Senin, 03 Juni 2013
Laura & Marsha (2013)
Kamis, 02 Mei 2013
What They Don't Talk About When They Talk About Love (2013)
Sabtu, 22 Desember 2012
Habibie & Ainun (2012)
Jujur, harus diakui film ini mengandung banyak pesan bergizi yang diutarakan langsung ke pemuda pada khususnya dan kepada seluruh rakyak ini pada umumnya. Keberhasilan Habibie dalam menyejajarkan dirinya di lapisan orang-orang atas dan pembinaan kerukunan rumah tangga diimplementasikan dengan sangat baik oleh sutradara kita. Fase reformasi yang mengharuskan beliau menjabat menjadi presiden, meringkuh di tengah penyakit TBC-nya, menomor duakan jalinan keluarga, memang mengajarkan kita untuk menjadi sosok bertanggung jawab di mata masyarakat. Pergolakkan kinerja Habibie yang terus-terusan dirudung masalah terkait politik suap-menyuap juga mewarnai kehidupan beliau. Tapi, walau bagaimanapun juga film ini menyorot sepenuhnya akan perjalanan cinta beliau dengan sang istri hingga akhirnya harus ditinggal pergi karena penyakit kanker ovarium yang didera Ibu Ainun.
Inilah negara kita, berlian paling mahal semacam Pak Habibie harus memutar arah ke negara orang lain terlebih dahulu untuk bisa diakui di tanah kelahirannya sendiri. Krisis percaya diri dan kekurangan audiens dalam berkarya memang menjadi dasar mengapa negeri kita akhirnya jalan di tempat di dalam hubungan bilateral internasional. Belum lagi dengan kecakapan para politikus tak bermoral yang menyalip dan menyulap uang untuk kepentingan pribadi. Fragmen ini bukti nyata, dan dalam film Habibie & Ainun walaupun dipersempit dengan durasi yang hanya kurang lebih 2 jam saja, masih bisa diperlihatkan betapa kotor dan culasnya negara ini. Faozan memanfaatkan momen ini dengan menyisipkan beberapa rekaman asli pemerintahan pada zaman itu. Mengubah perkotaan menjadi sangat kuno, sayangnya pada kesempatan adegan di Jerman, kepalsuan sangat jelas terlihat. Andaikata adegan salju itu tersebut tidak dipaksakan ada, pasti kenyamanan menonton akan lebih sempurna.
Sama halnya dengan dipaksakannya kemunculan para sponsor di sepanjang film. Hadirnya bedak merek terkenal, cokelat yang dimodeli Nikita Willy, dan lain sebagainya itu memang sangat merusak citra film ini secara keseluruhan. Bagaimana film yang sedari awal sudah dibuat semanis dan senyata mungkin harus dicoreng dengan para 'bintang tamu' tadi. Sangat disayangkan. MD Pictures selaku yang membiayai film ini sepatutnya tidak berlaku egois hanya karena kepentingan uang semata. Sebuah karya yang dicampur tangani oleh materi memang akan melemahkan nilai karya tersebut. Contohnya film ini. Musik yang mengalun indah dibekali akting yang luar biasa dari Reza Rahardian di film ini berujung hanya lucu-lucuan belaka.
Yah, Reza Rahardian berhasil menempatkan dirinya di posisi yang serba beruntung. Dipilihnya Reza sebagai perwakilan layar Pak Habibie bukan tanpa alasan dan bukan tanpa hasil. Mengingat ia adalah satu aktor muda berbakat yang sudah memainkan banyak peran beda, kehadirannya di sini memang sangat dibutuhkan. Gesture dan body language yang sempurna serta cara berbicara yang sangat Habibie sekali terbukti menenggelamkan penonton untuk merasakan dawai film ini. Tapi, ketika harus berbagi frame dengan Bunga Citra Lestari selaku pemeran Ibu Ainun, kolaborasi mereka terasa sangat tidak kena. Bunga masih ingin terlihat cantik dan egois walaupun dalam keadaan tua renta. Make up saat Ibu Ainun pada masa pesakitan tidak terlihat dengan jelas. Tidak ada dari wajah Bunga yang membuat saya percaya jika ia sedang berakting. Ibu Ainun di tangan Bunga seperti satu masa satu umur dengan anak-anaknya.
Kendati banyak minus yang tersebar dari film ini, bukan berarti sisi positifnya menjadi hilang tak berarti. Film ini masih memiliki pesan moral yang tinggi. Memang sangat disayangkan, jika poin kritis tadi bisa diminimalisir dengan bijak, pasti Habibie & Ainun akan terlihat lebih kokoh tanpa memandang bulu jika ini film buatan sutradara minim pengalaman. Dan satu hal lagi, Pak Habibie telah menerbangkan negara ini ke kancah internasional dalam menelurkan teknologi yang jarang ditemui oleh anak bangsa untuk ukuran zaman tersebut, dan zaman sekarang. Seperti hanya ia menerbangkan pesawat terbang rangkaiannya yang menjadi tolak ukur sebuah kecerdasan hingga sekarang. Happy watching!
by: Aditya Saputra
Sabtu, 22 September 2012
Test Pack (2012)
Jumat, 24 Agustus 2012
Perahu Kertas (2012)
Jumat, 11 Februari 2011
The Photograph ( 2007)

Cast : Lim Kay Tong, Shanty, Lukman Sardi, Indi Barends
Rate : 4/5
Sayang sekali, pakar-pakar sinema Indonesia telah kelewatan satu film untuk didengungkan lebih luas ke khalayak ramai. Mungkin karena temanya yang terlalu berat untuk dicerna atau tampilannya yang buram seburam kenyataan pahit sang pelakon utama. Sama halnya produk Shanty lain yang juga diacuhkan pembeli tiket, Kala. Keduanya dicibir untuk masalah laba, tapi keduanya memegang sertifikat terpuji. Kembali ke The Photograph, salah satu contoh film ber-budget minim namun bisa dimaksimalisir dengan sangat baik. Sineas gemilang Nan Achnas berhasil memberikan sajian sejuta makna untuk penonton lewat penuturan singkat dan sederhana akan betapa sulitnya membuang bayang-bayang masa lalu dan melewati masa depan.
Johan Tan, lelaki tua yang mengidap kesakitan mental akan kukungan masa silam. Dia seorang fotografer yang mengais rejeki lewat itu. Suatu ketika, rumahnya kedatangan seorang tuna wisma yang hendak menyewa sebuah kamar, Sita. Sita mempunyai tanggung jawab menghidupi anaknya yang telah lama ia tinggal serta berniat mengobati penyakit neneknya. Kedua tokoh kita memiliki persamaan, mereka depresi. Sita akhirnya mencoba membantu Pak Johan untuk bebas dari penjara masa lalu. Satu hal, Pak Johan membui kenangan pahitnya lewat serangkaian foto. Fisik yang akan mengupas kembali memori kelamnya.
Gerak gambar The Photograph memang hanya seputar Johan dan Sita dalam memperjuangakan hidup. Kendati begitu, Nan Achnas memanipulasinya lewat keindahan sinematografi. Film ini sangat terbantu lewat mobilitas kamera yang walaupun monoton tapi sangat membentuk karakter tokoh maupun situasi. Warna-warna buram baik untuk setting rumah Johan maupun terang pekat di setting luar seakan mewakili apa yang mereka alami. Acungan jempol juga saya salutkan kepada direksi seni yang membuat The Photograph semakin nyeni dan memiliki jiwa untuk setiap adegannya.
Pemeran Pak Johan adalah seorang WNA. Achnas mengambil resiko dan itu semua terbayar lunas. Tong mencurahkan seluruh metabolisme urat aktingnya dengan bermain dengan sangat menakjubkan. Perubahan karakter sebelum dan sesudah ia mengalami krisis kepercayaan diri tersorot dengan sangat baik. Mungkin sulit membayangkan jika peran emosional ini diperankan leh aktor lain, sekalipun ia seorang Deddy Mizwar. Begitu pula dengan apa yang diperlihatkan oleh Shanty. Setelah mulai eksis di Berbagi Suami dan Kala, aktingnya di sini kian matang. Semakin menunjukkan taring dan taji tajamnya. Lukman Sardi pas porsi, dan Indy Barends membuat kejutan dengan sandiwara sarkastiknya. Namun, penampilan sekian detik dari Nicholas Saputra lah yang akan membuat penonton tercengang. Good job, Nico!
Begitulah! The Photograph memang sedikit banyak menjelaskan betapa menderitanya jika kita masih meratapi masa lalu, terlebih jika masa lalu itu kelamnya luar biasa. Kaki tangan seakan dirantai dan sulit melangkah untuk menggapai era baru. Lewat sosok Tuan Johan kita belajar itu semua. Sebuah persembahan yang membanggakan dari seorang sutradara lokal yang berani keluar jalur mainstream. Highly recommended. Happy watching!
by: Aditya Saputra
Kamis, 14 Oktober 2010
Madame X (2010)
Director : Lucky KuswandiCast : Aming, Joko Anwar, Shanty, Marcell, Ria Irawan, Robby Tumewu, Sarah Sechan, Vincent Rompies, Fitri Tropica, Titi DJ
Rate : 3/5
Madame X terealisasi akibat celetukan Aming kepada Nia Dinata yang menginginkan ada sesosok superhero yang keluar dari pattern-nya namun juga segar dalam karakteristik. Aming menginginkan adanya super-transgender, dan diiyakan oleh Nia. Jadilah, Madame X hadir dengan tampilan konyol namun juga menyentil kehidupan sosial bangsa kita. Sayangnya, nama Madame X sendiri tidak terlalu orisinil karena ada nama serupa yang beredar di luaran sana.
Ah, ceritanya klise, bahkan kita bisa tau arus plot film ini akan ke mana. Adam, bencong salon, yang ditakdirkan membela kaum lemah atas suatu perkara dengan komplotan ormas yang merasa risih dengan keberadaan para waria. See, format superhero melawan villain yang tentu saja akan dimenangkan oleh pihak yang benar.
Mengambil gaya Hollywood, pahlawan di sini juga mengalami tekanan batin, perombakan watak, pertemuan dengan kaki kanan, bersinggungan dengan kisah cinta yang rumit. Yang menarik adalah, Aming yang saya nilai berhasil menghibur namun juga berhasil menimbulkan kesan annoyance yang berlebih. Sukses karena dia mewakili sosok pria gemulai dengan perkasa, hancur karena kekonyolannya dalam berbusana yang sangat mengganggu. Tapi begitu, peran ini memang untuk Aming seorang. Melainkan untuk para pendukung juga bermain cukup. Mungkin hanya Vincent Rompies yang terbilang lumayan, dan Joko Anwar yang sangat berani bermain slenge'an.
Humor di film ini kebanyakan bersifat garing tidak renyah, kendati ada juga yang berhasil mengundang ketawa. Mungkin penulis naskahnya kurang merevisi skripnya dan sutradaranya menyuruh aktornya terlalu berimprovisasi. Walaupun banyak kedodorannya, sang sutradara mampu memberikan ruang khusus untuk menampilkan flashback sang tokoh utama dengan emosionil. Pun penggunaan efek komputer yang bisa dikatakan bagus untuk ukuran film Indonesia. Kemudian adalah penerapan layaknya buku komik yang menimbulkan efek bunyi dalam adegan action untuk klimaks film ini. Lagi-lagi disayangkan jika mengingat teknik tersebut akan lebih bagus jika dipakai dari awal film.
Yah, ini handmade movie yang patut kita apresiasikan karena keberanian sineasnya untuk keluar jalur perfilman lokal sekaligus menampilkan tema unik. Jangan pula disamakan dengan produk luar, akan seperti hamburger dan roti isi kacang tanah. Karena saya memiliki standar tersendiri untu menilai produk dagri. Sekalipun film ini bergumpal hal minum dalam segi cerita maupun teknis, yang maksi adalah kepuasan tersendiri jika masuk bioskop tidak hanya menemui setan narsis di sana-sini. Happy watching!
Minggu, 12 September 2010
Emak Ingin Naik Haji (2009)
Director : Aditya Gumay
Cast : Aty Cancer, Reza Rahardian, Didi Petet, Niniek L. Kariem
Rate : 4,5/5
Tahun 2009 kemarin ada sebuah film under-exposed yang kalah saingan dengan film-film lokal tak jelas. Film yang mengetengahkan perjuangan keihklasan serta kesabaran manusia ini harus rela mengalah rupiah dengan horor seks dan komedi abal-abal yang tak kunjung dimatikan produksinya. Emak Ingin Naik Haji judulnya. Emak dimaksudkan sebagai proyek film drama berbalut religi. Bukan film religi berselimutkan over-drama. Maka, hasil yang disodorkan jauh lebih kaya tanpa ada kesan pemaksaan dalam unsur agamis. Menyibak premisnya yang biasa, Anda mungkin tidak akan percaya jika film ini berhasil membuat saya tidak berhenti berlinangkan air mata, terutama pada adegan menuju ending.
Aditya Gumay, pengurus sanggar Lenong Bocah dan pemimpin sanggar Ananda, seperti telah sangat berpengalaman dalam menyantroni film ini. Bahkan mengalahi kualitas dari sineas lokal yang telah berpuluh-puluh film diproduksi. Untuk filmnya ini, Aditya mengajak penonton untuk belajar bagaimana sikap kita jika ada di posisi para karakter. Tanpa ada kesan penguliahan dini. Ditambah juga bagaimana Aditya memfokuskan dunia kehajian dengan berbagai aspek dan subjek. Di sini jelas kita sadar dan tau jika gelar haji bukan semata tuntutan Tuhan, tetapi juga dengan maksud lain. Gengsi, tujuan reklame promosi kampanye, serta kesombongan belaka. Lewat karakter Emaklah, arti haji dipaparkan dengan benar dan penuh kebijkasanaan. Bagaimana proses Emak menggapai cita-citanya tidak hanya patut diikuti tetapi juga dipelajari setiap detail-nya. Niscaya, guliran itulah yang akan membuat kelopak mata Anda basah dengan sendirinya.
Sinematografi film ini memang tidak indah, tapi tamparan ceritanya sendiri sudah cukup membantu kameramen dalam menangkap gambar lusuh sebuah perkampungan. Musiknya pun boleh dikatakan biasa, dan sekali lagi penceritaan yang kuatlah menutupi segala kekurangan film ini. Betapapun itu, puncak kreasi saya sematkan kepada Aty Cancer dan Reza Rahardian yang bermain dengan sangat mantap. Hubungan ibu-anak yang sangat klop menepiskan skeptis buruk saya sebelumnya. Apa yang dimainkan mereka adalah sebuah contoh bagaimana aktor seharusnya menjiwai peran dengan sungguh-sungguh. Penyelamatan kedua untuk film ini. Para pendukungnya tidak ada masalah, semua bermain cukup apik, terutama Henidar Amroe yang walau sekilas tapi mempu memberi hawa panas.
Sayang sekali, pada satu kesempatan saya nilai Aditya melakukan keteledoran dan men-shoot dan mentransfernya ke pita seluloid. Luka tangan kanan saat ia melukis ternyata ditranslasikan sehingga di adegan berikutnya yang sakit malah tangan kiri. Adegan miss tadi untunglah hanya muncul beberapa detik yang tidak begitu mengganggu. Bahkan adegan tadi beriringan dengan curahan hati Emak yang sangat memorable.
Emak dalam satu sisi bisa dijadikan objek pembelajaran tentang kepasrahan umat kepada pencipta-Nya. Kita memang sepatutnya berdoa dan berusaha, tapi sang Khalik lah penentu tujuan perjuangan kita. Emak, yang luar biasa kepinginnya menapakkan kaki di Mekkah, harus rela mengikuti jalan Tuhan dalam mencapainya, sekalipun pahit geti harus diemutnya. Di satu sisi lagi, Emak bisa jadi wadah baru bagi sutradara yang lain agar berani membuat film non-komersil yang patut diperhitungkan. Semoga Aditya Gumay di karya berikutnya mampu mencapai kualitas seperti film ini. Dan semoga ada film lain yang memposisikan Reza dan Aty dalam satu frame. Akting mereka membuat saya rindu akan film dengan tingkat emosional tinggi dari para pemainnya.
Rabu, 08 September 2010
Sang Pencerah (2010)
Director : Hanung BramantyoCast : Lukman Sardi, Zaskia A. Mecca, Slamet Rahardjo, Suiwo Tejo, Ikranegara, Giring
Rate : 4/5
Pertama kali saya akan memulai dengan pertanyaan : mengapa Hanung Bramantyo mengangkat seorang K.H. Ahmad Dahlan untuk biopiknya kali ini? Jika mau berasumsi dan mengira-ngira, ada banyak tokoh perjuangan Indonesia yang lebih hebat bahkan sangat berpengaruh bagi negara. Mengapa harus Ahmad Dahlan? Mungkin Hanung ingin lebih membuka perasaan umat muslim akan kebenaran sebuah agama. Dan mungkin Hanung juga ingin menyindir negara kita yang Islam-nya mulai tercerai-berai. Apapun motif Hanung, Ahmad Dahlan saya rasa memang sepatutnya diumbar oleh sineas untuk mengetahui sepak terjang pembaharuan Islam di kalangan umat Rosul, khususnya di Indonesia.
Ahmad Dahlan yang berulang tahun setiap tanggal 1 Agustus adalah pendiri organisasi Muhammadyah. Sebelum terbentuk, Ahmad Dahlan beserta kerabatnya mendapat tentangan dan fitnahan yang menuduh jika kehadiran Muhammadyah adalah hanya sebuah propaganda umat kafir untuk menghantam kaum Islam. Dengan segala kegigihan dan seluruh idealisme serta kepercayaannya kepada si Empu-nya dunia, Ahmad Dahlan tetap teguh pendirian dan membawa bendera keberhasilan sampai pemerintah memberikan gelar Tokoh Nasional atas empat pokok penting : menyadari sebagai bangsa terjajah, memberi kemurnian agama Islam, mempelopori amal usaha sosial dan pendidikan, serta memberikan jalan untuk para wanita dalam mengenyam ilmu pengetahuan.
Untuk cerita di filmnya sendiri memang sama dengan apa yang telah terjadi di jamannya. Hanung bekerja ekstra keras untuk menuntaskan segala pe-er-nya atas genre biopik. Mulai dari art direction hingga set dekorasi yang hampir sesuai umur, tata make-up yang tidak berlebihan, kostum yang alami serta efek yang pas porsi. Itulah mengapa saya katakan Sang Pencerah berhasil dari segi keotentikan masa. Atmosfer tahun 1860-an memang dijaga para kru semaksimal mungkin. Dan, ponten 100 untuk DoP film ini yang berhasil menampilkan lukisan-lukisan indah yang bergerak sepanjang film. Apa jadinya jika sebuah biopik lampau tanpa tata kamera yang lihai. Untuk musiknya sendiri pun tidak asal dentuman. Komposernya jelas tau desibel apa yang mesti dibunyikan untuk setiap adegan.
Hanung memang berjasa besar untuk feature yang satu ini, tapi jika tanpa bantuan dari pekerja lain juga mungkin akan sia-sia. Hal lain yang patut dijunjung tinggi adalah kutipan-kutipan dialog berkualitas dari penulis skripnya. Apa yang terucap dari para aktornya seperti penggalan-penggalan petuah sarat makna yang bisa ditelisik per kalimat. Oleh sebab itu, aktor amatiran pun seperti hebat atas bantuan naskahnya.
Berbicara soal para pemain, casting director-nya benar-benar brilian. Pemilihan Lukman Sardi akhirnya tidak mubasir. Lukman merasuki ruh Darwisy ke segenap raga batinnya. Walaupun agak beda dari raut muka, tapi penyampaiannya jelas tertuju sekali. Begitu pula dengan para penggiring aktornya. Tidak ada yang mesti dibenahi. Semua menutupi satu sama lain. Kolaborasi yang menyenangkan dari sebuah film Indonesia yang sedang dilanda krisis mutualisme.
Sang Pencerah memang banyak mengajarkan kita betapa pentingnya berkompromi dan betapa indahnya kebersamaan tanpa perselisihan. Tokoh Ahmad Dahlan yang telah membawa nafas baru akan Islam yang ortodoks pada waktu itu disampaikan dengan sangat fokus. Sang Pencerah juga telah membeberkan serangkaian kejadian lampau yang mesti menjadi momen historikal bagi kawula muda jaman sekarang. Tidak ada salahnya mencontoh semangat revolusioner seorang Kiai ini. Penghujung paragraf, film ini sangat saya rekomendasikan. Apalagi mengingat momentum Hari Raya Besar umat Islam, Hari Raya Idul Fitri 1431 H.
Rabu, 01 September 2010
Fiksi. (2008)
Director : Mouly Surya
Cast : Ladya Cheryll, Donny Alamsyah, Kinaryosih, Aty Cancer
Rate : 4/5
Memperhatikan film Indonesia, berarti mau tak mau saya harus jua mengkritik betapa kemonotonannya sineas lokal kita dalam berkarya. Jelangkung yang sukses luar biasa waktu itu ternyata menjadi pintu gerbang dan mata rantai bagaimana perkembangan film
Si wanita yang terpenjara dalam ketentraman rumahnya menemukan cara baru bagaimana ia mesti menghadiahi kepenatannya dari seorang pembersih kolam renang di rumahnya. Menguntit sang lelaki itu hingga ke rusun tempat tinggalnya, si wanita tambah menikmati lebih jauh ke arena permainan absurd-nya. Apa yang telah ia kelola di otaknya, akhirnya ia tumpah ruahkan lewat lingkungan barunya itu. Berbekal kecantikan serta keluguan luar biasa,
Mouly Surya sebagai dedengkotnya harus diberi penghargaan tertinggi berkat kerja kerasnya di film ini. Mouly yang mencoba membangkitkan perfilman Indonesia, dan ternyata ia mampu, memang benar-benar telah menyokong ide klasiknya lewat tampilan yang kelam. Fiksi memang mengambil jalur kekejaman dari seorang wanita, tapi Mouly tidak lupa memasukan unsur feminisme yang kekal dari sosok artisnya. Ya, Ladya Cheryll sebagai psikopat tuntas mempraktekan seni aktingnya dengan sangat gemilang. Penransferan sifat sarkastik nan psikotistiknya jelas terpampang dari gesture dan air muka yang ia perlihatkan. Menyenangkan melihat sosok aktris yang bisa seprofesional ini. Tidak ada kecanggungan, tidak ada keegoisan, tidak ada keterpakasaan berakting. Dan Ladya melebur dengan sempurna.
Kembali ke Mouly, beliau tidak lupa menyertai beberapa konflik pelik yang mengitari daerah rumah susun tersebut. Guna untuk menambah cerita bahkan sanggup untuk menjadi subplot yang bagus, dan tidak ada kesan ‘harus ada’. Semua berjalan searus dengan narasi yang diperdengarkan lewat mulut aktrisnya. Mouly memang tidak main-main dalam menyentil norma dan adat kesopanan bagi kaum pinggiran
Spot-spot daerah rusun ditelusuri dengan apik lewat arahan kamera. Dilengkapi pula dengan kemerduan suara musiknya, lengkaplah Fiksi menjadi suatu produk yang harus dikonsumsi bagi penonton yang rindu akan film
Kesimpulannya, Fiksi. boleh saja bersifat fiksional dan tak lumrah dalam kehidupan kebanyakan. Tapi, Fiksi. hadir sekaligus menyajikan sebuah layar yang mampu mendefinisikan tolak ukur manusia dalam menentukan sikap.
3 Doa 3 Cinta (2008)

Director : Nurman Hakim
Kamis, 17 Juni 2010
Red Cobex (2010)
Director : UpiCast : Tika Panggabean, Indy Barends, Aida Nurmala, Sarah Sechan, Cut Mini, Lukman Sardi, Revalina S. Temat, Niniek L. Karim, Shanty, Irfan Hakim, Edo Kondologit
Rate : 2,5/5
Me-review sebuah film Indonesia kadang kala bikin jengkel. Di satu sisi, jika film tersebut buruk, me-review-nya menjadi sangat membosankan dan waste my time. Tapi di sisi lain, saya juga harus menghormati dan menghargai sebuah karya anak nergeri sendiri. Jika bukan orang-orang pemuja film, lantas siapa lagi yang akan memajukan idustri perfilman Indonesia? Tapi saya tidak sepicik itu. Dan beruntunglah Red Cobex muncul di kala saya siap sedia di beberapa hal. Saya meonton Red Cobex ini setelah jantung saya dibuat melemah setelah Toy Story 3. Jadi, sebelumnya saya tidak berekspektasi yang gimana-gimana. Dengan begitu, sekalipun filmnya akan jatuh gagal tetap saya akan menerimanya dengan tangan terbuka. Itu tadi, karena saya tidak berpikiran film ini akan hebat. Titik.
Dengan amunisi para wanita sadis plus satu anak muda, geng Red Cobex menjadi yang terkuat di masyarakat. Mereka adalah Mama Ana dan anaknya Yopihe yang orang Ambon, Tante Lisa domisili Manado, Yu Halimah (Tegal), Bok Bariah (Madura) dan Cik Memey (keturunan Cina). Mereka ini sebenarnya berniat mulia. Memberantas kemaksiatan dan kejahatan yang sedang merajalela di lingkunan sosialitas sekitar. Sayangnya, kerja keras mereka ini diartikan lain oleh warga sekitar yang menganggap mereka super duper menakutkan dan hakim di tempat.
Setelah si Yophie bebas dan hidup menumpang di rumah temannya yang sedang ada intrik dengan sang istri, hidup Yophie semakin semerawut. Untunglah ia segera bertemu dengan seorang wanita dan akhirnya mendapatkan pekerjaan. Sebenarnya intrik film ini sudah ada sejak filmnya mulai. Sayangnya itu ditampilkan secara bertele-tele dan seakan dipaksakan. Banyak adegan yang juga terasa hambar dan rapuh dalam segi dialog. Joke yang dilontarkan kadang kurang mengena, hanya pas bagian-bagian akhir yang cukup menggigit. Upi seakan kehilangan arah dalam menyiasati kedangkalan skrip. Hingga kedodoran di sana sini semakin tak terelakkan.
Untuk urusan pemain, para anggota Red Cobex sukses menerjemahkan dengan cukup baik. Terlebih dari seorang tika Panggabean yang benar-benar berubah 180 derajat menjadi seorang wanita perkasa. Tapi yang menjadi scene-stealer adalah Shanty. Kemunculan Shanty di setiap adegannya sangat mengocok perut dan tidak terasa berlebihan. Sepertinya Shanty menemukan lahan baru jika kelak jalur musik tidak mendukungnya lagi. Permainan aktingnya semakin terasah dari film ke film. Indonesia telah menemukan permata terpendamnya di jagad perfilman dalam negeri. Lukman Sardi, Revalina S. Temat, Irfan Hakim dan Edo Kondologit bermain sangat sederhana.
Satu hal yang bisa dipetik dari film ini adalah ditekankannya semboyan Indonesia : Bhinneka Tunggal Ika. Seperti yang kita tahu, personil Red Cobex berasal dari berbagai suku tapi mereka saling mengerti bahasa satu sama lain. Sehingga mencerminkan bahwa perbedaan itu unik dan tidak ada apa-apanya jika kita tetap menjaga keharmonisan satu sama lain. Untunglah pesan itu sangat mengental di film hampir gagal ini. Selamat menonton!




