Tampilkan postingan dengan label 80-an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 80-an. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 Desember 2010

Driving Miss Daisy (1989)

Director: Bruce Beresford
Cast: Morgan Freeman, Jessica Tandy, Don Aykroyd
Rate: 4/5


Morgan Freeman, salah satu aktor berwarna yang mampu mempertahankan eksistensinya di belantika perfilman Hollywood kendati usianya tak lagi muda. Dengan kematangan akting serta banyaknya channel yang memungkinkan mendapatkan naskah yang bagus membuat kiprahnya tak patut disepelekan. Kemunculan memukau pertamanya di Street Smart semakin melapangkan perjuangannya hingga menjadi seorang superior Nelson Mandela di tahun 2009 silam lewat biografi Invictus. Kepadanannya dalam berbaur frame dengan para aktor kulit putih pun sering kali menimbulkan kemahfuman duet. Terlebih saat berkolaborasi dengan Tim Robbins di The Shawshank Redemption ataupun Clint Eastwood di berbagai feature. Tempo doeloe, saat Freeman diduetkan dengan Jessica Tandy lewat balada persahabatan di usia renta mengakibatkan banjir piala termasuk dari Golden Globe dan National Board of Review.

Film yang hanya berdurasi 99 menit ini menceritakan tentang seorang wanita tua yang disarankan oleh anaknya untuk ditemani oleh seorang supir untuk berpergian kemana-mana. Semula, masukan Boolie Werthan ditolak mentah-mentah oleh sang ibu, Daisy, namun lambat laun ketika Boolie mengambil keputusan sepihak dan mendatangkan orang yang dimaksud membuat sang ibu tak bisa membantah. Inilah saat Driving Miss Daisy memaparkan sebuah replika kehidupan pertemanan beda warna kulit yang begitu manis. Pertentangan strata serta rasialisme di mana para kulit hitam biasa diperbudakkan terjalin sangat emosionil dan menyiratkan sejuta arti.

Ada satu momen ketika Miss Daisy akan mengunjungi keluarganya yang berulang tahun dengan Hoke Colburn sebagai sopir menyebabkan keduanya saling mengerti posisi dan peran penting satu sama lain. Nyonya Daisy yang awalnya selalu waspada kepada sang sopir menerima timbal balik yang sepadan. Daisy perlahan menemukan titik kebaikan-tulus dari seorang sopir. Begitu pula dengan sang sopir yang sadar dan bisa membaca keadaan nyonya besarnya, apalagi saat Miss Daisy harus mendekam di sebuah panti jompo.

Inilah salah satu contoh film yang patut disebut sebagai era puncak dalam mewakili jiwa pertemanan. Simbolisasi hitam-putih dari karakter utamanya menohok penonton kalau tidak ada jembatan untuk yang namanya persahabatan. Pesan yang terkandung lewat deretan naskahnya dikonotasikan dengan sangat rapih oleh sang sutradara yang begitu cermat dalam menjalin benang kusut menjadi satu paket istimewa untuk penonton yang masih bingung dalam membuktikan suatu pertemanan abadi. Maka tak heran juga jika naskah adaptasi di ajang Oscar sanggup diraihnya bersamaan dengan kemenangan mutlak dari Jessica Tandy di usia ke 80-nya. Walaupun begitu, Bruce Beresford--yang pernah dipuja lewat Tender Mercies--harus sedikit rela saat Oliver Stone 'menodong senapan' sebagai Best Director saat itu.

Tandy tak akan bermain bagus jika lawannya berakting seadaanya. Oleh sebab itu, performa gemilang dari Freeman menyisakan chemistry yang menawan dari keduanya. Tak salah jika banyak yang mengoreksi jika ini salah satu penampilan terbaik Morgan Freeman di dalam sebuah film drama.

Driving Miss Daisy hadir pada saat situasi rasialisme begitu marak pada jamannya. Namun, yang ditegaskan lewat film jauh dari kesan itu meskipun ada satu adegan yang menyiratkan betapa ras sangat mejadi suatu kecaman dunia pada saat itu. Terbilang saat pengeboman gereja yang sering dikunjungi oleh Daisy ataupun cemoohan 2 polisi saat mencegat Daisy dan Hoke melakukan road trip. Nuansa musik Hans Zimmer begitu kental dan medayu-dayu bahkan sukses meleburkan emosi ke tingkat yang lebih mendalam.

Akhir kata, Driving Miss Daisy boleh dikategorikan ke genre drama atau komedi tergantung penonton menyerap kadar film ini ke arah mana. Untuk saya pribadi, ini murni drama walaupun sisi komediknya juga terasa satir. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 20 November 2010

Raging Bull (1980)

Director : Martin Scorsese
Cast : Robert De Niro, Joe Pesci, Cathy Moriarty
Rate : 4,5/5

Atau memang tinju menjadi salah satu olah raga idaman warga Amerika, atau memang dunia tinju memiliki latar belakang yang lebih seru untuk dikupas, saya tidak tau. Soalnya, sampai kapanpun dunia boxing selalu dipandang dengan kalimat terpuji saat tema itu diangkat ke layar lebar. Saya ingat bagaimana Slyvester Stallone menggenggam kepopuleran lewat Rocky-nya, Will Smith yang memperoleh predikat aktor mumpuni lewat Ali-nya, Hilary Swank yang rela remuk-redam di Million Dollar Baby yang akhirnya menganugerahi Oscar keduanya, serta Russell Crowe yang terkatung-katung saat juri Oscar tidak menempatkannya di posisi nominasi aktor terbaik untuk peran menakjubkannya di Cinderella Man. Semua drama pertinjuan tadi memang tidak hanya menyediakan mimpi seorang zero to hero belaka, melainkan lebih kepada penekanan kehidupan pelik mereka baik pengaruh krisis dunia maupun krisis moral dalam diri sendiri.

Kala itu, Martin Scorsese mungkin saja merasa kecewa berat saat tau nasib sial menimpanya kala Raging Bull dipandang sebelah mata di bursa Oscar 1981. Raging Bull yang pada saat itu menjadi salah satu karya terbaik tahun 1980 harus rela mengalah dari karya Robert Redford, Ordinary People. Mungkin banyak yang menyayangkan, karena bagaimanapun juga Scorsese memberikan sebuah perjalanan singkat seorang Jack La Motta dengan sangat brilian. Scorsese menyajikan sebuah kehidupan yang ganas dari seorang Jack. Mulai dari petinju kelas bawah hingga akhirnya pada masa kesusahan mengancingkan baju (baca: overweight).

Scorsese pun dengan tegas, lugas dan frontal dalam mengeksekusi klimaks-klimaks penting dengan teknik slow motion yang sangat menggugah. Saat opening yang memunculkan kredit pemain misalnya ketika Jack melakukan pemanasan di atas ring atau ronde terakhir saat Jack dan lawan seumur hidupnya--Roboinson--berdarah-darah di atas ring. Darah yang muncrat, upper-cut dalam gerak lambat yang menjaga emosi serta membuat penonton menahan napas sejenak. Adegan-adegan baku hantam di atas ring sungguh memukau, dan Scorsese seakan tahu benar sudut-sudut kamera yang memungkinkan penonton terbuai akan adegan tersebut.

Selain menggunakan teknik slo-mo tadi, yang harus ditelaah adalah maksud Scorsese dalam mentransfer film ini ke tata wrna monokrom hitam putih. Yah, memang tidak sepanjang film. Saya mengasumsikannya adalah upaya Scorsese agar 'memperhalus' film ini yang mana memang berisikan banyak adegan kekerasan dan merahnya darah.

Editing yang benar-benar apik dan mengagumkan dari seorang Thelma Schoonmaker memang sukses menyeimbangi kebrutalan 'perang' di atas ring tadi. Dan Robert De Niro menyempurnakan semuanya. Permainan gemilang dan outstanding dari De Niro sangat menunjang keberhasilan penyutradaraan Scorsese sendiri. Serta pengorbanan dan totalitas De Niro dalam menaikkan berat badannya sebanyak 60 pound bukan sekedar keperluan karakter tapi juga sebagai wujud keseriusan De Niro dalam mendalami peran. De Niro bisa membagi ruang untuk adegan tinju dan perseteruan rumah tangga. Tapi di sinilah krisis moral yang mendera seorang Jack La Motta. Kesintingannya di atas ring terbawa hingga ke rumah yang mana sang istri menjadi korban fisiknya. Dan sekali lagi, De Niro dengan segala kecermelangannya dalam bermimik muka patut diacungi banyak jempol. Jadi, Oscar keduanya ini memang tidak bisa dibantah.

Joe Pesci yang kebagian peran sebagai mentor si petinju juga menampilkan akting yang tak kalah bagus. Walau harus puas kinerjanya di sini hanya dihormati sebuah nominasi saja di ajang Academy Award bersama si seksi montok Cathy Moriarty.

My verdict: Raging Bull diklaim sebagai masterpiece dari seorang Marty. Namun saya mencapnya sebagai salah satu biopik terbaik yang pernah ada. Bukan saja memaparkan kesukaran La Motta dalam menjahit benang kehidupannya, tapi juga menguntai sebuah kepekaan insting yang mengharuskan kita agar tidak terlalu pongah atas keberhasilan yang telah kita raih. Raging Bull pun akhirnya berhasil naik ke tahta paling tinggi sebagai karya Martin Scorsese paling sempurna bagi saya setelah menggeser Gangs of New York. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Rabu, 20 Oktober 2010

The Killing Fields (1984)

Director : Rolan Joffe
Cast : Sam Waterston, Haing S. Ngor, John Malkovich, Craig T. Nelson
Rate : 4/5


Sinema lawas Hollywood cenderung diisi dengan kemonotonan tema. Pada masa pertengahan 80an, bioskop hanya diamunisi berbagai film bertopikan perang yang bisa berasal dari World War, otoriter Nazi, serta kawasan Asia. Namun, hal itu ternyata tidak menyurutkan kualitas film perang pada waktu itu di hati kritikus. Sebut saja Platoon yang menjadi primadona di ajang Oscar, paket perang dalam seting Vietnam.

Ada lagi film The Killing Fields, feature di daratan Asia Tenggara yang bercerita tentang persahabatan dua pria beda ras yang harus terpisah karena kondisi pada saat itu yang tidak memungkinkan untuk bersama. Adalah sang reporter yang dibantu oleh pria setempat dalam mendokumentasikan perang atas dasar pekerjaan. Hingga suatu ketika saat sang reporter memperoleh Pulitzer, beliau bersikeras mencari sahabatnya yang sekarang hidup terkatung-katung di tanah Kamboja.


Beberapa hal primer yang saya akan ringkas meliputi sinematografi, akting dan pengeksekusian kreator. Anda boleh saja mengeluh dengan durasi film ini, tapi patut diingat jika hal itu masih bersifat wajar untuk ukuran war movie. Dan yang paling menunjang adalah tampilan sinematografi yang cantik dari kamera DoP yang sanggup mengatur emosi lewat gambar bergerak. Saya jamin, penonton tidak akan cepat gusar sekalipun tangan dan kaki sudah mulai kesemutan. Dari segi akting, penampilan luar biasa juga diperlihatkan oleh Sam Waterson dan Haing S. Ngor. Olah aksi mereka berdua, suasana drama dan aroma kepedihan menjadi lebih hidup dan enak ditonton. Tak salah jika keduanya dijagokan di Akademi kendati hanya Ngor yang menang.


Penguasaan Rollan Joffe sebagai sutradara berjalan dengan lancar. Joffe layaknya Oliver Stone yang berani mengeksekusi setiap adegannya menjadi lebih realistis dan menawan. Adegan tembak, ranjau meledak, kaki buntung, tengkorak hingga ceceran darah yang diramu dengan sangat frontal. Ada beberapa memorable scene di sini. Salah satunya dan yang paling saya suka adalah ketika perang pada pertengahan film, di situ terdapat anak kecil menangis kencang sambil menutup telinga. Hanya manusia berhati batu yang tidak tersentuh dengan scene itu.


Mengejutkan memang jika pertemanan anak Adam harus dijembatani lewat sebuah metamorfora yang menyengsarakan. The Killing Fields memang berhasil diterjemahkan dengan sangat baik dan cocok disematkan sebagai salah satu war movie terbaik yang pernah ada. Yah, generalisasinya memang rumit tapi cukup ampuh membuat penonton puas dan terkagum-kagum berkat yang disajikan sutradaranya. Happy watching!

by : Aditya Saputra

Minggu, 10 Oktober 2010

The Shining (1980)

Director : Stanley Kubrick
Cast : Jack Nicholson, Shelley Duvall, Danny Lloyd
Rate : 4/5


Saya tidak akan membahas siapa itu Stanley Kubrick dan beberapa film hebatnya. Karena jujur saja, film yang saya akan bahas ini satu-satunya karya beliau yang baru saya jamah. Mengingat genre-nya horor, yang notabene genre yang sangat sulit menghipnotis saya. Untuk The Shining sendiri pun saya tidak berharap banyak, walaupun setengah mati penasaran. Dan setelah menontonnya kemarin, awal mula saya sematkan jika The Shining salah satu horror/suspense terbaik yang pernah saya tonton

Berangkat di penerjemahan prosa karya Stephen King, The Shining bercerita tentang seorang lelaki yang mendapat pekerjaan di sebuah hotel sebagai caretaker. Agar mudah, dia mengajak anak bininya untuk menginap bersama. Ada asap ada api. Jack Torrance yang sudah diwaspadai akan sebuah kamar malah nekat bersinggungan dengan 'dunia lain' yang merubah total hidup bahagianya. Sebagai pelengkap, setingnya terjadi di musim salju. Kurang mencekam? Hotel itu sepi!
Betapa mengejutan ketika penonton menemukan sebuah twist yang menimbulkan pertanyaan apa yang telah dialami oleh si tokoh utama.

Pekerjaan berat Stanley Kubrick dalam mengarahkan Jack Nicholson menjadi seorang psikopat dadakan. Untungnya dengan modal cukup di dunia akting, peran Jack Torrance ini dibawakan dengan sangat menawan oleh Nicholson. Perangai seram yang kontan mengusik tempat duduk penonton, cara bicara yang mengerikan. Diumpan dengan cukup baik oleh penampilan Shelley Duvall sebagai sang istri sial. Ekspresi ketakutan yang wah, kendati banyak yang kritikus yang mencemoohnya.


Banyak kelebihan yang diterapkan film ini. Pertama, teknik pengambilan gambar yang menyorot adegan dalam posisi stabil dan satu arah. Steadicam yang dibenah Jean Alcott ternyata sangat ampuh dalam menjaga kehangatan sekaligus ketegangan film. Kedua adalah musik. Sang komposer yang menggubah musik score untuk film bekerja dengan sangat apik. Mampu memborbardir perasaan tegang penonton.


Yang patut dipahami juga ialah bagaimana The Shining memposisikan ketakutan dalam dua hal. Ketakutan lahir dan batin. Dari Jack si psikostik, ia menebar dampat negatif bagi keluarganya. 'kerasukan'-nya ternyata telah mengindahkan makna sebuah keluarga. Pemasukan unsur klenik yang disangkutpautkan ke masalah 'redrum' dan 'murder' juga tidak dipaksakan. Bahkan seingat saya, formula redrum dan murder ini pernah dipakai di salah satu komik detektif Jepang, Kindaichi.


Kesetiaan Kubrick menyadur penuh novel karangan King juga patut diapresiasikan. Interpretasinya akan kamar hotel berhantu sama bagusnya saat saduran novel King lainnya yang bernada sama keluaran 2007, 1408. Keduanya memakai momok hantu dalam tujuan yang berbeda.


The Shining sangat saya rekomendasikan buat sekalian yang haus akan film horor berkualitas. Tidak hanya memperlihatkan hantu sadar kamera, tapi juga sekaligus mengusik kita lebih dalam. Dan, semestinya sineas kita yang doyan membuat film horor patut berbasis akan film ini. Happy watching!

Kamis, 23 September 2010

Dead Poets Society (1989)

Director : Peter Weir
Cast : Robin Williams, Ethan Hawke, Robert Shawn Leonard, Josh Charles
Rate : 4,5/5


Seorang guru yang baik adalah guru yang mampu menghantarkan muridnya ke gerbang kemandirian dan ilmu pengetahuan bukan hanya lewat kurikulum berbasis dari sekolah. Melainkan dengan cara yang relevan dengan usia dan kebebasan yang berhak didapatkan para siswa. Ada banyak cara untuk mencapai hal tersebut, dan kadangkala kekonyolan berpendidikan itu seringkali dicap mencoreng nama sekolah atau bahkan melenceng dari apa yang seharusnya diajarkan. Tapi, dengan segala kewibawaanya, ilmu tak tertulis dari seorang guru bahkan jauh lebih melekat lama di benak kita karena diberikan dengan rasa ikhlas dan semangat pengabdian diri.

Film Dead Poets Society adalah sebuah film yang menceritakan dedikasi seorang guru literatur, John Keating, yang mengajar dengan gayanya sendiri. Di sekolah dengan kukungan bak prisonir, Keating membuka jendela wawasan manusiawi tanpa patokan jabaran buku. Di kelasnya, bahkan seorang yang minder pun berhasil ia luluhkan berkat kecerdasannya melebur kepada murid. 7 siswa angkatan baru menemukan sebuah goa pribadi bertajuk Dead Poet's Society, suatu perkumpulan lama yang sekarang dilarang keras oleh pemimpin sekolah. Di sana, mereka bisa bebas berkreasi, bebas mengungkapkan segala rasa : kekesalan, cinta, harapan bahkan cita-cita. Ternyata, secara pribadi anggota tersebut mempunyai masalah masing-masing yang sangat mendilemakan hati. Hingga pada suatu keadaan yang membuat para anggota harus memilih mana yang harus dikorbankan, meski rasa ikhlas masih membayangi mereka.

Yang spesial dari film ini adalah skrip luar biasa yang berhasil menyajikan sebuah cerita non-klise yang sanggup memborbardir hati penonton. Dialog-dialog berkualitas, humor yang menggelitik serta puisi-puisi indah berhasil dirapatkan dengan sempurna. Pun penuturan dari sutradara Peter Weir yang mengolah naskahnya menjadi sebuah film yang bersarat makna pendidikan, harapan serta konjugasi umat manusia. Peter tahu betul dalam mengangkap angel-angel bagus untuk setiap adegannya. Shoot-shoot indah meski hanya di latar sempit juga semakin memperkaya film ini. Sedangkan untuk pemeran John Keating sendiri, Robin Williams, permainannya di sini sungguh menakjubkan. Dia hanya kebagian beberapa puluh menit, tapi perhatian penonton tak akan pernah lepas dari sosok brilian satu ini. Robin berhasil menunjukkan kepiawaan aktingnya sebagai guru yang bersahaja tapi dalam satu sisi berhasil memberikan gambaran suri tauladan yang menyenangkan. Untuk cast para siswa, mereka masih minim talenta, tapi jelas tidak mengganggu jalan cerita yang ada.

Dead Poets Society sukses menjadi sebuah film yang inspiratif dan edukatif. Society tidak berupaya menjadi sebuah guru yang mengajarkan penonton untuk membenarkan sajian film ini, Society hanya menggambarkan dengan lugasnya sifat otoriter yang mengharuskan bawahannya menuruti segala kehendakanya. Bahkan mereka sendiri tidak tau, apa yang diinginkan si bawahan untuk menggapai kebahagian. Itulah sentilan lain yang sangat menohok.

Sepertinya film ini adalah seni wajib yang harus ditonton para guru sedunia. Bagaimana mengajar tanpa kemonotonan, cara mengajar yang disukai siswa, dan cara belajar yang menimbulkan banya arti. Niscaya, keberanian siswa akan timbul dengan sendirinya dengan mencoba aktif dalam serangkaian kurikulum sekolah.

My verdict : Film ini sangat layak tonton, atau bahkan sangat harus ditonton. Bukan saja dipenuhi dnegan cerita yang apik dan akting yang solid dan para pemainnya, tapi film ini juga bisa menebarkan benih kesopanan diri dalam menempuh ilmu serta bibit untuk berani bertindak dalam kebenaran dan mencapai destinasi dan cita-cita. Terakhir, betapapun guru itu sosok yang menakutkan dalam tampilan luar, percayalah, ada ruang di hatinya yang mencerminkan keteladanan para siswa. Selamat menonton!

Senin, 19 Juli 2010

Amadeus (1984)

Director : Milos Forman
Cast : F. Murray Abraham, Tom Hulce, Jeffrey Jones, Chyntia Nixon
Rate : 4,5/5


Wolfgang Amadeus Mozart, seorang legenda musik yang karyanya telah melanglang buana seantero dunia. Seorang komposer musik yang berdigdaya dengan kejenakaanya. Diperankan oleh Tom Hulce, Amadeus mengulas kehidupan Mozart mulai dari seorang penggubah lagu istana hingga menjadi pelipur dunia musik kontemporer. Kehadiran Mozart ternyata dirasakan risih oleh Antonio Salieri yang sejak awal telah menancapkan bendera dendam dan iri hati kepada Mozart. Segala upaya dilakukan Salieri guna menjatuhkan martabat mozart. Nihil, yang ia dapat malah sebuah tambalan kedengkian yang semakin menebal hingga ujung hidupnya dipenuhi rasa penyesalan tiada tara. Amadeus juga menerangkan lika-liku percintaan Mozart dan juga serentetan bagaimana karyanya lahir di muka bumi ini.

Jika melihat art direction yang ada, saya sebagai penonton amatiran merasa sangat takjub. Seluruh aksen serta palet warna yang menyertai film ini sungguh seperti melihat alam dunia pada tempo itu. Semua secara detail dipoles oleh para kru semaksimal mungkin. Tak luput juga penataan gambar, desain kostum serta pengeditan suara yang semakin mengukuhkan jika Amadeus adalah warisan berharga di era 80-an. Film yang sangat indah dari segi kostum, easy listening dari segi komposing musik, anggun dari segi sinematografi serta memukau di sisi akting. Para pekerja di film ini tidak memakan gaji buta dengan mengoptimalkan keseluruhan yang membuat film ini sangat bernilai sepuluh. Tak pelak pada perhelatan Oscar 1985, Amadeus memborong 8 dari 11 nominasi yang didapat. Itu termasuk untuk Best Make-up dan Best Adapted Screenplay. Peter Shaffer telah juara dalam membina hubungan realistis Mozart akan kehidupannya menjadi mengalun lebih lembut tapi sarat akan emosi dan pendalaman karakter. Milos Forman, orang yang sebelumnya dengan sukses menggarap One Flew Over The Cuckoo's Nest dengan pintar mengolah bahan mentah naskah Shaffer menjadi lebih hidup. Banyak memoribilia yang dikandung dalam banyak adegan di film ini. Pencapaian yang luar biasa.

Tom Hulce yang bertransformasi sebagai Mozart sendiri sudah cukup pas dan hanyut dalam karakternya. Penjiwaan akan beban batin Mozart tersampaikan dengan sangat baik. Tapi, permainan akting F. Murray Abraham begitu menyengat sebagai Salieri. Murray bahkan sanggup menggiring penonton ke tingkat yang lebih relevan kepada tokoh Salieri. Suatu waktu, sifat dengkinya menyeruak tatkala membuat pemirsa seakan ingin membunuhnya kala itu juga. Tapi, di waktu lain Salieri berada di titik terlemah yang kemungkinan semua orang pasti akan merasakannya. Hingga pada puncaknya, saat masa renta Salieri yang telah hangus kejayaannya. Masa merdeka akhirnya lenyap dimakan keiriannya dan menyisakan tulang berbungkus kulit. Untuk pemain lain, saya nilai sudah cukup membantu menopang performa dua aktor utama tadi. Tapi rasanya, film ini memang milik Hulce dan Murray saja.

Jika boleh berumbar tentang betapa pentingnya Mozart bagi dunia universal pada umumnya dan dunia musik khususnya, tokoh satu ini memang telah sumbangsih seluruh isi kepalanya. Tak sedikit musisi dunia yang berkiblat kepada seorang Mozart.

Amadeus merefleksikan sosok protagonis yang berlaku pantang menyerah tapi mudah menoleh ke sana ke mari tanpa ada penyeleksian terhadap dirinya sendiri. Sedangkan Salieri yang kebagian peran jahat mengimplementasikan seseorang yang keji, biadab yang berkombinasi dengan kelembutan yang menusuk. Kejahatan yang sempurna. Akhir kata, betapapun hal negatif yang kita lakukan untuk sebuah kemenangan tak akan berbuah manis. Yang ada membuat beban moril dan psikis menjadi-jadi sampai hidup terkatung-katung menuju ajal.

Kamis, 15 Juli 2010

A Fish Called Wanda (1988)

Director : Charles Crichton
Cast : John Cleese, Jamie Lee Curtis, Kevin Kline, Michael Palin
Rate
: 3,5/5

Selera humor Inggris memang sedikit berbeda dengan gaya melucu orang Amerika. Mereka (orang Ingrris) lebih memanfaatkan dialog dan situasi yang menghibur, bertolak belakang dengan film komedi Hollywood yang terkadang menjurus slapstick dan vulgar. Itulah kenapa, kebanyakan film komedi di ranah negeri Ratu Elizabeth bisa jauh lebih berkualitas. Kala itu, film yang sempat mencengangkan karena berita heboh gara-gara ada yang meninggal karena menontonnya ini, sukses membuat para juri Oscar tidak enggan untuk menjejalkannya ke beberapa nominasi. Hebatnya, Kevin Kline sukses merebut salah satunya di kategori Best Supporting Actor.


Si Wanda yang bersama komplotannya hendak melakukan sebuah perampokan. Ditemani oleh sang pemimpin, orang gagap, dan pacar selingkuhan, Wanda menjadi yang tergagah di antaranya. Mana lagi ketika kejadian yang tak terduga menyebabkan hasil rampokan harus dimonopolir ke tempat yang lebih aman. Guna menghakkan sendiri, Wanda meminta bantuan pengacara dengan berbagai tipu muslihat.

Sinopsis film ini memang sedikit generik dan sering dipakai untuk formula film serupa. Tapi, Anda akan semakin terperangah saat kejutan-kejutan menjumpai di adegan per adegan selanjutnya. Tidak ada yang tau persis mau apa para tokoh ini hendak lakukan. Semua dilihat secara gamblang. Semua itu dilengkapi dengan karakterisasi yang unik, jika tak mau dibilang aneh. Asosiasi dari seorang ikan yang setengah adegan terasa ironis juga sukses diparodikan. Belum lagi saat salah satu tokoh harus melakukan rencana yang tak kadung berhasil. Nah, dari keseluruhan tadi, tone terbahak-bahak tadi sungguh terasa sampai ke dalam urat geli sekalipun. Bilamana terasa ada beberapa adegan konyol, saya berani menjamin kalau hal itu tidak ada efek negatif sama sekali. A Fish Called Wanda memang dari awal sudah berdiri dengan bendera ngakak.

Tidak melulu menyuguhkan kandungan lelucon, film ini juga menyentil apriori manusia dalam dunia perselingkuhan. Segala yang berbau lust, akan menjelma menjadi sosok yang menakutkan dan susah sekali untuk ditutup kebohongannya. Tapi, melihat endingnya yang mengarus pada cinta sejati, sepertinya perselingkuhan itu tidak begitu menyakitkan, meski tidak dibenarkan juga. Satu hal lagi, A Fish Called Wanda tidak membagi porsi untuk antagonis dan protagonis. Ke-heterogen-an sifat seluruh tokohnya membuat anta dan prota tadi menjadi sedikit baur. Memang itulah manusia. Tidak ada satu orangpun yang memiliki sifat malaikat tok. Ada saja hal tercela yang mengalir di darah mereka.

Saya dengan senang hati harus mengapresiasikan kedua jempol tangan saya untuk John Cleese. Cerita cerdas ini berasal dari kepalanya yang naskahnya juga ditulis olehnya berbarengan Charles Crichton. Crichton juga yang mengatur jalannya film menjadi lebih asik. Didukung dengan editing yang sempurna, adegan-adegan mengalir lancar tanpa ada kebosanan sedikitpun. Masuk ke sektor pemainnya, hal itu tidak ada kendala yang berarti. Mulai dari Jamie Lee Curtis, Kevin Kline, John Cleese hingga si gagap Michael Palin berhasi melebur satu sama lain. Kekocakkan mereka menyempurnakan naskah dan pengejewantahan si pembesutnya. Sayangnya, terdapat satu-dua part yang membuat penonton agak kurang nyaman. Untuk ukuran film komedi ini, pesona Wanda 'menjual diri'nya terkesan murahan. Okelah, hal itu masih dimaafkan jika saja tidak terus-terusan mengumbar nafsu si penggoda. Di luar itu semua, A Fish Called Wanda sangat direkomendasikan. Paket lengkap untuk melepas lelah, kantuk dan berbagai keluhan lainnya. Jangan salahkan saya jika Anda tidak berhenti menahan ketawa hanya karena menonton ini!

Sabtu, 12 Juni 2010

Good Morning, Vietnam (1987)

Director : Barry Levinson
Cast : Robin Williams, Forest Whitaker, Tung Thanh Tran, Bruno Kirby, J.T. Walsh
Rate : 3,5/5

Latar belakang perang Vietnam rasanya menjadi bumbu paling sedap untuk perfilman Hollywood periode 80-an. Bagaimana tidak, dengan film berisi seperti Platoon, The Thin Red Line hingga Apocalypse Now rata-rata berkutat seputar Perang Vietnam. Hebatnya, rata-rata film perang seperti itu memiliki kualitas yang mumpuni. Kali ini, Barry Levinson, sosok yang pernah mengharu-biru lewat Rain Man, membuat komedi-drama mengenari perang di salah satu negara Asia Tenggara ini. Dengan CV-nya yang selalu memuaskan semua pihak, Good Morning, Vietnam memberikan penyegaran lain di klasifikasi film perang.

Seorang disc jockey yang lucu, semangat 45 serta tabah, Adrian Cronauer ditugaskan di Saigon guna menghibur para serdadu perang. Kehadiran beliau memang memberikan penceriaan lain, sehingga gelak tawa yang sebelumnya asing di pangkalan, menjadi menu wajib tiap pagi di sana. Jargon Good Morning, Vietnam! menjadi salah satu yang populer di sana. Adrian berteman dengan seorang tentara legam Garlick yang juga humoris dan mendukung seratus persen apa yang Adrian lontarkan lewat joke-nya. Sayangnya, sang tetua tidak memiliki pemikiran yang sama. Karena menurutnya, lelucon konyol dari Cronauer agak melenceng dengan apa yang ia pahami.

Adrian menghiasi hidupnya dengan berteman dengan pemuda lokal yang adiknya tak lain menjadi incaran Adrian. Pertemanan beda ras ini semakin meluber oleh keseharian masyarakat Vietnam yang diajarkan oleh si pemuda. Hingga pada saatnya timbul suatu propaganda yang menyebabkan keduanya harus merenggang sejenak. Sampai pada suatu saat, Adrian dibebastugaskan dan dimandataris oleh sang tetua. Kegigihan dari seorang Adrian serta sokongan dari para tentara akhirnya kembali membakar semangat menggebunya untuk tetap menjadi penghibur di latar perang tersebut.

Ada hal unik, saya harus tiga kali mengulang film ini karena dua kali mengalami kejenuhan hingga harus dilanjutkan di hari esok. Ternyata, kejenuhan yang hinggap di awal, terobati kala menit-menit selanjutnya menampilkan salah satu performa terbaik Willliams. Tak salah jika penampilan kelas beratnya ini dihargai nominasi Oscar pertamanya bahkan memperoleh piala Golden Globe kategori Best Actor in Musical/Comedy. Robin juga menambah koleksi nominasi Oscar-nya lewat Dead Poets Society, The Fisher King dan akhirnya menggondol piala juga lewat Good Will Hunting.

Isu rasialisme yang melekat di film ini juga ditunjang dengan kehebatan sang penulis naskah dan sang sutradara sendiri. Barry Levinson berhasil mengarahkan dan memanfaatkan talenta Robin Williams dengan maksimal. Hingga, pengejewantahannya diisi oleh akting megalomia dari Robin. Forest Whitaker juga begitu. Aktor yang kelak menjadi Idi Amin ini sedikit banyak menelurkan akting bagus pula. Satu hal lagi, sinematografi yang menggugah rasa sukses ditangkap oleh Peter Sova. Panorama kota Saigon di-close dengan pewarnaan yang indah. Lagu-lagu penghantar film inipun bekerja dengan baik dalam menyambung benang adegan-adegannya.

Tidak bisa berkata banyak, film ini telah memberikan semuanya untuk masuk golongan tontonan baik dari segi moral serta secara filmnya sendiri. Jika Anda memang sorang penonton yang lapar akan mutu serta permainan apik aktornya, film ini bisa segera dilahap.

Minggu, 30 Mei 2010

Rain Man (1988)

Director : Barry Levinson
Cast : Dustin Hoffman, Tom Cruise, Valeria Golino, Boniie Hunt
Rate : 4/5

Tahun 1989 lalu di ajang Academy Award, ada sebuah film yang mengundang decak kagum para penonton dan kritikus hingga akhirnya diganjar piala untuk 4 kategori : Best Picture, Best Director, Best Actor dan Best Original Screenplay. Film itu adalah Rain Man.


Apa itu autisme? Austis adalah ketidakmampuan seseorang untuk beradapatasi secara sosial maupun komunikasi secara normal yang membuat seseorang tersebut terisolasi engan keadaan luar pada umumnya dan keluarganya pada khususnya. Mengapa saya membahas salah satu disorder ini, ya karena Rain Man berkutat tak jauh dari sifat autistis ini.

Film ini dimulai dengan tokoh Charlie Babbitt, seorang pengusaha sorum mobil yang sedang dilanda masalah keuangan dengan pihak sponsor yang bekerja sama dengan perusahaannya. Sosok Charlie Babbitt hidup dengan ketidak teraturan yang bahkan kekasihnya pun merasa kalau Charlie sosok yang menyebalkan. Suatu waktu, Charlie dihubungi oleh pengacara keluarganya bahwa ayahnya telah meninggal dunia dan menyuruh Charlie untuk datang. Selain untuk menghadiri pemakaman ayahnya juga ingin menjelaskan tentang harta gono-gini sang ayah.

Singkat cerita, Charlie mendapatkan sebuah mobil yang diidam-idamkannya semenjak kecil. Dan, satu hal yang membuat ia kaget adalah harta lain ayahnya sebesar 3 Milyar dolar jatuh kepada orang yang semula tak dikenalnya : Raymond Babbitt. Merasa sepeti dikadalin, akhirnya Charlie mencari tau sosok Raymond itu yang ternyata membuatnya semakin terkejut. Raymond adalah kakak dari Charlie. Karena memiliki pikirian licik akhirnya Charlie mengajak Raymond keluar dari Wall Brook dengan tujuan agar seluruh warisan yang dilimpahakan kepada Raymond bisa jatuh ke tangan Charlie. Satu hal yang penting, sekalipun Raymond adalah seorang pengidap autisme, tetapi Raymond ini sosok yang sangat pintar dalam berhitung dan lucu secara bersamaan.

Begitulah kira-kira premis yang dituturkan lewat film berjuta makna ini.
Dalam film ini, kita dapat mengetahui betapa pentingnya sebuah keluarga tanpa harus ditimbang melalui harta dan egoisme semata. Seorang Charlie yang awalnya pemberontak dan nyeleneh bahkan sukar menerima kakanya yang 'aneh' akhirnya terenyuh juga dari seluruh rangkaian perjalannya menuju Los Angeles. Oh ya, mereka akhirnya mengambil jalur darat setelah Raymond menjerit ketakutan ketika diajak naik pesawat. Banyak hal lucu dan mengharukan lagi yang dipaparkan film berurasi 2 jam lebih ini. Di antaranya ketika si Charlie bertanya kepada Raymond 'am i using u Raymond?' Dijawab Raymond 'yeah!' padahal sebelumnya Raymond tak pernah menyahut apa yang Charlie katakan. Raymond ini karena memiliki sikap yang impulsif sehingga membuatnya mempunya kegiatan rutin yang harus dikerjakannya tepat waktu. Seperti makan stik ikan 8 buah setiap hari Kamis, tidur selalu jam 11, dan lain-lain.

Sekarang kita lihat seluruh orang yang bertanggung jawab atas keberhasilan film ini. Dustin Hoffman yang berperan sebagai Raymond jelas menunjukkan akting kelas puncak sebagain seorang yang memeiliki keterbelakangan mental. Seluruh gesture dan mimik yang dia peragakan hampir atau bahkan sudah menyerupai seorang 'idiot'. Wajar saja jikalau kerja kerasnya ini dianugrahi patung Oscar serta beberapa piala dari ajang award lainnya. Siapa yang berperan sebagain Charlie? Tom Cruise, ya Tom Cruise. Saya yakin selain bermain di Magnolia dan Born on the Fourth of July Tom pasti bangga karena telah menjadi keluarga besar keluarga Rain Man. Permainannya di sini sangat adorable sekaligus memorable di setiap kesempatan. Mengukuhkan bahwa selain bermuka cakep ia juga piawai dalam urusan akting.

Pengejewantahan Barry Levinson sebagai sutradara di film ini juga patut diacungi banyak jempol. Karena berkat dia, cerita yang semula akan membosankan ini tak disangka akan menjadi salah satu tearjerker terbaik yang pernah dibuat. Bahkan kabarnya, film ini menjadi salah satu yang difavoritkan oleh Lady Di semasa hidupnya. Luar biasa!!!


Lantas, darimana datang judul film ini Rain Man? Rain Man adalah panggilan Charlie kepada Raymond ketika masih balita. Jadi, orang yang tak dikenal Charlie selama ini pernah hidup dengannya sampai ketika kecelakaan tak disengaja terjadi di antara keduanya. Sekali lagi : LUAR BIASA!