Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Senin, 03 Juni 2013

Laura & Marsha (2013)


Director: Dinna Jasati
Cast: Ardinia Wirasti, Prisia Nasution, Restu Sinaga, Afika
Rate: 3/5



Tahun ini film Indonesia semakin menggila. Dibuka dengan Demi Ucok yang menjadi bahan pujian dimana-mana (saya sendiri tidak sempat menonton karena cepatnya film ini turun layar di kota saya -red), lalu muncul Belenggu yang ternyata menegangkan kembali urat perfilman Indonesia yang semula kendur, lalu hadir What They Don't Talk About When They Talk About Love yang sunyi senyap namun mencekam ke dasar batin kita paling dalam. Walaupun saya begitu selektif dalam menonton film lokal di bioskop, namun saya cukup jeli film apa yang memang harus saya nikmati di layar lebar. Seperti contoh baru, Laura & Marsha yang memang telah saya tunggu dari awal-awal pemberitaan pertama film ini digaungkan. Terlebih lagi, film ini dibintangi oleh Ardinia Wirasti yang menjadi salah satu aktris favorit saya. Satu poin lagi yang membuat saya begitu antusias adalah tema yang melingkari film ini, tapi saya tidak tau-menau masalah sinopsisnya dan tibalah saya di puncak kekagetan.

Mengapa kaget? Karena Laura & Marsha menyajikan sebuah fragmen yang jauh dari pandangan saya sebelumnya. Mengadon semua bumbu yang sekarang dipertanyakan dalam kehidupan. Begitu sakral, intim, tapi tidak melupakan sisi hiburan di dalamnya. Hanya saja, apa yang telah diberikan sang sutradara terlalu lepas kendali dan tidak memikirkan alur serta tujuan utama tema yang diusung. Saya sedikit mengerti dengan subplot yang ingin disampaikan, tapi bagi saya hal itu sedikit terlalu dipaksakan. Boleh-boleh saja sih mencampur adukkan semua hal untuk sebuah road movie, tapi tidak lantas juga banting stir dan dilepas begitu saja. Si empunya film lupa tujuan awal film ini, karena penonton akan dibuat terkecoh oleh poster yang dijual film ini kendati sinopsisnya sendiri mungkin sudah membeberkan apa yang akan dituangkan lewat filmnya.

Saya cuma tidak menyukai bagian 'kematian' di film ini serta adanya bintang tamu yang kebetulan muncul untuk melengkapi atau bahkan kasarnya dipaksakan ada untuk membuat filmnya menjadi mempunyai cerita. Padahal, tanpa itupun film ini semestinya bisa sukses menjadi road movie. Dan jujur saja, banyak adegan yang membuat saya terhanyut dan terbuai ke dalam memori yang bisa jadi sangat personal buat saya. Saat dua tokoh utama kita bertengkat hebat, mungkin menjadi momok tersendiri bagi saya yang menontonnya. Hebatnya lagi, saya hampir terbawa emosi pula oleh segmen ending yang begitu cheesy namun sangat mengena. Dalam hal ini, Prisia Nasution serta Ardina Wirasti sudah mampu mengangkat beban dan tanggung jawab mereka dalam menransfer watak dari Laura dan Marsha. Persahabatan mereka yang diuji di negara orang lain cukup mewakili mental orang-orang yang hobi travelling. Satu dengan gaya ranselnya, dan yang lain tidak boleh ketinggalan kopernya. Film inipun sedikit banyak memberi gambaran akan sebuah kebebasan, derita masa lalu, serta bagaimana kita menyikapi hidup bahagia yang enggan bersama kita.

Segala teknis film ini tidak akan saya ributkan, karena film ini tidak memanfaatkan teknis yang begitu signifikan. Mungkin cuma pemilihan musiknya yang pas dan penataan kameranya yang sepadan dan mampu menangkap view-view bagus di beberapa negara di benua Eropa. Panorama yang mengikuti perjalanan spiritual (?) Laura dan Marsha sungguh sedap dipandang. My last verdict, kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi pada kita esok, dan kita hanya hidup sekali di dunia ini. Nikmatilah apa yang bisa kalian rasakan lewat alam dan lingkungan, rasakanlah jika dunia masih ada di dalam genggaman kita jika kita bisa menjaganya dengan bijaksana. Laura & Marsha memamerkan sekelumit liburan singkat yang penuh dengan pengalaman dan cobaan. Lebih dari itu, film ini memaparkan dengan sangat jelas sebuah arti persahabatan untuk saling menolong, mengisi satu sama lain, dan menjadikan satu dunia tadi untuk digenggam bersama-sama. Happy watching!


by: Aditya Saputra

Kamis, 02 Mei 2013

What They Don't Talk About When They Talk About Love (2013)


Director: Mouly Surya
Cast: Nicolas Saputra, Ayushita, Karina Salim, Jajang C. Noer
Rate: 4,5/5


Mengapa judul film ini begitu panjang dan terasa buang-buang karakter? Setelah Anda menonton film ini hingga usai, Anda akan mengerti mengapa si empunya film memberi tajuk demikian. Kita tidak akan menduga seperti apa film ini jika tidak membaca sinopsisnya. Dan saya, yang sudah berempati tinggi terhadap film ini dikarenakan latar belakang sineasnya, tidak tau-menau sebelumnya apa yang akan dibicarakan film ini saat kita sedang membicarakan film lain. Film ini mengemuka terlebih dahulu di festival luar negeri, mengambil start yang sangat bagus. Perlahan namun pasti, kesempatan WTDTAWTTAL untuk membuka tabir di layar sinema lokal akhirnya kesampaian, meskipun harus bertarung dengan film-film raksasa dari negeri seberang benua dan beberapa film domestik pesaing lainnya. Mouly Surya, di film pertamanya yang memenangkan Film Terbaik di ajang piala Citra, sekali lagi menyuguhkan sebuah cerita cinta tak biasa, layaknya fiksi. yang juga begitu kelam dalam membahas perihal jatuh cinta tak wajarnya.

Mengupas tema cinta anak remaja mungkin tidak akan ada habisnya, terlebih lagi jika menyangkut poin-poin penting khas keremajaan. Tapi, kita sangat jarang diperlihatkan bagaimana cara orang cacat mental dan fisik dalam memadu kasih. Saat kita didudukan di antara rasa iba dan kagum, kita seperti digambarkan sebuah reklame singkat sebuah dagelan lucu tentang arti cinta dari sudut pandang yang tak biasa. Maaf sekali, saya tidak akan memberikan sinopsis untuk film ini bukan tanpa alasan. Begitu kompleks dan detilnya film ini membuat saya berpikir ulang bagaimana memisahkan sub-plot dalam satu paragraf. Semuanya terasa sangat spesial dan terlalu hambar jika diceritakan begitu lengkap.

Kecekatan Mouly untuk film ini pasti karena adanya observasi terlebih dahulu dan memantau bagaimana 'kaum' mereka berkomunikasi dan mengartikan bahasa satu sama lain. Keterbatasan yang mereka miliki memang condong menjadi santapan menarik untuk sebuah drama penguras air mata, jika saja Mouly ingin bermain ke arah sana. Namun nyatanya, Mouly jauh lebih berani dalam memoles film 'miring'-nya menjadi lebih miring lagi. Menunjuk 3 karakter wanita utama lengkap dengan figuran dan ceritanya masing-masing. Dan hebatnya, (ya, jika kita tidak tau jalan ceritanya), Mouly memberikan kita banyak kejutan, dan seperti yang saya katakan sebelumnya, adegan yang cukup berani dan tragis pun dilibatkan oleh Mouly. Pengertian cinta di film ini sungguh luas, melebar hingga kita tidak tau lagi apa makna tersirat yang ingin disampaikan Mouly. Insting yang membabi buta dari para penyandang cacat fisik tersebut tidak memberi batasan bagi penonton dalam mengartikan cinta yang mereka refleksikan dengan sangat menohok.

Pergerakan kamera yang sangat dinamis, banyak adegan panjang nan kosong, namun juga memberi aura yang ganjil. Penonton akan terusik dan merasa tidak nyaman, namun membekas karena berkat itulah penyampaian Mouly berhasil. Dan yang paling mengesankan adalah akting 3 pemain utamanya yang tampak sangat kuat, solid, dan mengejutkan. Mereka mampu memberikan nyawa kepada karakternya cukup lewat body language-nya saja. Dari sinipun kita bisa menarik kesimpulan, diam itu memang bisa memberikan ungkapan yang sangat universal. Dan tanpa dialogpun, sebuah film mampu berbicara banyak jika memang gerak tubuh tadi bekerja dengan sangat baik.

Bagi mereka, mungkin hidup terasa tidak adil. Dan bagi kita, mungkin merasa bersyukur karena diberikan hidup yang lebih baik dan beruntung. Tapi, dengan cara mereka sendiri, merekapun bisa menemukan apa yang orang normal temukan, walaupun kondisi mengenaskan juga terkadang menyurutkan semangat mereka. WTDTAWTTAL ialah film langka dari segi penceritaan, memiliki pondasi yang kokoh, tidak sembarang memilih pemain, memaksimalkan lokasi yang itu-itu saja, membisingkan adegan tanpa dialog, serta mencairkan kekikukan suasana sekolah luar biasa. Salah satu film terbaik yang pernah saya tonton dari tangan sutradara Indonesia. Tidak membiaskan definisi cinta, namun juga tidak berterus terang dalam mengungkapkan arti cinta yang bersih. Buktikanlah, film ini akan membuat Anda tertegun melihat sebuah sisi lain dari penerjemahan akan cinta dan kasih sayang. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 22 Desember 2012

Habibie & Ainun (2012)


Director: Faozan Rizal
Cast: Reza Rahardian, Bunga Citra Lestari
Rate: 3,5/5


Sebagai seorang presiden, bohong sekali rasanya jika masyarakat Indonesia ada tidak mengenal sosok B.J. Habibie. Sebagai orang yang pertama kali mencetuskan dan memroklamirkan pembuatan pesawat terbang dan teknologi lainnya, Pak Habibie patut dijadikan contoh nyata bagaimana superioritas sebuah bangsa adalah bagaimana tokoh besar di belakangnya. Masa kepemimpinan Pak Habibie dengan rentang waktu yang sebentar memberikan sedikit gambaran bagaimana nahasnya negara ini pada waktu itu. Pak Habibie dengan begitu gentarnya berupaya sekuat tenaga untuk kepentingan negeri ini, sekalipun mesti mengorbankan dirinya sendiri. Panutan yang berharga. Kehidupan rumah tangganya yang berjalan sempurna bersama ibu negara, Ainun, bahkan bisa dijadikan contoh untuk sebuah realita percintaan yang memerdekaan kebersamaan dalam kondisi apapun.

Love story antara Habibie dan Ainun inilah yang menjadi fokus utama film garapan sutradara baru, Faozan Rizal. Menyadur dari buku yang ditulis sendiri oleh Pak Habibie yang berisikan kumpulan-kumpulan hidupnya dengan sang istri tercinta, buku tersebut menjadi best-seller di tahun perilisannya. Dan beberapa tahun kemudian, salah satu sineas muda kita yang dibentengi oleh sosok Hanung Bramantyo di belakangnya, buku semi-otobiografi tersebut mengemuka di layar lebar. Siklus cinta itu dimulai dari bagaimana Habibie dan Ainun di satu sekolah, kemudian mengenal cinta ketika remaja. Memadu janji di sebuah becak, dan akhirnya membina silsilah kecil sembari mengerjakan proyek di negara seberang benua.

Jujur, harus diakui film ini mengandung banyak pesan bergizi yang diutarakan langsung ke pemuda pada khususnya dan kepada seluruh rakyak ini pada umumnya. Keberhasilan Habibie dalam menyejajarkan dirinya di lapisan orang-orang atas dan pembinaan kerukunan rumah tangga diimplementasikan dengan sangat baik oleh sutradara kita. Fase reformasi yang mengharuskan beliau menjabat menjadi presiden, meringkuh di tengah penyakit TBC-nya, menomor duakan jalinan keluarga, memang mengajarkan kita untuk menjadi sosok bertanggung jawab di mata masyarakat. Pergolakkan kinerja Habibie yang terus-terusan dirudung masalah terkait politik suap-menyuap juga mewarnai kehidupan beliau. Tapi, walau bagaimanapun juga film ini menyorot sepenuhnya akan perjalanan cinta beliau dengan sang istri hingga akhirnya harus ditinggal pergi karena penyakit kanker ovarium yang didera Ibu Ainun.

Inilah negara kita, berlian paling mahal semacam Pak Habibie harus memutar arah ke negara orang lain terlebih dahulu untuk bisa diakui di tanah kelahirannya sendiri. Krisis percaya diri dan kekurangan audiens dalam berkarya memang menjadi dasar mengapa negeri kita akhirnya jalan di tempat di dalam hubungan bilateral internasional. Belum lagi dengan kecakapan para politikus tak bermoral yang menyalip dan menyulap uang untuk kepentingan pribadi. Fragmen ini bukti nyata, dan dalam film Habibie & Ainun walaupun dipersempit dengan durasi yang hanya kurang lebih 2 jam saja, masih bisa diperlihatkan betapa kotor dan culasnya negara ini. Faozan memanfaatkan momen ini dengan menyisipkan beberapa rekaman asli pemerintahan pada zaman itu. Mengubah perkotaan menjadi sangat kuno, sayangnya pada kesempatan adegan di Jerman, kepalsuan sangat jelas terlihat. Andaikata adegan salju itu tersebut tidak dipaksakan ada, pasti kenyamanan menonton akan lebih sempurna.

Sama halnya dengan dipaksakannya kemunculan para sponsor di sepanjang film. Hadirnya bedak merek terkenal, cokelat yang dimodeli Nikita Willy, dan lain sebagainya itu memang sangat merusak citra film ini secara keseluruhan. Bagaimana film yang sedari awal sudah dibuat semanis dan senyata mungkin harus dicoreng dengan para 'bintang tamu' tadi. Sangat disayangkan. MD Pictures selaku yang membiayai film ini sepatutnya tidak berlaku egois hanya karena kepentingan uang semata. Sebuah karya yang dicampur tangani oleh materi memang akan melemahkan nilai karya tersebut. Contohnya film ini. Musik yang mengalun indah dibekali akting yang luar biasa dari Reza Rahardian di film ini berujung hanya lucu-lucuan belaka.

Yah, Reza Rahardian berhasil menempatkan dirinya di posisi yang serba beruntung. Dipilihnya Reza sebagai perwakilan layar Pak Habibie bukan tanpa alasan dan bukan tanpa hasil. Mengingat ia adalah satu aktor muda berbakat yang sudah memainkan banyak peran beda, kehadirannya di sini memang sangat dibutuhkan. Gesture dan body language yang sempurna serta cara berbicara yang sangat Habibie sekali terbukti menenggelamkan penonton untuk merasakan dawai film ini. Tapi, ketika harus berbagi frame dengan Bunga Citra Lestari selaku pemeran Ibu Ainun, kolaborasi mereka terasa sangat tidak kena. Bunga masih ingin terlihat cantik dan egois walaupun dalam keadaan tua renta. Make up saat Ibu Ainun pada masa pesakitan tidak terlihat dengan jelas. Tidak ada dari wajah Bunga yang membuat saya percaya jika ia sedang berakting. Ibu Ainun di tangan Bunga seperti satu masa satu umur dengan anak-anaknya.

Kendati banyak minus yang tersebar dari film ini, bukan berarti sisi positifnya menjadi hilang tak berarti. Film ini masih memiliki pesan moral yang tinggi. Memang sangat disayangkan, jika poin kritis tadi bisa diminimalisir dengan bijak, pasti Habibie & Ainun akan terlihat lebih kokoh tanpa memandang bulu jika ini film buatan sutradara minim pengalaman. Dan satu hal lagi, Pak Habibie telah menerbangkan negara ini ke kancah internasional dalam menelurkan teknologi yang jarang ditemui oleh anak bangsa untuk ukuran zaman tersebut, dan zaman sekarang. Seperti hanya ia menerbangkan pesawat terbang rangkaiannya yang menjadi tolak ukur sebuah kecerdasan hingga sekarang. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 22 September 2012

Test Pack (2012)

Director: Monty Tiwa
Cast: Reza Rahardian, Acha Septriasa, Renata Kuswanto, Uli Herdinansyah, Gading Marten, Dwi Sasono
Rate: 3,5/5


Rata-rata, sutradara di Indonesia begitu mudah merekrut bintang-bintang besar untuk diajak main di proyeknya. Itu pula yang membuat film mereka terasa ensemble cast-nya, entah untuk menjaring penonton atau sebagai tempelan saja. Monty Tiwa salah satu yang beruntung itu, dan terjadi untuk film terbarunya ini. Test Pack yang merupakan saduran singkat dari novel berjudul sama, disesaki dengan barisan aktor ternama. Mungkin track record Monty seperti pasang surut, kadang menelurkan yang berkualitas prima sampai yang abal-abal. Namun, berkat kepiawaiannya dalam mengolah data novel atau juga karena pengalaman di balik kamera, Test Pack terasa sekali sisi positifnya. Lengkap dengan naskah dan dialog cerdas yang tertuang di dalamnya.

Acha dan Reza berperan sebagai suami istri yang diambang kehancuran. Mereka dihadapkan akan suatu momok apakah mereka sanggup mempunyai momongan atau tidak. Sang istri yang selalu didesaki kata 'bayi' seperti siap terjun dari jurang jika kenyataannya dialah yang mandul. Namun takdir dan nasib berkata lain. Kendala rumah tangga yang dibangun kokoh awalnya, malah seperti tempat mengerikan bagi mereka berdua. Mereka saling mencari apa arti keluarga sebenarnya. Dan, pada bagian inilah, Monty mengajak kita menyelami keluarga mereka lebih intim sekaligus belajar secara bijaksana bagaimana jika kita yang berada di posisi mereka.

Secara drama, film ini memang layak diacungi jempol. Di samping, ceritanya yang asik dan penuh teori yang bertanggung jawab, permainan akting dari para aktornya juga bukan sekadar berakting. Mereka menjiwai. Terutama Reza dan Acha yang sangat melebur dengan tokoh mereka. Di mana saat mereka bercanda, bercengkrama, bertengkar, diperlihatkan dengan sangat natural. Ditambah pula dengan teknik slow-motion dan alunan lagu yang menyunting adegan tadi jadi lebih nyata. Selain itu, kemunculan para peran pembantu memang pas adanya, tidak mubasir. Yang kerennya lagi, bagaimana Monty mengeksekusi ending-nya menjadi sangat believable. Sangat jarang film Indonesia dibikin semenarik ini.

Terus terang, jika film Indonesia berkelanjutan dibuat dengan penuh visi dan misi yang positif seperti ini, plus, dengan keberagaman tema tentunya, sudah pasti perfileman Indonesia tidak akan tertatih-tatih seperti ini. Dan Test Pack akan menjadi salah satu pintu gerbang. Dengan tema yang sangat Indonesia, penggarapan yang maksimal, dan gerak akting yang lihai, sang empunya novel pasti berbangga hati jikalau karyanya diapresiasikan dengan tidak semenjana seperti ini. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Jumat, 24 Agustus 2012

Perahu Kertas (2012)



Director: Hanung Bramantyo
Cast: Adipati Dolken, Maudy Ayunda, Reza Rahardian, Elyzia Mulachela, Kimberly Ryder, Ira Wibowo, August Melasz, Titi DJ
Rate: 3/5


Hanung Bramantyo sering kali mengadaptasi sebuah buku untuk dijadikan cerita panjang berbentuk pita seluloid di layar lebar. Selama ini, kiprah beliau di kancah perfileman Nasional selalu diisi dengan angin segar baik secara dramatikal maupun komedikal berkelas. Ingat sekali bagaimana saya dibuat tertawa terpingkal-pingkal saat menonton Get Married, dan tersedu sedan kala menyaksikan Sang Pencerah. Persamaan keduanya dengan Perahu Kertas secara pribadi, ketinganya saya tonton H-1 Lebaran Idul Fitri. Itulah target pasar yang selalu Hanung terapkan selama ini. Mematok libur lebaran untuk menjaring penonton sebanyak-banyaknya.

Beda dengan Ayat-Ayat Cinta yang kental nuansa agamisnya, melalui Perahu Kertas Hanung bercerita tentang tema yang sangat umum tapi sarat akan kesan dongengnya. Sebelum itu, saya ingin memberi tahu jika Perahu Kertas adalah buah pena dari salah satu penulis terkemuka di Indonesia, Dewi 'Dee' Lestari. Jebolan RSD itu lambat laun telah menelurkan banyak karya seperti tetraloji Supernova, Madre, Rectoverso, Filosofi Kopi, dan Perahu Kertas ini sendiri. Kesemuanya menjadi best seller nasional. Dan di sini saya tidak akan me-review buku-buku fantastis itu, melainkan mengupas tentang apa yang ada di pikiran saya setelah menonton tulisan Dee versi gambar bergerak. Karya Hanung Bramantyo, yang melalukan blooper hidupnya saat mengadon naskah Sundel Bolong dengan begitu parahnya.

Suatu waktu, dipertemukanlah Kugy dan Keenan yang memiliki kepribadian dan latar belakang yang sama uniknya. Keduanya juga terperangkap pada seni yang harus melebur sejalan dengan paksaan nasib. Satu pendongeng, satunya lagi pelukis. Sisi lain dari Kugy adalah dia antek dari Dewa Neptunus. Menulis surat buah pikirannya lantas dijadikan perahu kertas lalu dialiri ke air, karena ia percaya seluruh air di muka bumi ini akan bermuara ke lautan jua. Pertemuan unik mereka ternyata berjalan dengan sangat hidup. Hingga satu hari mereka diharuskan oleh penulis untuk berpisah sejenak dan menjalani kehidupan masing-masing. Keenan bertapa di Bali dan Kugy kembali menyelami hiruk-pikuk kota Jakarta. Happy ending? Iya.

Mungkin ada benarnya Hanung membagi novelnya menjadi 2 film secara terpisah, karena saya sendiripun susah menulis sinopsis singkat tanpa melepaskan ditel-ditel menarik dari bukunya. Secara cerdas, Dee menulis ulang skripnya tanpa membuang poin-poin penting yang ada di karya sastranya. Sampai sesi ini, Perahu Kertas berhasil membuai saya. Di teritori penggarapan Hanung, Perahu Kertas indah berkat pencapaian terbaik tata kemeranya. Sinematografi yang menyorot lenskep seting dipotret dengan apik. Banyak adegan yang terbentuk berkat ambience fotografinya. Pemilihan cast pun tidak sembarangan. Walaupun Dolken dan Maudy masih asing di telinga, setidaknya mereka cukup telaten dalam memperagakan karakter novelnya menjadi nyata. Kugy yang selalu tampak ceria sekalipun pada saat bersedihpun dapat dimainkan dengan santai oleh Maudy. Setali tiga uang dengan kegalauan Keenan yang diserap dengan pas oleh Dolken. Sedangkan untuk para ekstranya, terutama August Melasz, mereka penyempurnanya.

Namun sayangnya, fiksi indah ini harus diretak oleh kualitas musik, yang entah bagaimana mengatakannya, seperti 'kebetulan' sama. Ada satu instrumen dan nada yang sama persis dengan musik latar dari film Babel karya Alejandro Gonzales Innaritu yang berjudul Bibo No Aozora. Tanpa mengesampingkan peran 'kebetulan' tadi, bagi saya slot itu sungguh-sungguh mengganggu. Kendati soundtrack-nya cukup easy listening, tetap saja 'kebetulan' tadi jadi disturbing sequence yang teringat sampai sekarang.

Terlepas dari itu semua, Perahu Kertas tersaji dengan penuh filosofi. Penonton seakan sedang diajarkan untuk menilai hidup mereka sendiri. Karena, Perahu Kertas adalah paket lengkap bagaimana kita mengenal apa itu cinta, apa itu cita-cita, apa itu persahabatan, apa itu keluarga, dan apa itu tujuan hidup. Cermin klasik yang akan kita tahan untuk melihat sambungan ceritanya beberapa bulan ke depan. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Jumat, 11 Februari 2011

The Photograph ( 2007)


Director : Nan Achnas
Cast : Lim Kay Tong, Shanty, Lukman Sardi, Indi Barends
Rate : 4/5


Sayang sekali, pakar-pakar sinema Indonesia telah kelewatan satu film untuk didengungkan lebih luas ke khalayak ramai. Mungkin karena temanya yang terlalu berat untuk dicerna atau tampilannya yang buram seburam kenyataan pahit sang pelakon utama. Sama halnya produk Shanty lain yang juga diacuhkan pembeli tiket, Kala. Keduanya dicibir untuk masalah laba, tapi keduanya memegang sertifikat terpuji. Kembali ke The Photograph, salah satu contoh film ber-budget minim namun bisa dimaksimalisir dengan sangat baik. Sineas gemilang Nan Achnas berhasil memberikan sajian sejuta makna untuk penonton lewat penuturan singkat dan sederhana akan betapa sulitnya membuang bayang-bayang masa lalu dan melewati masa depan.

Johan Tan, lelaki tua yang mengidap kesakitan mental akan kukungan masa silam. Dia seorang fotografer yang mengais rejeki lewat itu. Suatu ketika, rumahnya kedatangan seorang tuna wisma yang hendak menyewa sebuah kamar, Sita. Sita mempunyai tanggung jawab menghidupi anaknya yang telah lama ia tinggal serta berniat mengobati penyakit neneknya. Kedua tokoh kita memiliki persamaan, mereka depresi. Sita akhirnya mencoba membantu Pak Johan untuk bebas dari penjara masa lalu. Satu hal, Pak Johan membui kenangan pahitnya lewat serangkaian foto. Fisik yang akan mengupas kembali memori kelamnya.

Gerak gambar The Photograph memang hanya seputar Johan dan Sita dalam memperjuangakan hidup. Kendati begitu, Nan Achnas memanipulasinya lewat keindahan sinematografi. Film ini sangat terbantu lewat mobilitas kamera yang walaupun monoton tapi sangat membentuk karakter tokoh maupun situasi. Warna-warna buram baik untuk setting rumah Johan maupun terang pekat di setting luar seakan mewakili apa yang mereka alami. Acungan jempol juga saya salutkan kepada direksi seni yang membuat The Photograph semakin nyeni dan memiliki jiwa untuk setiap adegannya.

Pemeran Pak Johan adalah seorang WNA. Achnas mengambil resiko dan itu semua terbayar lunas. Tong mencurahkan seluruh metabolisme urat aktingnya dengan bermain dengan sangat menakjubkan. Perubahan karakter sebelum dan sesudah ia mengalami krisis kepercayaan diri tersorot dengan sangat baik. Mungkin sulit membayangkan jika peran emosional ini diperankan leh aktor lain, sekalipun ia seorang Deddy Mizwar. Begitu pula dengan apa yang diperlihatkan oleh Shanty. Setelah mulai eksis di Berbagi Suami dan Kala, aktingnya di sini kian matang. Semakin menunjukkan taring dan taji tajamnya. Lukman Sardi pas porsi, dan Indy Barends membuat kejutan dengan sandiwara sarkastiknya. Namun, penampilan sekian detik dari Nicholas Saputra lah yang akan membuat penonton tercengang. Good job, Nico!

Begitulah! The Photograph memang sedikit banyak menjelaskan betapa menderitanya jika kita masih meratapi masa lalu, terlebih jika masa lalu itu kelamnya luar biasa. Kaki tangan seakan dirantai dan sulit melangkah untuk menggapai era baru. Lewat sosok Tuan Johan kita belajar itu semua. Sebuah persembahan yang membanggakan dari seorang sutradara lokal yang berani keluar jalur mainstream. Highly recommended. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Kamis, 14 Oktober 2010

Madame X (2010)

Director : Lucky Kuswandi
Cast : Aming, Joko Anwar, Shanty, Marcell, Ria Irawan, Robby Tumewu, Sarah Sechan, Vincent Rompies, Fitri Tropica, Titi DJ
Rate : 3/5


Madame X terealisasi akibat celetukan Aming kepada Nia Dinata yang menginginkan ada sesosok superhero yang keluar dari pattern-nya namun juga segar dalam karakteristik. Aming menginginkan adanya super-transgender, dan diiyakan oleh Nia. Jadilah, Madame X hadir dengan tampilan konyol namun juga menyentil kehidupan sosial bangsa kita. Sayangnya, nama Madame X sendiri tidak terlalu orisinil karena ada nama serupa yang beredar di luaran sana.

Ah, ceritanya klise, bahkan kita bisa tau arus plot film ini akan ke mana. Adam, bencong salon, yang ditakdirkan membela kaum lemah atas suatu perkara dengan komplotan ormas yang merasa risih dengan keberadaan para waria. See, format superhero melawan villain yang tentu saja akan dimenangkan oleh pihak yang benar.


Mengambil gaya Hollywood, pahlawan di sini juga mengalami tekanan batin, perombakan watak, pertemuan dengan kaki kanan, bersinggungan dengan kisah cinta yang rumit. Yang menarik adalah, Aming yang saya nilai berhasil menghibur namun juga berhasil menimbulkan kesan annoyance yang berlebih. Sukses karena dia mewakili sosok pria gemulai dengan perkasa, hancur karena kekonyolannya dalam berbusana yang sangat mengganggu. Tapi begitu, peran ini memang untuk Aming seorang.
Melainkan untuk para pendukung juga bermain cukup. Mungkin hanya Vincent Rompies yang terbilang lumayan, dan Joko Anwar yang sangat berani bermain slenge'an.

Humor di film ini kebanyakan bersifat garing tidak renyah, kendati ada juga yang berhasil mengundang ketawa. Mungkin penulis naskahnya kurang merevisi skripnya dan sutradaranya menyuruh aktornya terlalu berimprovisasi.
Walaupun banyak kedodorannya, sang sutradara mampu memberikan ruang khusus untuk menampilkan flashback sang tokoh utama dengan emosionil. Pun penggunaan efek komputer yang bisa dikatakan bagus untuk ukuran film Indonesia. Kemudian adalah penerapan layaknya buku komik yang menimbulkan efek bunyi dalam adegan action untuk klimaks film ini. Lagi-lagi disayangkan jika mengingat teknik tersebut akan lebih bagus jika dipakai dari awal film.

Yah, ini handmade movie yang patut kita apresiasikan karena keberanian sineasnya untuk keluar jalur perfilman lokal sekaligus menampilkan tema unik. Jangan pula disamakan dengan produk luar, akan seperti hamburger dan roti isi kacang tanah. Karena saya memiliki standar tersendiri untu menilai produk dagri. Sekalipun film ini bergumpal hal minum dalam segi cerita maupun teknis, yang maksi adalah kepuasan tersendiri jika masuk bioskop tidak hanya menemui setan narsis di sana-sini. Happy watching!

Minggu, 12 September 2010

Emak Ingin Naik Haji (2009)


Director : Aditya Gumay

Cast : Aty Cancer, Reza Rahardian, Didi Petet, Niniek L. Kariem

Rate : 4,5/5


Tahun 2009 kemarin ada sebuah film under-exposed yang kalah saingan dengan film-film lokal tak jelas. Film yang mengetengahkan perjuangan keihklasan serta kesabaran manusia ini harus rela mengalah rupiah dengan horor seks dan komedi abal-abal yang tak kunjung dimatikan produksinya. Emak Ingin Naik Haji judulnya. Emak dimaksudkan sebagai proyek film drama berbalut religi. Bukan film religi berselimutkan over-drama. Maka, hasil yang disodorkan jauh lebih kaya tanpa ada kesan pemaksaan dalam unsur agamis. Menyibak premisnya yang biasa, Anda mungkin tidak akan percaya jika film ini berhasil membuat saya tidak berhenti berlinangkan air mata, terutama pada adegan menuju ending.


Aditya Gumay, pengurus sanggar Lenong Bocah dan pemimpin sanggar Ananda, seperti telah sangat berpengalaman dalam menyantroni film ini. Bahkan mengalahi kualitas dari sineas lokal yang telah berpuluh-puluh film diproduksi. Untuk filmnya ini, Aditya mengajak penonton untuk belajar bagaimana sikap kita jika ada di posisi para karakter. Tanpa ada kesan penguliahan dini. Ditambah juga bagaimana Aditya memfokuskan dunia kehajian dengan berbagai aspek dan subjek. Di sini jelas kita sadar dan tau jika gelar haji bukan semata tuntutan Tuhan, tetapi juga dengan maksud lain. Gengsi, tujuan reklame promosi kampanye, serta kesombongan belaka. Lewat karakter Emaklah, arti haji dipaparkan dengan benar dan penuh kebijkasanaan. Bagaimana proses Emak menggapai cita-citanya tidak hanya patut diikuti tetapi juga dipelajari setiap detail-nya. Niscaya, guliran itulah yang akan membuat kelopak mata Anda basah dengan sendirinya.


Sinematografi film ini memang tidak indah, tapi tamparan ceritanya sendiri sudah cukup membantu kameramen dalam menangkap gambar lusuh sebuah perkampungan. Musiknya pun boleh dikatakan biasa, dan sekali lagi penceritaan yang kuatlah menutupi segala kekurangan film ini. Betapapun itu, puncak kreasi saya sematkan kepada Aty Cancer dan Reza Rahardian yang bermain dengan sangat mantap. Hubungan ibu-anak yang sangat klop menepiskan skeptis buruk saya sebelumnya. Apa yang dimainkan mereka adalah sebuah contoh bagaimana aktor seharusnya menjiwai peran dengan sungguh-sungguh. Penyelamatan kedua untuk film ini. Para pendukungnya tidak ada masalah, semua bermain cukup apik, terutama Henidar Amroe yang walau sekilas tapi mempu memberi hawa panas.


Sayang sekali, pada satu kesempatan saya nilai Aditya melakukan keteledoran dan men-shoot dan mentransfernya ke pita seluloid. Luka tangan kanan saat ia melukis ternyata ditranslasikan sehingga di adegan berikutnya yang sakit malah tangan kiri. Adegan miss tadi untunglah hanya muncul beberapa detik yang tidak begitu mengganggu. Bahkan adegan tadi beriringan dengan curahan hati Emak yang sangat memorable.


Emak dalam satu sisi bisa dijadikan objek pembelajaran tentang kepasrahan umat kepada pencipta-Nya. Kita memang sepatutnya berdoa dan berusaha, tapi sang Khalik lah penentu tujuan perjuangan kita. Emak, yang luar biasa kepinginnya menapakkan kaki di Mekkah, harus rela mengikuti jalan Tuhan dalam mencapainya, sekalipun pahit geti harus diemutnya. Di satu sisi lagi, Emak bisa jadi wadah baru bagi sutradara yang lain agar berani membuat film non-komersil yang patut diperhitungkan. Semoga Aditya Gumay di karya berikutnya mampu mencapai kualitas seperti film ini. Dan semoga ada film lain yang memposisikan Reza dan Aty dalam satu frame. Akting mereka membuat saya rindu akan film dengan tingkat emosional tinggi dari para pemainnya.

Rabu, 08 September 2010

Sang Pencerah (2010)

Director : Hanung Bramantyo
Cast : Lukman Sardi, Zaskia A. Mecca, Slamet Rahardjo, Suiwo Tejo, Ikranegara, Giring
Rate : 4/5


Pertama kali saya akan memulai dengan pertanyaan : mengapa Hanung Bramantyo mengangkat seorang K.H. Ahmad Dahlan untuk biopiknya kali ini? Jika mau berasumsi dan mengira-ngira, ada banyak tokoh perjuangan Indonesia yang lebih hebat bahkan sangat berpengaruh bagi negara. Mengapa harus Ahmad Dahlan? Mungkin Hanung ingin lebih membuka perasaan umat muslim akan kebenaran sebuah agama. Dan mungkin Hanung juga ingin menyindir negara kita yang Islam-nya mulai tercerai-berai. Apapun motif Hanung, Ahmad Dahlan saya rasa memang sepatutnya diumbar oleh sineas untuk mengetahui sepak terjang pembaharuan Islam di kalangan umat Rosul, khususnya di Indonesia.

Ahmad Dahlan yang berulang tahun setiap tanggal 1 Agustus adalah pendiri organisasi Muhammadyah. Sebelum terbentuk, Ahmad Dahlan beserta kerabatnya mendapat tentangan dan fitnahan yang menuduh jika kehadiran Muhammadyah adalah hanya sebuah propaganda umat kafir untuk menghantam kaum Islam. Dengan segala kegigihan dan seluruh idealisme serta kepercayaannya kepada si Empu-nya dunia, Ahmad Dahlan tetap teguh pendirian dan membawa bendera keberhasilan sampai pemerintah memberikan gelar Tokoh Nasional atas empat pokok penting : menyadari sebagai bangsa terjajah, memberi kemurnian agama Islam, mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan, serta memberikan jalan untuk para wanita dalam mengenyam ilmu pengetahuan.

Untuk cerita di filmnya sendiri memang sama dengan apa yang telah terjadi di jamannya. Hanung bekerja ekstra keras untuk menuntaskan segala pe-er-nya atas genre biopik. Mulai dari art direction hingga set dekorasi yang hampir sesuai umur, tata make-up yang tidak berlebihan, kostum yang alami serta efek yang pas porsi. Itulah mengapa saya katakan Sang Pencerah berhasil dari segi keotentikan masa. Atmosfer tahun 1860-an memang dijaga para kru semaksimal mungkin. Dan, ponten 100 untuk DoP film ini yang berhasil menampilkan lukisan-lukisan indah yang bergerak sepanjang film. Apa jadinya jika sebuah biopik lampau tanpa tata kamera yang lihai. Untuk musiknya sendiri pun tidak asal dentuman. Komposernya jelas tau desibel apa yang mesti dibunyikan untuk setiap adegan.

Hanung memang berjasa besar untuk feature yang satu ini, tapi jika tanpa bantuan dari pekerja lain juga mungkin akan sia-sia. Hal lain yang patut dijunjung tinggi adalah kutipan-kutipan dialog berkualitas dari penulis skripnya. Apa yang terucap dari para aktornya seperti penggalan-penggalan petuah sarat makna yang bisa ditelisik per kalimat. Oleh sebab itu, aktor amatiran pun seperti hebat atas bantuan naskahnya.

Berbicara soal para pemain, casting director-nya benar-benar brilian. Pemilihan Lukman Sardi akhirnya tidak mubasir. Lukman merasuki ruh Darwisy ke segenap raga batinnya. Walaupun agak beda dari raut muka, tapi penyampaiannya jelas tertuju sekali. Begitu pula dengan para penggiring aktornya. Tidak ada yang mesti dibenahi. Semua menutupi satu sama lain. Kolaborasi yang menyenangkan dari sebuah film Indonesia yang sedang dilanda krisis mutualisme.

Sang Pencerah memang banyak mengajarkan kita betapa pentingnya berkompromi dan betapa indahnya kebersamaan tanpa perselisihan. Tokoh Ahmad Dahlan yang telah membawa nafas baru akan Islam yang ortodoks pada waktu itu disampaikan dengan sangat fokus. Sang Pencerah juga telah membeberkan serangkaian kejadian lampau yang mesti menjadi momen historikal bagi kawula muda jaman sekarang. Tidak ada salahnya mencontoh semangat revolusioner seorang Kiai ini. Penghujung paragraf, film ini sangat saya rekomendasikan. Apalagi mengingat momentum Hari Raya Besar umat Islam, Hari Raya Idul Fitri 1431 H.

Rabu, 01 September 2010

Fiksi. (2008)


Director : Mouly Surya
Cast : Ladya Cheryll, Donny Alamsyah, Kinaryosih, Aty Cancer
Rate : 4/5

Memperhatikan film Indonesia, berarti mau tak mau saya harus jua mengkritik betapa kemonotonannya sineas lokal kita dalam berkarya. Jelangkung yang sukses luar biasa waktu itu ternyata menjadi pintu gerbang dan mata rantai bagaimana perkembangan film Indonesia sekarang ini. Kuantitas tidak disertai dengan kualitas. Dan hingga detik ini, film yang benar-benar enak ditonton masih bisa dihitung jari. Fiksi. hadir ke muka umum dengan tema lawas tapi belum peka di kalangan masyarakat lokal. Mengambil pendekatan ke arah dunia virtual Alice di Dunia Ajaib, Fiksi. memang condong ke daerah yang lebih gelap. Disutradarai oleh sineas debutan, malah hasilnya jauh dari kesan amatiran.


Si wanita yang terpenjara dalam ketentraman rumahnya menemukan cara baru bagaimana ia mesti menghadiahi kepenatannya dari seorang pembersih kolam renang di rumahnya. Menguntit sang lelaki itu hingga ke rusun tempat tinggalnya, si wanita tambah menikmati lebih jauh ke arena permainan absurd-nya. Apa yang telah ia kelola di otaknya, akhirnya ia tumpah ruahkan lewat lingkungan barunya itu. Berbekal kecantikan serta keluguan luar biasa, Alice akhirnya menemukan ujung yang tak akan pernah terpikirkan sebelumnya.


Mouly Surya sebagai dedengkotnya harus diberi penghargaan tertinggi berkat kerja kerasnya di film ini. Mouly yang mencoba membangkitkan perfilman Indonesia, dan ternyata ia mampu, memang benar-benar telah menyokong ide klasiknya lewat tampilan yang kelam. Fiksi memang mengambil jalur kekejaman dari seorang wanita, tapi Mouly tidak lupa memasukan unsur feminisme yang kekal dari sosok artisnya. Ya, Ladya Cheryll sebagai psikopat tuntas mempraktekan seni aktingnya dengan sangat gemilang. Penransferan sifat sarkastik nan psikotistiknya jelas terpampang dari gesture dan air muka yang ia perlihatkan. Menyenangkan melihat sosok aktris yang bisa seprofesional ini. Tidak ada kecanggungan, tidak ada keegoisan, tidak ada keterpakasaan berakting. Dan Ladya melebur dengan sempurna.


Kembali ke Mouly, beliau tidak lupa menyertai beberapa konflik pelik yang mengitari daerah rumah susun tersebut. Guna untuk menambah cerita bahkan sanggup untuk menjadi subplot yang bagus, dan tidak ada kesan ‘harus ada’. Semua berjalan searus dengan narasi yang diperdengarkan lewat mulut aktrisnya. Mouly memang tidak main-main dalam menyentil norma dan adat kesopanan bagi kaum pinggiran Indonesia. Dan lagi, Mouly memberikan ruang untuk para pemainnya agar bermain secara maksimal. Selain Ladya Cheryll tadi, Donny Alamsyah dan Kinaryosih tidak hanya sekedar tempelan belaka. Akting mereka sama menonjolnya dan menunjang kedigdayaan sang tokoh utama.


Spot-spot daerah rusun ditelusuri dengan apik lewat arahan kamera. Dilengkapi pula dengan kemerduan suara musiknya, lengkaplah Fiksi menjadi suatu produk yang harus dikonsumsi bagi penonton yang rindu akan film Indonesia bermutu.


Kesimpulannya, Fiksi. boleh saja bersifat fiksional dan tak lumrah dalam kehidupan kebanyakan. Tapi, Fiksi. hadir sekaligus menyajikan sebuah layar yang mampu mendefinisikan tolak ukur manusia dalam menentukan sikap.

3 Doa 3 Cinta (2008)



















Director : Nurman Hakim
Cast : Nicolas Saputra, Dian Sastrowardoyo, Yoga Pratama, Yoga Bagus, Jajang C. Noer
Rate : 3,5/5 



Ketika pertama kali Nicolas Saputra dan Dian Satro dipertemukan oleh Rudy Soedjarwo lewat Ada Apa Dengan Cinta?, mereka lantas menjadi sosok yang dielu-elukan dan dicanangkan menjadi aktor papan atas. Dian yang selanjutnya bermain di Belahan Jiwa dan Banyu Biru serta Nico yang menyambung darah di Gie dan Janji Joni, mereka akhirnya dipertemukan kembali lewat sebuah film yang mengangkat tema seputar kepesantrenan. Namun, kali ini mereka tidak lagi menjadi sepasang kekasih, walau chemistry keduanya memang tidak bisa dibantahkan kemumpuniannya.
Diperkenalkan tiga anak muda yang menjalani tabiat hidupnya di sebuah pondok pesantren. Masing-masing memiliki masalah, cita-cita dan pengharapan yang tidak bisa dibendung lagi. Di samping itu, kehidupan agamis di pesantren itu ternyata harus diwarnai dengan pelbagai intrik menarik serta penyelesaian masalah yang khas dengan warga Indonesia. Saya tak mau berumbar sinopsis lebih jauh untuk menghindari spoiler, tapi saya berjanji jika film ini sungguh beda dari film bertema religi kebanyakan.
Tema yang menarik ini akhirnya menjadi sebuah pembaharuan wacana dalam mengambil ruang lingkup keagamaan. Ketika film bertema agama lebih kepada cinta-cintaan remaja belaka, 3 Doa 3 Cinta lebih dari itu. Drama percitaan memang masih ada, tapi itu semua bersifat universal. Ada cinta terhadap ayahnya, cinta terhadap ibunya, cinta terhadap cita-citanya, serta cinta terhadap lingkungan sekitar. Cinta yang mengharu-biru itulah yang menjadi kartu As betapa 3 Doa 3 Cinta sedap ditonton. Tak lupa rutinitas pondok juga dibeberkan dengan keterbukaan tanpa harus merasa sensitif. Keunikan massa di dalamnya seakan membuat kita tidak percaya akan kehidupan yang benar-benar terjadi di dalamnya. Dan Nurman Hakim berhasil mengeluarkan kepiawaiannya dalam menyekutukan berbagai tema dan sempilan lain menjadi sebuah karya yang enak ditonton.
Untuk Nico sendiri, film ini memang menunjukkan kapabilitas aktingnya. Tidak ada kesan jelek sepanjang film. Malah ia berhasil memberikan emosi yang pas kepada penonton. Sedangkan dua temannya yang lain juga bermain profesional. Ada hal yang lucu, Yoga yang mendapat Piala Citra sebagai Aktor Pendukung Terbaik saya nilai bermain lebih lemah dari Yoga Bagus, meski tidak buruk-buruk amat. Yoga Bagus lebih mengeluarkan jiwa apalagi ketika adegan menghadap ayah tercinta. Sedangkan, untuk Dian Sastro serta Jajang C. Noer sendiri boleh dikatakan bermain lumayan. Dian mendapat peran yang belum pernah dia mainkan, dan ia ternyata cukup luwes dalam menampilkannya. Khusus Jajang, tidak ada kata buruk bagi sang legenda akting ini. Oh, iya. Jangan lupakan penampilan khusus dari Butet Kertarajasa.
Budi pekerti luhur tidak dapat dilihat dari casing luarnya saja. Harus kita jajaki lebih dalam agar kita tidak salah menerka dan menilai baik buruknya. Itu semua agar tidak menimbulkan kesalahapahaman serta menghancurkan kerukunan. 3 Doa 3 Cinta berhasil menjewantahkan kamuflase kehidupan pesantren dengan lika-liku yang menyelubungi di dalamnya. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Kamis, 17 Juni 2010

Red Cobex (2010)

Director : Upi
Cast : Tika Panggabean, Indy Barends, Aida Nurmala, Sarah Sechan, Cut Mini, Lukman Sardi, Revalina S. Temat, Niniek L. Karim, Shanty, Irfan Hakim, Edo Kondologit
Rate : 2,5/5

Me-review sebuah film Indonesia kadang kala bikin jengkel. Di satu sisi, jika film tersebut buruk, me-review-nya menjadi sangat membosankan dan waste my time. Tapi di sisi lain, saya juga harus menghormati dan menghargai sebuah karya anak nergeri sendiri. Jika bukan orang-orang pemuja film, lantas siapa lagi yang akan memajukan idustri perfilman Indonesia? Tapi saya tidak sepicik itu. Dan beruntunglah Red Cobex muncul di kala saya siap sedia di beberapa hal. Saya meonton Red Cobex ini setelah jantung saya dibuat melemah setelah Toy Story 3. Jadi, sebelumnya saya tidak berekspektasi yang gimana-gimana. Dengan begitu, sekalipun filmnya akan jatuh gagal tetap saya akan menerimanya dengan tangan terbuka. Itu tadi, karena saya tidak berpikiran film ini akan hebat. Titik.

Dengan amunisi para wanita sadis plus satu anak muda, geng Red Cobex menjadi yang terkuat di masyarakat. Mereka adalah Mama Ana dan anaknya Yopihe yang orang Ambon, Tante Lisa domisili Manado, Yu Halimah (Tegal), Bok Bariah (Madura) dan Cik Memey (keturunan Cina). Mereka ini sebenarnya berniat mulia. Memberantas kemaksiatan dan kejahatan yang sedang merajalela di lingkunan sosialitas sekitar. Sayangnya, kerja keras mereka ini diartikan lain oleh warga sekitar yang menganggap mereka super duper menakutkan dan hakim di tempat.

Setelah si Yophie bebas dan hidup menumpang di rumah temannya yang sedang ada intrik dengan sang istri, hidup Yophie semakin semerawut. Untunglah ia segera bertemu dengan seorang wanita dan akhirnya mendapatkan pekerjaan. Sebenarnya intrik film ini sudah ada sejak filmnya mulai. Sayangnya itu ditampilkan secara bertele-tele dan seakan dipaksakan. Banyak adegan yang juga terasa hambar dan rapuh dalam segi dialog. Joke yang dilontarkan kadang kurang mengena, hanya pas bagian-bagian akhir yang cukup menggigit. Upi seakan kehilangan arah dalam menyiasati kedangkalan skrip. Hingga kedodoran di sana sini semakin tak terelakkan.

Untuk urusan pemain, para anggota Red Cobex sukses menerjemahkan dengan cukup baik. Terlebih dari seorang tika Panggabean yang benar-benar berubah 180 derajat menjadi seorang wanita perkasa. Tapi yang menjadi scene-stealer adalah Shanty. Kemunculan Shanty di setiap adegannya sangat mengocok perut dan tidak terasa berlebihan. Sepertinya Shanty menemukan lahan baru jika kelak jalur musik tidak mendukungnya lagi. Permainan aktingnya semakin terasah dari film ke film. Indonesia telah menemukan permata terpendamnya di jagad perfilman dalam negeri. Lukman Sardi, Revalina S. Temat, Irfan Hakim dan Edo Kondologit bermain sangat sederhana.

Satu hal yang bisa dipetik dari film ini adalah ditekankannya semboyan Indonesia : Bhinneka Tunggal Ika. Seperti yang kita tahu, personil Red Cobex berasal dari berbagai suku tapi mereka saling mengerti bahasa satu sama lain. Sehingga mencerminkan bahwa perbedaan itu unik dan tidak ada apa-apanya jika kita tetap menjaga keharmonisan satu sama lain. Untunglah pesan itu sangat mengental di film hampir gagal ini. Selamat menonton!