Tampilkan postingan dengan label romantis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label romantis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Juni 2013

The Great Gatsby (2013)


Director: Baz Luhrmann
Cast: Leonardo Dicaprio, Tobey Maguire, Carey Mulligan, Isla Fisher, Joel Edgerton, Amitabh Bachchan, Elizabeth Debicki
Rate: 2,5/5


Bilamana sebuah cerita yang diisi dengan begitu banyak pemain papan atas tapi hasilnya biasa saja malah menjurus ke jelek? Kasus ini sering terjadi di belantika perfilman Hollywood. Sedikit memaksakan dengan mencampur banyak pemanis di sebuah film tanpa memikirkan alur cerita bisa jadi menggali lubang sendiri dan akhirnya filmnya terpuruk di lubang tersebut. Ambil contoh film Nine yang diserbu nama-nama berkelas Oscar tapi dinilai kurang seimbang dengan cerita filmnya yang sangat lemah. Sebelum tayang, The Great Gatsby juga kebagian isu yang sama. Disadur dari novel klasik karangan F. Scott Fitzgerald, The Great Gatsby yang awalnya akan dilempar ke pasar di tahun 2012 namun akhirnya mundur hampir setengah tahun dengan alasan sistem produksi. Tidak bisa disangkal, kutukan yang mengatakan film yang ditunda masa tayang begitu lama biasanya tidak percaya diri dengan hasil akhirnya. Dan kutukan tersebut juga menular ke The Great Gatsby.

Banyak yang menyayangkan mengapa The Great Gatsby hasilnya begitu mudah dilupakan. Padahal, jika kita melihat komposisi yang terkandung di film ini, kita seharusnya menaruh optimisme yang tinggi. Bayangkan, dengan Baz Luhrmann di belakang kamera dan nama-nama semisal Leonardo DiCaprio, Carey Mulligan, serta Tobey Maguire di dalamnya seharusnya, ya seharusnya bisa mendongkrak filmnya jauh mengawang di atas awan. Tampilan film ini sangat-sangat cantik, megah, anggun, dan tertekan secara bersamaan. Set dekorasi serta art direction film ini benar-benar visual orgasm bagi siapa saja yang menontonnya. Ditunjang pula musik dan peragaan busana yang menyejukkan telinga dan mata. Beberapa penyanyi ternama turut menyumbang suara mereka untuk meramaikan film ini. Dan sepertinya seluruh designer di dunia ini berbondong-bondong memberikan sponsorship kepada film ini. Bagaimana tidak, sepertinya bidang ini memang perlu dibidani layaknya fashion show karena cerita dan latar film ini memang memerlukan reklame sebuah kekayaan yang glamor dan flamboyan.

The Great Gatsby memiliki Leo, aktor ambisius yang akan selalu mencurahkan seluruh kemapannya agar terlihat berkualitas di depan layar. Sebagai Gatsby, hal itu berhasil ia buktikan. Dengan logat dan gaya yang ekspresif membuat kita yakin jika Leo adalah Gatsby yang parlente. Tidak kalah memukau adalah Tobey yang sukses menerjemahkan karakter Nick yang sendu, adil, dan bijaksana. Joel Edgerton dan Carey Mulligan sebagai pasutri kaya raya bagi saya sudah bermain dengan sangat pas, terhitung Isla Fisher yang tampil sebentar namun masih tetap mencuri perhatian. Di sektor ini, Luhrmann beruntung memiliki nama mereka di barisan cast-nya. Tidak untuk alur dan terlalu biasanya cerita yang dituju. Semuanya datar, dan tidak ada klimaks yang berarti yang bisa membangkitkan emosi penonton. Padahal, esensi dan masalah yang tertuang di film ini bisa dimanfaatkan dengan baik. Karena, bagaimanapun juga tema perselingkuhan apalagi di wilayah orang berduit pasti selalu menarik untuk disimak.

Lurhmann sepertinya tidak mau susah bagaimana filmnya akan bermuara dan berakhir seperti apa. Kecerobahan ini saya lihat karena Lurhmann lebih memfokuskan masalah teknis tadi. Setengah jam mendekati akhir film, di situlah saat terlemah The Great Gatsby. Kepergian salah satu toko sentral di film ini tidak memberikan efek iba kepada penonton.

Cukup sulit untuk bilang jika saya tidak menyukai film ini. Karena, jika saja Luhrmann tidak menyediakan kehidupan hura-hura yang terpampang di film ini, otomatis The Great Gatsby akan menjadi semakin tidak penting. Mungkin karena itu juga, kegelisahan penonton dibayar lunas oleh keartistikan sebuah lokasi di sebuah drama percintaan klasik ini. Namun, sebagai film yang dirilis di era musim panas, film ini pasti akan malu dengan serbuan film lain yang jauh lebih memukau baik di segi cerita maupun efek-efek canggih nan memukau. Dan sepertinya, Luhrmann harus belajar dari pengalaman agar tidak terlalu lamban untuk membuat sebuah film. Apalagi, ciri khas percintaan yang biasa ia torehkan di film-film sebelumnya semakin luntur. Saya (dan sepertinya para penonton yang lain juga) tidak mengharapkan lebih. Australia bisa begitu memorable bagi saya, karena apa? Karena Australia tidak neko-neko. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Kamis, 02 Mei 2013

What They Don't Talk About When They Talk About Love (2013)


Director: Mouly Surya
Cast: Nicolas Saputra, Ayushita, Karina Salim, Jajang C. Noer
Rate: 4,5/5


Mengapa judul film ini begitu panjang dan terasa buang-buang karakter? Setelah Anda menonton film ini hingga usai, Anda akan mengerti mengapa si empunya film memberi tajuk demikian. Kita tidak akan menduga seperti apa film ini jika tidak membaca sinopsisnya. Dan saya, yang sudah berempati tinggi terhadap film ini dikarenakan latar belakang sineasnya, tidak tau-menau sebelumnya apa yang akan dibicarakan film ini saat kita sedang membicarakan film lain. Film ini mengemuka terlebih dahulu di festival luar negeri, mengambil start yang sangat bagus. Perlahan namun pasti, kesempatan WTDTAWTTAL untuk membuka tabir di layar sinema lokal akhirnya kesampaian, meskipun harus bertarung dengan film-film raksasa dari negeri seberang benua dan beberapa film domestik pesaing lainnya. Mouly Surya, di film pertamanya yang memenangkan Film Terbaik di ajang piala Citra, sekali lagi menyuguhkan sebuah cerita cinta tak biasa, layaknya fiksi. yang juga begitu kelam dalam membahas perihal jatuh cinta tak wajarnya.

Mengupas tema cinta anak remaja mungkin tidak akan ada habisnya, terlebih lagi jika menyangkut poin-poin penting khas keremajaan. Tapi, kita sangat jarang diperlihatkan bagaimana cara orang cacat mental dan fisik dalam memadu kasih. Saat kita didudukan di antara rasa iba dan kagum, kita seperti digambarkan sebuah reklame singkat sebuah dagelan lucu tentang arti cinta dari sudut pandang yang tak biasa. Maaf sekali, saya tidak akan memberikan sinopsis untuk film ini bukan tanpa alasan. Begitu kompleks dan detilnya film ini membuat saya berpikir ulang bagaimana memisahkan sub-plot dalam satu paragraf. Semuanya terasa sangat spesial dan terlalu hambar jika diceritakan begitu lengkap.

Kecekatan Mouly untuk film ini pasti karena adanya observasi terlebih dahulu dan memantau bagaimana 'kaum' mereka berkomunikasi dan mengartikan bahasa satu sama lain. Keterbatasan yang mereka miliki memang condong menjadi santapan menarik untuk sebuah drama penguras air mata, jika saja Mouly ingin bermain ke arah sana. Namun nyatanya, Mouly jauh lebih berani dalam memoles film 'miring'-nya menjadi lebih miring lagi. Menunjuk 3 karakter wanita utama lengkap dengan figuran dan ceritanya masing-masing. Dan hebatnya, (ya, jika kita tidak tau jalan ceritanya), Mouly memberikan kita banyak kejutan, dan seperti yang saya katakan sebelumnya, adegan yang cukup berani dan tragis pun dilibatkan oleh Mouly. Pengertian cinta di film ini sungguh luas, melebar hingga kita tidak tau lagi apa makna tersirat yang ingin disampaikan Mouly. Insting yang membabi buta dari para penyandang cacat fisik tersebut tidak memberi batasan bagi penonton dalam mengartikan cinta yang mereka refleksikan dengan sangat menohok.

Pergerakan kamera yang sangat dinamis, banyak adegan panjang nan kosong, namun juga memberi aura yang ganjil. Penonton akan terusik dan merasa tidak nyaman, namun membekas karena berkat itulah penyampaian Mouly berhasil. Dan yang paling mengesankan adalah akting 3 pemain utamanya yang tampak sangat kuat, solid, dan mengejutkan. Mereka mampu memberikan nyawa kepada karakternya cukup lewat body language-nya saja. Dari sinipun kita bisa menarik kesimpulan, diam itu memang bisa memberikan ungkapan yang sangat universal. Dan tanpa dialogpun, sebuah film mampu berbicara banyak jika memang gerak tubuh tadi bekerja dengan sangat baik.

Bagi mereka, mungkin hidup terasa tidak adil. Dan bagi kita, mungkin merasa bersyukur karena diberikan hidup yang lebih baik dan beruntung. Tapi, dengan cara mereka sendiri, merekapun bisa menemukan apa yang orang normal temukan, walaupun kondisi mengenaskan juga terkadang menyurutkan semangat mereka. WTDTAWTTAL ialah film langka dari segi penceritaan, memiliki pondasi yang kokoh, tidak sembarang memilih pemain, memaksimalkan lokasi yang itu-itu saja, membisingkan adegan tanpa dialog, serta mencairkan kekikukan suasana sekolah luar biasa. Salah satu film terbaik yang pernah saya tonton dari tangan sutradara Indonesia. Tidak membiaskan definisi cinta, namun juga tidak berterus terang dalam mengungkapkan arti cinta yang bersih. Buktikanlah, film ini akan membuat Anda tertegun melihat sebuah sisi lain dari penerjemahan akan cinta dan kasih sayang. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Selasa, 12 Maret 2013

Oz the Great and Powerful (2013)


Director: Sam Raimi
Cast: James Franco, Mila Kunis, Michelle Williams, Rachel Weisz, Zach Braff
Rate: 2,5/5


Tampaknya, selepas dari meraksasakan tokoh komik Spider-Man, Sam Raimi mencoba kembali bekerja keras menelurkan proyek-proyek yang dapat diterima fans maupun penonton awam. Bermula dari menaikkan lagi pamor horor lewat Drag Me To Hell yang menjembatani antara fans dan hater, Raimi mencoba kembali membuka lahan baru yang diharapkan bisa memenuhi kepuasan banyak pihak. Sebelum kita disuguhi Evil Dead yang rencananya akan dibuka layar pada bulan Mei mendatang, Raimi di bawah dukungan Walt Disney, berdongeng bebas dengan efek komputer yang gemuk namun miskin di segi cerita. Mengangkat dunia Oz yang sempat terkenal di eranya, Raimi dengan sentuhan midasnya merakit kembali apa yang pernah ada dengan ramuan-ramuan modern.

Sebagai sebuah filem yang diperuntukkan kepada anak-anak dan keluarga, filem ini bisa dikatakan berhasil memanjakan mereka yang memang mengharapkan paket hiburan di bioskop tanpa memerhatikan keluwesan bercerita. Tentu saja, dengan iming-iming 3D yang benar-benar menyulap layar dengan sangat memesona, Oz the Great and Powerful jelas sangat powerful dalam menciptakan visual dan panorama dunia Oz dan lainnya. Raimi dan seluruh pekerja di sektor ini sudah berhasil memenuhi janji mereka. Berkat bantuan Danny Elfman pun, Oz tampak lebih membahana. Sepanjang filem, music score yang menggema memang sudah pas dalam menyesuaikan berbagai adegan dalam berbagai emosi. Negeri Oz yang sangat berwarna, makhluk-makhluk imajinasi yang tidak akan mungkin kita jumpai di alam nyata, serta tampilan busana-busana mereka yang menyerupai asli, adalah jualan utama filem ini. Meski dari itu, Raimi akhirnya dengan rela menyingkirkan kualitas cerita.

Secara pribadi, filem ini tidak ada kejelasan dalam memberikan alur. Cerita yang mudah ditebak, penokohan yang tidak kuat, dan banyakan lelucon yang gagal yang menyebabkan mengapa saya memberika nilai buruk untuk filem ini. Belum termasuk dengan penampilan aktor-aktor utama yang tidak menaikkan nilai kualitas filem Oz nya sendiri. James Franco seperti yang kehilangan arah mau seperti apa karakternya. Atau bahkan mungkin Raimi sendiri yang kebingungan dalam mengarahkan para aktor mahal ini. Sebagai juru kunci, James Franco tidak memberikan andil yang cukup mapan dalam memerangi apa yang menjadi topik utama di filemnya. Kehadiran Mila Kunis dan Rachel Weisz dalam mengantagoniskan karakter jahatpun tidak mencerminkan apa yang saya harapkan. Beda seperti Charlize Theron yang bisa membuat penonton percaya jika ia adalah evil queen yang tega membunuh orang baik. Apalagi Michelle Williams yang masih ingin terlihat cantik. Oke, perannya di sini memang sebagai puteri jelita, hanya saja niat cantiknya itu malah menutupi perannya di sini sebagai pendamping Oz.

Sekali lagi, Oz adalah produk yang ditujukan langsung untuk konsumen anak-anak ataupun orang dewasa yang menemani anak-anak mereka dalam meramaikan studio bioskop. Dan jelas, anak-anak akan suka dengan wahana yang sedap di mata yang terpampang jelas di filem ini. Hanya saja, Raimi tidak berani melakukan apa yang telah Tim Burton perbuat di Alice in Wonderland yang sukses memarodikan beberapa karakter lucu menjadi sangat menyeramkan. Raimi tidak mengindahkan kesempatan itu dan beliau memilih untuk tetap membuat Oz di garis amannya. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Minggu, 03 Februari 2013

Amour (2012)


Director: Michael Haneke
Cast: Jean-Louis Trintignant, Emmanuelle Riva, Isabelle Huppert
Rate: 4,5/5


Tidak banyak orang yang mengenal Michael Haneke. Dari ruang lingkup yang menyukai filem saja, nama Haneke mungkin masih terasa asing di telinga walaupun karya-karyanya hampir seluruhnya dicap bagus. Bahkan, lewat Funny Games yang sedikit komersilpun, Haneke cenderung masih dipandang kalah terkenal jika dibandingkan dengan Steven Spielberg, Martin Scorsese, dsb.. Haneke tidak jarang bermain dengan dunianya sendiri saat membuat sebuah filem. Keanehan dan kejanggalan yang meliputi cerita maupun adegan lantas membelah penonton menjadi dua, suka dan tidak suka. Keunikan filemnya memang dirasa kurang masuk akal dan seperti membodohi penonton. Namun, itu juga yang menjadi standar kejeniusan seorang Haneke dalam mengelabui penonton agar selalu fokus dengan clue yang menyebar di sepanjang filem. Datang lagi satu filem produksi Perancis yang pertengahan tahun kemarin sempat menghiruk-pikukan jagad perfileman dikarenakan temanya yang kata kebanyakan penonton adalah sisi lain dari seorang Haneke.

Haneke kali ini bermain di ranah drama percintaan. Bukan Haneke jika tidak beda, dan Amour mengambil sudut pandang romansa di usia lanjut. Georges dan Anne, sepasang suami istri yang memasuki masa usia 80 tahunan, memensiunkan diri dari pekerjaan mereka sebagai pengajar musik. Mempunyai anak perempuan yang juga berkecimpung di dunia musik, namun telah menjalin sebuah keluarga dan hidup memisah dengan orang tuanya. Suatu ketika, Anne menderita stroke yang lama-kelamaan membuat sebagian tubuhnya lumpuh dan meminimkan kinerja tubuhnya untuk bekerja dan otomatis membutuhkan perawatan penuh dari sang suami tercinta. Dan di sinilah, kadar cinta George dipertaruhkan. Memberikan perlindungan dan pemawasan kepada Anne, mulai dari hal kecil hingga hal besar semacam kemanjaan Anne yang cenderung seperti anak kecil. Kendati sudah dibantu oleh suster yang merawat Anne seminggu tiga kali, tetap saja pangkuan terbesar hidup Anne ada di tangan George.

Saya harus akui jika filem ini salah satu filem romantis yang pernah saya tonton sebelum akhirnya dibuat tercengang oleh ending dahsyat khas Haneke. Saya tidak akan membicarakan akhir filem ini, saya akan memuji apa yang telah Haneke perbuat hingga menghasilkan Amour yang sungguh cemerlang ini. Patut diwaspadai, Amour banyak mengandung adegan-adegan sepi dan kosong yang cenderung membuat lelah. Namun, jika sudah memasuki dialog, kesunyian tadi terbayar sudah berkat obrolan yang terlihat sangat natural dan dibumbui oleh kapabilitas akting yang juga sejajar naturalitasnya. Amour hanya bermain di sebuah apartemen kecil yang terdapat kamar tidur, dapur, kamar mandi dan ruangan lainnya. Haneke menggunakan jasa lokasi sempit ini dengan sangat efektif. Penonton seperti diajak merasakan bagaimana pedihnya sakit yang dialami Anne dan betapa beratnya beban yang harus diangkat oleh George, terlebih lagi mengingat umurnya yang juga tua dan susah berjalan.

Kepekaan Haneke tidak terbantahkan. Di filem terdahulunya saja ia bisa memaksimalkan set minim dengan penuh dialog berkualitas. Amour pun demikian. Naskah yang amat rapih ini diselaraskan oleh kemampuan akting kelas wahid oleh Trintignant dan Riva. Dua sejoli ini menunjukkan kekuatan akting di atas rata-rata. Believable. Penonton mungkin merasa jika mereka tidak sedang berakting, especially Riva yang dengan supernya merefleksikan seorang pesakitan yang harus menghabiskan waktu di atas tempat tidur. Wajar jika AMPAS akhirnya memberi penghormatan berupa nominasi Oscar. Selain itu, Haneke juga sering memasuki satu-dua adegan yang jauh dari cerita awal. Seperti pas bagian burung yang menjadi simbol terkuat filem ini. FYI saja, poster internasional Amour diambil dari salah satu adegan paling bagus dari filem ini dan mungkin saja salah satu dari sekian banyak adegan romantis, dari sudut pandang yang lebih umum.

Dengan bangga saya sematkan Amour sebagai salah satu filem terbaik yang pernah saya tonton selama ini. Pengeksekusian yang berani dan terlihat kurang ajar dan tidak wajar, membuat Amour memunyai cita rasa yang berbeda di antara filem bertemakan sejenis. Dan memang benar, saat Haneke menerima piala Golden Globe untuk filem berbahasa asing terbaik, dalam pidatonya ia sempat berujar, bagian bawah piala itu adalah dirinya, sedangkan bagian atasnya adalah untuk Trintignant dan Riva. Karena, tanpa mereka, Amour hanyalah semacam cerita klasik biasa. Emosi yang tercurah memang berkat kesuksesan mereka dalam memberikan makna yang lebih dalam kepada filem ini. Kepada makna cinta yang seharusnya tidak akan pernah mati dimakan usia. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Kamis, 17 Januari 2013

Silver Linings Playbook (2012)



Director: David O. Russell
Cast: Bradley Cooper, Jennifer Lawrence, Robert De Niro, Jackie Weaver, Julia Stiles, Chris Tucker, Anupam Kher
Rate: 3,5/5


Langsung saja. Silver Linings Playbook sedikit mengecewakan saya. Dalam artian, filem ini adalah salah satu yang saya tunggu, dan saya berekspektasi besar-besaran terhadap filem ini sebelumnya. Yang membuat saya antusias adalah isu yang mengalir beberapa bulan terkahir di berbagai festival filem yang banyak menganugerahi Silver Linings Playbooks (SLP) kemenangan di kategori akting. Dan betul, filem ini hanya hebat di sektor tersebut, dan sedikit timpang jika membicarakan filem ini secara keseluruhan. SLP tidak ada elemen yang membuat saya akan dengan gampang menontonnya untuk kesekian kalinya. Beda dengan karya Russell sebelumnya, The Fighter, yang walaupun tidak se-happy SLP, namun memunyai daya pikat yang seimbang. Disadur dari novel berjudul sama karangan Matthew Quick, SLP, in my humble opinion, hanya sekedar filem romansa.

Tokoh utama kita, Pat, mantan guru yang baru saja keluar dari rumah sakit jiwa karena mengidap penyakit bipolar order. Berusaha mengembalikkan kembali rumah tangganya yang rusak, Pat dipertemukan secara tak sengaja dengan Tiffany, seorang janda yang juga depresi akibat kematian suaminya dan dibalas dengan perilaku menyimpangnya sehingga menjadi gosip hangat di jajaran masyarakat kota tersebut. Kedua anak Adam yang 'aneh' dan berperilaku menyimpang ini terkoneksi satu sama lain dan melakukan banyak rencana dan perjanjian unik di antara keduanya. Kepulangan Pat awalnya juga disambut dingin oleh sang ayah. Dan berkat penjelasan sang ibu, akhirnya Pat lambat laun diterima dan menerima lingkungannya lagi.

Penggambaran Russell terhadap dua karakter utama yang sakit terbukti mampu mematahkan argumentasi jika filem bertemakan serupa akan jatuh ke tangis-tangisan saja. SLP lebih dari itu, karena secara langsung juga memaparkan refleksi perjuangan dan kisah cinta unik yang harus mereka terima akibat kesalahan mereka sendiri. Hanya saja, hadirnya sub-plot yang seakan dipaksa menyempitkan durasi cerita jelas menjadi titik kelemahan filemnya sendiri. Bagi saya, awal yang manis filem ini seakan dibuat berantakan di pertengahan, yang untungnya kembali digenjot lagi di akhir filemnya. Penafsiran yang bersifat semu memang akan sangat sulit diterima oleh penonton pada umumnya. Harus diakui filem ini memunyai cerita yang unik, gaya penyutradaraan Russell dengan memasukkan karakter-karakter disfungsional juga tak kalah hebat.

Masuknya nama Bradley Cooper beserta tiga aktor lainnya di bursa Oscar jelas prestasi tersendiri untuk filem ini. Jackie Weaver dan Robert De Niro sebagai pendukung main sangat efektif, namun jika untuk sampai di barisan penerima piala, Weaver tidak sekarismatik sebagai ibu seperti yang ditampilkan Melissa Leo di The Fighter. Jennifer Lawrence dengan ajiannya sukses mengelabui dan membuai penonton dengan akting naturalnya sebagai janda yang gila seks. Tatapan serta intonasi dialog yang ia lakukan tersirat dengan amat meyakinkan. Dan, Bradley Cooper, dia bermain bagus, tidak seperti biasanya. Ketotalannya menjadi pria delusional dan optimistik ditransfer dengan baik, hanya saja performanya terlihat masih standar jika harus bersanding di deretan nominator Best Picture Oscar. Bagi saya masih banyak aktor lain yang kemampuannya jauh di atas Cooper. Titik balik Chris Tucker boleh dibilang sebagai permulaan yang menggembirakan karena tidak asal memilih filem yang akan dibintanginya.

SLP pada akhirnya bercabang menjadi dua tema yang keduanya sama-sama menarik. Sebuah filem komedi yang dibalut dengan percintaan pasangan berumur dan sudah memiliki pengalaman dalam membangun rumah tangga sebelumnya. Beberapa adegan yang mudah sekali ditebak memang membuat filem ini berkurang unsur teka-tekinya. Dipenuhi dengan empat aktor mapan yang sukses bekerja sama membentuk kesatuan akting yang apik, SLP menjadi tontonan berkualitas tetapi tidak untuk ditonton berulang-ulang. Setidaknya, semoga ini menjadi pembuktian Russell dalam berkomitmen secara serius untuk menghasilkan karya yang benar-benar mampu dipandang kedua mata oleh kritikus. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Senin, 07 Januari 2013

Weekend (2011)


Director: Andrew  Haigh
Cast: Tom Cullen, Chris New, Jonathan Race, Laura Freeman
Rate: 4/5


Yang katanya cinta itu bersifat universal memang sangat benar, tapi jika melihat dari sudut agama, percintaan sesama jenis nyatanya tidak dibenarkan. Untuk lebih bijaknya, saya tidak akan menyerempet masalah ini lewat unsur agama. Katakanlah, filem ini akan dijauhi oleh para homophobic dan penonton awam yang mencari unsur 'menyenangkan' dari sebuah filem. Namun, jika kita sedikit membuka mata dan menelah Weekend lebih dalam, ada pesan manis yang terselubung di sini. Bukan sebagai pandangan yang kabur antara para homo (gay/lesbian) tapi sebagai cinta yang menyeluruh. Weekend yang heboh di seantero festival yang diikutinya, menjelma menjadi salah satu filem indie segmented yang memunyai sejuta makna. Tidak terus-terusan membuka tabir kasih sayang terlarang.

Weekend adalah semacam maklumat dari sutradaranya dan target yang ditujunya adalah penonton yang memiliki kecenderungan yang sama dengan karakter di Weekend. Pernah kita merasakan kehilangan seseorang yang sangat kita sayangi? Atau bertemu seseorang yang sangat mengerti kita sehingga kita susah untuk melepaskan diri dari hidupnya? Hal inilah yang diutarakan Andrew Haigh dan menjelaskan dengan padat berisi metafora yang terjalin kuat antara Russell dan Glen yang bertemu di sebuah gay bar dan selanjutnya menjalin hubungan layaknya sahabat-sayang-sahabat. Hingga suatu ketika, mereka berdua harus merasakan takdir Tuhan, dipisahkan oleh keadaan yang mereka sendiri tidak sanggup menolaknya.

Cerita filem ini sungguh kokoh. Sepanjang filem, kita akan temui uraian singkat penuh sarat makna yang menjelaskan keluh kesah mereka sebagai gay. Naluri yang telah tumbuh semasa kecil hingga hukum bullying yang harus mereka terima. Weekend tidak serta merta menghasut bahkan menulari benih 'kelainan' mereka kepada penonton. Seperti yang saya katakan sebelumnya, filem ini mengambil jalur yang lebih terbuka. Tumpuan personal yang memang sangat melekat dijabarkan dengan santai tanpa menghilangkan kesan dramatis romantis. Pencarian jati diri pada salah satu karakter juga tergambar dengan amat jelas. Dirangkai dengan sangat indah oleh sinematografi yang cantik. Sudut-sudut saat mereka merenung hingga memadu birahi tersorot dengan tegas. Percakapan yang terjalin juga ditangkap tanpa keklisean yang biasa terjadi di filem-filem serupa.

Sebenarnya, filem ini sedikit kurang dieksplor. Ada kala saat Glen merekam aktivitas Russell dan sebaliknya, sebaiknya dimatangkan lagi. Padahal, mereka berdua memiliki cara pemikiran yang berbeda yang seru untuk dikomentari lebih jauh. Cara Haigh ini sebenarnya mujarab untuk mengintenskan drama dan emosi lebih kuat lagi. Walaupun demikian, tanpa adegan tersebut filem ini juga sudah kelewat kokoh berkat narasi dan dialog yang sangat menggigit.

Saya tidak akan merekomendasikan filem ini. Biarlah pembaca review ini yang mencari sendiri keunggulan Weekend. Berbagi kepedihan dan kebahagian kepada orang yang kita sayangi kadang kala membuat sebagian dunia kita yang dulu meredup seakan terang kembali. Kedua tokoh filem ini mengalami fase itu. Namun, part saling tinggal-meninggali memang tidak ingin terjadi di kehidupan kita. Sekalipun jika kita harus membelokkan goresan tangan Tuhan. Kesulitan Russell dan Glen menanam, memupuk, merawat, dan memetik hasil cinta mereka mungkin sulit untuk direalisasikan. Tapi kejujuran mereka terhadap satu sama lain dan juga kepada orang di sekitar mereka, hal inilah yang sepatutnya dihargai. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Kamis, 03 Januari 2013

Upside Down (2012)


Director: Juan Diego Solanas
Cast: Jim Sturgess, Kirsten Dunst, Heidi Hawkins
Rate: 3,5/5


Kirsten Dunst akhir-akhir ini sering membuat kejutan dengan bermain di berbagai genre filem. Menyengat tanpa ampun lewat Lars von Trier's Melancholia, ceria lewat Bachelorette, dan sekarang mengejar cinta di tema science-fiction garapan sutradara kurang terkenal, Juan Diego Solanas. Tidak ada yang salah dari Kirsten Dunst saat ia merapalkan mantranya dan bermain dengan sangat bagus di beberapa filem yang ia perankan. Hanya saja, kadang performa baiknya hanya dipandang sebelah mata. Transformasinya sebagai Marie Antoinette jelas menunjukkan kredibilitasnya sebagai seorang aktris. Ia berhasil memberi nyawa ke sosok ratu tengil tersebut. Watak depresinya di Melancholia pun juga hanya bergaung di sekitaran Cannes tanpa sedikitpun juri Oscar memberi muka. Dunst tinggal menunggu waktu dan proyek penting agar ia bisa disejajarkan ke dalam rombongan aktris yang tak hanya berparas ayu juga memiliki tingkat akting yang tinggi. Dengan muka-tak-pernah-tua-nya, Dunst acap kali memperoleh tokoh yang memang diperuntukkan untuk kaum muda, seperti misalnya di Upside Down ini.

Konon, diceritakan adanya dunia terbalik. Jauh dari bumi, terdapat kehidupan atas dan bawah yang juga memeliki jembatan strata di antara keduanya. Kehidupan down below dicap sebagai kaum miskin sedangkan dunia up above disinyalir sebagai komunis sejati dan contoh kehidupan masa depan yang cemerlang. Bertemulah sepasang anak manusia dari dua belahan dunia tadi. Mengambil kesempatan untuk mencapai puncak masing-masing medium. Suatu hari, kelakuan mereka diendus opsir dan menyebabkan bencana awal yang mereka tak bisa hindari. 10 tahun kemudian, sosial up above berkembang pesat dan para pekerja down below rebutan untuk mendapat posisi di Transworld. Penemuan Adam ternyata dikejar oleh pihak Transworld. Adam sedang bereksperimen untuk menyeimbangkan dunia atas-bawah agak bisa berkonsolidasi tanpa ada sekat gravitasi. Pun dengan tujuan utamanya untuk menemukan cinta lamanya yang hilang tak berbekas.

Buat sebagian orang, filem ini sangat-sangat menjengkelkan. Jengkel kenapa, karena cerita filem ini teramat sangat lemah. Sayapun tidak bisa menyangkal fakta itu. Upside Down jatuh bebas karena ceritanya yang sangat mudah ditebak dan terkesal konyol kalau tak mau dibilang tidak masuk di akal. Separuh awal filem ini hanya bermain di zona aman masalah cinta, ambisi, dan kembali ke cinta. Namun, poin plus Upside Down adalah visual yang sangat memanjakkan mata dan imajinasi. Bagaimana sang kreator beserta parlemen efeknya membuat 2 dunia menjadi sangat nyata dan unik. Komposisi kedua belah pihak dan labirin yang berbeda pun terbilang orisinil. Kendati filem ini sangat anti klimaks dan persoalannya tidak begitu pelik dan rumit, sang sutradara juga tidak kikir memberikan kesan indah di sela-sela keminiman budget-nya. Skrip yang lemah memang akan menjadi batu sandungan buat filemnya sendiri, mungkin itu juga yang membuat Upside Down tidak begitu kedengaran gaungnya.

Jim Sturgess, peranakan British yang masih dianak-tirikan di Hollywood berhasil mengubah tampilannya menjadi anak yang tengil dan nakal. Namun, juga berhasil menampilkan sosok pekerja keras serta pria kikuk di depan wanita. Dunst justru yang tidak berubah secara drastis. Perannya sebagai Eden tak ubahnya saat ia menjadi Mary J. Watson. Untunglah, saat dipadukan dengan Sturgess, keduanya berhasil memberikan kesan nyata jika mereka memang sedang dihujam rindu. Andai Upside Down diberikan jeda sedikit lagi untuk bisa diperbaiki, mungkin saja Upside Down akan jadi sesuatu yang baru dan epik untuk sektor filem bertemakan fiksi.

My verdict, Upside Down akan menjadi salah satu filem terfavorit saya sepanjang masa. Tidak demikian bagus, tapi pencitraan yang telah dibuat dengan amat menawan berhasil menghipnotis saya dan memberi arti yang lebih luas akan optimistis dan raihan cinta yang didapat. Konklusi yang tidak sepadan dengan visualnya yang menyebabkan Upside Down lagi-lagi menambah deret panjang filem Kirsten Dunst yang dipandang sebelah mata. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 22 Desember 2012

The Perks of Being A Wallflower (2012)


Director: Stephen Chbosky
Cast: Logan Lerman, Emma Watson, Ezra Miller, Paul Rudd, Joan Cussack
Rate: 4/5


Masa lalu memang paling enak untuk diungkit, terutama pada kenangan-kenangan yang masih bermotifkan cinta dan sahabat. Kadang kala, apa yang telah kita perbuat bisa dijadikan bahan renungan dan imajinasi serta acuan untuk berbuat lebih baik lagi. Dan entah kenapa, menonton The Perks of Being A Wallflower seperti memutar kembali memori saya ke tahun ketika saya masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Tempat di mana saya mengenal betul bentuk seorang teman, mencicipi hasrat anak muda dalam bercinta, serta menimbulkan keonaran serta memunyai rahasia besar yang tidak ingin orang lain mengetahuinya. Bernostalgia lewat film adalah salah satu cara paling indah, apalagi film ini disuguhi dengan cerita yang sangat remaja sampai-sampai lagu pengisi filmnya pun bernafaskan anak muda sekali.

Logan Lerman memerankan tokoh geek and jerk di sekolah barunya. Melewati masa kelam di mana menjadi bahan olokan membuat ia semakin minder dengan posisinya di bangku SMA. Sebagai wallflower, akhirnya ada seorang guru yang membaca bakatnya untuk menjadi seorang penulis. Tak lama, Charlie berteman dengan Patrick dan Sam, kakak beradik tiri yang juga menjadi partner di kelasnya. Hidup Charlie mulai berubah terlebih dengan begitu eksistensinya terlihat oleh teman-teman yang lain. Di perjalanan persahabatan mereka, fase menyebalkan kembali muncul saat percintaan tak seimbang hadir di tengah mereka. Cinta terlarang yang juga menjadi bumbu film ini semakin meningkatkan dan menguatkan cerita serta blunder kekecewaan di masa remaja. Ending yang sangat indah menambah keistimewaan film yang diangkat dari novel berjudul sama ini.

Yap, film ini disadur dari sebuah novel karangan Stephen Chbosky yang juga menyutradarai dan membuat naskah untuk film ini. Peran banyak Stephen untuk film ini berkhasiat sekali. Ia seakan tau apa yang harus diperbuat dalam mengimplementasikan tulisan di karya sastranya. Dan memang benar, hasil akhir film ini menjadi kuda hitam dan diperbincangkan di ajang-ajang perfilman manapun. Semangat keremajaan yang dirangkai sangat manis memang menjadi kekuatan utama filmnya. Propaganda dalam hubungan sejenis dan tak sejenis sebagai bab penyedap untuk dieksploitasi semaksimal mungkin. Menggunakan sudut pandang  orang pertama, film ini memang terasa sangat hidup. Kemudian adalah porsi tata busana yang menghiasi layar sepanjang film. Sangat pas di jamannya walaupun kita tidak diberi tahu secara eksplisit kapan film ini mengambil seting waktunya.

Film ini beruntung memiliki aktor-aktor muda berbakat yang berhasil menghidupi peran mereka masing-masing. Logan Lerman sebagai tokoh utama sekaligus narator sukses menjiwai karakternya sebagai seorang yang geeky dan linglung dalam bersosialisasi. Emma Watson yang sudah melepas almamater Hogwarts-nya pun berhasil menjadi yang tercantik di film ini berkat akting dan pesonanya. Namun, tanpa mendiskreditkan keterlibatan aktor lainnya, penampilan yang paling berkesan muncul dari seorang Ezra Miller. Sehabis membantai keluarga di filmnya terdahulu, Miller merubah watak menjadi seorang yang sangat berbeda. Bahkan, di film ini akting Miller dipuji dan mampu bersanding dengan aktor-aktor besar lainnya untuk ikut di ajang-ajang film pra-Oscar belakangan ini. Kolaborasi mereka melengkapi film ini secara keseluruhan. Persahabatan yang niscaya akan membuat penonton kembali ditarik ke masa lalu. Begitu manis dan memukau.

Cukup memuja film ini, dan susah mencari kelemahan dari film ini. Kemampuan bercerita yang jauh dari kesan mendikte di film ini adalah alasan kuat mengapa film ini menjadi sangat mudah diterima penonton di seluruh dunia. Aura positif di segala aspek telah berhasil memberi nilai bagus untuk film ini di bawah kepemimpinan sutradara yang masih minim di dunia penataan kamera ini. Quote manis dari film ini: We accept the love we think we deserve, memang kunci dari film ini. Memaknai cinta yang pantas kita dapat dan layak kita cintai.  Jika tahun lalu Flipped muncul dan mengejutkan karena temanya yang unik, tahun 2012 ini kita punya The Perks of Being A Wallflower dengan tingkat kematangan yang pas dan layak dikonsumsi siapa saja. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Habibie & Ainun (2012)


Director: Faozan Rizal
Cast: Reza Rahardian, Bunga Citra Lestari
Rate: 3,5/5


Sebagai seorang presiden, bohong sekali rasanya jika masyarakat Indonesia ada tidak mengenal sosok B.J. Habibie. Sebagai orang yang pertama kali mencetuskan dan memroklamirkan pembuatan pesawat terbang dan teknologi lainnya, Pak Habibie patut dijadikan contoh nyata bagaimana superioritas sebuah bangsa adalah bagaimana tokoh besar di belakangnya. Masa kepemimpinan Pak Habibie dengan rentang waktu yang sebentar memberikan sedikit gambaran bagaimana nahasnya negara ini pada waktu itu. Pak Habibie dengan begitu gentarnya berupaya sekuat tenaga untuk kepentingan negeri ini, sekalipun mesti mengorbankan dirinya sendiri. Panutan yang berharga. Kehidupan rumah tangganya yang berjalan sempurna bersama ibu negara, Ainun, bahkan bisa dijadikan contoh untuk sebuah realita percintaan yang memerdekaan kebersamaan dalam kondisi apapun.

Love story antara Habibie dan Ainun inilah yang menjadi fokus utama film garapan sutradara baru, Faozan Rizal. Menyadur dari buku yang ditulis sendiri oleh Pak Habibie yang berisikan kumpulan-kumpulan hidupnya dengan sang istri tercinta, buku tersebut menjadi best-seller di tahun perilisannya. Dan beberapa tahun kemudian, salah satu sineas muda kita yang dibentengi oleh sosok Hanung Bramantyo di belakangnya, buku semi-otobiografi tersebut mengemuka di layar lebar. Siklus cinta itu dimulai dari bagaimana Habibie dan Ainun di satu sekolah, kemudian mengenal cinta ketika remaja. Memadu janji di sebuah becak, dan akhirnya membina silsilah kecil sembari mengerjakan proyek di negara seberang benua.

Jujur, harus diakui film ini mengandung banyak pesan bergizi yang diutarakan langsung ke pemuda pada khususnya dan kepada seluruh rakyak ini pada umumnya. Keberhasilan Habibie dalam menyejajarkan dirinya di lapisan orang-orang atas dan pembinaan kerukunan rumah tangga diimplementasikan dengan sangat baik oleh sutradara kita. Fase reformasi yang mengharuskan beliau menjabat menjadi presiden, meringkuh di tengah penyakit TBC-nya, menomor duakan jalinan keluarga, memang mengajarkan kita untuk menjadi sosok bertanggung jawab di mata masyarakat. Pergolakkan kinerja Habibie yang terus-terusan dirudung masalah terkait politik suap-menyuap juga mewarnai kehidupan beliau. Tapi, walau bagaimanapun juga film ini menyorot sepenuhnya akan perjalanan cinta beliau dengan sang istri hingga akhirnya harus ditinggal pergi karena penyakit kanker ovarium yang didera Ibu Ainun.

Inilah negara kita, berlian paling mahal semacam Pak Habibie harus memutar arah ke negara orang lain terlebih dahulu untuk bisa diakui di tanah kelahirannya sendiri. Krisis percaya diri dan kekurangan audiens dalam berkarya memang menjadi dasar mengapa negeri kita akhirnya jalan di tempat di dalam hubungan bilateral internasional. Belum lagi dengan kecakapan para politikus tak bermoral yang menyalip dan menyulap uang untuk kepentingan pribadi. Fragmen ini bukti nyata, dan dalam film Habibie & Ainun walaupun dipersempit dengan durasi yang hanya kurang lebih 2 jam saja, masih bisa diperlihatkan betapa kotor dan culasnya negara ini. Faozan memanfaatkan momen ini dengan menyisipkan beberapa rekaman asli pemerintahan pada zaman itu. Mengubah perkotaan menjadi sangat kuno, sayangnya pada kesempatan adegan di Jerman, kepalsuan sangat jelas terlihat. Andaikata adegan salju itu tersebut tidak dipaksakan ada, pasti kenyamanan menonton akan lebih sempurna.

Sama halnya dengan dipaksakannya kemunculan para sponsor di sepanjang film. Hadirnya bedak merek terkenal, cokelat yang dimodeli Nikita Willy, dan lain sebagainya itu memang sangat merusak citra film ini secara keseluruhan. Bagaimana film yang sedari awal sudah dibuat semanis dan senyata mungkin harus dicoreng dengan para 'bintang tamu' tadi. Sangat disayangkan. MD Pictures selaku yang membiayai film ini sepatutnya tidak berlaku egois hanya karena kepentingan uang semata. Sebuah karya yang dicampur tangani oleh materi memang akan melemahkan nilai karya tersebut. Contohnya film ini. Musik yang mengalun indah dibekali akting yang luar biasa dari Reza Rahardian di film ini berujung hanya lucu-lucuan belaka.

Yah, Reza Rahardian berhasil menempatkan dirinya di posisi yang serba beruntung. Dipilihnya Reza sebagai perwakilan layar Pak Habibie bukan tanpa alasan dan bukan tanpa hasil. Mengingat ia adalah satu aktor muda berbakat yang sudah memainkan banyak peran beda, kehadirannya di sini memang sangat dibutuhkan. Gesture dan body language yang sempurna serta cara berbicara yang sangat Habibie sekali terbukti menenggelamkan penonton untuk merasakan dawai film ini. Tapi, ketika harus berbagi frame dengan Bunga Citra Lestari selaku pemeran Ibu Ainun, kolaborasi mereka terasa sangat tidak kena. Bunga masih ingin terlihat cantik dan egois walaupun dalam keadaan tua renta. Make up saat Ibu Ainun pada masa pesakitan tidak terlihat dengan jelas. Tidak ada dari wajah Bunga yang membuat saya percaya jika ia sedang berakting. Ibu Ainun di tangan Bunga seperti satu masa satu umur dengan anak-anaknya.

Kendati banyak minus yang tersebar dari film ini, bukan berarti sisi positifnya menjadi hilang tak berarti. Film ini masih memiliki pesan moral yang tinggi. Memang sangat disayangkan, jika poin kritis tadi bisa diminimalisir dengan bijak, pasti Habibie & Ainun akan terlihat lebih kokoh tanpa memandang bulu jika ini film buatan sutradara minim pengalaman. Dan satu hal lagi, Pak Habibie telah menerbangkan negara ini ke kancah internasional dalam menelurkan teknologi yang jarang ditemui oleh anak bangsa untuk ukuran zaman tersebut, dan zaman sekarang. Seperti hanya ia menerbangkan pesawat terbang rangkaiannya yang menjadi tolak ukur sebuah kecerdasan hingga sekarang. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 08 Desember 2012

The Hunger Games (2012)

Director: Gary Ross
Cast: Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Liam Hemsworth, Stanley Tucci, Wes Bently, Elizabeth Banks, Woody Harrelson, Toby Jones
Rate: 2,5/5


The Hunger Games muncul sesaat sesudah usainya saga Harry Potter dan sebelum tamatnya franchise Twilight. Sebuah start yang bagus mengingat kedua seri besar itu harus dilanjuti dengan waralaba yang diharapkan bombastis juga. Tidak banyak novel berseri yang akhirnya sukses menjamu fans dan penonton awam ketika diangkat ke media film, seperti Eragon dan The Golden Compass misalnya, yang kelanjutannya masih berupa hembusan angin. Seperti mengikuti jalur seniornya, The Hunger Games yang di novelnya ditujukan ke pembaca remaja, versi filmnyapun ikut-ikutan dibuat seaman mungkin untuk menarik banyak peminat dan dilabeli PG-13 saja. Untuk beberapa sektor, ide yang jitu melihat box office filem ini yang lumayan saat masa edarnya. Namun, untuk beberapa kondisi dan keperluan film, rating PG-13 tadi malah menjadi kendala mengapa filmnya menjadi sangat kekanak-kanakan.

Sekumpulan anak dari berbagai distrik di suatu jaman distopian, diharuskan mengikuti kontes musiman yang diselenggarakan panitia setempat dan kru tv untuk saling menyelamatkan diri di lokasi hutan yang sudah dipersiapkan. Mereka 'wajib' saling bunuh jika ingin menjadi pemenang tunggal. Adalah Katniss Everdeen yang menggantikan sang adik yang awalnya terpilih secara acak untuk mewakili daerahnya bersama pasangannya Peeta. Katniss harus rela meninggalkan keluarga dan sahabatnya, Gale, untuk ikut serta di turnamen kematian tersebut. Singkat cerita, selama masa survival in the woods itu para kontestan saling baku hantam, dan menyisakan beberapa orang saja, termasuk Katniss dan Peeta. Perjuangan mereka dengan segala trik dan ide untuk menyambung nyawa berujung sebuah kebahagiaan yang kita (penonton-red) sudah tau bagaimana akhir film ini. Happy ending!

Sebagian besar film ini mengingatkan saya kepada film fenomenal Battle Royale yang memiliki rating 'Dewasa'. Dan memang di situ kandungan thriller-nya sangat kental. The Hunger Games, alih-alih ingin menyamakan (walaupun si penulis novelnya tidak berniat demikian) unsur yang ada di Battle Royale, adegan kekerasannya serba tanggung. Suzanne Collins selaku novelis yang bertanggung jawab atas ceritanya sudah memberikan permulaan untuk dieksekusi Gary Ross sebaik mungkin. Sayangnya Ross terlalu berpatokan pada pasar. Tidak ada ketegangan saat melihat tokoh utama kita lari-larian menyelamatkan diri dari berbagai serangan dari musuh. Nihil adrenalin yang diciptakan. Apalagi adegan aksi di film ini terlampau sedikit mengingat durasi film ini lebih dari 2 jam. Drama untuk satu jam pertama saya nilai terlalu berlebihan, apalagi jika cuma diisi hal-hal kosong yang tidak bergitu penting.

Set dekorasi film ini juga tidak mengisyaratkan jika film ini dimaksudkan untuk menjadi waralaba besar. Pesona hutan dan 'kantor' para kru dibuat begitu saja. Poin plusnya, kostum dan make-up film ini diperhatikan dengan cukup baik sampai-sampai ingin tertawa saat melihat Stanley Tucci dan Toby Jones dengan dandanan seperti itu. Gary Ross juga pelit menyelipkan adegan-adegan berani serta dialog yang bisa membangun semangat penonton. Untung saja film ini memakai jasa Jennifer Lawrence. Aktris muda yang sudah diakui bakat aktingnya ini sukses membawa peran pahlawan dadakan seorang Katniss. Kepiawaiannya dalam memanah dan aksi bak-bik-buk cukup membuat kita percaya jika ia seorang hero. Sisa aktor lainnya tidak begitu bermasalah kendati tidak ada satupun dari mereka yang bermain total bagusnya.

The Hunger Games mungkin tidak tujukan sejauh seperti saya utarakan di atas. Walau bagaimanapun juga film akan terasa buruknya jika diolah dengan serba kekurang-matangan di departemen apapun yang melengkapinya. Jika Ross ingin serius membesarkan novel berseri ini, Catching Fire harus lebih berkualitas dari ini. Ingat, The Hunger Games bukanlah Twilight yang memunyai banyak komponen majis di dalamnya. Jika harus menaruh beban di pundak Jennifer Lawrence seorang, The Hunger Games ujung-ujungnya akan jatuh di penilaian yang sama. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Jumat, 07 Desember 2012

Hope Springs (2012)


Director: David Frankel
Cast: Meryl Streep, Tommy Lee Jones, Steve Carell
Rate: 2,5/5


Meryl Streep (dengan 3 piala Oscar yang telah diraihnya) adalah salah satu dari sekian banyak aktris yang di usia senjanya masih menapakkan karir di dunia showbiz Hollywood. Tancapan bakat aktingnya dalam mengisi setiap film yang ia lakoni acap kali berakhir pada sebuah nominasi di ajang-ajang perfileman manapun. Dengan segala sertifikat terbaik yang pernah diterimanya, bukan berarti Streep tidak pernah terpleset di lini karirnya. Walaupun aktingnya sudah bagus, kesialan jatuh pada naskah film yang serba lemah, seperti saat ia memerankan seorang Margaret Thatcher di The Iron Lady dan di film terbarunya sekarang, Hope Springs. Film ini dibuat oleh David Frankel yang pernah sekali bekerja sama dengan Streep di The Devil Wears Prada, peran ringan yang mampu membawa Streep kembali bercokol di deretan nominator aktris terbaik. Sayangnya, di kerja sama mereka yang kedua ini malah terkesan biasa saja kalau tak mau dibilang jelek. Tidak istimewa apalagi bernafaskan festival.

Dari segi cerita saja mungkin film ini sudah terkesan segmented walaupun tujuan Frankel pasti mengharapkan tema ini akan bersifat universal. Sepasang suami istri yang telah memasuki masa pubertas kedua sedang dilanda masalah percintaan. Kay (Streep) dan Arnold (Lee Jones) terpaksa pisah ranjang tapi tetap satu atap hanya karena keduanya tidak lagi memiliki gairah satu sama lain. Walaupun Kay bersikeras menyatukan kembali hubungan keduanya, namun Arnold tetap pada pendiriannya untuk menjalani hidup seperti saat ini. Kay yang jenuh memutuskan untuk mengikuti pola kisah cinta ke Dr. Feld (Carell). Perjalanan rumit keduanya untuk menemukan kembali romantisme yang hilangpun dimulai.

Sayangnya, aktris sekaliber Meryl Streep dan Tommy Lee Jones pun tidak bisa menyelamatkan film ini lebih jauh lagi. Kapasitas naskahnya yang sudah melemah dari awal menjadi tersangka utama mengapa film ini kehilangan tajinya. Tidak susah untuk menjustifikasi film ini sebagai salah satu film terjelek aktor-aktor dedengkot itu. Bandingkan saja performa Streep di film ini dengan di It's Complicated yang serupa dan sama ringannya. Bedanya, It's Complicated lebih terarah dan tidak membuat Streep terkesan konyol. Dan memang iya, Steve Carell dengan peran anti-slapstick-nya di sini semacam isu baru. Melihat track record-nya yang sejenis, peran kalem bijaksananya di sini seperti terobosan singkat. Kita tidak akan melihat muka karetnya, yang ada bagaimana ia merespon dan memberi saran motivasi untuk pasiennya dengan amat santai. Hmmm, Carell memang tidak pernah mengecewakan.

Seperti yang saya bilang, film ini tidak memiliki komponen penting yang membuat filmnya menjadi layak ditelaah lebih jauh. Frankel yang sudah makan asam garam di sektor penyutradaraan beberapa episode serial tv dan membuat Streep seperti 'setan busana' di The Devil Wears Prada, tidak meneruskan keberuntungannya saat mengolah naskah yang ada. Kinerjanya saat memadukan Streep dan Lee Jones tidak terasa efektif. Frankel tidak berusaha membuat permasalahan sang tokoh utama terasa believable. Walaupun film dibuat semanis dan sekocak mungkin, tetap saja jatuhnya kasar dan sedikit melecehkan kaum tua. However, film ini juara di penggarapan musik dan pemilihan lagu-lagu pengiring. Beberapa judul lagu yang mengalun memang pas dengan suasana adegan dan mendukung atmosfer film menjadi lebih sedu sedan.

Frankel, jika saja tidak terlalu pongah karena memiliki 3 nama besar di filmnya, kemungkinan besar akan fokus kepada narasi film. Sialnya, aktor mumpuni saja tidak cukup untuk menyelaraskan sebuah film. Banyak contoh mutlak bagaimana sebuah film diisi aktor-aktor mapan dalam berakting, jika penggarapannya tidak maksimal tetap saja akan menjadi bual-bualan kritikus. Frankel dengan bijak memaksimalkan kerja kerasnya, tapi dia lupa jika penonton -apalagi temanya sangat orang tua sekali- dewasa tidak hanya sekadar mau diceremahi tapi juga diajak berdiskusi bersama setelah menonton filmnya. Yah, persoalan seks di film ini terlalu sensitif bagi orang tua seumur mereka. Apalagi film ini bukan konsumsi satu wilayah negara saja. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Selasa, 20 November 2012

Breaking Dawn part. 2 (2012)


Director: Bill Condon
Cast: Kristen Stewart, Robbert Pattinson, Taylor Lautner, Michael Sheen, Dakota Fanning, Peter Facinelli, Elisabeth Reaser, Ashley Greene, Jackson Rathbone
Rate: 3/5


Akhirnya, saga akbar ini tiba di pemberhentian terakhir. Euforia luar biasa yang dimulai sejak novel buatan Stephanie Meyer, Twilight rilis, akan hilang gemanya seiring waktu berjalan. Saya akui kemunculan Twilight tempo hari memang kelak akan menjadi sefenomenal sekarang. Dan sekarang terbukti, entah sudah berapa milyar dollar pundi-pundi yang dihasilkan seri ini dan menggembungkan tabungan PH kemarin sore, Summit Entertainment. Summit yang kian raksasa berkat saga ini urung gulung tikar. Judi yang menguntungkan. Dan mungkin karena isi Twilight yang sungguh kewanitaan pula lah yang membuat kelima filmnya digandrungi dari seri ke seri. Penghasilan tak pernah merosot dan para aktornya pun kecipratan tenar. Namun apa daya, di luar itu semua dan bila harus jujur, saga ini hampir tidak pernah memiliki kualitas di atas rata-rata. Mulai dari cerita yang biasa saja, pengeksekusian yang kurang maksimal, hingga permainan tanpa ekspresi dari para pelakonnya.

Di bab baru ini, Renesmee mangalami pertumbuhan yang sangat signifikan hingga menjadi rumor sedap bagi para bangsa Volturi yang tidak setuju adanya kaum imortal. Bella Swan dan suaminya, Edward Cullen mencoba menomorsatukan keselamatan anaknya dengan berbagai cara. Dibantu para keluarga Cullen dan mendapatkan sokongan dari klan werewolf, kubu si baik ini menjadi tambah kokoh. Kehausan grup Volturi yang dipimpin Aro semakin tinggi. Mencoba mencari kebenaran  isu dengan meminta bantuan kepada Alice, rombongan vampir berjubah ini menabuh genderang perang dan memaksa secara halus kepada para koloni untuk menyerahkan Renesmee.

Yang menyenangkan dari saga ini adalah pemilihan lagu pengiring yang nantinya akan mengisi album soundtrack-nya. Mulai Twilight hingga film kelima ini semua diisi oleh penyanyi terkemuka lengkap dengan lagunya yang membius masyarakat luas. Tapi tetap saja yang akan saya nilai adalah keseluruhan film ini. Paruh awal di mana saat Bella 'belajar' menjadi makhluk baru dan keintiman dengan suaminya jujur saja adalah saat-saat terlemah dari film ini. Tempo yang lamban tanpa ada adegan yang menarik bisa jadi akan melumpuhkan film ini secara utuh. Naskahpun terbilang buruk, tanpa adanya dialog berbobot. Walaupun secara singkat kita dijabarkan begini begitu namun tetap saja pembawaan Bill Condon yang terlalu fokus malah terpecah ke mana-mana. Kemunculan karakter baru juga patut diadili secara bijak. In frame seadanya mereka malah membuat penonton bingung ini siapa dan itu siapa. Kendati begitu, penata kamera film ini sudah berjasa besar. Tanpa tangan midas Navarro, niscaya kamera dengan mudah menangkap visual yang sangat cantik dari film ini. Landscape gunung, lahan bersalju bahkan saat adegan puncak diperhatikan dengan sangat baik.

Kita kenal Bill Condon berkat film-film berkelas Oscarnya. Menulis skrip Chicago dan menyutradarai Dreamgirls sedikit banyak memberikan pengalaman baginya untuk memoles Breaking Dawn part. 2 terlihat bagus. Bill Condon belajar dari bagian 1-nya yang condong ke arah buruk, dan oleh sebab itu di sini ia mencoba menetralisir dan duduk di tengah-tengah. Menyenangkan pecinta Twilight dan memberi semangat baru bagi yang kurang suka seri ini. Adegan puncak dibuat sedramatis dan seepik mungkin. Walaupun kurang 'berdarah', namun yang pasti kejutan di akhir film adalah salah satu penutupan yang sangat menakjubkan yang pernah ada. Penonton dibuat terperangah. Semula adrenalin yang dibuat kencang seketika umpatan-umpatan kasar yang keluar saat twist itu muncul.

Sayangnya, lagi-lagi saga ini tidak memberikan luapan emosi lewat ekspresi. Semua aktor bermain canggung seperti biasanya. Bahkan chemistry Pattinson - Stewart tidak seromantis film-film drama percintaan kebanyakan. Mungkin Michael Sheen yang terlihat serius bermain film ini, Dakota Fanning yang mendapatkan dialog satu kata cukup bisa memberi arti talentanya cuma lewat bantuan mimik muka. Selebihnya, kita  hanya diberikan audio visual yang cantik, bukan lewat bakat alami aktornya. Ketutupan make-up mungkin.

Breaking Dawn part. 2 memang tidak semeriah itu, film ini justru masih banyak kelemahannya apalagi di sektor pengembangan cerita. Tertolong kecanggihan Bill Condon dalam mengolah epic battle, yang secara tidak langsung menaikkan derajat Twilight bagi golongan twihater (begitulah orang-orang menyebutnya...). Dan senang rasanya mejadi saksi penutupan sebuah seri dengan hasil akhir yang memuaskan. Layaknya Harry Potter yang juga tamat dengan sejuta senyum, Twilight pun menutup sejarah bukunya dengan baik. Lupakan untuk membandingkan dua mega franchise tersebut karena mau tak mau, keduanya beda alam, jenisdan tentu saja beda kualitas. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 10 November 2012

A Single Man (2009)


Director: Tom Ford
Cast: Colin Firth, Julianne Moore, Nicholas Hoult, Matthew Goode
Rate: 4/5


Percayakah Anda jika seorang designer yang nol-directing experience dalam menyutradarai film lantas membuat film berkelas Oscar? Dan percayakah Anda jika designer tersebut menulis naskahnya seorang diri dan menghasilkan sebuah film yang sangat personal bagi dirinya? Tom Ford, designer jebolan fashion house kenamaan, Gucci, membuat kritikus membuka mata akan talenta barunya selain mendisain dan menyketsa baju-baju orang ternama. Tanpa promo yang berlebihan, film ini malah mengejutkan semua pihak dan dicap sebagai salah satu karya terbaik keluaran tahun 2009. Cerdasnya lagi, Tom Ford membuat sendiri script yang ia terjemahkan langsung dari buku karangan Christopher Isherwood. Bakat terpendam, jika diasah memang akan muncul kualitasnya.

A Single Man memang menceriterakan sepak terjang seorang dosen yang terjebak dalam masa lalu dan terperangkap dalam cinta matinya. George Falconer, dosen Bahasa Inggris - seorang gay, menjalani hidup monotonnya tanpa warna-warni percintaan lagi. Sang kekasih, Jim, yang telah hidup bersamanya selama 16 tahun meninggal karena kecelakaan saat akan mengunjungi keluarganya. Sial bagi George, kematian sang kekasih harus ia cari tau sendiri karena sang keluarga tidak memberi kabar atas kepergian Jim. George semakin terpuruk dan merencanakan untuk memperpendek masa hidupnya. Menutup akun di bank-nya dan membuat sebuah catatan singkat untuk orang terdekatnya. Namun, satu pagi George berkontak mata dengan anak didiknya, Kenny, yang mempunyai rasa penasaran tinggi dengan sosok si dosen. Affair yang tidak wajar terjalin walaupun hasil akhirnya tidak akan terbayangkan. Belum lagi George harus terlibat cinta bertepuk sebelah tangan yang didera oleh sahabat lamanya, Charley. Drama kehidupan George makin pelik, dan kebahagian masih mengambang entah kemana.

Opening film ini sangat menggugah, bagaimana kita diperlihatkan 'panorama air' yang sangat classy dan indah. Namun sarat makna. Semuanya tersimbolkan dengan amat lugas. Naskah yang dikarang Ford mengalir lembut namun tegas, serupa dengan penggarapannya yang matang kendati ini adalah debut penyutradaraannya. Bahkan Ford dengan pintarnya mengolah beberapa adegan yang memang sarat emosi. Editing yang cantik, pergerakan kamera yang dinamis, serta pemilihan lagu dengan tempo yang pas. Tom Ford seakan telah mempersiapkan segalanya untuk film ini. Termasuk dengan memilih cast yang sempurna. Colin Firth meraih nominasi Oscar dari film ini, dan memang sangat beralasan. Tokoh George Falconer adalah contoh karakter yang susah dimainkan. Firth dengan kemampuan dan pengalamannya sukses bertransformasi menjadi sosok yang depresi, tempramental, dan cenderung introvert. Kegagalan drama percintaannya dilukiskan dengan air muka yang minus senyum. Penyeimbang dari aktor lainnya juga terhitung maksimal. Julianne Moore yang lagi-lagi kebagian peran wanita terpuruk berhasil menjabarkan maksud Ford akan tokohnya ini. Terlebih lagi untuk Nicholas Hoult yang tampil berani dan mampu jalan berdampingan dengan si senior Firth.

Walaupun Goode tampil sebentar, tapi perannya menjadi dalang dan sebab musabab serentetan kejadian di film ini. Flashback story yang menceritakan bagian bahagia George dan Jim, memang membantu menguatkan cerita itu sendiri. Dan pada akhirnya, prosa film ini memang terasa kokoh berkat seluruh elemen yang terkandung di dalamnya. Dan Tom Ford, di film perdananya, patut diacungi jempol, karena telah meramu sebuah film yang sangat intim dan personal. Bukan saja mendeklarasikan kemelut dan gundah seorang diri yang ditinggal mati kekasih, tapi juga bagaimana menempatkan diri di lingkungan saat keadaan mulai perlahan mengekang.

A Single Man is a highly recommended movie I must share. When a loner get a distraction, he might be not give himself a suicidal life. Saat sajak awal film mengalun, A Single Man memang berjalan di arah yang positif dalam memberi sudut pandang dan arti lain dari sebuah kehidupan. Naskah yang berpotensial mengaduk emosi, pemilihan aktor yang berkadar tinggi, mengaratkan semua persepsi awal akan tampilan film eksklusif seorang designer ini. A Single Man, with a single humble quote from Tom Ford: If you spend an hour and a half in a movie theater, it should challenge you. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Kamis, 25 Oktober 2012

The English Patient (1996)

 
Director: Anthony Minghella
Cast: Juliette Binoche, Ralph Fiennes, Kristin Scott Thomas, Willem Dafoe
Rate: 4/5
 
 
FYI saja, saya harus empat kali nonton untuk menuntaskan film ini, dan kegagalan sebanyak tiga kali itu dikarenakan saya selalu ketiduran. Saya rasa tidak ada masalah dengan filmnya, mungkin saya yang terlalu lelah menyaksikan film panjang satu ini. Apa ini berarti filmnya cenderung membosankan? Dengan bangga saya mengatakan tidak. Film ini jauh dari kesan itu, bahkan The English Patient banyak berisi drama yang berbobot di luar durasi yang ekstra panjang tadi. Banyak poin positif yang bisa diambil dari film ini. Kendati si film maker-nya sudah tiada, namun The English Patient akan menjadi salah satu karya monumentalnya yang tak akan mati dimakan jaman. Apalagi untuk para komunitas penonton yang menjunjung tinggi nilai kualitas di suatu film.
 
Film bermula dari kemunculan Count Almasy, seorang map maker yang terjebak di gurun pasir Sahara. Mengambil latar belakang perang dunia kedua, perjalanan gersang Almasy harus bentrok dengan unsur cinta, pengkhianatan, hingga kerja keras tanpa ujung. Di perjalanan tugasnya, ia dipertemukan dengan seorang wanita bersuami. Melodramatik yang terjalin di antara mereka memang melalui arus yang simpang siur. Nyatanya, bagian pembuatan peta tadi adalah ingatan singkat seorang Almasy yang harus terbaring lemah di atas ranjang pesakitan. Dia diurus oleh seorang suster budiman yang mencurahkan segenap tenaga feminisnya untuk menyelamatkan hidup Almasy. Di tengah persinggahan dan juga dalam keadaan suasana perang yang mencekam, mereka kedatangan tamu (tak) asing, David Caravaggio yang lambat laun mengupas segala perjalanan panjang hidup Almasy.
 
Kemenangan 9 piala Oscar termasuk sebagai film terbaik untuk film ini memang sangat beralasan. Filmnya memang amat sangat menggugah. Skrip olahan tangan Minghella sendiri yang merupakan saduran dari novel berjudul sama, membuat film ini kokoh dari segi penggarapan. Minghella menerjemahkan sastra tadi dengan begitu syahdu. Tidak ada segi cerita yang kedodoran. Ditampung dengan tangkapan kamera yang sedap dipandang. Pelataran pasir Sahara terlihat begitu oranye dan indah, jadi sangat wajar jika teritori sinematografi juga memenangkan piala Oscar. Musik gubahan Gabriel Yared juga terdengar amat syahdu. Melengkapi adegan demi adegan baik dalam keadaan mengenaskan maupun yang bahagia.
 
Keunggulan lainnya adalah Minghella disokong oleh aktor-aktor yang bermain dengan sangat apik. Terutama Fiennes dan Binoche selaku pemeran utama film ini. Binoche sanggup membawa tokoh sentral menjadi pusat perhatian di luar keayuan rupa yang dimilikinya. Bertransformasi sebagai wanita di tengah hiruk-pikuk perang dunia, Binoche tak lantas menjadi sosok yang lempem dan lemah. Keperkasaannya diperlihatkannya lewat air muka yang pas dengan situasi adegan. Fiennes apalagi, berakting di gurun bukanlah hal mudah. Dan bersama Thomas, ia bersikeras menunjukkan kekompakan akting yang memukau. Raut korban pengkhianatan yang dideranya memang terasa pedih untuk dilihat.
 
Sepanjang sepengetahuan saya, Minghella baru menelurkan sedikit film. Bahkan masih bisa dihitung jari. Tapi, hampir keseluruhan dilabeli film bermutu, mulai dari Truly, Madly, Deeply, The Talented Mr. Ripley, Cold Mountain, hingga karya terakhirnya, Breaking and Entering. Dan baru tiga saja film beliau yang saya konsumsi. Dan dari tiga itu pula saya berani menjabarkan maksud yang kesan yang terkandung di film-film beliau. Menitikberatkan suatu kisah cinta yang dilatar belakangi dengan unsur dramatikal yang kental. Memosisikan peran utama di kondisi yang pelik tapi tetap berusaha mati-matian. Tak heran jika karyanya sangat humanis sekali. The English Patient sampel mutlak bagaimana suatu hidup akan terasa bahagia jika kita menjalaninya dengan tanggung jawab sekalipun taruhan atas kepergian orang terkasih sudah di depan mata. Happy watching.
 
by: Aditya Saputra

Sabtu, 22 September 2012

Test Pack (2012)

Director: Monty Tiwa
Cast: Reza Rahardian, Acha Septriasa, Renata Kuswanto, Uli Herdinansyah, Gading Marten, Dwi Sasono
Rate: 3,5/5


Rata-rata, sutradara di Indonesia begitu mudah merekrut bintang-bintang besar untuk diajak main di proyeknya. Itu pula yang membuat film mereka terasa ensemble cast-nya, entah untuk menjaring penonton atau sebagai tempelan saja. Monty Tiwa salah satu yang beruntung itu, dan terjadi untuk film terbarunya ini. Test Pack yang merupakan saduran singkat dari novel berjudul sama, disesaki dengan barisan aktor ternama. Mungkin track record Monty seperti pasang surut, kadang menelurkan yang berkualitas prima sampai yang abal-abal. Namun, berkat kepiawaiannya dalam mengolah data novel atau juga karena pengalaman di balik kamera, Test Pack terasa sekali sisi positifnya. Lengkap dengan naskah dan dialog cerdas yang tertuang di dalamnya.

Acha dan Reza berperan sebagai suami istri yang diambang kehancuran. Mereka dihadapkan akan suatu momok apakah mereka sanggup mempunyai momongan atau tidak. Sang istri yang selalu didesaki kata 'bayi' seperti siap terjun dari jurang jika kenyataannya dialah yang mandul. Namun takdir dan nasib berkata lain. Kendala rumah tangga yang dibangun kokoh awalnya, malah seperti tempat mengerikan bagi mereka berdua. Mereka saling mencari apa arti keluarga sebenarnya. Dan, pada bagian inilah, Monty mengajak kita menyelami keluarga mereka lebih intim sekaligus belajar secara bijaksana bagaimana jika kita yang berada di posisi mereka.

Secara drama, film ini memang layak diacungi jempol. Di samping, ceritanya yang asik dan penuh teori yang bertanggung jawab, permainan akting dari para aktornya juga bukan sekadar berakting. Mereka menjiwai. Terutama Reza dan Acha yang sangat melebur dengan tokoh mereka. Di mana saat mereka bercanda, bercengkrama, bertengkar, diperlihatkan dengan sangat natural. Ditambah pula dengan teknik slow-motion dan alunan lagu yang menyunting adegan tadi jadi lebih nyata. Selain itu, kemunculan para peran pembantu memang pas adanya, tidak mubasir. Yang kerennya lagi, bagaimana Monty mengeksekusi ending-nya menjadi sangat believable. Sangat jarang film Indonesia dibikin semenarik ini.

Terus terang, jika film Indonesia berkelanjutan dibuat dengan penuh visi dan misi yang positif seperti ini, plus, dengan keberagaman tema tentunya, sudah pasti perfileman Indonesia tidak akan tertatih-tatih seperti ini. Dan Test Pack akan menjadi salah satu pintu gerbang. Dengan tema yang sangat Indonesia, penggarapan yang maksimal, dan gerak akting yang lihai, sang empunya novel pasti berbangga hati jikalau karyanya diapresiasikan dengan tidak semenjana seperti ini. Happy watching!

by: Aditya Saputra