Jumat, 14 Juni 2013

Man of Steel (2013)


Director: Zack Snyder
Cast: Henry Cavill, Amy Adams, Michael Shannon, Kevin Costner, Russell Crowe, Laurence Fishburne, Diane Lane
Rate: 3,5/5


Untuk memulai bahasan kali ini, saya ingin beritahu sedikit bahwa saya belum pernah nonton film Superman satupun kecuali buatan Bryan Singer tahun 2006 lalu. Superman Returns yang kata kebanyakan orang masih tetap setia memakai pola film Superman buatan Richard Donner, namun tetap dinilai lemah karena porsi dramanya terlalu padat sehingga membuat Superman Returns layaknya Hulk hasil kreasi Ang Lee. 7 tahun berselang, hadir lagi reboot manusia baja yang kali ini di bawah komando Christopher Nolan dan dinahkodai langsung oleh Zack Snyder, lelaki di belakang suksesnya 300 dan Watchmen. Namun, Snyder pernah tersandung dan jatuh di mata kritikus saat Sucker Punch dan animasi burung hantu Ga'Hoole-nya terperosok habis-habisan karena terlalu mengandalkan slo-mo secara berlebih hingga melupakan teknik lainnya. Akhirnya Man of Steel hadir di depan kita, dan pujian serta cacian pun tetap tak terbendung. Kecuali bagi yang merasa Man of Steel telah lepas jauh dari versi Richard Donner. What did you expect, guys?

Film ini memang diantisipasi sekali oleh fanboy maupun yang hanya sekedar ingin menonton, tapi lambat laun semua pandangan tertuju ke salah satu film ambisius ini. Apalagi banyak yang memasang target berlebih mengingat dayang di belakang layarnya tertera nama Nolan dan Goyer. Tapi, pembuat film tetaplah Zack Snyder, dan semestinya ikut campurnya Nolan di sini hanya sebatas sebagai produser. Snyder-lah algojo yang mengeksekusi filmnya agar lebih berbobot tapi tidak juga meninggalkan kesan komersil Superman-nya sendiri. Dan jika saya lihat, Man of Steel tetap memberikan ciri khas seorang superman dengan memberikan warna yang cukup berbeda dari seri yang terdahulu. Kita akan tahu cikal bakal Clark Kent menjadi superhero. Tidak sampai di situ, fase flashback saat ia masih kecil dan dirawat oleh keluarga Kent cukup menyita emosi saya. Sangat jarang saya menonton film bertemakan pahlawan yang begitu menyentuh. Walaupun editing-nya sangat kasar, setidaknya pencapaian dramanya tetap terjaga.

Dan kita memasuki bagian super-duper-berlebihannya film ini. CGI dan visual effect. Maksud saya saat final battle-nya. Penggambaran dunia Krypton dilukiskan dengan sangat indah, believable, dan megah. Setelah itu, visual-nya tampak sangat berantakan. Perkelahian antara dua kubu terlalu mengada-ada dan tidak relevan sama sekali. Efeknya terlalu manis sampai-sampai membuat mual jika dikonsumsi terus-terusan. Untunglah film ini diiringi dengan musik yang lumayan membangun filmnya sendiri. David S. Goyer sepertinya sedikit goyah dalam membuat ceritanya ini menjadi lebih menarik. Mungkin karena Goyer lebih menitikberatkan drama flashback-nya tadi daripada harus mengupayakan bagaimana percintaan Kent dan Lane diungkap di sini.

Henry Cavill si manusia baja telah menunjukkan kapasitasnya sebagai aktor baru yang siap mematahkan persepsi awal bahwa ia bisa menjadi pahlawan super. Dengan postur tubuh yang sangat memungkinkan untuk menjadi seorang superhero. Sayang, Cavill masih lemah dalam menerjemahkan emosi Kal-El di momen-momen penting sehingga membuat adegan tersebut tasteless. Amy Adams bermain pas, pun dengan Crowe sebagai Jor-El yang tidak berlakon berwibawa yang berlebihan. Namun yang menarik adalah penampilan Kevin Costner dan Michael Shannon. Selama saya menonton, semua adegan yang ada Costner-nya sukses membuat saya sedih, dan adegan yang ada Shannon di dalamnya berhasil membuat saya geram. Bintang tetaplah bintang, sebagai supporting actor pun mereka tetap menunjukkan kapasitas seorang bintang.

Sebagai film musim panas, Man of Steel bagi saya sudah memenuhi syarat. Menghibur namun tidak lupa membekaskan logika. Menyortir semua kejanggalan yang biasa terjadi di film superhero. Sayang, saya nilai Zack Synder terlalu tergesa-gesa membuat Superman agar menjadi pahlawan masyarakat yang kembali bisa dikenang. Akibatnya, Superman kali ini sepertinya mudah sekali untuk dilupakan. Setidaknya, sisi humanis yang menempel di film ini yang diproklamirkan sepanjang film cukup membuat saya begitu terpesona. Masih ada film bertema sejenis yang memiliki misi secara universal, bukan hanya untuk dunia perkomikan sahaja. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar