Tampilkan postingan dengan label biopik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label biopik. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Februari 2013

Hitchcock (2012)


Director: Sacha Gervasi
Cast: Anthony Hopkins, Helen Mirren, Denny Huston, Scarlett Johansson, Jessica Biel, Michael Stuhlberg
Rate: 3,5/5


Saya tidak begitu mengenal Alfred Hitchcock. Saya bahkan belum menonton satupun karyanya, apalagi Psycho yang menjadi bahasan utama filem Hitchcock ini. Yang saya tau, Hitchcock adalah salah satu sineas terpandang yang dulu karya-karyanya sering dianggap sebelah mata namun perlahan menjadi acuan penting bagaimana sebuah mahakarya dibuat dan mampu dipuja-dipuja hingga bertahun-bertahun kemudian. Mungkin banyak sutradara yang menjadi sumber inspirasi bagi sineas baru atau mungkin disebut sebagai pengaruh penting dalam memberikan sumbangsih di metode-metode perfileman. Hitchcock bisa jadi tidak setenar Steven Spielberg yang karya-karyanya mampur bercokol di puncak box office dan selalu diapresiasi dengan belasan bahkan puluhan piala dari berbagai festival filem. Dan kembali ke filemnya, inilah sebuah poin plus dari sebuah biografi. Kita akan diberi gambaran singkat tentang tokoh yang sedang diangkat.

Hitchcock mengambil seting paska kesuksesan North by Northwest dan rencana sang sutradara untuk membuat suatu karya yang beda. Diilhami dari delusional yang sering ia alami akibat dari proyek yang akan digelarnya ini, Hitchcock membuat Psycho dengan penuh emosi, ambisi, argumentasi, hingga eksposisi yang berlebihan. Terlebih lagi kepada sang istri yang ia curigai memiliki affair dengan salah satu teman penulisnya. Sepanjang pembuatan filem, Hitchcock dan tim produksinya dihantui bahwa filem yang sarat violence serta unsur nuditasnya yang cenderung eksplisit akan merugikan pihak produser yang akhirnya Hitchcock membiayai segala beban filem ini dengan menggadaikan rumah kesayangannya. Perekrutan Janet Leigh dan Vera Miles pun menjadi cerita pinggiran yang memiliki plot sendiri yang sayang sekali kurang dikupas lebih dalam.

Hitchcock disadur dari buku semi otobiografi yang juga fase di mana Hitchcock membuat Pshyco. Skripnya ditulis ulang oleh John J. McLaughlin yang di sini memiliki amunisi yang pintar dalam memilih dialog-dialog berkualitas yang mampu mengembangkan isi ceritanya sendiri. Lempar pendapat yang diperlihatkan Hitchcock dan Alma sangat harmonis, bahkan sekalipun bertengkar masih terlihat menarik. Kekurangan justru terlalu buru-burunya dugaan Hitchcock kepada istrinya yang memiliki affair dengan seseorang. Bagian ini terasa datar bagi saya. Selebihnya, walaupun drama yang terkait tidak begitu mendalam, setidaknya masih bisa merealisasikan secara nyata bagaimana siklus kehidupan Hitchcock di tengah pekerjaannya sebagai seniman, dan suami untuk istrinya di rumah. Selain art direction yang mendekati aslinya, departemen kostum dan make-up untuk filem ini sudah bekerja dengan amat baik. Mereka memermak Anthony Hopkins menyerupai Hitchcock secara alami dan menyisakan sisi mistis di Hopkins.

Sebagai penyelenggara utama filem ini, Anthony Hopkins memang telah berusaha dengan amat optimal. Kinerjanya sebagai sang maestro patut dihargai setinggi mungkin. Gesture serta body language yang ia peragakan di depan layar memang menimbulkan kesan yang luar biasa. Terlebih lagi Helen Mirren sebagai Alma yang mampu beradegan kocak dan bijaksana dalam satu lini. Sebagai Janet Leigh dan Vera Miles, Scarlett Johansson serta Jessica Biel bukan saja mengeluarkan aura keseksian mereka dari postur tubuh namun juga berhasil menambah kesan manis di sepanjang filem. Sebenarnya peran mereka di filem Psycho sangat penting, namun berhubung ini adalah filem yang menyorot lingkaran kehidupan Alfred, mau tak mau keduanya harus puas sebagai pemeran pembantu saja. Sacha Gervasi selaku orang yang duduk di kursi sutradara berhasil memompa filemnya agar tidak menjadi kacangan. Pengalamannya sebagai scriptwriter seakan sebagai awal untuk meneruskan niatnya berprofesi sebagai sutradara di filem panjang perdananya ini.

Hitchcock bukanlah filem biopik yang sempurna, namun ada sisi entertaining yang ada tersembunyi di dalamnya. Kendati masih banyak kekurangan yang harus dibenahi sang sutradaranya, tapi dengan porsi durasi yang tidak berlebihan memang membuat Hitchcock terasa padat yang tepat sasaran. Didukung penampilan aktor kelas wahid dan ditunjang dua pesolek yang siap menyita perhatian para penonton pria, Hitchcock menambah daya pikatnya. Dan kesimpulan yang bisa saya tarik dari filem ini adalah semangat, kepercayaan diri, kerja keras, serta partner yang baik adalah beberapa elemen yang harus diperhatikan untuk mencapai hasil baik yang kita inginkan. Alfred Hitchcock biarlah tinggal nama, namun karya-karya monumentalnya akan tetap dikenang para penggemarnya yang tiap tahun akan bertambah. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Jumat, 15 April 2011

The Fighter (2010)


Director : David O. Russell
Cast : Mark Wahlberg, Christian Bale, Melissa Leo, Amy Adams
Rate : 3,5/5


Mengapa dunia tinju selalu menarik perhatian para sineas untuk dipresentasikan ke pita seluloid? Latar belakang sang petinju yang 'gelap gulita'? Kedigdayaan sang petinju di singgasana ringnya? Atau masalah pelik dengan lingkungan baik keluarga maupun lingkungan? Apapun itu, dunia pertinjuan seakan membuka mata kritikus lebar-lebar jika tema seperti ini senantiasa bisa dijadikan 'sarapan' di pagi hari ataupun 'pencuci mulut' sebelum tidur. Martin Scorsese pernah memberi Oscar kepada Robert DeNiro, begitupun dengan Clint Eastwood yang menyumbang Oscar lagi untuk Hilary Swank. 2010 kemarin, David O. Russell yang pernah membuat kita sedikit terkesima lewat Three Kings-nya, sekarang ia mengajak kita ke pinggiran kota Amerika dan melihat perjalanan singkat dari petinju Mickey Ward.

Bersama sang kakak, Dicky Eklund, Mickey seakan 'mengemis' mencari sponsor untuk mengajaknya bertanding di atas ring. Eklund yang dulunya juga sempat menjadi primadona ring sekarang malah bobrok gara-gara kelakuannya mengkonsumsi barang haram dan candu akan wanita. Namun, ada ibu mereka yang sedikit otoriter yang menjadi manager bagi Mickey. Keegoisannya sempat menjadi jurang pemisah bagi kisah cinta Mickey dan seorang gadis pintar pelayan bar, Charlene Fleming. Permasalahan mulai muncul, Dicky harus mendekam di penjara, Dicky mengalami yang namanya depresi pengembangan diri. Yah, untung saja masih ada Charlene yang selalu memberi dorongan kepada Dicky di samping juga harus kembali mengatasi egosentris sang ibu. Roda berputar, Mickey berjaya.

Ya, David O. Russell yang selama ini hanya bermain di sektor aman, sekarang sudah berani menjamah bagian kiri festival. Walaupun nantinya kritikus tidak memenangkan film ini, setidaknya The Fighter punya taring cukup tajam yang pantas ditakuti pesaingnya. Apa yang membuat The Fighter menjadi begitu berkesan? Pertama adalah penuturan dramanya yang tidak menimbulkan kesan boring. Kita memang disajikan tampilan yang terkesan old-school, namun berkat David yang menjaga kestabilan emosi dari awal hingga akhir. Beliau tau kapan klimaks harus diberikan kepada penonton, kapan adegan tak begitu penting dimunculkan. David yang mengatur pula bagaimana isi naskah dari sang penulis juga sukses men-shoot posisi kamera agar indah dilihat. Contohnya adegan bertinju saja. Memang saya nilai adegan adu jotosnya tidak seglamor dan sekeras pendahulunya, Cinderella Man misal, tapi David tidak membodohi penonton dengan upper cut abal-abal. Singkat, sederhana, tapi tetap menggigit.

Mark Wahlberg memberikan penampilan terbaiknya. Bahkan lebih bagus daripada dia mengumpat habis-habisan di The Departed. Lihat raut mukanya yang memendam berbagai pertanyaan hidup. Amy Adams tak kalah hebat. Gadis beringasan dan mau menang sendiri diimplementasikan dengan cukup cantik. Doubt dan Junebug-nya beralasan. Christian Bale dan Melissa Leo menang Oscar dari film ini. Dan mereka pantas mendapatkannya. Bale yang rela beranoreksia ria sungguh bermain tanpa cacat. Pesona Eklund yang urakan dan kumel seperti sudah ditakdirkan untuk dirinya. Leo tak kalah hebat, sosok ibu yang peduli akan kasih cinta anaknya sama kuatnya saat ia juga harus memberi perhatian lebih kepada bocah-bocahnya di Frozen River. Yah, tugas casting director untuk film ini ditata sempurna!

My verdict: The Fighter mempunyai point of view yang kaya dalam memberikan amanatnya. Kesimpulan sebuah film memang jatuh di tangan penonton masing-masing. Bagi saya, film ini memaparkan kisah kasih keluarga dengan sangat murni lewat tampilan buram kerasnya. Tidak menjelaskan secara frontal tentang hubungan sedarah tapi tak kandung ini. Dilengkapi dengan performa nomor wahid dari sang aktornya, mari kita masukkan The Fighter di list film-film bertema tinju berkualitas yang pernah ada. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Minggu, 10 April 2011

127 Hours (2010)


Director : Danny Boyle
Cast : James Franco, Kate Mara, Amber Tamblyn
Rate : 4/5


Sekarang baik Danny Boyle maupun James Franco sudah memiliki gengsi tinggi di mata kritikus dunia. Bagi Danny, ini nominasi keduanya setelah 2 tahun silam pernah menang di karegori sutradara untuk film fundamentalnya, Slumdog Millionaire di Oscar waktu itu. Khusus untuk James Franco, ini mungkin tahap transisi dari aktor nuansa pop ke aliran yang lebih serius. Setelah menuntaskan tiga episode Spider-Man, urakan di Pineapple Express dan mencoba serius di Milk, kali ini bersama si kawakan Boyle, Franco hadir di lembah tinggi penuh bebatuan dan berdiam diri terjepit selama 5 hari 7 jam. Danny Boyle 'menghukum' James Franco di salah satu canyon di Utah lewat persembahan singkat, 127 Hours.

James Franco meminjam nama Aron Ralston, sang petualang hebat yang berkelana ke tempat-tempat yang niscaya akan membuat penonton kagum. Di tengah perjalanan, ia bertemu dua gadis sehobi yang tersesat di daerah gersang tersebut. Tak lama, Aron terjerembab ke dalam bebatuan tersebut dan sialnya lagi salah satu tangannya terperangkap di sebuah gundukan batu. Terjebak dalam tempat kecil dan kurangnya akomodasi baik pangan maupun peralatan petualangan lainnya, Aron harus menerima kesendirian yang harus dia jalani sepanjang 127 jam ke depan. Sepanjang itu pula, Aron merasa melihat kembali kehidupannya yang ia rasa terlalu egois dan tidak memikirkan orang di sekitarnya. Ia juga melihat gambaran singkat dari masa ke masa dirinya sendiri. Sampai akhirnya, ia bertekad untuk tetap hidup dan memilih opsi yang terbilang ekstrim.

Saya pribadi menonton 127 Hours ikut-ikutan sesak napas. Tidak kuat melihat sang tokoh utama kita tidak mampu bergerak barang satu meterpun. Harus merasakan kelaparan, kekurangan air, hujan, delusi dan halusinasi yang berkecamuk. Boyle menempatkan setting kecil ini menjadi suatu penceritaan yang mengalir dengan sangat apik. Sinematografi brilian yang berhasil menangkap angle-angle yang semula tak akan pernah kita pikirkan. Sudut kamera dari dalam sedotan, besetan pisau yang masuk ke kulit, sampai untuk penggunaan soft-lense pun ditata dengan sungguh menarik. Satu lagi yang menyihir dari film ini adalah musiknya. Boyle lagi-lagi mengontrak A.R. Rahman untuk menggubah musik bagi film ini, dan hasilnya sangat cemerlang. Jai-Ho-nya jadi punya alasan untuk menang mengingat If I Rise-nya juga sangat easy listening dan sarat makna.

Simon Beufoy yang bertugas memaklumatkan naskahnya juga sepertinya tidak susah payah dalam menyadur memoar Between A Rock And A Hard Place. Polesan tinta penanya menghasilkan karya yang hebat. Dan itu semua dilengkapi dengan performa nomor satu dari James Franco. Kendati tidak jor-joran dalam berakting, namun tampilan tunggalnya di film ini seakan membuktikan jika ia mampu one-man-show. Predikat aktor terpuji wajar didapuk kepadanya.

Menyaksikan 127 Hours seperti ikutan merasakan kedepresian yang dialami Aron, bukan hanya 127 jam paling stres itu yang jadi pokoknya, tapi juga perjalanan flashback yang sedikit banyak memberikan pelajaran akan pentingnya komunikasi, aksi sosial, dan agar selalu siap sedia untuk segala hal. Boyle yang sempat 'gagal' menyentil saya dengan Slumdog-nya, kali ini saya harus mengakui kehandalannya untuk feature ini. 127 Hours sejajar dengan film bagus lain semisal Into the Wild ataupun Castaway yang juga sama-sama menyodorkan kesendirian di ladang luas sunyi senyap. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 19 Maret 2011

The Social Network (2010)


Director : David Fincher
Cast : Jeese Eisenberg, Andrew Garfield, Justin Timberlake, Rooney Mara, Max Minghella
Rate : 4/5


The Social Network adalah sajian terbaru dari pencetus karya fenomenal tahun 9o-an bertajuk Fight Club. Walaupun sebelum itu David Fincher sudah menelurkan The Game maupun Se7en yang murni keorisinalitasannya, namun Fight Club-lah yang membawa peruntungan bagi Fincher hingga dikenal luas. Bertahun kemudian setelah menyuntik bakat ke Kristen Stewart dan menggamblangkan pembunuh berantai lewat Zodiac, Fincher mengembangkan sebuah novel yang kemudian diangkat menjadi sebuah film. The Curious Case of Benjamin Button disadur dengan jiwa kontemporer dengan laga dari seorang Brad Pitt. Selang 2 tahun, Fincher kembali berkiblat ke film super jenius. Kali ini menceritakan dengan seluk beluk dan cikal bakal didirikannya jejaring sosial termahsyur di dunia, facebook.

The Social Network berangkat dari sebuah buku otobiografi berjudul The Accidental Billionaires. Memaparkan dengan lugas tentang bagaimana seorang Mark Zuckerbeg menjembatani kehidupan perkuliahannya hingga harus 'terpaksa' menjadi pemuda terkaya di dunia. Berkat keisengannya yang dimulai kala ia cekcok dengan kekasihnya. Mark yang saat itu merasa kesal akhirnya melimpahkan segala uneg lewat blog. Membuat sebuah situs FaceMash untuk konsumsi kampus menjadi arah lain yang ternyata menimbulkan progres yang lumayan.

Mark tentu tidak sendirian dalam mengolah menu barunya. Lantas ia mengajak teman satu kampusnya Eduardo Saverin sebagai penggalang dana, berkubu dengan si kembar Winklevoss, sampai akhirnya menjalin kerja sama dengan pemilik situs Napster, Sean Parker. Buruknya, keegoisan Mark yang menuntut kejeniusan otak kanan membuat ia terjerat beban hukum baik dengan si kembar maupun dengan sahabatnya sendiri. Kinerja Facebook kian menunjukkan peningkatan drastis, namun Mark mulai kehilangan jati diri dan maksud dari segala yang telah ia kerjakan.

Menyaksikan duel dialog di film ini terbilang cukup menghibur. Kendati power ngoceh-nya terhitung ngebut, namun jika ditelaah memang berbobot dan cukup logis jika diasosiasikan dengan kehidupan remaja dewasa ini. Ini tak lain berkat kelihaian sang penulis naskah, Aaron Sorkin, yang telah berhasil mengembangkan novelnya menjadi naskah yang bercita rasa tinggi. David Fincher tinggal mengimbangi apa yang telah tertuang dari skripnya. Semua karakter terwakilkan dengan sangat baik. Kita bisa mengetahui sosok Mark Zuckerberg si kutu buku namun culas dan licik, Eduardo yang sedikit naiv, hingga beberapa ekstra lain yang juga berhasil menyempurnakan bagian watak ini.

Jeese Eisenberg yang mendapat kesempatan emas ini rupanya bermain cukup gemilang. Transformasinya sebagai Zuckerberg dijalani dengan klimaks yang memukau. Jarang ada artis muda yang bisa bermain santai namun menyengat di setiap adegannya. Setali tiga uang dengan Andrew Garfield maupun Justin Timberlake yang bermain cemerlang. The next spiderman ini mencurahkan seluruh gerak aktingnya dengan sangat optimal. Timberlake yang belakangan laris sebagai bintang film juga mampu berparlente ria sebagai Sean Parker yang tengik dan ceriwis itu. Tapi bintang film ini tetaplah apa yang sedang dibicarakan, facebook itu sendiri. Bagaimana facebook bisa menjadi wadah pergaulan maya yang mempertemukan sejuta umat dalam satu wahana. Facebook merubah segala haluan nuansa abege yang sudah lebih dulu ditetuai friendster.

Jangan di-skip pula gubahan musik Trent Reznor dan Atticus Ross yang telah menghipnotis saya dengan musiknya yang ciamik. Jadi, tidak salah jika juri Oscar akhirnya memberikan kepada mereka berdua pernghargaan Best Original Score.

The Social Network dan David Fincher boleh saja merana karena Oscar tidak berpihak kepada mereka, tapi setidaknya film ini memang sudah berani keluar metode sederhana dari bagaimana membuat biopik tradisional menjadi luar biasa brilian. Dengan dukungan naskah yang apik dan permainan akting yang gemilang, dibantu juga penyutradaraan yang sempurna, membuat The Social Network saya sematkan menjadi salah satu film terbaik tahun lalu. Persekongkolan, tipu daya, hingga saling menusuk satu sama lain dari belakang layar terciptanya facebook itu, memang menyisakan ending yang berlapis-lapis dalam pengintegrasiannya. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 12 Maret 2011

Veronica Guerin (2003)


Director : Joel Schumacher
Cast : Cate Blanchett, Gerard McSorley, Brenda Fricker
Rate : 3,5/5

Anda kenal siapa itu Veronica Guerin? Jika Anda balik bertanya kepada saya siapa dia, sayapun mempunyai jawaban yang sama dengan Anda. Saya tidak mengenal seorang Vernoica Guerin sebelumnya, hingga akhirnya saya menonton film buatan Joel Schumacher ini. Veronica Guerin adalah seorang pekerja kuli tinta sekaligus penulis artikel kriminal yang memilih lajur tidak aman untuk pekerjaannya. Guerin berani masuk ke lembah hitam guna mencari suatu fakta yang akhirnya menyeret kehidupan pribadinya lebih dalam. Suatu hari ketika ia berniat menuntaskan perihal sindikat narkoba yang sudah teramat parah, mau tak mau, Guerin harus menggaransikan nyawanya.

Frase yang mengatakan 'mulutmu harimaumu' seakan mengelupas ke akar-akarnya lewat film ini. Apa yang telah ditabur oleh Guerin lewat 'kerja keras'-nya, memang ia pula yang harus menuai nantinya. Mungkin Guerin terlalu kritis atau ia terlalu sembrono dalam mengupas persekongkolan yang ada, yang jelas kinerja Guerin tidak bisa dipandang sebelah mata. Bagaimana upaya beliau mengubah kehidupan bermasyarakat di Irlandia setelah akhirnya ia meninggal mungkin salah satu pembenahan yang paling berhasil dari seorang pekerja pencari berita. Joel telah sukses membuat penontonnya untuk sedikit prihatin tentang nasib seorang Guerin. Saya pribadi merasa antusias dengan film ini, bukan karena dramanya, namun dengan seluk-beluk dunia wartawati sang tokoh. Yah, mungkin terlalu tragis. Kendati demikian, imbalannya setimpal dengan apa yang ia telah perbuat.

Sang dalang film ini walaupun saya nilai kurang dalam penggarapan emosi, tapi sudah memaksimalkan aset penting dari seorang Cate Blanchett, aktingnya. Performa Cate dalam menciptakan Guerin yang bermartabat tinggi dan berkarisma lebih memang sangat brilian. Bahkan, aktingnya seakan menambal bantuan aktor lain yang bermain kurang bagus. Intinya, Cate seakan bermain tunggal, dan pertemuannya dengan Colin Farrell lumayan mengejutkan. Oh wait, Joel pernah mengajak Farrell di Tigerland dan Phone Booth, jadi kameonya beralasan.

Apa yang bisa kita pelajari dari film ini? Yah, untuk sebagian orang belajar sesuatu dari sebuah film terkesan konyol, namun memang ada sekelumit pesan yang ingin disampaikan dari sang sutradara. Dan, Veronica Guerin sedikit banyak telah memberikan amanat yang sangat kental akan keberanian, kebebasan bertindak dan berkarya, hingga mengusik kehidupan bejat seorang pendosa. Melindungi kaum minoritas korban sang pendosa tadi. Bagaimanapun juga, Veronica Guerin akan mengacu pada hak asasi manusia yang konon katanya lebih berpihak pada hukum, dan tentu saja uang.

Sayang sekali jika film ini kurang mendapat sambutan hangat dari perentas media luaran sana. Sejatinya, film ini menekankan banyak hal yang bisa kita peroleh saripatinya. Lupakan minus-minus yang tidak mengganggu jalinan ceritanya, nikmati saja bagaimana Blanchett menjelma sepenuhnya ke batin seorang Veronica dan berpikirlah apa yang akan kita lakukan jika kita berada di posisinya. Satu hal lagi, ending film ini di mana sang 'pahlawan' kita mendekam di mobilnya dengan alunan lagu dari vokal anak kecil sungguh membuat hati siapa saja yang menontonnya menjadi perih. Terlebih saat sang anaknya muncul di layar sambil dirangkul oleh sang ayah. Great! Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 05 Maret 2011

The Hurricane (1999)


Director : Norman Jewison
Cast : Denzel Washington, Liev Schreiber, Deborah Unger, Dan Hedaya, Vicellous Reon Shannon
Rate : 3,5/5


Lagi-lagi. Drama memikat tentang dunia adu jotos yang seakan menjadi tema favorit para kritikus. Norman Jewison, pencetus drama komedi romantis memikat, Moonstruck, mengolah naskah pilihan yang tersadur dari sebuah buku otobiografi seorang petinju Rubin Carter. Mengambil periode tahun 1966, olahragawan ring ini terpaksa harus gantung sarung tinju usai vonis penjara atas sesuatu yang tidak pernah dibuatnya. Beberapa tahun kemudian, di saat ia mendekam di penjara, sosok bocah keling menelaah buku singkat karya The Hurricane yang menegaskan secara tidak langsung jika Carter bukanlah tersangka seperti yang polisi duga selama ini.

Untuk ukuran sebuah film biopik yang otomatis ending-nya sebagian besar gampang diterka, namun keluwesan yang dipadu-padankan Jewison untuk The Hurricane terlalu kuat untuk ditinggalkan di tengah jalan. Jewison berhasil membentuk karakter seorang 'pahlawan' di mata seorang 'fans' dengan sangat hati-hati tanpa terbebani panjangnya durasi film. Betul sekali, dengan total lebih dari 2 jam film ini bergulir, The Hurricane masih bisa dinikmati dengan santai namun membuai kita dengan dramanya. The Hurricane bukanlah Million Dollar Baby yang sedu sedan itu ataupun Rocky yang ekstra hiburan. Dan Jewison bukan pula perenggut Oscar layaknya si tua Clint Eastwood. Namun, Jewison meramu The Hurricane tanpa ba-bi-bu. Titik mula masa sukses dari petinju ini hingga harus merasakan kegetiran bui dituturkan dengan rapih dan lugas.

Yang lebih menarik dan menyeimbangkan panjangnya alur, penggagas naskah menyisipkan humor yang berselera sedang namun menggelitik. Mungkin itu salah satu faktor pula yang membuat saya mencap film ini rapih dan lugas tadi. Tata kamera yang cantik dari sinematografernya juga menambah cita rasa The Hurricane. Lupakan jika formatnya seperti Raging Bull yang juga menampilkan warna pekat hitam-putih! Film ini mempunyai unsur lain untuk menekankan sisi pendramatisiran adegan di atas ring.

Dan yang paling mendukung feature ini adalah penampilan gemilang dari Denzel Washington. Dia mencuri semua adegan di film ini. Kelincahan bertinju, air muka depresi selama 'bersemedi' di tembok besi hingga muram durja di persinggahan ruang sidang diterjemahkan dengan sangat baik lewat body language-nya. Kendati demikian, akting primanya di sini harus 'diacuhkan' Oscar atas sosok ayah cabul dari raga Kevin Spacey waktu itu. Tak terkecuali untuk Shannon yang memerankan sang bocah hitam pembuka gerbang kebahagian untuk Carter. Shannon (walaupun saya tidak begitu mengenal akting dia sebelumnya) sukses menghidupkan tokoh yang antusias dan penolong.

The boxers: Robert DeNiro, Hilary Swank, Sly Stallone, Mark Wahlberg, dan Russell Crowe boleh dikatakan aktor yang mumpuni dalam gerak tinju di depan kamera. Kecuali Bob, yang lain mungkin saja pula bengong menonton kemampuan Denzel Washington yang jelas-jelas lebih menjiwai perannya ketimbang yang lainnya. The Hurricane bukan tontonan segala umat yang bisa disaksikan dengan semangkok popcorn di tangan, melainkan film yang multi sarat dan menerangkan secara singkat perjuangan orang yang tak bersalah yang harus mengais hak asasinya demi sebongkah kebebasan. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Jumat, 21 Januari 2011

Monster (2003)


Director : Patty Jenkins
Cast : Charlize Theron, Cristina Ricci, Bruce Dern
Rate : 3,5/5


Dulu kala, rakyat Amerika dikejutkan dengan pemberitaan seorang prostitusi yang akhirnya memilih jalan sebagai seorang serial killer karena alasan situasi dan masa lalu. Aileen Wuornos namanya. Kenyataan pahit yang mengukung hidupnya semasa kecil hingga ujug-ujug menjadi pelacur sungguhan merubah tingkah hidupnya. Walaupun sebenarnya yang ia harapkan adalah sebuah cinta. Aileen sedari bocah sudah ternodai oleh orang sekitarnya mulai dari ayah angkatnya bahkan saudara kandungnya sendiri. Berevolusi bertabiat jalang dan bertemu seorang gadis yang juga mengidap masalah internal. Aileen jatuh cinta dengan Selby dan mencurahkan segala pengorbanannya kepada Selby sekalipun taruhan nyawa.

Petty Jenkins dengan cerdik meramu film ini dengan sudut pandang yang universal. Sejatinya film bertema demikian akan mengumbar kisah perjalanan pahit sang penjagal, namun Jenkins menyorotnya lewat mata seorang pelacur. Flashback hidup yang dijelaskan lewat narator Charlize Theron sangat bersahaja. Menerangkan hal yang menyakitkan tanpa visual. Dengan narasi itu saja, kita pun bisa merasakan kesakitan verbal terhadap Aileen kecil. Dan, melalui sudut pandang inilah, kekuatan cerita dengan drama sejuta sarat makna ditebarkan. Wanita jalang, berlandaskan penyiksaan batin dan niat balas dendam. Namun mirisnya, sang 'monster' tidak serta merta mengeksekusi segala jenis pelanggan, membuktikan jika sang pendosapun masih meiliki hati.

Performa dari seorang Charlize Theron benar-benar sinting namun memukau siapa saja yang menonton film ini. Transformasinya jelas berbuah manis. Apa yang ia korbankan dengan memermak wajah beserta menaikkan berat badan, plus ditunjang dengan kekuatan akting prima, menjadikannya sorotan tajam akan Monster ini. Menyaksikan akting menyengat Theron di sini jauh lebih menakutkan dari melihat aksi Freddy Kruger sekalipun. Mungkin Theron adalah satu dari sedikit aktor yang berani dan mampu mengubah tampilan asli ke bentuk yang rusak parah. Theron rela melepas jubah kecantikan modelnya demi peran ini. Dan ini luar biasa! Pun penampilan depresi seorang Cristina Ricci. Kendati perannya semi-utama, tapi kehadirannya di samping Theron memberikan gambaran singkat nan pelik dari kehidupan seorang Aileen. Salut kepada keduanya yang dengan gesit dan eksplisit menampilkan seks sejenis yang tak murahan.

Selain berterima kasih kepada Petty yang membuat film ini dengan begitu matang, acungan jempol juga patut diberikan kepada petugas penataan rambut dan make-up. Kedua kru yang berjasa besar dalam merombak bentuk sintal Theron ke wujud tak beraturan.

Pengalaman pribadi, sepanjang menonton film ini saya tidak berkutik sedikitpun dari layar kaca. Perasaan yang teraduk saat menonton ini menyisakan sebuah penyesalan dan sempat berujar, 'Kenapa harus mempunyai sebuah pistol, Aileen?'. Boleh saja, Monster bukan pilihan yang tepat untuk beberapa penonton umum. Karena bagaimanapun juga film ini penuh kekerasan dan sukar diterima nurani. Tapi jika ingin sedikit terbuka, Aileen bukanlah pelaku tunggal, ada silsilah kotor yang membentuk karakter bengis dan kejamnya. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 20 November 2010

Raging Bull (1980)

Director : Martin Scorsese
Cast : Robert De Niro, Joe Pesci, Cathy Moriarty
Rate : 4,5/5

Atau memang tinju menjadi salah satu olah raga idaman warga Amerika, atau memang dunia tinju memiliki latar belakang yang lebih seru untuk dikupas, saya tidak tau. Soalnya, sampai kapanpun dunia boxing selalu dipandang dengan kalimat terpuji saat tema itu diangkat ke layar lebar. Saya ingat bagaimana Slyvester Stallone menggenggam kepopuleran lewat Rocky-nya, Will Smith yang memperoleh predikat aktor mumpuni lewat Ali-nya, Hilary Swank yang rela remuk-redam di Million Dollar Baby yang akhirnya menganugerahi Oscar keduanya, serta Russell Crowe yang terkatung-katung saat juri Oscar tidak menempatkannya di posisi nominasi aktor terbaik untuk peran menakjubkannya di Cinderella Man. Semua drama pertinjuan tadi memang tidak hanya menyediakan mimpi seorang zero to hero belaka, melainkan lebih kepada penekanan kehidupan pelik mereka baik pengaruh krisis dunia maupun krisis moral dalam diri sendiri.

Kala itu, Martin Scorsese mungkin saja merasa kecewa berat saat tau nasib sial menimpanya kala Raging Bull dipandang sebelah mata di bursa Oscar 1981. Raging Bull yang pada saat itu menjadi salah satu karya terbaik tahun 1980 harus rela mengalah dari karya Robert Redford, Ordinary People. Mungkin banyak yang menyayangkan, karena bagaimanapun juga Scorsese memberikan sebuah perjalanan singkat seorang Jack La Motta dengan sangat brilian. Scorsese menyajikan sebuah kehidupan yang ganas dari seorang Jack. Mulai dari petinju kelas bawah hingga akhirnya pada masa kesusahan mengancingkan baju (baca: overweight).

Scorsese pun dengan tegas, lugas dan frontal dalam mengeksekusi klimaks-klimaks penting dengan teknik slow motion yang sangat menggugah. Saat opening yang memunculkan kredit pemain misalnya ketika Jack melakukan pemanasan di atas ring atau ronde terakhir saat Jack dan lawan seumur hidupnya--Roboinson--berdarah-darah di atas ring. Darah yang muncrat, upper-cut dalam gerak lambat yang menjaga emosi serta membuat penonton menahan napas sejenak. Adegan-adegan baku hantam di atas ring sungguh memukau, dan Scorsese seakan tahu benar sudut-sudut kamera yang memungkinkan penonton terbuai akan adegan tersebut.

Selain menggunakan teknik slo-mo tadi, yang harus ditelaah adalah maksud Scorsese dalam mentransfer film ini ke tata wrna monokrom hitam putih. Yah, memang tidak sepanjang film. Saya mengasumsikannya adalah upaya Scorsese agar 'memperhalus' film ini yang mana memang berisikan banyak adegan kekerasan dan merahnya darah.

Editing yang benar-benar apik dan mengagumkan dari seorang Thelma Schoonmaker memang sukses menyeimbangi kebrutalan 'perang' di atas ring tadi. Dan Robert De Niro menyempurnakan semuanya. Permainan gemilang dan outstanding dari De Niro sangat menunjang keberhasilan penyutradaraan Scorsese sendiri. Serta pengorbanan dan totalitas De Niro dalam menaikkan berat badannya sebanyak 60 pound bukan sekedar keperluan karakter tapi juga sebagai wujud keseriusan De Niro dalam mendalami peran. De Niro bisa membagi ruang untuk adegan tinju dan perseteruan rumah tangga. Tapi di sinilah krisis moral yang mendera seorang Jack La Motta. Kesintingannya di atas ring terbawa hingga ke rumah yang mana sang istri menjadi korban fisiknya. Dan sekali lagi, De Niro dengan segala kecermelangannya dalam bermimik muka patut diacungi banyak jempol. Jadi, Oscar keduanya ini memang tidak bisa dibantah.

Joe Pesci yang kebagian peran sebagai mentor si petinju juga menampilkan akting yang tak kalah bagus. Walau harus puas kinerjanya di sini hanya dihormati sebuah nominasi saja di ajang Academy Award bersama si seksi montok Cathy Moriarty.

My verdict: Raging Bull diklaim sebagai masterpiece dari seorang Marty. Namun saya mencapnya sebagai salah satu biopik terbaik yang pernah ada. Bukan saja memaparkan kesukaran La Motta dalam menjahit benang kehidupannya, tapi juga menguntai sebuah kepekaan insting yang mengharuskan kita agar tidak terlalu pongah atas keberhasilan yang telah kita raih. Raging Bull pun akhirnya berhasil naik ke tahta paling tinggi sebagai karya Martin Scorsese paling sempurna bagi saya setelah menggeser Gangs of New York. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Selasa, 26 Oktober 2010

Erin Brockovich (2000)

Director : Steven Soderbergh
Cast : Julia Roberts, Albert Finney, Aaron Eckhart
Rate : 3,5/5

Kesempatan ini akhirnya datang juga, menonton Erin Brockovich dan menjadi saksi kedigdayaan Julia Roberts sampai dia dikadoi piala Oscar. Filmnya sendiri keluaran tahun 2000, milenium baru, dari seorang Steven Soderbergh yang di tahun yang sama juga menelurkan sebuah proyek yang tak kalah berkualitasnya, Traffic. Bersama Traffic, Eric Brockovich bertengger di nominasi Best Picture Oscar 2001 plus sutradara terbaik untuk Soderbergh di 2 film secara bersamaan. Erin Brockovich memang sebuah film yang mengangkat kejadian nyata tentang seorang janda beranak tiga yang mengalami banyak cobaan hidup. Brockovih, mantan pemenang ajang kontes kecantikan namun memperoleh nasib yang tak sebanding dengan kemenangannya.

Hidupnya luntang-lantung dan bergigih mencari pekerjaan untuk menghidupi anaknya. Suatu ketika ia ditabrak oleh sebuah mobil, ia mengontrak pengacara murah namun tak kunjung memperoleh hasil yang menyenangkan. Keruwetan yang dihadapinya akhirnya menghentikannya di sebuah biro hukum. Bekerja di sana ternyata mengalami perbaikan nasib. Erin yang mencoba mendalami masalah pencemaran air oleh perusahaan PG&E yang menyebabkan sumber penyakit bagi warga sekitar. Pelan tapi pasti apa yang ia korbankan--kekasih dan anak-anak, akhirnya dibalas dengan keberhasilan beliau mendapatkan tempat di hati rekan kerjanya.

Di sinilah letak kehebatan sang sutradara, menerjemahkan naskah dan kejadian nyata menjadi suatu tontonan yang sangat layak disaksikan. Seperti yang kita ketahui, Soderbergh memang piawai dalam memposisikan cerita yang sedikit berat dan penuh pendiktean diri di tengah-tengah jasa aktornya. Lihat saja film ini, walaupun bersifat dramanya terlalu pelik dan riskan akan kebosanan dengan durasinya, Soderbergh menyiasatinya dengan memaksimalkan performa aktornya, dalam hal ini Julia Roberts.

Bukan apa, bisa dibilang film ini adalah ajang Julia Roberts sebagai pembuktian jika ia memang seorang aktris berkaliber Oscar. Peran penuh masalah ia wakilkan lewat mimik, body language seorang bitchy dan ekspresi yang meyakinkan. Kerja kerasnya memang patut dihargai berbagai kemenangan di berbagai ajang perfilman dunia. Bantuan dari Albert Finney dan Aaron Eckhart juga cukup mengimbangi permainan penuh semangat dari Julia Roberts.

Sorry to say jika review ini terlalu membanggakan Julia Roberts. Memang tidak bisa disangkal jika Julia Roberts telah mencurahkan seluruh kemampuannya untuk bermain total dan seakan berteriak jika ia pantas untuk Oscar. Roberts berhasil menyeleksi tempo emosi baik saat dalam pekerjaan maupun sebagai seorang ibu. Salah satu adegan dan emosi terbaik dari film ini adalah saat Erin mengetahui jika anaknya sudah berhasil mengucapkan kata pertamanya. Jujur, walaupun Roberts hanya berdialog minim namun aura mukanya berbicara banyak dan mengungkapkan apa yang sedang ia rasakan. Julia gave fabulous performance in her leading role.

Erin Brockovich semakin berharga dan kaya karena meluapnya emosi-emosi yang terpantul lewat dialog-dialog cerdasnya. Dan tidak bisa dipungkiri, ini menjadi salah satu kelebihan yang tidak bisa digugat. Sepanjang film kita memang disuguhi sebuah pentas drama yang berbobot yang meletup-letup dari penulis naskahnya.Kesimpulannya, Erin Brockovich sajian yang sangat pas untuk mengetahui seluk-beluk dunia kriminal pada waktu itu yang dituntaskan oleh Erin Brockovich. Hiburan lainnya adalah bagaimana kita dipuaskan oleh Julia Roberts berkat kematangannya berakting. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Jumat, 15 Oktober 2010

Sanguepazzo (2008)

Director : Marco Tullio Giordana
Cast : Monica Bellucci, Alessio Boni, Luca Zingaretti, Maurizio Donadoni
Rate : 3,5/5



Wah, saya sendiri bingung mengomentari film ini seperti apa. Keputusan saya menonton film tengah malah mungkin ada untung dan ruginya. Pukul 23.30 saya putar film ini, ternyata menjadi faktor utama yang membuat mata saya kelelahan namun tidak sampai mata terpejam. Untungnya adalah melihat Monica Bellucci yang sungguh sensasional lewat balutan gaun mempesona dan muka seksinya. Lalu, mengenai apa film ini berkutat?

Sanguepazzo atau internasionalnya berjudul Will Blood adalah sebuah film yang sedikit berbiopik ria lewat background World War II antara Germany-Italy. Bercerita tentang seorang gadis (diperankan dengan sangat emosional oleh Bellucci) yang ingin menjadi seorang aktris di Roma. Di tengah jalan hidupnya, ia bertemu dengan seorang aktor yang dalam waktu dekat akan membuat sebuah film berjudul Will Blood. Suasana negara yang mencekam memang tak bisa dielak yang menyebabkan keduannya harus terperangkap dalam kehancuran publik dan menderita dalam kukungan waktu.

Sanguepazzo mengambil dua sudut pandang yang berbeda. Untuk masa tahun 45, menyorot point of view dari sang tokoh utama sedangkan yang kedua dari penuturan kisah era perang yang membumihanguskan negara Italia beserta mengubah kedigdayaan Jerman era 40-an awal. Nah, untuk momen kedua, geya penyutradaraannya bersifat monokrom hitam-putih yang memang semakin menambah realistisnya jaman tersebut. Ada satu adegan yang sangat saya kagum. Tepat saat dua bocah menemukan sebuah rol film di antara reruntuhan batu dan mengikuti arah rol tersebut memanjang.

Giordana membawa penontonnya ke sebuah alam yang mengorek betapa kerasnya kehidupan pada saat itu. Menyinggung gelombang seks membara yang diwakili oleh sang tokoh wanita, peran serta obat terlarang, kedramatisan momentum yang mengikuti sepak terjang seorang sutradara, aktor dan para krunya. Sisi lain yang memuncak adalah saat rombongan harus 'disepikan' ke daerah terpencil dan ternyata para sekutu mengetahui keberadaan mereka. Adegan penyamaran yang cukup menarik, karena berhasil mengelabuhi penjajah dengan bekal akting mereka.

Di sini, semua aktor bermain sangat bagus, terutama Luca Zingaretti dan Monica Bellucci sebagai Luica Ferida. Penampilan mereka yang paling menonjol dan kekuatan mimik muka mereka sangat prima. Terlebih dari si Bellucci yang menyegarkan dengan body language-nya. Dengan tubuh sesempurna itu, kita bahkan lupa jika ia habis melahirkan saat melakukan syuting film ini.

Hmm, mungkin film ini bukan pilihan untuk penggemar mainstream Hollywood, ditambah lagi dengan durasinya yang saat panjang dan beberapa adegan monoton tanpa adegan penyegar mata. Namun, bagi pengagum film festival, film ini jelas harus dimasukkan dalam daftar tonton mengingat Lavazza Italian Film Festival (Oscar-nya Italia) serta Cannes sempat mengkritisi positif untuk film ini. Apalagi Monica sangat menyejukkan mata para pria. Happy watching!

by : Aditya Saputra

Kamis, 07 Oktober 2010

Being Julia (2004)

Director : Istvan Szabo
Cast : Annette Bening, Jeremy Irons, Michael Gambon, Shaun Evans
Rate : 3/5


Hahahaha. Saya mulai review saya ini dengan tertawa puas. Why? Jawabannya ada di klimaks ending film ini. Seluruh urat humor saya berdetak kencang saat menyaksikan adegan yang saya maksud. Bukan karena adegan itu menunjukkan parodi konyol, tapi lebih dikarenakan ritual pembalasan dendam yang tak akan dikira sebelumnya. Nah, belum apa-apa saya sudah sedikit memuji tentang film ini. Biopik singkat dari seorang aktris broadway yang ditipu mentah-muntah namun mampu memutarbalikkan keadaan dan terhindar dari rasa bersalah.

Dan, filmnya sendiri 'hanya' bercerita tentang perjalanan karir berakting seorang Julia Lambert yang merasa hidupnya serba mewah dan berkecukupan, sehingga dia ingin merasakan kehidupan yang berbeda. Akhirnya ia mengenal cinta dari seorang pria muda berkebangsaan Amerika yang ternyata memiliki maksud tersembunyi dengan mengencani seorang Julia. Julia yang merasa diludahi dan diperalat, akhirnya tidak tinggal diam dan melakukan aksi gencar bersama orang-orang disampingnya untuk mempermalukan sang pria sekaligus si pacar gelapnya, aktris teater debutan. Di samping itu, Julia memiliki 'teman' (yang diperankan dengan sangat unik Michael Gambon) yang selalu membisikkan semangat dan memberikan jalan keluar di setiap kegagalannya.

Being Julia adalah sebuah wahana tempat aktris Annette Bening menunjukkan kebolehan aktingnya. Film ini milik dia seorang, karena berkat akting memukaunya, film ini jadi terasa megah semegah Julia bergerak-muka di atas panggung teater. Bening jelas menopang aktor lainnya yang boleh dikatakan lumayan termasuk dari seorang Jeremy Irons. Bening jelas menunjukkan pesona yang penuh warna. Seketika ia mampu memperlihatkan mimik sedih yang dibarengi dengan mimik bahagia bukan main. Yang paling menonjol adalah pada klimaks yang saya maksud. Jadi tak heran jika Bening panen pujian (termasuk dari si mastro Roger Ebert) award dari salah satu peran terbaiknya ini, termasuk menang di Golden Globe kategori Best Actress Comedy/Musical dan nominasi di Oscar kategori Best Actress walaupun harus 'ditinju' oleh si Million Dollar Baby, Hilary Swank.

Saya tidak begitu kenal dengan sutradaranya, namun di sini saya katakan sudah cukup berhasil. Sang sutradara mampu memotorik bakat Bening dengan sangat maksimal, dan juga sanggup menjaga setiap adegan dengan tensi yang sangat baik. Tapi, ada beberapa masalah jika kita sudah berbicara tentang masalah teknis. Untuk film yang mengambil era 30-an, film ini jelas minor dalam hal dekorasi seninya. Yang terpampang hanyalah mobil-mobil jadul yang beberapa kali melintas di layar, selebihnya tidak terasa jika kita sedang menonton abad pertengahan. Kostumpun demikian, tidak begitu pas dalam menggambarkan suasana pada waktu itu. London yang terkesan kusam pada saat itu malah diperagakan dengan sangat 'berwarna'. Tapi untunglah tidak cukup mengganggu terlalu banyak dalam hal cerita secara keseluruhan.

Sebagai film yang berbasis karya novel sekaligus penggambaran singkat dari seorang aktris yang pernah hidup di dunia, film ini diterjemahkan dengan cukup bagus. Kendati bagian teknisnya tidak berjalan baik, tapi masih ada pesan penting yang bisa diambil. Yah, kita jelas jangan terlalu gegabah dengan yang namanya 'cinta'. Sial jika 'cinta' itu cuma sekedar pengeruk uang. Maka, bertindak wajar saja selagi 'cinta' itu masih bisa kita temui dalam bentuk lain, bukan hanya sebagai pemenuhan hawa nafsu. Being Julia showed ingelious of Annette Bening's performance. Happy watching!

Senin, 27 September 2010

The Hours (2002)

Director : Stephen Daldry
Cast : Nicole Kidman, Julianne Moore, Meryl Streep, Ed Harris, John C. Reilly, Miranda Richardson, Toni Collette
Rate : 4/5


Ini adalah sebuah film motivasi yang mengambil sudut pandang dari 3 wanita berlainan masa, tempat, dan takdir. Tapi ketiga kaum feminis ini berada pada kesamaan obsesi, latar belakang, dan kecenderungan sensitivitas terhadap lingkungan mereka. The Hours memang menerangkan tentang Virginia Woolf, Laura Brown, dan Clarissa Vaughan yang sangat tersita waktunya oleh sebuah novel Mrs. Dolloway. Pencetusnya, Stephen Daldry di bawah naungan Scott Rudin memang berhasil membuat prosa kejam ke daerah estrogen yang lebih dalam.

Masa pertama (1941), ketika Virginia Woolf menghabiskan waktu untuk karya sastranya hingga harus mengindahkan suaminya. Parahnya, Woolf hilang kendali dan hidup dalam dunianya sendiri. Masa kedua (1951), Laura Brown yang merasa dirinya kosong dan tidak menerima dengan kehidupan normalnya. Masa ketiga (2001), Clarissa Vaughan yang harus menyeimbangkan antara pribadi, mantan suaminya, dan kehidupan anaknya yang tak sejalan dengan apa yang dipikirkannya. Ketiga waktu ini berhubungan erat, dan berkesinambungan satu sama lain. Visi dan misi setiap karakternya ternyata berujung pada ending yang kurang beruntung.


Kekuatan utama The Hours terletak pada penceritaannya yang kuat. Diangkat dari novel karangan Michael Cunningham, scriptwriter David Hare berhasil mengadaptasinya dengan oke. Dan Stephen Daldry menyempurnakannya lewat pantauan dan arahannya yang sangat gemilang. Daldry mampu mengarahkan para bintang papan atas untuk bermain prima, menyelaraskan masa ke masa dengan tetap dalam satu lini. Kejutan ekstra datang dari komposisi musiknya yang mendukung adegan, serta editing yang cukup enak dinikmati.


Tampilan awal The Hours sungguh unik. Ketiga wanita utama diperlihatkan melakukan aktivitas yang sama, kebohongan yang sama, suicidal obsess yang sama, gejolak batin yang sama. Ketiganya juga mengalami apa yang disebut rasa bersalah. Klimaks yang menjelaskan segala dominasi freedom chaos. Pintarnya, The Hours tidak terjebak dalam film melankolis penuh dramatisir. Karena bagaimanapun keterpurukan mereka bertiga, tetap saja diperlihatkan secara tegar. Kendati kepahitan tidak bisa dibantah.


Nicole Kidman di penampilan terbaiknya memang berhasil meluapkan segala emosinya untuk peran ini. Muka cekung serta kekuatan aktingnya terlihat sempurna. Hingga tak salah jika kategori Best Actress in Leading Role berhasil ia renggut di Oscar 2003 lalu. Begitupun dengan Julianne Moore yang sukses membuat saya bergidik dengan cara dia memandang. Meryl Streep dengan pesona lembutnya juga tak bisa ditepis, porsinya dilahap dengan maksimal. Sedangkan untuk Ed Harris, performanya sudah optimal dan cukup layak diganjar sebuat Oscar. Sederetan akting hebat inilah yang membuat The Hours menjadi sangat layak tonton. Satu lagi, masalah yang cukup kuat yang diperlihatkan di sini adalah bagaimana penyimpangan seks itu akan berdampak buruk jikalau kita meluapkannya dengan tidak hati-hati.


Kesimpulannya, Stephen Daldry disokong akting solid dalam mengejewantahkan The Hours. Dan The Hours juga sangat pas dalam mengimplementasikan kemawasan diri dalam membentengi kebebasan hati agar tidak terpeleset ke arah yang salah. The Hours juga membuktikan jika kekuatan cinta itu memang kadang cukup membantu dalam menjalani hidup. The Hours is a good reason why i love more Julianne Moore, the reason i give standing ovation to Nicole Kidman, and the reason why Meryl Streep is the most astonishing actress ever. Highly recommended!

Senin, 20 September 2010

I'm Not There (2007)

Director : Todd Haynes
Cast : Cate Blachett, Richard Gere, Christian Bale, Heath Ledger, Michelle Williams, Julianne Moore
Rate : 3,5/5


Apa jadinya jika sebuah biopik tanpa ada replika sang tokoh yang diangkat di dalamnya? Sedikit mengecewakan atau bagaimana? Menurut saya aneh, tapi jadinya unik jika keseharian sang tokoh malah diwakili oleh beberapa tokoh yang mengarungi perjalanan monumental sang tokoh tersebut. I'm Not There memakai pola tersebut untuk menjelaskan karir besar dari seorang pemusik legendaris, Bob Dylan. So, who's the fantastic Bob Dylan? Bob adalah seorang penyanyi, penulis, serta penyair kebanggaan Amerika yang sumbangsihnya hampir menyamai kedigdayaan seorang Bruce Springsteen. Sang sutradara merasa sudah sepatutnya mengangkat hidup Bob Dylan dalam sajian gambar bergerak dan inilah hasilnya.

I'm Not There secara personal memperkenalkan sosok Bob lewat beberapa tokoh yang dimulai dari seorang anak kecil hobi berdendang yang berkelana mencar arti musik dan hidup sebenarnya. Penemuan akar folkor Amerika dalam sesi Richard Gere. Puncak karir dalam raga Christian Bale, Kebimbangan massa kritis Amerika yang dipertontonkan dengan sangat perih melalui Heath Ledger. Dan yang paling emosional dan berjiwa adalah bagian ketika Bob bersikukuh dalam merubah jalur blues-nya menjadi rock yang diperankan oleh Cate Blanchett.

Cate Blanchett? Yes, she is. Saya bahkan merasa terpaku melihat tingkah laku dan gerak akting dari seorang Blanchett dalam memperagakan Bob Dylan dengan sangat natural dan bersemangat. Suara, body language serta keditelan make-up yang berhasil menyempurnakannya. Sehingga permainan awal dari Marcus, Chris Bale, Ledger seakan terlupakan walau masih cukup enak dinikmati. Richard Gere bermain cukup beda, dengan berewok dan kelusuhannya malah memberikan kesan unik dari perjalanan sang tokoh. Dan bantuan akting lain seperti misal dari Michelle Williams, Julianne Moore dan Charlotte Gainsbourg hanya sekedar pengisi tokoh dari sang penulis.

Sepanjang film berlangsung kita juga diperdengarkan beberapa lagu superior hasil karya Bob Dylan. Nomor-nomor seperti All Along the Watchtower, I'm not There, Ballad of a Thin Man memang masih indah dengan aransemen ulang dari musisinya. Tapi sayangnya, ada beberapa adegan bernyanyi yang tidak menggunakan suara asli aktor yang memberikan kesan jika sang aktor tersebut kurang menjiwai karakternya. Cukup disayangkan. Seperti Balchett yang sudan bermain hebat, tetap saja kurang istimewa karena ia hanya lip-sync. Satu hal lain ialah sinematografi film yang kurang menggabungkan beberapa landscape indah untuk mengimbangi filmnya sendiri.

I'm Not There memang sebuah biopik singkat dari seorang legenda musik dunia. Dengan tampilannya yang tak biasa serta akting yang bagus dari para pemainnya, membuat film ini patut tonton. Tapi sayang sekali, beberapa kekurangannya malah semakin memberatkan I'm Not There sebagai karya yang istimewa apalagi sangat spesial. At least, now we know who Bob Dylan is. And, music isn't only a thing, but also an art that had a soul inside of it.

Senin, 19 Juli 2010

Amadeus (1984)

Director : Milos Forman
Cast : F. Murray Abraham, Tom Hulce, Jeffrey Jones, Chyntia Nixon
Rate : 4,5/5


Wolfgang Amadeus Mozart, seorang legenda musik yang karyanya telah melanglang buana seantero dunia. Seorang komposer musik yang berdigdaya dengan kejenakaanya. Diperankan oleh Tom Hulce, Amadeus mengulas kehidupan Mozart mulai dari seorang penggubah lagu istana hingga menjadi pelipur dunia musik kontemporer. Kehadiran Mozart ternyata dirasakan risih oleh Antonio Salieri yang sejak awal telah menancapkan bendera dendam dan iri hati kepada Mozart. Segala upaya dilakukan Salieri guna menjatuhkan martabat mozart. Nihil, yang ia dapat malah sebuah tambalan kedengkian yang semakin menebal hingga ujung hidupnya dipenuhi rasa penyesalan tiada tara. Amadeus juga menerangkan lika-liku percintaan Mozart dan juga serentetan bagaimana karyanya lahir di muka bumi ini.

Jika melihat art direction yang ada, saya sebagai penonton amatiran merasa sangat takjub. Seluruh aksen serta palet warna yang menyertai film ini sungguh seperti melihat alam dunia pada tempo itu. Semua secara detail dipoles oleh para kru semaksimal mungkin. Tak luput juga penataan gambar, desain kostum serta pengeditan suara yang semakin mengukuhkan jika Amadeus adalah warisan berharga di era 80-an. Film yang sangat indah dari segi kostum, easy listening dari segi komposing musik, anggun dari segi sinematografi serta memukau di sisi akting. Para pekerja di film ini tidak memakan gaji buta dengan mengoptimalkan keseluruhan yang membuat film ini sangat bernilai sepuluh. Tak pelak pada perhelatan Oscar 1985, Amadeus memborong 8 dari 11 nominasi yang didapat. Itu termasuk untuk Best Make-up dan Best Adapted Screenplay. Peter Shaffer telah juara dalam membina hubungan realistis Mozart akan kehidupannya menjadi mengalun lebih lembut tapi sarat akan emosi dan pendalaman karakter. Milos Forman, orang yang sebelumnya dengan sukses menggarap One Flew Over The Cuckoo's Nest dengan pintar mengolah bahan mentah naskah Shaffer menjadi lebih hidup. Banyak memoribilia yang dikandung dalam banyak adegan di film ini. Pencapaian yang luar biasa.

Tom Hulce yang bertransformasi sebagai Mozart sendiri sudah cukup pas dan hanyut dalam karakternya. Penjiwaan akan beban batin Mozart tersampaikan dengan sangat baik. Tapi, permainan akting F. Murray Abraham begitu menyengat sebagai Salieri. Murray bahkan sanggup menggiring penonton ke tingkat yang lebih relevan kepada tokoh Salieri. Suatu waktu, sifat dengkinya menyeruak tatkala membuat pemirsa seakan ingin membunuhnya kala itu juga. Tapi, di waktu lain Salieri berada di titik terlemah yang kemungkinan semua orang pasti akan merasakannya. Hingga pada puncaknya, saat masa renta Salieri yang telah hangus kejayaannya. Masa merdeka akhirnya lenyap dimakan keiriannya dan menyisakan tulang berbungkus kulit. Untuk pemain lain, saya nilai sudah cukup membantu menopang performa dua aktor utama tadi. Tapi rasanya, film ini memang milik Hulce dan Murray saja.

Jika boleh berumbar tentang betapa pentingnya Mozart bagi dunia universal pada umumnya dan dunia musik khususnya, tokoh satu ini memang telah sumbangsih seluruh isi kepalanya. Tak sedikit musisi dunia yang berkiblat kepada seorang Mozart.

Amadeus merefleksikan sosok protagonis yang berlaku pantang menyerah tapi mudah menoleh ke sana ke mari tanpa ada penyeleksian terhadap dirinya sendiri. Sedangkan Salieri yang kebagian peran jahat mengimplementasikan seseorang yang keji, biadab yang berkombinasi dengan kelembutan yang menusuk. Kejahatan yang sempurna. Akhir kata, betapapun hal negatif yang kita lakukan untuk sebuah kemenangan tak akan berbuah manis. Yang ada membuat beban moril dan psikis menjadi-jadi sampai hidup terkatung-katung menuju ajal.

Minggu, 18 Juli 2010

Death Defying Acts (2007)

Director : Gillian Armstrong
Cast : Guy Pearce, Catherine Zeta-Jones, Soirse Ronan, Timothy Spall
Rate : 3/5


Disarankan sekali untuk tidak membandingkan film ini dengan The Illusionist ataupun The Prestige. Kendati masih dalam satu lini dunia majis, tapi tetap saja pembagian genre sulapnya berbeda. Jika The Illusionist lebih kepada ilusi dan The Prestige menjurus ke magician, maka Death Defying Acts mengalir pada roda eskapolojis. Escapologist suatu seni sulap yang berupa penyalamatan diri dari sesuatu yang mengikat pada diri si pesulap. Tidak banyak memang film yang mengumbar kecerdasan dalam hal trik menipu begini. Karena selain dibutuhkan cerita yang kuat, harus diselipi berbagai teknik sulap yang menjadi basis filmnya sendiri.

Kali ini Harry Houdini, superior dalam hal escapologis coba diangkat ke pita seluloid. Tahun 1926, Houdini tur keliling yang akhirnya menetap sementara di Edinburgh untuk melakukan berbagai pertunjukkan kemampuan sulapnya. Dia membutuhkan relawan sebagai opening pertunjukannya. Mary MacGarvie serta anaknya, Benji, berusaha mengikuti audisi tersebut. Liciknya, tujuan awal dua beranak itu adalah untuk mendapatkan sejumlah uang atas sayembara yang disediakan oleh Houdini sendiri. Mudah ditebak, Houdini -yang memiliki masa lalu suram- dan Mary terlibat intrik cinta. Segala hal yang makin mempermudah Mary dan Benji dalam mewujudkan impiannya.

Film ini memiliki kans sukses dan hancur sama imbangnya. Prediksi sebelumnya yang akan menyerupai film sulap berbobot lainnya akhirnya harus dipendam dalam-dalam setelah melihat hasil akhir film ini hanya sekadarnya. Banyak lobang yang harus ditutupi oleh Gillian Armstrong guna menyempurnakan karyanya ini. Karakter yang kurang tergali menyebabkan kekuatan akting pemainnya jadi melempem. Padahal, kalau boleh menilai, Gillian sepertinya tidak perlu kesusahan. Toh hanya 4 aktor saja yang harus diarahkan dengan maksimal. Jadinya, selain Saoirse Ronan yang bermain cukup hebat, ketiga pemain pokok lainnya jadi kurang maksimal. Terbukti Ronan sempat memenangkan Best Supporting Actress di Irish Award. Selain masalah akting, eksekusi Houdini sebagai seorang eskapolojis tidak ditonjolkan. Jadi, transisi Houdini di sini seakan hanya sebagai seseorang yang melakukan pelarian akan dunia masa lalunya. Teknik sulapnya hanya disediakan beberapa saja. Itupun hanya yaaaaaa, kurang menghiburlah.

Mungkin itu semua terjadi karena sang scripwriter-nya sendiri terlalu mengesampingkan sosok Houdini sebagai pria yang berpengaruh bagi dunia. Padahal, jika saja pertengahan film sedikit diperbobot, sudah pasti edinngnya yang bagus itu jadi tidak sia-sia. Sangat disayangkan untuk duet sutradara yang telah menelurkan masing-masing Tideland dan The Interpreter ini. Di luar itu, sinematografi dan direksi seni film ini bolehlah diacungi jempol. Suasana tahun 20-an terasa sedikit nyata dan memang membangun atmosfer yang ada. Warna-warna kelam dan buram mungkin memang dimaksudkan atas pementalan seorang Houdini akan ibunya. Hal lain yang cukup patut diapresiasikan adalah soal pilihan musiknya. Soundtrack Death Defying Acts keseluruhan sangat pas dalam menetralisir adegan per adegan.

Untuk menjadi sebuah film drama menegangkan yang dibalut dengan romansa, sepertinya genre itu gagal dijangkau. Apalagi jika harus masuk kategori biopik yang penuh dengan kegelisahan Houdini. Tapi, untuk sebuah tontonan sore hari, film ini bolehlah ditoleh. Karena selain pesan agar tidak terlalu ngotot dalam mencapai sesuatu dan harus melepas diri dari masa lalu, film ini juga menyisakan sedikit angin segar berkat penampilan menarik-lucu dari aktris berbakat Saoirse Ronan.