Tampilkan postingan dengan label drama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label drama. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Juni 2013

The Great Gatsby (2013)


Director: Baz Luhrmann
Cast: Leonardo Dicaprio, Tobey Maguire, Carey Mulligan, Isla Fisher, Joel Edgerton, Amitabh Bachchan, Elizabeth Debicki
Rate: 2,5/5


Bilamana sebuah cerita yang diisi dengan begitu banyak pemain papan atas tapi hasilnya biasa saja malah menjurus ke jelek? Kasus ini sering terjadi di belantika perfilman Hollywood. Sedikit memaksakan dengan mencampur banyak pemanis di sebuah film tanpa memikirkan alur cerita bisa jadi menggali lubang sendiri dan akhirnya filmnya terpuruk di lubang tersebut. Ambil contoh film Nine yang diserbu nama-nama berkelas Oscar tapi dinilai kurang seimbang dengan cerita filmnya yang sangat lemah. Sebelum tayang, The Great Gatsby juga kebagian isu yang sama. Disadur dari novel klasik karangan F. Scott Fitzgerald, The Great Gatsby yang awalnya akan dilempar ke pasar di tahun 2012 namun akhirnya mundur hampir setengah tahun dengan alasan sistem produksi. Tidak bisa disangkal, kutukan yang mengatakan film yang ditunda masa tayang begitu lama biasanya tidak percaya diri dengan hasil akhirnya. Dan kutukan tersebut juga menular ke The Great Gatsby.

Banyak yang menyayangkan mengapa The Great Gatsby hasilnya begitu mudah dilupakan. Padahal, jika kita melihat komposisi yang terkandung di film ini, kita seharusnya menaruh optimisme yang tinggi. Bayangkan, dengan Baz Luhrmann di belakang kamera dan nama-nama semisal Leonardo DiCaprio, Carey Mulligan, serta Tobey Maguire di dalamnya seharusnya, ya seharusnya bisa mendongkrak filmnya jauh mengawang di atas awan. Tampilan film ini sangat-sangat cantik, megah, anggun, dan tertekan secara bersamaan. Set dekorasi serta art direction film ini benar-benar visual orgasm bagi siapa saja yang menontonnya. Ditunjang pula musik dan peragaan busana yang menyejukkan telinga dan mata. Beberapa penyanyi ternama turut menyumbang suara mereka untuk meramaikan film ini. Dan sepertinya seluruh designer di dunia ini berbondong-bondong memberikan sponsorship kepada film ini. Bagaimana tidak, sepertinya bidang ini memang perlu dibidani layaknya fashion show karena cerita dan latar film ini memang memerlukan reklame sebuah kekayaan yang glamor dan flamboyan.

The Great Gatsby memiliki Leo, aktor ambisius yang akan selalu mencurahkan seluruh kemapannya agar terlihat berkualitas di depan layar. Sebagai Gatsby, hal itu berhasil ia buktikan. Dengan logat dan gaya yang ekspresif membuat kita yakin jika Leo adalah Gatsby yang parlente. Tidak kalah memukau adalah Tobey yang sukses menerjemahkan karakter Nick yang sendu, adil, dan bijaksana. Joel Edgerton dan Carey Mulligan sebagai pasutri kaya raya bagi saya sudah bermain dengan sangat pas, terhitung Isla Fisher yang tampil sebentar namun masih tetap mencuri perhatian. Di sektor ini, Luhrmann beruntung memiliki nama mereka di barisan cast-nya. Tidak untuk alur dan terlalu biasanya cerita yang dituju. Semuanya datar, dan tidak ada klimaks yang berarti yang bisa membangkitkan emosi penonton. Padahal, esensi dan masalah yang tertuang di film ini bisa dimanfaatkan dengan baik. Karena, bagaimanapun juga tema perselingkuhan apalagi di wilayah orang berduit pasti selalu menarik untuk disimak.

Lurhmann sepertinya tidak mau susah bagaimana filmnya akan bermuara dan berakhir seperti apa. Kecerobahan ini saya lihat karena Lurhmann lebih memfokuskan masalah teknis tadi. Setengah jam mendekati akhir film, di situlah saat terlemah The Great Gatsby. Kepergian salah satu toko sentral di film ini tidak memberikan efek iba kepada penonton.

Cukup sulit untuk bilang jika saya tidak menyukai film ini. Karena, jika saja Luhrmann tidak menyediakan kehidupan hura-hura yang terpampang di film ini, otomatis The Great Gatsby akan menjadi semakin tidak penting. Mungkin karena itu juga, kegelisahan penonton dibayar lunas oleh keartistikan sebuah lokasi di sebuah drama percintaan klasik ini. Namun, sebagai film yang dirilis di era musim panas, film ini pasti akan malu dengan serbuan film lain yang jauh lebih memukau baik di segi cerita maupun efek-efek canggih nan memukau. Dan sepertinya, Luhrmann harus belajar dari pengalaman agar tidak terlalu lamban untuk membuat sebuah film. Apalagi, ciri khas percintaan yang biasa ia torehkan di film-film sebelumnya semakin luntur. Saya (dan sepertinya para penonton yang lain juga) tidak mengharapkan lebih. Australia bisa begitu memorable bagi saya, karena apa? Karena Australia tidak neko-neko. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Man of Steel (2013)


Director: Zack Snyder
Cast: Henry Cavill, Amy Adams, Michael Shannon, Kevin Costner, Russell Crowe, Laurence Fishburne, Diane Lane
Rate: 3,5/5


Untuk memulai bahasan kali ini, saya ingin beritahu sedikit bahwa saya belum pernah nonton film Superman satupun kecuali buatan Bryan Singer tahun 2006 lalu. Superman Returns yang kata kebanyakan orang masih tetap setia memakai pola film Superman buatan Richard Donner, namun tetap dinilai lemah karena porsi dramanya terlalu padat sehingga membuat Superman Returns layaknya Hulk hasil kreasi Ang Lee. 7 tahun berselang, hadir lagi reboot manusia baja yang kali ini di bawah komando Christopher Nolan dan dinahkodai langsung oleh Zack Snyder, lelaki di belakang suksesnya 300 dan Watchmen. Namun, Snyder pernah tersandung dan jatuh di mata kritikus saat Sucker Punch dan animasi burung hantu Ga'Hoole-nya terperosok habis-habisan karena terlalu mengandalkan slo-mo secara berlebih hingga melupakan teknik lainnya. Akhirnya Man of Steel hadir di depan kita, dan pujian serta cacian pun tetap tak terbendung. Kecuali bagi yang merasa Man of Steel telah lepas jauh dari versi Richard Donner. What did you expect, guys?

Film ini memang diantisipasi sekali oleh fanboy maupun yang hanya sekedar ingin menonton, tapi lambat laun semua pandangan tertuju ke salah satu film ambisius ini. Apalagi banyak yang memasang target berlebih mengingat dayang di belakang layarnya tertera nama Nolan dan Goyer. Tapi, pembuat film tetaplah Zack Snyder, dan semestinya ikut campurnya Nolan di sini hanya sebatas sebagai produser. Snyder-lah algojo yang mengeksekusi filmnya agar lebih berbobot tapi tidak juga meninggalkan kesan komersil Superman-nya sendiri. Dan jika saya lihat, Man of Steel tetap memberikan ciri khas seorang superman dengan memberikan warna yang cukup berbeda dari seri yang terdahulu. Kita akan tahu cikal bakal Clark Kent menjadi superhero. Tidak sampai di situ, fase flashback saat ia masih kecil dan dirawat oleh keluarga Kent cukup menyita emosi saya. Sangat jarang saya menonton film bertemakan pahlawan yang begitu menyentuh. Walaupun editing-nya sangat kasar, setidaknya pencapaian dramanya tetap terjaga.

Dan kita memasuki bagian super-duper-berlebihannya film ini. CGI dan visual effect. Maksud saya saat final battle-nya. Penggambaran dunia Krypton dilukiskan dengan sangat indah, believable, dan megah. Setelah itu, visual-nya tampak sangat berantakan. Perkelahian antara dua kubu terlalu mengada-ada dan tidak relevan sama sekali. Efeknya terlalu manis sampai-sampai membuat mual jika dikonsumsi terus-terusan. Untunglah film ini diiringi dengan musik yang lumayan membangun filmnya sendiri. David S. Goyer sepertinya sedikit goyah dalam membuat ceritanya ini menjadi lebih menarik. Mungkin karena Goyer lebih menitikberatkan drama flashback-nya tadi daripada harus mengupayakan bagaimana percintaan Kent dan Lane diungkap di sini.

Henry Cavill si manusia baja telah menunjukkan kapasitasnya sebagai aktor baru yang siap mematahkan persepsi awal bahwa ia bisa menjadi pahlawan super. Dengan postur tubuh yang sangat memungkinkan untuk menjadi seorang superhero. Sayang, Cavill masih lemah dalam menerjemahkan emosi Kal-El di momen-momen penting sehingga membuat adegan tersebut tasteless. Amy Adams bermain pas, pun dengan Crowe sebagai Jor-El yang tidak berlakon berwibawa yang berlebihan. Namun yang menarik adalah penampilan Kevin Costner dan Michael Shannon. Selama saya menonton, semua adegan yang ada Costner-nya sukses membuat saya sedih, dan adegan yang ada Shannon di dalamnya berhasil membuat saya geram. Bintang tetaplah bintang, sebagai supporting actor pun mereka tetap menunjukkan kapasitas seorang bintang.

Sebagai film musim panas, Man of Steel bagi saya sudah memenuhi syarat. Menghibur namun tidak lupa membekaskan logika. Menyortir semua kejanggalan yang biasa terjadi di film superhero. Sayang, saya nilai Zack Synder terlalu tergesa-gesa membuat Superman agar menjadi pahlawan masyarakat yang kembali bisa dikenang. Akibatnya, Superman kali ini sepertinya mudah sekali untuk dilupakan. Setidaknya, sisi humanis yang menempel di film ini yang diproklamirkan sepanjang film cukup membuat saya begitu terpesona. Masih ada film bertema sejenis yang memiliki misi secara universal, bukan hanya untuk dunia perkomikan sahaja. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Senin, 03 Juni 2013

Laura & Marsha (2013)


Director: Dinna Jasati
Cast: Ardinia Wirasti, Prisia Nasution, Restu Sinaga, Afika
Rate: 3/5



Tahun ini film Indonesia semakin menggila. Dibuka dengan Demi Ucok yang menjadi bahan pujian dimana-mana (saya sendiri tidak sempat menonton karena cepatnya film ini turun layar di kota saya -red), lalu muncul Belenggu yang ternyata menegangkan kembali urat perfilman Indonesia yang semula kendur, lalu hadir What They Don't Talk About When They Talk About Love yang sunyi senyap namun mencekam ke dasar batin kita paling dalam. Walaupun saya begitu selektif dalam menonton film lokal di bioskop, namun saya cukup jeli film apa yang memang harus saya nikmati di layar lebar. Seperti contoh baru, Laura & Marsha yang memang telah saya tunggu dari awal-awal pemberitaan pertama film ini digaungkan. Terlebih lagi, film ini dibintangi oleh Ardinia Wirasti yang menjadi salah satu aktris favorit saya. Satu poin lagi yang membuat saya begitu antusias adalah tema yang melingkari film ini, tapi saya tidak tau-menau masalah sinopsisnya dan tibalah saya di puncak kekagetan.

Mengapa kaget? Karena Laura & Marsha menyajikan sebuah fragmen yang jauh dari pandangan saya sebelumnya. Mengadon semua bumbu yang sekarang dipertanyakan dalam kehidupan. Begitu sakral, intim, tapi tidak melupakan sisi hiburan di dalamnya. Hanya saja, apa yang telah diberikan sang sutradara terlalu lepas kendali dan tidak memikirkan alur serta tujuan utama tema yang diusung. Saya sedikit mengerti dengan subplot yang ingin disampaikan, tapi bagi saya hal itu sedikit terlalu dipaksakan. Boleh-boleh saja sih mencampur adukkan semua hal untuk sebuah road movie, tapi tidak lantas juga banting stir dan dilepas begitu saja. Si empunya film lupa tujuan awal film ini, karena penonton akan dibuat terkecoh oleh poster yang dijual film ini kendati sinopsisnya sendiri mungkin sudah membeberkan apa yang akan dituangkan lewat filmnya.

Saya cuma tidak menyukai bagian 'kematian' di film ini serta adanya bintang tamu yang kebetulan muncul untuk melengkapi atau bahkan kasarnya dipaksakan ada untuk membuat filmnya menjadi mempunyai cerita. Padahal, tanpa itupun film ini semestinya bisa sukses menjadi road movie. Dan jujur saja, banyak adegan yang membuat saya terhanyut dan terbuai ke dalam memori yang bisa jadi sangat personal buat saya. Saat dua tokoh utama kita bertengkat hebat, mungkin menjadi momok tersendiri bagi saya yang menontonnya. Hebatnya lagi, saya hampir terbawa emosi pula oleh segmen ending yang begitu cheesy namun sangat mengena. Dalam hal ini, Prisia Nasution serta Ardina Wirasti sudah mampu mengangkat beban dan tanggung jawab mereka dalam menransfer watak dari Laura dan Marsha. Persahabatan mereka yang diuji di negara orang lain cukup mewakili mental orang-orang yang hobi travelling. Satu dengan gaya ranselnya, dan yang lain tidak boleh ketinggalan kopernya. Film inipun sedikit banyak memberi gambaran akan sebuah kebebasan, derita masa lalu, serta bagaimana kita menyikapi hidup bahagia yang enggan bersama kita.

Segala teknis film ini tidak akan saya ributkan, karena film ini tidak memanfaatkan teknis yang begitu signifikan. Mungkin cuma pemilihan musiknya yang pas dan penataan kameranya yang sepadan dan mampu menangkap view-view bagus di beberapa negara di benua Eropa. Panorama yang mengikuti perjalanan spiritual (?) Laura dan Marsha sungguh sedap dipandang. My last verdict, kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi pada kita esok, dan kita hanya hidup sekali di dunia ini. Nikmatilah apa yang bisa kalian rasakan lewat alam dan lingkungan, rasakanlah jika dunia masih ada di dalam genggaman kita jika kita bisa menjaganya dengan bijaksana. Laura & Marsha memamerkan sekelumit liburan singkat yang penuh dengan pengalaman dan cobaan. Lebih dari itu, film ini memaparkan dengan sangat jelas sebuah arti persahabatan untuk saling menolong, mengisi satu sama lain, dan menjadikan satu dunia tadi untuk digenggam bersama-sama. Happy watching!


by: Aditya Saputra

Kamis, 02 Mei 2013

What They Don't Talk About When They Talk About Love (2013)


Director: Mouly Surya
Cast: Nicolas Saputra, Ayushita, Karina Salim, Jajang C. Noer
Rate: 4,5/5


Mengapa judul film ini begitu panjang dan terasa buang-buang karakter? Setelah Anda menonton film ini hingga usai, Anda akan mengerti mengapa si empunya film memberi tajuk demikian. Kita tidak akan menduga seperti apa film ini jika tidak membaca sinopsisnya. Dan saya, yang sudah berempati tinggi terhadap film ini dikarenakan latar belakang sineasnya, tidak tau-menau sebelumnya apa yang akan dibicarakan film ini saat kita sedang membicarakan film lain. Film ini mengemuka terlebih dahulu di festival luar negeri, mengambil start yang sangat bagus. Perlahan namun pasti, kesempatan WTDTAWTTAL untuk membuka tabir di layar sinema lokal akhirnya kesampaian, meskipun harus bertarung dengan film-film raksasa dari negeri seberang benua dan beberapa film domestik pesaing lainnya. Mouly Surya, di film pertamanya yang memenangkan Film Terbaik di ajang piala Citra, sekali lagi menyuguhkan sebuah cerita cinta tak biasa, layaknya fiksi. yang juga begitu kelam dalam membahas perihal jatuh cinta tak wajarnya.

Mengupas tema cinta anak remaja mungkin tidak akan ada habisnya, terlebih lagi jika menyangkut poin-poin penting khas keremajaan. Tapi, kita sangat jarang diperlihatkan bagaimana cara orang cacat mental dan fisik dalam memadu kasih. Saat kita didudukan di antara rasa iba dan kagum, kita seperti digambarkan sebuah reklame singkat sebuah dagelan lucu tentang arti cinta dari sudut pandang yang tak biasa. Maaf sekali, saya tidak akan memberikan sinopsis untuk film ini bukan tanpa alasan. Begitu kompleks dan detilnya film ini membuat saya berpikir ulang bagaimana memisahkan sub-plot dalam satu paragraf. Semuanya terasa sangat spesial dan terlalu hambar jika diceritakan begitu lengkap.

Kecekatan Mouly untuk film ini pasti karena adanya observasi terlebih dahulu dan memantau bagaimana 'kaum' mereka berkomunikasi dan mengartikan bahasa satu sama lain. Keterbatasan yang mereka miliki memang condong menjadi santapan menarik untuk sebuah drama penguras air mata, jika saja Mouly ingin bermain ke arah sana. Namun nyatanya, Mouly jauh lebih berani dalam memoles film 'miring'-nya menjadi lebih miring lagi. Menunjuk 3 karakter wanita utama lengkap dengan figuran dan ceritanya masing-masing. Dan hebatnya, (ya, jika kita tidak tau jalan ceritanya), Mouly memberikan kita banyak kejutan, dan seperti yang saya katakan sebelumnya, adegan yang cukup berani dan tragis pun dilibatkan oleh Mouly. Pengertian cinta di film ini sungguh luas, melebar hingga kita tidak tau lagi apa makna tersirat yang ingin disampaikan Mouly. Insting yang membabi buta dari para penyandang cacat fisik tersebut tidak memberi batasan bagi penonton dalam mengartikan cinta yang mereka refleksikan dengan sangat menohok.

Pergerakan kamera yang sangat dinamis, banyak adegan panjang nan kosong, namun juga memberi aura yang ganjil. Penonton akan terusik dan merasa tidak nyaman, namun membekas karena berkat itulah penyampaian Mouly berhasil. Dan yang paling mengesankan adalah akting 3 pemain utamanya yang tampak sangat kuat, solid, dan mengejutkan. Mereka mampu memberikan nyawa kepada karakternya cukup lewat body language-nya saja. Dari sinipun kita bisa menarik kesimpulan, diam itu memang bisa memberikan ungkapan yang sangat universal. Dan tanpa dialogpun, sebuah film mampu berbicara banyak jika memang gerak tubuh tadi bekerja dengan sangat baik.

Bagi mereka, mungkin hidup terasa tidak adil. Dan bagi kita, mungkin merasa bersyukur karena diberikan hidup yang lebih baik dan beruntung. Tapi, dengan cara mereka sendiri, merekapun bisa menemukan apa yang orang normal temukan, walaupun kondisi mengenaskan juga terkadang menyurutkan semangat mereka. WTDTAWTTAL ialah film langka dari segi penceritaan, memiliki pondasi yang kokoh, tidak sembarang memilih pemain, memaksimalkan lokasi yang itu-itu saja, membisingkan adegan tanpa dialog, serta mencairkan kekikukan suasana sekolah luar biasa. Salah satu film terbaik yang pernah saya tonton dari tangan sutradara Indonesia. Tidak membiaskan definisi cinta, namun juga tidak berterus terang dalam mengungkapkan arti cinta yang bersih. Buktikanlah, film ini akan membuat Anda tertegun melihat sebuah sisi lain dari penerjemahan akan cinta dan kasih sayang. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Senin, 29 April 2013

Iron Man 3 (2013)



Director: Shane Black
Cast: Robert Downey, Jr., Gwyneth Paltrow, Guy Pearce, Don, Cheadle, Ben Kingsley, Jon Favreu, Rebecca Hall, William Shadler
Rate: 3,5/5


Masih mengharapkan popcorn movie sekelas The Dark Knight dan Inception? Atau bahkan malah masih bersikeras jika film tentang superhero harus seintim dan sedramatis The Dark Knight? The Dark Knight boleh saja menjadi salah satu superhero movie terbaik yang pernah ada berkat tampilannya yang sungguh kokoh dan senyata mungkin. Tidak menitikberatkan CGI dan efek komputer lainnya, The Dark Knight justru hadir dengan kedigdayaan cerita, twist berlapis, hingga karakterisasi yang sama kuatnya. Paska film besutan Christopher Nolan tersebut, film tentang pahlawan super seakan memiliki anekdot dan memiliki pandangan lain. Marvel bahkan ketar-ketir menghadapi theme ini, namun nyatanya kekuatan Marvel dalam memberikan kepuasan tidak akan pudar selagi sisi komersil masih bermain dengan sangat jelas. Marvel tidak akan segelap DC dalam memindahkan cerita komik mereka ke dunia film, namun juga tidak akan meninggalkan kesan istimewa yang akan tetap melekat di hati fans dan penonton.

Iron Man salah satu produk Marvel yang ketika dilempar di industri perfilman menjadi produk yang kuat dari berbagai sisi. Sosok Tony Stark yang slengean serta flamboyan dalam satu gerak, memiliki ruang lingkup yang besar dan beralasan untuk menjadi seorang superhero. Tidak akan sekonyol manusia yang digigit laba-laba atau pemimpin sakti yang reinkarnasi dan bahkan Tony Stark bukanlah anak dewa. Stark jelas-jelas bilyuner pintar yang nyaris memiliki apa yang seharusnya pahlawan punya. Di seri ketiga ini, kilas flashback di awal film yang menceritakan Tony bertemu dengan orang yang akan menjadi musuh utamanya. Seperti yang Tony bilang lewat narasinya, "we create our own devil", begitulah kira-kira. Kenyataan yang ada memang terasa memberatkan Tony sebagai manusia yang memiliki kehidupan nyata dan juga sebagai Iron Man yang memiliki tanggung jawab dalam memberantas kejahatan.

Singkirkan dulu Iron Man 2 yang serba tanggung itu, tapi jadikan Iron Man sebagai patokan sukses untuk Iron Man 3. Yap, bagi saya, apa yang sudah dikemas oleh Iron Man sebagai film bagus tidak bisa diimbangi oleh Iron Man 3. Jangan salah, saya suka apa yang tersaji di seri terakhir ini, namun masalahnya Iron Man 3 tidak memiliki unsur spesial yang bisa disamaratakan dengan superioritas film pertamanya. Iron Man 3 berhasil sebagai film yang menghibur karena sang sutradara mampu membagi porsi yang beimbang untuk cerita, adegan aksi, efek CGI, hingga lelucon janggal yang lucunya sangat mengena ke penonton. Yang tidak bisa disangkal adalah kolaborasi menyenangkan di departemen aktingnya. Dan seperti yang kita tau, Robert Downey, Jr. seakan terlahir untuk memerankan tokoh Tony Stark. Membahas jeniusnya dia dalam menafsirkan tokohnya mungkin akan membuang-buang waktu. Begitupun dengan Gwyneth Paltrow yang sukses menjadi pendamping setia Tony Stark. Sedikit bocoran, ada sesuatu yang spesial dari Pepper Potts.

Don Cheadle, Guy Pearce, Ty Simpkins, serta Rebecca Hall tidak memiliki kendala yang berarti di film ini, semuanya bermain pas dengan porsinya masing-masing. Yang perlu dikasih sanjungan adalah betapa hebatnya Ben Kingsley dalam mengubah dirinya menjadi sosok The Mandarin yang miliki double side sekaligus. Bahkan saya berani bilang ini salah satu akting terbaik yang pernah ia berikan di sebuah film. Kesintingannya hampir sama saat ia menjadi ketua mafia bengis di Sexy Beast. Selain itu, Iron Man 3 memiliki alur terkontrol yang tidak asal dalam memberikan ledakan-ledakan semata yang bisa menjadi bumerang bagi filmnya sendiri. Shane Black yang belum mapan dalam memoles film berkomputersisasi tinggi, dalam hal ini berhasil memberi pondasi yang kuat ke Iron Man 3 dan tinggal menyusun beberapa fitur untuk saling melengkapi. Duetnya terdahulu bersama RDJ di Kiss Kiss Bang Bang memiliki dampak positif dalam memberikan kerja sama yang baik.

Stop berkekspektasi berlebihan terhadap popcorn movie, summer movie, superhero movie, you name it. Dugaan kita yang berlebihan terhadap sebuah film yang awalnya untuk menjadi film hiburan, bisa jadi akan menjadi dinding besar untuk kita sendiri dalam menilai filmnya secara kesuluruhan, bahkan yang ada kita akan mencari kesalahan-kesalahan yang tersebar di film tersebut. Iron Man 3 adalah contoh paket lengkap yang menjual cerita permen dan warna-warni yang menghibur segala pihak. Dan kita, sebagai penonton, tidak bisa mengelabuhi pasar internasional yang memang mengharapkan tontonan yang semenarik ini. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Senin, 01 April 2013

The Croods (2013)


Director: Kirk De Micco, Chris Sanders
Voice-over: Nicolas Cage, Emma Stone, Ryan Reynolds, Chaterine Keener, Cloris Lechman, Clark Duke
Rate: 4/5


Jauh sebelum ini, film animasi yang mengutamakan wanita sebagai bintang utamanya hanya dirajai film-film Disney yang bernuansakan percintaan. Princess di film-film semacam Beauty and the Beast, Cinderella, The Snow White, dll. hanya menceritakan keluh kesah mereka dalam mendapatkan cinta sejati. Spirited Away pun pernah memakai peran wanita "perkasa". Dan baru-baru ini Pixar sepertinya tidak enggan dalam mengedepankan wanita dalam film mereka. Brave seperti penyegaran di dunia animasi yang mana selama ini pasti diperan utamai oleh laki-laki. Dengan perolehan Oscar, Brave memang kuat hampir di segala sisi. Kali ini, Dreaworks Animation seakan latah dan mengikuti jejak pesaing utamanya, dan hadirlah The Croods yang juga memfokuskan tokoh wanita. Dan seperti yang kita tau, Dreamworks seperti telah belajar banyak bagaimana membuat film kartun yang mendidik namun juga tidak lepas dari teknik hiburannya. Franchise Shrek dan Madagascar yang makin menggelembungkan saldo dolar mereka dan yang sebentar lagi How To Train Your Dragon juga semakin meraksasa, tak salah Pixar harus tetap waspada kepada mereka.

Senang rasanya menonton animasi yang "tidak aneh", maksudnya karakternya tidak hanya hewan yang bisa berbicara, tapi benar-benar menggunakan figur manusia. Biasanya animasi tidak menitik beratkan pada cerita karena akan berpengaruh banyak pada kuantitas penonton yang dihuni oleh anak-anak dan berlanjut pada perolehan laba. Oleh sebab itu, The Croods pun tidak repot-repot memakai plot yang runyam, yang mereka perlukan hanyalah mempercantik diri secara visual dan lelucon. Cerita hanya seputar pencarian dunia baru yang dijelajahi oleh keluarga Croods yang selama ini hanya tinggal di goa pada malam hari. Bagi mereka, kegelapan adalah malapetaka dan hal-hal baru adalah bencana. Eep, anak tertua keluarga ini merasa tidak betah dan berani untuk keluar dari zona aman. Suatu hari, bertemu dengan pria bernama Guy yang mengajarkan dirinya banyak penemuan baru. Guy pun berupaya untuk mencari jalan keluar agak tidak terperangkap pada tanah yang diinjaknya sekarang. Apalagi disinyalir akan menjadi akhir dunia. Dimulailah perjalanan panjang mereka menyongsong alam yang pada kenyataannya susah untuk ditaklukkan.

Seperti yang diduga sebelumnya, The Croods banyak memiliki modal dalam menjadi animasi sukses. Mulai dari para tokoh yang menggemaskan dan membuat tawa, pesan moral yang dimilikinya juga mudah dicerna anak-anak. Dan lucunya lagi, The Croods mengambil pola road movie yang jarang dipakai oleh animasi-animasi pada umumnya. Sehingga setiap pemberhentian yang mereka lakukan, pasti akan kita temukan petikan-petikan moral yang baru. Yang paling ketara adalah bagaimana membangun sebuah keluarga yang harmonis dan saling menghormati. Dari sang ayah yang ingin menjaga keluarganya dari dunia luar, hingga Sandy yang bisa menghargai teman barunya. Walaupun banyak adegan kurang ajar, dan itu bisa dimaklumi karena film ini juga mengambil seting masa lampau di mana attitude dan kenyataan kadang tidak sinkron sama sekali. Penempatan karakter Guy di tengah-tengah ancaman bagi keluarga ini juga tepat.

Anda pasti tau Ice Age, film yang juga dilatar belakangi dengan masa pra sejarah. Film itu termasuk rusak jika saja tidak ada Scrat di dalamnya. The Croods dengan bebas dan bias bermain di dunia antah-berantah karena sekalipun tidak disebutkan jika mereka ada di bumi. Sehingga yang tampak di layar bisa dibuat sesuka hati para kreator. Dan secara komersialitas, visualisasi film ini sangat bersih dan menarik. Seperti misal penemuan sepatu hingga popcorn dan kembang api yang termasuk jenaka pada levelnya. Itulah mengapa saya katakan film ini akan sangat digemari oleh anak-anak. Dengan berhamburannya sisi positif dari film ini, siapa yang mengisi suara siapa menjadi tidak begitu penting. Aktor-aktor mahal semisal Nicolas Cage, Ryan Reynolds, Catherine Keener, dan Emma Stone untungnya pas dan tidak merusak The Croods yang kepalang bagus ini.

Belum apa-apa, The Croods sudah bisa memecah keheningan bioskop yang akhir-akhir ini tandus karena diisi oleh film-film semenjana semua. Semoga keberuntungan The Croods berlanjut pada dipilihnya sebagai nominator Oscar. Happy watching!

by: Aditya Saputra

The Host (2013)


Director: Andrew Niccol
Cast: Saoirse Ronan, Max Irons, Diane Kruger, Chandler Canterbury
Rate: 1/5


Bagaimana bisa, otak cerdas di balik luar biasanya The Truman Show, dan memberikan arti lain dari waktu kehidupan di In Time dan membuat Nicolas Cage dipuji di Lord of War, membuat film yang sangat lempem di segala sisi. Apa yang ada di benaknya saat terperosok dalam menggarap film yang diangkat dari novel karangan Stephanie Meyer ini. Sulit disangkal, Andrew Niccol menjadi salah satu alasan mengapa saya begitu antusias dengan The Host selain karena adanya Saoirse Ronan yang bermain di dalamnya. Ya, saya memang penggemar Ronan sejak ia menunjukkan akting luar biasa culasnya di Atonement dulu yang menghadiahinya sebuah nominasi Oscar dan belasan piala dari festival lainnya. Melanjutkan sisi melankolisnya di The Lovely Bones dan Death Defying Acts serta meneruskan sisi heroik dari film Hanna dan City of Ember, Ronan kembali menunjukkan sisi humanisnya lewat The Host. Berbeda dengan The Way Back yang mengharuskannya terlunta-lunta, di sini Ronan semakin memperlihatkan paras ayunya yang semakin mekar selama bertambahnya usia.

Di lain sisi, bakat mengagumkan yang Ronan punya selama ini dan terpendam begitu saja, malah menjadi suatu yang fatal tatkala ia menjadi 2 jiwa yang berlainan melalui film The Host ini. Boro-boro menampilkan performa brilian seorang buronan, sedikitpun Ronan menjadi lepas kendali. Lemahnya skrip The Host memang menjadi bukti kuat betapa buruknya film ini jadinya. Talenta yang Ronan miliki seakan sirna begitu saja. Niccol mungkin telah berupaya semaksimal mungkin membuat The Host layaknya Twilight yang chessy namun bisa memancing banyak penggemar. Tapi perlu diingat, Ronan bukanlah Stewart dan Irons bukanlah Pattinson. Sejauh mata memandang, kecemerlangan seorang bintang harus diimbangi sebesar apa nama mereka di mata penggemar. Tak hanya Ronan yang bermain biasa saja, hampir keseluruhan aktor berakting dengan amat buruk, terutama Diane Kruger. Perubahan karakter yang dijalaninya sangat annoying, dan peran antagonisnya tidak berhasil diimplementasikan dengan baik.

Seharusnya, film ini bisa dibuat lebih baik lagi. Dengan mengedepankan sisi sci-fi yang memang menjadi fokus utama dengan menyisipi romansa klasik di dalamnya. Selain sinematografinya yang terbilang indah, sektor lain semisal seting masa depan yang unbelievable, klimaks yang kurang matang, dan minimnya adegan aksi sangat mudah untuk dikritisi. Tidak ada yang salah dengan novelnya, yang salah jelas-jelas Niccol yang tidak berani bermain lebih liar lagi. Bahkan di sini, darah seakan haram untuk diekspos. Latar belakang tokoh utama kita juga tidak diceritakan secara lugas, dan dari mana sang musuh memiliki tujuan itu juga kurang dibeberkan sehingga penonton kebanyakan bertanya-tanya dan tidak akan mendapatkan jawabannya di akhir cerita.

Jujur, moral lesson The Host cukup padat. Kemanusiaan dan keadilan yang ditujukan langsung memang memberikan cermin singkat tentang kehidupan sosial di masa sekarang. Meyer yang ahli dalam memajemukkan kekuatan cinta di tengah-tengah ketidak-masuk-akalan cerita semestinya bisa membantu Niccol dalam menindak lanjuti The Host menjadi lebih dinamis dan cathcy. Saya, yang begitu bersorak-sorak saat filmnya rilis sehari sebelum waktunya, hanya bisa terkecoh dan mengakhirinya dengan tidur di dalam studio. Jika diliahat filmografi Ronan yang masih full-schedule hingga tahun depan, semoga The Host tidak menjadi momok baginya dan bisa belajar dari pengalaman untuk lebih bisa menyeleksi peran apa yang seharusnya ia mainkan. Dengan begitu, semoga ia bisa kembali terseret ke deretan nominasi-nominasi akting.

Sepanjang tahun 2013 yang baru memasuki bulan keempat ini, mungkin The Host bisa saya masukkan ke daftar worst movie ever. Secara subjektif, Ronan bisa saja menjadi penghasut bagi saya untuk tidak terlalu kasar untuk film ini. Nyatanya, penilaian tetaplah penilaian dan Ronan tetap menjadi idola saya. The Host seperti penghinaan bagi drama percintaan dan juga perusakan otak untuk mengharapkan sci-fi yang berlimpahkan knowledge bermutu sepanjang film. Meratapi The Host yang kecium bau sampahnya, mungkin film ini salah satu film terburuk yang pernah dibuat. Tapi jangan salah, di luar sana masih ada segelintir manusia yang masih menyukai The Host berkat sisi humanitas yang diangkatnya. Tidak masalah, setiap kepala memiliki persepsi masing-masing, dan 5 paragraf ini adalah persepsi saya. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Rabu, 27 Februari 2013

Pitch Perfect (2012)


Director: Jason Moore
Cast: Anna Kendrick, Skylar Astin, Brittany Snow, Rebel Wilson, Ben Platt, Anna Camp
Rate: 3/5


Memasuki milenium 2000, dan semenjak Moulin Rouge! memperkenalkan kembali dunia musikal pada filem, semakin berganti tahun semakin banyak saja filem yang mengambil genre tersebut. Bahkan setahun sesudahnya, Chicago malah menjadi pemenang Best Picture di Academy Award. Disusul Rent, Be Cool, Dreamgirls, Hairspray, dan terakhir Pitch Perfect meramaikan ranah ini dengan sedikit cara yang berbeda. Bahkan, pagelaran Oscar Februari kemarin memberikan sedikit apresiasi dan tribute untuk pencapaian musical movie satu dekade ke belakang. Mengusung teknik akapela dalam mengaransemen serta mencampur adukkan beberapa lagu dalam satu performance, Pitch Perfect menghadirkan nuansa baru walaupun cerita filem ini sangat-sangat stereotype.

Beca, yang memiliki ambisi tersembunyi di dunia musik harus rela mengikuti kemauan sang ayah untuk melanjuti ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Terdamparlah Beca di Barden University dan mengikuti komunitas The Bellas sebagai salah satu kontender yang akan mengikuti kompetisi musik akapela yang digelar rutin tiap periodenya. Nyatanya, menjadi anak bawang sedikit menyudutkan Beca terlebih lagi hubungannya dengan Jesse meluap kemana-mana dan harus berurusan pula dengan sang ayah akibat keonaran yang dibuatnya di sekolah.

Pitch Perfect memang memberikan banyak asupan yang pas untuk sebuah filem remaja. Tema persahabatan dan kerja keras yang diusung lewat filem ini mengental hingga akhir filem kendati sutradaranya memoles filem ini menjadi sangat ringan. Kekuatan musik menjadi poin terpenting di filem ini. Karena, filem musikal tanpa sodoran lagu-lagu yang ciamik juga akan menjadi bumerang sendiri. Oleh sebab itu pemilihan lagu dan komposisasi musik di filem ini sangatlah juara. Menutupi semua departemen filem yang cenderung membosankan. Cerita Pitch Perfect hanyalah seukuran filem remaja kebanyakan yang diisi intrik basi dan mudah ditebak. Aktingpun tidak menjadi fokus utama. Hingga menular ke Anna Kendrick yang berakting dengan sangat payah. Pengecualian dengan aksi panggung dan taste musikalitas untuk filem ini. Koreografi serta aransemen yang enak didengar memang menjadi bagian terpenting untuk Pitch Perfect. Jika saja elemen ini juga di bawah rata-rata, Pitch Perfect tidak akan seramai sekarang diperbincangkan oleh kaula muda.

Berbahagialah saat menonton Pitch Perfect, buruknya naskah tidak diikuti oleh penokohan yang bisa ditempatkan pas sesuai porsi. Member The Bellas dibuat seunik mungkin dan mampu memberikan joke-joke segar. Terutama lelucon yang dilempar oleh Rebel Wilson. Brittany Snow yang sudah lama tak terlihat batang hidungnya di berbagai filem, di sini cukup memberikan sumbangsih berkat suaranya yang terasa enak didengar. Hanya saja, buat saya itu saja tidak cukup. Sebuah filem akan bernilai lebih jika seluruh partisinya digenjot semenarik mungkin, apalagi untuk urusan cerita. Berdiri sama kokoh dengan serentetan episode Glee dan beberapa filem Step Up dan Street Dance, Pitch Perfect hadir untuk menambah panjang daftar filem musikal yang berhasil menarik minat penonton untuk membuka mata ke arah genre ini. Happy watching!

by: Aditya Saputra

The Game (1997)


Director: David Fincher
Cast: Michael Douglas, Sean Penn, Deborah kara Unger
Rate: 3,5/5


Sebelum The Game mencoba mengelabuhi penonton dengan sejuta teka-teki tak terungkapnya, Fincher telah mendapat perhatian massa di feature panjang pertamanya, Seven, yang diramaikan oleh penampilan dahsyat Brad Pitt, Morgan Freeman, dan juga Kevin Spacey. Namun, yang menjadi momok Seven adalah penjelasan di akhir filemnya yang sangat cerdas. Tak dapat disangkal juga, filem paska The Game juga menimbulkan sebuah enigma yang tak bisa terbantahkan jeniusnya sebuah akhir cerita, Fight Club menjelma menjadi salah satu cult movie terbaik yang pernah ada. Namun The Game tidak mendapat perhatian yang sama dengan kedua filemnya yang lain. Kendati memiliki pengaruh yang besar akibat pola cerita yang berstruktur rapi, nyatanya The Game hanya dinilai sebagai filem bagus saja tanpa ada apresiasi tinggi. Bagi saya, The Game adalah salah satu filem paling pintar dalam membuat penonton mengikuti alurnya dan dibuat kaget oleh endingnya.

Di hari ulang tahunnya, financier kaya Nicholas van Orton mendapat hadiah spesial dari adiknya, Conrad, berupa kartu nama yang akan membawanya ke sebuah wahana bermain yang tak dapat diduganya sebelumnya. Paska cerai dengan istrinya, Nicholas menjadi sosok yang membosankan dan menjalani hidup dengan monoton. Namun, berbekal hadiah yang diberi Conrad, Nicholas mulai mencoba sesuatu yang baru di CRS (Consumer Recreation Services). Sialnya, Nicholas lambat laun mulai direcoki oleh keterlibatan tim CRS di kehidupan nyatanya. Merasa terganggu dan dikuntit sepanjang hari, kejengahan yang dirasakan Nicholas menuntunnya ke berbagai karakter yang terlibat langsung dengan CRS. Yang menggelegar adalah bagaimana Nicholas mengetahui kebenaran yang terjadi di ujung filem ini.

John D. Brancato dan Michael Ferris selaku scriptwriter The Game berhasil memberikan kiat pintar dalam membuat naskah yang berbobot. Pencapaian Fincher dalam menafsirkannya ke dalam gambar bergerak juga patut diberi skor tinggi. Dengan penyutradaraan yang dinamis, The Game ibarat sebuah puzzle yang harus disusun serapi mungkin oleh penonton, dan nantinya penonton bakal diberi kejutan yang teramat cemerlang. Yang saya salut adalah bagaimana kejelian Fincher dalam mengatur dan tidak memberikan clue sama sekali sepanjang filem berlangsung, padahal penonton sendiri sudah diberi acuan di awal filem. Mungkin karena adegan per adegan dibuat se-real mungkin, jadi banyak adegan yang berhubungan dikamuflase dengan poin-poin tak penting tadi. Sisi teknis filem ini memang agak kurang, seperti misalnya tata musik yang tidak begitu membahana. Untung saja hal itu bisa ditutup dengan penokohan yang kuat dan para figuranpun memiliki peran penting bagi filem ini.

Michael Douglas sebagai korban penguntit menunjukkan karisma di atas rata-rata. Sebagai seorang kaya yang congkak, ia mampu memberikan kesan tersebut, dan saat di klimaks utama Douglas dengan sukses meronta-ronta dan bertanya apa yang sedang dilaluinya. Rasa ketakutan dan penasaran beradu jadi satu, dan Michael Douglas membuat penonton percaya jika ia sedang berada di posisi tersebut. Sean Penn walaupun muncul di sedikit adegan tapi dialah poin kunci sebagai pembuka tabir semua kesialan yang menimpa Douglas.

My last verdict: twist The Game memang tidak terlalu membuat pusing penonton karena endingnya juga hanya memberi kejutan saja bukan pemecahan masalah yang dibuat timpang sedari awal. The Game juga tidak ada pesan khusus yang bisa diserap. Yang menjadi kenikmatan The Game adalah bagaimana filem ini bermain di luar zona aman sebuah filem cerdas. Namun nyatanya, saya rasa filem ini tidak akan memberikan kesan yang sama saat kita akan menontonnya untuk yang kedua kali. Kali serupa dengan filem ber-twist ending lainnya, menyaksikannya lagi akan terasa kosong dan seperti dibodohi. Cukup sekali tapi membekas sepanjang masa. Happy watching.

by: Aditya Saputra

Sabtu, 16 Februari 2013

Hitchcock (2012)


Director: Sacha Gervasi
Cast: Anthony Hopkins, Helen Mirren, Denny Huston, Scarlett Johansson, Jessica Biel, Michael Stuhlberg
Rate: 3,5/5


Saya tidak begitu mengenal Alfred Hitchcock. Saya bahkan belum menonton satupun karyanya, apalagi Psycho yang menjadi bahasan utama filem Hitchcock ini. Yang saya tau, Hitchcock adalah salah satu sineas terpandang yang dulu karya-karyanya sering dianggap sebelah mata namun perlahan menjadi acuan penting bagaimana sebuah mahakarya dibuat dan mampu dipuja-dipuja hingga bertahun-bertahun kemudian. Mungkin banyak sutradara yang menjadi sumber inspirasi bagi sineas baru atau mungkin disebut sebagai pengaruh penting dalam memberikan sumbangsih di metode-metode perfileman. Hitchcock bisa jadi tidak setenar Steven Spielberg yang karya-karyanya mampur bercokol di puncak box office dan selalu diapresiasi dengan belasan bahkan puluhan piala dari berbagai festival filem. Dan kembali ke filemnya, inilah sebuah poin plus dari sebuah biografi. Kita akan diberi gambaran singkat tentang tokoh yang sedang diangkat.

Hitchcock mengambil seting paska kesuksesan North by Northwest dan rencana sang sutradara untuk membuat suatu karya yang beda. Diilhami dari delusional yang sering ia alami akibat dari proyek yang akan digelarnya ini, Hitchcock membuat Psycho dengan penuh emosi, ambisi, argumentasi, hingga eksposisi yang berlebihan. Terlebih lagi kepada sang istri yang ia curigai memiliki affair dengan salah satu teman penulisnya. Sepanjang pembuatan filem, Hitchcock dan tim produksinya dihantui bahwa filem yang sarat violence serta unsur nuditasnya yang cenderung eksplisit akan merugikan pihak produser yang akhirnya Hitchcock membiayai segala beban filem ini dengan menggadaikan rumah kesayangannya. Perekrutan Janet Leigh dan Vera Miles pun menjadi cerita pinggiran yang memiliki plot sendiri yang sayang sekali kurang dikupas lebih dalam.

Hitchcock disadur dari buku semi otobiografi yang juga fase di mana Hitchcock membuat Pshyco. Skripnya ditulis ulang oleh John J. McLaughlin yang di sini memiliki amunisi yang pintar dalam memilih dialog-dialog berkualitas yang mampu mengembangkan isi ceritanya sendiri. Lempar pendapat yang diperlihatkan Hitchcock dan Alma sangat harmonis, bahkan sekalipun bertengkar masih terlihat menarik. Kekurangan justru terlalu buru-burunya dugaan Hitchcock kepada istrinya yang memiliki affair dengan seseorang. Bagian ini terasa datar bagi saya. Selebihnya, walaupun drama yang terkait tidak begitu mendalam, setidaknya masih bisa merealisasikan secara nyata bagaimana siklus kehidupan Hitchcock di tengah pekerjaannya sebagai seniman, dan suami untuk istrinya di rumah. Selain art direction yang mendekati aslinya, departemen kostum dan make-up untuk filem ini sudah bekerja dengan amat baik. Mereka memermak Anthony Hopkins menyerupai Hitchcock secara alami dan menyisakan sisi mistis di Hopkins.

Sebagai penyelenggara utama filem ini, Anthony Hopkins memang telah berusaha dengan amat optimal. Kinerjanya sebagai sang maestro patut dihargai setinggi mungkin. Gesture serta body language yang ia peragakan di depan layar memang menimbulkan kesan yang luar biasa. Terlebih lagi Helen Mirren sebagai Alma yang mampu beradegan kocak dan bijaksana dalam satu lini. Sebagai Janet Leigh dan Vera Miles, Scarlett Johansson serta Jessica Biel bukan saja mengeluarkan aura keseksian mereka dari postur tubuh namun juga berhasil menambah kesan manis di sepanjang filem. Sebenarnya peran mereka di filem Psycho sangat penting, namun berhubung ini adalah filem yang menyorot lingkaran kehidupan Alfred, mau tak mau keduanya harus puas sebagai pemeran pembantu saja. Sacha Gervasi selaku orang yang duduk di kursi sutradara berhasil memompa filemnya agar tidak menjadi kacangan. Pengalamannya sebagai scriptwriter seakan sebagai awal untuk meneruskan niatnya berprofesi sebagai sutradara di filem panjang perdananya ini.

Hitchcock bukanlah filem biopik yang sempurna, namun ada sisi entertaining yang ada tersembunyi di dalamnya. Kendati masih banyak kekurangan yang harus dibenahi sang sutradaranya, tapi dengan porsi durasi yang tidak berlebihan memang membuat Hitchcock terasa padat yang tepat sasaran. Didukung penampilan aktor kelas wahid dan ditunjang dua pesolek yang siap menyita perhatian para penonton pria, Hitchcock menambah daya pikatnya. Dan kesimpulan yang bisa saya tarik dari filem ini adalah semangat, kepercayaan diri, kerja keras, serta partner yang baik adalah beberapa elemen yang harus diperhatikan untuk mencapai hasil baik yang kita inginkan. Alfred Hitchcock biarlah tinggal nama, namun karya-karya monumentalnya akan tetap dikenang para penggemarnya yang tiap tahun akan bertambah. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Minggu, 03 Februari 2013

Amour (2012)


Director: Michael Haneke
Cast: Jean-Louis Trintignant, Emmanuelle Riva, Isabelle Huppert
Rate: 4,5/5


Tidak banyak orang yang mengenal Michael Haneke. Dari ruang lingkup yang menyukai filem saja, nama Haneke mungkin masih terasa asing di telinga walaupun karya-karyanya hampir seluruhnya dicap bagus. Bahkan, lewat Funny Games yang sedikit komersilpun, Haneke cenderung masih dipandang kalah terkenal jika dibandingkan dengan Steven Spielberg, Martin Scorsese, dsb.. Haneke tidak jarang bermain dengan dunianya sendiri saat membuat sebuah filem. Keanehan dan kejanggalan yang meliputi cerita maupun adegan lantas membelah penonton menjadi dua, suka dan tidak suka. Keunikan filemnya memang dirasa kurang masuk akal dan seperti membodohi penonton. Namun, itu juga yang menjadi standar kejeniusan seorang Haneke dalam mengelabui penonton agar selalu fokus dengan clue yang menyebar di sepanjang filem. Datang lagi satu filem produksi Perancis yang pertengahan tahun kemarin sempat menghiruk-pikukan jagad perfileman dikarenakan temanya yang kata kebanyakan penonton adalah sisi lain dari seorang Haneke.

Haneke kali ini bermain di ranah drama percintaan. Bukan Haneke jika tidak beda, dan Amour mengambil sudut pandang romansa di usia lanjut. Georges dan Anne, sepasang suami istri yang memasuki masa usia 80 tahunan, memensiunkan diri dari pekerjaan mereka sebagai pengajar musik. Mempunyai anak perempuan yang juga berkecimpung di dunia musik, namun telah menjalin sebuah keluarga dan hidup memisah dengan orang tuanya. Suatu ketika, Anne menderita stroke yang lama-kelamaan membuat sebagian tubuhnya lumpuh dan meminimkan kinerja tubuhnya untuk bekerja dan otomatis membutuhkan perawatan penuh dari sang suami tercinta. Dan di sinilah, kadar cinta George dipertaruhkan. Memberikan perlindungan dan pemawasan kepada Anne, mulai dari hal kecil hingga hal besar semacam kemanjaan Anne yang cenderung seperti anak kecil. Kendati sudah dibantu oleh suster yang merawat Anne seminggu tiga kali, tetap saja pangkuan terbesar hidup Anne ada di tangan George.

Saya harus akui jika filem ini salah satu filem romantis yang pernah saya tonton sebelum akhirnya dibuat tercengang oleh ending dahsyat khas Haneke. Saya tidak akan membicarakan akhir filem ini, saya akan memuji apa yang telah Haneke perbuat hingga menghasilkan Amour yang sungguh cemerlang ini. Patut diwaspadai, Amour banyak mengandung adegan-adegan sepi dan kosong yang cenderung membuat lelah. Namun, jika sudah memasuki dialog, kesunyian tadi terbayar sudah berkat obrolan yang terlihat sangat natural dan dibumbui oleh kapabilitas akting yang juga sejajar naturalitasnya. Amour hanya bermain di sebuah apartemen kecil yang terdapat kamar tidur, dapur, kamar mandi dan ruangan lainnya. Haneke menggunakan jasa lokasi sempit ini dengan sangat efektif. Penonton seperti diajak merasakan bagaimana pedihnya sakit yang dialami Anne dan betapa beratnya beban yang harus diangkat oleh George, terlebih lagi mengingat umurnya yang juga tua dan susah berjalan.

Kepekaan Haneke tidak terbantahkan. Di filem terdahulunya saja ia bisa memaksimalkan set minim dengan penuh dialog berkualitas. Amour pun demikian. Naskah yang amat rapih ini diselaraskan oleh kemampuan akting kelas wahid oleh Trintignant dan Riva. Dua sejoli ini menunjukkan kekuatan akting di atas rata-rata. Believable. Penonton mungkin merasa jika mereka tidak sedang berakting, especially Riva yang dengan supernya merefleksikan seorang pesakitan yang harus menghabiskan waktu di atas tempat tidur. Wajar jika AMPAS akhirnya memberi penghormatan berupa nominasi Oscar. Selain itu, Haneke juga sering memasuki satu-dua adegan yang jauh dari cerita awal. Seperti pas bagian burung yang menjadi simbol terkuat filem ini. FYI saja, poster internasional Amour diambil dari salah satu adegan paling bagus dari filem ini dan mungkin saja salah satu dari sekian banyak adegan romantis, dari sudut pandang yang lebih umum.

Dengan bangga saya sematkan Amour sebagai salah satu filem terbaik yang pernah saya tonton selama ini. Pengeksekusian yang berani dan terlihat kurang ajar dan tidak wajar, membuat Amour memunyai cita rasa yang berbeda di antara filem bertemakan sejenis. Dan memang benar, saat Haneke menerima piala Golden Globe untuk filem berbahasa asing terbaik, dalam pidatonya ia sempat berujar, bagian bawah piala itu adalah dirinya, sedangkan bagian atasnya adalah untuk Trintignant dan Riva. Karena, tanpa mereka, Amour hanyalah semacam cerita klasik biasa. Emosi yang tercurah memang berkat kesuksesan mereka dalam memberikan makna yang lebih dalam kepada filem ini. Kepada makna cinta yang seharusnya tidak akan pernah mati dimakan usia. Happy watching!

by: Aditya Saputra

The Sessions (2012)


Director: Ben Lewin
Cast: John Hawkes, Helen Hunt, William H. Macy, Moon Bloodgood
Rate: 3/5


The Sessions diilhami dari kisah nyata yang telah dibukukan. Cerita ini juga pernah dibuatkan filem dokumenter yang juga menggambarkan kehidupan Mark O'Brien dalam menuntaskan niat untuk melepaskan virginitasnya. Mengidap polio sejak umur 6 tahun membuatnya hidup hanya di atas ranjang beroda dan menggunakan paru-paru besi (iron lung) sebagai alat bantu napasnya. Hasrat  janggalnya tadi rupanya bukan hanya omongan belaka. Dengan bantuan pakar terapi dan pastur yang menjadi penasehat baginya, akhirnya Mark mencoba menghubungi sex surrogate andal. Namun nyatanya, di tengah-tengah proses 'pelatihan' tersebut, hubungan kasar yang mereka jalani malah berdampak ke hal yang tidak diduga-duga. Sang sex surrogate bahkan mulai berpikir apakah benar atau salah yang dijalaninya selama ini.

Secara pribadi, filem ini sedikit membingungkan buat saya. Bagaimana tidak, saat menonton ini saya seperti disuruh menertawakan kesakitan orang lain. Walaupun The Sessions disadur dari kisah nyata, namun dengan tema yang 'nyentrik' seperti ini, membuat saya sedikit kewalahan bagaimana mengontrol reaksi. Entah harus jijik, mual, tertawa, sedih, simpati, atau bahkan ikut-ikutan sakit. Saya suka drama, tapi jika temanya terlalu menyimpang seperti ini juga bukan my cup of tea yang akan saya puja setinggi langit. Saya juga tidak bisa mengambil kesimpulan dan pesan moral yang hendak diangkat oleh Ben Lewin melalui The Sessions. Entah saya yang kurang cermat atau filem ini memang terkesan datar dan tidak mengandung visi dan misi yang kuat sebagai produk yang berkualitas.

Terutama untuk adegan ranjang yang membuat saya sedikit ngilu. Ketidak wajaran yang terpampang di layar memang sungguh mengganggu. Kendati efek samping di antara kedua pelaku berbeda-beda, namun 'kerja sama' mereka di sesi terapi ganjil ini memiliki dasar yang salah. Dan jangan pula mengharapkan sinematografi ataupun musik pembantu cerita yang seharusnya bisa menguatkan ceritanya sendiri. Dan kembali ke hukum alam, meskipun digerogoti polio Mark tetaplah lelaki normal yang haus akan cinta dan kasih sayang. Tujuannya mungkin tidak dibenarkan, tapi ambisinya bisa dimaklumi. Hanya saja, keegoisannya mengungkapkan cinta ke babysitter-nya malah berujung pahit. Di posisi inilah yang membuat saya tidak tega harus bereaksi apa dan bagaimana, ikut merasakan dukanya atau malah berbelok tidak simpati lagi akibat egosentrisnya tadi.

Jika berbicara soal akting, John Hawkes telah menunjukkan kapasitas juaranya. Keseriusannya di sini setara dengan apa yang telah dilakukan Javier Bardem di The Sea Inside dan Mathieu Almaric di The Diving Bell & the Butterfly. Sepanjang filem, Hawkes hanya bertalenta di atas tempat tidur. Hebatnya, dengan set sempit seperti itu Hawkes berhasil membawa perannya dengan optimal. Saya benar-benar salut saat ia harus berekspresi orgasme atau mencapai klimaks saat melakukan adegan seks. Perannya di sini jelas bertolak belakang dengan peran-perannya sebelumnya. Helen Hunt ternyata melakukan hal yang sama. Rupanya bakat sahihnya tidak tumpul, dan pengejewantahannya sebagai sex surrogate labil patut diberi kredit tersendiri. Sedangkan untuk William H. Macy, ya begitu saja. Ben Lewin termasuk beruntung karena memasang mereka di filem ini. The Sessions menjadi terasa beda.

Sulit untuk mengatakan bahwa The Sessions adalah filem ini. Dari uraian di atas, banyak justifikasi miring yang saya berikan ke filem ini. Tapi, dengan bantuan di departemen akting, The Sessions seperti berbicara lebih dalam. Namun, apabila berbicara masalah kesimpulan, ada baiknya para penonton sendirilah yang menarik kesimpulan apa maunya The Sessions ini. Setidaknya, The Sessions berhasil mengundang rasa iba sekaligus risih terhadap apa yang Mark lakukan. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 02 Februari 2013

Beasts of the Southern Wild (2012)


Director: Benh Zietlin
Cast: Quvenzhane Wallis, Dwight Henry, Levy Easterly
Rate: 3,5/5


Setiap orang pasti tidak mau hidup di daerah kumuh, rentan terkena musibah, ataupun didera kesusahan dunia sepanjang hayatnya. Intro saya ini mungkin akan terasa membosankan, karena filem yang akan saya kupas ini memang menyinggung sebuah frame yang kasat mata oleh kita. Beasts of the Southern Wild semula memang hanya berkutat di ajang-ajang non-komersil saja. Untunglah ada PH yang melihat potensi pada filem ini sehingga disebarluaskan dan jadilah produk ini menjadi bahan sanjungan para kritikus. Beast of the Southern Wild terkesan sangat sederhana, miskin cerita, namun terkontaminasi oleh pesan hidup dan bobot akting yang bisa menyeimbangkan kekurangannya tadi. Kesulitan filem ini merangkak dalam menjaring penonton tidak diikuti dengan iklan mouth-to-mouth yang efektif. Lambat laun, filem ini akhirnya bercokol di deretan filem-filem favorit para reviewer, termasuk saya.

Seorang gadis sangat kecil hidup terlunta-lunta hanya dengan ayahnya di gubuk yang super-duper kecil dan mengenaskan. Tokoh sentral kita seperti diuji oleh Tuhan untuk mengemban beratnya nasib hanya seorang diri, dengan umur begitu dininya. Segmen ini adalah segmen terkuat di filem ini. Semangat yang mendidih di darah sang belia diperlihatkan dengan sangat menohok. Gaya nomaden yang harus digunakan keluarga kecil ini mau tak mau mengantarkan mereka keduanya untuk menyelami makna hidup yang sebenarnya. Fabel unik yang menjadi bayang-bayang sang gadis juga tak lepas memperindah cerita. Dari sanapun kita bisa tertegun penggambaran yang tak akan bisa kita prediksi sebelumnya.

Beasts of the Southern Wild bukanlah filem yang penuh dengan hiburan dan tawa riang para karakternya yang akan membawa kita melepas penat. Malah sebaliknya, depresi dan delusional adalah dampak paling nyata saat kita menyaksikan sepak terjang mereka dalam mengarungi hidup. Tinggal di lahan basah dan siap menerima bencana alam sewaktu-waktu tanpa diberi aba-aba, berpikir keras dan pintar dalam menyiasati jikalau seketika dirundung penyakit, licik dan cerdas jika memang diperlukan. Yah, momen indah saat para anak kecil ada di suatu bar benar-benar menyentuh. Sang sutradaranya, dalam hal ini, berhasil memanjakan penonton dan menggodok emosi di bagian yang pas. Bohong jika tidak terenyuh saat adegan yang saya maksud. Dan pesona tunggal dari Quvenzhane Wallis adalah mahkota filem ini. Bermain tanpa minus sedikitpun. Sayapun dibuat kagum oleh naturalitas yang ia luapkan lewat filem ini. Mungkin sama halnya saat saya dibuai oleh karismatik seorang Dakota Fanning di awal karirnya saat menjadi anak Sean Penn di I Am Sam. Wallis mungkin tidak akan menduga jika kerja kerasnya di filem ini akan dihadiahi beragam penghargaan termasuk duduk manis di deretan nominasi aktris terbaik di bursa Oscar.

Banyak yang heran filem 'biasa' ini bergaung amat keras hingga lolos di mata juri Oscar. Di luar pro dan kontra, pantas tak pantas yang disematkan kepada filem ini, mau tak mau sayapun harus jujur jika Beasts of the Southern Wild adalah salah satu karya terbaik edaran tahun 2012. Sebagai pemula pun, sang sutradaranya pantas diberikan kredit tersendiri karena telah memberikan 'panutan' kecil untuk kita agar lebih menghargai hidup. Lewat sinematografi yang sejuk di mata dan gubahan musik yang sedap di telinga, disubstitusi pula oleh bakat yang mumpuni, kekurangan-kekurangan filem ini akhirnya bisa dimanipulasi dan dieliminasi dengan baik. Silakan menyaksikan filem yang akan menampar diri kita sendiri ini. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 26 Januari 2013

Hotel Transylvania (2012)


Director: Genndy Tartakovsky
Voice-over: Adam Sandler, Andy Sambeg, Selena Gomez, Kevin James, David Spade, Steve Buscemi, CeeLo Green
Rate: 3/5


Menggembirakan, para pembuat filem animasi sekarang lebih memunyai visi dan misi yang bisa membangkitkan pesona animated feature di kalangan penonton dewasa. Brave yang sangat dongeng itu tetap dinikmati oleh orang dewasa karena lelucon dan struktur ceritanya yang universal dan down to earth. Frankeweenie lebih sadis lagi karena humornya memang ditujukan langsung ke penonton berumur. Hotel Transylvania sebenarnya berada di tengah-tengah apakah filem ini khusus sebagai tontonan anak-anak atau mungkin bisa memuaskan para penonton dewasa. Masih mengusung tema yang sama paska kesuksesan luar biasa Twilight, Hotel Transylvania bermain aman namun tetap berusaha unik dan didukung oleh cerita yang tidak biasa. Jika dulu manusia yang takut dengan monster semacam frankenstein dan vampir, sekarang kebalikannya. Kaum mereka seperti memisahkan diri dari manusia karena mereka menganggap manusia sebagai pembuat onar dan mengancam kelangsungan hidup mereka.

Dracula hendak merayakan ulang tahun anaknya, Mavis, yang ke-118. Dengan alasan itu, ia akhirnya membangun sebuah hotel yang dikhususkan untuk tempat inap para monster yang juga telah menjadi teman semasa hidupnya. Reuni para monster tersebut ternyata diganggu dengan kedatangan sesosok manusia secara rahasia. Belum lagi Mavis yang masih penasaran dengan kehidupan di luar kastil, tempat selama ini ia singgahi selama 118 tahun tersebut. Kehadiran Jonathan tidak diketahui para tamu undangan lainnya. Hanya Dracula yang bersekongkol dengan Jonathan. Namun, berkat Jonathan lah pesta ulang tahun tersebut menjadi lebih megah dan meriah. Lambat laun, persembunyian itu akhirnya tercium juga dan merubah seluruh pandangan tamu terhadap Dracula.

Sejujurnya, tidak ada yang menarik dari Hotel Transylvania selain ide ceritanya yang lumayan unik. Sayangnya hal itu tidak berkembang. Ide tersebut seakan berjalan di tempat dan sang kreator lebih mementingkan bagaimana meramu humornya agar diterima penonton. Dan itu menyebabkan filem ini cenderung datar dan semakin lemah hingga mendekati akhir. Bahkan, 30 menit awal filem ini sangat biasa jika tidak mau dibilang membosankan. Joke-joke yang dilempar juga hampir kebanyakan yang tidak pas. Yang seru memang penempatan berbagai tokoh sentral yang pas pada tempatnya. Kehadiran mereka jelas membantu filem ini hingga tidak jatuh lebih dalam lagi. Serunya di dunia animasi adalah kita bisa memungkinkan apa yang di dunia nyata tidak mungkin terjadi. Untunglah seperempat akhir filem ini digenjot dengan sangat baik. Semua kebosanan di awal terbayar dengan tuntas. Kendati banyak adegan yang tidak masuk di akal, akan tetapi tetap memberikan angin segar tersendiri. Begini saja, jika saga Twilight saja bisa berbuat sebodoh itu, kenapa sebuah animasi tidak bisa?

Chris Rock pernah berujar, menjadi pengisi suara di filem animasi sangat mudah. Hanya berintonasi sesuai apa yang sutradara perintah dan dia puas, maka kita dibayar. Jadi, seluruh aktor yang menjadi penghembus nyawa untuk karakter di Hotel Transylvania tidak masalah sama sekali. Mereka menghidupkan setiap tokoh dengan pas. Pemilihan lagu-lagu juga sangat menghibur, bagaimana para monster tersebut nge-rap dan bernyanyi lantang. Satu lagi yang penting adalah pembelajaran yang bisa kita serap dari filem ini. Kita seperti diajak menertawakan diri sendiri. Manusia digambarkan sebagai trouble maker, dan memang benar. Sayangnya, dengan point of view yang sangat frontal karena menilik dari para monster, sudut pandang tersebuh serasa invalid dan hambar.

Sungguh sebuah apresiasi yang luar biasa Hotel Transylvania bisa bercokol di deretan nominasi terbaik Golden Globe tahun ini. Dan pilihan yang bijak para juri Oscar tidak menempatkan filem ini di salah satu yang terbaik. Karena sayapun setuju, untuk duduk di kasta setinggi Oscar, Hotel Transylvania terlalu lemah. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, Hotel Transylvania jatuh berkat kekontrasannya dalam memilih plot mana yang hendak didahulukan. Setidaknya, sebagai paket hiburan dan bahan untuk tertawa riang, Hotel Transylvania masih sanggup memuaskan dahaga humor penonton. Namun, sebagai konsumsi publik yang mahal dan sehat, kandungan gizi di tubuh Hotel Transylvania kurang berbobot. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Gangster Squad (2013)


Director: Ruben Fleischer
Cast: Sean Penn, Ryan Gosling, Emma Stone, Nick Nolte, Josh Brolin
Rate: 2,5/5


Meramu sebuah filem aksi susah-susah gampang. Action movie yang berbobot lemah cenderung hanya memaksimalkan adegan yang melibatkan adu jotos ataupun dentuman senjata api dengan mengesampingkan kekuatan cerita yang sebenarnya menjadi hal penting bagi sebuah filem, apapun genrenya. Menyimak sekelumit pesan moral yang dituangkan dari filem Gangster Squad, sialnya tidak ada moral lesson yang bisa kita petik. Jika Anda pernah menonton Public Enemies, duet Johnny Depp dan Christian Bale, yang lemah di beberapa sisi, Gangster Squad lebih parah lagi. Memakai metode yang sama si baik versus si jahat, Gangster Squad terjun ke lembah serba tanggung. Kendati Gangster Squad diisi dengan parade superstar yang sedap di mata, namun nyatanya hal tersebut tidak membuat nilai filem ini bertambah tinggi.

Sean Penn sebagai dalang dan mafia dari serentetan kejadian di filem ini memang telah menunjukkan feel kejamnya dengan hampir sempurna. Terlihat dari mimik dan gesture, Sean Penn sukses menjelma menjadi ketua kriminal yang pantas disegani hanya lewat gaya bicaranya saja. Sayangnya, poin positif tersebut tidak diimbangi oleh aktor lain. Trio Gosling, Brolin, dan Stone bermain sangat biasa. Terlebih lagi Stone yang perannya bisa digantikan oleh aktris tidak terkenal sekalipun. Nama tetaplah nama, pemakaian mereka mungkin sebagai kiat mengiklankan filem ini jauh lebih luas dan menjual nama mereka adalah taruhan yang cukup ampuh. Namun, penampilan mereka sungguh mengecewakan. Ruben seperti kehilangan arah dalam menangkap nuansa-nuansa penting di filemnya untuk digenjot lebih eksklusif.

Gangster Squad memang tidak separah itu. Filem ini masih memiliki cerita, walaupun bisa kita tebak akhirnya setengah jam setelah filem ini mulai. Mengambil seting waktu tahun 1949, di mana bisnis Mickey Cohen sedang marak-maraknya. Pun dengan kriminalitas yang ia geluti secara diam-diam akhirnya tercium oleh polisi setempat yang juga punya dendam dengan Cohen, John O'Mara. Perseteruan semakin sengit, John akhirnya merekrut beberapa agennya untuk bekerja sama dalam menumpas seluruh bisnis haram yang Cohen pegang. Karena Cohen memunyai antek yang tidak sedikit, otomatis battle ini berlangsung sengit dan sempat memincangkan kubu John. Bagaimana ending-nya yang seluruh khalayak ramai tau, Gangster Squad pasti akan memuaskan penonton dengan akhir yang bahagia.

Yang patut diberi nilai mungkin atmosfer yang dibangun oleh tim dekorasi seninya. Kota Los Angeles disulap kembali ke tahun 40-an dengan segala kostum dan kendaraan yang memang menjadi momen pada masa itu. Pemilihan musik juga amat jitu, seluruh instrumen bermain dengan baik saat adegan klimaks muncul di layar.

Kombinasi Sean Penn, Ryan Gosling, dan Emma Stone tetap akan menjadi magnet bagi filem ini untuk menjaring penonton sebanyak-banyaknya. Semoga saja kelemahan filem ini tidak berimbas pada karir mereka. Lagian, Hollywood tidak semudah itu membuang aktor mapan hanya karena bermain di satu/dua filem buruk. Catatan kecil itu mungkin berlaku bagi sutradaranya, Ruben, dengan filemografi yang belum terlalu menonjol, penggarapannya di sini bisa jadi sebagai amunisi untuk terus membuat filem bagus. Yah, anggap saja Gangster Squad kelinci percobaan yang hampir gagal. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Kamis, 17 Januari 2013

Silver Linings Playbook (2012)



Director: David O. Russell
Cast: Bradley Cooper, Jennifer Lawrence, Robert De Niro, Jackie Weaver, Julia Stiles, Chris Tucker, Anupam Kher
Rate: 3,5/5


Langsung saja. Silver Linings Playbook sedikit mengecewakan saya. Dalam artian, filem ini adalah salah satu yang saya tunggu, dan saya berekspektasi besar-besaran terhadap filem ini sebelumnya. Yang membuat saya antusias adalah isu yang mengalir beberapa bulan terkahir di berbagai festival filem yang banyak menganugerahi Silver Linings Playbooks (SLP) kemenangan di kategori akting. Dan betul, filem ini hanya hebat di sektor tersebut, dan sedikit timpang jika membicarakan filem ini secara keseluruhan. SLP tidak ada elemen yang membuat saya akan dengan gampang menontonnya untuk kesekian kalinya. Beda dengan karya Russell sebelumnya, The Fighter, yang walaupun tidak se-happy SLP, namun memunyai daya pikat yang seimbang. Disadur dari novel berjudul sama karangan Matthew Quick, SLP, in my humble opinion, hanya sekedar filem romansa.

Tokoh utama kita, Pat, mantan guru yang baru saja keluar dari rumah sakit jiwa karena mengidap penyakit bipolar order. Berusaha mengembalikkan kembali rumah tangganya yang rusak, Pat dipertemukan secara tak sengaja dengan Tiffany, seorang janda yang juga depresi akibat kematian suaminya dan dibalas dengan perilaku menyimpangnya sehingga menjadi gosip hangat di jajaran masyarakat kota tersebut. Kedua anak Adam yang 'aneh' dan berperilaku menyimpang ini terkoneksi satu sama lain dan melakukan banyak rencana dan perjanjian unik di antara keduanya. Kepulangan Pat awalnya juga disambut dingin oleh sang ayah. Dan berkat penjelasan sang ibu, akhirnya Pat lambat laun diterima dan menerima lingkungannya lagi.

Penggambaran Russell terhadap dua karakter utama yang sakit terbukti mampu mematahkan argumentasi jika filem bertemakan serupa akan jatuh ke tangis-tangisan saja. SLP lebih dari itu, karena secara langsung juga memaparkan refleksi perjuangan dan kisah cinta unik yang harus mereka terima akibat kesalahan mereka sendiri. Hanya saja, hadirnya sub-plot yang seakan dipaksa menyempitkan durasi cerita jelas menjadi titik kelemahan filemnya sendiri. Bagi saya, awal yang manis filem ini seakan dibuat berantakan di pertengahan, yang untungnya kembali digenjot lagi di akhir filemnya. Penafsiran yang bersifat semu memang akan sangat sulit diterima oleh penonton pada umumnya. Harus diakui filem ini memunyai cerita yang unik, gaya penyutradaraan Russell dengan memasukkan karakter-karakter disfungsional juga tak kalah hebat.

Masuknya nama Bradley Cooper beserta tiga aktor lainnya di bursa Oscar jelas prestasi tersendiri untuk filem ini. Jackie Weaver dan Robert De Niro sebagai pendukung main sangat efektif, namun jika untuk sampai di barisan penerima piala, Weaver tidak sekarismatik sebagai ibu seperti yang ditampilkan Melissa Leo di The Fighter. Jennifer Lawrence dengan ajiannya sukses mengelabui dan membuai penonton dengan akting naturalnya sebagai janda yang gila seks. Tatapan serta intonasi dialog yang ia lakukan tersirat dengan amat meyakinkan. Dan, Bradley Cooper, dia bermain bagus, tidak seperti biasanya. Ketotalannya menjadi pria delusional dan optimistik ditransfer dengan baik, hanya saja performanya terlihat masih standar jika harus bersanding di deretan nominator Best Picture Oscar. Bagi saya masih banyak aktor lain yang kemampuannya jauh di atas Cooper. Titik balik Chris Tucker boleh dibilang sebagai permulaan yang menggembirakan karena tidak asal memilih filem yang akan dibintanginya.

SLP pada akhirnya bercabang menjadi dua tema yang keduanya sama-sama menarik. Sebuah filem komedi yang dibalut dengan percintaan pasangan berumur dan sudah memiliki pengalaman dalam membangun rumah tangga sebelumnya. Beberapa adegan yang mudah sekali ditebak memang membuat filem ini berkurang unsur teka-tekinya. Dipenuhi dengan empat aktor mapan yang sukses bekerja sama membentuk kesatuan akting yang apik, SLP menjadi tontonan berkualitas tetapi tidak untuk ditonton berulang-ulang. Setidaknya, semoga ini menjadi pembuktian Russell dalam berkomitmen secara serius untuk menghasilkan karya yang benar-benar mampu dipandang kedua mata oleh kritikus. Happy watching!

by: Aditya Saputra