Sabtu, 29 Desember 2012

Frankenweenie (2012)


Director: Tim Burton
Cast: Catherine O'Hara, Martin Short, Martin Landau, Winona Ryder, Robert Capron, Atticus Shaffer
Rate: 3,5/5


Tim Burton, seperti yang kita tau, hampir keseluruhan filemnya mengandung unsur kekelaman baik di sektor cerita maupun karakter yang mengisi proyeknya. Mulai dari Edward Scissorshand, Ed Wood, Big Fish, Alice in Wonderland, hingga animasi semisal Corpse Bride dan yang sekarang, Frankenweenie. Uniknya dan hebatnya, hampir keseluruhan karyanya diterima baik oleh masyarakat baik dari segi financial maupun kritik dari para reviewer. Dengan kesehariannya yang gothic dan sedikit menyeramkan, memang tidak heran jika ia juga menyematkan jiwa quircky ke setiap tokohnya. Tidak perlu heran, karena berkat keanehan yang ia perlihatkan di setiap filmnya memang memancing topik yang akan diperbincangkan lebih jauh. Namun, kali ini tanpa mengajak Johnny Depp dan Helena Bonham-Carter, yang sering muncul di setiap feature-nya, Frankenweenie contoh animasi yang sederhana dan loveable, dan juga sarat makna dan gambar yang menarik.

Diceritakan Bob harus kehilangan anjing kesayangannya yang telah menjadi teman di masa hidupnya. Kepergiannya membuat Bob galau sepanjang hari dan tidak bersemangat mengerjakan apapun, termasuk mengikuti pelajaran di sekolah. Namun, suatu hari gurunya menjelaskan cara untuk menghidupkan kembali makhluk yang sudah mati dengan bantuan listrik. Terperangah dan penasaran dengan science project itu, Bob akhirnya memilih untuk me-reinkarnasi peliharaannya yang sudah tiada. Hiduplah kembali si Sparky. Namun kemunculan walking dog itu mengundang temannya untuk mencoba apa yang telah Bob berhasil lakukan. Teknik listrik tadi disalah gunakan dan membuat daerah kota menjadi gempar tak terkendali. Bob yang merasa bersalah akhirnya mendapat wajangan dari orang tua serta gurunya agak lebih bijaksana dalam memanfaatkan hukum fisika. Lambat laun, permasalahan kembali aman dan Bob kembali merajut hidupnya lagi.

Seperti biasa, Tim Burton sekalipun membuat filem animasi ataupun bertemakan anak-anak pasti tidak membuang sisi dewasanya. Corpse Bride jelas bukan tontonan bocah di bawah umur. Charlie and the Chocolate Factory kendati bernuansa menyenangkan, tapi juga banyak adegan sarkastik yang akan sulit diterima oleh anak-anak. Begitupun dengan Frankenweenie, walaupun sudah bermain aman dengan topik yang sangat kekanakan sekali tapi tetap ujungnya tidak jauh dari apa yang Burton lakukan selama ini. Volume of violence masih dalam kadar yang sukar dicerna oleh anak-anak namun bisa dipastikan orang dewasa akan menyukai filem ini. Cerdasnya, Burton tidak hanya membumbui animasi ini dengan humor kosong, tapi juga menyelipkan genre sci-fi yang jarang ditemui di filem animasi. Jimmy Neutron yang membual mimpi tak berkesudahan terasa berlebihan dan sulit dijangkau oleh anak-anak. Frankeweenie tidak seekstrim itu walaupun proyek mematahi kodrat Tuhan juga tak kalah ambisiusnya.

Satu hal yang bisa menambah nilai di tiap filem Burton adalah musiknya yang heboh, dalam artian yang bersenyawa dengan adegan filemnya sendiri. Jasa Danny Elfman selama ini sangat berperan penting dan sudah tau betul kehendak 'negatif' Burton untuk menyeramkan filem-filemnya, termasuk Frankenweenie. Para aktor 'kurang terkenal' di sini berhasil menyemarakkan dan menghidupkan tokoh mereka masing-masing. Jadi memang, Burton tidak terlalu berpangku tangan dengan para pengisi suaranya karena ia lebih menekankan pada cerita, memantapkan animasi komputernya, serta memfokuskan pada hasil akhir yang tidak lain adalah editing yang sempurna. Berarti, memang sangat wajar jika film ini dijagokan dalam ajang-ajang filem sebagai animasi terbaik.

Ide filem ini langsung dari otak Tim Burton, maka tak heran jika melihat Frankenweenie seperti ini. Maksud saya, dengan gaya parlente gelapnya, Frankenweenie pun jatuhnya di lobang yang sama. Salah satu persembahan yang menarik dari Burton. Pesan moral yang paling membekas adalah dalam penggunapan teknologi dan ilmiah. Jika kita memanfaatkan hukum dasar alam secara adil, influence dan dampak yang dihasilkan pasti sama besarnya. Sebaliknya, jika kita menggunakan hal-hal tersebut untuk hal-hal yang sembarangan, bukan tidak mungkin hal-hal negatif juga akan timbul. Seperti apa yang kita lihat di besutan terbaru Tim Burton ini. Verdict, mungkin ini bukan pilihan utama keluarga untuk menghabiskan waktu senggang mereka dalam menonton filem. Tapi Frankeweenie tidak akan menjebloskan pola pikir anak-anak yang menontonnya ke arah yang menyimpang. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Jumat, 28 Desember 2012

Flight (2012)

Director: Robert Zemeckis
Cast: Denzel Washington, Don Cheadle, John Goodman, Kelly Reilly, Tamara Tunie, Melissa Leo
Rate: 4/5


Seperti yang kita ketahui, Denzel Washinton adalah satu dari sedikit aktor kulit berwarna yang berhasil dengan konstan memantapkan karir aktingnya di Hollywood. Mencoba berbagai jenis peran dan menjalankannya dengan sangat baik berhasil membawa namanya di turnamen-turnamen pernghargaan filem di seluruh dunia. Dengan bekal 2 patung piala Oscar dari filem Glory dan Training Day serta beberapa nominasi dari filem lainnya, tidak lantas membuat Denzel menjadi incaran para sineas untuk mengisi tokoh filme-filem mereka. Uniknya lagi, Denzel seringkali diberi kesempatan untuk mendalami karakter di tengah keadaan genting. Seperti di Man on Fire, Deja Vu, The Taking of Pelham 1 2 3, dan lain sebagainya. Beliaupun pernah sekali diuji dalam mengatur kerja kereta api yang melaju dengan sangat kencang dan sulit dihentikan di Unstoppable. Di posisi yang sama namun beda kendaraan dan profesi, kali ini di Flight Denzel Washington bertanggung jawab atas nyawa ratusan penumpang di sebuah pesawat yang dikomandoinya.

Sejatinya, mengemban tugas yang mewajibkan kita untuk mendedikasikan setengah dari hidup dan nyawa kita memang terasa memberatkan. Apapun itu pekerjaannya, termasuk menjadi seorang pilot. Mereka, mau tak mau harus membuang kebiasaan buruk yang dapat mencelakakan dirinya sendiri dan juga orang lain, dalam hal ini penumpang. Itulah yang menjadi pokok permasalahan yang terkait pada filem terbaru Robert Zemeckis ini. Denzel berperan sebagai Whip Whitaker, seorang alcoholic yang beberapa jam sebelum tugas terbangnya mengonsumsi minuman keras dan menyebabkan dia ditiban banyak masalah. Paska kecelakaan pesawat yang dia sendiri mati-matian dalam menstabilkan kokpit dan kinerja si burung besi, ia ternyata diinterogasi oleh pihak yang berkenan dikarenakan dituduh kelalaian dalam bekerja. Kendati saat disinyalir kesalahan ada pada keadaan pesawat yang tidak layak, namun tetap saja pengaruh alkohol menjadi pintu menuju neraka bagi Whitaker. Usahanya menyelamatkan ratusan orang menjadi tidak berlaku tatkala bukti fisik berkata lain. Kisah percintaan sesaat dan hubungan dengan keluarga yang semakin runyam, membawa alur kehidupan Whitaker menjadi sedikit terbuka.

Adegan pembuka di mana sang kapten pengudara mencoba menyeimbangkan pesawat agar tidak terlalu fatal adalah salah satu adegan di dalam pesawat terbaik yang pernah saya saksikan di filem. Mungkin tidak seintens apa yang dikerjakan Paul Grengrass di United 93-nya, tapi Zemeckis telah berhasil menggodok emosi penonton berkat gambaran yang sangat meyakinkan. Tempo yang semakin kencang diiringi teriakan di sana-sini memaang membuat sedikit mual dan paranoid yang tidak terkontrol lagi. DoP film ini bekerja dengan sangat baik, bahkan bukan untuk di adegan pesawat saja. Perhatikan bagaimana pergerakan kamera saat di ruang sidang. Ketegangan dan kemirisan di wajah Whitaker terlihat amat jelas. Skrip yang ditulis dan diterjemahkan pun tergolong apik dan tidak timpang. Menyenangkan jika menonton film yang kombinasinya penuh dengan semangat positif seperti ini.

Dan, sang pilot yang telah bermain dengan penuh energi adalah Denzel Washington. Baik sebagai pilot, pecinta yang ditinggal cinta, hingga pemabuk diperankan dengan sangat memuaskan. Mungkin tidak seekstrim Nicolas Cage di Leaving Las Vegas, namun Denzel di sini dengan sangat brilian mewujudkan kehendak watak tokoh. Perfoma kuat yang tak terbantahkan. Peran semi-penting yang muncul juga bisa memaksimalkan keelokan film ini secara keseluruhan. Kemunculan sesaat Melissa Leo pun mampu membuat Flight menjadi lebih berisi. Walau bagaimanapun juga, pesan moral dari film inilah fokus utama si sutradara. Bagaimana menjadi pecandu minuman keras akan merugikan diri sendiri. Dampak yang terlihat di depan mata sebaiknya menjadi pelajaran berharga bagi kita, apalagi jika mengingat tugas yang harus diemban Whip Whitaker sebagai pilot.

Flight akhirnya membuat penonton bersimpati dan kesal kepada Whitaker secara bersamaan. Kesal karena ia salah satu penyebab hancurnya hidup orang lain, iba karena keperkasaan dia dalam mengoptimalkan keselamatan harus dihadiahi jeruji penjara. Zemeckis sukses membangun teror kepada penonton lewat filem ini. Dan dengan senang hati filem ini saya masukkan ke daftar salah satu filem terbaik keluaran 2012. Dan tidak ada salahnya jika AMPAS memberikan nomor di slot nominator aktor terbaik untuk Denzel Washington. Doa yang tidak berlebihan memngingat Flight adalah contoh filem sarat makna dan pembelajaran serta juga memberikan pengalaman sinematik yang segar. Di luar kesalahan-kesalahan kecil yang menimbulkan sedikit pertanyaan. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 22 Desember 2012

The Amusing Movie-Life

Hidup di dunia hobi ibarat membangkitkan roh baru dan kemudian dijalani dengan penuh warna yang dikreasikan oleh diri sendiri. Entah saya harus menyebut kebiasaan saya ini adalah hobi atau hanya habit yang kelewat berlebihan, namun yang jelas saya menyelami hobi bukan untuk sekali-dua-kali dinikmati tapi juga terjun ke kisi-kisinya paling dalam.

Balita menjelang anak-anak hingga memasuki masa remaja, segelintirpun saya tidak mengerti apa itu film. Tidak seperti beberapa teman saya yang dari usia dini sudah dicekoki media layar lebar tersebut, saya mungkin salah satu dari sekian banyak anak yang mengisi dunia kanak-kanaknya dengan permainan kampung saja. Saya lahir di tahun 1989, tahun di mana Driving Miss Daisy dikumandangkan sebagai film terbaik versi Oscar. Menapaki era SMP, saya ingat sekali jika televisi Nasional sering menyiarkan berbagai film yang di jamannya disinyalir sebagai yang terbaik. Bodohnya saya (dulu yang masih senang didongengkan oleh kartun dan sinetron remaja), keacuhan dan keegoisan saya membuang saya lebih jauh ke dunia film tatkala saya memonopoli layar kaca dari ayah saya yang sedang menonton film Platoon. Double bodohnya, Platoon pun dicap sebagai film terbaik di tahun perilisannya.

SMA adalah periode di mana saya perlahan menaiki derajat kedewasaan dengan memilah dan memilih tontonan berkualitas dan mendidik untuk diisi di otak saya. Dengan bioskop yang hanya memakan waktu 5 menit dari sekolah saya, bioskop menjadi pelarian utama jika saya sedang malas pulang ke rumah. Tentu saja dengan teman-teman. Namun, weekly schedule itu hanya berlaku jika ada film yang menurut saya layak tonton. Jauh sesudahnya, bab baru kembali terbuka, film menjadi sebuah wadah tersendiri bagi saya untuk menampung dan membungkam rasa introvert di dalam kepribadian saya. Semenjak salah satu bioskop baru dibuka, di saat itulah saya merasakan menonton film di bioskop seperti sebuah pengalaman yang indah. Kendati demikian, pertama kali saya memasuki gedung bioskop saat usia 6 tahun, film India entah judulnya apa, itupun semacam modus oleh tetangga saya.

Lanjut ke inti, tahun 2006 - 2007 boleh dikatakan menjadi tahun penting bagi saya yang untuk pertama kalinya mulai memahami apa itu seni. Cakrawala saya semakin terbuka lebar, imajinasi liar yang selama ini terpendam tanpa ada aplikasinya perlahan mulai menguap dan menggumpal menjadi semangat. Saya seperti disiram air dingin dan dibangunkan dari tidur saya yang lama, dan angin seraya berteriak, 'Inilah kehidupan ekstramu, jadikan film sebagai keluargamu dan bioskop menjadi tempat tinggal sampinganmu'. Dijamu oleh kemegahan suara dan arsitektur gambar yang apik, menonton bukan lagi sebuah kebiasaan lumrah, tapi sudah menjadi suatu barang komplementer. Tom Ford pernah berujar, "If you spend an hour and a half in a movie theater, it should challenge you". Dan benar saja, memandangi layar putih dengan dentuman dari loudspeaker seperti ditantang dan diajak mengarungi apa yang tersaji di depan mata.

Akhir 2007, untuk pertama kalinya saya menonton film sendirian dan film yang beruntung itu adalah I Am Legend, dan di tahun itu pula saya mengenal facebook dan bergabung di grup sebuah majalah, Cinemags. Sejak itu, rutinitas setiap bulan untuk membeli majalah selalu dilakukan walaupun kadang harus memangkas uang jajan dan berpasrah untuk tidak jajan berlebihan. Haus akan film membuat saya semakin tertantang. Menonton Transformers membuat saya kagum bukan tanpa alasan. Film ini mengajarkan saya jika ilmu bukan cuma seperti yang saya dapati selama ini. Ilmu dan juga teknologi ada di belakang pintu yang bernama seni peran, dan film secara umumnya. Komputerisasi yang sudah mengglobal seperti sekarang ini semakin memudahkan sineas untuk memacu dan mengendalikan perbioskopan dunia dengan film mereka masing-masing dalam hal memamerkan bakat dan imajinasi. Perlahan namun pasti, walaupun masih berada di jalur mainstream, keistimewaan yang melingkupi jajaran film mulai saya kuasai.

Steven Spielberg, Martin Scorsese, Roman Polanski, Michael Bay, dan sutradara lainnya dengan segala tetek bengek film lama dan baru mereka banyak memberikan kesan yang mendalam untuk saya pribadi. Salah satu dan yang paling baik menurut saya hingga sekarang adalah Babel hasil tangan Alejandro Gonzales Innaritu. Bagi saya, film itu sangat personal dan 100% positif. Tangisan yang keluar saat meratapi film itu bukan sebagai arti jika saya lemah dan film itu hanya menyajikan hal tearjerker semata, tapi lebih dari itu. Terhitung itulah, saya tidak hanya berkutat ke film yang menghibur saja tapi juga ke film yang selain menghibur, tapi juga berisi, dan mendidik. Jujur saja, dari film inilah yang membuat mata saya tidak lagi buta akan dunia. Dari Saving Private Ryan saya dapat gambaran singkat bagaimana perang yang sesungguhnya. Forrest Gump memupuk rasa optimisme yang tinggi, dsb..

Sebetulnya, genre favorit saya adalah drama, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa saya juga menyukai jenis film lainnya. Hanya saja, bobot rasa suka ke drama, apalagi biopik, jauh lebih besar ketimbang genre lainnya. Mengapa demikian? Karena film full drama seringkali lebih masuk di akal dan sangat manusiawi dalam artian nyata. Terlebih lagi biopik yang berjuta kali lebih banyak manfaatnya. Sebelum 'hidup' di dunia film, saya tidak tau siapa itu Truman Capote, Alfred Hitchcock, Harvey Milk, dan Idi Amin. Berkat mediasi ini dan berbagai film yang mengungkapkan secara bijak orang-orang terkenal dan berpengaruh di eranya membuat saya tidak begitu norak jika diajak membahas kaum bersahaja tersebut. Saya sudah tiga kali menonton Amadeus, sebuah film biopik musikal langka. Mengapa saya sebut langka? Karena film tentang Wolfgang Amadeus Mozart tersebut jika diibaratkan sebuah menu makanan, maka Amadeus adalah menu komplit. Mulai dari tata busana, musik, direksi dan dekorasi seni, akting, hingga make up dan naskah saling berkesinambungan dan melengkapi dan menjadi satu film secara utuh.

Alfred Hitchcock: "In feature films, the director is a God; in documentary films, God is the director". Quote itu sangat mutlak benarnya dan saya sampai sekarang belum bisa menemukan letak nikmat dari menonton sebuah film dokumenter. Oleh sebab itu, seingat saya hingga detik ini belum ada satupun film dokumenter yang saya tonton. Walaupun keinginan menonton The Cove dan March of Penguins sudah sangat membuncah. Memang, mungkin sebagai penikmat film yang bijak tidak boleh mengotak-kotakkan sebuah sub-genre, tapi secara pribadi saya sekarang memang belum 'membutuhkan' film yang berpola dokumentasi tersebut. Makanya saya juga tidak begitu suka film-film yang memakai teknik serupa, seperti beberapa film horor yang merekam langsung adegan nyatanya.

Berbicara cita-cita dan prospek di lingkaran ini, saya seringkali berkeinginan mejadi seorang penulis naskah ataupun aktor. Karena saya mampu menjalani 2 profesi itu secara beriringan. Sayangnya, dengan minimnya organisasi sejenis dan wadah yang tidak memadai di kota saya membuat saya berhenti sejenak di tempat dan menunggu aba-aba jika memang ada yang menyuruh jalan kembali. Akting telah menghipnotis dan mengajak saya ke alam bawah sadar. Bagi saya, menyumbang roh untuk menghidupi suatu tokoh itu adalah tantangan. Bagaimana kita merubah watak menjadi orang yang kita tidak kenal sama sekali. Mungkin, jika ada kesempatan untuk mementaskan suatu drama, chance itu tidak akan saya sia-siakan.

Sebagai penutup, menjajaki sebuah forum di mana saya sendiri nyaman mendalaminya, sudah pasti akan membekas dan menghadiahi sebuah pengalaman yang luar biasa. Saya tidak sedang menggombal karena saya merasakannya sendiri secara langsung. Atribut dan komponen yang terkandung di dalam labirin yang bernama film memang telah berkumpul menjadi satu membentuk elemen utuh untuk saya pribadi sebagai barang konsumsi yang suatu saat akan menjadi barang produksi. Mudah-mudahan, jika Tuhan melebarkan jalan setapak di depan saya ini, rangkaian partikel yang saya sebut doa selama ini bisa diselaraskan dengan tujuan postif dan hasil yang menggembirakan. :)


This side project is presented by ours: (click the name!)

Merista Kalorin, Lucky Ramadhan, Bahana Damayana, Algitya Pratomo, Natanael Christianto, Heru Chrisadi, Arief Noor Iffandy, Tyas Indanavetta.

The Perks of Being A Wallflower (2012)


Director: Stephen Chbosky
Cast: Logan Lerman, Emma Watson, Ezra Miller, Paul Rudd, Joan Cussack
Rate: 4/5


Masa lalu memang paling enak untuk diungkit, terutama pada kenangan-kenangan yang masih bermotifkan cinta dan sahabat. Kadang kala, apa yang telah kita perbuat bisa dijadikan bahan renungan dan imajinasi serta acuan untuk berbuat lebih baik lagi. Dan entah kenapa, menonton The Perks of Being A Wallflower seperti memutar kembali memori saya ke tahun ketika saya masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Tempat di mana saya mengenal betul bentuk seorang teman, mencicipi hasrat anak muda dalam bercinta, serta menimbulkan keonaran serta memunyai rahasia besar yang tidak ingin orang lain mengetahuinya. Bernostalgia lewat film adalah salah satu cara paling indah, apalagi film ini disuguhi dengan cerita yang sangat remaja sampai-sampai lagu pengisi filmnya pun bernafaskan anak muda sekali.

Logan Lerman memerankan tokoh geek and jerk di sekolah barunya. Melewati masa kelam di mana menjadi bahan olokan membuat ia semakin minder dengan posisinya di bangku SMA. Sebagai wallflower, akhirnya ada seorang guru yang membaca bakatnya untuk menjadi seorang penulis. Tak lama, Charlie berteman dengan Patrick dan Sam, kakak beradik tiri yang juga menjadi partner di kelasnya. Hidup Charlie mulai berubah terlebih dengan begitu eksistensinya terlihat oleh teman-teman yang lain. Di perjalanan persahabatan mereka, fase menyebalkan kembali muncul saat percintaan tak seimbang hadir di tengah mereka. Cinta terlarang yang juga menjadi bumbu film ini semakin meningkatkan dan menguatkan cerita serta blunder kekecewaan di masa remaja. Ending yang sangat indah menambah keistimewaan film yang diangkat dari novel berjudul sama ini.

Yap, film ini disadur dari sebuah novel karangan Stephen Chbosky yang juga menyutradarai dan membuat naskah untuk film ini. Peran banyak Stephen untuk film ini berkhasiat sekali. Ia seakan tau apa yang harus diperbuat dalam mengimplementasikan tulisan di karya sastranya. Dan memang benar, hasil akhir film ini menjadi kuda hitam dan diperbincangkan di ajang-ajang perfilman manapun. Semangat keremajaan yang dirangkai sangat manis memang menjadi kekuatan utama filmnya. Propaganda dalam hubungan sejenis dan tak sejenis sebagai bab penyedap untuk dieksploitasi semaksimal mungkin. Menggunakan sudut pandang  orang pertama, film ini memang terasa sangat hidup. Kemudian adalah porsi tata busana yang menghiasi layar sepanjang film. Sangat pas di jamannya walaupun kita tidak diberi tahu secara eksplisit kapan film ini mengambil seting waktunya.

Film ini beruntung memiliki aktor-aktor muda berbakat yang berhasil menghidupi peran mereka masing-masing. Logan Lerman sebagai tokoh utama sekaligus narator sukses menjiwai karakternya sebagai seorang yang geeky dan linglung dalam bersosialisasi. Emma Watson yang sudah melepas almamater Hogwarts-nya pun berhasil menjadi yang tercantik di film ini berkat akting dan pesonanya. Namun, tanpa mendiskreditkan keterlibatan aktor lainnya, penampilan yang paling berkesan muncul dari seorang Ezra Miller. Sehabis membantai keluarga di filmnya terdahulu, Miller merubah watak menjadi seorang yang sangat berbeda. Bahkan, di film ini akting Miller dipuji dan mampu bersanding dengan aktor-aktor besar lainnya untuk ikut di ajang-ajang film pra-Oscar belakangan ini. Kolaborasi mereka melengkapi film ini secara keseluruhan. Persahabatan yang niscaya akan membuat penonton kembali ditarik ke masa lalu. Begitu manis dan memukau.

Cukup memuja film ini, dan susah mencari kelemahan dari film ini. Kemampuan bercerita yang jauh dari kesan mendikte di film ini adalah alasan kuat mengapa film ini menjadi sangat mudah diterima penonton di seluruh dunia. Aura positif di segala aspek telah berhasil memberi nilai bagus untuk film ini di bawah kepemimpinan sutradara yang masih minim di dunia penataan kamera ini. Quote manis dari film ini: We accept the love we think we deserve, memang kunci dari film ini. Memaknai cinta yang pantas kita dapat dan layak kita cintai.  Jika tahun lalu Flipped muncul dan mengejutkan karena temanya yang unik, tahun 2012 ini kita punya The Perks of Being A Wallflower dengan tingkat kematangan yang pas dan layak dikonsumsi siapa saja. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Get Low (2009)

Director: Aaron Schneider
Cast: Robert Duvall, Bill Murray, Lucas Black, Sissy Spacek
Rate: 3,5/5


Sebagai seorang anti-sosial (terlebih lagi dikurung oleh kecaman dan gosip tetangga) memang sangat tidak mengenakkan. Walaupun tindakan memisahkan diri ini adalah tujuan pribadi, tapi tetap saja campur tangan orang sekitar bisa jadi tersangka juga kenapa para anti sosial enggan memperkenalkan diri mereka. Begitupun yang dirasakan oleh Felix Bush yang mendekam di tengah hutan tempat dia bernafas selama 40 tahun dari rongrongan masyarakat. Gosip lama yang menyebar seantero kota mau tak mau memberi jarak antara Felix dan mereka. Entah pada suatu hari Felix datang ke kota untuk mencanangkan aksi 'pensiun'-nya. Bertemu dengan pengurus kematian, Frank Quinn beserta anak buahnya, Buddy, Felix menyusun rencana untuk mengundang para warga di pemakamannya nanti. Namun, di tengah alur tadi, Felix bertemu dengan masa lalunya yang meninggalkan banyak bekas dan ternyata yang menjadi alasan akan perilaku anti sosialisasinya tersebut.

Tidak masalah mengapa film ini sangat lamban sekali. Dengan tempo lemah dan musik yang minim, Get Low memang berpotensi membosankan. Keadaan sepi di tengah hutan tidak membantu banyak bagaimana filmnya akan disegani penonton awam. Dan, sebagai penyangkal dari sang sutradara, film ini memang tidak ditujukan untuk komersialitas, namun untuk dilajukan ke festival-festival. Untungnya, film ini mendapat sambutan yang baik saat diputar di Toronto Film Festival. Pengakuan saya, film ini berjalan dengan sangat pelan tapi misteri yang melapisi sepanjang film memang memerlukan durasi selama itu. Dan, dengan kurangnya bantuan musik di film ini mau tak mau membantu memberi aspek ketegangan.

Film ini dianugerahi gambar yang indah. Porsi landscape hutan dan latar lainnya ditangkap dengan cantik. Dan inilah keistimewaan dari film yang mengambil seting jauh dari pusat kota, banyak view menawan yang bisa dijadikan nilai tambahan untuk film. Robert Duvall, Bill Murray, dan Sissy Spacek yang menyemarakkan film ini telah bekerja dengan sangat baik. Akting mereka melampaui perkiraan saya sebelumnya. Di tangan mereka, simbiosis terjalin dengan sangat memukau sehingga bantuan dari Lucas Black seperti sangat berpengaruh. Film ini lembut dan menusuk layaknya The Last Station, film yang juga dipenuhi kakek-nenek bertalenta super. Bedanya, film tadi seperti jor-joran sekali dalam hal publikasi hingga bisa menitipkan para aktornya untuk menjadi nominator di ajang Oscar.

Kecerdasan Get Low murni berasal dari tulisan naskahnya. Scriptwriter film ini dengan jelihnya melihat dan menyeleksi poin penting untuk membuat pola misteri tadi untuk tetap dinikmati tanpa meninggalkan esensi filmnya sendiri. Kendati ending film ini terhitung lemah, tapi atmosfer awal yang telah dibangun seperti membungkam endingnya yang tidak terlalu relevan itu. Saya bisa memaklumi dengan keterbatasan ide tersebut, tapi akan lebih baik jika lebih diteliti. Aaron Schneider, yang sangat jarang saya dengar namanya, memberikan permulaan baik di kancah perfilman dunia. Dengan bantuan bintang-bintang tenar kelas kakap, Get Low menjadi sangat manis saat dilempar ke permukaan festival. Puja-puji semakin meningkat. Tidak ada yang salah dengan film yang berdurasi panjang tanpa warna yang segar, yang salah adalah saat kita langsung skeptis terhadap sebuah film karena alasan yang tidak masuk di akal. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Habibie & Ainun (2012)


Director: Faozan Rizal
Cast: Reza Rahardian, Bunga Citra Lestari
Rate: 3,5/5


Sebagai seorang presiden, bohong sekali rasanya jika masyarakat Indonesia ada tidak mengenal sosok B.J. Habibie. Sebagai orang yang pertama kali mencetuskan dan memroklamirkan pembuatan pesawat terbang dan teknologi lainnya, Pak Habibie patut dijadikan contoh nyata bagaimana superioritas sebuah bangsa adalah bagaimana tokoh besar di belakangnya. Masa kepemimpinan Pak Habibie dengan rentang waktu yang sebentar memberikan sedikit gambaran bagaimana nahasnya negara ini pada waktu itu. Pak Habibie dengan begitu gentarnya berupaya sekuat tenaga untuk kepentingan negeri ini, sekalipun mesti mengorbankan dirinya sendiri. Panutan yang berharga. Kehidupan rumah tangganya yang berjalan sempurna bersama ibu negara, Ainun, bahkan bisa dijadikan contoh untuk sebuah realita percintaan yang memerdekaan kebersamaan dalam kondisi apapun.

Love story antara Habibie dan Ainun inilah yang menjadi fokus utama film garapan sutradara baru, Faozan Rizal. Menyadur dari buku yang ditulis sendiri oleh Pak Habibie yang berisikan kumpulan-kumpulan hidupnya dengan sang istri tercinta, buku tersebut menjadi best-seller di tahun perilisannya. Dan beberapa tahun kemudian, salah satu sineas muda kita yang dibentengi oleh sosok Hanung Bramantyo di belakangnya, buku semi-otobiografi tersebut mengemuka di layar lebar. Siklus cinta itu dimulai dari bagaimana Habibie dan Ainun di satu sekolah, kemudian mengenal cinta ketika remaja. Memadu janji di sebuah becak, dan akhirnya membina silsilah kecil sembari mengerjakan proyek di negara seberang benua.

Jujur, harus diakui film ini mengandung banyak pesan bergizi yang diutarakan langsung ke pemuda pada khususnya dan kepada seluruh rakyak ini pada umumnya. Keberhasilan Habibie dalam menyejajarkan dirinya di lapisan orang-orang atas dan pembinaan kerukunan rumah tangga diimplementasikan dengan sangat baik oleh sutradara kita. Fase reformasi yang mengharuskan beliau menjabat menjadi presiden, meringkuh di tengah penyakit TBC-nya, menomor duakan jalinan keluarga, memang mengajarkan kita untuk menjadi sosok bertanggung jawab di mata masyarakat. Pergolakkan kinerja Habibie yang terus-terusan dirudung masalah terkait politik suap-menyuap juga mewarnai kehidupan beliau. Tapi, walau bagaimanapun juga film ini menyorot sepenuhnya akan perjalanan cinta beliau dengan sang istri hingga akhirnya harus ditinggal pergi karena penyakit kanker ovarium yang didera Ibu Ainun.

Inilah negara kita, berlian paling mahal semacam Pak Habibie harus memutar arah ke negara orang lain terlebih dahulu untuk bisa diakui di tanah kelahirannya sendiri. Krisis percaya diri dan kekurangan audiens dalam berkarya memang menjadi dasar mengapa negeri kita akhirnya jalan di tempat di dalam hubungan bilateral internasional. Belum lagi dengan kecakapan para politikus tak bermoral yang menyalip dan menyulap uang untuk kepentingan pribadi. Fragmen ini bukti nyata, dan dalam film Habibie & Ainun walaupun dipersempit dengan durasi yang hanya kurang lebih 2 jam saja, masih bisa diperlihatkan betapa kotor dan culasnya negara ini. Faozan memanfaatkan momen ini dengan menyisipkan beberapa rekaman asli pemerintahan pada zaman itu. Mengubah perkotaan menjadi sangat kuno, sayangnya pada kesempatan adegan di Jerman, kepalsuan sangat jelas terlihat. Andaikata adegan salju itu tersebut tidak dipaksakan ada, pasti kenyamanan menonton akan lebih sempurna.

Sama halnya dengan dipaksakannya kemunculan para sponsor di sepanjang film. Hadirnya bedak merek terkenal, cokelat yang dimodeli Nikita Willy, dan lain sebagainya itu memang sangat merusak citra film ini secara keseluruhan. Bagaimana film yang sedari awal sudah dibuat semanis dan senyata mungkin harus dicoreng dengan para 'bintang tamu' tadi. Sangat disayangkan. MD Pictures selaku yang membiayai film ini sepatutnya tidak berlaku egois hanya karena kepentingan uang semata. Sebuah karya yang dicampur tangani oleh materi memang akan melemahkan nilai karya tersebut. Contohnya film ini. Musik yang mengalun indah dibekali akting yang luar biasa dari Reza Rahardian di film ini berujung hanya lucu-lucuan belaka.

Yah, Reza Rahardian berhasil menempatkan dirinya di posisi yang serba beruntung. Dipilihnya Reza sebagai perwakilan layar Pak Habibie bukan tanpa alasan dan bukan tanpa hasil. Mengingat ia adalah satu aktor muda berbakat yang sudah memainkan banyak peran beda, kehadirannya di sini memang sangat dibutuhkan. Gesture dan body language yang sempurna serta cara berbicara yang sangat Habibie sekali terbukti menenggelamkan penonton untuk merasakan dawai film ini. Tapi, ketika harus berbagi frame dengan Bunga Citra Lestari selaku pemeran Ibu Ainun, kolaborasi mereka terasa sangat tidak kena. Bunga masih ingin terlihat cantik dan egois walaupun dalam keadaan tua renta. Make up saat Ibu Ainun pada masa pesakitan tidak terlihat dengan jelas. Tidak ada dari wajah Bunga yang membuat saya percaya jika ia sedang berakting. Ibu Ainun di tangan Bunga seperti satu masa satu umur dengan anak-anaknya.

Kendati banyak minus yang tersebar dari film ini, bukan berarti sisi positifnya menjadi hilang tak berarti. Film ini masih memiliki pesan moral yang tinggi. Memang sangat disayangkan, jika poin kritis tadi bisa diminimalisir dengan bijak, pasti Habibie & Ainun akan terlihat lebih kokoh tanpa memandang bulu jika ini film buatan sutradara minim pengalaman. Dan satu hal lagi, Pak Habibie telah menerbangkan negara ini ke kancah internasional dalam menelurkan teknologi yang jarang ditemui oleh anak bangsa untuk ukuran zaman tersebut, dan zaman sekarang. Seperti hanya ia menerbangkan pesawat terbang rangkaiannya yang menjadi tolak ukur sebuah kecerdasan hingga sekarang. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 08 Desember 2012

The Hunger Games (2012)

Director: Gary Ross
Cast: Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Liam Hemsworth, Stanley Tucci, Wes Bently, Elizabeth Banks, Woody Harrelson, Toby Jones
Rate: 2,5/5


The Hunger Games muncul sesaat sesudah usainya saga Harry Potter dan sebelum tamatnya franchise Twilight. Sebuah start yang bagus mengingat kedua seri besar itu harus dilanjuti dengan waralaba yang diharapkan bombastis juga. Tidak banyak novel berseri yang akhirnya sukses menjamu fans dan penonton awam ketika diangkat ke media film, seperti Eragon dan The Golden Compass misalnya, yang kelanjutannya masih berupa hembusan angin. Seperti mengikuti jalur seniornya, The Hunger Games yang di novelnya ditujukan ke pembaca remaja, versi filmnyapun ikut-ikutan dibuat seaman mungkin untuk menarik banyak peminat dan dilabeli PG-13 saja. Untuk beberapa sektor, ide yang jitu melihat box office filem ini yang lumayan saat masa edarnya. Namun, untuk beberapa kondisi dan keperluan film, rating PG-13 tadi malah menjadi kendala mengapa filmnya menjadi sangat kekanak-kanakan.

Sekumpulan anak dari berbagai distrik di suatu jaman distopian, diharuskan mengikuti kontes musiman yang diselenggarakan panitia setempat dan kru tv untuk saling menyelamatkan diri di lokasi hutan yang sudah dipersiapkan. Mereka 'wajib' saling bunuh jika ingin menjadi pemenang tunggal. Adalah Katniss Everdeen yang menggantikan sang adik yang awalnya terpilih secara acak untuk mewakili daerahnya bersama pasangannya Peeta. Katniss harus rela meninggalkan keluarga dan sahabatnya, Gale, untuk ikut serta di turnamen kematian tersebut. Singkat cerita, selama masa survival in the woods itu para kontestan saling baku hantam, dan menyisakan beberapa orang saja, termasuk Katniss dan Peeta. Perjuangan mereka dengan segala trik dan ide untuk menyambung nyawa berujung sebuah kebahagiaan yang kita (penonton-red) sudah tau bagaimana akhir film ini. Happy ending!

Sebagian besar film ini mengingatkan saya kepada film fenomenal Battle Royale yang memiliki rating 'Dewasa'. Dan memang di situ kandungan thriller-nya sangat kental. The Hunger Games, alih-alih ingin menyamakan (walaupun si penulis novelnya tidak berniat demikian) unsur yang ada di Battle Royale, adegan kekerasannya serba tanggung. Suzanne Collins selaku novelis yang bertanggung jawab atas ceritanya sudah memberikan permulaan untuk dieksekusi Gary Ross sebaik mungkin. Sayangnya Ross terlalu berpatokan pada pasar. Tidak ada ketegangan saat melihat tokoh utama kita lari-larian menyelamatkan diri dari berbagai serangan dari musuh. Nihil adrenalin yang diciptakan. Apalagi adegan aksi di film ini terlampau sedikit mengingat durasi film ini lebih dari 2 jam. Drama untuk satu jam pertama saya nilai terlalu berlebihan, apalagi jika cuma diisi hal-hal kosong yang tidak bergitu penting.

Set dekorasi film ini juga tidak mengisyaratkan jika film ini dimaksudkan untuk menjadi waralaba besar. Pesona hutan dan 'kantor' para kru dibuat begitu saja. Poin plusnya, kostum dan make-up film ini diperhatikan dengan cukup baik sampai-sampai ingin tertawa saat melihat Stanley Tucci dan Toby Jones dengan dandanan seperti itu. Gary Ross juga pelit menyelipkan adegan-adegan berani serta dialog yang bisa membangun semangat penonton. Untung saja film ini memakai jasa Jennifer Lawrence. Aktris muda yang sudah diakui bakat aktingnya ini sukses membawa peran pahlawan dadakan seorang Katniss. Kepiawaiannya dalam memanah dan aksi bak-bik-buk cukup membuat kita percaya jika ia seorang hero. Sisa aktor lainnya tidak begitu bermasalah kendati tidak ada satupun dari mereka yang bermain total bagusnya.

The Hunger Games mungkin tidak tujukan sejauh seperti saya utarakan di atas. Walau bagaimanapun juga film akan terasa buruknya jika diolah dengan serba kekurang-matangan di departemen apapun yang melengkapinya. Jika Ross ingin serius membesarkan novel berseri ini, Catching Fire harus lebih berkualitas dari ini. Ingat, The Hunger Games bukanlah Twilight yang memunyai banyak komponen majis di dalamnya. Jika harus menaruh beban di pundak Jennifer Lawrence seorang, The Hunger Games ujung-ujungnya akan jatuh di penilaian yang sama. Happy watching!

by: Aditya Saputra

End of Watch (2012)

Director: David Ayer
Cast: Jack Gyllenhaal, Michael Pena, Anna Kendrick, Natalie Martinez, America Ferrera
Rate: 4/5


Apa yang menarik dari kehidupan kepolisian sampai sutradara-sutradara Hollywood sering sekali mengangkat dunia kelam mereka ke layar lebar. Entah sebagai contoh baik maupun cermin buruk seorang polisi, sineas sana mencoba membuka tabir sesungguhnya bagaimana wakil rakyat tersebut dalam memberantas (dan menimbulkan) keonaran. Dekade ini saja sudah puluhan film yang menceritakan sepak terjang pekerja berseragam cokelat/hitam tersebut. Denzel Washington pernah menerima Oscar atas perannya sebagai polisi kejam di Training Day, Nicolas Cage dan Michael Shannon baru-baru ini merefleksikan tabiat buruk seorang polisi. Richard Gere dan Mel Gibson pun tak mau ketinggalan dalam memerankan tokoh masyarakat ini. Sekarang, Jake Gyllenhaal dan Michael Pena kebagian tugas yang sama. Bedanya, yang ini lebih intens dan nyata.

Dibuat oleh David Ayer, orang yang juga pernah memroduksi film polisi-polisian juga lewat Street Kings (2008), film menceritakan tentang 2 orang polisi muda yang merekam aktifitas mereka selama mengabdi di kepolisian setempat. Dengan kerja sama yang baik, mereka lambat laun mendapatkan suatu penghormatan berkat keuletan mereka dalam menemukan gembong-gembong kejahatan di kota kecil tempat mereka patroli. Suatu hari, aksi pemergokan obat-obatan terlarang dan sejumlah senjata api ke kumpulan warga negro berujung panjang. Konklusi dan keputusan yang mereka ambil menyebabkan benang kusut yang mereka sendiri tidak bisa lagi merapihkannya. Kehidupan keluarga mereka yang tentram damai harus berujar kepada nasib yang memang sebagai eksekutor.

David Ayer menyulap End of Watch seperti sebuah film dokumenter berkat teknik hand held camera yang ia gunakan hampir di keseluruhan film ini. Kamera pengintai yang dipegang oleh pemeran utama menangkap kejadian-kejadian keseharian mereka baik dalam keadaan bertugas maupun saat sedang memadu kasih dengan pasangan masing-masing. Itulah yang membuat film ini begitu istimewa. Penonton diajak mengarungi apa yang mereka kerjakan, tidak hanya sebagai penonton tunggal. Keefektifan tersebut berdampak positif karena membuat tensi emosi menjadi terkontrol. Banyak adegan yang terlampau keji dan menjijikan di film ini disorot dengan sangat pintar berkat teknik tadi. Walaupun film ini tidak begitu mengandalkan sisi musikalitas, namun berkat kejelian Ayer dalam menggunakan jasa shaking camera tadi sektor musik jadi tidak begitu penting. Pun dengan kejutan-kejutan kecil yang bisa membuat saya puas bahwa masih ada sineas yang begitu peduli dengan penonton.

Pemanis kita semisal Anna Kendrick, Natalie Martinez, dan America Ferrera sudah mengerjakan tugasnya dengan cukup baik. Pendamping main casts yang super duper bermain total dan luar biasa apik. Jake Gyllenhaal dan Michael Pena menunjukkan bakat terbaik mereka di bidang ini. Keduanya melebur dan membuat kita percaya jika mereka adalah teman sejawat sehidup semati. Candaan mereka di mobil yang tersorot kamera benar-benar nyata dan tidak dibuat-buat, dialognya mengalir dengan santai dan mengharu biru. Terlebih lagi saat sudah mendekati ending film. David Ayer beruntung casting director film ini bekerja dengan sangat baik.

David Ayer naik kelas berkat filemnya kali ini. Bantuan di belbagai departemen pelengkap film yang beroperasi dengan amat baik membantu meningkatkan bobot kualitas End of Watch. Tahun depan Ayer akan mengajak Arnold Schwarzenegger untuk mengisi slot film Ten. Semoga saja akan sebagus atau bahkan melebihi kapasitas yang telah ia persembahkan lewat End of Watch. Serta merta tuah baik juga bersimbah kepada Gyllenhaal dan Pena yang dari sekarang sudah digadang-gadang untuk menempatkan posisi aktor utama & pendukung terbaik di ajang-ajang film pra-Oscar. Kita tunggu saja kelayakannya. Satu poin yang pasti, End of Watch mendewakan sekali asas persahabatan. Dan sudut pandang itulah yang menjadi pokok persoalan film ini. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Jumat, 07 Desember 2012

Hope Springs (2012)


Director: David Frankel
Cast: Meryl Streep, Tommy Lee Jones, Steve Carell
Rate: 2,5/5


Meryl Streep (dengan 3 piala Oscar yang telah diraihnya) adalah salah satu dari sekian banyak aktris yang di usia senjanya masih menapakkan karir di dunia showbiz Hollywood. Tancapan bakat aktingnya dalam mengisi setiap film yang ia lakoni acap kali berakhir pada sebuah nominasi di ajang-ajang perfileman manapun. Dengan segala sertifikat terbaik yang pernah diterimanya, bukan berarti Streep tidak pernah terpleset di lini karirnya. Walaupun aktingnya sudah bagus, kesialan jatuh pada naskah film yang serba lemah, seperti saat ia memerankan seorang Margaret Thatcher di The Iron Lady dan di film terbarunya sekarang, Hope Springs. Film ini dibuat oleh David Frankel yang pernah sekali bekerja sama dengan Streep di The Devil Wears Prada, peran ringan yang mampu membawa Streep kembali bercokol di deretan nominator aktris terbaik. Sayangnya, di kerja sama mereka yang kedua ini malah terkesan biasa saja kalau tak mau dibilang jelek. Tidak istimewa apalagi bernafaskan festival.

Dari segi cerita saja mungkin film ini sudah terkesan segmented walaupun tujuan Frankel pasti mengharapkan tema ini akan bersifat universal. Sepasang suami istri yang telah memasuki masa pubertas kedua sedang dilanda masalah percintaan. Kay (Streep) dan Arnold (Lee Jones) terpaksa pisah ranjang tapi tetap satu atap hanya karena keduanya tidak lagi memiliki gairah satu sama lain. Walaupun Kay bersikeras menyatukan kembali hubungan keduanya, namun Arnold tetap pada pendiriannya untuk menjalani hidup seperti saat ini. Kay yang jenuh memutuskan untuk mengikuti pola kisah cinta ke Dr. Feld (Carell). Perjalanan rumit keduanya untuk menemukan kembali romantisme yang hilangpun dimulai.

Sayangnya, aktris sekaliber Meryl Streep dan Tommy Lee Jones pun tidak bisa menyelamatkan film ini lebih jauh lagi. Kapasitas naskahnya yang sudah melemah dari awal menjadi tersangka utama mengapa film ini kehilangan tajinya. Tidak susah untuk menjustifikasi film ini sebagai salah satu film terjelek aktor-aktor dedengkot itu. Bandingkan saja performa Streep di film ini dengan di It's Complicated yang serupa dan sama ringannya. Bedanya, It's Complicated lebih terarah dan tidak membuat Streep terkesan konyol. Dan memang iya, Steve Carell dengan peran anti-slapstick-nya di sini semacam isu baru. Melihat track record-nya yang sejenis, peran kalem bijaksananya di sini seperti terobosan singkat. Kita tidak akan melihat muka karetnya, yang ada bagaimana ia merespon dan memberi saran motivasi untuk pasiennya dengan amat santai. Hmmm, Carell memang tidak pernah mengecewakan.

Seperti yang saya bilang, film ini tidak memiliki komponen penting yang membuat filmnya menjadi layak ditelaah lebih jauh. Frankel yang sudah makan asam garam di sektor penyutradaraan beberapa episode serial tv dan membuat Streep seperti 'setan busana' di The Devil Wears Prada, tidak meneruskan keberuntungannya saat mengolah naskah yang ada. Kinerjanya saat memadukan Streep dan Lee Jones tidak terasa efektif. Frankel tidak berusaha membuat permasalahan sang tokoh utama terasa believable. Walaupun film dibuat semanis dan sekocak mungkin, tetap saja jatuhnya kasar dan sedikit melecehkan kaum tua. However, film ini juara di penggarapan musik dan pemilihan lagu-lagu pengiring. Beberapa judul lagu yang mengalun memang pas dengan suasana adegan dan mendukung atmosfer film menjadi lebih sedu sedan.

Frankel, jika saja tidak terlalu pongah karena memiliki 3 nama besar di filmnya, kemungkinan besar akan fokus kepada narasi film. Sialnya, aktor mumpuni saja tidak cukup untuk menyelaraskan sebuah film. Banyak contoh mutlak bagaimana sebuah film diisi aktor-aktor mapan dalam berakting, jika penggarapannya tidak maksimal tetap saja akan menjadi bual-bualan kritikus. Frankel dengan bijak memaksimalkan kerja kerasnya, tapi dia lupa jika penonton -apalagi temanya sangat orang tua sekali- dewasa tidak hanya sekadar mau diceremahi tapi juga diajak berdiskusi bersama setelah menonton filmnya. Yah, persoalan seks di film ini terlalu sensitif bagi orang tua seumur mereka. Apalagi film ini bukan konsumsi satu wilayah negara saja. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Jumat, 30 November 2012

Life of Pi (2012)


Director: Ang Lee
Cast: Suraj Sharma, Irrfan Khan, Gerard Depardieu, Adil Hussain, Tabu, Rafe Spall
Rate: 4,5/5


Desas-desus di luaran sana, banyak yang bilang novel Life of Pi karangan Yann Martel ini akan sangat sulit untuk diterjemahkan lewat tampilan audio visual layar lebar. Fakta yang tertuang di bukunya memang demikian, karena apa yang saya dengar dan baca penjelasan pembaca bukunya, novel tersebut memiliki tingkat imajinasi yang sulit untuk digambarkan secara digital. Mengingat ini semacam otobiografi kecil tentang perjuangan hidup melawan alam di tengah samudera luas, berita akan dibuatkannya versi filem untuk novel ini cukup menyita perhatian. Apalagi yang menahkodainya adalah Ang Lee. Walaupun kita tau bahwa Ang Lee adalah sutradara kenamaan berbasis Oscar dan sudah cum laude dalam media ini, bukan berarti arahannya akan mudah membuat Life of Pi menjadi sangat believable dan menarik. Filem ini, makin ditunggu ternyata makin terlihat kualitas karena gembar-gembor review positif yang tercurah selama test-screening-nya.

Saya sebenarnya tidak mau membeberkan kisah film ini, walaupun cuma satu-dua kalimat saja. Film ini akan terasa lebih mengejutkan jika kita tidak perlu membaca sinopsis ataupun menonton trailer-nya. Gaya penuturan film ini mengingatkan saya kepada Titanic, di mana pewawancara menanyakan ke narasumber atas kejadian masa lampau yang menjadi isu sedap di dunia. Dengan lugas dan santainya, pemeran utama kita mendongengkan pengalaman luar biasanya saat harus mengarungi kesepian tengah samudera dengan hanya ditemani seekor harimau. Tapi inti film ini bukan hanya itu. Life of Pi juga mengisyaratkan keintiman manusia dengan sang penciptanya. Masih terbayangi dengan agama dan kepercayaan, peristiwa ajaib tadi malah menghantarkan tokoh utama ke daerah yang lebih personal dan sensitif.

Saya sedikit tidak percaya jika ini buatan seorang maestro Ang Lee. Melihat filmografi yang pernah dibuatnya spesialiskan drama, menatapi keindahan Life of Pi terasa amat menyegarkan. Lust, Caution dan Brokeback Mountain yang begitu mendayu-dayu minus efek komputer yang dominan sangat bertolak belakang dengan apa yang terpampang di film terbarunya ini. Begitu banyak kejutan yang Ang Lee berikan, mulai dari kenaturalan akting para pemain 'tidak terkenal'-nya, beragam makhluk bumi yang amat cantik, kekuatan dialog yang berisi, hingga sinematografi yang menakjubkan. Semua elemen di film ini terasa sangat sempurna, dan bahkan saya belum menemukan setitik saja kelemahan dari film ini. Semangat pesan moral yang sangat ditujukan ke manusia pada khususnya. Perihal agama, cinta kasih terhadap sesama makhluk, perjuangan dan tujuan hidup memang ditata dengan sangat rapih.

Ang Lee dengan pintarnya memadukan hukum alam dengan dunia showbiz menjadi satu produk yang patut dibicarakan. Habitat dan ekosistem mulai dari kebun binatang, laut, hingga pulau tak bernama dilukiskan dengan sangat nyata. Kita seperti diajak menonton Animal Planet dengan Pi Patel sebagai fotografer dan spoke-person-nya. Untuk adegan bencana alam badaipun dibuat senyata mungkin. Tanpa diperlihatkan orang terkasih kita menjadi korban, adegan tersebut malah menjadi salah satu dari sekian banyak adegan terkuat di film ini. Enigma Tuhan yang dipertanyakan oleh Pi akan tujuan hidup dan kepergian 'teman baik'-nya menimbulkan sejuta dan keberagaman pertanyaan akan kehidupan paska berjuta rintangan tersebut.

A great direction yang bisa jadi menghantarkan Life of Pi ke singgasana Oscar bagi Ang Lee yang sempat dikecewakan karena Brokeback Mountain buatannya kalah oleh film rasisme favorit Amerika. Dengan sentuhan mencengangkan seperti ini, Ang Lee mengulang lagi kedigdayaannya saat memperkenalkan keindahan layar lewat Crouching Tiger, Hidden Dragon. Sebuah mahakarya yang tak akan mati dimakan usia. Panorama berjuta makna dengan sodoran point of view yang sama murninya. Berderet sejajar dengan ilmu akan kepercayaan kepada Tuhan, Life of Pi mau tak mau akan bercokol sebagai salah satu film terbaik yang pernah ada. Kemampuan bercerita yang kokoh dan kesempurnaan lukisan bergerak dari film ini adalah bukti nyata bagaimana seorang non-Amerika mampu menggabungkan beberapa kultur dan negara di dalam satu layar. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Selasa, 20 November 2012

Breaking Dawn part. 2 (2012)


Director: Bill Condon
Cast: Kristen Stewart, Robbert Pattinson, Taylor Lautner, Michael Sheen, Dakota Fanning, Peter Facinelli, Elisabeth Reaser, Ashley Greene, Jackson Rathbone
Rate: 3/5


Akhirnya, saga akbar ini tiba di pemberhentian terakhir. Euforia luar biasa yang dimulai sejak novel buatan Stephanie Meyer, Twilight rilis, akan hilang gemanya seiring waktu berjalan. Saya akui kemunculan Twilight tempo hari memang kelak akan menjadi sefenomenal sekarang. Dan sekarang terbukti, entah sudah berapa milyar dollar pundi-pundi yang dihasilkan seri ini dan menggembungkan tabungan PH kemarin sore, Summit Entertainment. Summit yang kian raksasa berkat saga ini urung gulung tikar. Judi yang menguntungkan. Dan mungkin karena isi Twilight yang sungguh kewanitaan pula lah yang membuat kelima filmnya digandrungi dari seri ke seri. Penghasilan tak pernah merosot dan para aktornya pun kecipratan tenar. Namun apa daya, di luar itu semua dan bila harus jujur, saga ini hampir tidak pernah memiliki kualitas di atas rata-rata. Mulai dari cerita yang biasa saja, pengeksekusian yang kurang maksimal, hingga permainan tanpa ekspresi dari para pelakonnya.

Di bab baru ini, Renesmee mangalami pertumbuhan yang sangat signifikan hingga menjadi rumor sedap bagi para bangsa Volturi yang tidak setuju adanya kaum imortal. Bella Swan dan suaminya, Edward Cullen mencoba menomorsatukan keselamatan anaknya dengan berbagai cara. Dibantu para keluarga Cullen dan mendapatkan sokongan dari klan werewolf, kubu si baik ini menjadi tambah kokoh. Kehausan grup Volturi yang dipimpin Aro semakin tinggi. Mencoba mencari kebenaran  isu dengan meminta bantuan kepada Alice, rombongan vampir berjubah ini menabuh genderang perang dan memaksa secara halus kepada para koloni untuk menyerahkan Renesmee.

Yang menyenangkan dari saga ini adalah pemilihan lagu pengiring yang nantinya akan mengisi album soundtrack-nya. Mulai Twilight hingga film kelima ini semua diisi oleh penyanyi terkemuka lengkap dengan lagunya yang membius masyarakat luas. Tapi tetap saja yang akan saya nilai adalah keseluruhan film ini. Paruh awal di mana saat Bella 'belajar' menjadi makhluk baru dan keintiman dengan suaminya jujur saja adalah saat-saat terlemah dari film ini. Tempo yang lamban tanpa ada adegan yang menarik bisa jadi akan melumpuhkan film ini secara utuh. Naskahpun terbilang buruk, tanpa adanya dialog berbobot. Walaupun secara singkat kita dijabarkan begini begitu namun tetap saja pembawaan Bill Condon yang terlalu fokus malah terpecah ke mana-mana. Kemunculan karakter baru juga patut diadili secara bijak. In frame seadanya mereka malah membuat penonton bingung ini siapa dan itu siapa. Kendati begitu, penata kamera film ini sudah berjasa besar. Tanpa tangan midas Navarro, niscaya kamera dengan mudah menangkap visual yang sangat cantik dari film ini. Landscape gunung, lahan bersalju bahkan saat adegan puncak diperhatikan dengan sangat baik.

Kita kenal Bill Condon berkat film-film berkelas Oscarnya. Menulis skrip Chicago dan menyutradarai Dreamgirls sedikit banyak memberikan pengalaman baginya untuk memoles Breaking Dawn part. 2 terlihat bagus. Bill Condon belajar dari bagian 1-nya yang condong ke arah buruk, dan oleh sebab itu di sini ia mencoba menetralisir dan duduk di tengah-tengah. Menyenangkan pecinta Twilight dan memberi semangat baru bagi yang kurang suka seri ini. Adegan puncak dibuat sedramatis dan seepik mungkin. Walaupun kurang 'berdarah', namun yang pasti kejutan di akhir film adalah salah satu penutupan yang sangat menakjubkan yang pernah ada. Penonton dibuat terperangah. Semula adrenalin yang dibuat kencang seketika umpatan-umpatan kasar yang keluar saat twist itu muncul.

Sayangnya, lagi-lagi saga ini tidak memberikan luapan emosi lewat ekspresi. Semua aktor bermain canggung seperti biasanya. Bahkan chemistry Pattinson - Stewart tidak seromantis film-film drama percintaan kebanyakan. Mungkin Michael Sheen yang terlihat serius bermain film ini, Dakota Fanning yang mendapatkan dialog satu kata cukup bisa memberi arti talentanya cuma lewat bantuan mimik muka. Selebihnya, kita  hanya diberikan audio visual yang cantik, bukan lewat bakat alami aktornya. Ketutupan make-up mungkin.

Breaking Dawn part. 2 memang tidak semeriah itu, film ini justru masih banyak kelemahannya apalagi di sektor pengembangan cerita. Tertolong kecanggihan Bill Condon dalam mengolah epic battle, yang secara tidak langsung menaikkan derajat Twilight bagi golongan twihater (begitulah orang-orang menyebutnya...). Dan senang rasanya mejadi saksi penutupan sebuah seri dengan hasil akhir yang memuaskan. Layaknya Harry Potter yang juga tamat dengan sejuta senyum, Twilight pun menutup sejarah bukunya dengan baik. Lupakan untuk membandingkan dua mega franchise tersebut karena mau tak mau, keduanya beda alam, jenisdan tentu saja beda kualitas. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Kamis, 15 November 2012

Aku Membunuh Diriku Sendiri

Aku tidak menyesal. Setahun sudah aku dibui, tidak ada sedikitpun perasaan bersalah yang merongrong diriku atas apa yang sudah aku perbuat. Toh buat apa aku bersimpuh meminta pengampunan? Aku telah menguji dunia, di mana batas kesabaran seorang makhluk. Aku bersedia dihukum Tuhan jika memang aku bersalah. Namun, pada kenyataan, aku hanyalah umat-Nya yang tidak neko-neko, tapi kenapa diberikan cobaan yang sungguh berat ini. Tuhan sayang kepada diriku, tapi tolonglah, jangan cara seperti ini yang harus aku jalani.

Dua tahun lamanya aku berusaha bangkit dari kepedihan dan malapetaka yang terus-terus menghantui diriku. Satu cobaan berlalu, lanjut datang yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Jika sekarang aku menyimpan dendam yang telah membuncah ini, pantas kan kalau aku meluapkannya?

Pagi itu matahari seakan memberikan semangat baru untuk aku dan dirinya. Menyambut hari yang dinanti-nanti. Menyongsong hari yang akan menyucikan kami sebagai pasangan yang halal. Si dia begitu senang, sumringah sepanjang minggu belakangan. Aku pun merasakan hal yang sama. Tidak pernah aku menikmati hari sebahagia ini. Perempuan yang telah mengayomiku selama 2 tahun terakhir itu akan menjadi primadona satu-satunya yang akan menemaniku di tempat tidur nantinya. Letupan kebahagiaan bermetamorfosis menjadi momen yang mungkin tak akan terlupakan. Semua dirancang dengan penuh kepastian. Kami saling membagi tugas untuk hari nan sakral itu. Kami tidak pernah saling egois dan selalu menempatkan diri di posisi yang benar. Kami pun tetap menjalani metode pacaran yang seharusnya.

Aku sangat mencintainya, begitupun sebaliknya. Kami memang bukan contoh pasangan kebanyakan yang menunjukkan perasaan sayang dengan hadiah atau sentuhan fisik yang bagi kebanyakan orang bisa jadi sebagai simbol kasih sayang seutuhnya. Cukup dengan perhatian dan hal-hal kecil, hubungan kami jauh lebih intim. Saling mengerti keadaan dan waktu satu sama lain adalah kunci mengapa kami berani menyalurkan satu ide untuk bersemarak dan mengumandangkan hubungan kami di depan penghulu dan di atas panggung pernikahan. Rumah tangga adalah tujuan kami, mutlak. Karir yang telah kami topang selama ini kami rasa sudah cukup untuk dijadikan modal untuk kami membangun keluarga kecil di bawah pondasi rumah yang telah kami cicil selama ini. Terasa matang, dan siap melangkah ke ranah yang lebih dewasa.

Tapi kadang, Tuhan terlalu berani memberikan takdir kejam kepada makhluknya. Angan dan mimpi yang akan terwujudkan itu ternyata belum dirasakan cocok untuk kami berdua. Bahkan mimpi tadi perlahan namum pasti berhasil menjadi momok dan nightmare yang harus aku terima, ikhlas tak ikhlas.

Dua hari sebelum pernikahan kami digelar, kekasihku (ya, aku tak sanggup menyebut namanya) dihadang oleh tiga pria jalanan laknat. Aku tidak tau pasti kekasihku dari mana dan hendak ke mana, yang aku tau kekasihku diperkosa habis-habisan di sebuah gedung kosong dan akhirnya dirampok harta bendanya. Waktu itu aku belum tau siapa tiga setan yang dikirim Tuhan itu. Aku hanya merasa kosong, mendapat telpon dari orang tua kekasihku jika ia sedang di rumah sakit. Dalam keadaan sekarat. Aku, yang saat itu sedang mengontrol kesiapan gedung yang akan digunakan di hari H nanti, merasa ditindih beban berjuta ton beratnya. Aku sekonyong-konyongnya langsung lari ke mobil dan menuju rumah sakit yang diinfokan. Sepanjang jalan, kecepatan mobilku selaras dengan kecepatan air mata yang mengalir. Aku tidak bisa mengontrol emosiku. Bahkan sesekali isakan tangisku terdengar sangat jelas di tengah hiruk-pikuk jalan raya malam itu. Aku bahkan sempat salah jalan saking tidak fokus lagi menyetir mobil. Perasaan marah berkecamuk tak sudah-sudah.

Ruangan ICU yang sunyi kontras dengan keadaan di depan pintu. Raungan semakin jadi tanpa ada seorang pun yang meredamnya. Aku kalut, kewarasanku tiba-tiba hilang, logikaku sudah terbang entah kemana. Yang aku lakukan hanya menangis, menjerit dan mengumpat kepada Tuhan mengapa ini harus terjadi di sela-sela hari penuh makna bagi kami berdua ini. Ujian Tuhan terlalu mengada-ngada. Tangisanku mendadak berhenti saat dokter yang keluar dari ruangan dan memberikan hasil sementara kekasihku. Dokter bilang jika dia mengalami shock berat dan masih mengalami goncangan yang sangat dalam. Kekasihku sadar, tapi dengan tatapan kosong, tanpa arti. Aku mengerti perasaannya. Aku tidak beranjak satu meterpun darinya, aku rela hancur demi membuatnya kembali bangkit. Tapi apa daya, malapetaka ini terlalu menyesakkan. Aku tidak berhenti menyalahkan diriku sendiri. Aku ingat jika siang itu ia memang bilang mau mengurusi sesuatu di salah satu tempat, tapi tidak bilang di mana tempat itu spesifiknya. Aku hanya mengiyakan dan percaya jika tidak akan terjadi apa-apa dengan dirinya nanti. Tapi aku bukan Tuhan yang bisa memberikan garansi akan kehidupan seseorang, dan takdir berkata lain. Dan inilah hasil akhir dari perlakuan tiga setan brengsek utusan Tuhan yang Maha Agung.

Pagi itu kekasihku masih terlena dan terjaga. Dia tidak tidur sama sekali, dan dia belum mengucapkan satu katapun paska insiden itu. Hanya air mata yang sesekali turun dan melunturkan maskaranya yang belum sempat dibersihkan itu. Aku terlampau sayang kepadanya, dan aku semakin terpukul dengan keadaan mengenaskannya ini. Aku menemaninya menangis walaupun aku tau ini tidak bisa meringankan beban yang sedang dipikulnya.

Tuhan menyulap keadaan menjadi lebih baik. Kekasihku sudah diizinkan pulang karena selama beberapa minggu di rumah sakit ia mengalami progres yang bagus. Pernikahan kami rusak. Undangan, baju pengantin, gedung dan catering yang telah disewa semua hancur. Tidak akan ada pesta megah yang selama ini kami idamkan. Tidak ada prosesi tukar cincin yang kami dambakan. Tak ada juga malam pertama yang kami harapkan. Dan tentang keluarga kecil kami, kami tutup episode itu sementara waktu. Aku tidak lagi memikirkan rasa malu, malah aku tidak perduli dengan gunjingan orang lain perihal masalah ini. Yang ada di benakku sekarang, bagaimana caranya mengembalikkan kebahagiaan batin kepada kekasihku. Aku ingin Tuhan tidak hanya memberikan cobaan, namun juga mukjizat. Sebuah keajaiban yang bisa menyembuhkan kekasihku dari kenistaan maha berat ini.

Situasi membaik, kekasihku sudah mulai merasa kembali ke hidup aslinya. Dia sudah kembali 'mengenal' ku. Aku mencurahkan semua yang aku bisa untuk membentuk kebahagiaan yang sempat hilang untuk dirinya. Aku menjadi sering bolos kerja, lupa makan, membiarkan kumis dan jenggotku yang mulai memanjang. Semua kulakukan semata untuk membuatnya kembali tersipu, menghirup segarnya udara dunia. Aku ajak kekasihku ke pantai, mengelilingi kota kecil ini, bercengkrama ria di taman yang biasa kami lakukan saat berpacaran dulu. Aku berusaha memunculkan kembali kenangan itu dan merangsang daya ingatnya untuk melupakan kesuraman yang pernah melanda hidupnya. Walaupun tak mudah.

Dua bulan setelah terakhir kali aku mengantarnya pulang, petir kembali menyambar dan lingkaran setan semakin tebal menyelimuti hidup kekasihku. Kekasihku hamil, sebuah kejutan yang tak diharapkan. Lembar baru yang telah ia susun itu ternyata harus rusak lagi oleh vonis yang menyakitkan itu. Hujan air mata kembali terjadi. Aku hanya bisa diam, terpaku oleh keadaan yang aku sendiri bingung mengendalikannya. Kekasihku terperosok ke lobang yang paling dalam. Aku hanya bisa memandangnya dari atas lobang itu tanpa ada gerakan untuk menolongnya. Karena akupun tidak tau bagaimana cara terbaik membantunya keluar dari lobang itu. Aku seperti dilempar granat yang siap meledak. Aku dirudung dilematis yang sangat kejam. Begitupun kekasihku yang terlunta-lunta oleh estafet kesialan yang dideritanya.

Tuhan memberikan masing-masing jalan, dan inilah hidup yang harus dijalani kekasihku. Sialnya, kekasihku mengambil jalan pintas dan memilih untuk menyudahi kehidupan yang telah Tuhan persiapkan untuk dirinya. Tak menunggu lama, seminggu dari berita memalukan itu, kekasihku ditemukan tewas di dalam kamarnya. Ia akhirnya mengerti jika dirinya sudah tidak berguna lagi. Ia merasa kecewa dengan dirinya, merasa tidak pantas dengan diriku, merasa kotor, dan yang paling menyedihkan ia berterima kasih kepada Tuhan atas semua ini. Kata-kata itu ia tulis di secarik kertas yang sudah basah dan lusuh.

Ingin rasanya aku mengikuti jejak kekasihku untuk berhenti melanjuti hidupku. Elemen penyemangatku telah tiada, orang yang telah memompa kebahagiaan untuk diriku sudah hilang, menuruti kehendak Tuhan untuk kembali kepada-Nya walaupun dengan cara yang salah. Tapi Tuhan tidak bisa berkomplentasi lagi, makhluk-Nya satu itu punya alasan mengapa ia memilih mati secepatnya. Ia tidak ingin terlalu lama memendam luka dan aib yang menjerat lehernya itu. Aku semestinya pantas marah ke Tuhan. Secara tidak langsung Tuhan telah merusak benang kebahagiaan yang telah aku sulam selama ini bersama kekasihku. Tapi tanpa ancang-ancang, Tuhan lah yang memorak-porandakan semuanya. Mimpi yang hanyut ke aliran sungai hitam kelam.

Aku memutuskan untuk resign dari kantor. Lagipula hasratku sudah patah, kalah oleh kekesalan dan perasaan sakit hati. Aku melanjutkan hidup tanpa arah. Aku kehilangan rasa ingin hidup. Yang ada dipikiranku hanyalah bagaimana aku menemukan tiga bajingan itu. Rasa balas dendamku telah menggunung. Aku sengaja memisahkan diri dari keluarga dan orang-orang yang aku kenal. Aku ingin menyelesaikan ini sendiri tanpa ada 'dukungan' dan 'campur tangan' dari orang lain. Aku ingin mengeksekusi kejamnya dunia ini sendiri. Sudah ada yang menemaniku, kekasihku. Walaupun aku tau kekasihku tidak akan pernah menyukai apa yang akan aku perbuat ini. Tapi aku sudah membulatkan tekad, menyingkirkan logika, dan merancang semuanya dengan rapih.

Aku sudah mencari ke segala penjuru dengan segala cara tentang tiga iblis neraka Jahanam itu, namun nihil. Amarahku semakin terbakar, aku hilang kendali. Peringatan pahala terbantakan oleh niat pendosaku yang berkoar lantang. Aku tidak perduli lagi dengan apa itu pahala dan dosa. Yang aku inginkan adalah segera menuntaskan dan mencari ending yang sepadan dengan apa yang sudah aku terima. Tuhan kembali bermain-main denganku. Aku kesulitan menemukan lokasi mereka, atau mereka juga sudah ditelan bumi? Aku tidak tau dan tidak yakin, aku semakin berontak mencari keberadaan mereka bertiga. Nyatanya, semakin aku bersikukuh mencari, hasilnya semakin mendekati nol. Keputus asaan kembali bersemayam, kendati luapan balas dendam masih tidak bisa dibendung. Aku akhirnya menggunakan cara lain. Aku..........

Minggu, 11 November 2012

Wreck-It Ralph (2012)



Director: Rich Moore
Cast: John C. Reilly, Sarah Silverman, Jack McBrayer, Jane Lynch, Alan Tudyk
Rate: 3,5/5


Tampaknya dunia animasi mempermudah sineas untuk mengeksplorasi apa yang ada di benaknya. Imajinasi liar yang bersarang di kepala lantas distimulasi berkat bantuan dunia digital jaman sekarang. Semua diperalat oleh teknologi terkini yang akhirnya dipoles sedemikian rupa menjadi sebuah animated feature film. Lihat saja studio-studio animasi raksasa yang sekarang memaksa kita percaya jika film-film kartun mereka memang hidup layaknya manusia normal. Tidak masalah, toh penonton dimanjakan berkat visual cantik dan menarik lewat CGI tersebut. Dunia sempat dibuat terperangah dengan adanya mainan yang mampu berjalan dan bertengkar seperti halnya manusia. Pixar membuat suatu hal yang tak mungkin menjadi masuk akal sekaligus lucu dan mengharukan. Setelah itu, barulah dunia animasi semakin merajalela. Dunia robot, kaum Who yang hidup di bulir bunga, tikus pandai masak, kampung otomotif, serta hewan purbakala yang sibuk mengungsi.

Wreck-It Ralph hadir bukan hanya sebagai pelengkap perkartunan yang ada, tapi lebih kepada tribute dan nostalgia kita terhadap game arcade atau yang lebih dikenal sebagai ding-dong. Itulah yang unik, penonton diajak ke dunia ding-dong lebih dalam lagi. Kehidupan dan latar belakang serta problema karakter ding-dong menjadi pusat dan inti dari film ini. Tokoh sentral adalah Ralph si penghancur dari game Felix the Fix, yang merasa dirinya lelah menjadi orang jahat dan bersikukuh berubah menjadi yang lebih baik. Semua ditenggarai oleh tetua wahana yang merasa Ralph tidak pantas gabung dengan mereka dan membuat kecemburuan sosial Ralph semakin meradang. Bertaruh mendapatkan medali, Ralph bertemu dengan Vanellope, tokoh dari Sugar Rush yang ternyata mengalami malfungsi dan akan dimatikan karakternya. Ternyata, ada udang dibalik batu. Sosok tokoh jahat lainnya yang ternyata glitch juga mencoba memanipulasi program Vanellope. Keadaan semakin runyam saat monster jahat mulai mengganggu ketentraman jagad raya per-ding-dongan. Dibantu Felix dan Calhoun, Ralph berusaha menyelamatkan nasib Vanellope sekaligus game Felix the Fix itu sendiri.

Yang menyenangkan saat menonton film ini adalah penonton tidak hanya diberi kelegaan saat menikmati audio visual dan gimmick lainnya (baca: 3D), tapi juga diberi pelajaran lewat pesan moralnya. Kendati ceritanya tipikal film konsumsi anak-anak kebanyakan, namun film ini juga tidak merasa sok dewasa. Humornya masih dalam kadar yang bisa dicerna anak-anak. Dari awal hingga akhir, cerita memang bergulir tanpa jeda dan adegan kosong. Wreck-It Ralph memang tidak sesempurna itu, adegan Ralph yang mengajari Vanellope serta tokoh antagonis yang manipulatif banyak kita temukan di film lain. Hanya saja, Wreck-It Ralph sangat lugas dalam penyampaian point of view-nya. Hal-hal umum soal persahabatan, kesenjangan sosial, serta ketamakan akan sesuatu juga disampaikan dengan sangat jenaka. Rich Moore berhasil membuat film yang whole package-nya mampu menyenangkan segala pihak.

Pengisi suara semacam John C. Reilly, Sarah Silverman (main bagus di Take This Waltz), dan Jane Lynch memberikan nyawa kepada tokoh-tokoh di film ini. Kombinasi pemilihan aktor yang sangat pas. Terlebih lagi Wreck-It Ralph dibantu dengan lagu-lagu pengisi film yang amat segar. Sumbangan AKB48, Owl City, dan lagu lamanya Rihanna mampu menyemangati film ini lebih jauh lagi. Semuanya bersinyalir dan melengkapi hiruk pikuk dunia game arcade yang saling menyatu lewat aliran paralel listrik. Kita tak akan pernah tau kalau arcade universe bisa saling terhubung dan berkesinambung menjadi sebuah dunia yang ramai, warna-warni, dan penuh problematika sebelum menonton film ini.

Meskipun Pixar seolah menaikkan kembali pamor Disney yang sempat meredup, tapi Disney kembali maju dengan menghasilkan film-film yang berkualitas Oscar. Hadirnya Tangled dan Wreck-It Ralph ini sebagai bukti jika Disney masih fokus dengan tujuan utamanya dalam hal memberikan produk yang bermutu tinggi tapi bisa dinikmati oleh segala jenis usia. Bahkan sekarang Pixar yang seperti sedang merangkak dan terseok-seok akibat Cars 2 dan Brave mereka yang dinilai biasa-biasa saja. Pertarungan antar PH semakin sengit, apalagi Dreamworks Animation semakin dewasa dalam melempar produknya. Belum lagi desakan dari Blue Sky, dan lain-lain. Wreck-It Ralph pada akhirnya tidak akan menjadi sesuatu yang klasik laiknya filmografi Disney terdahulu, tapi film ini jelas memiliki taring yang harap menjadi ancaman bagi film animasi lainnya dalam hal perebutan piala Oscar tahun depan. Happy watching!

by: Aditya Saputra


post.script: Ada short movie sebelum Wreck-It Ralph dimulai, yaitu Paperman. Bercerita tentang pertemuan singkat tak disengaja antara seorang cowok dan cewek di sebuah stasiun. Storytelling-nya sangat menarik, bahkan romantis. Animasinya pun sangat menawan dan lucu. Banyak hal yang terkandung dari animasi berdurasi kurang dari 5 menit ini. Black and white mode, silent mode, but it's astonishing.

Sabtu, 10 November 2012

A Single Man (2009)


Director: Tom Ford
Cast: Colin Firth, Julianne Moore, Nicholas Hoult, Matthew Goode
Rate: 4/5


Percayakah Anda jika seorang designer yang nol-directing experience dalam menyutradarai film lantas membuat film berkelas Oscar? Dan percayakah Anda jika designer tersebut menulis naskahnya seorang diri dan menghasilkan sebuah film yang sangat personal bagi dirinya? Tom Ford, designer jebolan fashion house kenamaan, Gucci, membuat kritikus membuka mata akan talenta barunya selain mendisain dan menyketsa baju-baju orang ternama. Tanpa promo yang berlebihan, film ini malah mengejutkan semua pihak dan dicap sebagai salah satu karya terbaik keluaran tahun 2009. Cerdasnya lagi, Tom Ford membuat sendiri script yang ia terjemahkan langsung dari buku karangan Christopher Isherwood. Bakat terpendam, jika diasah memang akan muncul kualitasnya.

A Single Man memang menceriterakan sepak terjang seorang dosen yang terjebak dalam masa lalu dan terperangkap dalam cinta matinya. George Falconer, dosen Bahasa Inggris - seorang gay, menjalani hidup monotonnya tanpa warna-warni percintaan lagi. Sang kekasih, Jim, yang telah hidup bersamanya selama 16 tahun meninggal karena kecelakaan saat akan mengunjungi keluarganya. Sial bagi George, kematian sang kekasih harus ia cari tau sendiri karena sang keluarga tidak memberi kabar atas kepergian Jim. George semakin terpuruk dan merencanakan untuk memperpendek masa hidupnya. Menutup akun di bank-nya dan membuat sebuah catatan singkat untuk orang terdekatnya. Namun, satu pagi George berkontak mata dengan anak didiknya, Kenny, yang mempunyai rasa penasaran tinggi dengan sosok si dosen. Affair yang tidak wajar terjalin walaupun hasil akhirnya tidak akan terbayangkan. Belum lagi George harus terlibat cinta bertepuk sebelah tangan yang didera oleh sahabat lamanya, Charley. Drama kehidupan George makin pelik, dan kebahagian masih mengambang entah kemana.

Opening film ini sangat menggugah, bagaimana kita diperlihatkan 'panorama air' yang sangat classy dan indah. Namun sarat makna. Semuanya tersimbolkan dengan amat lugas. Naskah yang dikarang Ford mengalir lembut namun tegas, serupa dengan penggarapannya yang matang kendati ini adalah debut penyutradaraannya. Bahkan Ford dengan pintarnya mengolah beberapa adegan yang memang sarat emosi. Editing yang cantik, pergerakan kamera yang dinamis, serta pemilihan lagu dengan tempo yang pas. Tom Ford seakan telah mempersiapkan segalanya untuk film ini. Termasuk dengan memilih cast yang sempurna. Colin Firth meraih nominasi Oscar dari film ini, dan memang sangat beralasan. Tokoh George Falconer adalah contoh karakter yang susah dimainkan. Firth dengan kemampuan dan pengalamannya sukses bertransformasi menjadi sosok yang depresi, tempramental, dan cenderung introvert. Kegagalan drama percintaannya dilukiskan dengan air muka yang minus senyum. Penyeimbang dari aktor lainnya juga terhitung maksimal. Julianne Moore yang lagi-lagi kebagian peran wanita terpuruk berhasil menjabarkan maksud Ford akan tokohnya ini. Terlebih lagi untuk Nicholas Hoult yang tampil berani dan mampu jalan berdampingan dengan si senior Firth.

Walaupun Goode tampil sebentar, tapi perannya menjadi dalang dan sebab musabab serentetan kejadian di film ini. Flashback story yang menceritakan bagian bahagia George dan Jim, memang membantu menguatkan cerita itu sendiri. Dan pada akhirnya, prosa film ini memang terasa kokoh berkat seluruh elemen yang terkandung di dalamnya. Dan Tom Ford, di film perdananya, patut diacungi jempol, karena telah meramu sebuah film yang sangat intim dan personal. Bukan saja mendeklarasikan kemelut dan gundah seorang diri yang ditinggal mati kekasih, tapi juga bagaimana menempatkan diri di lingkungan saat keadaan mulai perlahan mengekang.

A Single Man is a highly recommended movie I must share. When a loner get a distraction, he might be not give himself a suicidal life. Saat sajak awal film mengalun, A Single Man memang berjalan di arah yang positif dalam memberi sudut pandang dan arti lain dari sebuah kehidupan. Naskah yang berpotensial mengaduk emosi, pemilihan aktor yang berkadar tinggi, mengaratkan semua persepsi awal akan tampilan film eksklusif seorang designer ini. A Single Man, with a single humble quote from Tom Ford: If you spend an hour and a half in a movie theater, it should challenge you. Happy watching!

by: Aditya Saputra