin penting film ini adalah, film ini membagi dua babak dimana pertama saat Jacob mengalami masa keemasan dan kepudarannya, dan kedua saat ia mulai renta di panti jompo menunggu sekelompok sirkus siap menerimanya kembali.

How pity, this movie is not as big as the elephant. It's not as strong as the horse, neither. The plus is, setidaknya kita sedikit mendapatkan ilmu tentang bagaimana dunia sirkus itu sendiri. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Senin, 16 Mei 2011

Blue Valentine (2010)


Director : Derek Cianfrance
Cast : Ryan Gosling, Michelle Williams, Mike Vogel
Rate : 4/5


Tentang apa Blue Valentine ini? Sekilas membaca judulnya, sudah jelas bobot utama yang diutarakan adalah lagi-lagi masalah cinta. Tagline-nya dengan tagas menyiratkan 'A Love Story' yang tertuju pada hubungan cowok-cewek dengan aroma romantisme di mana-mana. Tapi, setelah film dibuka dengan alur yang maju-mundur-maju, dan detik terakhir akhirnya berhenti, kita selanjutnya tau jika Blue Valentine bukan kisah klasik parade cinta anak abege. Jelas ini sudah berada di level atas, tingkat dewasa, kasta bermutu tinggi. Menyaksikan Blue Valentine sangat jauh berbeda saat kita menonton Before Sunrise/Sunset apalagi The Last Song. Ini lebih ke Revolutionary Road. Tidak ada warna-warna terang sepanjang film ini, sebuah membaur. Gelap, pekat, menyimbolkan cerita dan karakternya sendiri. Kegelisahan.

Dean dan Cindy adalah pasangan muda yang telah memiliki seorang anak. Hubungan mereka aem ayem saja sampai akhirnya kedua pribadi saling bermasalah dengan rasa otoritas. Masing-masing mulai meunjukkan rasa 'semau gw', dan mulai menyingkirkan rasa kasih sayang serta cinta yang telah mereka bina bertahun-tahun ke belakang. Flasback yang mengikuti alur bagaimana mereka bertemu, berkenalan, megalami cinta segi tiga, bercinta, sampai ujungnya menikah diperlihatkan dengan sangat cantik tapi kesan perih juga tak bisa dilepas. Kenapa saya bilang begitu? Pecahnya aroma rumah tangga mereka memang dimulai dari percintaan di masa remaja mereka. Saya nilai mereka tidak diharuskan menikah, cukup menjalin hubungan 'pacaran' setelah itu bubar jalan. Karena dari awal, rasa cinta mereka hanya kabut sesaat.

Jika Anda jenis penonton yang mengharapkan adegan menye-menye, lebih baik urungkan menonton film ini. Blue Valentine penuh dengan intrik, rasa depresi serta dialog-dialog ekstrim yang susah sekali diartikan secara umum. Percakapan antara Dean dan Cindy cukup dalam alias sulit ditelaah begitu saja. Adegan-adegan yang menyelimuti film ini juga sangat dewasa, dalam artian sesungguhnya. Adegan nudity, seks, serta amarah remuk-redam ditampilkan sang sutradara dengan sangat jujur dan lugas. Dengan penuhnya adegan non-semua-umur tadi film ini pernah diganjar rating NR17 sampai diberi keleluasaan dengan menyandang rating R. Kekuatan utama itu juga terletak pada kelihaian editing filmnya mengatur adegan flashback dan flashforward sehingga menjadi lebih renyah untuk disantap.

Musik yang mengalun film ini juga sangat indah. Banyak lagu-lagu pemuja cinta mengalir sepanjang film berjalan. Mengiringi adegan serta dialog yang luar biasa indah juga. Terlebih lagi dengan tingkat musik yang menyulap salah satu adegan kekerasan di rumah sakit menjadi lebih kelam. Adegan tadi meracuni penonton jika hubungan cinta itu tidak selalu berasa valentine, namun bisa saja menjadi halloween. Permainan asik ditunjukkan oleh duo Michelle Williams dan Ryan Gosling. Keintiman keduanya berhasil membentuk paralel akting yang sangat dahsyat. Performa keduanya baik dalam kondisi yang sendu maupun saat mereka beradu argumen ataupun hubungan fisik, tidak ada cela. Ini juga asalan yang membuat mereka melanjutkan relasi keduanya di luar film. Great actors!

Film ini sangat cocok ditonton oleh pasangan yang ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan. Mungkin, film ini bisa memberi sedikit masukan betapa suramnya dua menikah itu saat kita membuka pintu gerbangnya. Kita bisa membuat dunia itu dua: nyaman atau berantakan. Kenyamanan yang mutlak itu bukan hanya berasala dari diri pribadi, tapi juga ada campur tangan unsur luar. Berantakan? Satu-satunya penyebabnya adalah kesalah posisian diri pribadi dalam menempatkan sebagai pelakon rumah tangga. Blue Valentine is too nice to be true. Happy watching!

by: Aditya Saputra

The Kids Are All Right (2010)


Director : Lisa Cholodenko
Cast : Annette Bening, Julianne Moore, Mia Wasikowska, Mark Ruffalo, Josh Hutcherson
Rate : 4/5


Tiap tahun pasti ada saja film bagus yang berasal dari tangan sineas pinggiran. Lisa Cholodenko yang mengaku jika The Kids Are All Right terinspirasi dari kehidupan pribadinya, yang mana memang membuat film ini jauh lebih personil dalam artian tidak meluber ke mana-mana. Titik fokus yang diperlihatkan memang kiasan cinta, tapi taburan sisi-sisinya juga yang menjadikan lebih spesial. Menyingkirkan opsi cita tadi, LIsa menyisipkan pesan singkat bagaimana cara bergaul, relasi sejenis dalam satu atap, hubungan keluarga, serta kepercayaan diri masing-masing. Memang Lisa tidak sendiri menulis skripnya, tapi kebolehannya memadu-padankan intrik tadi harus kita apresiasikan. Saya tidak kenal siapa itu Stuart Blumberg, tapi yang jelas karyanya ini begitu menyentuh.

Nic dan Jules adalah pasangan sejenis yang hidup dengan dua orang anak. Nic 'menelurkan' Laser, sedangkan Jules beranak seorang Joni. Saat kedua anak tersebut menginjak umur 18 tahun, mereka mulai menguntit, dari sperma siapa mereka berasal. Semula, pertemanan mereka dengan pemberi bibit ini diduga biasa saja. Namun kehadirannya memberikan dampak lain. Kehidupan rumah tangga Jules dan Nic mulai ada sedikit singgungan. Anak-anak mulai membangkang, dan Jules serta merta butuh seks yang berbeda dan sialnya itu ada pada diri Paul (sang pendonor sperma tadi).

Ketika saya tahu ada siapa saja yang bermain dalam film ini, dan nama Annette Bening muncul, ketika itu pula saya memasukkan film ini dalam list wajib tonton. Bukan apa, Annette salah satu aktris Hollywood yang selalu stabil dalam memberikan suguhan aktingnya. Tak terkecuali di sini. Sebagai Nic, si 'pejantan' rumah tangga ini benar-benar bermain cemerlang. Tampilan depresi, cemburu, lucu, serta perasaan sayang ditumpahkannya begitu saja. Chemistry yang menawan dengan Julianne Moore semakin memperkuat cita rasa film ini. Moore bukan hanya sebagai pendukung, tapi juga poin penting bagaimana film ini menjadi sangat hidup. Ruffalo yang jarang bermain santai, kali ini cukup memberikan pesona yang berbeda. Inilah mengapa Ruffalo dilirik juri Oscar untuk slot nominasi aktor pendukung terbaik.

Film ini sendiri memang jatuhnya hanya sebagai sebuah film keluarga dengan intrik cinta perselingkuhan di dalamnya. Kerennya, naskahnya tadi tidak terjebak pada kubangan tadi. Dengan cerdik, penulis naskah kita berhasil melemparkan dialog-dialog lucu sarkastik yang sangat memorebel. Selain itu juga, penempatan karakter yang tidak hanya tempelan dalam dunia film belaka. Ini bisa saja terjadi di kehidupan kita (oke, kecuali dunia lesbi satu atap), lengkap dengan segala permasalahannya. Namun sayangnya, ada sedikit kekurangan The Kids Are All Right yang mungkin sedikit fatal. Mengapa Jules diibaratkan sebagai perempuan murahan dengan mudahnya jatuh cinta kepada Paul? Padahal hubungan Jules dan Nic sudah terhitung belasan tahun. Walaupun tidak dipaparkan dengan jelas, The Kids Are All Right tetap tidak kehilangan tajinya.

Lisa Chodolenko berhasil bermain dalam area kerasnya Hollywood dan sukses bersebelahan dengan film-film sineas besar semisal True Grit dan Inception. Dengan tema sederhana plus kandungan feminis dan sensualitas yang cukup pakem, The Kids Are All Right terpuji berkat sederetan akting pemainnya dan dipuji karena naskah apiknya. Pesan singkatnya: cinta memang bak sekeping cokelat. Bentuknya menggugah perhatian, aromanya menusuk indera pembau, rasanya menggigit lidah yang mengunyhnya, tapi sekali kena uap panas sekecil apapun suhunya, cinta pasti cepat melumer. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Jumat, 15 April 2011

The Fighter (2010)


Director : David O. Russell
Cast : Mark Wahlberg, Christian Bale, Melissa Leo, Amy Adams
Rate : 3,5/5


Mengapa dunia tinju selalu menarik perhatian para sineas untuk dipresentasikan ke pita seluloid? Latar belakang sang petinju yang 'gelap gulita'? Kedigdayaan sang petinju di singgasana ringnya? Atau masalah pelik dengan lingkungan baik keluarga maupun lingkungan? Apapun itu, dunia pertinjuan seakan membuka mata kritikus lebar-lebar jika tema seperti ini senantiasa bisa dijadikan 'sarapan' di pagi hari ataupun 'pencuci mulut' sebelum tidur. Martin Scorsese pernah memberi Oscar kepada Robert DeNiro, begitupun dengan Clint Eastwood yang menyumbang Oscar lagi untuk Hilary Swank. 2010 kemarin, David O. Russell yang pernah membuat kita sedikit terkesima lewat Three Kings-nya, sekarang ia mengajak kita ke pinggiran kota Amerika dan melihat perjalanan singkat dari petinju Mickey Ward.

Bersama sang kakak, Dicky Eklund, Mickey seakan 'mengemis' mencari sponsor untuk mengajaknya bertanding di atas ring. Eklund yang dulunya juga sempat menjadi primadona ring sekarang malah bobrok gara-gara kelakuannya mengkonsumsi barang haram dan candu akan wanita. Namun, ada ibu mereka yang sedikit otoriter yang menjadi manager bagi Mickey. Keegoisannya sempat menjadi jurang pemisah bagi kisah cinta Mickey dan seorang gadis pintar pelayan bar, Charlene Fleming. Permasalahan mulai muncul, Dicky harus mendekam di penjara, Dicky mengalami yang namanya depresi pengembangan diri. Yah, untung saja masih ada Charlene yang selalu memberi dorongan kepada Dicky di samping juga harus kembali mengatasi egosentris sang ibu. Roda berputar, Mickey berjaya.

Ya, David O. Russell yang selama ini hanya bermain di sektor aman, sekarang sudah berani menjamah bagian kiri festival. Walaupun nantinya kritikus tidak memenangkan film ini, setidaknya The Fighter punya taring cukup tajam yang pantas ditakuti pesaingnya. Apa yang membuat The Fighter menjadi begitu berkesan? Pertama adalah penuturan dramanya yang tidak menimbulkan kesan boring. Kita memang disajikan tampilan yang terkesan old-school, namun berkat David yang menjaga kestabilan emosi dari awal hingga akhir. Beliau tau kapan klimaks harus diberikan kepada penonton, kapan adegan tak begitu penting dimunculkan. David yang mengatur pula bagaimana isi naskah dari sang penulis juga sukses men-shoot posisi kamera agar indah dilihat. Contohnya adegan bertinju saja. Memang saya nilai adegan adu jotosnya tidak seglamor dan sekeras pendahulunya, Cinderella Man misal, tapi David tidak membodohi penonton dengan upper cut abal-abal. Singkat, sederhana, tapi tetap menggigit.

Mark Wahlberg memberikan penampilan terbaiknya. Bahkan lebih bagus daripada dia mengumpat habis-habisan di The Departed. Lihat raut mukanya yang memendam berbagai pertanyaan hidup. Amy Adams tak kalah hebat. Gadis beringasan dan mau menang sendiri diimplementasikan dengan cukup cantik. Doubt dan Junebug-nya beralasan. Christian Bale dan Melissa Leo menang Oscar dari film ini. Dan mereka pantas mendapatkannya. Bale yang rela beranoreksia ria sungguh bermain tanpa cacat. Pesona Eklund yang urakan dan kumel seperti sudah ditakdirkan untuk dirinya. Leo tak kalah hebat, sosok ibu yang peduli akan kasih cinta anaknya sama kuatnya saat ia juga harus memberi perhatian lebih kepada bocah-bocahnya di Frozen River. Yah, tugas casting director untuk film ini ditata sempurna!

My verdict: The Fighter mempunyai point of view yang kaya dalam memberikan amanatnya. Kesimpulan sebuah film memang jatuh di tangan penonton masing-masing. Bagi saya, film ini memaparkan kisah kasih keluarga dengan sangat murni lewat tampilan buram kerasnya. Tidak menjelaskan secara frontal tentang hubungan sedarah tapi tak kandung ini. Dilengkapi dengan performa nomor wahid dari sang aktornya, mari kita masukkan The Fighter di list film-film bertema tinju berkualitas yang pernah ada. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Minggu, 10 April 2011

127 Hours (2010)


Director : Danny Boyle
Cast : James Franco, Kate Mara, Amber Tamblyn
Rate : 4/5


Sekarang baik Danny Boyle maupun James Franco sudah memiliki gengsi tinggi di mata kritikus dunia. Bagi Danny, ini nominasi keduanya setelah 2 tahun silam pernah menang di karegori sutradara untuk film fundamentalnya, Slumdog Millionaire di Oscar waktu itu. Khusus untuk James Franco, ini mungkin tahap transisi dari aktor nuansa pop ke aliran yang lebih serius. Setelah menuntaskan tiga episode Spider-Man, urakan di Pineapple Express dan mencoba serius di Milk, kali ini bersama si kawakan Boyle, Franco hadir di lembah tinggi penuh bebatuan dan berdiam diri terjepit selama 5 hari 7 jam. Danny Boyle 'menghukum' James Franco di salah satu canyon di Utah lewat persembahan singkat, 127 Hours.

James Franco meminjam nama Aron Ralston, sang petualang hebat yang berkelana ke tempat-tempat yang niscaya akan membuat penonton kagum. Di tengah perjalanan, ia bertemu dua gadis sehobi yang tersesat di daerah gersang tersebut. Tak lama, Aron terjerembab ke dalam bebatuan tersebut dan sialnya lagi salah satu tangannya terperangkap di sebuah gundukan batu. Terjebak dalam tempat kecil dan kurangnya akomodasi baik pangan maupun peralatan petualangan lainnya, Aron harus menerima kesendirian yang harus dia jalani sepanjang 127 jam ke depan. Sepanjang itu pula, Aron merasa melihat kembali kehidupannya yang ia rasa terlalu egois dan tidak memikirkan orang di sekitarnya. Ia juga melihat gambaran singkat dari masa ke masa dirinya sendiri. Sampai akhirnya, ia bertekad untuk tetap hidup dan memilih opsi yang terbilang ekstrim.

Saya pribadi menonton 127 Hours ikut-ikutan sesak napas. Tidak kuat melihat sang tokoh utama kita tidak mampu bergerak barang satu meterpun. Harus merasakan kelaparan, kekurangan air, hujan, delusi dan halusinasi yang berkecamuk. Boyle menempatkan setting kecil ini menjadi suatu penceritaan yang mengalir dengan sangat apik. Sinematografi brilian yang berhasil menangkap angle-angle yang semula tak akan pernah kita pikirkan. Sudut kamera dari dalam sedotan, besetan pisau yang masuk ke kulit, sampai untuk penggunaan soft-lense pun ditata dengan sungguh menarik. Satu lagi yang menyihir dari film ini adalah musiknya. Boyle lagi-lagi mengontrak A.R. Rahman untuk menggubah musik bagi film ini, dan hasilnya sangat cemerlang. Jai-Ho-nya jadi punya alasan untuk menang mengingat If I Rise-nya juga sangat easy listening dan sarat makna.

Simon Beufoy yang bertugas memaklumatkan naskahnya juga sepertinya tidak susah payah dalam menyadur memoar Between A Rock And A Hard Place. Polesan tinta penanya menghasilkan karya yang hebat. Dan itu semua dilengkapi dengan performa nomor satu dari James Franco. Kendati tidak jor-joran dalam berakting, namun tampilan tunggalnya di film ini seakan membuktikan jika ia mampu one-man-show. Predikat aktor terpuji wajar didapuk kepadanya.

Menyaksikan 127 Hours seperti ikutan merasakan kedepresian yang dialami Aron, bukan hanya 127 jam paling stres itu yang jadi pokoknya, tapi juga perjalanan flashback yang sedikit banyak memberikan pelajaran akan pentingnya komunikasi, aksi sosial, dan agar selalu siap sedia untuk segala hal. Boyle yang sempat 'gagal' menyentil saya dengan Slumdog-nya, kali ini saya harus mengakui kehandalannya untuk feature ini. 127 Hours sejajar dengan film bagus lain semisal Into the Wild ataupun Castaway yang juga sama-sama menyodorkan kesendirian di ladang luas sunyi senyap. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Black Swan (2010)


Director : Darren Aronofsky
Cast : Natalie Portman, Vincent Cassel, Mila Kunis, Barbara Hershey, Winona Rider
Rate : 4,5/5


Obsesi, satu kata yang menjadi sorotan utama dalam karya teranyar seorang Darren Aronofsky. Setelah sebelumnya secara mengejutkan menampilkan secara visual kumpulan junkies, dunia linear di The Fountain, serta mengangkat kembali nama Mickey Rourke ke belantika film dunia lewat The Wrestler, Darren kembali 'semena-mena' memanfaatkan bakat aktornya untuk bermain maksimal. Back Swan menjadi kendaraan baru yang Darren stir dan membawanya keliling ke festival-festival film terkemuka di bumi ini. Bahkan, sebelum menjadi isu hangat di bursa Oscar pun, Black Swan telah disemangati besar-besaran saat pertama kali tes layar. Semua tak lain dan tak bukan karena keberhasilan kru dan pekerja akting di dalamnya.

Nina adalah seorang balerina yang memiliki bakat mumpuni dan bersikeras untuk memperoleh predikat Swan Queen di drama pementasan nanti yang dikarang oleh Thomas. Nina berlatih mati-matian karena untuk merenggut tugas itu sang pelaku mau tak mau harus memegang jabatan sebagai White Swan dan Black Swan sekaligus. Namun, suatu ketika Thomas sempat berpikir untuk menempatkan balerina baru berbakat bernama Lily untuk peran Angsa Hitam itu. Nina tidak tinggal diam, segala upaya ia lakukan untuk merebut kembali singgasana yang diinginkannya. Tapi ternyata, jalan yang ia tembuh berbelok ke arah kegelapan. Nina menjadi paranoid berlebihan, terusik hidupnya oleh aura gelap dan jahat bak setan pencabut nyawa. Ditambah lagi, dorongan dan kukungan dari sang ibu yang over protected.

Black Swan kokoh dari segala teknis yang ada. Film ini punya sutradara yang berhasil meracik spesial drama menjadi sebuah thriller psikologis. Darren menarik penonton dengan mudah merasuki alam liar dari seorang Nina dan seakan mengajak untuk menjadi saksi perubahan gejolak batin Nina tersebut. Banyak adegan absurd yang kemudian berkembang menjadi adegan kunci. Seperti Nina yang seakan 'berubah' menjadi angsa hitam ataupun saat Nina kebingungan sendiri dengan wujud lainnya. Sinematografi yang men-shoot scene-per-scene juga menghasilkan klimaks yang sangat menggigit. Tampilan kamera yang menarik gambar para balerina menari ataupun untuk adegan 'hitam' pun ditampilkan dengan sangat apik. Begitupun musik yang melatarinya. Sepanjang film, lengkingan piano mengudara mengikuti gerak lincah para balerina dan juga Nina yang berubah sifat. Jangan lupakan ending-nya yang jauh dari kesan amatiran. Thrilling enough.

Sektor akting kita menemukan seperangkat aktor yang bermain dengan sangat baik. Dimulai dengan sang juara kita, Natalie Portman, yang mampu menerjemahkan sosok Nina yang pendiam awalnya namun perlahan menjadi sosok yang tidak bisa dikontrol. Gerak tari balet yang ia kuasai juga tidak sia-sia, termasuk dengan keberaniannya untuk melakukan adegan intim dengan Mila Kunis maupun Vincet Cassel. Portman pantas dijerat Best Actress untuk perannya ini. Sangat jarang menonton aktor yang mengejutkan bermain sangat menghipnotis seperti ini. Sama halnya dengan Kunis sebagai pendukung yang juga bermain brilian. Lily menjadi terbelah dua berkat Kunis.

Sampai sekarang, adegan-adegan yang ada di Back Swan masih terngiang di kepala saya, terbukti betapa memorable-nya film ini bagi saya. Dan saya hampir lupa jika tahun lalu, Hollywood juga menetaskan Inception yang superior itu. Ternyata, Black Swan tidak butuh inovasi yang melencengkan logika tersebut untuk menjadi yang terdepan bagi saya. Hanya dengan tampilan yang tambal sulam mulai dari cerita hingga ke akting, Black Swan saya labeli sebagai film terbaik sepanjang tahun 2010. Tidak berlebihan, dengan dukungan 100% dari Natalie Portman, seaakan membuat Black Swan seperti kado istimewa dari seorang Darren Aronofsky kepada para penggemar barunya. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 09 April 2011

Easy A (2010)


Director : Will Gluck
Cast : Emma Stone, Penn Badgley, Amanda Bynes, Thomas Haden Chruch
Rate : 3,5/5


Easy A, jelas bukan jenis film komedi remaja kacangan yang hanya menitikberatkan masalah seks belaka. Bukan juga sebuah pendiktean yang sengaja terang-terangan menunjukkan perilaku benar dan salah di sekolah-sekolahan. Namun Easy A adalah salah satu dari sedikit contoh film bertema remaja liar yang sanggup lepas dari sorotan kevulgaran tok, tapi lebih mengandalkan kecerdasan dalam bertutur cerita. Mean Girls adalah contoh lain bagaimana pendekatan remaja tidak melulu harus konyol dan mengumbar ketelanjangan dada dan paha. Lama setelah itu, barulah muncul Easy A.

Tokoh utama kita adalah Olive, yang berbohong kepada temannya jika dia sudah 'menghilangkan' keperawanannya. Naasnya, hal yang diduga tidak akan tambah ruwet itu malah didengar oleh seorang gadis beriman dan berdampak ke seluruh penjuru sekolah. Olive terkenal, dan dia menikmatinya. Namun lambat laun, ia merasa jika stempel murahan tadi terlalu berisiko untuk kehidupan ke depannya. Dengan segala keterlanjuran yang terjadi, Olive berkesempatan berbenah diri untuk tidak terjerumus lebih dalam.

Menyaksikan tingkah pola Olive di sini sungguh menyenangkan. Sikap slenge-an dan egoisnya cukup mengundang senyum sekaligus merasakan apa yang ia alami. Dialog-dialog yang begitu satir dari sang penulis naskah melengkapi pedoman baik bagi film ini. Tahap penyelesaiannya pun tidak terkesan murahan. Tidak klise, sekaligus kuat. Penggarapan karakter yang dipompa Will Gluck selaku sutradara cukup kompeten. Olive tidak dipusatkan sebagai tokoh yang disenangi penonton, sekaligus membuat para pemirsa wanita sebal dengan ulah konyol dan bitchy-nya.

Emma Stone mencurahkan segala kemampuan beraktingnya dengan sangat baik. Sebagai Olive, ia berhasil mengimplementasikan maksud penulis naskah terhadap karakternya. Dengan santai namun pasti, Olive di tangannya jadi sangat klop. Begitu juga yang disuguhkan Amanda Bynes dan para aktor senior seperti Thomas Haden Churh, Patricia Clarkson, dan Stanley Tucci. Kehadiran mereka sekalipun tidak begitu frontal tapi tetap bisa membantu memberi nafas filmnya sendiri.

Sekali lagi, Easy A berhasil menyemarakkan perfilman dunia dengan tema yang terbilang biasa-biasa saja menjadi sedikit lebih berarti berkat sutradaranya yang mengolah naskah cerdasnya dengan begitu baik. Easy A memang bukan film berstandar Oscar, meskipun demikian Easy A tidak juga kalah dalam memberikan pesan moral akan pentingnya persahabatan dan keperawanan seorang wanita. Menghibur, manis, menggelitik, dan loveable! Happy watching!

by: Aditya Saputra

The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader (2010)


Director : Michael Apted
Cast : Georgie Henley, Skandar Keynes, Ben Barnes, Will Poulter, Tilda Swinton, Liam Neeson (v.o.), Simon Pegg (v.o.)
Rate : 3/5


The Lord of the Rings sudah lama tutup buku, Harry Potter tinggal menunggu waktu pula untuk menamatkan serinya. Eragon, The Golden Compass, dan The Spiderwick Chronicles duduk di pojokan karena saga mereka stop tengah jalan. Sekarang kita masih punya Narnia, franchise yang diharapkan dapat tetap menyemarakkan kehidupan dunia fantasi bagi pelahap film sedunia. Dari tahun 2005 kemarin hingga 2010 Narnia baru menelurkan 3 film. Interval yang cukup panjang, karena memang Narnia pun masih tersendat-sendat dalam mencari pemasok dana produksi. Bagaimana tidak, dari jilid pertama menuju ketiga ini kualitas filmnya masih penuh tanda tanya bagi penonton dewasa. Hal yang labil juga menimpa perolehan uang yang diterima Narnia.

Kali ini para yang berkelana hanya Lucy dan Edmund Pevensie melanjutkan petualangan di dunia antah berantah Narnia. Mereka 'terpaksa' mengajak Eustace, sepupu mereka yang bengalnya minta ampun. Di sana mereka 'dipaksa' menemukan tujuh pedang raja yang di mana nantinya dapat mempertemukan mereka dengan sang agung Aslan dan tentu saja mendamaikan sejenak wisata alam bernama Narnia tersebut.

Lantas, bagaimana Narnia bab ketiga ini? Keterlibatan naskah cerita yang terbilang biasa juga punya andil mengapa seri ini dicap biasa-biasa saja. Karena emang iya, tidak ada yang spesial. Semua adegan seperti dimaksudkan untuk memuaskan hasrat penonton anak-anak yang butuh dongeng di dalam bioskop. Mengesampingkan jika penonton berumurpun ingin bersenang-senang tanpa harus dinina-bobokan. Di luar itu, tampilan CGI, vissual effect, musik, dan dekorasi kostumnya cukup membuat decak kagum. Tidak seheboh Harry Potter, apalagi The Lord of the Rings memang, kendati begitu itu bisa menjadi senjata utama Narnia dalam menjaring jamahan mata dan duit penonton.

Yang cukup mencuri perhatian adalah penampilan bandel, nakal, culas, dan egois dari si pemeran Eustace, Will Poulter. Setelah menuntaskan kebengalannya di Son of Rambow, ia kembali menjadi bocah serupa yang dibenci banyak orang. Trio Henley, Keynes, maupun Barnes tidak cukup metang berakting untuk kali ini. Keluwesan mereka turun setingkat dibanding seri terdahulu. Tilda Swinton yang tampil sekilas cukup menyegarkan suasana, pun suara ceriwis dari si Simon Pegg dalam diri Reepichep dan Liam Neeson dengan Aslannya.

Narnia kalah dari berbagai aspek jika dibandingkan dengan kakaknya, Harry Potter. Tapi Narnia punya satu kelebihan, seri ini dibungkus dengan pesan moral yang lebih universal. Anak-anak akan lebih mudah mengerti apa yang dikehendaki si pelakon. Andai saja, sutradara lebih berani menonjolkan adegan pertempuran yang lebih brutal atau daya kreasi yang lebih membahana, bisa jadi seri Narnia berikutnya akan jadi lebih super. Happy watching!

by: Aditya Saputra