Tampilkan postingan dengan label 90-an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 90-an. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Februari 2013

The Game (1997)


Director: David Fincher
Cast: Michael Douglas, Sean Penn, Deborah kara Unger
Rate: 3,5/5


Sebelum The Game mencoba mengelabuhi penonton dengan sejuta teka-teki tak terungkapnya, Fincher telah mendapat perhatian massa di feature panjang pertamanya, Seven, yang diramaikan oleh penampilan dahsyat Brad Pitt, Morgan Freeman, dan juga Kevin Spacey. Namun, yang menjadi momok Seven adalah penjelasan di akhir filemnya yang sangat cerdas. Tak dapat disangkal juga, filem paska The Game juga menimbulkan sebuah enigma yang tak bisa terbantahkan jeniusnya sebuah akhir cerita, Fight Club menjelma menjadi salah satu cult movie terbaik yang pernah ada. Namun The Game tidak mendapat perhatian yang sama dengan kedua filemnya yang lain. Kendati memiliki pengaruh yang besar akibat pola cerita yang berstruktur rapi, nyatanya The Game hanya dinilai sebagai filem bagus saja tanpa ada apresiasi tinggi. Bagi saya, The Game adalah salah satu filem paling pintar dalam membuat penonton mengikuti alurnya dan dibuat kaget oleh endingnya.

Di hari ulang tahunnya, financier kaya Nicholas van Orton mendapat hadiah spesial dari adiknya, Conrad, berupa kartu nama yang akan membawanya ke sebuah wahana bermain yang tak dapat diduganya sebelumnya. Paska cerai dengan istrinya, Nicholas menjadi sosok yang membosankan dan menjalani hidup dengan monoton. Namun, berbekal hadiah yang diberi Conrad, Nicholas mulai mencoba sesuatu yang baru di CRS (Consumer Recreation Services). Sialnya, Nicholas lambat laun mulai direcoki oleh keterlibatan tim CRS di kehidupan nyatanya. Merasa terganggu dan dikuntit sepanjang hari, kejengahan yang dirasakan Nicholas menuntunnya ke berbagai karakter yang terlibat langsung dengan CRS. Yang menggelegar adalah bagaimana Nicholas mengetahui kebenaran yang terjadi di ujung filem ini.

John D. Brancato dan Michael Ferris selaku scriptwriter The Game berhasil memberikan kiat pintar dalam membuat naskah yang berbobot. Pencapaian Fincher dalam menafsirkannya ke dalam gambar bergerak juga patut diberi skor tinggi. Dengan penyutradaraan yang dinamis, The Game ibarat sebuah puzzle yang harus disusun serapi mungkin oleh penonton, dan nantinya penonton bakal diberi kejutan yang teramat cemerlang. Yang saya salut adalah bagaimana kejelian Fincher dalam mengatur dan tidak memberikan clue sama sekali sepanjang filem berlangsung, padahal penonton sendiri sudah diberi acuan di awal filem. Mungkin karena adegan per adegan dibuat se-real mungkin, jadi banyak adegan yang berhubungan dikamuflase dengan poin-poin tak penting tadi. Sisi teknis filem ini memang agak kurang, seperti misalnya tata musik yang tidak begitu membahana. Untung saja hal itu bisa ditutup dengan penokohan yang kuat dan para figuranpun memiliki peran penting bagi filem ini.

Michael Douglas sebagai korban penguntit menunjukkan karisma di atas rata-rata. Sebagai seorang kaya yang congkak, ia mampu memberikan kesan tersebut, dan saat di klimaks utama Douglas dengan sukses meronta-ronta dan bertanya apa yang sedang dilaluinya. Rasa ketakutan dan penasaran beradu jadi satu, dan Michael Douglas membuat penonton percaya jika ia sedang berada di posisi tersebut. Sean Penn walaupun muncul di sedikit adegan tapi dialah poin kunci sebagai pembuka tabir semua kesialan yang menimpa Douglas.

My last verdict: twist The Game memang tidak terlalu membuat pusing penonton karena endingnya juga hanya memberi kejutan saja bukan pemecahan masalah yang dibuat timpang sedari awal. The Game juga tidak ada pesan khusus yang bisa diserap. Yang menjadi kenikmatan The Game adalah bagaimana filem ini bermain di luar zona aman sebuah filem cerdas. Namun nyatanya, saya rasa filem ini tidak akan memberikan kesan yang sama saat kita akan menontonnya untuk yang kedua kali. Kali serupa dengan filem ber-twist ending lainnya, menyaksikannya lagi akan terasa kosong dan seperti dibodohi. Cukup sekali tapi membekas sepanjang masa. Happy watching.

by: Aditya Saputra

Selasa, 01 Januari 2013

Philadelphia (1993)

Director: Jonathan Demme
Cast: Tom Hanks, Denzel Washington, Antonio Banderas, Jason Robards, Buzz Killman
Rate: 4,5/5


Saya tidak akan menyinggung masalah manusia dan penciptanya, yang akan saya singgung adalah hubungan antar manusia yang sering kali menyalahi hukum negara, bahkan hukum Tuhan untuk saling menghargai satu sama lain. HAM sekarang terancam kekukuhannya dikarenakan sifat jelek manusia yang sering menjatuhkan satu sama lain demi kepentingan pribadi. Tema serupa tidak jarang diangkat ke media filem, salah satunya Philadelphia yang secara terang-terangan menguak tabir gelap di kota bernama Philadelphia yang terkenal tentram dan aman kehidupan sosialisasinya. Kali ini, sosok Andrew Beckett diumbar dengan segala keterbatasannya sebagai pesakitan. Dia, yang menderita AIDS harus rela dipecat dari perusahaannya gara-gara virus yang ia tuai di dalam tubuhnya. Merasa ada yang tidak beres dan harus menuntaskan lubang kosong atas pemecatannya itu, Beckett menyewa pengacara terkenal, Joe Miller - seorang homophobic, untuk membantu memenangkan kasus sebelah pihak ini.

Awalnya, Joe ragu untuk memulai simbiosis ini. Namun, apa yang ia lihat di arena ruang sidang membukakan mata dan hatinya lebar-lebar dan bertaruh atas nama pekerja hukum yang disandangnya. Saya kira filem ini akan memuat banyak adegan vulgar mengingat filem bertemakan sejenis biasanya mengandung adegan seks sejenis yang semakin menyempitkan genre yang diusung. Namun, terkaan saya salah besar, filem ini full drama tanpa ada muatan adegan seks sejenis yang dimaksud. Bahkan untuk sekedar ciuman dari mulut ke mulut pun tidak ada. Demme dengan pintarnya memfokuskan cerita yang terkait dan melepas egoisme untuk menambahkan adegan kotor tersebut. Titik mula filem ini berkiblat adalah paska pemecatan si Andrew dan bagaimana dia melawan pesaing di meja hukum. Merentaskan semua daya dan upaya meyakinkan juri dan hakim atas aniaya yang ia terima. Atmosfer filem ini mengudara ke banyak cabang. Pertama kita ditempatkan dengan rasa persaudaraan yang kental di lingkungan minoritas. Bagaimana mereka saling mendukung kaumnya untuk tidak jatuh dan dicela masyarakat.

Kedua optimistis di dalam kejamnya hukum jika kita memang berada di jalur yang benar. Penulis naskah filem ini dengan sangat teliti memberikan bab-bab kehidupan Andrew sehingga bisa dieksplor lebih jauh lagi. Demme selaku si pembuat juga tak kalah jago. Emosi yang stabil dari awal hingga ending diramu dengan amat baik. Suasana di ruang sidang dan rumah sakit menjadikan alasan kuat betapa besarnya kadar drama yang terkandung. Semua tak lepas dari permainan maha dahsyat dari para aktornya. Tom Hanks pantas mendapatkan Oscar. Transformasinya sebagai ODHA layak diacungi jempol. Badannya yang menceking dan mukanya yang tirus adalah perubahan yang serius oleh Hanks untuk menghidupkan perannya menjadi lebih nyata. Lihat saja cara ia jatuh di ruang sidang, membuat hati miris dan merasa iba. Setali tiga uang dengan partner-nya, Denzel yang telah menunjukkan sosok pengacara yang total dan berdedikasi tinggi. Koar-koarnya membela yang benar dan lemah sangat menghentak. Dan kemunculan Antonio Banderas yang tidak sekadar tempelan juga dipergunakan secara pas.

Filem ini juga menyumbang Oscar untuk Bruce Springteen di departemen musik gubahan. Dan memang benar, salah satu nyawa Philadelphia adalah musik dari arahan Springteen. Sayang, Demme dan filemnya sendiri tidak ditoleh juri untuk masuk di deretan nominator sekalipun. Namun cukup jelas, 2 tahun sebelumnya, Demme sukses membungkam AMPAS dengan kehadiran The Silence of the Lambs yang langsung menyabet 5 piala di nominasi penting.

Verdict, secara terang-terangan Philadelphia menyikut paradoks sebuah hukum, tapi secara garis besar memaparkan cinta kasih terhadap sesama. Sajian yang memikat yang akan selalu saya ingat dan singgung jika ada yang membahas masalah human right. Performa ciamik dari duo Hanks dan Washington pun sukses memberi nyawa filem ini. Sebagai penyegaran dan introspeksi di awal tahun, Philadelphia akan saya kutip sebagai pembelajaran yang bagus. Seperti halnya quote cantik yang keluar dari mulut Andrew Beckett: Every problem has a solution. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Kamis, 25 Oktober 2012

The English Patient (1996)

 
Director: Anthony Minghella
Cast: Juliette Binoche, Ralph Fiennes, Kristin Scott Thomas, Willem Dafoe
Rate: 4/5
 
 
FYI saja, saya harus empat kali nonton untuk menuntaskan film ini, dan kegagalan sebanyak tiga kali itu dikarenakan saya selalu ketiduran. Saya rasa tidak ada masalah dengan filmnya, mungkin saya yang terlalu lelah menyaksikan film panjang satu ini. Apa ini berarti filmnya cenderung membosankan? Dengan bangga saya mengatakan tidak. Film ini jauh dari kesan itu, bahkan The English Patient banyak berisi drama yang berbobot di luar durasi yang ekstra panjang tadi. Banyak poin positif yang bisa diambil dari film ini. Kendati si film maker-nya sudah tiada, namun The English Patient akan menjadi salah satu karya monumentalnya yang tak akan mati dimakan jaman. Apalagi untuk para komunitas penonton yang menjunjung tinggi nilai kualitas di suatu film.
 
Film bermula dari kemunculan Count Almasy, seorang map maker yang terjebak di gurun pasir Sahara. Mengambil latar belakang perang dunia kedua, perjalanan gersang Almasy harus bentrok dengan unsur cinta, pengkhianatan, hingga kerja keras tanpa ujung. Di perjalanan tugasnya, ia dipertemukan dengan seorang wanita bersuami. Melodramatik yang terjalin di antara mereka memang melalui arus yang simpang siur. Nyatanya, bagian pembuatan peta tadi adalah ingatan singkat seorang Almasy yang harus terbaring lemah di atas ranjang pesakitan. Dia diurus oleh seorang suster budiman yang mencurahkan segenap tenaga feminisnya untuk menyelamatkan hidup Almasy. Di tengah persinggahan dan juga dalam keadaan suasana perang yang mencekam, mereka kedatangan tamu (tak) asing, David Caravaggio yang lambat laun mengupas segala perjalanan panjang hidup Almasy.
 
Kemenangan 9 piala Oscar termasuk sebagai film terbaik untuk film ini memang sangat beralasan. Filmnya memang amat sangat menggugah. Skrip olahan tangan Minghella sendiri yang merupakan saduran dari novel berjudul sama, membuat film ini kokoh dari segi penggarapan. Minghella menerjemahkan sastra tadi dengan begitu syahdu. Tidak ada segi cerita yang kedodoran. Ditampung dengan tangkapan kamera yang sedap dipandang. Pelataran pasir Sahara terlihat begitu oranye dan indah, jadi sangat wajar jika teritori sinematografi juga memenangkan piala Oscar. Musik gubahan Gabriel Yared juga terdengar amat syahdu. Melengkapi adegan demi adegan baik dalam keadaan mengenaskan maupun yang bahagia.
 
Keunggulan lainnya adalah Minghella disokong oleh aktor-aktor yang bermain dengan sangat apik. Terutama Fiennes dan Binoche selaku pemeran utama film ini. Binoche sanggup membawa tokoh sentral menjadi pusat perhatian di luar keayuan rupa yang dimilikinya. Bertransformasi sebagai wanita di tengah hiruk-pikuk perang dunia, Binoche tak lantas menjadi sosok yang lempem dan lemah. Keperkasaannya diperlihatkannya lewat air muka yang pas dengan situasi adegan. Fiennes apalagi, berakting di gurun bukanlah hal mudah. Dan bersama Thomas, ia bersikeras menunjukkan kekompakan akting yang memukau. Raut korban pengkhianatan yang dideranya memang terasa pedih untuk dilihat.
 
Sepanjang sepengetahuan saya, Minghella baru menelurkan sedikit film. Bahkan masih bisa dihitung jari. Tapi, hampir keseluruhan dilabeli film bermutu, mulai dari Truly, Madly, Deeply, The Talented Mr. Ripley, Cold Mountain, hingga karya terakhirnya, Breaking and Entering. Dan baru tiga saja film beliau yang saya konsumsi. Dan dari tiga itu pula saya berani menjabarkan maksud yang kesan yang terkandung di film-film beliau. Menitikberatkan suatu kisah cinta yang dilatar belakangi dengan unsur dramatikal yang kental. Memosisikan peran utama di kondisi yang pelik tapi tetap berusaha mati-matian. Tak heran jika karyanya sangat humanis sekali. The English Patient sampel mutlak bagaimana suatu hidup akan terasa bahagia jika kita menjalaninya dengan tanggung jawab sekalipun taruhan atas kepergian orang terkasih sudah di depan mata. Happy watching.
 
by: Aditya Saputra

Sabtu, 05 Maret 2011

The Hurricane (1999)


Director : Norman Jewison
Cast : Denzel Washington, Liev Schreiber, Deborah Unger, Dan Hedaya, Vicellous Reon Shannon
Rate : 3,5/5


Lagi-lagi. Drama memikat tentang dunia adu jotos yang seakan menjadi tema favorit para kritikus. Norman Jewison, pencetus drama komedi romantis memikat, Moonstruck, mengolah naskah pilihan yang tersadur dari sebuah buku otobiografi seorang petinju Rubin Carter. Mengambil periode tahun 1966, olahragawan ring ini terpaksa harus gantung sarung tinju usai vonis penjara atas sesuatu yang tidak pernah dibuatnya. Beberapa tahun kemudian, di saat ia mendekam di penjara, sosok bocah keling menelaah buku singkat karya The Hurricane yang menegaskan secara tidak langsung jika Carter bukanlah tersangka seperti yang polisi duga selama ini.

Untuk ukuran sebuah film biopik yang otomatis ending-nya sebagian besar gampang diterka, namun keluwesan yang dipadu-padankan Jewison untuk The Hurricane terlalu kuat untuk ditinggalkan di tengah jalan. Jewison berhasil membentuk karakter seorang 'pahlawan' di mata seorang 'fans' dengan sangat hati-hati tanpa terbebani panjangnya durasi film. Betul sekali, dengan total lebih dari 2 jam film ini bergulir, The Hurricane masih bisa dinikmati dengan santai namun membuai kita dengan dramanya. The Hurricane bukanlah Million Dollar Baby yang sedu sedan itu ataupun Rocky yang ekstra hiburan. Dan Jewison bukan pula perenggut Oscar layaknya si tua Clint Eastwood. Namun, Jewison meramu The Hurricane tanpa ba-bi-bu. Titik mula masa sukses dari petinju ini hingga harus merasakan kegetiran bui dituturkan dengan rapih dan lugas.

Yang lebih menarik dan menyeimbangkan panjangnya alur, penggagas naskah menyisipkan humor yang berselera sedang namun menggelitik. Mungkin itu salah satu faktor pula yang membuat saya mencap film ini rapih dan lugas tadi. Tata kamera yang cantik dari sinematografernya juga menambah cita rasa The Hurricane. Lupakan jika formatnya seperti Raging Bull yang juga menampilkan warna pekat hitam-putih! Film ini mempunyai unsur lain untuk menekankan sisi pendramatisiran adegan di atas ring.

Dan yang paling mendukung feature ini adalah penampilan gemilang dari Denzel Washington. Dia mencuri semua adegan di film ini. Kelincahan bertinju, air muka depresi selama 'bersemedi' di tembok besi hingga muram durja di persinggahan ruang sidang diterjemahkan dengan sangat baik lewat body language-nya. Kendati demikian, akting primanya di sini harus 'diacuhkan' Oscar atas sosok ayah cabul dari raga Kevin Spacey waktu itu. Tak terkecuali untuk Shannon yang memerankan sang bocah hitam pembuka gerbang kebahagian untuk Carter. Shannon (walaupun saya tidak begitu mengenal akting dia sebelumnya) sukses menghidupkan tokoh yang antusias dan penolong.

The boxers: Robert DeNiro, Hilary Swank, Sly Stallone, Mark Wahlberg, dan Russell Crowe boleh dikatakan aktor yang mumpuni dalam gerak tinju di depan kamera. Kecuali Bob, yang lain mungkin saja pula bengong menonton kemampuan Denzel Washington yang jelas-jelas lebih menjiwai perannya ketimbang yang lainnya. The Hurricane bukan tontonan segala umat yang bisa disaksikan dengan semangkok popcorn di tangan, melainkan film yang multi sarat dan menerangkan secara singkat perjuangan orang yang tak bersalah yang harus mengais hak asasinya demi sebongkah kebebasan. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Minggu, 07 November 2010

My Best Friend Wedding (1997)

Director : P.J. Hogan
Cast : Julia Roberts, Dermot Mulroney, Cameron Diaz, Rupert Everett
Rate : 3,5/5

Beberapa minggu kebelakang dan ke depan, khasanah film saya akan dimonopoli dengan beberapa film yang beraromakan romantisme. Entah yang bersifat klise, tragis, happy ending, ataupun yang konyol sekalipun. Filmografi yang telah saya santap di antaranya A Walk to Remember, Notting Hill, You've Got Mail, serta Pretty Woman yang kesemuanya memang telah memberi saya sedikit pengetahuan dan pandangan mengenai kehidupan romansa yang berlaku di muka bumi ini. Melengkapi tatanan film tersebut, akhirnya saya menonton My Best Friend Wedding yang kemungkinan besar akan diikuti dengan The Notebook, Dear John ataupun The Last Song. How cool i am!

Julia Roberts berencana menghancurkan pernikahan Cameron Diaz dan Dermot Mulrenoy? Dan ternyata hal itu tidak semudah yang ia bayangkan walaupun masa lalunya dengan Dermot sudah sangat membekas. Sampai akhirnya, terketuklah pintu hati Julia dan menyadari betapa menyedikan hidupnya.

Menyaksikan Wedding ini mungkin akan sedikit memperlihatkan kita betapa wanita itu terlalu berobsesi dengan apa yang ada di depan matanya. Tidak perduli hal itu akan berdampak negatif kepada orang lain atau tidak. Hal itu terwakili dengan sangat baik oleh Julia Roberts. Ketidakrelaannya serta ambisius akan cinta membuat dia gelap mata dan rela menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan hidupnya. Film ini mungkin sangat cocok ditonton para wanita yang masih mempertanyakan bagaimana mengatur sikap jika berada di posisi Julia. Dan bagi para pria mungkin Wedding bisa dijadikan pembelajaran atau setidaknya sedikit info tentang memposisikan diri di antara wanita-doing-everything dengan wanita-merasa-terhina.

Kekonyolan Diaz di sini--terutama adegan menyanyi--malah membuat saya semakin menikmati aksinya. Memang pada saat itu dia belum seterkenal Roberts, tapi kolaborasinya tetap dapat mencuri perhatian. Sedangkan Everett hanya cukup sebagai pemanis layar serta penyegar mata para pemirsa wanita dengan peran gay-nya yang paling mendapat pujian.

Olahan cerita yang seperti inilah yang saya suka. Menempatkan tokoh utama pada hal yang tidak selalu beruntung. Tergopoh-gopoh menggapai harapan yang akhirnya harus mengenyam kepahitan nasib. Memang berujung happy ending, tapi tidak semudah itu proses menuju kebahagian tersebut.

Singkat saja, My Best Friend Wedding adalah sebuah film yang akan membuka lembar demi lembar petuah cinta yang selalu diamunisi dengan kesimpangan tujuan. Para wanita akan menyukai film ini sekaligus membenci peran Julia, sedangkan pria akan menyunggingkan senyum betapa kaum adam itu sosok yang dielu-elukan serta diperebutkan bagi banyak wanita. Ah, how cool i am! Happy watching!

by : Aditya Saputra

Sabtu, 30 Oktober 2010

Notting Hill (1999)

Director : Roger Michell
Cast : Julia Roberts, Hugh Grant, Rhys Ifans, Lorelei King
Rate : 3/5


Cobaan terberat saya saat harus menonton sebuah film drama romantis adalah bagaimana saya agar tidak terbuai dengan jalan cerita yang ada. Walau kebanyakan film bernada romantis tidak memiliki alternatif penyelesaian cerita dengan kebahagian, biasanya saya menyiasatinya dengan penampilan aktornya. Dramrom lawas banyak yang menyuguhkan keberanian bercerita tapi tidak cenderung mengalami stagnansi ending. Saya ambil sampel Alice dan Hannah and Her Sisters buatan Woody Allen. Walau predikat drama berbobot dipegangnya, namun unsur prima yang menjalin ceritanya adalah karakterisasi yang pas. Jadi saya lebih bisa memaklumi jika romansa itu harus berujung pada kebahagiaan. Malam itu saya menyaksikan Notting Hill, rekomendasi dari beberapa teman saya. Saya rela membuang waktu saya untuk mengetahui bagaimana film ini bisa menjadi favorit banyak orang.

Pemuda penjaga toko buku tak sengaja didatangi oleh aktris ternama yang hendak mencari book guide. Love at the first sight. Pada suatu kejadian yang membuat mereka terlihat sangat akrab, suatu kejadian yang membuat mereka pisah dan saling mengerti keadaan, suatu kejadian yang membuat mereka dekat kembali. Seterusnya, pemuda dan aktris cantik itu melewati hari mereka dengan kesenjangan di mana-mana.

Magnet penting film ini adalah Julia Roberts dan Hugh Grant yang telah diplakat sebagai raja dan ratu drama romantis abad ini. Pertemuan mereka di Notting Hill saya nilai memang sangat bersenyawa satu sama lain. Tidak ada rasa canggung dan mereka saling mengisi slot adegan yang ada mereka di dalamnya. Roberts berhasil mengeluarkan aura kebintangannya untuk perannya ini dan Grant sukses mengimbangi Julia dengan paras polosnya itu. Sutradaranya yang kelak mengatur Peter O'Toole di Venus ini sanggup memadupadankan talenta keduanya.

Sayangnya, sang sutradara terlalu kecut dalam mengeksekusi ending. Menurut saya pribadi, jika saja ending-nya tidak (dipaksakan) mengalir ke jenjang kebahagian, pasti filmnya akan jauh lebih realistis. Memang cinta tidak mengenal strata dan profesi, tapi dalam kasus pemuda di film ini sangat timpang baginya untuk berjibaku mendapatkan cinta emasnya. Apalagi hal itu terjadi di tengah pers yang merasa 'gosh! Were there any options for the director to execute that scene?' Padahal, dari awal film ini sudah mengimun saya dengan dialog cerdas dan manisnya walaupun durasinya tidak umum untuk ukuran drama romantis.

Namun, seperti yang saya uraikan di prolog review saya kalau saya masih memaafkan keklisean tadi jika karakteristik tokohnya sanggup menopang keseluruhan paket cerita. Untungnya hal itu bisa men-subsitute hal minor itu di mata saya. Setiap watak di film ini saya suka termasuk untuk wanita berkursi roda yang tak jarang mengeluarkan quote bermakna. Kerja penulis naskahnya patut dipuji untuk sesi ini.

Jika teman saya bilang sense of romance saya aneh, mungkin saya bisa menerimanya. Tapi bagi saya, menilai sebuah film tidak hanya memerlukan unsur romance tadi melainkan sepenuhnya butuh logika. Notting Hill masih saya ponten 3/5 karena saya masih merasa kemajisan di pertautan kisahnya. Lengkap lagu pengiring yang cukup merdu didengar. Notting Hill pun memberitahu kita untuk tetap terus berjuang akan cinta meski kemungkinan terpahit akan kita terima. Bisakah saya bertemu Saoirse Ronan dan langsung mendapatkan cintanya? Kenapa tidak? Happy watching!

by : Aditya Saputra

Rabu, 20 Oktober 2010

Unruly - Nessuna Regola (1998)

Director : Philippe Bérenger
Cast : Vincent Cassel, Monica Bellucci, Enrico Lo Verso
Rate : 3/5


Plot: Residivis yang bekerja sebagai bartender harus menerima nasib kalau ia terlibat perseteruan antar preman yang mengakibatkan hidupnya simpang siur, nomaden bak kucing beranak. Konflik lain datang secara internal, kekasihnya menikah dan sedang mengandung anak dari kakaknya. Belum cukup menyiksa? Dalang kehancuran hidupnya adalah orang yang dia kenal dekat.

Jangan main api jika tak mau terbakar. Mungkin kalimat itu pas untuk menggambarkan sang tokoh utama. Ketidakwaspadaannya menyebabkan ia dengan mudahnya mengambil keputusan yang bisa saja merugikan dirinya sendiri. Klimaks film ini melimpah. Bukan satu atau dua, tapi banyak. Tapi uniknya, ending film ini terasa anti klimaks. Genjotan adrenalin lewat untaian dramanya malah ejakulasi saat mendekati ending. Jangan salah, hal itu bukan berarti buruk. Keseluruhan filmnya pas porsi.

Film ini memang mengambil sudut kota negara Italia lengkap dengan segala custom dan tetek bengek lainnya. Kita memang tidak bisa belajar banyak dari film ini. Tapi masih cukup menarik akibat kekontrasan tone warna dan per-adegannya sendiri. Berdarah-darah, jantan, namun masih mempunyai hati. Teknik yang cukup ampuh untuk tetap menjaga kenyamanan menonton. Yang perlu dikritik adalah ketidak luwesan sutradara dalam membangun adegan aksi. Brutal sih, tapi tetap terasa kurang total.

Vincent Cassel sebagai bujangan itu, bermain cukup menjiwai peran. Walaupun menurut saya ini bukan penampilan terbaiknya, tapi tetap saja bisa mewakili kebrutalan pria dewasa tanggung. Sedangkan Monica Bellucci yang kebagian peran sedikit malah seperti mubasir saja. Kemunculan singkatnya tidak berarti banyak. Malah yang sempat mencuri perhatian adalah tokoh anak kecil di film ini.

Lupakan sejenak film Hollywood yang kendati macho namun masih menempel sifat feminis. Coba cicipi perfilman Eropa yang berani mengupas tingkah manusia setempat yang kadang jauh lebih realistis. Bahkan, Unruly - Nessuna Regola juga menyentil masalah provokasi yang berdampak masalah besar. Happy watching!

by : Aditya Saputra

Selasa, 12 Oktober 2010

Pulp Fiction (1994)

Director : Quentin Tarantino
Cast : John Travolta, Samuel L. Jackson, Uma Thurman, Bruce Willis, Harvey Keitel, Tim Roth
Rate : 4,5/5


Tepatnya tahun lalu, untuk pertama kalinya saya mengenal Quentin Tarantino dari 2 episode film tentang balas dendam seorang wanita di medan Jepang. Kill Bill menggambarkan sebuah layar realitas yang berdarah-darah serta kejam dari sosok seorang ibu. Saya pun kagum akan keberanian QT yang melenceng dari predikat mainstream-nya Hollywood. Idealismenya yang independen berhasil lepas dari bayang-bayang medioker. Keunggulannya kembali terulang lewat pembantaian kaum Nazi oleh Brad Pitt dkk. dalam drama cerdas Inglourious Basterds.

Kali ini saya akan berbicara tentang Pulp Fiction. Pencapaian puncak dari karya QT yang selain berhasil merangkul fans fanatik namun juga sukses menggondol banyak piala, termasuk Palme d'Or di Cannes tahun 1994 lalu. Sekaligus masuk kandidat Best Picture, director, actor untuk John Travolta, supporting actor and actress untuk Samuel L. Jackson dan Uma Thurman di ajang Oscar. Walaupun sialnya, 'hanya' piala untuk Best Screenplay lah yang sukses direnggut. Lalu, sehebat apakah Pulp Fiction ini? Dan bersiaplah terkejut akan film ini, dan jika perlu siapkan kantong muntah.


QT merangkai Pulp Fiction dengan menggunakan plot maju-mundur. Bukan salah satunya. Oleh sebab itu, penonton diperlukan kelapangan otak untuk berkonsentrasi sejenak dalam menerjemahkan kehendak film ini. Formula yang berbelit-belit ini juga memang sudah didukung naskah yang kuat dari tangan QT. Jadi, serentetan scene yang terjadi memang sudah diplot sedemikian rupa agar ceritanya tetap terjalin sekalipun jalannya berbelok-belok.

QT juga seringkali menyorot adegan dengan point of view yang berlebihan. Maksudnya, QT dengan berani men-shoot adegan sadis secara close-up agar mendekati sisi realistisnya. Jadi, siapkan jantung Anda jika tiba-tiba terdapat satu dua adegan yang bisa menaikan tensi darah Anda. Lagi, QT juga senang bermain dengan darah untuk menekankan kesan nyata. Saking asiknya, dia kadang lupa untuk seharusnya meloncat ke adegan yang lebih 'aman'.


Penyampaian pesan film ini memang tidak lumrah. Jika film lain disajikan lewat keterpujian, Pulp Fiction malah penggamblangan dari kata terpuji itu. Humor sarkastik, dialog panjang yang kadang meaningless, budaya pop Amerika seperti tari dan hamburger, serta penyalahgunaan narkotika, maupun kekerasan seks yang walau rada 'absurd' tapi masih bisa diterima dengan baik.


Bercerita mengenai 2 preman yang berhubungan erat dengan kepala gangster dan istrinya juga tersangkut paut dengan sepasang robber amatiran. Kemampuan olah akting aktornya dikemas dengan sangat baik. Termasuk Bruce Willis dan Tim Roth di dalamnya. Menyenangkan menonton film yang aktornya bekerja dengan sungguh-sungguh.


My verdict : Walaupun banyak yang bilang Reservoir Dogs tetap the best dari QT, Pulp Fiction setidaknya menjadi jembatan bagi QT agar dikenal dunia karena kebriliannya dalam menyatukan ideologi dan penerapan ilmu film secara pas nan kreatif. Terpujilah QT akan Pulp Fiction, sekalipun paman Oscar lebih memilih budak idiot. Happy watching!

Minggu, 03 Oktober 2010

You've Got Mail (1998)

Director : Nora Ephron
Cast : Tom Hanks, Meg Ryan, Greg Kinnear, Parker Porsey Rate : 3/5


Pernah bertemu jodoh lewat bantuan pesan elektronik? Jika pernah, maka timbul satu pertanyaan lain : berapa kans jika pasangan maya kita adalah orang yang ada di sekitar kita? 1 berbanding banyak bukan? Tapi bukan itu yang akan diperdebatkan. Yang saya suka adalah bagaimana proses kopi darat versi orang Amerika yang terlalu termakan gengsi namun juga diselimuti rasa penasaran luar biasa. Film 90an ini memang bertemakan sepenggal cinta atas bantuan teknologi. Tapi tak sekedar itu, karena kita juga akan memahami apa makna cinta. Dan, Nora Ephron ialah mutiara Hollywood sebagai pesohor dalam membuat kisah romantis usia dewasa yang manis namun juga teratur dalam penceritaan.

Kathleen Kelly adalah pemilik toko buku mungil yang bertemu dengan Joe Fox yang ternyata adalah 'musuh bisnis' yang merusak pengharapan Kelly. Tapi ternyata, mereka berdua adalah pasangan chatting yang tidak mengetahui kebenaran satu sama lain jika mereka ternyata sudah sangat akrab. Kelly yang semula kesal lambat laun mengerti maksud Joe yang berujung pada ending yang membuka dengan jelas sebuah kejutan untuk Kelly.


Walau kita tau seperti apa puncak film ini dari menit-menit pertama. Tapi yang patut diikuti adalah proses pertemuan mereka yang memiliki banyak perseteruan. Si wanita yang atraktif, murah senyum, dan pengertian terpaksa harus menunjukkan ketidaksukaannya kepada si lelaki. Dan bagian-bagian itu sangatlah indah yang ditunjang dengan permaianan santai dari kedua aktornya. Chemistry Tom dan Meg terlalu sempurna yang mengimun kita untuk percaya jika mereka adalah pasangan sungguhan.


Nora Ephron bersama saudaranya yang mengerjakan skrip film ini juga berhasil dalam menjahit benang-benang adegan agar teramu dengan romantis. Pengarahan Nora juga berujung pujian, karena keterampilannya dalam menyesuaikan naskah dan pemain serta atribut lainnya sudah sangat pas. Dan ya, sebuah film romansa tak akan semenarik apapun jika tidak diisi musik yang apik. Formula lagu yang dipakaipun terbilang bagus. Soundtrack-nya mengalir sepanjang film yang diikuti serangkaian scene penyimpul senyum.


Satu hal yang menarik adalah bagaimana Nora tidak kelabakan dalam membuat adegan romantis tanpa terkesan murahan. Terlihat sekali Nora tertuju kepada 2 tokoh sentral namun juga tidak menjadikan mereka kambing hitam agar diharuskan beradegan seks. Dan itulah, esensi yang paling menghibur jika sebuah drama romantis tidak harus selalu ada adegan 'melepaskan baju dan celana dalam'.


Sedikit spoiler! Adegan yang paling saya sukai adalah saat Joe menyaksikan Kelly yang sedang menangis saat menjawab pertanyaan pembeli di tokoh Joe. Jelas sekali, di satu sisi Kelly merasa kalah dengan adu statement-nya di tv. Dan di sisi lain Joe pun merasa jika ia telah 'menghancurkan' usaha orang lain. Mengharukan bukan?


Dan, jika Anda butuh suatu tontonan yang pure menghibur namun juga memberikan angin cinta dalam bentuk film, You've Got Mail boleh ada di list Anda. Kendati hal semacam ini jarang ada di era telepon genggam sekarang ini, setidaknya kita masih mengerti jika cinta itu dekat. Dan bahkan sangat dekat. Happy watching!

Kamis, 30 September 2010

Good Will Hunting (1997)

Director : Gus Van sant
Cast : Matt Damon, Ben Affleck, Stellan Skarsgaard, Robin Williams, Minnie Driver
Rate : 4,5/5


Katanya, belajar matematika itu adalah tindakan paling praktis untuk merusak otak. Saya kurang setuju, bahkan sangat tidak setuju. Seni berhitung serumit apapun tetap memiliki sisi positif dan masih bersifat menghibur. At least, menghibur dalam artian melancarkan kerja otak yang melulu diisi asupan berita dunia. Banyak film yang menegaskan secara terbuka tentang pelajaran ini, yang paling menonjol adalah 'karikatur' kecil dari dunia John Nash -si matematikawan sukses- dalam feature buatan Ron Howard, A Beautiful Mind. Dan, meskipun dalam Good Will Hunting juga menekankan pada pelajaran rumit ini, tetapi ada sisi lain yang dijelaskan dalam arahan Gus Van Sant ini.

Bercerita tentang seorang buruh muda yang mengisi soal sulit di suatu universitas. Perlu diketahui sebelumnya, Will Hunting adalah seorang muda pintar namun bengal karena pengaruh masa kecilnya yang suram. Will diberkahi otak cerdas luar biasa yang mampu memahami pelajaran sulit kendati tidak mengenyam masa persekolahan. Singkat cerita, Will dipertemukan dengan seorang guru yang ditugaskan untuk 'mengubah' pemikiran Will sekaligus mengajak untuk memandang masa depan tanpa harus membaurkan masa lalunya. Will juga harus membagi waktu dengan pacarnya yang mengalami konflik batin di antara keduanya.


Begitu banyaknya dialog bermutu yang bertebaran sepanjang film ini. Tulisan naskah yang sungguh brilian dari duo scriptwriter amatir (pada waktu itu) Matt Damon dan Ben Affleck. Mereka berhasil membagi part-part penting agar tidak bertabrakan sehingga tetap memberikan ruang untuk aktornya bermain santai namun berenergi. Liat saja di adegan bar, duet dialog antara Will dan Sean, Sean dan Henry, ataupun Will dan kekasihnya. Jadi tak heran jika Matt-Affleck didapuk sebagai pemenang naskah terbaik di ajang Oscar. Hebatnya, Gus Van Sant menstabilkan semuanya dengan pengeksekusian yang pas. Van sukses mensyut klimaks penting agar terlihat bermutu. Van juga menggunakan close-up style agar lebih intim dengan sang tokoh. Berhasil, karena penontonpun ikut terbuai karenanya.


Dibantu juga dengan berbagai lagu dan alunan musik yang pas, film ini jadi lebih sendu tapi juga membawa pesona tersendiri. Puncaknya lagu Miss Misery yang kontan menghanyutkan penonton kala Will akan menemukan cintanya.


Film ini jelas sekali mengajarkan kita untuk selalu menyiram bibit yang sudah ada di diri kita dengan penuh sikap positif. Tidak diharuskam kita bersalah kaprah dengan anugrah yang kita dapat. Will mewakili para makhluk pintar di dunia agar tidak pongah dan selalu setia menghargai orang lain. Yah, orang pintar itu langka tapi tidak juga harus merasa orang pintar hanyalah diri kita sendiri. Percakapan yang paling seru tentu saja terletak di adegan Will-Sean yang sangat mentolerir perbuatan Will namun perlahan akan membuat Will sadar betapa singkatnya dunia ini untuk dinikmati.


Permainan super fantastis datang dari Matt Damon yang sukses bertransformasi menjadi pria tengil namun memendam dendam masa lalu yang sangat pedih. Pun yang dilakukan Minnie Driver yang mengimbangi performa Damon dengan sangat baik. Namun yang memperoleh Oscar adalah Robin Williams yang menunjukkan akting kasta tinggi sebagai sang guru terapis. Dengan brewok dan badan tambun serta tampang seriusnya, Robin menjelma menjadi sosok yang patut dicontoh dan diperbanyak. Stellan Skarsgaard, Ben dan Casey Affleck bermain pas porsi dan mampu mengisi slot tugasnya.


My verdict : Good Will Hunting memberikan kita ketegasan dan bukti konkrit jika ilmu itu perlu disejalankan dengan attitude yang baik. Kukungan masa lalu yang menyesatkan biarlah menjadi suatu cermin bias agar kita mengerti jika hidup itu bak roda yang sedang berputar. Gus Van Sant serta para pekerja aktingnya menyuguhkan sebuah karya monumental yang tidak hanya membekas di hati, tapi juga memberikan ruang untuk berpikir keras. I was in good mood when i watched Good Will Hunting. After that, there's a reflection i can find from this after all. Life isn't always for ourselves. Happy watching!

Sabtu, 28 Agustus 2010

The Shawshank Redemption (1994)

Director : Frank Darabont
Cast : Tim Robbins, Morgan Freman, Clancy Brown, Bob Gunton, James Whitmore
Rate : 5/5 + piagam nomor satu sepanjang masa


Frank Darabont memang tidak seproduktif sutradara kondang kebanyakan. Dari resume-nya, sebagian besar ia buat dari adaptasi novelis sejawatnya, Stephen King. Tapi, dari sedikit filmografi itu, hampir semua karyanya bisa dikatakan sangat bagus, jika tak boleh dibilang sempurna. Sebut saja The Shawshank Redemption, The Green Mile, The Majestic dan The Mist, film terakhir yang dibuatnya 2007 lalu. Darabont memang selalu memuat filmnya tidak sekedar konsumsi perut, tapi lebih kepada sebuah pendekatan realitas serta disisipi adegan seru di belakangnya. The Green Mile hadir membawa keajaiban seorang narapidana, The Mist memberikan thriller horor yang tak biasa, dan The Shawshank Redemption, maha karyanya, masih bermain di kawasan hotel prodeo. Redemption yang semula dianggap karya biasa, perlahan ditasbihkan sebagai salah satu film paling berpengaruh sepanjang masa.

Film bermula di ruang sidang yang menghakimi Andy Dufresne atas kematian istrinya. Setelah mengalami lika-liku persidangan, akhirnya ia divonis untuk menginap di penjara Shawshank. Di sana, ia berteman dengan seorang Red, napi yang telah berpuluh-puluh tahun harus mendekam di rumah berpagar tembok itu. Hari-hari Andy di sana mengalami perubahan dengan idealismenya serta menjadikannya sosok yang dikagumi banyak orang. Tapi ternyata, perannya di 'hotel' itu bukan hanya sebagai tahanan, tapi Andy juga memainkan tokoh kaki tangan sang pemimpin yang mencoba jalan haram untuk kekayaan pribadi.

The Shawshank Redemption adalah contoh film yang nyaris smpurna dari segala sisi. Penyutradaraan Darabont di sini benar-benar memukau, sehingga penonton dibawa ke sebuah labirin kehidupan Andy tanpa merasa kebosanan. Kehidupan kelam dan menyiksa selama di prodeo ditampilkan tanpa efek yang menyakitkan. Lewat karakter Andy pula penonton diajak untuk berkelana dan berpikir bagaimana ia bisa bebas cepat dari kukungan tersebut. Pertemanannya dengan karakter Red juga sangat menyentuh. Dalam artian, mereka dihubungkan karena persamaan nasib dan pandangan Red kepada Andy yang dirasanya 'berbeda'. Kita pun tak akan sanggup menebak ujung filmnya karena telah larut dalam keasikkan perjalanan cerdas sang tokoh utama. Bahkan detail penting pun seolah dibuat kiasan tanpa kita tahu jika benda-benda tersebut bergunanya luar biasa.

Harmoni film ini sungguh luar biasa. Ritme adegan per adegan yang disajikan begitu pas dan mengena dengan setiap dialog yang terlontar. Bahkan dari ekstras-pun, ucapannya begitu masuk akal. The Shawshank Redemption memang memberikan penonton bukti nyata bagaimana kehidupan keras sebuah penjara itu. Tembok beton yang menyulubunginya berdiri kokoh mengurung para napinya untuk 'menjadi yang lebih baik'.

Ditambah dengan narasi dari seorang Morgan Freeman yang membahana semakin mengukuhkan kehangatan film ini tiada duanya. Dan jelas, Freman serta Tim Robbins yang bermain sama bagusnya memberikan performa terbaik mereka hingga juri Oscar tak segan memberi upah nominasi.

Dengan durasi yang berlebih, saya jamin The Shawshank Redemption tidak membuahkan kepenatan bagi penonton. Yang ada, penonton bisa memetik sebuah pelajaran penting bahwa kerja keras itu adalah mutlak untuk merenggut suatu keberhasilan yang kita tak tau dalam bentuk apa keberhasilan tersebut.

Sabtu, 21 Agustus 2010

American Beauty (1999)

Director : Sam Mendes
Cast : Kevin Spacey, Annette Bening, Thora Birch, Wes Bentley, Mena Suvari, Chris Cooper
Rate : 5/5 + sekuntum mawar merah


Melirik ke kiri sedikit, kita akan mendapatkan sebuah poster yang bermain ambiguitasi. Sedikit manis tapi sisi menyentilnya sangat terasa. Filmnya sendiri memang tidak menegaskan secara terus terang bagaimana bunga mawar mempersonifikasikan sekelumat kehidupan kompleks rumah tangga di pinggiran Amerika. Mawar merah saya simbolkan sebagai suatu perumpamaan yang menyakitkan. Harum dibaui, sedap dipandang, tapi melukai jika kita sentuh secara gegabah dengan duri tersembunyinya. American Beauty memang disajikan dengan dengungan pelan yang merefleksikan kehidupan nyata sehari-hari warga minim harmonisasi dan simfoni kerukunan.

Seorang pria kantoran yang merasakan kemonotonan hidup baik dalam pekerjaan maupun kehidupan berumah tangga. Istri yang doyan menyeleweng serta anak putri yang rentan dalam komunitas pergaulan abege memang menghantui setiap gerakan Lester Burnham dalam berperilaku. Suatu hari, mawar merah kembali merekah lewat sosok jelita teman si anak, Angela Hayes. Ditambah kedekatan si anak dengan bocah tetangga yang kehidupannya setali tiga uang dengan nuansu rumah Lester. Kecaman yang mencambuk batin Lester perlahan mulai menyeruak ketika satu kejadian yang membuka matanya lebar-lebar serta menyiratkan suatu pandangan lain dalam menjadi suri tauladan bagi keluarganya. Ternyata, kewarasan tadi menimbulkan kesalahpahaman bagi si tetangga yang sudah jenuh bertoleransi dengan hidup penatnya.

Inilah contoh luar biasa yang pantas dijadikan cermin batin dalam menyikapi permasalahan pelik di sekitar kita. Ketidakwajaran logika memang seringkali membawa ke alam yang tidak diharapkan. Tokoh Lester di sini memang mengisaratkan sesosok anak manusia yang tak luput dari kesan tersebut. Bahkan hampir seluruh tokohnya mendapatkan sebuah penyesalan teramat sangat ketika mengetahui apa yang telah diperbuat hanya lah sebuah kekosongan perilaku sesat. Sam Mendes selaku sutradara berjasa besar dalam merangkai para tokoh tadi memasuki sebuah lingkungan asri di luar dan menyesakkan jika sudah melewati pintu masuk. Mendes dengan lugas memaparkan secara terperinci maksud hati tiap karakternya. Dan juga membuat beberpa adegan yang indah sekalipun tersimpan berjuta makna di dalamnya. Berkat goresan pena scriptwriter Alan Ball, American Beauty menjelma menjadi sebuah santapan lezat bagi penikmat film berkelas wahid. Bersama Mendes, Ball memperoleh sebuah Oscar atas jerih payahnya tersebut.

Oscar satu lagi jatuh kepada Kevin Spacey yang memang telah memuntahkan seluruh kinerjanya menjadi seorang ayah yang berada di ambang kehancuran moral. Kekuatan prima sang aktor memang menunjang serangkaian adegan bersifat konklusif. Permainan permisif dari Annette Bening, Chris Cooper, Mena Suvari, Wes Bently, serta Thora Birch mampu berbicara banyak di sepanjang film. Duet Kevin-Suvari, Kevin-Cooper, Kevin-Bening, Bentley-Birch, dan Thora-Suvari diperlihatkan dengan begitu detail dan mendalam. Penggalan duo tadi berparalel menjadi sekumpulan adegan yang bisa membuat kepuasan menonton. Ensemble cast yang nyaris sempurna.

Untuk sebuah debutan, Mendes memang telah disejajarkan ke daerah sutradara yang mampu membuat sastra drama pelik kehidupan rumah tangga. Di sini, selain ada Alan Ball, Mendes juga dibantu sinematografer Conrad Hall yang mem-frame butiran adegannya menjadi lebih acceptable dan beraura manis menyakitkan. Ditambah alunan musik serta lagu yang bersenyawa, American Beauty saya sematkan sebagai produk yang lengkap dalam mensubsidi plot cerita yang terbilang sederhana ini.

My last verdict : American Beauty sangat layak dikonsumsi sebagai tampilan getir yang disimbolkan dengan sangat ironis oleh kecantikan bunga mawar. Beberapa kejutan menarik serta moral lesson yang menghentak batin mampu menunjang karisma film ini lebih jauh. Sisihkan kurang dari 3 jam waktu dalam hidup Anda untuk berperan menjadi saksi betapa mengagumkannya drama penghujung milenium baru ini.

Senin, 19 Juli 2010

Beauty and the Beast (1991)

Director : Gary Trousdale, Kirk Wise
Voice : Paige O'Hara, Robby Henson, Richard White, Jerry Orbach
Rate : 3,5/5

Sebelum Pixar membuka wacana baru tentang sebuah panorama animasi, Walt Disney selaku tetua genre film komputer selalu menghadirkan suguhan berkualitas lewat tampilan 2D. Dengan dibuka lembaran semacam Snow White and the Seven Dwarfs, Bambi, Dumbo serta Pinnochio waktu itu, Disney menjelma menjadi studio raksasa spesialis film animasi teratas. Bukan hanya sebagai pelopor, tetapi kru Disney juga sukses mencamur goresan tangan tadi dengan balutan cerita yang segar dan mendidik. Jadi tak heran jika berpuluh-puluh tahun kemudian, karya-karyanya akan terus menjadi pilihan untuk sajian keluarga. Dan sekali lagi, Disney menghadirkan sosok jelita Belle kepada pemirsanya lewat alunan drama romansa si cantik dan si buruk rupa.

Belle, gadis yang secantik namanya tengah dihadang bencana saat ayahnya ditawan seekor buas di sebuah istana majis. Kastil itu dihuni oleh benda-benda yang hidup bak manusia yang ceriwis. Belle barter dengan si pembuas dan mengorbankan dirinya agar sang ayah dibebaskan. Ternyata, The Beast tadi kagum akan kecantikan dan kebaikan hati si wanita dan bertekad untuk merubah image agar jampi-jampi kepada dirinya berhenti mengurung dirinya dari dunia luar. Di tengah siasat tadi, masih ada saja yang tidak terima dengan sikap The Beast sehingga rombongan warga melakukan 'demonstrasi' serta menyerang makhluk buas itu. Ending-nya? Tidak mungkin tidak ada yang tau akhir cerita cinta ini.

Itu tadi, sebuah penceritaan yang boleh dibilang biasa berhasil dimanfaatkan dengan baik. Semua tergambar dengan sangat halus melalui berbagai karakter jamak lengkap dengan watak masing-masing. Dari penokohan tersebut, penonton segala usia sudah pasti akan bisa meramu sendiri yang mana abaik dan jahat. Tidak berlebihan juka Beauty and the Beast saya katakan sebagai mata rantai di mana animasi bisa mencakup segala batasan usia. Dengan torehan dolar yang memuaskan, film ini memang sukses menyulap penonton yang menilai dari drama sendu menjadi sebuah masterpiece Disney. Tak hanya box office, Beauty and the Beast sempet menjadi film animasi pertama yang bercokol di salah satu nominasi Best Picture Oscar. Tidak berlebihan, tapi memang harus diakui jika kemenangan belum pantas diraih. Di kategori lain, film ini sukses menggongol 2 piala, untuk score music dan lagu terbaik untuk lagu senada judulnya, Beauty and the Beast sekaligus mengalahkan 2 judul lainnya Belle dan Be Our Guest. Khusus untuk lagu Beauty and the Beast, kawula muda dari dulu hingga sekarang tetap menggandrunginya. Terbukti dengan masuknya lagu tersebut di puncak-puncak tangga lagu mingguan.

Lupakan dulu produk-produk animasi jaman sekarang, Beauty and the Beast seperti sebuah pembuktian jika sebuah animasi bisa juga bertanding di kelas-kelas festival. Dengan pesan moral sejuta umat, Beauty and the Beast mengajarkan kita untuk saling menolong, tidak berprasangka buruk serta menganut paham kebersamaan dan berperikemanusiaan tinggi.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, film edaran 1991 ini sangat layak untuk ditonton sampai kapanpun, referensi untuk film dahsyat serta tidak kalah dengan pe-render-an animasi 3d jaman sekarang. Dan lagi, seluruh karakter unik di film ini sudah me-universal dan telah menjadi franchise untuk barang koleksi. Singkat kata, an hilarious outstanding movie that had amazed billion of people.

Sabtu, 26 Juni 2010

Scent of A Woman (1992)

Director : Martin Brest
Cast : Al Pacino, Chris O'Donnell, Phillip Seymour-Hoffman, James Rebhorn, Gabrielle Anwar
Rate : 3,5/5

Inilah film yang menghantarkan Al Pacino ke panggung Oscar sepanjang masa karir perfilmannya. Ironis memang, mengingat ia sudah mendapatkan banyak nominasi dan selalu dijagokan di setiap kesempatan. Memang unsur keberuntungan belum menyertainya hingga akhirnya ia membabi buta dengan peran butanya di film ini. Jika boleh ditelisik, Rob DeNiro yang satu angkatan dengannya sudah menggenggap 2 Oscar jauh sebelum Al merenggutnya. Apa mau di kata, sekali lagi, Pacino memang kurang beruntung. Dan asal tau saja, Al hampir di-KO oleh penampilan Robert Downey Jr, sebagai Charlie Chaplin nya di tahun yang sama.

Film ini mengetengahkan seorang siswa, Charlie Simms yang mengambil jam kerja di akhir pekan Thanksgiving Day. Tak dinyana, ternyata tugas yang harus diembannya adalah merawat seorang pensiunan Angkatan Darat yang menderita tuna netra, Frank Slade. Tetua ini bukan tipikal orang penyakitan yang akan berdiam diri. Dengan latar belakang pekerjaannya, ia berdiri menjadi seorang yang kuat, slenge'an serta susah diatur. Untuk menambah premis, Simms juga dihadapi sebuah masalah batin akan tindakan temannya di sekolah tersebut.

Ternyata, Slade telah merencanakan sebuah perjalanan bagi mereka berdua tepat saat anak Slade juga liburan. Mereka ke New York. Di tempat inilah mereka akhirnya perlahan-lahan menguak sisi masing-masing. Tapi yang lebih kontras adalah perubahan sikap Frank atas kesendiriannya yang memuncak. Ada di salah satu adegan yang menyebabkan Frank berada di titik terlemah seorang manusia. Beruntunglah, Charlie dengan bijak bisa menetralisir semuanya.

Suatu penceriteraan yang manis dari sutradara Martin Brest yang kelak dikritik habis-habisan karena Gigli-nya. Martin di sini bukan hanya menegaskan sifat manusia dari 2 tokoh sentralnya, tapi juga memaparkan bagaimana hubungan pertemanan yang baik dari jangka umur yang terlampau jauh. Mutualismemu dari Charlie dan Frank sungguh nyata di depan mata. Frank yang semula bertindak sekendak hati akhirnya dengan wibawanya bisa nerima sebuah kenyataan. Begitu pula Charlie, hubungan sentralnya ini membuat ini berfikir ulang atas apa yang telah dan harus ia lakukan terhadap masalah di sekolahnya.

Lantas, arti judulnya sendiri melekat pada karakter Frank. Yang meskipun buta tetapi memiliki sebuah indera perasaan jauh lebih tinggi terhadap seorang wanita. Terbukti saat ia mengajak seorang perempuan tak dikenalnya untuk menari tango. Sungguh memorable, cantik dan apik dalam penyajian. Dan yah, raja dari film ini adalah Al Pacino. Peran orang butanya ini membuat ia menjadi salah satu aktor yang sanggup memerani karakter apapun. Sulit rasanya memikirkan aktor selain Al untuk menjadi Kolonel Frank. Rangkanya sudah menempel erat dengan jiwa Frank. Dukungan dari Chris O'Donnel juga cukup membantu. Oh ya, di sini kalian juga bisa melihat masa-masa awal filmografi seorang Phillip Seymour-Hoffman.

Satu kalimat dari mulut Al yang saya ingat di film ini : don't destroy, protect it, embrace it. It's gonna make you proud some day. I promise you. Itu ketika Al membela mati-matian Charlie yang sedang 'disidang' atas pengakuannya. Dan, moral lesson film ini bergaung keras di kala menontonnya. Hidup itu tetap suatu pilihan, tinggal kita sebagai si pemilih harus mengambil sikap yang benar agar pilihan itu tidak menjadi bumerang atau dampak negatif ke depannya. Film yang menyentuh juga memukau dalam banyak sisi.

Kamis, 24 Juni 2010

Alice (1990)

Director : Woody Allen
Cast : Mia Farrow, Alec Baldwin, Judy Davis, William Hurt
Rate : 3/5

Woody Allen gemar sekali membuat film dengan wanita sebagai metafora-nya. Dengan insting dan idealismemunya juga, wanita digambarkan sosok manusia yang memiliki banyak problem dalam hidupnya. Tapi penggarapan yang kelas satu, membuat seluruh karya 'kewanitaannya' menjadi tontonan yang menarik, menghibur sekaligus sukses menjadi cerminan seorang perempuan di kehidupan nyata. Dan satu hal yang sering kali dikupas Woody Allen lewat filmnya adalah masalah selingkuh yang kerap menjadi 'santapan' manis setiap manusia yang kurang kasih sayang.


Alice, seorang istri yang hidup apa adanya layaknya para sosialita. Belanja, mengurus anak dan sebagainya. Tapi suatu ketika ia mengalami sakit punggung. Datanglah ia menuju tabib, yang akhirnya diketahui bahwa penyakit itu hanya hasil dari kerja otak dan batin yang kurang sepadan. Dengan bantuan sang tabib pula, Alice menjalani 'kehidupan' barunya guna mencari sebuah kebenaran.

Sialnya, di kala ia mencurigai sesuatu hal kepada suaminya, ia malah terlibat affair dengan ayah teman anaknya. Mana lagi ia dalam keadaan stagnansi ide yang harus segera ia usulkjan kepada temannya yang bekerja di dunia pertelevisian. Imajinasi-imajinasi kecil Alice timbul dengan sendirinya yang akhirnya berujung kepada sebuah penentuan yang tak terpikirkan olehnya sebelumnya.

Mia Farrow yang berperan sebagai Alice memang telah berjasa besar. Alice di tangannya menjadi sebuah gambaran kecil seorang wanita yang memiliki rasa keingintahuan yang sangat besar. Ditemani dengan cast yang juga membantu, film ini akhirnya menyisakan sebuah kemanisan cerita dengan ending yang menggugah. Sayangnya hal itu terjadi hanya dibagian open-ending saja. Pertengahan film ini sungguh mengerikan. Maksud saya, Allen keteteran memposisikan sosok Alice di tempat yang semestinya. Ditambah lagi kemunculan beberapa tokoh sekali lewat yang lumayan mengganggu. Dengan itu semua, inti permasalahan tadi kurang terasa benar.

Mengingat skrip film ini hasil tangan Woody sendiri, saya akhirnya mengacungkan jempol juga. Tak mudah membuat sebuah film dengan fokus ke karakter wanita. Dalam hal ini, Woody boleh diberi kredit khusus. Juga ketelatenannya dalam mengolah masalah perselingkuhan menjadi menarik dan lurus tanpa harus bersifak menguliahi. Lihat saja filmnya yang lain seperti Hannah and Her Sisters, Melinda and Melinda, Match Point hingga yang terakhir Vicky Cristina Barcelona. Semuanya menganut pahan 'lust'. Dengan tone warna yang kelam, Alice menjadi semakin temaram segelap ceritanya sendiri. Juga pemasukan unsur majis yang saya kira sedikit dipaksakan dan kurang mengena.

Tapi akhirnya film ini hanya jatuh ke film biasa-biasa saja dengan tingkat permasalahan yang tidak begitu rumit hingga penonton gampang mencernanya. Dan juga pesan moral yang sangat penting dalam film ini sangat ditujukan kepada wanita yang telah dan akan berkeluarga. Perselingkuhan memang manis pada awalnya saja, ujungnya tetap saja menyakitkan. Untung saja dalam hal ini, Alice bisa mendiktenya dengan penuh harmonisasi tanpa harus ada yang merasa dirugikan.

Minggu, 30 Mei 2010

Misery (1990)

Director : Rob Reiner
Cast : James Caan, Kathy Bates, Richard Farnsworth, Layren Bacall
Rate : 3,5/5

Misery
adalah sebuah novel karangan Stephen King yang notabene telah menelurkan banyak novel sukses dan juga telah diubah mediumnya menjadi sebuah film. Pencapaian yang luar biasa untuk seorang penulis. Dan saya berharap kehidupan menulisnya tidak seperti yang terjadi di novel ini.


Seorang penulis kenamaan Paul Shedon pulang dari sebuah penginapan kecil guna menuntaskan novel lanjutannya, Misery. Ya, Misery adalah seri novel gubahan Paul yang sangat terkenal, sukses hingga memiliki penggemar yang melimpah. Tak diduga, perjalanannya tepat ketika badai salju sedang melanda daerah sekitar. Naas baginya, mungkin bannya terpeleset hingga mobil yang dikendarainya terjatuh hingga menimbulkan akibat yang tak diperkirakan sebelumnya. Untung (atau sial?), ia ditemukan oleh warga sekitar. Seorang wanita paruh baya yang ditinggal pergi suaminya. Sampai sini, kita belum diberi tahu siapa wanita ini sebenarnya. Setelah Paul siluman dari koma singkatnya, barulah diketaui bahwa wanita yang dikenal dengan nama Annie Wilkes ini adalah seorang penggemar fanatik dari Shedon. Karena yang tergeletak di ranjang adalah idolanya, dengan senang hati Annie 'mengadopsi' serta melayani Shedon dengan tanpa sungkan.

Sial kembali dialami oleh Shedon yang sadar jika Annie tak se-malaikat yang ia kira sebelumnya. Penolong yang semula sangat tangan terbuka, akhirnya membuka kedoknya sendiri bahwa dia adalah seorang psikopat nomor wahid di kota kecil tersebut. Barulah setelah itu, Shedon disiksa habis-habisan. Pertama, Shedon diberi obat yang sudah pasti obat yang memiliki efek negatif bagi tubuh si peminum. Lalu melontarkan kebohongan demi kebohongan yang akhirnya merubah muka sendu Annie menjadi wajah bertabiat bengis yang pernah ada. Serangan-serangan fisik dan psikis bertubi-tubi dilakukan Annie. Ditambah lagi Annie tidak menyukai karangan terakhir yang dibuat oleh Paul dan berniat untuk merombak semua isinya.

Dari premisnya saja sudah bisa ditebak kalau film ini akan menyisakan 'sesuatu' dibenak penontonnya. Setidaknya, setiap adegan mengerikan di sini pasti akan tertambat lama di kepala penonton. Bukan apa, selain ceritanya yang mampu berdiri sendiri, penampilan kelas kakap yang disodorkan oleh para aktornya benar-benar menghidupkan cerita yang atmosfir thrill-nya sudah terasa dari awal hingga akhir sekalipun ini. Duet Kathy Bates dan James Caan di seting mini benar-benar menyisakan sebuah kengerian yang tiada tara. Oke, terlalu berlebihan. Kengerian yang membuat The Eye seperti Scary Movie. Saya tidak sedang bercanda! Saksikan apa yang dilakukan Annie dengan palu raksasanya dan kepada sherif setempat kala menemukan Paul sedang membutuhkan pertolongan.

Semua itu berkat kerja keras dari Rob Reiner yang sebelumnya pernah sukses menggarap Stand By Me dan When Harry Met Sally serta kelak yang membuat A Few Good Men dan mengkolaborasikan Morgan Freeman danJack Nicholson di The Bucket List. Antusiasmenya menunaikan beban mentransfer lembaran kertas novel Misery menjadi sebuah film panjang patut dicungi beberapa jempol. Sangat thrilling dan psikotistik.


Miss film ini tak dapat dilepas begitu saja. Banyak hal bisa dikatakan menjadi kesalahan untuk film ini. Hal-hal teknis yang sepertinya tidak berpengaruh besar-besaran kepada film ini.

Layaknya seorang penggemar kepada idolanya, film ini memberikan pelajaran kepada dua pihak tersebut. Sebagai penulis, memang susah untuk menuruti semua kehendak fans tanpa harus mengorbankan idealisme dan kreatifitas yang ia punya. Dan untuk fans, ada baiknya peng-implementasian sikap kagum kepada idola bukan dengan cara yang kejam dan keji. Tapi, untuk kasus Misery ini sepertinya Annie Wilkes tidak mengindahkan atitude sebuah moral dan etisme dalam menjalani kehidupan.