Tampilkan postingan dengan label pixar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pixar. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Juni 2013

Monsters University (2013)


Director: Dan Scanlon
Voice-over: Billy Crystal, John Goodman, Steve Buscemi, Helen Mirren
Rate: 4,5/5


Kenapa banyak yang menyayangkan Pixar keluar dari zona amannya? Mengapa banyak yang tidak menyukai proyek lanjutan dari film-film sukses Pixar terdahulu? Mengapa Toy Story tidak dipermasalahkan? Sebagai produk tunggal, karya-karya Pixar memang memberikan sesuatu yang renyah dan baru. Bahkan hampir dari seluruh film keluaran Pixar Animation mendapatkan banyak gelar animasi terbaik dari berbagai ajang film. Minimal sebagai nominator. Di mata para fans, franchise Cars semacam tumbal karena keluar dari tujuan utama Pixar yang selalu menyajikan sebuah film yang manis dan mendidik. Padahal, untuk sebuah animasi Cars adalah sesuatu yang baru dan cerdas. Memang tidak sekuat apa yang diberikan Ratatouille atau Wall-E misalnya, tapi dengan ide seperti itu saja Cars sudah mempunyai daya pikat tersendiri. Sekarang Monsters, Inc. yang pada masanya dicap sebagai salah satu pelopor animasi terkini, diberikan prekuel. Secara komersil, Pixar masih menyetir apa yang diinginkan penonton. Monsters University ramai diperbincangkan, baik dengan penilaian yang positif maupun negatif.

Dikarenakan standard yang tinggi inilah mengapa Pixar selalu diklaim yang terdepan, jadi jika ada satu film yang menurut penonton lemah berarti taji Pixar sudah tumpul. Sebagai prekuel, Monsters University memberikan banyak info yang sebelumnya pernah kita temui di Monsters, Inc.. Semua yang tersaji di film tersebut perlahan dijelaskan secara detil di Monsters University. Bicara soal detail, Monsters University mempunyai detil yang diharapkan. Walapun harus saya akui jika cerita yang diangkat memang jauh dari harapan. Premis yang lemah ini mungkin menjadi penyebab mengapa Monsters University dinilai terlampau biasa saja. Tapi, di luar itu film ini memberikan lebih apa yang diinginkan untuk sebuah prekuel. Dari yang sudah-sudah, tema yang diangkat Pixar memang murni untuk menyadarkan apa itu arti persahabatan. Semua filmnya. Di samping itu, Pixar juga tidak enggan menyelipkan isu lain. Bantahan inilah yang membuat saya masih kagum atas kinerja para kru di belakang film ini. Semangat untuk memanjakan penonton bukan hanya lewat tampilan visual berhasil dimanfaatkan dengan baik.

Mematok harga tinggi untuk sebuah film memang sudah melekat di tiap penonton. Ekspektasi inilah yang kadang menjatuhkan atau malah menaikkan penilaian. Monsters University ibarat sebuah umpan sekaligus permulaan baru bagi Pixar untuk membuktikan jika Cars 2 dan Brave kemarin hanyalah produk selingan yang menguntungkan. Film ini memiliki segudang harapan yang berhasil direpresentasikan oleh sang kreator. Humor yang santai, karakteristik yang beraneka ragam bentuk beserta keunikan masing-masing, dan yang terpenting adalah bagaimana sang sutradara dalam menggiring kita untuk iba sekaligus puas dengan para tokohnya.

Layaknya film prekuel, Monsters University menjabarkan dengan sangat lengkap. Bagaimana menjadi monster yang menakutkan bagi anak kecil, dan ini mereka enyam di pendidikan formal tau ubahnya manusia yang bersekolah untuk mencapai tujuan hidupnya. Memperkenalkan kepada penonton pintu yang menjadi lorong antara dunia monster dan manusia serta tabung pendeteksi rasa ketakutan. Dan sekalipun sutradara film ini bukanlah tetua Pixar, namun tetap saja nyawa Pixar melekat kuat di film ini. Betul saja, 2 nama besar Pixar memegang penuh skrip untuk film ini. Kerja keras Pete Doctor dan Andrew Stanton berhasil mencairkan kekikukan tadi menjadi cerita yang luwes dan teknik animasi yang brilian. Dan beruntunglah Pixar memiliki aktor yang bisa menghidupkan tokoh mereka di tiap film yang mereka buat. Billy Crystal dan John Goodman ibarat Tom Hanks dan Tim Allen yang merupakan nyawa untuk kolaborasi kocak ini. Ditambah bantuan Helen Mirren yang berhasil membawa sang dosen ke ranah yang lebih menusuk dan dalam.

Saya belum menemukan kelemahan film ini, semakin saya mencari saya malah semakin suka. Jika penonton sedikit terbuka dan tidak dibayangi jika ini adalah keluaran Pixar, niscaya kepuasan menonton akan lebih dari yang mereka nilai. Untuk film yang dirilis di musim panas, ternyata Monsters University masih bisa bertengger di posisi puncak. Jelas saja, anak-anak akan menyukai film ini, dan orang dewasa akan diajak untuk mengingat sepak terjang Mike dan Sully di film sebelumnya. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Minggu, 24 Juni 2012

Brave (2012)


Director: Mark Andrews and Brenda Chapman
Voice-over: Kelly McDonald, Emma Thompson, Billy Connolly, Julie Walters
Rate: 4/5


Brave, hanya berkutat pada teritori yang sangat sering disinggung oleh film-film tentang keluarga lainnya. Mengambil benang merah koneksi batin antara anak dan orang tua. Tidak ada yang spesial dari premis tersebut, sampai akhirnya saya buktikan sendiri menyaksikan film berdurasi 100 menit-an ini. Satu hal yang menjadi acuan adalah, Brave merupakan hasil beranak pinak dari rumah produksi animasi terbesar di dunia, Pixar Animation Studio. PH yang telah menelurkan banyak film brilian yang tak jarang menghantarkan ke podium Oscar serta beberapa tingkat festival lainnya. Selain itu? Apa yang menarik dari Brave jika prosa penceriteraannya terbilang sangat klise?

Merida, terlahir dari keluarga yang memiliki silsilah kerajaan yang mengesankan. Hidup di alam Skotlandia yang masih memegang unsur kaum viking, Merida terbentuk oleh kebebasan yang bertanggung jawab. Yang itu pula menjadi masalah bagi ibunya. Merida remaja mau tak mau dipaksa ibunya untuk menjadi puteri kerajaan yang berujung pada penjodohan ke kerajaan-kerajaan tetangga. Sayembara sepihak itu ternyata membuahkan hasil yang tidak akan terpikirkan sebelumnya. Keegoisan sang ibu dibalas oleh keegoisan sang anak. Bibit amarah yang ditanam, tumbuh menjadi mimpi buruk yang akan disesali oleh keduanya, seumur hidup.

Yang tak lazim dari kebiasaan Pixar adalah mempersembahkan sebuah film dengan wanita sebagai tokoh utamanya. Bahkan Merida dikisahkan sangat perkasa dengan bekal bakat memanah yang luar biasa memukau dan penyebab utama runtuhnya rasa saling kasih antara ia dan ibunya. Lantas, mengesampingkan storytelling yang generik tadi, film bergulir dengan sangat positif hingga akhir filmnya. Dengan membawa pernak-pernik sihir (yang sangat jarang dipakai Pixar), Brave memiliki segala unsur yang patut dinilai dengan poin terbaiknya.

Mengetahui siapa si kreator film ini memang sangat riskan menelaah hasil akhir filmnya sendiri. Pengalaman yang minim sedikit memberikan skeptis buruk bagaimana filmnya akan memenangi hati segala usia laiknya film-film Pixar sebelumnya. Nyatanya, keamatiran mereka membidani sebuah film panjang malah berdampak baik. Brave terlihat sekali keorisinalitasannya pada berbagai kesempatan. Penonton tidak perlu meragukan lagi betapa indahnya film ini melaju di layar lebar. Sangat cantik, sempurna, dan tata visual yang menggugah mata. Dan juga akan terpuaskan dengan pemilihan musik yang sama memesonanya. Satu hal lagi ialah pengisian suara yang terbilang sempurna. Terutama untuk aksen Scottish yang begitu kental.

Menyinggung Madagascar 3 yang baru-baru ini rilis, sedikit menggelitik saya untuk membandingkan film yang sama-sama berformat animasi 3D ini. Brave tidak sememukau sekumpulan hewan itu dalam memberikan suntikan guyonan-guyonan, tapi Brave memiliki semangat tinggi dalam menyampaikan pesan moral yang tidak tertuang di film animasi kebanyakan. Saya berani bertaruh, ending film ini adalah bagian paling emosional. Bukan berarti adegan lain lempeng-lempeng saja, hanya saja rasa penyesalan memang terlihat jelas di bagian ini. Dan inilah gagasan utama yang ingin dibangun Brave sedari awal.

Mudah-mudahan Brave berkesempatan menaikan kembali derajat Pixar di ajang Oscar. Jika menang adalah bonusnya, setidaknya ini bisa dijadikan sedikit tebusan yang bernilai untuk semua pengagum karya-karya Pixar. Penuturan klasik yang diemban Brave memang memiliki tanggung jawab yang sungguh berat. Brave tidak semewah Wall-E, tidak sekreatif Ratatouille, tidak semenyentuh Toy Story, tidak selucu Finding Nemo, tapi patut dipercaya, jika Brave memiliki tingkat orisinalitas yang sepadan. Happy watching!

by: Aditya Saputra

PS: La luna adalah film pendek yang muncul sebelum Brave dimulai. Bercerita tentang bagaimana tiga orang pelaut yang bertugas menggantikan posisi bulan yang membelah bumi menjadi dua bagian waktu, siang dan malam. When the moon is off, that's the chance when you can stargaze spectacularly!

Minggu, 20 November 2011

Cars 2 (2011)


Director: John Lasseter, Brad Lewis
Cast: Owen Wilson, Larry the Cable Guy, Michael Caine, Emily Mortimer, John Turturro
Rate: 4/5


Mengapa saya masih menyukai Cars sedangkan para penonton yang lain merasa tidak puas dengan film bertemakan racing itu? Bagi saya, Cars bukan cuma memberikan kesederhaan cita-cita dan tujuan hidup tapi juga mengajarkan sedikit filosofi akna pentingnya sosialisasi serta pengaruh persahabatan dan orang sekitar bagi hidup kita. Mengingat ini sebuah animasi, ditambah lagi keluar dari perut Pixar, memang tidak menyalahkan jika banyak orang yang kurang puas dengan sodoran cerita yang amat klise dan jauh dari kesan orisinalitas yang biasa Pixar ciptakan. Tapi itu tadi, bagi saya Cars adalah sebuah cermin untuk melihat gambaran hidup betapa menyenangkan berobsesi yang bertanggung jawab. Melewati Ratatouille, Wall-E, Up, serta Toy Story 3, Pixar membuka lagi perlombaan sakral itu untuk tahun ini. Cars 2 dilepas dengan harapan mampu menjadi lebih baik dari Cars pertama, atau jika perlu sanggup melebihi superioritas para mainan bernyawa.


Seri ini mengambil garis besar di tokoh Matter, sahabat Lightning McQueen yang diajak ke Jepang untuk menemani McQueen menerima tawaran lomba dari juragan minyak terkemuka. Di samping itu, ada hubungannya pula dengan pergolakkan ini, mata-mata ala James Bond hadir di layar. Entah bagiamana caranya Matter nimbrung di aksi kejar-kejaran ini. Menyenangkan semua pihak memang sulit, apalagi harus mengesampingkan hal-hal yang jelas menjadi tombak penting. Seperti Cars ini.

Cars
jelas sebuah film keluarga yang diharapkan mampu memberi pelajaran dan hiburan kepada anak-anak sekaligus menyenangkan untuk orang dewasa. Benar saja, anak-anak mungkin suka dengan penuturan dan gaya mobil-mobil mentereng ini di layar besar. Desiran suara mobil melecit, serta dentuman ledakan-ledakan yang memborbardir sepanjang film seperti amunisi yang tak terbendung dalam menyemangati anak-anak tersebut. Namun, orang dewasa kurang suka dengan ceritanya. Malah dianggap terlalu mengada-ngada. Saya membenarkan. Dan mereka juga merasa lesu dengan adegan spionase seperti pengulangan film-film live action lainnya. Tidak bisa dipungkiri memang, saya pun sesekali merasa de javu.
Ambil sisi positifnya, seluruh jajaran aksinya tadi tidak serta merta sebagai pelengkap film, tapi sudah menjadi bagian dari otak awak Pixar. Mereka seperti ingin menyelipkan sebuah selingan menghibur. Layaknya kisah superhero yang merusak kotanya, ataupun dunia angkasa Wall-E, manalagi ke-absurd-an mainan yang bisa menyetir mobil. Jelas sekali bukan, seluruh parodi di Cars kedua ini hanya sebuah luapan betapa kreatifnya mereka.

Mengesampingkan sisi cerita, polesan CGI untuk film ini semakin mengkilap. Pixar bukan sembarang studio animasi kemarin sore. Cars yang terbit tahun 2006 dulu saja sempat membuat saya menganga betapa indahnya para mobil berlenggak-lenggok di layar. Di sini, saya jadi berpikir jika Pixar menemukan program komputer terbaru untuk merender animasi mereka.
Satu hal yang menarik adalah, dengan pindahnya ruang lingkup film ini ke Jepang yang otomatis membuat kerja tambahan bagi para sineasnya. Dan mereka berhasil menunjukkan sekilas adat dan tata krama kehidupan di sana. Seperti sumo saja misalnya. Pernah terpikir olahraga ini dilakukan oleh mobil? Kebayang lucunya?

Dari sini saja detail-detail menarik tidak pernah lepas dari pengelolaan ceritanya. Belum lagi penambahan-penambahan karakter yang berarti penambahan jenis kendaraan. Interesting. Sedangkan untuk para pengisi suaranya tidak ada yang perlu ditambal. Semuanya melakukan tugas dengan baik, terutama Michael Caine yang masih pantas saja untuk mengisi proyek anak kecil seperti ini.
Jelas sudah, yang salah bukan di filmnya, tapi di pola pikir penonton yang sudah kepalang terpatri di benak untuk mengharapkan sesuatu yang wah dari Pixar. Bagi saya, seperti ini sudah lebih dari cukup.

Kombinasi yang hampir sempurna dari segi tampilan animasi hingga humor serta adegan pengikut aksinya. Minus cerita miringnya itu. Niscaya, anak-anak pasti akan menggandrungi seri kedua ini. Belum termasuk jika produk pengiringnya juga laris manis di pasaran. Bukankah salah satu tujuan utamanya tercipta Cars ini untuk memenuhi hasrat para anak kecil bermain mobil-mobilan? Selama hot wheels masih laku tentunya. Happy watching!


by: Aditya Saputra

Rabu, 11 Agustus 2010

Up (2009)

Director : Pete Doctor
Voice-over : Edward Asner, Christopher Plummer, Jordan Nagai
Rate : 4/5


Lagi-lagi Pixar. Studio yang selalu menghasilkan dongeng bermutu dengan bantuan efek komputer kelas canggih. Tahun lalu, Pixar kembali menyapa penggemarnya dengan perwakilan film animasi bertajuk Up. Diharapkan dapat menyamai kualitas produk Pixar sebelumnya, yang ada malah Up menjadi primadona di ajang Oscar dengan mengantongi 2 piala serta menerima tongkat estafet dari Beauty and the Beast sebagai animasi yang berhasil masuk di kategori Best Picture.

Musik yang mengalun di pembuka film telah menegaskan jika film ini akan bermuara ke drama yang lebih dalam. Tanpa mengesampingkan sisi komersial, materi yang tersaji sudah cukup ampuh untuk menarik minat penonton seluruh umur. Cakupan yang universal memang sudah kadung pas hingga mencapai adegan klimaks sekalipun. Satu sisi, anak-anak akan menyukai film ini karena tutur petualangannya serta berbagai karakter unik di sepanjang feature. Dan di sisi lain, para penonton berumur (baca : remaja-dewasa) akan terbuai dengan pendiktean narasi yang begitu mengasikkan, menegangkan serta penuh dengan pembelajaran moral. Komputerisasi yang terkandung lewat Up memang terlihat sempurna, halus dan lembut dalam tata warna. Meski tone ruang lingkup setting yang terkesan mustahil, tapi si kreator sudah mengantisipasinya dengan berbagai sentilan hidup.

Hal mustahil yang saya singgung tadi adalah bagaimana mungkin perang angkasa yang mereka lakukan begitu luwes tanpa ada kesan takut yang mendalam. Anak kecil bernama Russell tadi begitu menikmati kondisi tadi. Kendati dia seorang anak pemberani dnegan berbagai medali yang ia dapatkan, tidak serta merta juga ia jadi sangat menikmati penerawangan di atas langit. Belum lagi ditambah dengan interval umur antara si kakek dan idolanya. Mungkin, Pete Doctor terlalu bersemangat dengan setelan animasi dan ceriteranya hingga melencengkan hal kecil yang fatal.

Tapi untunglah, kesimpang-siuran tadi masih bisa kita maklumi dengan iringan memukau dari tangan Michael Giacchino. Sempat mencicip nominasi lewat Ratatouille, di sini Giacchino jor-joran dalam mengilustrasikan gubahannya. Poin plus lain yang mesti dinilai adalah pengisi suara. Walaupun tidak ada nama populer, tapi kehadiran voice-over-nya telah bersenyawa lebih dari diharapkan.

Satu hal yang patut dipuji adalah bagaimana penggambaran Pete untuk skala air terjun yang megah sekaligus sebagai tujuan puncak melancongnya si kakek. Sebagai penonton, saya kagum dengan adanya fatamorgana kabut yang dibuat sedemikian indah dan apiknya. Tak lupa pula adalah spesies langka yang dibentuk unik dan hobi yang tak biasa, hingga menimbulkan tali pertemanan yang erat di antara mereka semua.

Up memang sekedar pengisi filmografi Pixar untuk lini tahun 2009, tapi makna filmnya jauh dari itu. Up telah terbukti berhasi mensejajarkan diri menjadi salah satu drama kuat di Oscar tahun kemarin. Melalui Up, satu hal yang bisa saya petik adalah masalah kerja keras, tanggung jawab dan pantang menyerah. Terlepas dari kekeliruan di berbagai aspek nalar, Up tetap memberikan panorama hidup yang menjadi bekal budi pekerti bagi kita yang menontonnya.

Jumat, 06 Agustus 2010

Wall-E (2008)

Director : Andrew Stantoun
Voive-over : Tonton saja visualnya
Rate : 4,5/5


Tuhan itu seperti memberi segepok otak cerdas ke atas genteng gedung Pixar. Otak itu tumpah ruah dan melumer ke seluruh kepada para redaktur Pixar. Dan menyeraplah ke dalam kepala mereka tadi... Saya memang lagi berkhayal tentang apa saja isi otak para kru Pixar hingga bisa menghasilkan maha karya setiap tahunnya. Ide segar nan kreatif selalu saja hadir dengan sajian animasi yang tak kalah gemilang. Lelah rasanya jika harus menjunjung Pixar setinggi langit terus-menerus. Mari saya sedikit berkomentar (atau menyanjung) sebuah robot lusuh yang memiliki hati bak malaikat pemberi rejeki.

Betapa tidak, robot yang senantiasa mengurusi segala keperluan manusia harus hidup sendiri akibat suatu bencana yang mengakibatkan Bumi luluh lantak dan tidak terkontrol masa depannya. Tinggal Wall-E, robot yang menjustifikasikan jika hal baik itu masih ada sedikit terpendam di planet ketiga dari Tata Surya ini. Wall-E ternyata kedatangan tamu sebuah robot (digenderkan sebagai robot perempuan) bernama Eve yang diutus mencari zat hijau. Eve got it, came home to the galaxy, and.........Wall-E followed it. Di pesawat turbo layaknya sebuah hotel megah, petualangan seru, lincah, menggilitik, menghibur serta mendidik pun dimulai.

20 menit awal, film ini nyaris tak berdesibel. Pledoi akan membosankannya film ini pupus saat kita diberi sebuah visual yang kendati semrawut tapi sungguh realistis. Animasi kelas satu, Pixar memang tidak main-main untuk 'meng-ultraviolet-kan' robot ini menjadi lebih hidup. Dengan hanya ditemani seekor kecoak (saya asumsikan robot JUGA!!!), perjalanan mengkotakkan sampah menjadi lebih bersahabat. Keheterogenan tema di film ini memang bisa dibagi-bagi. Ada kalanya adventure menggemparkan bagaimana penyelamatan Bumi, cinta bisu dari kedua robot, serta plot kemanusiaan yang sangat kental sekali sepanjang filmnya.

Tema yang menghantam otak kita agar tidak tamak, malas dan asal-asalan terpatri kuat. Pembelajaran yang sangat berkesan, dan akan awet hingga berpuluh-puluh tahun kemudian. Sikap manusia sekarang yang ingin serba praktis dan mudah dikonsumsi memang mencerminkan peradaban yang menyesatkan. Manusia di film ini (dan ditujukan kepada kita) hanya memegang paham individualisme yang mana mau mementingkan urusan pribadi dengan mengesampingkan hal fatal. Setelah menonton film ini, saya yakin Anda juga merasa sedih dengan keadaan tanah gersang tanpa klorofil sedikitpun itu . Untunglah ending film ini memberi pencerahan dan sedikit harapan jika manusia tidak rakus-rakus amat. Diiringi gubahan musik khas Thomas Newman, feature ini tambah asik untuk diikuti. Menyentuh, dan menghanyutkan.

Wall-E berhasil disematkan berbagai list film dunia menjadi yang terbaik. Tidak salah, Wall-E punya segala-galanya. Bahkan mungkin ini film animasi terbaik yang pernah ada (selain Ratatouille). Jadi, kemenangannya atas Best Animated di seri tahunan Oscar sangat beralasan.

Akhir kata, nikmatilah Wall-E sebagaimana Anda menerima peneduhan dari guru biologi akan bahayanya kerakusan akan alam. Nikmatilah Wall-E sebagaimana Anda butuh cerita yang orisinil lagi penyajian yang luar biasa menarik. Dan nikmatilah Wall-E sebagai perpustakaan ilmiah dengan cinta kasih di dalamnya. Nikmatilah Wall-E....

Sabtu, 24 Juli 2010

Finding Nemo (2003)

Director : Andrew Stanton
Voice-over : Albert Brooks, Ellen DeGeneres, Willem Dafoe, Alexander Gould, Geoffry Rush
Rate : 4,5/5


Seekor ikan kecil yang dihidupi oleh seorang single father, memiliki sifat yang pemberani dan serba ingin tahu. Di tengah kekalutan dan traumatik yang didera ayahnya, Nemo -nama ikan tersebut, mencoba untuk sedikit mandiri dan melupakan arti kata keselamatan. Nemo gencar untuk melihat dunia luar (baca : alam selain dunia air) hingga ia ditangkap oleh seseorang dan dijadikan ikan hiasan di sebuah klinik dokter gigi. Ayahnya yang gundah bergegas dengan usaha keras mencari sang anak. Untunglah (atau sialnya?) ia dibantu seorang ikan lokal yang mengidap schizophrenia, penyakit tak lazim yang menyebabkan si penderita sering melupakan hal kecil yang baru saja diingatnya.

Saya akan merentetkan sedemikian rupa apa yang menyebabkan Finding Nemo begitu berkesan di mata saya. Pertama adalah animasinya. Apa yang disajikan oleh para kru Pixar di sini adalah sebuah surga bari para makhluk air. Panorama indah yang terpampang sepanjang 90menitan ini sungguh memanjakan mata. Detail yang diperlihatkan begitu memesona. Tak rugi memang para animatornya menghabiskan beberapa tahun untuk merehab bagaimana kondisi sebuah wahana air berikut isi-isinya. Lihat saja gelembung air dari gerakan ikan, serta hamparan debu pasir yang bergerak mengikuti alur air. Hasil yang jauh dari kesan sederhana. Jika Pixar bisa memadu bulu Sully dengan begitu halus di Monsters, Inc., rasanya Finding Nemo membuktikan jika Pixar adalah studio spesial animasi bermutu.

Kedua, cerita dan pesan moral film ini sendiri. Pencarian seorang anak oleh ayahnya memang sungguh brilian. Di-partner-kan oleh Dori si ikan pelupa, perjalanan sang ayah tadi menjadi semakin seru. Ditambah mereka berdua harus bertemu dengan hiu vegetarian, melewati gerombolan ubur-ubur serta menyelamatkan diri dari serbuan burung kelaparan. Di sisi lain, sang Nemo yang telah terpenjara di sebuah akuarium juga harus bersusah payah untuk melarikan diri. Ditolong oleh beberapa ikan peliharaan lainnya, segala kejadian unik muncul selaras dengan kelucuan dan kesedihan sekaligus. Di sinilah kehebatan penulis naskahnya, kita bisa dibuat terbahak-bahak sejurus dengan tangisan dari adegan yang menyayat hati. Lihat saja opening film ini yang terlalu kelam untuk ukuran film animasi tapi mampu diramu dengan begitu telaten hingga bisa menyisakan sebuah pesan moral.

Ketiga, musik dan atribut lain yang juga menjadi kunci kesuksesan film ini. Thomas Newman sebagai penggubah musiknya memang bukan komposer kemarin sore. Jadi, apa yang ia karyakan lewat film ini bisa menjadi sebuah memori sendiri sekaligus pengiring adegan per adegan tanpa sela. Scoring music-nya membantu menghanyutkan penonton yang telah terbuai dengan visual luar biasa. Pengisi suara film ini juga cukup memberikan nyawa bagi tiap tokoh sehingga pemakaian aktor Oscar Geoffry Rush serta Willem Dafoe tidak terkesan sia-sia.

Finding Nemo, sejak perilisannya memang sudah dikukuhkan sebagai salah satu film yang paling berpengaruh sepanjang jaman. Bukan saja menampilakn pembaharuan untuk sebuah animasi, tetapi juga ada sisipan 'isi' yang memungkinkan penonton dewasa tidak merasa di-anakecil-kan saat menontonnya. Umumnya, itu memang sudah menjadi kiat khusus produk-produk Pixar. Suplemen yang mengisi setiap watak tokoh memang diimplementasikan dengan bijak dan langsung ditujukan untuk kita, para penonton. Hiruk-pikuk kemenangannya di ajang Oscar juga bukan hal yang kebetulan. Piala itu memang pantas dan sangat layak!!!!

Bagi saya pribadi, cerita Nemo yang menekankan akan sosok superhero seorang ayah sedikit membekas di hati. Dengan alasan pengalaman pribadi yang ada sedikit masalah dengan ayah saya. Menonton ini sedikit membukakan pintu hati saya jika seburuk apapun yang ayah saya buat, sejatinya itu hanya ditujukan untuk keselamatan dan kesejahteraan anaknya. Menjengkelkan jika mengingat hal itu, tapi Finding Nemo telah mengahpus semua rasa jengkel tersebut.

Kamis, 17 Juni 2010

Toy Story 3 (2010)

Director : Lee Unkrich
Voice : Tom Hanks, Tim Allen, Joan Cussack, Ned Beatty, Michael Keaton, Don Rickles
Rate : 4,5/5

Jika berbicara soal Pixar, tak mungkin jika tidak harus memuji setinggi langit karyanya. Perjalanan karir studio animasi ini bisa dikatakan selalu meningkat setiap Pixar menelurkan film baru. Dan tak dapat disangkal, palet animasi keluaran Pixar selalu menjadi yang terdepan. Dan tak heran pula jika film-film Pixar selalu menorehkan pendapatan yang selalu sangat memuaskan. Satu hal yang penting, Pixar dengan wibawa memoles animasi tersebut dengan cerita yang menyentuh, mendidik dan menghibur sekaligus. Oleh sebab itu, seluruh film dan karakter Pixar di dalamnya selalu digandrungi orang banyak. Muda dan tua. Bocah, remaja dan dewasa. Kali ini Pixar meneruskan 'barang lama' yang telah bersemayam selama bertahun-tahun. Dengan hanya menambah angka 3 di belakangnya, film ini melebihi kapasitas dari sebuah triloji. Sangat memukau mata dan bersahaja dalam moral tanpa terkesan menggurui.


Ceritanya hanya seputar Woody dan kawan-kawan yang hendak ditinggal Andy karena akan kuliah. Dengan kesalahtingkahan orang rumah, dengan tidak sengaja para mainan itu harus menempuh hidup baru di suatu pemukiman anak-anak kecil bermain. Saat itu, kelompok menjadi 2 kubu. Dan kesalahpahaman memecahkan mereka sehingga mereka harus mengetahui keadaan sebenarnya lewat gulirnya waktu.

Sekelumit ceritera anak-anak biasa yang mungkin tak akan percaya jika menjadi sebuah franchise yang sangat megah. Sejak kemunculan Toy Story pada tahun 1995, dunia diperkenalkan medium animasi yang membahana. Saat itu mereka terperangah dengan tingkah pola para mainan hidup. Tertawa lihat kelucuan mereka. Dan menangis terharu saat mereka mengalami sesuatu. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Empat tahun berikutnya muncul kembali Toy Story 2 yang tak kalah bermutunya. Toy Story 2 seakan hanya menyambungkan tali keberhasilan yang didapat oleh Pixar sejak Toy Story bagian pertama. Dan sejak itu pula, mulai bermunculan film-film jagoan Pixar lainnya. Kumpulan serangga di A Bug's Life, monster unik-mempesona lewat Monsters, Inc., serta pencarian seorang ayah kepada anaknya di laut Atlantik nan indah dalam Finding Nemo. Sejak Finding Nemo, Pixar selalu mengoleksi Oscar lewat animasinya. Mulai dari Finding Nemo sendiri, The Incredibles, Ratatouille, Wall-E, hingga Up. Hanya Cars yang gagal diraih. Nyatanya, pesona Cars juga tak menurun. Lagi, Pixar selalu membubuhi sebuah animasi pendek pengiring setiap feature panjangnya. Yang hebatnya, berkualitas. Di Toy Story 3 ini, mini filmnya berjudul Day & Night yang lucu dan menggugah.

Kembali ke Toy Story 3, lewat film ini Lee Unkrich sebagai pemimpinnya sangat berhasil memanjakan penontonnya dalam banyak sisi. Dari soal animasi tidah usah diragukan lagi. Pe-render-annya sudah sangat halus. Pengimplementasian sangat nyata dan memukau. Walau tidak se-detail Wall-E yang benar-benar menakjubkan, tapi Toy Story 3 lebih kuat dalam karakterisasi. Semua tokoh mainan di sini memiliki 'tugas' yang cukup dan terkesan rapi. Tidak dipaksakan untuk tampil, tetapi setiap muncul selalu menggelitik. Kemunculan tokoh antagonis juga tepat sasaran. Tidak serta merta menampilkan sosok bengis, tetapi dengan sebuah boneka yang sempat diterlantarkan bolehlah sang boneka menjadi seorang (atau sebuah?) jahat. Dalam hal ini, penyuaraan sang aktor sangat membantu sekali. Tom Hanks dan Tim Allen masih sebagai juru kunci menghidupkan sosok Woody dan Buzz. Sama halnya dengan para pengisi suara lainnya. Satu hal lagi, mereka semua dengan sukses melontarkan joke-joke lucu buah pena John Lasseter, Lee Unkrich, dan Andrew Stanton. Para dedengkot Pixar sendiri.

Seperti yang saya katakan, Pixar selalu menyelipkan pesan moral yang mendidik sehingga penonton tidak hanya menerima animasi tok. Kepongahan seorang manusia dalam bentuk mainan ini sangat ditekankan sekali. Bagaimana jika situasi yang mengatur jiwa kita. Apa yang akan kita lakukan? Belum lagi, penuturan sebuah persahabatan yang tersampaikan dengan sangat baik. Menyokong ketegasan hati, hal yang sekecil apapun yang bersifat positif pasti akan menjadi modal penting. Satu lagi, sifat licik dan pendendam sangat tidak dianjurkan dalam hal apapun.

Saya sudah kehabisan kata pujian untuk film ini. Ditambah dengan bantuan 3D, efeknya semakin jitu. Terlepas dari 3D pun, Toy Story 3 adalah sebuah film yang sanggup menyertakan pelajaran penting di dalamnya tanpa harus membaurkan sisi komersialitas dan hiburan. Salah satu film terbaik sepanjang masa. Salah satu film yang akan dikenang setengah abad ke depan. Salah satu film yang akan menjadi bahan diskusi setiap membahas film berkualitas mumpini. Great!