Tampilkan postingan dengan label action. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label action. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 Juni 2013

World War Z (2013)


Director: Marc Foster
Cast: Brad Pitt, Mireille Enos, Daniella Kertesz, David Morse
Rate: 3/5


Zombie tidak akan pernah punah. Bagaimana mau punah jika cerita kehidupan mereka selalu diumbar-umbar dengan menambahkan efek yang lebih mencekam dan dramatis. Baru kelar sebuah serial ternama yang juga mengedepankan zombie, The Walking Dead. Serial itu populer dan disukai karena jalan ceritanya yang menarik dan tampilan zombie-nya juga yang masuk akal. Jauh sebelum ini, era Resident Evil masih di jalan yang benar juga menumbuhkan rasa baru di kalangan perzombian. Muncul lagi 28 Days Later yang disusul sekuelnya, Dawn of the Dead dari tangan midas Zack Snyder, Shaun of the Dead yang brilian itu, hingga zombi kekanak-kanakan lewat Warm Bodies. Semuanya mencerminkan zombi dengan tipe dan keunikan masing-masing. Tak tinggal diam, di bawah naungan Plan B kepunyaan Brad Pitt, Marc Foster ikutan latah dan mengangkat novel karangan Max Brooks yang bernafaskan zombi juga. Kita tidak akan menemukan unsur komedi seperti di Zombieland, bahkan sebaliknya. Usungan tema basi ini dibuat seekstrim mungkin. Dan seperti ingin menekan budget, Brad Pitt pun diajak untuk menjadi pemeran utama.

Jika Anda sudah menonton Contagion, mungkin jika menonton permulaan World War Z akan langsung teringat dengan film tersebut. Dari awal, tanpa disuruh pemanasan, kita sudah ditempatkan di kursi dengan mata fokus ke layar. Pensiunan anggota PBB yang dipaksa untuk menemukan jalan keluar atas virus mematikan yang belum diketahui penyebabnya. Sebagai imbalan, istri dan anaknya boleh ditempatkan sementara di kapal raksasa yang menampung sebagai kecil masyarakat yang masih selamat. Perjalanan panjang dari negara satu ke negara lainnya membuahkan hasil yang positif walaupun sepanjang perjalanan tadi harus diisi dengan momen-momen yang tidak akan pernah ia bayangkan sebelumnya.

Untuk film yang mengatas-namakan zombi, World War Z telah memberikan apa yang kita harapkan. Adrenalin yang dipompa mati-matian memang sejajar dengan banyaknya adegan mematikan di sepanjang film. Belum lagi sosok zombinya sendiri yang jauh lebih sangar dari yang dimiliki I Am Legend. Dengan kecepatan berlari di atas rata-rata, memang sungguh mustahil jika kita ingin lolos dari kejaran mereka. Lebih parahnya lagi, infeksi yang terjangkit juga menular dengan amat cepat. Kontaminasi yang terjadi tak lebih dari 30 detik. Sejauh ini, Marc Foster sukses membangun tempo dan memainkan emosi penonton. Dan penulisan naskah yang disadur dari novelnya pun saya nilai pas dan tidak berlebihan. Ditambah dengan dukungan musik yang membahana sepanjang film serta sosok Brad Pitt yang menjadi satu-satunya tunggangan Foster dari departemen aktingnya.

Hanya saja, ya hanya saja drama yang menyelimuti World War Z semacam digampangkan begitu saja. Apalagi mengingat ending dan penyelesaian masalahnya terlalu mudah jika tidak mau dibilang membodohi. Klimaks yang dilempar setinggi mungkin tadi tiba-tiba dihempas begitu saja. Belum cukup juga, dan masih di ranah dramanya, ada banyak kejanggalan yang saya rasa dari film ini. Baik seputar kematian maupun teknis yang berhubungan dengan pesawat terbang. Jika saja film ini tidak berusaha menjadi film porak-poranda yang cerdas, hal-hal kecil akan luput dari perhatian. Sayangnya, Foster yang kita kenal cekatan dalam memberikan drama, di sini malah seperti kehilangan kendali akibat terlalu fokusnya untuk memerangkan aksi untuk film ini. Dan, tak ada satupun tokoh di film ini yang bisa kita jadikan panutan ataupun sekadar sosok cermin, terlebih lagi tampilan seorang ibu yang cengeng di kala genting tersebut.

Sudah bisa ditebak, penilaian saya untuk film ini terpecah menjadi dua, sangat bagus dan atau sangat buruk. Seperti yang sudah-sudah, saya selalu menghiraukan kelemahan kecil untuk film yang diproduksi di musim panas. Walaupun tidak sepenuhnya berbaik hati, dan saya masih mengesampingkan ego saya, World War Z tidak akan saya kutuk begitu saja. Adegan menyeramkan di film ini tidak mudah dilupakan begitu saja. Khusus Plan B, saya lihat sejauh ini eksistensi mereka semakin dipertanyakan. Walaupun Brad Pitt memegang benderanya, tapi rasanya PH ini harus sigap dalam bertarung di Hollywood sana. Terakhir, saya pada dasarnya merekomendasikan film ini sebagai tontonan yang bagus. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Jumat, 14 Juni 2013

Man of Steel (2013)


Director: Zack Snyder
Cast: Henry Cavill, Amy Adams, Michael Shannon, Kevin Costner, Russell Crowe, Laurence Fishburne, Diane Lane
Rate: 3,5/5


Untuk memulai bahasan kali ini, saya ingin beritahu sedikit bahwa saya belum pernah nonton film Superman satupun kecuali buatan Bryan Singer tahun 2006 lalu. Superman Returns yang kata kebanyakan orang masih tetap setia memakai pola film Superman buatan Richard Donner, namun tetap dinilai lemah karena porsi dramanya terlalu padat sehingga membuat Superman Returns layaknya Hulk hasil kreasi Ang Lee. 7 tahun berselang, hadir lagi reboot manusia baja yang kali ini di bawah komando Christopher Nolan dan dinahkodai langsung oleh Zack Snyder, lelaki di belakang suksesnya 300 dan Watchmen. Namun, Snyder pernah tersandung dan jatuh di mata kritikus saat Sucker Punch dan animasi burung hantu Ga'Hoole-nya terperosok habis-habisan karena terlalu mengandalkan slo-mo secara berlebih hingga melupakan teknik lainnya. Akhirnya Man of Steel hadir di depan kita, dan pujian serta cacian pun tetap tak terbendung. Kecuali bagi yang merasa Man of Steel telah lepas jauh dari versi Richard Donner. What did you expect, guys?

Film ini memang diantisipasi sekali oleh fanboy maupun yang hanya sekedar ingin menonton, tapi lambat laun semua pandangan tertuju ke salah satu film ambisius ini. Apalagi banyak yang memasang target berlebih mengingat dayang di belakang layarnya tertera nama Nolan dan Goyer. Tapi, pembuat film tetaplah Zack Snyder, dan semestinya ikut campurnya Nolan di sini hanya sebatas sebagai produser. Snyder-lah algojo yang mengeksekusi filmnya agar lebih berbobot tapi tidak juga meninggalkan kesan komersil Superman-nya sendiri. Dan jika saya lihat, Man of Steel tetap memberikan ciri khas seorang superman dengan memberikan warna yang cukup berbeda dari seri yang terdahulu. Kita akan tahu cikal bakal Clark Kent menjadi superhero. Tidak sampai di situ, fase flashback saat ia masih kecil dan dirawat oleh keluarga Kent cukup menyita emosi saya. Sangat jarang saya menonton film bertemakan pahlawan yang begitu menyentuh. Walaupun editing-nya sangat kasar, setidaknya pencapaian dramanya tetap terjaga.

Dan kita memasuki bagian super-duper-berlebihannya film ini. CGI dan visual effect. Maksud saya saat final battle-nya. Penggambaran dunia Krypton dilukiskan dengan sangat indah, believable, dan megah. Setelah itu, visual-nya tampak sangat berantakan. Perkelahian antara dua kubu terlalu mengada-ada dan tidak relevan sama sekali. Efeknya terlalu manis sampai-sampai membuat mual jika dikonsumsi terus-terusan. Untunglah film ini diiringi dengan musik yang lumayan membangun filmnya sendiri. David S. Goyer sepertinya sedikit goyah dalam membuat ceritanya ini menjadi lebih menarik. Mungkin karena Goyer lebih menitikberatkan drama flashback-nya tadi daripada harus mengupayakan bagaimana percintaan Kent dan Lane diungkap di sini.

Henry Cavill si manusia baja telah menunjukkan kapasitasnya sebagai aktor baru yang siap mematahkan persepsi awal bahwa ia bisa menjadi pahlawan super. Dengan postur tubuh yang sangat memungkinkan untuk menjadi seorang superhero. Sayang, Cavill masih lemah dalam menerjemahkan emosi Kal-El di momen-momen penting sehingga membuat adegan tersebut tasteless. Amy Adams bermain pas, pun dengan Crowe sebagai Jor-El yang tidak berlakon berwibawa yang berlebihan. Namun yang menarik adalah penampilan Kevin Costner dan Michael Shannon. Selama saya menonton, semua adegan yang ada Costner-nya sukses membuat saya sedih, dan adegan yang ada Shannon di dalamnya berhasil membuat saya geram. Bintang tetaplah bintang, sebagai supporting actor pun mereka tetap menunjukkan kapasitas seorang bintang.

Sebagai film musim panas, Man of Steel bagi saya sudah memenuhi syarat. Menghibur namun tidak lupa membekaskan logika. Menyortir semua kejanggalan yang biasa terjadi di film superhero. Sayang, saya nilai Zack Synder terlalu tergesa-gesa membuat Superman agar menjadi pahlawan masyarakat yang kembali bisa dikenang. Akibatnya, Superman kali ini sepertinya mudah sekali untuk dilupakan. Setidaknya, sisi humanis yang menempel di film ini yang diproklamirkan sepanjang film cukup membuat saya begitu terpesona. Masih ada film bertema sejenis yang memiliki misi secara universal, bukan hanya untuk dunia perkomikan sahaja. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Senin, 29 April 2013

Iron Man 3 (2013)



Director: Shane Black
Cast: Robert Downey, Jr., Gwyneth Paltrow, Guy Pearce, Don, Cheadle, Ben Kingsley, Jon Favreu, Rebecca Hall, William Shadler
Rate: 3,5/5


Masih mengharapkan popcorn movie sekelas The Dark Knight dan Inception? Atau bahkan malah masih bersikeras jika film tentang superhero harus seintim dan sedramatis The Dark Knight? The Dark Knight boleh saja menjadi salah satu superhero movie terbaik yang pernah ada berkat tampilannya yang sungguh kokoh dan senyata mungkin. Tidak menitikberatkan CGI dan efek komputer lainnya, The Dark Knight justru hadir dengan kedigdayaan cerita, twist berlapis, hingga karakterisasi yang sama kuatnya. Paska film besutan Christopher Nolan tersebut, film tentang pahlawan super seakan memiliki anekdot dan memiliki pandangan lain. Marvel bahkan ketar-ketir menghadapi theme ini, namun nyatanya kekuatan Marvel dalam memberikan kepuasan tidak akan pudar selagi sisi komersil masih bermain dengan sangat jelas. Marvel tidak akan segelap DC dalam memindahkan cerita komik mereka ke dunia film, namun juga tidak akan meninggalkan kesan istimewa yang akan tetap melekat di hati fans dan penonton.

Iron Man salah satu produk Marvel yang ketika dilempar di industri perfilman menjadi produk yang kuat dari berbagai sisi. Sosok Tony Stark yang slengean serta flamboyan dalam satu gerak, memiliki ruang lingkup yang besar dan beralasan untuk menjadi seorang superhero. Tidak akan sekonyol manusia yang digigit laba-laba atau pemimpin sakti yang reinkarnasi dan bahkan Tony Stark bukanlah anak dewa. Stark jelas-jelas bilyuner pintar yang nyaris memiliki apa yang seharusnya pahlawan punya. Di seri ketiga ini, kilas flashback di awal film yang menceritakan Tony bertemu dengan orang yang akan menjadi musuh utamanya. Seperti yang Tony bilang lewat narasinya, "we create our own devil", begitulah kira-kira. Kenyataan yang ada memang terasa memberatkan Tony sebagai manusia yang memiliki kehidupan nyata dan juga sebagai Iron Man yang memiliki tanggung jawab dalam memberantas kejahatan.

Singkirkan dulu Iron Man 2 yang serba tanggung itu, tapi jadikan Iron Man sebagai patokan sukses untuk Iron Man 3. Yap, bagi saya, apa yang sudah dikemas oleh Iron Man sebagai film bagus tidak bisa diimbangi oleh Iron Man 3. Jangan salah, saya suka apa yang tersaji di seri terakhir ini, namun masalahnya Iron Man 3 tidak memiliki unsur spesial yang bisa disamaratakan dengan superioritas film pertamanya. Iron Man 3 berhasil sebagai film yang menghibur karena sang sutradara mampu membagi porsi yang beimbang untuk cerita, adegan aksi, efek CGI, hingga lelucon janggal yang lucunya sangat mengena ke penonton. Yang tidak bisa disangkal adalah kolaborasi menyenangkan di departemen aktingnya. Dan seperti yang kita tau, Robert Downey, Jr. seakan terlahir untuk memerankan tokoh Tony Stark. Membahas jeniusnya dia dalam menafsirkan tokohnya mungkin akan membuang-buang waktu. Begitupun dengan Gwyneth Paltrow yang sukses menjadi pendamping setia Tony Stark. Sedikit bocoran, ada sesuatu yang spesial dari Pepper Potts.

Don Cheadle, Guy Pearce, Ty Simpkins, serta Rebecca Hall tidak memiliki kendala yang berarti di film ini, semuanya bermain pas dengan porsinya masing-masing. Yang perlu dikasih sanjungan adalah betapa hebatnya Ben Kingsley dalam mengubah dirinya menjadi sosok The Mandarin yang miliki double side sekaligus. Bahkan saya berani bilang ini salah satu akting terbaik yang pernah ia berikan di sebuah film. Kesintingannya hampir sama saat ia menjadi ketua mafia bengis di Sexy Beast. Selain itu, Iron Man 3 memiliki alur terkontrol yang tidak asal dalam memberikan ledakan-ledakan semata yang bisa menjadi bumerang bagi filmnya sendiri. Shane Black yang belum mapan dalam memoles film berkomputersisasi tinggi, dalam hal ini berhasil memberi pondasi yang kuat ke Iron Man 3 dan tinggal menyusun beberapa fitur untuk saling melengkapi. Duetnya terdahulu bersama RDJ di Kiss Kiss Bang Bang memiliki dampak positif dalam memberikan kerja sama yang baik.

Stop berkekspektasi berlebihan terhadap popcorn movie, summer movie, superhero movie, you name it. Dugaan kita yang berlebihan terhadap sebuah film yang awalnya untuk menjadi film hiburan, bisa jadi akan menjadi dinding besar untuk kita sendiri dalam menilai filmnya secara kesuluruhan, bahkan yang ada kita akan mencari kesalahan-kesalahan yang tersebar di film tersebut. Iron Man 3 adalah contoh paket lengkap yang menjual cerita permen dan warna-warni yang menghibur segala pihak. Dan kita, sebagai penonton, tidak bisa mengelabuhi pasar internasional yang memang mengharapkan tontonan yang semenarik ini. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Senin, 01 April 2013

G.I. Joe: Retaliation (2013)


Director: Jon M. Chu
Cast: Dwayne Johnson, Jonathan Pryce, Byung-hun Lee, Elodie Yung, Ray Park, Ray Stevenson, D.J Cotrona, Adrianne Palicki, Channing Tatum
Rate: 2,5/5


Membuat film sekuel bisa dikatakan gampang-gampang susah. Hanya mencomot ide dan memanjangkan cerita dari film pertama hingga menambahkan beberapa karakter tamu yang siap dijadikan bintang utama kelak jika filmnya berlanjut ke instalmen berikutnya. Namun, ada banyak kasus film sekuel akhirnya terjerembab ke arah yang negatif berkat keegoisan sang produser yang hanya memiliki visi untuk mengeruk laba semata. The Hangover adalah contoh yang kasat mata bagaimana sekuel hanya diperuntukkan untuk berdagang sehingga image yang muncul di film pertamanya luluh lantak akibat buruknya film lanjutannya. G.I. Joe: Rise of the Cobra, yang sudah jelek dan bahkan masuk di Razzie tetap digemari para fans dan penggalang dana untuk -membuat satu film lagi yang kali ini dengan embel-embel Retaliation. Film pertamanya yang sudah nyata jeleknya sekalipun diisi dengan banyaknya aksi dan efek CGI namun tetap menjadi sasaran empuk kara kritikus. Kali ini, dengan janji Retaliation akan jauh lebih berbobot, hasilnya malah tidak lebih baik dari pemulanya.

Motif cerita Retailiation malah tidak jauh-jauh dari misi memberhentikan niat jahat musuh yang ingin menguasai dunia. Bedanya, kali ini sekutu G.I. Joe mendapat perhatian penuh dari pemimpin negara dan memiliki ajudan baru. Perubahan watak dari Storm Shadow juga diramu dengan maksud film ini jauh lebih berisi dan memiliki alur yang masuk di akal. Oke, untuk cerita yang seringan ini, visi sutradara dalam membaguskan film ini dan menyelamatkan kritik negatif hancurlah sudah. Dengan plot yang sesederhana ini, apa yang ingin disampaikan sutradara jelas berlawanan arah. Dan entah kenapa pihak produser memilih sutradara yang belum mahir di bidangnya untuk membidani film yang diharapkan mampu menjadi penyegar di bioskop. Rusaknya lagi, banyak dialog-dialog kacau yang entah kenapa saya tangkap malah menjadi sok bijaksana dan patriotik.

Masih ingat adegan Menara Eiffel yang dibumi hanguskan oleh virus hijau mematikan itu? Ya, itu menjadi satu-satunya adegan paling seru di Rise of the Cobra. Lantas, bagaimana di Retaliation? Untungnya ada satu adegan juga yang bisa menjadi nilai lebih. Silat para "pahlawan" dengan musuh di tebing dengan hanya menggunakan sling demi saling merebutkan Storm Shadow cukup membangun emosi. Walaupun sebelum dan sesudah adegan tersebut, lemahnya plot kembali terjadi. Setidaknya, latar belakang antara Snake Eyes dan Storm Shadow terkuak cukup lengkap sehingga bisa membuat penonton membuka mata bagaimana dampak bagi keduanya.

Layaknya film yang juga memeragakan mata-mata kelas kakap, di Retaliation menjadi serba tanggung. Rencana apik yang mereka lakukan di sini tidak menimbulkan kesan menghentak, bahkan terkesan membodohi. Dan yang paling memprihatinkan adalah bagaimana seluruh aktor di film ini bermain dengan sangat buruk. Lupakan Tatum yang in frame di awal-awal, keterlibatan Dwayne Johnson tak lebih hanya sebagai penarik minat penonton yang keburu mengidolai beliau. Sisanya, aktor-aktor yang saya kurang kenal namanya itu, juga menjadi momok yang membuat saya kurang nyaman selama berada di studio. Walaupun begitu, film ini setidaknya dibantu oleh musik pengiring yang -akhirnya- bisa menggenjot adrenalin. Kendati demikian, buruknya film secara keseluruhan akhirnya tidak bisa ditolerir oleh hanya sebuah musik.

Sebagai film yang direncanakan sebagai objek untuk memperbaiki seri sebelumnya, Retaliation dianggap gagal dalam mencapai tujuan itu. Penambahan beberapa karakter juga tidak terlalu berpengaruh, dan meminimkan efek spesial demi memberatkan di cerita (yang juga lempeng-lempeng saja) juga jauh dari kata bagus. Bagi Anda yang menyukai produk Hasbro dan cinta mati dengan film pertamanya, Retaliation jelas tidak boleh Anda lupakan begitu saja. Namun, bagi kalian yang ingin mencari film hiburan lengkap dengan cerita dan sisi-sisi lain yang maksimal, silakan judul ini dicoret dari list menonton Anda. Tanpa menimbulkan kesan menjelek-jelekkan serta menghasut pembaca, bagi saya sendiri, film ini jelas tidak direkomendasikan. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Rabu, 27 Februari 2013

The Game (1997)


Director: David Fincher
Cast: Michael Douglas, Sean Penn, Deborah kara Unger
Rate: 3,5/5


Sebelum The Game mencoba mengelabuhi penonton dengan sejuta teka-teki tak terungkapnya, Fincher telah mendapat perhatian massa di feature panjang pertamanya, Seven, yang diramaikan oleh penampilan dahsyat Brad Pitt, Morgan Freeman, dan juga Kevin Spacey. Namun, yang menjadi momok Seven adalah penjelasan di akhir filemnya yang sangat cerdas. Tak dapat disangkal juga, filem paska The Game juga menimbulkan sebuah enigma yang tak bisa terbantahkan jeniusnya sebuah akhir cerita, Fight Club menjelma menjadi salah satu cult movie terbaik yang pernah ada. Namun The Game tidak mendapat perhatian yang sama dengan kedua filemnya yang lain. Kendati memiliki pengaruh yang besar akibat pola cerita yang berstruktur rapi, nyatanya The Game hanya dinilai sebagai filem bagus saja tanpa ada apresiasi tinggi. Bagi saya, The Game adalah salah satu filem paling pintar dalam membuat penonton mengikuti alurnya dan dibuat kaget oleh endingnya.

Di hari ulang tahunnya, financier kaya Nicholas van Orton mendapat hadiah spesial dari adiknya, Conrad, berupa kartu nama yang akan membawanya ke sebuah wahana bermain yang tak dapat diduganya sebelumnya. Paska cerai dengan istrinya, Nicholas menjadi sosok yang membosankan dan menjalani hidup dengan monoton. Namun, berbekal hadiah yang diberi Conrad, Nicholas mulai mencoba sesuatu yang baru di CRS (Consumer Recreation Services). Sialnya, Nicholas lambat laun mulai direcoki oleh keterlibatan tim CRS di kehidupan nyatanya. Merasa terganggu dan dikuntit sepanjang hari, kejengahan yang dirasakan Nicholas menuntunnya ke berbagai karakter yang terlibat langsung dengan CRS. Yang menggelegar adalah bagaimana Nicholas mengetahui kebenaran yang terjadi di ujung filem ini.

John D. Brancato dan Michael Ferris selaku scriptwriter The Game berhasil memberikan kiat pintar dalam membuat naskah yang berbobot. Pencapaian Fincher dalam menafsirkannya ke dalam gambar bergerak juga patut diberi skor tinggi. Dengan penyutradaraan yang dinamis, The Game ibarat sebuah puzzle yang harus disusun serapi mungkin oleh penonton, dan nantinya penonton bakal diberi kejutan yang teramat cemerlang. Yang saya salut adalah bagaimana kejelian Fincher dalam mengatur dan tidak memberikan clue sama sekali sepanjang filem berlangsung, padahal penonton sendiri sudah diberi acuan di awal filem. Mungkin karena adegan per adegan dibuat se-real mungkin, jadi banyak adegan yang berhubungan dikamuflase dengan poin-poin tak penting tadi. Sisi teknis filem ini memang agak kurang, seperti misalnya tata musik yang tidak begitu membahana. Untung saja hal itu bisa ditutup dengan penokohan yang kuat dan para figuranpun memiliki peran penting bagi filem ini.

Michael Douglas sebagai korban penguntit menunjukkan karisma di atas rata-rata. Sebagai seorang kaya yang congkak, ia mampu memberikan kesan tersebut, dan saat di klimaks utama Douglas dengan sukses meronta-ronta dan bertanya apa yang sedang dilaluinya. Rasa ketakutan dan penasaran beradu jadi satu, dan Michael Douglas membuat penonton percaya jika ia sedang berada di posisi tersebut. Sean Penn walaupun muncul di sedikit adegan tapi dialah poin kunci sebagai pembuka tabir semua kesialan yang menimpa Douglas.

My last verdict: twist The Game memang tidak terlalu membuat pusing penonton karena endingnya juga hanya memberi kejutan saja bukan pemecahan masalah yang dibuat timpang sedari awal. The Game juga tidak ada pesan khusus yang bisa diserap. Yang menjadi kenikmatan The Game adalah bagaimana filem ini bermain di luar zona aman sebuah filem cerdas. Namun nyatanya, saya rasa filem ini tidak akan memberikan kesan yang sama saat kita akan menontonnya untuk yang kedua kali. Kali serupa dengan filem ber-twist ending lainnya, menyaksikannya lagi akan terasa kosong dan seperti dibodohi. Cukup sekali tapi membekas sepanjang masa. Happy watching.

by: Aditya Saputra

Jumat, 15 Februari 2013

The Lorax (2012)


Director: Chris Renaud
Cast: Danny DeVito, Ed Helms, Zac Efron, Taylor Swift, Betty White
Rate: 3/5


Sebagai permulaan dan sedikit perbandingan, saya sangat suka dengan filem Horton Hears A Who! yang juga diterjemahkan secara kasar dari cerita karangan Dr. Seuss. Cat in the Hat juga termasuk yang lumayan walaupun banyak yang menyayangkan kenapa harus dibuat versi live action. The Lorax, dari sumber inspirasi yang sama, mencoba mengikuti jejak saudaranya dalam menyemarakkan parade animasi sederhana dengan sisipin pesan moral yang bertaji. Sulit diakui, The Lorax malah hadir sangat biasa, jika tak mau dibilang mengecewakan. Sepanjang filem diputar, saya hanya mau mengakui filem ini terasa bagus karena dilapisi oleh titipin pembelajaran yang mampu berbicara banyak. Namun, dari segi animasi, rekayasa komputer, hingga yang paling penting semisal pemilihan musikpun, The Lorax terbilang biasa-biasa saja. Dr. Seuss layaknya Roald Doahl yang mampu berdongeng sekaligus menyisipkan sekelumit fabel yang dikemas dengan lucu, mendidik, dan segar. Nyatanya, memang tak mudah memaksakkan sastra untuk dikembangkan ulang melalui medium filem.

Berawal dari sebuah kota yang hidup tanpa udara bebas. Kesempatan inilah akhirnya dimanfaatkan secara jahat oleh (sebut saja) gubernur kota setempat untuk mengedarkan udara bebas buatan yang mungkin akan memperkaya dirinya sendiri. Kota yang tanpa rerumputan, pohon, maupun miskin reboisasi ini malah lebih mementingkan gaya hidup yang bebas demikian. Namun, ternyata masih ada satu-dua orang yang peduli dengan lingkungan hidup dan mencari kebenaran yang selama ini tersembunyi atau bahkan disembunyikan oleh gubernur. Suatu ketika, seorang anak bertemu dengan lelaki yang ternyata biang keladi atas 'bencana sosial' yang terjadi di kotanya. Flasback pun mengalir dari awal ia dikucilkan oleh keluarga hingga menjadi kaya raya akibat pengembangan bulu ajaib yang berasal dari pohon. Dan muncullah The Lorax sebagai penunggu hutan tersebut. Happy seketika menjadi hancur ke akar-akarnya. Roda kembali berputar memperburuk keadaan si lelaki tersebut.

Yang cerdas dari filem ini adalah cerita sumbangan dari Dr. Seuss. Bagaimana fiksi bisa disatukan dengan pola pikir yang matang akan kepedulian masyarakat kepada lingkungan. Mengindahkan tamak dan rakus yang berakhir pada kerugian orang banyak. Saya sendiri sangat salut bagaimana penyeimbangan ide brilian ini dengan pola hidup manusia sekarang ini. Namun, kesuksesan ceritanya tidak diikuti dengan sisi teknis yang seharusnya bisa lebih dimaksimalkan lagi. Banyak adegan yang terlalu dipaksakan lucu dan malah berakhir tragis garingnya. Ada juga beberapa adegan yang diharapkan bijaksana dan sendu namun jadinya basi dan canggung. Untuk komputerisasinya sendiri tidak ada yang baru. Bahkan animasi semisal Mary & Max saja bisa jauh lebih detil dan transparan. The Lorax yang dibiayai dengan budget yang lumayan seharusnya bisa lebih bereksplorasi dan meningkatkan daya imajinasi sutradaranya untuk mengembangkan dunia The Lorax itu sendiri. Mungkin setengah dari budget-nya dipakai untuk membayar aktor yang jasa suaranya digunakan untuk filem ini.

Jujur, tidak ada pengisi suara karakter yang berhak dilabeli 'memorable'. Semua datar dan tidak ada pengembangan sama sekali. Lagian penonton juga tidak melihat artis idola mereka di depan layar, jadi teritori ini tidak begitu penting. Tapi, satu hal lain yang penting untuk sebuah animasi bisa dikatakan berhasil adalah pemilihan lagunya yang asik. Sayangnya hal itu tidak ada di The Lorax. Sungguh sangat mengecewakan, dan lagi-lagi saya membandingkan filem ini dengan Horton yang begitu enerjik dan atraktif dan sesuai gambaran akan seperti apa filemnya.

Bagaimanapun juga, anak-anak akan tetap menyukai filem penuh warna ini. Bagi penonton dewasa, The Lorax cukup ditonton sekali saja saat menemani anak mereka yang riang menyaksikan para hewan menunjukkan ekspresi terlucu mereka, sembari menjelaskan pelajaran yang amat penting dari filem ini tentang bagaimana menjaga lingkungan dan memelihara hutan kita yang semakin gundul ini. Menyikut perihal banjir yang baru-baru ini melanda Jakarta, mungkin salah satu penyebabnya adalah kurangnya lahan penghijau yang berguna untuk menyerap air hujan dikarenakan tanah hutan sudah dipangkas habis untuk dibuatnya gedung-gedung hiburan. Ini sudah berjalan dari kemarin-kemarin dan dampaknya baru terasa sekarang. Kejelian masyarakatlah yang dibutuhkan sekarang ini untuk selalu mewaspadai apa yang akan terjadi esok jika kita terus bermain-main dengan alam tanpa tanggung jawab. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 26 Januari 2013

Gangster Squad (2013)


Director: Ruben Fleischer
Cast: Sean Penn, Ryan Gosling, Emma Stone, Nick Nolte, Josh Brolin
Rate: 2,5/5


Meramu sebuah filem aksi susah-susah gampang. Action movie yang berbobot lemah cenderung hanya memaksimalkan adegan yang melibatkan adu jotos ataupun dentuman senjata api dengan mengesampingkan kekuatan cerita yang sebenarnya menjadi hal penting bagi sebuah filem, apapun genrenya. Menyimak sekelumit pesan moral yang dituangkan dari filem Gangster Squad, sialnya tidak ada moral lesson yang bisa kita petik. Jika Anda pernah menonton Public Enemies, duet Johnny Depp dan Christian Bale, yang lemah di beberapa sisi, Gangster Squad lebih parah lagi. Memakai metode yang sama si baik versus si jahat, Gangster Squad terjun ke lembah serba tanggung. Kendati Gangster Squad diisi dengan parade superstar yang sedap di mata, namun nyatanya hal tersebut tidak membuat nilai filem ini bertambah tinggi.

Sean Penn sebagai dalang dan mafia dari serentetan kejadian di filem ini memang telah menunjukkan feel kejamnya dengan hampir sempurna. Terlihat dari mimik dan gesture, Sean Penn sukses menjelma menjadi ketua kriminal yang pantas disegani hanya lewat gaya bicaranya saja. Sayangnya, poin positif tersebut tidak diimbangi oleh aktor lain. Trio Gosling, Brolin, dan Stone bermain sangat biasa. Terlebih lagi Stone yang perannya bisa digantikan oleh aktris tidak terkenal sekalipun. Nama tetaplah nama, pemakaian mereka mungkin sebagai kiat mengiklankan filem ini jauh lebih luas dan menjual nama mereka adalah taruhan yang cukup ampuh. Namun, penampilan mereka sungguh mengecewakan. Ruben seperti kehilangan arah dalam menangkap nuansa-nuansa penting di filemnya untuk digenjot lebih eksklusif.

Gangster Squad memang tidak separah itu. Filem ini masih memiliki cerita, walaupun bisa kita tebak akhirnya setengah jam setelah filem ini mulai. Mengambil seting waktu tahun 1949, di mana bisnis Mickey Cohen sedang marak-maraknya. Pun dengan kriminalitas yang ia geluti secara diam-diam akhirnya tercium oleh polisi setempat yang juga punya dendam dengan Cohen, John O'Mara. Perseteruan semakin sengit, John akhirnya merekrut beberapa agennya untuk bekerja sama dalam menumpas seluruh bisnis haram yang Cohen pegang. Karena Cohen memunyai antek yang tidak sedikit, otomatis battle ini berlangsung sengit dan sempat memincangkan kubu John. Bagaimana ending-nya yang seluruh khalayak ramai tau, Gangster Squad pasti akan memuaskan penonton dengan akhir yang bahagia.

Yang patut diberi nilai mungkin atmosfer yang dibangun oleh tim dekorasi seninya. Kota Los Angeles disulap kembali ke tahun 40-an dengan segala kostum dan kendaraan yang memang menjadi momen pada masa itu. Pemilihan musik juga amat jitu, seluruh instrumen bermain dengan baik saat adegan klimaks muncul di layar.

Kombinasi Sean Penn, Ryan Gosling, dan Emma Stone tetap akan menjadi magnet bagi filem ini untuk menjaring penonton sebanyak-banyaknya. Semoga saja kelemahan filem ini tidak berimbas pada karir mereka. Lagian, Hollywood tidak semudah itu membuang aktor mapan hanya karena bermain di satu/dua filem buruk. Catatan kecil itu mungkin berlaku bagi sutradaranya, Ruben, dengan filemografi yang belum terlalu menonjol, penggarapannya di sini bisa jadi sebagai amunisi untuk terus membuat filem bagus. Yah, anggap saja Gangster Squad kelinci percobaan yang hampir gagal. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Kamis, 17 Januari 2013

Les Misérables (2012)


Director: Tom Hooper
Cast: Hugh Jackman, Russell Crowe, Anne Hathaway, Helena Bonham-Carter, Sacha Baron Cohen, Amanda Seyfried, Eddie Redmayne, Aaron Tveit, Samantha Barks
Rate: 3,5/5


Dua tahun lalu, saat sineas hasil eraman dari media tv seketika memanaskan jagad perfileman dunia dengan karya epiknya, The King's Speech, hingga menjadi nomor satu di bursa Oscar. Filem bertemakan kerjaan Inggris itu memuncakkan karir Hooper sebagai pendatang baru yang tak boleh dipandang sebelah mata. Sekarang, Hooper kembali memberikan persembahan spesial yang temanya sangat jarang disentuh akhir-akhir ini. Filem musikal memang terkesan segmented dan tidak banyak yang suka model filem seperti ini. Apalagi Les Misérables tidak berisikan dialog pada umumnya, melainkan serangkan kalimat yang dinyanyikan dengan melodi bernuansa opera. Sangat jauh dari penerawangan kita jika filem ini layaknya Chicago, Dreamgirls, atau bahkan Glee yang enerjik itu. Les Misérables mencoba mengambil jalur yang sangat anti-mainstream. Trik jitu yang dipakai Hooper untuk menjaring mangsa penonton sebanyak mungkin ialah merekrut belasan pemain yang sudah memiliki nama di mata fans mereka.

Berceritakan di negara Perancis, abad ke 19, saat otokrasi sedang memuncak. Sementara itu, Jean Valjean, seorang sipir yang melarikan diri dari perbudakan yang merajalela kala itu. Singkat cerita, Valjean akhirnya mendapatkan persetujuan untuk merawat anak dari Fantine, Cossette, yang awalnya tersiksa sebagai anak asuh dari keluarga Thenardier. Revolusi Perancis di filem ini tidak begitu jelas digambarkan, karena hanya menekankan pada drama yang dilatar-belakangi perang belaka. Makanya, kompleksitas yang terkait di filem ini tidak begitu berat. Soalnya, mau tak mau Hooper memang memutuskan untuk menonjolkan sisi teknis untuk filem ini dan sedikit keteteran saat menarasikan ceritanya sendiri.

Letak keseriusan Hooper dalam menata desain grafis serta seting yang meyakinkan memang patut dinilai lebih. Dengan lokasi yang begitu gelap, apa yang terpampang sedikit meningkatkan tensi. Namun, sebagai filem yang menitik-beratkan pada musikalitas, filem ini juara pada bagian tata suara, teknis irama, serta pemilihan lagu dan adu vokal. Seperti yang sudah dijelaskan, dialog filem ini semuanya dilagukan. Didendangkan dengan ritme dan intonasi layaknya membaca skrip. Tugas berat ini akhirnya bisa dikerjakan dengan semangat oleh para aktornya, termasuk untuk seluruh para ekstras yang muncul satu sampai dua frame saja. Duel suara antara Hugh Jackman dan Russell Crowe kendati kokoh tapi saya merasa Russell Crowe seperti miscast. Ketidak seimbangan mereka berdua dalam satu layar saya rasakan terlalu timpang. Di lain pihak, Anne Hathaway justru mengeluarkan seluruh jiwa raganya untuk filem ini. Akting menangis saja susah, apalagi harus diiringi dengan bernyanyi, jelas bukan pekerjaan mudah. Tak heran Anne banyak membawa piala dan penghargaan atas kerja kerasnya di filem ini. Untuk para pemeran pembantu, keeksentrikan serta kepiawaian mereka menggubah lagu menjadi enak didengar juga harus diapresiasikan sebesar-besarnya. Karena kendala utama menjalankan sebuah filem musikal terletak pada kemampuan aktor dan membari nyawa ke filem itu sendiri.

Les Misérables, sudah banyak pentas musikal atau bentuk karya lain dengan mengambil sudut pandang yang berbeda-beda. Bagi saya, karya teranyar Tom Hooper ini tidak memberikan hal yang baru yang bisa saya banggakan, atau setidaknya memberi dampak kagum seperti halnya saya menyaksikan Chicago yang begitu superior itu. Sekalipun filem ini sudah didukung dengan sangat baik, baik dari sektor musik hingga penataan busana dan make-up, tetap saja bagi saya filem ini hanya akan bertengger di filem bagus saja. Jika saja penampilan para aktornya biasa-biasa saja, mungkin filem ini akan dengan mudah terlupakan untuk saya. Namun, penampilan extraordinary yang diberikan Anne Hathaway dan Samantha Barks memang terlalu manis untuk ditinggalkan begitu saja. Tak salah dengan raupan 8 nominasi Oscar untuk filem ini. Akhir kata, sebagai pilihan di akhir pekan Les Misérables sangatlah cocok, namun sebagai love letter untuk masa keemasan era musical movie, jelas bukan. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Kamis, 03 Januari 2013

Upside Down (2012)


Director: Juan Diego Solanas
Cast: Jim Sturgess, Kirsten Dunst, Heidi Hawkins
Rate: 3,5/5


Kirsten Dunst akhir-akhir ini sering membuat kejutan dengan bermain di berbagai genre filem. Menyengat tanpa ampun lewat Lars von Trier's Melancholia, ceria lewat Bachelorette, dan sekarang mengejar cinta di tema science-fiction garapan sutradara kurang terkenal, Juan Diego Solanas. Tidak ada yang salah dari Kirsten Dunst saat ia merapalkan mantranya dan bermain dengan sangat bagus di beberapa filem yang ia perankan. Hanya saja, kadang performa baiknya hanya dipandang sebelah mata. Transformasinya sebagai Marie Antoinette jelas menunjukkan kredibilitasnya sebagai seorang aktris. Ia berhasil memberi nyawa ke sosok ratu tengil tersebut. Watak depresinya di Melancholia pun juga hanya bergaung di sekitaran Cannes tanpa sedikitpun juri Oscar memberi muka. Dunst tinggal menunggu waktu dan proyek penting agar ia bisa disejajarkan ke dalam rombongan aktris yang tak hanya berparas ayu juga memiliki tingkat akting yang tinggi. Dengan muka-tak-pernah-tua-nya, Dunst acap kali memperoleh tokoh yang memang diperuntukkan untuk kaum muda, seperti misalnya di Upside Down ini.

Konon, diceritakan adanya dunia terbalik. Jauh dari bumi, terdapat kehidupan atas dan bawah yang juga memeliki jembatan strata di antara keduanya. Kehidupan down below dicap sebagai kaum miskin sedangkan dunia up above disinyalir sebagai komunis sejati dan contoh kehidupan masa depan yang cemerlang. Bertemulah sepasang anak manusia dari dua belahan dunia tadi. Mengambil kesempatan untuk mencapai puncak masing-masing medium. Suatu hari, kelakuan mereka diendus opsir dan menyebabkan bencana awal yang mereka tak bisa hindari. 10 tahun kemudian, sosial up above berkembang pesat dan para pekerja down below rebutan untuk mendapat posisi di Transworld. Penemuan Adam ternyata dikejar oleh pihak Transworld. Adam sedang bereksperimen untuk menyeimbangkan dunia atas-bawah agak bisa berkonsolidasi tanpa ada sekat gravitasi. Pun dengan tujuan utamanya untuk menemukan cinta lamanya yang hilang tak berbekas.

Buat sebagian orang, filem ini sangat-sangat menjengkelkan. Jengkel kenapa, karena cerita filem ini teramat sangat lemah. Sayapun tidak bisa menyangkal fakta itu. Upside Down jatuh bebas karena ceritanya yang sangat mudah ditebak dan terkesal konyol kalau tak mau dibilang tidak masuk di akal. Separuh awal filem ini hanya bermain di zona aman masalah cinta, ambisi, dan kembali ke cinta. Namun, poin plus Upside Down adalah visual yang sangat memanjakkan mata dan imajinasi. Bagaimana sang kreator beserta parlemen efeknya membuat 2 dunia menjadi sangat nyata dan unik. Komposisi kedua belah pihak dan labirin yang berbeda pun terbilang orisinil. Kendati filem ini sangat anti klimaks dan persoalannya tidak begitu pelik dan rumit, sang sutradara juga tidak kikir memberikan kesan indah di sela-sela keminiman budget-nya. Skrip yang lemah memang akan menjadi batu sandungan buat filemnya sendiri, mungkin itu juga yang membuat Upside Down tidak begitu kedengaran gaungnya.

Jim Sturgess, peranakan British yang masih dianak-tirikan di Hollywood berhasil mengubah tampilannya menjadi anak yang tengil dan nakal. Namun, juga berhasil menampilkan sosok pekerja keras serta pria kikuk di depan wanita. Dunst justru yang tidak berubah secara drastis. Perannya sebagai Eden tak ubahnya saat ia menjadi Mary J. Watson. Untunglah, saat dipadukan dengan Sturgess, keduanya berhasil memberikan kesan nyata jika mereka memang sedang dihujam rindu. Andai Upside Down diberikan jeda sedikit lagi untuk bisa diperbaiki, mungkin saja Upside Down akan jadi sesuatu yang baru dan epik untuk sektor filem bertemakan fiksi.

My verdict, Upside Down akan menjadi salah satu filem terfavorit saya sepanjang masa. Tidak demikian bagus, tapi pencitraan yang telah dibuat dengan amat menawan berhasil menghipnotis saya dan memberi arti yang lebih luas akan optimistis dan raihan cinta yang didapat. Konklusi yang tidak sepadan dengan visualnya yang menyebabkan Upside Down lagi-lagi menambah deret panjang filem Kirsten Dunst yang dipandang sebelah mata. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 08 Desember 2012

The Hunger Games (2012)

Director: Gary Ross
Cast: Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Liam Hemsworth, Stanley Tucci, Wes Bently, Elizabeth Banks, Woody Harrelson, Toby Jones
Rate: 2,5/5


The Hunger Games muncul sesaat sesudah usainya saga Harry Potter dan sebelum tamatnya franchise Twilight. Sebuah start yang bagus mengingat kedua seri besar itu harus dilanjuti dengan waralaba yang diharapkan bombastis juga. Tidak banyak novel berseri yang akhirnya sukses menjamu fans dan penonton awam ketika diangkat ke media film, seperti Eragon dan The Golden Compass misalnya, yang kelanjutannya masih berupa hembusan angin. Seperti mengikuti jalur seniornya, The Hunger Games yang di novelnya ditujukan ke pembaca remaja, versi filmnyapun ikut-ikutan dibuat seaman mungkin untuk menarik banyak peminat dan dilabeli PG-13 saja. Untuk beberapa sektor, ide yang jitu melihat box office filem ini yang lumayan saat masa edarnya. Namun, untuk beberapa kondisi dan keperluan film, rating PG-13 tadi malah menjadi kendala mengapa filmnya menjadi sangat kekanak-kanakan.

Sekumpulan anak dari berbagai distrik di suatu jaman distopian, diharuskan mengikuti kontes musiman yang diselenggarakan panitia setempat dan kru tv untuk saling menyelamatkan diri di lokasi hutan yang sudah dipersiapkan. Mereka 'wajib' saling bunuh jika ingin menjadi pemenang tunggal. Adalah Katniss Everdeen yang menggantikan sang adik yang awalnya terpilih secara acak untuk mewakili daerahnya bersama pasangannya Peeta. Katniss harus rela meninggalkan keluarga dan sahabatnya, Gale, untuk ikut serta di turnamen kematian tersebut. Singkat cerita, selama masa survival in the woods itu para kontestan saling baku hantam, dan menyisakan beberapa orang saja, termasuk Katniss dan Peeta. Perjuangan mereka dengan segala trik dan ide untuk menyambung nyawa berujung sebuah kebahagiaan yang kita (penonton-red) sudah tau bagaimana akhir film ini. Happy ending!

Sebagian besar film ini mengingatkan saya kepada film fenomenal Battle Royale yang memiliki rating 'Dewasa'. Dan memang di situ kandungan thriller-nya sangat kental. The Hunger Games, alih-alih ingin menyamakan (walaupun si penulis novelnya tidak berniat demikian) unsur yang ada di Battle Royale, adegan kekerasannya serba tanggung. Suzanne Collins selaku novelis yang bertanggung jawab atas ceritanya sudah memberikan permulaan untuk dieksekusi Gary Ross sebaik mungkin. Sayangnya Ross terlalu berpatokan pada pasar. Tidak ada ketegangan saat melihat tokoh utama kita lari-larian menyelamatkan diri dari berbagai serangan dari musuh. Nihil adrenalin yang diciptakan. Apalagi adegan aksi di film ini terlampau sedikit mengingat durasi film ini lebih dari 2 jam. Drama untuk satu jam pertama saya nilai terlalu berlebihan, apalagi jika cuma diisi hal-hal kosong yang tidak bergitu penting.

Set dekorasi film ini juga tidak mengisyaratkan jika film ini dimaksudkan untuk menjadi waralaba besar. Pesona hutan dan 'kantor' para kru dibuat begitu saja. Poin plusnya, kostum dan make-up film ini diperhatikan dengan cukup baik sampai-sampai ingin tertawa saat melihat Stanley Tucci dan Toby Jones dengan dandanan seperti itu. Gary Ross juga pelit menyelipkan adegan-adegan berani serta dialog yang bisa membangun semangat penonton. Untung saja film ini memakai jasa Jennifer Lawrence. Aktris muda yang sudah diakui bakat aktingnya ini sukses membawa peran pahlawan dadakan seorang Katniss. Kepiawaiannya dalam memanah dan aksi bak-bik-buk cukup membuat kita percaya jika ia seorang hero. Sisa aktor lainnya tidak begitu bermasalah kendati tidak ada satupun dari mereka yang bermain total bagusnya.

The Hunger Games mungkin tidak tujukan sejauh seperti saya utarakan di atas. Walau bagaimanapun juga film akan terasa buruknya jika diolah dengan serba kekurang-matangan di departemen apapun yang melengkapinya. Jika Ross ingin serius membesarkan novel berseri ini, Catching Fire harus lebih berkualitas dari ini. Ingat, The Hunger Games bukanlah Twilight yang memunyai banyak komponen majis di dalamnya. Jika harus menaruh beban di pundak Jennifer Lawrence seorang, The Hunger Games ujung-ujungnya akan jatuh di penilaian yang sama. Happy watching!

by: Aditya Saputra

End of Watch (2012)

Director: David Ayer
Cast: Jack Gyllenhaal, Michael Pena, Anna Kendrick, Natalie Martinez, America Ferrera
Rate: 4/5


Apa yang menarik dari kehidupan kepolisian sampai sutradara-sutradara Hollywood sering sekali mengangkat dunia kelam mereka ke layar lebar. Entah sebagai contoh baik maupun cermin buruk seorang polisi, sineas sana mencoba membuka tabir sesungguhnya bagaimana wakil rakyat tersebut dalam memberantas (dan menimbulkan) keonaran. Dekade ini saja sudah puluhan film yang menceritakan sepak terjang pekerja berseragam cokelat/hitam tersebut. Denzel Washington pernah menerima Oscar atas perannya sebagai polisi kejam di Training Day, Nicolas Cage dan Michael Shannon baru-baru ini merefleksikan tabiat buruk seorang polisi. Richard Gere dan Mel Gibson pun tak mau ketinggalan dalam memerankan tokoh masyarakat ini. Sekarang, Jake Gyllenhaal dan Michael Pena kebagian tugas yang sama. Bedanya, yang ini lebih intens dan nyata.

Dibuat oleh David Ayer, orang yang juga pernah memroduksi film polisi-polisian juga lewat Street Kings (2008), film menceritakan tentang 2 orang polisi muda yang merekam aktifitas mereka selama mengabdi di kepolisian setempat. Dengan kerja sama yang baik, mereka lambat laun mendapatkan suatu penghormatan berkat keuletan mereka dalam menemukan gembong-gembong kejahatan di kota kecil tempat mereka patroli. Suatu hari, aksi pemergokan obat-obatan terlarang dan sejumlah senjata api ke kumpulan warga negro berujung panjang. Konklusi dan keputusan yang mereka ambil menyebabkan benang kusut yang mereka sendiri tidak bisa lagi merapihkannya. Kehidupan keluarga mereka yang tentram damai harus berujar kepada nasib yang memang sebagai eksekutor.

David Ayer menyulap End of Watch seperti sebuah film dokumenter berkat teknik hand held camera yang ia gunakan hampir di keseluruhan film ini. Kamera pengintai yang dipegang oleh pemeran utama menangkap kejadian-kejadian keseharian mereka baik dalam keadaan bertugas maupun saat sedang memadu kasih dengan pasangan masing-masing. Itulah yang membuat film ini begitu istimewa. Penonton diajak mengarungi apa yang mereka kerjakan, tidak hanya sebagai penonton tunggal. Keefektifan tersebut berdampak positif karena membuat tensi emosi menjadi terkontrol. Banyak adegan yang terlampau keji dan menjijikan di film ini disorot dengan sangat pintar berkat teknik tadi. Walaupun film ini tidak begitu mengandalkan sisi musikalitas, namun berkat kejelian Ayer dalam menggunakan jasa shaking camera tadi sektor musik jadi tidak begitu penting. Pun dengan kejutan-kejutan kecil yang bisa membuat saya puas bahwa masih ada sineas yang begitu peduli dengan penonton.

Pemanis kita semisal Anna Kendrick, Natalie Martinez, dan America Ferrera sudah mengerjakan tugasnya dengan cukup baik. Pendamping main casts yang super duper bermain total dan luar biasa apik. Jake Gyllenhaal dan Michael Pena menunjukkan bakat terbaik mereka di bidang ini. Keduanya melebur dan membuat kita percaya jika mereka adalah teman sejawat sehidup semati. Candaan mereka di mobil yang tersorot kamera benar-benar nyata dan tidak dibuat-buat, dialognya mengalir dengan santai dan mengharu biru. Terlebih lagi saat sudah mendekati ending film. David Ayer beruntung casting director film ini bekerja dengan sangat baik.

David Ayer naik kelas berkat filemnya kali ini. Bantuan di belbagai departemen pelengkap film yang beroperasi dengan amat baik membantu meningkatkan bobot kualitas End of Watch. Tahun depan Ayer akan mengajak Arnold Schwarzenegger untuk mengisi slot film Ten. Semoga saja akan sebagus atau bahkan melebihi kapasitas yang telah ia persembahkan lewat End of Watch. Serta merta tuah baik juga bersimbah kepada Gyllenhaal dan Pena yang dari sekarang sudah digadang-gadang untuk menempatkan posisi aktor utama & pendukung terbaik di ajang-ajang film pra-Oscar. Kita tunggu saja kelayakannya. Satu poin yang pasti, End of Watch mendewakan sekali asas persahabatan. Dan sudut pandang itulah yang menjadi pokok persoalan film ini. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Selasa, 20 November 2012

Breaking Dawn part. 2 (2012)


Director: Bill Condon
Cast: Kristen Stewart, Robbert Pattinson, Taylor Lautner, Michael Sheen, Dakota Fanning, Peter Facinelli, Elisabeth Reaser, Ashley Greene, Jackson Rathbone
Rate: 3/5


Akhirnya, saga akbar ini tiba di pemberhentian terakhir. Euforia luar biasa yang dimulai sejak novel buatan Stephanie Meyer, Twilight rilis, akan hilang gemanya seiring waktu berjalan. Saya akui kemunculan Twilight tempo hari memang kelak akan menjadi sefenomenal sekarang. Dan sekarang terbukti, entah sudah berapa milyar dollar pundi-pundi yang dihasilkan seri ini dan menggembungkan tabungan PH kemarin sore, Summit Entertainment. Summit yang kian raksasa berkat saga ini urung gulung tikar. Judi yang menguntungkan. Dan mungkin karena isi Twilight yang sungguh kewanitaan pula lah yang membuat kelima filmnya digandrungi dari seri ke seri. Penghasilan tak pernah merosot dan para aktornya pun kecipratan tenar. Namun apa daya, di luar itu semua dan bila harus jujur, saga ini hampir tidak pernah memiliki kualitas di atas rata-rata. Mulai dari cerita yang biasa saja, pengeksekusian yang kurang maksimal, hingga permainan tanpa ekspresi dari para pelakonnya.

Di bab baru ini, Renesmee mangalami pertumbuhan yang sangat signifikan hingga menjadi rumor sedap bagi para bangsa Volturi yang tidak setuju adanya kaum imortal. Bella Swan dan suaminya, Edward Cullen mencoba menomorsatukan keselamatan anaknya dengan berbagai cara. Dibantu para keluarga Cullen dan mendapatkan sokongan dari klan werewolf, kubu si baik ini menjadi tambah kokoh. Kehausan grup Volturi yang dipimpin Aro semakin tinggi. Mencoba mencari kebenaran  isu dengan meminta bantuan kepada Alice, rombongan vampir berjubah ini menabuh genderang perang dan memaksa secara halus kepada para koloni untuk menyerahkan Renesmee.

Yang menyenangkan dari saga ini adalah pemilihan lagu pengiring yang nantinya akan mengisi album soundtrack-nya. Mulai Twilight hingga film kelima ini semua diisi oleh penyanyi terkemuka lengkap dengan lagunya yang membius masyarakat luas. Tapi tetap saja yang akan saya nilai adalah keseluruhan film ini. Paruh awal di mana saat Bella 'belajar' menjadi makhluk baru dan keintiman dengan suaminya jujur saja adalah saat-saat terlemah dari film ini. Tempo yang lamban tanpa ada adegan yang menarik bisa jadi akan melumpuhkan film ini secara utuh. Naskahpun terbilang buruk, tanpa adanya dialog berbobot. Walaupun secara singkat kita dijabarkan begini begitu namun tetap saja pembawaan Bill Condon yang terlalu fokus malah terpecah ke mana-mana. Kemunculan karakter baru juga patut diadili secara bijak. In frame seadanya mereka malah membuat penonton bingung ini siapa dan itu siapa. Kendati begitu, penata kamera film ini sudah berjasa besar. Tanpa tangan midas Navarro, niscaya kamera dengan mudah menangkap visual yang sangat cantik dari film ini. Landscape gunung, lahan bersalju bahkan saat adegan puncak diperhatikan dengan sangat baik.

Kita kenal Bill Condon berkat film-film berkelas Oscarnya. Menulis skrip Chicago dan menyutradarai Dreamgirls sedikit banyak memberikan pengalaman baginya untuk memoles Breaking Dawn part. 2 terlihat bagus. Bill Condon belajar dari bagian 1-nya yang condong ke arah buruk, dan oleh sebab itu di sini ia mencoba menetralisir dan duduk di tengah-tengah. Menyenangkan pecinta Twilight dan memberi semangat baru bagi yang kurang suka seri ini. Adegan puncak dibuat sedramatis dan seepik mungkin. Walaupun kurang 'berdarah', namun yang pasti kejutan di akhir film adalah salah satu penutupan yang sangat menakjubkan yang pernah ada. Penonton dibuat terperangah. Semula adrenalin yang dibuat kencang seketika umpatan-umpatan kasar yang keluar saat twist itu muncul.

Sayangnya, lagi-lagi saga ini tidak memberikan luapan emosi lewat ekspresi. Semua aktor bermain canggung seperti biasanya. Bahkan chemistry Pattinson - Stewart tidak seromantis film-film drama percintaan kebanyakan. Mungkin Michael Sheen yang terlihat serius bermain film ini, Dakota Fanning yang mendapatkan dialog satu kata cukup bisa memberi arti talentanya cuma lewat bantuan mimik muka. Selebihnya, kita  hanya diberikan audio visual yang cantik, bukan lewat bakat alami aktornya. Ketutupan make-up mungkin.

Breaking Dawn part. 2 memang tidak semeriah itu, film ini justru masih banyak kelemahannya apalagi di sektor pengembangan cerita. Tertolong kecanggihan Bill Condon dalam mengolah epic battle, yang secara tidak langsung menaikkan derajat Twilight bagi golongan twihater (begitulah orang-orang menyebutnya...). Dan senang rasanya mejadi saksi penutupan sebuah seri dengan hasil akhir yang memuaskan. Layaknya Harry Potter yang juga tamat dengan sejuta senyum, Twilight pun menutup sejarah bukunya dengan baik. Lupakan untuk membandingkan dua mega franchise tersebut karena mau tak mau, keduanya beda alam, jenisdan tentu saja beda kualitas. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Jumat, 02 November 2012

Skyfall (2012)


Director: Sam Mendes
Cast: Daniel Craig, Judi Dench, Ralph Fiennes, Javier Bardem, Naomi Harris, Ben Wishaw, Berenice Lim Marlohe
Rate: 4/5
Dr. No adalah permulaan yang bagus sekaligus menjadi mata rantai bagaimana sebuah franchise tentang spionase agent menjadi alat pengeruk uang. Cerita rekaan dari Ian Fleming mengglobal seantero dunia dan dari tahun ke tahun mengalami kematangan yang signifikan diiringi dengan pergantian pemeran Bond itu sendiri. Sean Connery tentu saja tidak akan selamanya menjadi James Bond, dan bisa saja menjadi Bond terbaik yang pernah ada. Dari mulai Roger Moore hingga Pierce Brosnan yang berupaya menggantikan keparlentean seorang Connery, start berujung pada pemilihan sosok Daniel Craig yang awalnya tidak terlalu disegani untuk membawa karakter legendaris ini. Namun nyatanya, lewat Casino Royale, Craig bisa mematahkan segala asumsi negatif tentang dirinya sekaligus membuktikan jika ia bisa melebihi kapasitas dari yang diharapkan sebelumnya. Bond di tangan Craig jelas bukan agen 007 yang sudah-sudah. Flamboyan yang sudah terlabel sejak awal dibiaskan oleh kemunculan awalnya di Casino Royale yang urakan, namun mematikan. Daniel Craig ditinjau lebih jauh lewat Quantum of Solace yang semakin mengukuhkan tajinya jika ia adalah Bond generasi baru.
Lain Craig, lain pula hanya Sam Mendes, nahkoda dari seri teranyar agen 007 ini, Skyfall. Mendes yang kita kenal sebagai sutradara berciri khas kisruh rumah tangga, sekarang langsung naik tahta untuk mengangkat saga ini lebih tinggi lagi. Dengan predikat Oscar yang sudah disandangnya, mau tak mau Mendes akhirnya mengemban beban berat juga agar hasil akhir film ini tidak anjlok. Betul saja, Mendes tidak main-main. Mengajak 3 orang scriptwriter andalan, merekrut Roger Deakins di sektor penggarapan gambar serta Thomas Newman di teritori penggarapan musik, memang berdampak pada kualitas Skyfall secara keseluruhan. Semuanya bekerja dengan sangat baik dan Skyfall berhasil menghapus dahaga penonton yang was-was akan kualitasnya. Score music yang sangat luar biasa membius dan juga tampilan cerita yang jauh lebih dewasa dan berbobot. Mendes menyeimbangi antara porsi action dan dramatisasinya.
Lihat saja opening scene-nya yang sangat classy dan simbolisasi sepanjang theme song bergulir memang adalah kumpulan singkat bagaimana filmnya kelak akan bercerita. Opening scene-nya mungkin salah satu yang terbaik yang pernah ada. Konfliknya pun semakin menggigit. Bond tidak hanya sekadar mengentaskan misi tapi juga harus merasakan kehilangan yang pahit. Boleh dibilang seri ini adalah kemaklumatan bagi sosok M yang mana emosi seorang Judi Dench dikuras habis-habisan. M tidak pernah sedramatik ini. Tokoh-tokoh tambahan yang mana nantinya mendapat peran penting juga patut disimak sepak terjangnya.
Kehadiran Daniel Craig sejak ia menerima tongkat estafet dari Brosnan memang sedikit mencengangkan. Aktor kemarin sore yang dikemas sedemikian rupa dan sekarang menjadi sosok yang dielu-elukan. Perombakan drastis pada dirinya sebagai persiapan menyelami tokoh 007 ini patut diberi kredit tersendiri. Craig diciptakan untuk peran yang seperti ini. Judi Dench, filosofis sosok M yang demokratis namun juga berjiwa pemimpin yang sangat solid. Tidak bisa dibayangkan jika karakter M harus dipegang oleh aktor lain. Kejutan yang diselipi di tengah dan akhir cerita memang akan menguak rasa penasaran penonton. Musuh Bond kali ini diprakarsai Javier Bardem, sosok kelam Anton Chigurh yang memberikannya Oscar atas peran mematikannya itu. Bardem sama halnya Mathieu Almaric yang kejam dan keji hanya lewat raut muka. Shiva di tangan Bardem dibimbing untuk kesetanan pada waktunya. Sorotan mata Bardem ditambah kekuatan suara yang membuat dialog menjadi begitu horor.
Sam Mendes akhirnya terbukti kuat di luar zona amannya. Budget besar yang dicurahkan kepadanya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Pemilihan cast yang sempurna, pembuatan adegan yang memanjakan mata, serta memilih Adele untuk mengisi theme song nya bertajuk sama juga merupakan hasil kinerja dan tanggung jawab dari Mendes. Melepas Skyfall ke pasaran dengan hasil jutaan dolar dan timbunan review positif dari siapa saja yang menontonnya. Dan siapa tau, juri Oscar melirih film ini untuk diikut sertakan di bursa Oscar 2013 kelak. Happy watching!
by: Aditya Saputra


Kamis, 27 September 2012

Premium Rush (2012)


Director: David Koepp
Cast: Joseph Gordon-Levitt, Ramirez, Michael Shannon, Jamie Chung
Rate: 4/5


JGL sepertinya kena tuah keberuntungan untuk tahun 2012 ini. Tiga filemnya rilis hamper berdekatan. The Dark Knight Rises lahir dengan segala puja-puji atas karya Nolan tersebut dan otomatis JGL kebagian getah baiknya. Karakter yang dia mainkan sangat kuat seimbang dengan sumbangan aktingnya yang juga memuaskan segala pihak. Berlanjut ke Premium Rush dan Looper yang sama-sama dicap sebagai tontonan yang berkualitas dan menghibur. Khusus Looper, filemnya bahkan belum dirilis luas tapi gembar-gembor sebagai salah satu sci-fi terbaik sudah menyeruak ke khalayak dunia. Untuk pemanasan, JGL mengajak kita menyelamatkan dokumen penting sambil bersepeda di jalan raya lewat Premium Rush. Dikomandoi oleh David Koepp, Premium Rush muncul dengan semangat tinggi dan positif.

Diceritakan adalah salah satu kurir sepeda terbaik yang kebagian ‘malapetaka’ untuk mengantarkan dokumen berbahaya dari dan ke orang Cina. Hanya saja, kerahasiaan dokumen tersebut tercium oleh oknum yang ingin menyalahgunakan barang tersebut. Adalah polisi bertabiat iblis yang kecanduan judi dan terlilit banyak hutang. Bayangan uang di depan mata membuat polisi bejat tersebut melakukan segala cara untuk mencegat si kurir di tengah jalan. Sebagai cerita sampingan, si kurir ternyata sedang ada masalah percintaan dengan kekasih yang juga seorang kurir sepeda. Sekilas, premis di atas seperti kebanyakan filem aksi kebanyakan. Dalam benak kita, premis seringan itu akan menjadi tontonan sekali lewat saja. Hanya saja, paradoks tadi akan menguap seiring dengan tempo film yang sudah dibuat keren lewat prolognya.

Premium Rush layaknya Unstoppable buatan Tony Scott. Cerita biasa-biasa saja tapi diadon dengan sangat mahir. Unstoppable memang menggiring penonton ke wahana kereta api yang memacu ketegangan dari awal hingga akhir. Begitu pula dengan filem ini, Koepp seakan tidak ingin memberikan jeda ke penonton untuk ke toilet sekalipun. Karena, tiap adegan diisi dengan emosi yang sama bahkan bertambah dari menit ke menit. Bagaimana teknik kamera dan teknik bersepeda yang dipaparkan di layar dengan begitu aduhai, cantik, dan membius. Diiringi pula dengan musik yang bersenyawa langsung, durasi singkat filem ini menjadi amat-amat singkat saking tidak terasanya waktu berlalu. Laiknya pelakon yang kebut-kebutan di jalan, film ini melaju juga dengan kecepatan penuh tapi bertanggung jawab. Tidak ada adegan kosong yang sia-sia yang akhirnya mengefek ke aktornya.

Main cast kita, JGL, seperti yang sudah-sudah selalu memamerkan akting yang maksimal. Levitt dengan cekatan mengayuh kendaraan roda dua tersebut disertai dengan permainan air muka yang pas. Sebenarnya, yang membuat film ini spesial adalah teknik kamera dari tangan Koepp, tapi disempurnakan oleh para wayangnya. Oleh sebab itu, talenta Levitt dan lainnya sebagai penyokong yang sangat klik. Selain Levitt, satu aktor lagi yang menyita perhatian adalah Michael Shannon. Selepas mengacau jiwa Winslet dan menyelamatkan Chastain dari bencana, peran polisi kotornya di sini dimainkan dengan penuh jiwa. Setali tiga uang dengan Nic Cage di Bad Lieutenant yang sama-sama tokoh yang mencoreng nama baik kepolisian, Shannon adalah cermin busuk NYPD di Amerika sana. Mulai dari ekspresi kesal, kecewa, hingga kebingungan dilampiaskan dengan amat bengis dari wajah melankolis Shannon. Chung, Ramorez, dan lainnya cukup sepadan dalam mensubtitusikan bakat akting mereka di tengah-tengah kegarangan Levitt dan Shannon.

Parade kejar-kejaran yang dikerjakan sepanjang filem memang menyenangkan untuk disaksikan. Saling salip-menyalip di tengah keramaian, forbidden way, baku hantam, keringat yang mengucur, adalah bukti betapa hebatnya film ini. Seharusnya film ini dilempar saat musim panas yang siapa tau bisa mengeruk laba lebih banyak. Tapi dengan hadirnya di bulan September di mana film berbudget megalomia kurang menggema, perilisan Premium di bulan ini sangat beralasan. Sebagai penutup, setelah menjadi Robin dan bersikukuh menyelamatkan arsip berharga atas nama pedal sepeda, saya semakin penasaran dengan darah akting segar dari Levitt di Looper. Dan semoga aksi Willis bisa menyeimbangi bahkan melebihi apa yang Shannon sumbangsihkan untuk Premium Rush. Happy watching!

By: Aditya Saputra

Senin, 24 September 2012

Resident Evil: Retribution (2012)



Director: Paul W.S. Anderson
Cast: Milla Jovovich, Michelle Rodriguez, Li Bingbing, Sienna Guillory
Rate: 2/5


Banyak sebab musabab mengapa akhirnya Resident Evil seri kelima ini dilempar ke pasaran. Pertama, mungkin cerita di game-nya sendiri masih bisa dieksplorasi dan dibentuk dengan cerita utuh, kedua dan yang paling pokok ialah karena uang. Sejujurnya, seri keempat film ini jauh dari kata bagus jika saja tidak diimbangi dengan visual tridi yang memukau. Oleh karena gimmick 3D-nya yang lumayan mencengangkan, lanjutlah seri ini. Toh, duet Anderson dan Jovovich masih punya majis tersendiri. Terutama untuk Jovovich, yang makin tua, makin sedap dipandang. Seakan mengandalkan aura dan pesona Jovovich seorang, lantas film ini mengesampingkan keterlibatan aktor besar lainnya, termasuk Michelle Rodriguez.

Awal mula film ini adalah flasback cerita dari film pertama hingga Alice yang mati-matian membasmi zombie di jilid keempat. Cerita melompat saat perang bar-bar di atas kapal dan terus menuju markas Umbrella Corp. Alice kembali diutus mengemban tugas menyelamatkan dunia Racoon City pada khususnya. Sekaligus harus menyelamatkan anak kecil yang menjadi bayang-bayang di kehiduan nyatanya. Sampai sini, sudah jelas penonton bisa menerk-nerka sendiri alur ceritanya yang memang mudah ditebak. Tidak ada pembaharuan di sisi ini. Hanya saja, Anderson menambahkan adegan tipuan yang boleh jadi dianggap sebagai penyegaran. Congkaknya lagi, adegan-adegan tadi tidak dieksekusi secara maksimal. Serba tanggung, jadi saat tensi penonton sudah di puncak, dengan naivnya si empunya filem langsung membanting mood tadi. Terasa hambar.

Jangan mengharapkan kapasitas akting yang mumpuni dari filem ini. Jovovich jelas-jelas mengalami stagnansi berkepanjangan di kubangan seri ini. Ekspresi datar dan serba masam baik saat adegan sedih maupun adegan aksipun mukanya begitu-begitu saja. Yang lainpun kena tuah busuknya, tidak ada bakat akting mereka yang dimanfaatkan sebagaimana mestinya. Karakter baru yang diperankan Li Bingbing pun tidak cukup menyita perhatian penonton. Untung saja filem ini masih bisa dipertanggungjawabkan lewat sisi teknisnya. Anderson mungkin sudah menduga jika filemnya akan menjadi jiplakan semi-formal dari gimnya, maka diapun tidak meluputkan sisi pinggir dari fielmnya ini.

Mulai dari musik pengiring, audio visual yang membahana satu ruangan studio, serta mainan baru era 3D sekarang ini diproduksi dengan penuh semangat. Anderson seperti tidak ingin menyia-nyiakan teknologi yang ada sampai ia rela mengorbankan kualitas akting para pelakonnya. Malahan, untuk konsumsi visual moster-nyapun lebih enak ditonton. Entah Anderson kesulitan memopang para wayangnya atau memang bukan itu dagangan utama filem ini.

Bisa saja Resident Evil akan muncul yang keenam bahkan ketujuh, itupun jika produser masih gelap mata akan raupan dolar untuk seri kelima ini. Yang jelas, jika Anderson ataupun sutradara lain yang menerima tongkat estafet kelak masih jalan di lajur yang sama, mau tak mau film seperti akan akan berakhir di luar isi kepala penonton. Ditonton, lantas dilupakan. Yah, lebih menyenangkan jika Anderson meng-handle filem semacam Death Race yang ketauan seru dan kosongnya daripada film yang penuh ekspektasi seperti ini tapi hasilnya IQ jongkok.Happy watching!

by: Aditya Saputra