Director : Tim Burton
Cast : Mia Wasikowska, Johnny Depp, Helena Bonham Carter, Anna Hathaway
Voice-over : Michael Sheen, Alan Rickman, Stephen Fry, Imelda Stantoun, Christopher Lee
Rate : 3,5/5
Duet maut Tim Burton-Johnny Depp memang telah menjadi sebuah rangkaian ajaib yang mampu mensukseskan film-film kolaborasi mereka. Bahkan tak jarang memberikan sumbangsih di ajang-ajang perfilman dunia. Meski film mereka berdua bergaya narsis serta tone yang berhawa unik serta 'aneh', tapi itu semua masih mampu untuk mengangkat martabat keduanya menjadi sineas dan aktor yang jempolan. Sodoran pujian juga tak lepas dari perjalanan persahabatan mereka. Mulai dari Edward Scissorshand yang ajaib bin aneh, warna-warni Charlie and the Chocolate Factory serta yang paling mencekam semisal Sweeney Tood. Gaya nyentrik keduanya secara tidak langsung berjasa dalam menghidupkan serentetan peran-peran di setiap film mereka. Seperti sudah bersenyawa, Burton kembali mengajak Depp dalam menghidupkan versi individual Alice in Wonderland.
Alice menganggap dirinya mengalami mimpi tak biasa yang menghinggapi setiap tidurnya, ditambah lagi dengan ketegasan pribadi yang datang dari ayahnya. Di penghujung pertunangannya dengan saudagar kaya-raya, Alice malah memilih opsi lain dengan menguntit seekor kelinci yang terjerembab ke dalam dunia linear bawah tanah. Setiba di sana, Alice malah mendapatkan wahana yang jauh lebih unik. Beragam jenis makhluk ajaib tersebar di sepanjang wonderland. Tak disangka, ternyata Alice adalah the chosen one yang harus menyelamatkan kaum wonderland dari serangan si jahat Red Queen. Dengan bantuan White Queen serta Mad Hatter yang memang benar-benar sableng, Alice mencoba berpedang ria hingga klimaks berkata lain.
Potensi Alice in Wonderland terpecah menjadi dua dimensi. Satu sisi, film ini menyajikan sesuatu yang khas ke-Burton-annya yang menyebabkan para fans akan sorak-bergembira dengan keadaan dunia imajiner ini. Tetapi di sisi lain, tampilan yang gelap-menakutkan serta taburan naskah-yang-tak-mampu-menuju-berkualitas, menyebabkan Alice in Wonderland jatuh bebas menjadi film bagus saja. Tapi di mata saya, Burton telah sukses membawa dunia lain dari sudut pandang Alice yang mencerminkan kekhasannya tadi. Alice in Wonderland jelas bertaji taring dan memiliki unsur hiburan yang berlipat-lipat. Sisi mengegangkan dan ketertarikan akan para tokohnya menjadi poin plus lain yang patut diapresiasikan. Hingga mendekati ending yang terasa sekenanya, tapi film ini telah menyuguhkan hal spesial lain sebelumnya.Mia Wasikowska sebagai amatir di film ini ternyata sanggup bermain enjoy. Ketidakcanggungannya terlihat dari gestur akting yang luwes. Johnny Depp main seadanya, maksudnya perannya di sini tak ada bedanya dengan tipe film Burton serupa. Yang cukup menarik perhatian adalah permainan 'gila' dari Anna Hathaway dan Helena Bonham Carter. Anna yang meberikan aksen lain di bidangnya memberikan tampilan White Queen yang unik dan lucu. Sedangkan Helena, dia sangat mengagumkan. Setiap kemunculan Red Queen di layar terasa menyegarkan berkat akting luar biasanya. Tak salah peran ini jatuh kepadanya, di luar relationship-nya sebagai istri si sineas. Sinematografi film ini sangat menyegarkan mata, Dariusz Wolski telah bekerja keras mengarahkan kamera dengan sewajarnya. Dibantu juga oleh Danny Elfman yang mengkomposisikan musiknya menjadi padupadan di telinga.
Sebungkus paket hiburan, Alice in Wonderland memang ditujukan ke arah demikian. Tapi untuk menjadi sebuah masterpiece, lobang yang ada masih harus ditutupi. Terlepas dengan banjirnya uang yang didapat, Burton memepersembahkan sebuah hiburan yang pure berisi keasikan berdongeng dengan sisipan joke ringan bagi penggemarnya.Kegoyahannya di feature ini semoga terobati di karya mereka (Burton-Johnny) selanjutnya.
Director : George Miller
Voice-over : Elijah Wood, Brittany Murphy, Nicole Kidman, Hugh Jackman, Robin Williams, Hugo Weaving
Rate : 3,5/5
Happy Feet adalah sebuah film edaran 2006 yang menceritakan tentang seekor anak penguin yang ternyata memiliki keunikan dibanding yang lain. Mumble, ternyata tak ahli bernyayi (seperti penguin yang lain) melainkan mampu berdansa ria yang telah muncul seketika setelah ia menetas dari telurnya. Keanehan ini ternyata memberikan dampak 'aneh' oleh tetua di daerahnya dan membuat kecemasan tiada tara di benak kedua orang tuanya. Kesukaannya akhirnya harus dikubur sementara ketika ia diharuskan untuk membuktikan perkataannya tentang sesuatu asing yang ia temukan di bongkahan es dalam dinginnya laut. Perjalanan tegang-mengasikkan itu berujung pada suatu ketakutan masyarakat penguin yang berlanjut dengan sikap apatis dari kabinet dunia.
Setelah Pixar memonopoli Oscar dengan serbuan film animasinya, ternyata masih ada karya dari belahan dunia lain yang mampu unjuk gigi dengan tema klise tapi membumi ini. Sosok binatang spesialis benua dingin ini memang acap kali memberikan keuntungan tersendiri jika difilmkan. Lihat betapa berdigdayanya March of the Penguins di perolehan box office serta setumpuk pujian positif yang tertuju kepada film ini. Hingga hadir Surf's Up yang semi-doku dan segerombolan penguin dari kandang Madagascar. Di Happy Feet sendiri, penonjolan burung yang tidak bisa terbang ini memang sangat pas untuk mengumbar isu dunia betapa pentingnya menjaga keanekaragaman fauna. Karakteristik yang beragam memang diproses kreatornya dengan begitu down-to-earth. Bagaimana kita menghadapi keadaan yang tidak seinmbang di lingkungan sekitar dan upaya penyelematan dunia dalam bentuk sekecil apapun.
Happy Feet diuntungkan dengan berisinya beberapa lagu yang enak didengar bahkan sanggup memberikan porsi lebih kepada setiap adegan-adegannya. Ditambah semua jajaran pengisi suaranya yang menyumbang langsung untuk bersenandung ria sepanjang film. Brittany Murphy, Nicole Kidman, Hugh Jackman, Hugo Weaving serta si lucu Robin Williams sanggup menghidupkan tiap karakternya tanpa cela.
Hal lain yang mungkin perlu dilihat adalah penggunaan sistem campuran live-action di film ini. Sistem itu bukan semacam Looney Tunes atau Scooby Doo misalnya, tapi lebih pemasukan unsur manusia asli yang berbeda frame dengan si animasi yang bersangkutan. Cara itu saya nilai cukup mempertegas tujuan utama film ini yang mana dengan itu penyampaian pesannya mampu tertuju langsung kepada penonton. Sifat rakus dan serba merasa kekurangan yang diperlihatakan secara gamblang memang mencerminkan begitulah sikap asli manusia. Dan, melalui Happy Feet, George Miller sebagai si pembesut lantaslah bersenang hati. Dunia dongeng layaknya di Babe serta dramatisasi berlebihan seperti di Lorenzo's Oil memang diterjemahkan dengan sangat baik.
Sayangnya, kesempurnaan tadi harus dibolongi oleh kesemrawutan perjalan Mumble yang terkesan dipaksakan dramatis. Pertemuannya dengan para penguin sombreno meski menarik dan mengundang tawa malah memperlihatkan ketidakseriusan di segi naskah. Apalagi pada saat melawan duo paus yang condong menjadi membosankan.
Di luar sisi positif-negatif yang terkandung di Happy Feet, piala Oscar sudah cukup memberikan bukti jika film ini adalah menu wajib bagi penyuka film berkualitas dan penggemar hewan ovipar ini pada khususnya. Kendati serupa-tak-sama dengan animasi lain, setidaknya Happy Feet memperlihatkan gambaran lain betapa makhluk hidup itu juga memiliki hak asasi yang sama untuk melangsungkan kehidupan mereka. Satu lagi, Happy Feet ternyata bisa mencoreng gemerlap body Cars di panggung Oscar 2007 kemarin.
Director : Sylvester Stallone
Cast : Sly dan teman-teman berbodi serupa
Rate : 2/5 + masing-masing barbel 10 kg
Dahulu kala, anak emas Hollywood, Sylvester Stallone lahir kala ia menorehkan tinta naskahnya menjadi sebuah film bintang Oscar. Rocky seakan menjadi sebuah pahlawan baru bagi Amerika, dan sejak itu pula nama Sly melambung ke angkasa dan dibanjiri orderan film oleh sineas lokal. Tapi sialnya, kepopuleritasan tidak menjadi jaminan sebuah film akan menjadi bermutu. Terbukti Stallone sering kali memakan buah simalakama dengan meneken kontrak untuk film kacangan. Untunglah nasib Sly masih bisa terselamatkan dengan kehadiran Rambo, pahlawan era baru untuk bangsanya. Dan sekarang, seperti ingin bernostalgia serta memamerkan kembali ototnya, Sly menetaskan produk andalannya di tahun 2010 ini, The Expendables.
6 pejantan tangguh yang menamakan diri mereka The Expendables adalah sebuah gerombolan kelas berat yang dikhususkan untuk menumpas kejahatan dengan cara baku hantam. Suatu ketika, mereka diberi pekerjaan untuk menghabisi oknum di sebuah pulau. Dengan bantuan seorang gadis luar biasa seksi (bahkan di mata saya sedikit seperti Megan Fox) dan penyamaran yang gak-asik-sama-sekali, The Expendables menyingsingkan lengan baju dan bertaruh nyawa demi kebaikan (dan upah kerja). Kondisi dalam The Expendables juga tidak lurus-lurus saja, karena ada seorang yang ternyata berlainan misi ditambah tukang tato doyan perempuan yang cukup sangar dengan perut gembulnya.
Film ini telah memuntahkan semua aspek yang diidamkan untuk menjadi film dengan target penonton lelaki dewasa. Jagoan-jagoan hobi fitnes yang tangguh, action yang meledak-ledak, cerita perusak nalar serta ada sisipan wanita cantik dan seksi. Hal tadi hanya sekedar klise yang tak tuntas dipertanggungjawabkan Sly yang membuat The Expendables klemar-klemer di mata saya.
Cerita. Cobaan terberat dalam mencerna film ini adalah dari segi cerita dan penggodokan naskahnya. Entah apa yang sedang Sly pikirkan dengan banyolan dialog yang tidak jelas sebab akibatnya. Malah lagi cerita tadi diperparah dengan pengeditan adegan yang membuat otak lelah. Layaknya bajing, adegan The Expendables juga melompat-lompat sekena hatinya. Kultur B-movie yang menjustifikasikan jika film ini memang di sini stratanya, malah menyebabkan kastarisasi tadi menjadi sedikit simpang siur. Stallone melupakan hal klimaks untuk sebuah film pemicu adrenalin dengan menghadirkan spot-spot adegan pengguncang darah dan jantung. Adu jotosnya pun tidak mengena di hati kendati Jet Li sudah memperagakan martial art-nya dengan cukup luwes. Sangat disayangkan, jika harus menerima kenyataan bahwa pengisi film ini adalah teman-teman seangkatan yang memang lebih menonjolkan otot daripada otak.
Efek. Mungkin hal ini tidak terlalu dititikberatkan dengan logika penonton, tapi apa yang disajikan lewat The Expendables seperti menyaksikan sebuah gimi konsol yang dikomputerisasi ala kadarnya. Tidak ada seru-serunya sama sekali, bahkan condong ke membosankan. Setali tiga uang dengan joke-joke basi yang keluar dari rongga mulut para aktor. Coba kalian semua belajar dulu sama Chris Rock, atau mungkin masuk ke sanggar Srimulat? Yap, mereka memang bukan aktor komedi, tapi tidak ada salahnya bukan belajar dialek lucu untuk memancing tawa penonton? Tapi untunglah, di tengah kegersangan parade akting, Eric Roberts hadir bak oase di saat genting. Perannya sebagai Monroe jelas tertangkap di rangka tulang mukanya.
Tong kosong nyaring bunyinya, idioma yang sangat cocok untuk dicapkan kepada The Expendables. Salah satu film musim panas yang sangat mengecewakan. Walaupun sudah ada dua nominator Oscar, ternyata hal itu tidak membantu apa-apa. Khusus untuk Slyvester Stallone, sudah saatnya Anda memberikan tongkat estafet masa keemasan kepada yang lebih pantas. Dan, silahkan Anda tidur saja di ranjang untuk beristirahat dan meregangkan otot yang sudah seperti kawat itu.
Director : Pete Doctor
Voice-over : Edward Asner, Christopher Plummer, Jordan Nagai
Rate : 4/5
Lagi-lagi Pixar. Studio yang selalu menghasilkan dongeng bermutu dengan bantuan efek komputer kelas canggih. Tahun lalu, Pixar kembali menyapa penggemarnya dengan perwakilan film animasi bertajuk Up. Diharapkan dapat menyamai kualitas produk Pixar sebelumnya, yang ada malah Up menjadi primadona di ajang Oscar dengan mengantongi 2 piala serta menerima tongkat estafet dari Beauty and the Beast sebagai animasi yang berhasil masuk di kategori Best Picture.
Musik yang mengalun di pembuka film telah menegaskan jika film ini akan bermuara ke drama yang lebih dalam. Tanpa mengesampingkan sisi komersial, materi yang tersaji sudah cukup ampuh untuk menarik minat penonton seluruh umur. Cakupan yang universal memang sudah kadung pas hingga mencapai adegan klimaks sekalipun. Satu sisi, anak-anak akan menyukai film ini karena tutur petualangannya serta berbagai karakter unik di sepanjang feature. Dan di sisi lain, para penonton berumur (baca : remaja-dewasa) akan terbuai dengan pendiktean narasi yang begitu mengasikkan, menegangkan serta penuh dengan pembelajaran moral. Komputerisasi yang terkandung lewat Up memang terlihat sempurna, halus dan lembut dalam tata warna. Meski tone ruang lingkup setting yang terkesan mustahil, tapi si kreator sudah mengantisipasinya dengan berbagai sentilan hidup.
Hal mustahil yang saya singgung tadi adalah bagaimana mungkin perang angkasa yang mereka lakukan begitu luwes tanpa ada kesan takut yang mendalam. Anak kecil bernama Russell tadi begitu menikmati kondisi tadi. Kendati dia seorang anak pemberani dnegan berbagai medali yang ia dapatkan, tidak serta merta juga ia jadi sangat menikmati penerawangan di atas langit. Belum lagi ditambah dengan interval umur antara si kakek dan idolanya. Mungkin, Pete Doctor terlalu bersemangat dengan setelan animasi dan ceriteranya hingga melencengkan hal kecil yang fatal.
Tapi untunglah, kesimpang-siuran tadi masih bisa kita maklumi dengan iringan memukau dari tangan Michael Giacchino. Sempat mencicip nominasi lewat Ratatouille, di sini Giacchino jor-joran dalam mengilustrasikan gubahannya. Poin plus lain yang mesti dinilai adalah pengisi suara. Walaupun tidak ada nama populer, tapi kehadiran voice-over-nya telah bersenyawa lebih dari diharapkan.
Satu hal yang patut dipuji adalah bagaimana penggambaran Pete untuk skala air terjun yang megah sekaligus sebagai tujuan puncak melancongnya si kakek. Sebagai penonton, saya kagum dengan adanya fatamorgana kabut yang dibuat sedemikian indah dan apiknya. Tak lupa pula adalah spesies langka yang dibentuk unik dan hobi yang tak biasa, hingga menimbulkan tali pertemanan yang erat di antara mereka semua.
Up memang sekedar pengisi filmografi Pixar untuk lini tahun 2009, tapi makna filmnya jauh dari itu. Up telah terbukti berhasi mensejajarkan diri menjadi salah satu drama kuat di Oscar tahun kemarin. Melalui Up, satu hal yang bisa saya petik adalah masalah kerja keras, tanggung jawab dan pantang menyerah. Terlepas dari kekeliruan di berbagai aspek nalar, Up tetap memberikan panorama hidup yang menjadi bekal budi pekerti bagi kita yang menontonnya.
Director : Jorge BlancoVoice-over : Dwayne Johnson, Sean William Scott, Jessica Biel, Justin Long, Gary Oldman, John CleeseRate : 2,5/5Apa jadinya jika sebuah planet berpenghuni alien didatangi manusia? Lalu manusia itu dianggap sebagai alien oleh para alien itu. Anda bingung? Tapi itulah gambaran singkat tentang apa yang akan dipertontonkan sutradaranya lewat Planet 51. Mencomot pendekatan film bertema serupa (tapi idenya bisa dibilang sedikit orisinil), tapi Planet 51 malah lebih 'aman'. Mungkin karena tujuan awal film ini memang bersifat animasi yang mampu menyenangkan segala pihak.Struktur tokoh hijau di film ini saya nilai sedikit menyerempet ke saga Shrek. Mereka layaknya kaum oger, tak akan menggangu orang lain, tapi jangan sekali-sekali mengganggu ketentraman hidupnya. Terlihat ketika si manusia tadi menginjakkan ke wilayah mereka tercinta. Bak kerasukan setan, para tetua planet hijau ini beringasan untuk segera melenyapkannya. Planet 51 saya nilai juga serupa seperti Wall-E, yang terbayang kuat oleh tokoh robot Roover. Tampilan, gerak-gerik serta kebiasaan aneh yang sangat Wall-E. Mungkin tidak 100% persen mirip, tapi keberadaanya jadi tidak begitu menggemaskan. Mungkin itu hanya perasaan saya, tapi serius, sedikit plagiatisme (apalagi di dunia animasi) sangat sungguh keterlaluan.Parodi beberapa film terkenal cukup sukses disentuh. Seperti adegan bermain di bawah hujan yang serupa tak sama Singin' in the Rain. Cukup menggelitik, dan sedikit membuat tersenyum. Tapi sayang sekali, momentum tadi tidak disisipi joke-joke yang bergizi. Seperti kurang vitamin, lelucon yang terlontar cuma seadanya. Ada beberapa mungkin yang mengena, tapi tidak sedikit pula yang membuat melongo. Jadi, untuk urusan joking sequences, saya nilai gagal.Satu lagi yang saya ingin pertegas adalah aspek percintaan yang terasa dipaksakan. Kalo tujuan kreator hanya untuk mempermanis film, hal itu cukup berhasil. Tapi jika hanya menjadi bagian penting film itu sendiri, teritori percintaan tadi terasa menyebalkan, kalau tak boleh dibilang murahan. Sebab, dari sisi ini saya menilai jika tuturan animasinya jadi sedikit melenceng dari genre semua-umur menjadi remaja. Pengisi suara tidak menemukan kendala yang cukup signifikan, kendati agak terganggu juga dengan ketidaksamaan ritme mulut dan dialog.Tapi sanjungan sedalam-dalamnya saya harus sematkan kepada penata musik yang handal dalam mengarasemen adegan menjadi lebih klimaks. Mulai dari opening dengan lagu Lollypop-nya, hingga penghujung film yang dipenuhi dengan score penuh semangat, mengacu tensi dan memperkuat adegan itu sendiri. Kekaguman saya juga termasuk keunikan negara alien itu sendiri. Jika Anda menontonnya langsung, pasti tau apa saja unique things tersebut.Planet 51, sebuah animasi yang masih tertempel kesan 'meniru' tapi juga diramu sekenanya. Mungkin hal positif lain yang bisa diperas dari film ini adalah bagaimana film ini mengajarkan untuk tidak terlalu cepat mengambil tindakan. Apalagi tindakan bodoh, dan condong mencelakai banyak orang. Berfikirlah sehat, cerna apa yang sedang terjadi, tumpahkan dalam bentuk keterpujian, kasih sayang, dan sikap keprihatinan sesama.