Kamis, 17 Januari 2013

Les Misérables (2012)


Director: Tom Hooper
Cast: Hugh Jackman, Russell Crowe, Anne Hathaway, Helena Bonham-Carter, Sacha Baron Cohen, Amanda Seyfried, Eddie Redmayne, Aaron Tveit, Samantha Barks
Rate: 3,5/5


Dua tahun lalu, saat sineas hasil eraman dari media tv seketika memanaskan jagad perfileman dunia dengan karya epiknya, The King's Speech, hingga menjadi nomor satu di bursa Oscar. Filem bertemakan kerjaan Inggris itu memuncakkan karir Hooper sebagai pendatang baru yang tak boleh dipandang sebelah mata. Sekarang, Hooper kembali memberikan persembahan spesial yang temanya sangat jarang disentuh akhir-akhir ini. Filem musikal memang terkesan segmented dan tidak banyak yang suka model filem seperti ini. Apalagi Les Misérables tidak berisikan dialog pada umumnya, melainkan serangkan kalimat yang dinyanyikan dengan melodi bernuansa opera. Sangat jauh dari penerawangan kita jika filem ini layaknya Chicago, Dreamgirls, atau bahkan Glee yang enerjik itu. Les Misérables mencoba mengambil jalur yang sangat anti-mainstream. Trik jitu yang dipakai Hooper untuk menjaring mangsa penonton sebanyak mungkin ialah merekrut belasan pemain yang sudah memiliki nama di mata fans mereka.

Berceritakan di negara Perancis, abad ke 19, saat otokrasi sedang memuncak. Sementara itu, Jean Valjean, seorang sipir yang melarikan diri dari perbudakan yang merajalela kala itu. Singkat cerita, Valjean akhirnya mendapatkan persetujuan untuk merawat anak dari Fantine, Cossette, yang awalnya tersiksa sebagai anak asuh dari keluarga Thenardier. Revolusi Perancis di filem ini tidak begitu jelas digambarkan, karena hanya menekankan pada drama yang dilatar-belakangi perang belaka. Makanya, kompleksitas yang terkait di filem ini tidak begitu berat. Soalnya, mau tak mau Hooper memang memutuskan untuk menonjolkan sisi teknis untuk filem ini dan sedikit keteteran saat menarasikan ceritanya sendiri.

Letak keseriusan Hooper dalam menata desain grafis serta seting yang meyakinkan memang patut dinilai lebih. Dengan lokasi yang begitu gelap, apa yang terpampang sedikit meningkatkan tensi. Namun, sebagai filem yang menitik-beratkan pada musikalitas, filem ini juara pada bagian tata suara, teknis irama, serta pemilihan lagu dan adu vokal. Seperti yang sudah dijelaskan, dialog filem ini semuanya dilagukan. Didendangkan dengan ritme dan intonasi layaknya membaca skrip. Tugas berat ini akhirnya bisa dikerjakan dengan semangat oleh para aktornya, termasuk untuk seluruh para ekstras yang muncul satu sampai dua frame saja. Duel suara antara Hugh Jackman dan Russell Crowe kendati kokoh tapi saya merasa Russell Crowe seperti miscast. Ketidak seimbangan mereka berdua dalam satu layar saya rasakan terlalu timpang. Di lain pihak, Anne Hathaway justru mengeluarkan seluruh jiwa raganya untuk filem ini. Akting menangis saja susah, apalagi harus diiringi dengan bernyanyi, jelas bukan pekerjaan mudah. Tak heran Anne banyak membawa piala dan penghargaan atas kerja kerasnya di filem ini. Untuk para pemeran pembantu, keeksentrikan serta kepiawaian mereka menggubah lagu menjadi enak didengar juga harus diapresiasikan sebesar-besarnya. Karena kendala utama menjalankan sebuah filem musikal terletak pada kemampuan aktor dan membari nyawa ke filem itu sendiri.

Les Misérables, sudah banyak pentas musikal atau bentuk karya lain dengan mengambil sudut pandang yang berbeda-beda. Bagi saya, karya teranyar Tom Hooper ini tidak memberikan hal yang baru yang bisa saya banggakan, atau setidaknya memberi dampak kagum seperti halnya saya menyaksikan Chicago yang begitu superior itu. Sekalipun filem ini sudah didukung dengan sangat baik, baik dari sektor musik hingga penataan busana dan make-up, tetap saja bagi saya filem ini hanya akan bertengger di filem bagus saja. Jika saja penampilan para aktornya biasa-biasa saja, mungkin filem ini akan dengan mudah terlupakan untuk saya. Namun, penampilan extraordinary yang diberikan Anne Hathaway dan Samantha Barks memang terlalu manis untuk ditinggalkan begitu saja. Tak salah dengan raupan 8 nominasi Oscar untuk filem ini. Akhir kata, sebagai pilihan di akhir pekan Les Misérables sangatlah cocok, namun sebagai love letter untuk masa keemasan era musical movie, jelas bukan. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar