Sabtu, 02 Maret 2013

Hasduk Berpola: Ketika Pramuka Hanya Tinggal Kenangan Manis

Masa itu sudah menjadi lembaran kusut yang jika dibuka kembali akan menjadi potongan-potongan cerita membahagiakan selama saya mengikuti kegiatan pramuka. Dahulu, mulai dari kelas 4 hingga kelas 6 SD, saya yang termasuk aktif dalam ekstrakurikuler ini. Tidak ada yang spesial sebelumnya, karena saya bukan yang termasuk gemar beraktivasi dalam organisasi apapun. Tapi, berhubung saya dipilih langsung oleh sang guru pembimbing pada waktu itu, secara mengejutkan saya perlahan menggemari jadwal sampingan saya itu. Dengan satu hal yang harus digaris bawahi, pramuka tidak boleh mengambil jatah belajar utama saya di sekolah.

Kelas 4 mungkin saya tidak begitu menonjol, karena bisa dikatakan hanya dijadikan 'peran pembantu' untuk mengisi slot kosong di barisan. Kebetulan postur tubuh saya kala itu yang masih sangat pendek, jadi selalu berada di barisan kiri belakang. By the way, dalam LTBB di pramuka barisan harus disesuaikan dari yang paling tinggi ke yang paling pendek. Dan mungkin juga saat itu sang guru pembimbing belum melihat sisi lain dari saya yang begitu menakjubkan *ahem*. Kelas 5 awal, potensi lain saya akhirnya timbul bersama desiran angin alam yang tidak terkendali saat itu. Saya pun mahir dalam ber-semaphore. Sepasang bendera 2 warna dengan tongkat kecil menjadi teman baru bagi saya dan beberapa teman yang lain. Lupakan soal pelajaran tali-menali dan memasang tenda serta kiat khusus dalam memberikan P3K. Semaphore bagi saya jauh lebih menyenangkan dari itu semua. Meragakan huruf A - Z dengan bermacam bentuk yang berbeda, seperti belajar mengeja dengan menggunakan bahasa Inggris. Mudah, tapi jika salah pronouncation-nya akan sulit dimengerti.

Begitupun dengan teknik semaphore. Ada beberapa bentuk huruf yang sama dengan yang lainnya. Dan itu juga bukan kendala berarti bagi saya. Lambat laun, dengan semakin lincahnya saya berkomunikasi lewat bendera kepramukaan itu, saya dan 2 teman lainnya dipilih untuk mengikuti lomba semaphore tingkat provinsi pada waktu itu. Jujur, itu pengalaman yang paling mendebarkan bagi saya. Saya yang awalnya anti sosial dan jarang menjadi perhatian publik sekolah ternyata langsung melejit berkat keterlibatan di lomba tersebut. Lomba semaphore pada waktu itu bersistem 3 orang dalam 1 grup. Jadi ada 1 orang yang akan memeragakan satu baris kalimat dengan menggunakan semaphore dan 2 orang lainnya yang berada cukup jauh dari pegara tadi harus mengartikan apa yang ia peragakan. Dan saya kebagian peran sebagai pembaca kalimat aba-aba itu. Setelah saya paham, baru saya akan sampaikan kepada teman satunya lagi yang akan ditransfer dalam bentuk tulisan.

Luar biasa, dengan waktu dan ketepatan menjawab, akhirnya sekolah kami memenangkan turnamen tersebut. Sulit diungkapkan dengan kata-kata. Piala bergilir dari Bapak Pramuka setempat akhirnya bertengger di sekolah kami untuk pertama kalinya. Dan untung saja, nilai akademik saya tidak terecoki hingga masih bisa bercokol di jajaran juara kelas. Kelas 6 kami diberhentikan untuk sementara waktu dikarenakan harus fokus ke ujian nasional (waktu itu masih EBTANAS). Namun uniknya, ketika kami sudah pindah sekolah which is berganti seragam menjadi putih-biru, tiba-tiba guru pembimbing pramuka mengajak kami kembali untuk terus melanjuti klasemen sempahore yang diadakan di tahun bersangkutan. Sayang, dengan status kami yang sudah memang titel anak SMP, terpaksa niat tersebut harus tertimbun untuk selamanya.

Dari pramuka, saya mengenal banyak hal. Mulai dari kedisplinan, kekeluargaan, kerja sama, dan hidup bersosialisasi saya pelajari dari lingkungan tersebut. Belajar memakai hasduk (dasi pramuka-red), latihan baris-berbaris, hingga memraktekkan palang merah remaja juga menjadi bab-bab penting dalam hidup saya.

Tahun 2013, Maret ini tepatnya, akan hadir filem lokal yang juga mengedepankan tema persahabatan dan perjuangan anak bangsa dalam berpramuka. Semoga filem ini bisa mengisi dan melengkapi nuansa perfileman Indonesia. Menjadi oase untuk filem anak-anak yang masih setengah-setengah dalam penggarapannya. Tidak muluk-muluk mengharapkan akan menjadi superior di kelasnya, semoga Hasduk Berpola bisa memberikan contoh positif kepada penonton tanpa meninggakan kesan menggurui. Itu saja.

Trailer Hasduk Berpola:




by: Aditya Saputra

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar