Tampilkan postingan dengan label animasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label animasi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Juni 2013

Monsters University (2013)


Director: Dan Scanlon
Voice-over: Billy Crystal, John Goodman, Steve Buscemi, Helen Mirren
Rate: 4,5/5


Kenapa banyak yang menyayangkan Pixar keluar dari zona amannya? Mengapa banyak yang tidak menyukai proyek lanjutan dari film-film sukses Pixar terdahulu? Mengapa Toy Story tidak dipermasalahkan? Sebagai produk tunggal, karya-karya Pixar memang memberikan sesuatu yang renyah dan baru. Bahkan hampir dari seluruh film keluaran Pixar Animation mendapatkan banyak gelar animasi terbaik dari berbagai ajang film. Minimal sebagai nominator. Di mata para fans, franchise Cars semacam tumbal karena keluar dari tujuan utama Pixar yang selalu menyajikan sebuah film yang manis dan mendidik. Padahal, untuk sebuah animasi Cars adalah sesuatu yang baru dan cerdas. Memang tidak sekuat apa yang diberikan Ratatouille atau Wall-E misalnya, tapi dengan ide seperti itu saja Cars sudah mempunyai daya pikat tersendiri. Sekarang Monsters, Inc. yang pada masanya dicap sebagai salah satu pelopor animasi terkini, diberikan prekuel. Secara komersil, Pixar masih menyetir apa yang diinginkan penonton. Monsters University ramai diperbincangkan, baik dengan penilaian yang positif maupun negatif.

Dikarenakan standard yang tinggi inilah mengapa Pixar selalu diklaim yang terdepan, jadi jika ada satu film yang menurut penonton lemah berarti taji Pixar sudah tumpul. Sebagai prekuel, Monsters University memberikan banyak info yang sebelumnya pernah kita temui di Monsters, Inc.. Semua yang tersaji di film tersebut perlahan dijelaskan secara detil di Monsters University. Bicara soal detail, Monsters University mempunyai detil yang diharapkan. Walapun harus saya akui jika cerita yang diangkat memang jauh dari harapan. Premis yang lemah ini mungkin menjadi penyebab mengapa Monsters University dinilai terlampau biasa saja. Tapi, di luar itu film ini memberikan lebih apa yang diinginkan untuk sebuah prekuel. Dari yang sudah-sudah, tema yang diangkat Pixar memang murni untuk menyadarkan apa itu arti persahabatan. Semua filmnya. Di samping itu, Pixar juga tidak enggan menyelipkan isu lain. Bantahan inilah yang membuat saya masih kagum atas kinerja para kru di belakang film ini. Semangat untuk memanjakan penonton bukan hanya lewat tampilan visual berhasil dimanfaatkan dengan baik.

Mematok harga tinggi untuk sebuah film memang sudah melekat di tiap penonton. Ekspektasi inilah yang kadang menjatuhkan atau malah menaikkan penilaian. Monsters University ibarat sebuah umpan sekaligus permulaan baru bagi Pixar untuk membuktikan jika Cars 2 dan Brave kemarin hanyalah produk selingan yang menguntungkan. Film ini memiliki segudang harapan yang berhasil direpresentasikan oleh sang kreator. Humor yang santai, karakteristik yang beraneka ragam bentuk beserta keunikan masing-masing, dan yang terpenting adalah bagaimana sang sutradara dalam menggiring kita untuk iba sekaligus puas dengan para tokohnya.

Layaknya film prekuel, Monsters University menjabarkan dengan sangat lengkap. Bagaimana menjadi monster yang menakutkan bagi anak kecil, dan ini mereka enyam di pendidikan formal tau ubahnya manusia yang bersekolah untuk mencapai tujuan hidupnya. Memperkenalkan kepada penonton pintu yang menjadi lorong antara dunia monster dan manusia serta tabung pendeteksi rasa ketakutan. Dan sekalipun sutradara film ini bukanlah tetua Pixar, namun tetap saja nyawa Pixar melekat kuat di film ini. Betul saja, 2 nama besar Pixar memegang penuh skrip untuk film ini. Kerja keras Pete Doctor dan Andrew Stanton berhasil mencairkan kekikukan tadi menjadi cerita yang luwes dan teknik animasi yang brilian. Dan beruntunglah Pixar memiliki aktor yang bisa menghidupkan tokoh mereka di tiap film yang mereka buat. Billy Crystal dan John Goodman ibarat Tom Hanks dan Tim Allen yang merupakan nyawa untuk kolaborasi kocak ini. Ditambah bantuan Helen Mirren yang berhasil membawa sang dosen ke ranah yang lebih menusuk dan dalam.

Saya belum menemukan kelemahan film ini, semakin saya mencari saya malah semakin suka. Jika penonton sedikit terbuka dan tidak dibayangi jika ini adalah keluaran Pixar, niscaya kepuasan menonton akan lebih dari yang mereka nilai. Untuk film yang dirilis di musim panas, ternyata Monsters University masih bisa bertengger di posisi puncak. Jelas saja, anak-anak akan menyukai film ini, dan orang dewasa akan diajak untuk mengingat sepak terjang Mike dan Sully di film sebelumnya. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Senin, 01 April 2013

The Croods (2013)


Director: Kirk De Micco, Chris Sanders
Voice-over: Nicolas Cage, Emma Stone, Ryan Reynolds, Chaterine Keener, Cloris Lechman, Clark Duke
Rate: 4/5


Jauh sebelum ini, film animasi yang mengutamakan wanita sebagai bintang utamanya hanya dirajai film-film Disney yang bernuansakan percintaan. Princess di film-film semacam Beauty and the Beast, Cinderella, The Snow White, dll. hanya menceritakan keluh kesah mereka dalam mendapatkan cinta sejati. Spirited Away pun pernah memakai peran wanita "perkasa". Dan baru-baru ini Pixar sepertinya tidak enggan dalam mengedepankan wanita dalam film mereka. Brave seperti penyegaran di dunia animasi yang mana selama ini pasti diperan utamai oleh laki-laki. Dengan perolehan Oscar, Brave memang kuat hampir di segala sisi. Kali ini, Dreaworks Animation seakan latah dan mengikuti jejak pesaing utamanya, dan hadirlah The Croods yang juga memfokuskan tokoh wanita. Dan seperti yang kita tau, Dreamworks seperti telah belajar banyak bagaimana membuat film kartun yang mendidik namun juga tidak lepas dari teknik hiburannya. Franchise Shrek dan Madagascar yang makin menggelembungkan saldo dolar mereka dan yang sebentar lagi How To Train Your Dragon juga semakin meraksasa, tak salah Pixar harus tetap waspada kepada mereka.

Senang rasanya menonton animasi yang "tidak aneh", maksudnya karakternya tidak hanya hewan yang bisa berbicara, tapi benar-benar menggunakan figur manusia. Biasanya animasi tidak menitik beratkan pada cerita karena akan berpengaruh banyak pada kuantitas penonton yang dihuni oleh anak-anak dan berlanjut pada perolehan laba. Oleh sebab itu, The Croods pun tidak repot-repot memakai plot yang runyam, yang mereka perlukan hanyalah mempercantik diri secara visual dan lelucon. Cerita hanya seputar pencarian dunia baru yang dijelajahi oleh keluarga Croods yang selama ini hanya tinggal di goa pada malam hari. Bagi mereka, kegelapan adalah malapetaka dan hal-hal baru adalah bencana. Eep, anak tertua keluarga ini merasa tidak betah dan berani untuk keluar dari zona aman. Suatu hari, bertemu dengan pria bernama Guy yang mengajarkan dirinya banyak penemuan baru. Guy pun berupaya untuk mencari jalan keluar agak tidak terperangkap pada tanah yang diinjaknya sekarang. Apalagi disinyalir akan menjadi akhir dunia. Dimulailah perjalanan panjang mereka menyongsong alam yang pada kenyataannya susah untuk ditaklukkan.

Seperti yang diduga sebelumnya, The Croods banyak memiliki modal dalam menjadi animasi sukses. Mulai dari para tokoh yang menggemaskan dan membuat tawa, pesan moral yang dimilikinya juga mudah dicerna anak-anak. Dan lucunya lagi, The Croods mengambil pola road movie yang jarang dipakai oleh animasi-animasi pada umumnya. Sehingga setiap pemberhentian yang mereka lakukan, pasti akan kita temukan petikan-petikan moral yang baru. Yang paling ketara adalah bagaimana membangun sebuah keluarga yang harmonis dan saling menghormati. Dari sang ayah yang ingin menjaga keluarganya dari dunia luar, hingga Sandy yang bisa menghargai teman barunya. Walaupun banyak adegan kurang ajar, dan itu bisa dimaklumi karena film ini juga mengambil seting masa lampau di mana attitude dan kenyataan kadang tidak sinkron sama sekali. Penempatan karakter Guy di tengah-tengah ancaman bagi keluarga ini juga tepat.

Anda pasti tau Ice Age, film yang juga dilatar belakangi dengan masa pra sejarah. Film itu termasuk rusak jika saja tidak ada Scrat di dalamnya. The Croods dengan bebas dan bias bermain di dunia antah-berantah karena sekalipun tidak disebutkan jika mereka ada di bumi. Sehingga yang tampak di layar bisa dibuat sesuka hati para kreator. Dan secara komersialitas, visualisasi film ini sangat bersih dan menarik. Seperti misal penemuan sepatu hingga popcorn dan kembang api yang termasuk jenaka pada levelnya. Itulah mengapa saya katakan film ini akan sangat digemari oleh anak-anak. Dengan berhamburannya sisi positif dari film ini, siapa yang mengisi suara siapa menjadi tidak begitu penting. Aktor-aktor mahal semisal Nicolas Cage, Ryan Reynolds, Catherine Keener, dan Emma Stone untungnya pas dan tidak merusak The Croods yang kepalang bagus ini.

Belum apa-apa, The Croods sudah bisa memecah keheningan bioskop yang akhir-akhir ini tandus karena diisi oleh film-film semenjana semua. Semoga keberuntungan The Croods berlanjut pada dipilihnya sebagai nominator Oscar. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Selasa, 12 Maret 2013

Oz the Great and Powerful (2013)


Director: Sam Raimi
Cast: James Franco, Mila Kunis, Michelle Williams, Rachel Weisz, Zach Braff
Rate: 2,5/5


Tampaknya, selepas dari meraksasakan tokoh komik Spider-Man, Sam Raimi mencoba kembali bekerja keras menelurkan proyek-proyek yang dapat diterima fans maupun penonton awam. Bermula dari menaikkan lagi pamor horor lewat Drag Me To Hell yang menjembatani antara fans dan hater, Raimi mencoba kembali membuka lahan baru yang diharapkan bisa memenuhi kepuasan banyak pihak. Sebelum kita disuguhi Evil Dead yang rencananya akan dibuka layar pada bulan Mei mendatang, Raimi di bawah dukungan Walt Disney, berdongeng bebas dengan efek komputer yang gemuk namun miskin di segi cerita. Mengangkat dunia Oz yang sempat terkenal di eranya, Raimi dengan sentuhan midasnya merakit kembali apa yang pernah ada dengan ramuan-ramuan modern.

Sebagai sebuah filem yang diperuntukkan kepada anak-anak dan keluarga, filem ini bisa dikatakan berhasil memanjakan mereka yang memang mengharapkan paket hiburan di bioskop tanpa memerhatikan keluwesan bercerita. Tentu saja, dengan iming-iming 3D yang benar-benar menyulap layar dengan sangat memesona, Oz the Great and Powerful jelas sangat powerful dalam menciptakan visual dan panorama dunia Oz dan lainnya. Raimi dan seluruh pekerja di sektor ini sudah berhasil memenuhi janji mereka. Berkat bantuan Danny Elfman pun, Oz tampak lebih membahana. Sepanjang filem, music score yang menggema memang sudah pas dalam menyesuaikan berbagai adegan dalam berbagai emosi. Negeri Oz yang sangat berwarna, makhluk-makhluk imajinasi yang tidak akan mungkin kita jumpai di alam nyata, serta tampilan busana-busana mereka yang menyerupai asli, adalah jualan utama filem ini. Meski dari itu, Raimi akhirnya dengan rela menyingkirkan kualitas cerita.

Secara pribadi, filem ini tidak ada kejelasan dalam memberikan alur. Cerita yang mudah ditebak, penokohan yang tidak kuat, dan banyakan lelucon yang gagal yang menyebabkan mengapa saya memberika nilai buruk untuk filem ini. Belum termasuk dengan penampilan aktor-aktor utama yang tidak menaikkan nilai kualitas filem Oz nya sendiri. James Franco seperti yang kehilangan arah mau seperti apa karakternya. Atau bahkan mungkin Raimi sendiri yang kebingungan dalam mengarahkan para aktor mahal ini. Sebagai juru kunci, James Franco tidak memberikan andil yang cukup mapan dalam memerangi apa yang menjadi topik utama di filemnya. Kehadiran Mila Kunis dan Rachel Weisz dalam mengantagoniskan karakter jahatpun tidak mencerminkan apa yang saya harapkan. Beda seperti Charlize Theron yang bisa membuat penonton percaya jika ia adalah evil queen yang tega membunuh orang baik. Apalagi Michelle Williams yang masih ingin terlihat cantik. Oke, perannya di sini memang sebagai puteri jelita, hanya saja niat cantiknya itu malah menutupi perannya di sini sebagai pendamping Oz.

Sekali lagi, Oz adalah produk yang ditujukan langsung untuk konsumen anak-anak ataupun orang dewasa yang menemani anak-anak mereka dalam meramaikan studio bioskop. Dan jelas, anak-anak akan suka dengan wahana yang sedap di mata yang terpampang jelas di filem ini. Hanya saja, Raimi tidak berani melakukan apa yang telah Tim Burton perbuat di Alice in Wonderland yang sukses memarodikan beberapa karakter lucu menjadi sangat menyeramkan. Raimi tidak mengindahkan kesempatan itu dan beliau memilih untuk tetap membuat Oz di garis amannya. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Jumat, 15 Februari 2013

The Lorax (2012)


Director: Chris Renaud
Cast: Danny DeVito, Ed Helms, Zac Efron, Taylor Swift, Betty White
Rate: 3/5


Sebagai permulaan dan sedikit perbandingan, saya sangat suka dengan filem Horton Hears A Who! yang juga diterjemahkan secara kasar dari cerita karangan Dr. Seuss. Cat in the Hat juga termasuk yang lumayan walaupun banyak yang menyayangkan kenapa harus dibuat versi live action. The Lorax, dari sumber inspirasi yang sama, mencoba mengikuti jejak saudaranya dalam menyemarakkan parade animasi sederhana dengan sisipin pesan moral yang bertaji. Sulit diakui, The Lorax malah hadir sangat biasa, jika tak mau dibilang mengecewakan. Sepanjang filem diputar, saya hanya mau mengakui filem ini terasa bagus karena dilapisi oleh titipin pembelajaran yang mampu berbicara banyak. Namun, dari segi animasi, rekayasa komputer, hingga yang paling penting semisal pemilihan musikpun, The Lorax terbilang biasa-biasa saja. Dr. Seuss layaknya Roald Doahl yang mampu berdongeng sekaligus menyisipkan sekelumit fabel yang dikemas dengan lucu, mendidik, dan segar. Nyatanya, memang tak mudah memaksakkan sastra untuk dikembangkan ulang melalui medium filem.

Berawal dari sebuah kota yang hidup tanpa udara bebas. Kesempatan inilah akhirnya dimanfaatkan secara jahat oleh (sebut saja) gubernur kota setempat untuk mengedarkan udara bebas buatan yang mungkin akan memperkaya dirinya sendiri. Kota yang tanpa rerumputan, pohon, maupun miskin reboisasi ini malah lebih mementingkan gaya hidup yang bebas demikian. Namun, ternyata masih ada satu-dua orang yang peduli dengan lingkungan hidup dan mencari kebenaran yang selama ini tersembunyi atau bahkan disembunyikan oleh gubernur. Suatu ketika, seorang anak bertemu dengan lelaki yang ternyata biang keladi atas 'bencana sosial' yang terjadi di kotanya. Flasback pun mengalir dari awal ia dikucilkan oleh keluarga hingga menjadi kaya raya akibat pengembangan bulu ajaib yang berasal dari pohon. Dan muncullah The Lorax sebagai penunggu hutan tersebut. Happy seketika menjadi hancur ke akar-akarnya. Roda kembali berputar memperburuk keadaan si lelaki tersebut.

Yang cerdas dari filem ini adalah cerita sumbangan dari Dr. Seuss. Bagaimana fiksi bisa disatukan dengan pola pikir yang matang akan kepedulian masyarakat kepada lingkungan. Mengindahkan tamak dan rakus yang berakhir pada kerugian orang banyak. Saya sendiri sangat salut bagaimana penyeimbangan ide brilian ini dengan pola hidup manusia sekarang ini. Namun, kesuksesan ceritanya tidak diikuti dengan sisi teknis yang seharusnya bisa lebih dimaksimalkan lagi. Banyak adegan yang terlalu dipaksakan lucu dan malah berakhir tragis garingnya. Ada juga beberapa adegan yang diharapkan bijaksana dan sendu namun jadinya basi dan canggung. Untuk komputerisasinya sendiri tidak ada yang baru. Bahkan animasi semisal Mary & Max saja bisa jauh lebih detil dan transparan. The Lorax yang dibiayai dengan budget yang lumayan seharusnya bisa lebih bereksplorasi dan meningkatkan daya imajinasi sutradaranya untuk mengembangkan dunia The Lorax itu sendiri. Mungkin setengah dari budget-nya dipakai untuk membayar aktor yang jasa suaranya digunakan untuk filem ini.

Jujur, tidak ada pengisi suara karakter yang berhak dilabeli 'memorable'. Semua datar dan tidak ada pengembangan sama sekali. Lagian penonton juga tidak melihat artis idola mereka di depan layar, jadi teritori ini tidak begitu penting. Tapi, satu hal lain yang penting untuk sebuah animasi bisa dikatakan berhasil adalah pemilihan lagunya yang asik. Sayangnya hal itu tidak ada di The Lorax. Sungguh sangat mengecewakan, dan lagi-lagi saya membandingkan filem ini dengan Horton yang begitu enerjik dan atraktif dan sesuai gambaran akan seperti apa filemnya.

Bagaimanapun juga, anak-anak akan tetap menyukai filem penuh warna ini. Bagi penonton dewasa, The Lorax cukup ditonton sekali saja saat menemani anak mereka yang riang menyaksikan para hewan menunjukkan ekspresi terlucu mereka, sembari menjelaskan pelajaran yang amat penting dari filem ini tentang bagaimana menjaga lingkungan dan memelihara hutan kita yang semakin gundul ini. Menyikut perihal banjir yang baru-baru ini melanda Jakarta, mungkin salah satu penyebabnya adalah kurangnya lahan penghijau yang berguna untuk menyerap air hujan dikarenakan tanah hutan sudah dipangkas habis untuk dibuatnya gedung-gedung hiburan. Ini sudah berjalan dari kemarin-kemarin dan dampaknya baru terasa sekarang. Kejelian masyarakatlah yang dibutuhkan sekarang ini untuk selalu mewaspadai apa yang akan terjadi esok jika kita terus bermain-main dengan alam tanpa tanggung jawab. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 26 Januari 2013

Hotel Transylvania (2012)


Director: Genndy Tartakovsky
Voice-over: Adam Sandler, Andy Sambeg, Selena Gomez, Kevin James, David Spade, Steve Buscemi, CeeLo Green
Rate: 3/5


Menggembirakan, para pembuat filem animasi sekarang lebih memunyai visi dan misi yang bisa membangkitkan pesona animated feature di kalangan penonton dewasa. Brave yang sangat dongeng itu tetap dinikmati oleh orang dewasa karena lelucon dan struktur ceritanya yang universal dan down to earth. Frankeweenie lebih sadis lagi karena humornya memang ditujukan langsung ke penonton berumur. Hotel Transylvania sebenarnya berada di tengah-tengah apakah filem ini khusus sebagai tontonan anak-anak atau mungkin bisa memuaskan para penonton dewasa. Masih mengusung tema yang sama paska kesuksesan luar biasa Twilight, Hotel Transylvania bermain aman namun tetap berusaha unik dan didukung oleh cerita yang tidak biasa. Jika dulu manusia yang takut dengan monster semacam frankenstein dan vampir, sekarang kebalikannya. Kaum mereka seperti memisahkan diri dari manusia karena mereka menganggap manusia sebagai pembuat onar dan mengancam kelangsungan hidup mereka.

Dracula hendak merayakan ulang tahun anaknya, Mavis, yang ke-118. Dengan alasan itu, ia akhirnya membangun sebuah hotel yang dikhususkan untuk tempat inap para monster yang juga telah menjadi teman semasa hidupnya. Reuni para monster tersebut ternyata diganggu dengan kedatangan sesosok manusia secara rahasia. Belum lagi Mavis yang masih penasaran dengan kehidupan di luar kastil, tempat selama ini ia singgahi selama 118 tahun tersebut. Kehadiran Jonathan tidak diketahui para tamu undangan lainnya. Hanya Dracula yang bersekongkol dengan Jonathan. Namun, berkat Jonathan lah pesta ulang tahun tersebut menjadi lebih megah dan meriah. Lambat laun, persembunyian itu akhirnya tercium juga dan merubah seluruh pandangan tamu terhadap Dracula.

Sejujurnya, tidak ada yang menarik dari Hotel Transylvania selain ide ceritanya yang lumayan unik. Sayangnya hal itu tidak berkembang. Ide tersebut seakan berjalan di tempat dan sang kreator lebih mementingkan bagaimana meramu humornya agar diterima penonton. Dan itu menyebabkan filem ini cenderung datar dan semakin lemah hingga mendekati akhir. Bahkan, 30 menit awal filem ini sangat biasa jika tidak mau dibilang membosankan. Joke-joke yang dilempar juga hampir kebanyakan yang tidak pas. Yang seru memang penempatan berbagai tokoh sentral yang pas pada tempatnya. Kehadiran mereka jelas membantu filem ini hingga tidak jatuh lebih dalam lagi. Serunya di dunia animasi adalah kita bisa memungkinkan apa yang di dunia nyata tidak mungkin terjadi. Untunglah seperempat akhir filem ini digenjot dengan sangat baik. Semua kebosanan di awal terbayar dengan tuntas. Kendati banyak adegan yang tidak masuk di akal, akan tetapi tetap memberikan angin segar tersendiri. Begini saja, jika saga Twilight saja bisa berbuat sebodoh itu, kenapa sebuah animasi tidak bisa?

Chris Rock pernah berujar, menjadi pengisi suara di filem animasi sangat mudah. Hanya berintonasi sesuai apa yang sutradara perintah dan dia puas, maka kita dibayar. Jadi, seluruh aktor yang menjadi penghembus nyawa untuk karakter di Hotel Transylvania tidak masalah sama sekali. Mereka menghidupkan setiap tokoh dengan pas. Pemilihan lagu-lagu juga sangat menghibur, bagaimana para monster tersebut nge-rap dan bernyanyi lantang. Satu lagi yang penting adalah pembelajaran yang bisa kita serap dari filem ini. Kita seperti diajak menertawakan diri sendiri. Manusia digambarkan sebagai trouble maker, dan memang benar. Sayangnya, dengan point of view yang sangat frontal karena menilik dari para monster, sudut pandang tersebuh serasa invalid dan hambar.

Sungguh sebuah apresiasi yang luar biasa Hotel Transylvania bisa bercokol di deretan nominasi terbaik Golden Globe tahun ini. Dan pilihan yang bijak para juri Oscar tidak menempatkan filem ini di salah satu yang terbaik. Karena sayapun setuju, untuk duduk di kasta setinggi Oscar, Hotel Transylvania terlalu lemah. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, Hotel Transylvania jatuh berkat kekontrasannya dalam memilih plot mana yang hendak didahulukan. Setidaknya, sebagai paket hiburan dan bahan untuk tertawa riang, Hotel Transylvania masih sanggup memuaskan dahaga humor penonton. Namun, sebagai konsumsi publik yang mahal dan sehat, kandungan gizi di tubuh Hotel Transylvania kurang berbobot. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 29 Desember 2012

Frankenweenie (2012)


Director: Tim Burton
Cast: Catherine O'Hara, Martin Short, Martin Landau, Winona Ryder, Robert Capron, Atticus Shaffer
Rate: 3,5/5


Tim Burton, seperti yang kita tau, hampir keseluruhan filemnya mengandung unsur kekelaman baik di sektor cerita maupun karakter yang mengisi proyeknya. Mulai dari Edward Scissorshand, Ed Wood, Big Fish, Alice in Wonderland, hingga animasi semisal Corpse Bride dan yang sekarang, Frankenweenie. Uniknya dan hebatnya, hampir keseluruhan karyanya diterima baik oleh masyarakat baik dari segi financial maupun kritik dari para reviewer. Dengan kesehariannya yang gothic dan sedikit menyeramkan, memang tidak heran jika ia juga menyematkan jiwa quircky ke setiap tokohnya. Tidak perlu heran, karena berkat keanehan yang ia perlihatkan di setiap filmnya memang memancing topik yang akan diperbincangkan lebih jauh. Namun, kali ini tanpa mengajak Johnny Depp dan Helena Bonham-Carter, yang sering muncul di setiap feature-nya, Frankenweenie contoh animasi yang sederhana dan loveable, dan juga sarat makna dan gambar yang menarik.

Diceritakan Bob harus kehilangan anjing kesayangannya yang telah menjadi teman di masa hidupnya. Kepergiannya membuat Bob galau sepanjang hari dan tidak bersemangat mengerjakan apapun, termasuk mengikuti pelajaran di sekolah. Namun, suatu hari gurunya menjelaskan cara untuk menghidupkan kembali makhluk yang sudah mati dengan bantuan listrik. Terperangah dan penasaran dengan science project itu, Bob akhirnya memilih untuk me-reinkarnasi peliharaannya yang sudah tiada. Hiduplah kembali si Sparky. Namun kemunculan walking dog itu mengundang temannya untuk mencoba apa yang telah Bob berhasil lakukan. Teknik listrik tadi disalah gunakan dan membuat daerah kota menjadi gempar tak terkendali. Bob yang merasa bersalah akhirnya mendapat wajangan dari orang tua serta gurunya agak lebih bijaksana dalam memanfaatkan hukum fisika. Lambat laun, permasalahan kembali aman dan Bob kembali merajut hidupnya lagi.

Seperti biasa, Tim Burton sekalipun membuat filem animasi ataupun bertemakan anak-anak pasti tidak membuang sisi dewasanya. Corpse Bride jelas bukan tontonan bocah di bawah umur. Charlie and the Chocolate Factory kendati bernuansa menyenangkan, tapi juga banyak adegan sarkastik yang akan sulit diterima oleh anak-anak. Begitupun dengan Frankenweenie, walaupun sudah bermain aman dengan topik yang sangat kekanakan sekali tapi tetap ujungnya tidak jauh dari apa yang Burton lakukan selama ini. Volume of violence masih dalam kadar yang sukar dicerna oleh anak-anak namun bisa dipastikan orang dewasa akan menyukai filem ini. Cerdasnya, Burton tidak hanya membumbui animasi ini dengan humor kosong, tapi juga menyelipkan genre sci-fi yang jarang ditemui di filem animasi. Jimmy Neutron yang membual mimpi tak berkesudahan terasa berlebihan dan sulit dijangkau oleh anak-anak. Frankeweenie tidak seekstrim itu walaupun proyek mematahi kodrat Tuhan juga tak kalah ambisiusnya.

Satu hal yang bisa menambah nilai di tiap filem Burton adalah musiknya yang heboh, dalam artian yang bersenyawa dengan adegan filemnya sendiri. Jasa Danny Elfman selama ini sangat berperan penting dan sudah tau betul kehendak 'negatif' Burton untuk menyeramkan filem-filemnya, termasuk Frankenweenie. Para aktor 'kurang terkenal' di sini berhasil menyemarakkan dan menghidupkan tokoh mereka masing-masing. Jadi memang, Burton tidak terlalu berpangku tangan dengan para pengisi suaranya karena ia lebih menekankan pada cerita, memantapkan animasi komputernya, serta memfokuskan pada hasil akhir yang tidak lain adalah editing yang sempurna. Berarti, memang sangat wajar jika film ini dijagokan dalam ajang-ajang filem sebagai animasi terbaik.

Ide filem ini langsung dari otak Tim Burton, maka tak heran jika melihat Frankenweenie seperti ini. Maksud saya, dengan gaya parlente gelapnya, Frankenweenie pun jatuhnya di lobang yang sama. Salah satu persembahan yang menarik dari Burton. Pesan moral yang paling membekas adalah dalam penggunapan teknologi dan ilmiah. Jika kita memanfaatkan hukum dasar alam secara adil, influence dan dampak yang dihasilkan pasti sama besarnya. Sebaliknya, jika kita menggunakan hal-hal tersebut untuk hal-hal yang sembarangan, bukan tidak mungkin hal-hal negatif juga akan timbul. Seperti apa yang kita lihat di besutan terbaru Tim Burton ini. Verdict, mungkin ini bukan pilihan utama keluarga untuk menghabiskan waktu senggang mereka dalam menonton filem. Tapi Frankeweenie tidak akan menjebloskan pola pikir anak-anak yang menontonnya ke arah yang menyimpang. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Minggu, 11 November 2012

Wreck-It Ralph (2012)



Director: Rich Moore
Cast: John C. Reilly, Sarah Silverman, Jack McBrayer, Jane Lynch, Alan Tudyk
Rate: 3,5/5


Tampaknya dunia animasi mempermudah sineas untuk mengeksplorasi apa yang ada di benaknya. Imajinasi liar yang bersarang di kepala lantas distimulasi berkat bantuan dunia digital jaman sekarang. Semua diperalat oleh teknologi terkini yang akhirnya dipoles sedemikian rupa menjadi sebuah animated feature film. Lihat saja studio-studio animasi raksasa yang sekarang memaksa kita percaya jika film-film kartun mereka memang hidup layaknya manusia normal. Tidak masalah, toh penonton dimanjakan berkat visual cantik dan menarik lewat CGI tersebut. Dunia sempat dibuat terperangah dengan adanya mainan yang mampu berjalan dan bertengkar seperti halnya manusia. Pixar membuat suatu hal yang tak mungkin menjadi masuk akal sekaligus lucu dan mengharukan. Setelah itu, barulah dunia animasi semakin merajalela. Dunia robot, kaum Who yang hidup di bulir bunga, tikus pandai masak, kampung otomotif, serta hewan purbakala yang sibuk mengungsi.

Wreck-It Ralph hadir bukan hanya sebagai pelengkap perkartunan yang ada, tapi lebih kepada tribute dan nostalgia kita terhadap game arcade atau yang lebih dikenal sebagai ding-dong. Itulah yang unik, penonton diajak ke dunia ding-dong lebih dalam lagi. Kehidupan dan latar belakang serta problema karakter ding-dong menjadi pusat dan inti dari film ini. Tokoh sentral adalah Ralph si penghancur dari game Felix the Fix, yang merasa dirinya lelah menjadi orang jahat dan bersikukuh berubah menjadi yang lebih baik. Semua ditenggarai oleh tetua wahana yang merasa Ralph tidak pantas gabung dengan mereka dan membuat kecemburuan sosial Ralph semakin meradang. Bertaruh mendapatkan medali, Ralph bertemu dengan Vanellope, tokoh dari Sugar Rush yang ternyata mengalami malfungsi dan akan dimatikan karakternya. Ternyata, ada udang dibalik batu. Sosok tokoh jahat lainnya yang ternyata glitch juga mencoba memanipulasi program Vanellope. Keadaan semakin runyam saat monster jahat mulai mengganggu ketentraman jagad raya per-ding-dongan. Dibantu Felix dan Calhoun, Ralph berusaha menyelamatkan nasib Vanellope sekaligus game Felix the Fix itu sendiri.

Yang menyenangkan saat menonton film ini adalah penonton tidak hanya diberi kelegaan saat menikmati audio visual dan gimmick lainnya (baca: 3D), tapi juga diberi pelajaran lewat pesan moralnya. Kendati ceritanya tipikal film konsumsi anak-anak kebanyakan, namun film ini juga tidak merasa sok dewasa. Humornya masih dalam kadar yang bisa dicerna anak-anak. Dari awal hingga akhir, cerita memang bergulir tanpa jeda dan adegan kosong. Wreck-It Ralph memang tidak sesempurna itu, adegan Ralph yang mengajari Vanellope serta tokoh antagonis yang manipulatif banyak kita temukan di film lain. Hanya saja, Wreck-It Ralph sangat lugas dalam penyampaian point of view-nya. Hal-hal umum soal persahabatan, kesenjangan sosial, serta ketamakan akan sesuatu juga disampaikan dengan sangat jenaka. Rich Moore berhasil membuat film yang whole package-nya mampu menyenangkan segala pihak.

Pengisi suara semacam John C. Reilly, Sarah Silverman (main bagus di Take This Waltz), dan Jane Lynch memberikan nyawa kepada tokoh-tokoh di film ini. Kombinasi pemilihan aktor yang sangat pas. Terlebih lagi Wreck-It Ralph dibantu dengan lagu-lagu pengisi film yang amat segar. Sumbangan AKB48, Owl City, dan lagu lamanya Rihanna mampu menyemangati film ini lebih jauh lagi. Semuanya bersinyalir dan melengkapi hiruk pikuk dunia game arcade yang saling menyatu lewat aliran paralel listrik. Kita tak akan pernah tau kalau arcade universe bisa saling terhubung dan berkesinambung menjadi sebuah dunia yang ramai, warna-warni, dan penuh problematika sebelum menonton film ini.

Meskipun Pixar seolah menaikkan kembali pamor Disney yang sempat meredup, tapi Disney kembali maju dengan menghasilkan film-film yang berkualitas Oscar. Hadirnya Tangled dan Wreck-It Ralph ini sebagai bukti jika Disney masih fokus dengan tujuan utamanya dalam hal memberikan produk yang bermutu tinggi tapi bisa dinikmati oleh segala jenis usia. Bahkan sekarang Pixar yang seperti sedang merangkak dan terseok-seok akibat Cars 2 dan Brave mereka yang dinilai biasa-biasa saja. Pertarungan antar PH semakin sengit, apalagi Dreamworks Animation semakin dewasa dalam melempar produknya. Belum lagi desakan dari Blue Sky, dan lain-lain. Wreck-It Ralph pada akhirnya tidak akan menjadi sesuatu yang klasik laiknya filmografi Disney terdahulu, tapi film ini jelas memiliki taring yang harap menjadi ancaman bagi film animasi lainnya dalam hal perebutan piala Oscar tahun depan. Happy watching!

by: Aditya Saputra


post.script: Ada short movie sebelum Wreck-It Ralph dimulai, yaitu Paperman. Bercerita tentang pertemuan singkat tak disengaja antara seorang cowok dan cewek di sebuah stasiun. Storytelling-nya sangat menarik, bahkan romantis. Animasinya pun sangat menawan dan lucu. Banyak hal yang terkandung dari animasi berdurasi kurang dari 5 menit ini. Black and white mode, silent mode, but it's astonishing.

Jumat, 24 Agustus 2012

Ice Age: Continental Drift (2012)



Director: Steve Martino & Mike Thurmeier
Cast: Ray Romano, John Leguizamo, Denis Leary, Queen Latifah, Nick Frost, Sean William Scott, Peter Dinklage, Azis Ansari, Jennifer Lopez, Nicki Minaj
Rate: 3/5


Mayoritas bilang film ini seharusnya tidak perlu dibuat jika hanya ingin mengeruk laba semata. Mayoritas juga bilang film ini sama bodohnya dengan film dahulunya. Mulai dari humornya yang dangkal hingga cerita yang itu-itu saja menjadi penyebab buruknya penilaian mayoritas ke film ini. Namun hanya saja, secara pribadi film ini justru sarat akan hiburannya. Ice Age pertama yang sempat menggoncang box office mingguan bahkan mendarat di nominasi Oscar, filem keduanya berjaya di tangga pencapaian untung, ketiga yang walaupun sukses tapi menjadi sasaran empuk cacian para kritikus. Memang, seri ini seperti kaleng kosong. Tidak ada isi namun jika kita ketuk akan menghasilkan suara yang besar. Sebagai minoritas yang menyukai film ini, tak lantas membuat saya jadi mengelu-elukan kualitas standardnya ini.

Geng Manny, Sid, dan Diego lagi-lagi harus terpisah dengan komunitasnya. Naasnya, di tengah lautan mereka bertemu komplotan bajak laut pimpinan Capt. Gutt yang mencoba menguasai daerah perairan. Sid yang diberi 'hadiah' oleh keluarga untuk mengasuh neneknya dan Diego yang berkenalan dengan singa cantik, menjadi bumbu menarik lainnya untuk film ini. Belum lagi anak Manny dan Ellie yang mulai beranjak dewasa dan mengalami problem cinta dengan spesiesnya. Dan masalah itu pula yang menjadi cikal bakal kicruhnya ketentraman keluarga mammoth ini.

Plotnya masih sama, lebih menyenangkan penonton di bawah umur daripada menambah kadar bobot agar enak ditonton kaum dewasa. Tapi tak apa, Ice Age masih mempunyai segudang kelucuan yang bisa meregangkan otot bagi siapa saja yang menontonnya. Selain humornya yang universal, gambarnya juga sangat halus. Blue Sky memang telah belajar banyak dari sejak pertama mereka melempar Ice Age tahun 2001 silam. Kinerja sineas disain grafisnya semakin bagus. Tapi harus diakui, untuk tampilan airnya, masih kalah bersih dan halus jika dibandingkan dengan Finding Nemo silam. Kendati begitu, franchise Ice Age ini menang berkat adanya karakter sampingan yang selalu mencuri perhatian. Di sini, Scrat masih bersusah payah mencari dan menyelamatkan buah kenari dambaannya. Lucunya, ada satu adegan bagaimana muka bumi darat dan lautan ini terbentuk oleh ulah konyol si Scrat.

Musik film ini dewanya, diisi oleh beberapa penyanyi di sektor sulih suaranya, Jennifer Lopez dan Nicki Minaj, lagu We Are Family mungkin salah satu yang terbaik keluaran tahun ini. Denis Leary, John Leguizimo, dan Ray Romano seperti biasa menghidupkan tokoh dengan penuh jiwa. Terutama Sid yang semakin ceriwis, apalagi ditambah dengan karakter sang nenek. Seperti saya sebutkan di atas jika Ice Age 4 ini memang banyak kejutan yang tersembunyi di dalamnya. Kemunculan para bintang bajak laut juga cukup mengundang perhatian. Battle-battle di atas kapal es menjadi poin penting buat film ini. Intinya, penambahan beberapa karakter untuk film ini boleh dibilang tidak sia-sia. Sekecil apapun perannya, tetap menampilkan kelucuan mereka.

Namun, saya rasa saga ini tidak usah memanjangkan tali kelambu saja. Keenam, ketujuh, dan seterusnya itu semoga tidak akan pernah ada. Apalagi sampai menfilemkan Scrat secara personal. Biarlah Ice Age menjadi salah satu animasi yang memanjakan penontonnya bukan saja dengan tampilan luarnya, tapi juga dengan pesan moral yang tersirat di dalamnya. Bagaimana persahabatan dan cinta kasih keluarga adalah nilai mutlak untuk menyelaraskan diri kita sendiri dalam hidup. Jangan terlalu egois dengan pendirian, karena kadang keegoisan itulah sumber dari rasa penyesalan. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Minggu, 24 Juni 2012

Brave (2012)


Director: Mark Andrews and Brenda Chapman
Voice-over: Kelly McDonald, Emma Thompson, Billy Connolly, Julie Walters
Rate: 4/5


Brave, hanya berkutat pada teritori yang sangat sering disinggung oleh film-film tentang keluarga lainnya. Mengambil benang merah koneksi batin antara anak dan orang tua. Tidak ada yang spesial dari premis tersebut, sampai akhirnya saya buktikan sendiri menyaksikan film berdurasi 100 menit-an ini. Satu hal yang menjadi acuan adalah, Brave merupakan hasil beranak pinak dari rumah produksi animasi terbesar di dunia, Pixar Animation Studio. PH yang telah menelurkan banyak film brilian yang tak jarang menghantarkan ke podium Oscar serta beberapa tingkat festival lainnya. Selain itu? Apa yang menarik dari Brave jika prosa penceriteraannya terbilang sangat klise?

Merida, terlahir dari keluarga yang memiliki silsilah kerajaan yang mengesankan. Hidup di alam Skotlandia yang masih memegang unsur kaum viking, Merida terbentuk oleh kebebasan yang bertanggung jawab. Yang itu pula menjadi masalah bagi ibunya. Merida remaja mau tak mau dipaksa ibunya untuk menjadi puteri kerajaan yang berujung pada penjodohan ke kerajaan-kerajaan tetangga. Sayembara sepihak itu ternyata membuahkan hasil yang tidak akan terpikirkan sebelumnya. Keegoisan sang ibu dibalas oleh keegoisan sang anak. Bibit amarah yang ditanam, tumbuh menjadi mimpi buruk yang akan disesali oleh keduanya, seumur hidup.

Yang tak lazim dari kebiasaan Pixar adalah mempersembahkan sebuah film dengan wanita sebagai tokoh utamanya. Bahkan Merida dikisahkan sangat perkasa dengan bekal bakat memanah yang luar biasa memukau dan penyebab utama runtuhnya rasa saling kasih antara ia dan ibunya. Lantas, mengesampingkan storytelling yang generik tadi, film bergulir dengan sangat positif hingga akhir filmnya. Dengan membawa pernak-pernik sihir (yang sangat jarang dipakai Pixar), Brave memiliki segala unsur yang patut dinilai dengan poin terbaiknya.

Mengetahui siapa si kreator film ini memang sangat riskan menelaah hasil akhir filmnya sendiri. Pengalaman yang minim sedikit memberikan skeptis buruk bagaimana filmnya akan memenangi hati segala usia laiknya film-film Pixar sebelumnya. Nyatanya, keamatiran mereka membidani sebuah film panjang malah berdampak baik. Brave terlihat sekali keorisinalitasannya pada berbagai kesempatan. Penonton tidak perlu meragukan lagi betapa indahnya film ini melaju di layar lebar. Sangat cantik, sempurna, dan tata visual yang menggugah mata. Dan juga akan terpuaskan dengan pemilihan musik yang sama memesonanya. Satu hal lagi ialah pengisian suara yang terbilang sempurna. Terutama untuk aksen Scottish yang begitu kental.

Menyinggung Madagascar 3 yang baru-baru ini rilis, sedikit menggelitik saya untuk membandingkan film yang sama-sama berformat animasi 3D ini. Brave tidak sememukau sekumpulan hewan itu dalam memberikan suntikan guyonan-guyonan, tapi Brave memiliki semangat tinggi dalam menyampaikan pesan moral yang tidak tertuang di film animasi kebanyakan. Saya berani bertaruh, ending film ini adalah bagian paling emosional. Bukan berarti adegan lain lempeng-lempeng saja, hanya saja rasa penyesalan memang terlihat jelas di bagian ini. Dan inilah gagasan utama yang ingin dibangun Brave sedari awal.

Mudah-mudahan Brave berkesempatan menaikan kembali derajat Pixar di ajang Oscar. Jika menang adalah bonusnya, setidaknya ini bisa dijadikan sedikit tebusan yang bernilai untuk semua pengagum karya-karya Pixar. Penuturan klasik yang diemban Brave memang memiliki tanggung jawab yang sungguh berat. Brave tidak semewah Wall-E, tidak sekreatif Ratatouille, tidak semenyentuh Toy Story, tidak selucu Finding Nemo, tapi patut dipercaya, jika Brave memiliki tingkat orisinalitas yang sepadan. Happy watching!

by: Aditya Saputra

PS: La luna adalah film pendek yang muncul sebelum Brave dimulai. Bercerita tentang bagaimana tiga orang pelaut yang bertugas menggantikan posisi bulan yang membelah bumi menjadi dua bagian waktu, siang dan malam. When the moon is off, that's the chance when you can stargaze spectacularly!

Sabtu, 09 Juni 2012

Puss in Boots (2011)


Director: Chris Miller
Cast: Antonio Banderas, Salma Hayek, Zach Galifianakis, Amy Sedaris, Billy Bob Thorton, Guillermo del Toro
Rate: 3/5


Sebuah film laris manis bahkan menang perhargaan bergensi, dibuatlah film keduanya yang jadi animasi terlaris saat itu, iming-iming duit akhirnya muncul yang ketiga yang ternyata payah dalam penceritaan, tak lama yang keempat lanjut rilis dan membenamkan kesaktian Shrek seutuhnya. Produser dan rumah produksi tak mau tinggal diam, tokoh yang dianggap berpotensi bisa dipanjang-panjangkan ceritanya akhirnya dikumandangkan akan mempunyai film sendiri. Spin-off akhirnya tak terbantahkan, dan terpilihlah di kucing Spanyol yang jadi primadona. Sama-sama berwarna oranye, Puss sama sekali berbeda dengan Garfield, kucing pemalas penikmat lasagna itu. Puss adalah kucing heroik yang sekali-kali bisa melemahkan musuhnya dengan tatapan sendunya. Dengan simbolisasi sebuah topi dan pedang anggar, Puss sekali lagi menancapkan cakarnya di belantika perfilman dunia, dengan hasil laba yang memuaskan.

Storytelling film ini dari awalnya sudah bagus. Diceritakan kehidupan Puss waktu kecil hingga ia akhirnya bisa mendapat gelar tambahan 'in Boots' di belakang namanya. Mendapati jika ia pernah berekan dengan Humpty Dumpty yang culas dan seorang pemimpi sejati, kehidupan baik-baiknya membentuk metafora yang tidak menguntungkan baginya. Dalam perjalanan mencari kacang ajaib yang diyakini bisa tumbuh tinggi dan sekaligus sebagai tangga menuju istana kediaman angsa raksasa. Sayangnya mereka harus bersusah payah melawan Jack and Jill sama biadabnya. Bertemu dengan kucing wanita yang akhirnya kita tau jika mereka akan jatuh cinta, perjalanan petualangan mereka diiringi dengan kondisi pedesaan yang juga dirundung masalah.

Antonio Banderas adalah Puss in Boots dalam bentuk suara. Memang kekuatan yang paling sakti adalah sumbangan pita suara dari aktor tersebut. Puss begitu ikonik juga akibat dari pengkarakterannya yang lucu nan menggemaskan namun dalam sekejab bisa mematikan pihak lawan. Tentu saja banyak karakter baru serta perwatakan antagonis yang diharapkan bisa mensejajarkan filmnya ke ranah yang lebih bermutu. Bantuan dari Salma Hayek, si super Galifianakis, Thorton serta sekelibat del Toro mengakibatkan film ini jadi sedikit lebih megah. Namun sayangnya itu saja tidak cukup. Saya pribadi menilai, cerita awal film ini yang semula sudah terbangun dengan baik seakan dilemparkan begitu saja ke lumpur yang membuat kesan wah tadi hilang seketika. Kendati masih ada unsur klasik dengan pemakaian wahana dari dongeng dahulu kala, tapi tetap saja tidak begitu pintar menyelamatkan film ini di penceriteraannya.

Untunglah, Puss in Boots lahir dari perut Dreamworks yang telah makan asam garam dunia per-animasi-an. Tekstur tubuh Puss serta karakter lainnya terlihat sangat halus dan rapih. Dialog-dialog menyentil dan joke yang terlempar cukup ampuh meningkatkan beberapa kadar nilai untuk film ini. Sayangnya jika harus membandingkan dengan film edaran tahun yang sama, saya masih menilai Cars 2 masih lebih unggul dari beberapa sektor. Tidak bermaksud objektif, Puss seakan melupakan sisi 'hiburan murni' yang ditujukan kepada anak-anak. Dialog-dialog tadi di beberapa kesempatan seperti terlalu berat untuk dimakan mentah-mentah oleh penonton usia dini. Namun, pekerja di balik layarnya tentu saja tutup mata dan telinga mengingat film ini berujung pada nominasi Oscar dan raupan dolar yang fantastis.

Mengapa produser lebih memilih sosok kucing ketimbang seekor keledai untuk dipertontonkan utuh di depan layar. Karena kucing lebih dekat dengan keseharian manusia dan tentu saja kebanyakan kisah kucing lebih memilukan dari keledai. Mungkin saja, beberapa tahun kemudian Donkey atau bahkan Putri Fiona bisa disejajarkan dengan Puss ini. Kalau sudah begini, Puss in Boots cukup pantas ditorekan sebagai film animasi yang menghibur. Tidak kurang dan tidak lebih. Kuantitas penjualan tiket boleh berkoar-koar, tapi masalah kualitas, tetap mind-set penonton yang menilai. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Jumat, 08 Juni 2012

Madagascar 3: Europe's Most Wanted


Director: Eric Darnell, Tom McGrath, Conrad Vernon
Cast: Ben Stiller, Chris Rock, Jada Pinkett-Smith, David Schwimmer, Jessica Chastain, Frances McDormand, Sacha Baron Cohen
Rate: 4/5


Saya sungguh-sungguh memberi poin 4 bintang untuk film terbaru Madagascar ini. Bukan karena saya mencintai franchise ini, malah saya tidak begitu suka dengan seri keduanya, tapi lebih karena film ini seakan bisa memperbaiki diri dari kekecewaan penonton akan film sebelumnya. Para sineasnya belajar dari pengalaman jika film animasi yang berkualitas itu bukan saja harus dijejali dengan tampilan visual yang bagus namun juga ada bantuan dari sektor-sektor lainnya pula. Di episode kali ini, dosa itu seakan dimengerti oleh mereka dan jadilah Madagascar 3 menjadi sebuah produk yang selain menghibur juga mengandung kesan filosofi dan amanat yang tersampaikan dengan amat baik.

Alex, Marty, Gloria, dan Melman, beserta komplotan lainnya berencana untuk kembali ke kandang mereka, kebun binatang di New York. Tempat yang telah membuta mereka begitu terkenal, hingga saat hilangpun mereka seakan menjadi buruan pertama para pecinta binatang. Di tengah jalan, akibat pelarian dari opsir wanita yang terobsesi ingin menangkap hewan incarannya, rombongan 'Madagascar' ini bertemu dengan grup sirkus tua yang ternyata dalam kondisi yang teramat sangat down. Popularitas yang dulu sempat tersemat pada mereka perlahan rontok dan sekarang yang tersisa hanya sekumpulan binatang-binatang berpernampilan unik tanpa ada bakat yang bisa ditunjukan ke khalayk ramai. Kehadiran Alex dkk. ternyata berdampak bagus bagi kedua belah pihak.

Saat prolog film ini mulaipun, film ini sudah berbicara banyak. Sampai akhirnya sepanjang film, taring film ini semakin meruncing dan diakhiri dengan epilog yang sangat manis. Joke-joke segar membahana, kilauan warna-warna neon yang hampir mengindahi keseluruhan film, tamiplan karakter yang makin jenaka, sampai petuah singkat akna betapa pentingnya kepercayaan diri serta kekuatan untuk lari dari ketakutan masa lalu. Kekaguman saya tidak sampai di situ, satu poin sakral yang harus benar-benar diacungi jempol adalah gimmick 3D-nya. Luar biasa mengagumkan, bahkan saya melabeli 3D ini sebagai pengalaman terbaik yang pernah saya rasakan. Bagian ini benar-benar dimaksimalkan dengan sempurna oleh pekerja seninya. Dan musik film ini adalah pelengkap yang sempurna. Beberapa remix yang bisa membuat kaki bergoyang, pengadopsian lagu Firework-nya Katy Perry yang menjadi lebih atraktif. Seru!

Cerita film ini memang terdengan kekanak-kanakan sekali. Namun dengan begitu, keseimbangan antara cerita dan lelucon menggigit itulah yang membuat film ini asupan yang bermanfaat baik baik penonton cilik maupun yang dewasa sekalipun. Apalagi pesan moral di film ini mudah diikuti. Adegan-adegan konyol nan kocak mengisi layar dari awal hingga akhir. Penambahan karakter yang pas pada tempatnya. Saya angkat topi untuk penciptaan tokoh Dubois yang sanggup mengalahi ke-imortal-an nenek sakti di dua film sebelumnya. Kisah cinta yang walaupun cemen tapi tetap lucuh dan berada dalam jalur aman untuk ditonton anak-anak. Yah, intinya film ini seakan menjawab dan menyirami hasrat penonton yang mengharapkan tontonan yang murni menghibur dan tertawa lepas.
 
Pencitraan yang telah dibentuk dalam film Madagascar adalah persahabatan yang bisa mengikat perbedaan, apapun itu. Beda tingkatan pada rantai makanan ternyata tidak menyurutkan kesan heroik antar mereka sendiri. Menggemaskan dan lucu, malah itu yang terbentuk dari parodi menyenangkan ini. Bukankah tujuan utama dirilisnya sebuah film di musim panas adalah untuk menghibur, bukan? Soal nantinya berkualitas atau tidak, anggaplah itu sebuah bonus. Kalau boleh jujur, saya masih menunggu jikalau beberapa tahun ke depan, bakal ada seri keempatnya. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 02 Juni 2012

Snow White and the Huntsman (2012)


Director: Rupert Sanders
Cast: Kristen Stewart, Charlize Theron, Chris Hermsworth, Sam Claflin, Sam Spruell, Ian McShane
Rate: 3,5/5


Baru bulan kemarin kita melihat pengimplementasian yang berbeda perihal putri salju dari gambaran seorang Tarsem Singh dengan Lily Collins dan Julia Roberts sebagai wayangnya. Dan awal bulan ini kita kembali diberikan penjewantahan yang bertolak belakang dari tangan seorang Rupert Sanders, di karya perdananya ini, dengan menggandeng si Bella Swan dari saga Twilight, Kristen Stewart, dan si jelita Charlize Theron. Kalau boleh memilih dan andai Charlize Theron masih muda, mungkin ada baiknya ia yang memerankan seorang Snow White. Perawakannya yang tidak menua dari tahun ke tahun serta sisi melankolisnya sungguh tepat jika dipakaikan baju seorang putri kerajaan. Namun kenyataannya, sisi judes dan mata sinisnyalah yang menjadi alasan kuat jika ia lebih cocok menjadi seorang ratu kejahatan. Dan yah, dengan aroma kekelaman serta ada bumbu epik pula, kali ini dongeng klasik hasil buah pena dari Grimm bersaudara dibawa lebih seru dan tidak cheesy layaknya Mirror Mirror. Walaupun saya juga suka dengan Mirror Mirror.

Saya tidak begitu tau hal mendasar yang memengaruhi sang sutradara untuk membuat tampilan film ini menjadi begitu berbeda. Tapi percaya atau tidak, dengan pesona yang lebih kelam beginilah yang menjadi poin plus untuk filmnya sendiri. Mengacuhkan jalur aman dan menggiring penonton merasuki dunia antah berantah seorang putri salju, sontak dengan visual yang memanjakan mata, membuat gelaran ini semakin enak untuk dinikmati. Ceritanya seperti yang kita ketahui berpuluh-puluh tahun sebelum film ada sekalipun, putri kerajaan yang ditinggal mati ayah ibunya dan menerima kenyataan jika akhirnya harus 'dirawat' oleh pemimpin jahat yang terobsesi dengan kecantikan abadi. Immortal Beauty. Akhirnya si putri melarikan diri dan bertemu dengan seorang huntsman yang tak lama juga bertemu tambatan hatinya dari dini. Bersama dengan dwarves, mereka memerangkan misi untuk mengambil kembali tahta yang sudah direbut oleh penyihir sekaligus ibu tiri kejam itu.

Banyak yang meragukan dan mengucilkan peran Stewart dalam menunggangi karakter seorang putri. Tapi bagi saya, Stewart sudah terlampau cakap dalam mengartikan kegundahan seorang putri yang terlunta-lunta sampai akhirnya saat mendekati ending, perubahan emosi yang menggebu-gebu dalam memerdekakan kaumnya. Satu hal yang memang agak merusak image film ini adalah kurangnya jalinan per-tokoh yang ada yang memang sedikit kurang berkesinambungan. Sekali lagi, di luar itu, film ini masih layak dicap bagus. Belum lagi dengan akting memukau dari Charlize Theron. Peringai jahatnya terlihat saat ia, berteriak, berbicara nyelekit, sampai mengucapkan mantra khas dongeng ini. Chris Hermsworth bolehlah kita nilai sudah lepas dari bayang-bayang Thor. Dan bantuan aktor-aktor berkelas sebagai dwarves ataupun ektra lainnya.

Bicara soal musik di film ini, beberapa lagu memang sedikit kontras dengan ceritanya walaupun teritori ini tidak berdampak buruk akan keseluruhan ceritanya. Dan yang utama adalah penempatan CGI yang terlampau cemerlang. Saya dibuat tercengang oleh kekuatan komputer yang menghiasi hampir di keseluruhan filmnya. Sajian visual orgasm saat di hutan kegelapan maupun di hutan peri sungguh memanjakan mata dan meliarkan imajinasi. Terus juga secara khusus saat penampakan kumpulan gagak di raga putri jahat. Memukau! Tidak mengherankan jika alasan kuat untuk menonton film ini adalah karena surga visualisasi yang terlukis dengan sangat menakjubkan. Dan juga, asosiasi dari wujud benda yang sangat ikonik di sini, sebuah apel, bisa jadi cukup berkesan kendati tidak begitu memorable yang diharapkan.

Untuk ukuran film yang 'memparodikan' cerita aslinya, Snow White and the Huntsman tidak seburuk yang diprediksikan sebelumnya. Taraf bagus masih bisa disandang ke film ini. Predikat kreatif juga pantas disematkan kepada si empunya film. Untung saja, Sanders mempunyai wayang sekaliber Stewart dan Theron, dan kemampuan olah grafis komputer yang mapan. Dengan akhir yang sulit memuaskan segala pihak, mau tak mau film ini seperti di ambang pertaruhan komentar kritikus dan laba yang menjadi bukti sebenarnya walaupun saya optimis film ini bisa mengeruk keuntungan yang mega. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 05 Mei 2012

The Avengers (2012)



Director: Joss Whedon
Cast: Samuel L. Jackson, Robert Downey Jr., Mark Ruffalo, Jeremy Renner, Scarlett Johansson, Chris Evans, Chris Hemsworth, Tom Hiddleston
Rate: 4/5


Wow! Itulah satu kata yang keluar dari mulut saya saat selesai menonton film reunian para superhero keluaran Marvel ini. Fantastis dan benar-benar luar biasa. Just in case, saya bukan fanboy dan juga tidak begitu antusias dengan film berbau manusia super yang mampu menjadi panutan anak-anak kecil di luaran sana. Tapi sesaat setelah pertempuran akbar di film ini, saya seperti diketukkan pintu hatinya dan disuruh sedikit terbuka tentang betapa menyenangkannya berimajinasi liar dengan kreatifitas yang dapat mengguncang dunia, dalam hal ini dunia perfilman. Kemasan luar yang sangat menarik, Joss Whedon dengan jeniusnya mengambil enam karakter superhero Marvel untuk dipertemukan dalam satu layar. Semula mereka berenam disaling silangkan oleh tetua bermata satu, Nick Fury.

Adalah Captain America, Iron Man, Hulk, Thor, Black Widow, dan Hawkeye. Seperti kita ketahui sebelumnya, hanya Hawkeye yang belum memperkenalkan diri sebagai film utuh, walaupun sebenarnya Black Widow juga nebeng di filmnya Iron Man. Kendari demikian, pemasukan karakternya di film ini sungguh sangat menyegarkan. Dan dengan adanya pengenalan tokoh-tokoh di film independen mereka sebelumnya, mau tak mau film tersebut kita jadikan pengantar untuk perang yang sesungguhnya di film ini. Thor dengan segala kedigdayaan kedewaannya lengkap dengan palu petirnya, Capt. America yang masih merasa individualistis, Iron Man yang masih nakal dengan lontaran joke-nya, Hulk yang semakin cerdas dan bersahaja, Black Widow yang semakin seksi dan mematikan, serta ditambah sosok pemanah ulung dengan segala keberaniannya.

Mungkin film ini agak sedikit 'sempit' karena terlalu banyaknya tokoh yang harus diperkenalkan satu-persatu, dan tapi untunglah film mereka yang lampau sedikit banyak memberi info karakter masing-masing, sehingga di sini Whedon hanya kebagian tugas membuat film gabungan yang mampu menghibur penonton dan berlabelkan film musim panas yang berkualitas. Dan ya, tulisan naskahnya sungguh santai. Alurnya tidak melenceng ke mana-mana. Durasinya terbilang pas porsi, penempatan leluconnya juga sesuai keadaan. Jangan lupakan adegan aksi yang mampu membuai mata dan imajinasi. Jadi betullah penilaian masyarakat jika film ini salah satu yang terbaik di sektor action fantasy movie.

Robert, Ruffalo, Evans, Jackson, Johansson, Renner, Hemsworth, dam Hiddleston telah bekerja sama dengan amat baik. Tidak ada bakat akting mereka yang ditelantarkan. Semuanya berpadu padan yang menghasilkan act stage yang pas paket. Perubahan mereka menjadi superhero pun menciptakan momen yang bisa dibilang memorable. Catatan khusus untuk Hulk yang selalu menjadi scene stealer di setiap kesempatan. Archery technic si Hawkeye yang membuat saya berpikir jika memanah tak sesulit yang dibayangkan. Belum lagi keanggunan teknologi yang diperlihatkan Tony Stark di rumah, kantor atau markasnya itu. Romanoff yang seperti sedang menari saat melawan musuh menaruh persepsi jika Johansson akan jadi melegenda sebagai salah satu superhero terbaik yang pernah ada. Berlebihan? Tidak juga.

Saya memang agak meracau. Keceriwisan saya berasalan, dan karena memang hingga detik ini film The Avengers seperti menyihir saya untuk cepat-cepat menonton Captain America serta Thor yang teaterikal buatan Kenneth Branagh itu. Satu hal saja, Transformers jelas harus merasa malu. Katakanlah Transformers & The Avengers sekonyong-konyongnya membawa dimensi lain sebagai musuh umat manusia, tapi The Avengers punya kekuatan di sisi pemain dan juga performa aksi. Lihat saja betapa mendebarkannya saat enam jagoan kita harus menghadapi ikan terbang dari dunia antah-berantah? Kolaborasi mereka menghardik kerusuhan mereka patut diapresiasikan setinggi mungkin. Terutama kebrutalan Hulk yang entah mengapa sungguh memesona kita walaupun dia terbilang hobi menghancurkan lingkungan sekitar. Happy watching!


by: Aditya Saputra

Minggu, 29 April 2012

Mirror Mirror (2012)


Director: Tarsem Singh
Cast: Julia Roberts, Lilly Collins, Armie Hammer
Rate: 3/5

Saya belum satupun menonton buah karya Tarsem Singh. Tapi dari yang sudah-sudah, kebanyakan reviewer memuji sinematografi filmnya sendiri ketimbang hasil keseluruhan karyanya. Maka tak heran pula saat saya akan menonton Mirror Mirror, satu hal yang akan saya buktikan adalah visualisasi yang telah mendarah daging di dirinya. Dan setelah lagu India yang mengalun di ending credit film Mirror Mirror, saya mengakui kehebatan Singh dalam memola gambar layar agar enak untuk dinikmati. Lukisan-lukisan bergerak sepanjang film seakan menutupi kekurangan cerita film ini yang sedikit menggelikan jika tak mau dibilang konyol.

Siapa yang tidak mengenal Snow White aka. Putri Salju? Dongeng yang telah melanglang buana ddan seringkali dibuatkan proyek filmnya. Tahun ini saja ada dua film yang mengambil tema tentang gadis cantik baik hati ini. Menunggu versi Kristen Stewart dan Charlize Theron, adalah Mirror Mirror yang mencuri start dengan bantuan Lily Collins dan Julia Roberts sebagai putri salju dan ratu jahat. Anehnya, film maker melakukan pendekatan yang sangat komedik sehingga sedikit melunturkan kesan klasik akan cerita Snow White sendiri. Tidak seratus persen jelek, tapi terasa aneh dengan segala macam pembaharuan yang terpampang sepanjang durasi kurang dari 2 jam ini.

Untungnya kejelian Tarsem Singh dalam mengandalkan bakat visualisasinya. Dari opening saja sudah terlihat animasi serta penggunaan CGI sesuai porsi ddan terlihat menakjubkan. Pemakainan warna-warni untuk kostum serta tata kamera yang berjalan mulus dan dinamis menjadi poin positif untuk Mirror Mirror. Urusan make-up pun film ini terbilang jempolan. Bisa terlihat dari paras cantik dan buruknya si ratu jahat serta pancaran aura berkat riasan tak berlebihan di muka Lily Collins. Hanya saja, menilai film tidak cukup di sisi teknis. Banyak hal lain yang lebih penting untuk menjadi tolak ukur penilaian seseorang akan sebuah film. Kita pinggirkan cerita yang dari awal sudah terkesan 'maksa', eksekusi film ini juga terbilang dangkal. Untung saja tidak dibuat terlalu bertele-tele, kalau tidak dukungan humorisasi tadi bisa saja tak akan terlalu membantu.

Porsi Julia Roberts di sini saya rasa melebihi kapasitas dari Lily Collins sendiri. Benar saja, di tangan Roberts peran ratu sinting yang terobsesi akan kecantikan dan harta duniawi menjadi terlihat lebih culas. Darah komedipun berhasil mengalirkan gerak akting yang menghibur. Berbanding terbalik dengan Lily Collins yang saya nilai cukup merusak nilai kecantikan seorang putri salju. Saya rasa masih banyak aktris muda lainnya yang jauh lebih cantik ketimbang Collins. Para pemeran pembantu di film ini hebatnya mampu memberi semangat kelucuan mulai dari tingkah mereka serta petikan-petikan dialog yang menyenggol urat geli kita.

Mirror Mirror akhirnya harus cukup puas dicap sebagai film hiburan saja. Tidak jelek, tapi selain visualnya yang sangat anggun dan menyejukkan mata, sektor lain sungguh sulit untuk dimasukkan ke taraf istimewa. Setidaknya kita melihat come back-nya Julia Roberts dan melihat modernisasi Putri Salju yang dulu tertolong oleh seorang pangeran, bukan sebaliknya. Dan sambil menunggu Charlize Theron meneror Kristen Stewart Mei nanti. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Minggu, 20 November 2011

Cars 2 (2011)


Director: John Lasseter, Brad Lewis
Cast: Owen Wilson, Larry the Cable Guy, Michael Caine, Emily Mortimer, John Turturro
Rate: 4/5


Mengapa saya masih menyukai Cars sedangkan para penonton yang lain merasa tidak puas dengan film bertemakan racing itu? Bagi saya, Cars bukan cuma memberikan kesederhaan cita-cita dan tujuan hidup tapi juga mengajarkan sedikit filosofi akna pentingnya sosialisasi serta pengaruh persahabatan dan orang sekitar bagi hidup kita. Mengingat ini sebuah animasi, ditambah lagi keluar dari perut Pixar, memang tidak menyalahkan jika banyak orang yang kurang puas dengan sodoran cerita yang amat klise dan jauh dari kesan orisinalitas yang biasa Pixar ciptakan. Tapi itu tadi, bagi saya Cars adalah sebuah cermin untuk melihat gambaran hidup betapa menyenangkan berobsesi yang bertanggung jawab. Melewati Ratatouille, Wall-E, Up, serta Toy Story 3, Pixar membuka lagi perlombaan sakral itu untuk tahun ini. Cars 2 dilepas dengan harapan mampu menjadi lebih baik dari Cars pertama, atau jika perlu sanggup melebihi superioritas para mainan bernyawa.


Seri ini mengambil garis besar di tokoh Matter, sahabat Lightning McQueen yang diajak ke Jepang untuk menemani McQueen menerima tawaran lomba dari juragan minyak terkemuka. Di samping itu, ada hubungannya pula dengan pergolakkan ini, mata-mata ala James Bond hadir di layar. Entah bagiamana caranya Matter nimbrung di aksi kejar-kejaran ini. Menyenangkan semua pihak memang sulit, apalagi harus mengesampingkan hal-hal yang jelas menjadi tombak penting. Seperti Cars ini.

Cars
jelas sebuah film keluarga yang diharapkan mampu memberi pelajaran dan hiburan kepada anak-anak sekaligus menyenangkan untuk orang dewasa. Benar saja, anak-anak mungkin suka dengan penuturan dan gaya mobil-mobil mentereng ini di layar besar. Desiran suara mobil melecit, serta dentuman ledakan-ledakan yang memborbardir sepanjang film seperti amunisi yang tak terbendung dalam menyemangati anak-anak tersebut. Namun, orang dewasa kurang suka dengan ceritanya. Malah dianggap terlalu mengada-ngada. Saya membenarkan. Dan mereka juga merasa lesu dengan adegan spionase seperti pengulangan film-film live action lainnya. Tidak bisa dipungkiri memang, saya pun sesekali merasa de javu.
Ambil sisi positifnya, seluruh jajaran aksinya tadi tidak serta merta sebagai pelengkap film, tapi sudah menjadi bagian dari otak awak Pixar. Mereka seperti ingin menyelipkan sebuah selingan menghibur. Layaknya kisah superhero yang merusak kotanya, ataupun dunia angkasa Wall-E, manalagi ke-absurd-an mainan yang bisa menyetir mobil. Jelas sekali bukan, seluruh parodi di Cars kedua ini hanya sebuah luapan betapa kreatifnya mereka.

Mengesampingkan sisi cerita, polesan CGI untuk film ini semakin mengkilap. Pixar bukan sembarang studio animasi kemarin sore. Cars yang terbit tahun 2006 dulu saja sempat membuat saya menganga betapa indahnya para mobil berlenggak-lenggok di layar. Di sini, saya jadi berpikir jika Pixar menemukan program komputer terbaru untuk merender animasi mereka.
Satu hal yang menarik adalah, dengan pindahnya ruang lingkup film ini ke Jepang yang otomatis membuat kerja tambahan bagi para sineasnya. Dan mereka berhasil menunjukkan sekilas adat dan tata krama kehidupan di sana. Seperti sumo saja misalnya. Pernah terpikir olahraga ini dilakukan oleh mobil? Kebayang lucunya?

Dari sini saja detail-detail menarik tidak pernah lepas dari pengelolaan ceritanya. Belum lagi penambahan-penambahan karakter yang berarti penambahan jenis kendaraan. Interesting. Sedangkan untuk para pengisi suaranya tidak ada yang perlu ditambal. Semuanya melakukan tugas dengan baik, terutama Michael Caine yang masih pantas saja untuk mengisi proyek anak kecil seperti ini.
Jelas sudah, yang salah bukan di filmnya, tapi di pola pikir penonton yang sudah kepalang terpatri di benak untuk mengharapkan sesuatu yang wah dari Pixar. Bagi saya, seperti ini sudah lebih dari cukup.

Kombinasi yang hampir sempurna dari segi tampilan animasi hingga humor serta adegan pengikut aksinya. Minus cerita miringnya itu. Niscaya, anak-anak pasti akan menggandrungi seri kedua ini. Belum termasuk jika produk pengiringnya juga laris manis di pasaran. Bukankah salah satu tujuan utamanya tercipta Cars ini untuk memenuhi hasrat para anak kecil bermain mobil-mobilan? Selama hot wheels masih laku tentunya. Happy watching!


by: Aditya Saputra