Sabtu, 02 Februari 2013

Beasts of the Southern Wild (2012)


Director: Benh Zietlin
Cast: Quvenzhane Wallis, Dwight Henry, Levy Easterly
Rate: 3,5/5


Setiap orang pasti tidak mau hidup di daerah kumuh, rentan terkena musibah, ataupun didera kesusahan dunia sepanjang hayatnya. Intro saya ini mungkin akan terasa membosankan, karena filem yang akan saya kupas ini memang menyinggung sebuah frame yang kasat mata oleh kita. Beasts of the Southern Wild semula memang hanya berkutat di ajang-ajang non-komersil saja. Untunglah ada PH yang melihat potensi pada filem ini sehingga disebarluaskan dan jadilah produk ini menjadi bahan sanjungan para kritikus. Beast of the Southern Wild terkesan sangat sederhana, miskin cerita, namun terkontaminasi oleh pesan hidup dan bobot akting yang bisa menyeimbangkan kekurangannya tadi. Kesulitan filem ini merangkak dalam menjaring penonton tidak diikuti dengan iklan mouth-to-mouth yang efektif. Lambat laun, filem ini akhirnya bercokol di deretan filem-filem favorit para reviewer, termasuk saya.

Seorang gadis sangat kecil hidup terlunta-lunta hanya dengan ayahnya di gubuk yang super-duper kecil dan mengenaskan. Tokoh sentral kita seperti diuji oleh Tuhan untuk mengemban beratnya nasib hanya seorang diri, dengan umur begitu dininya. Segmen ini adalah segmen terkuat di filem ini. Semangat yang mendidih di darah sang belia diperlihatkan dengan sangat menohok. Gaya nomaden yang harus digunakan keluarga kecil ini mau tak mau mengantarkan mereka keduanya untuk menyelami makna hidup yang sebenarnya. Fabel unik yang menjadi bayang-bayang sang gadis juga tak lepas memperindah cerita. Dari sanapun kita bisa tertegun penggambaran yang tak akan bisa kita prediksi sebelumnya.

Beasts of the Southern Wild bukanlah filem yang penuh dengan hiburan dan tawa riang para karakternya yang akan membawa kita melepas penat. Malah sebaliknya, depresi dan delusional adalah dampak paling nyata saat kita menyaksikan sepak terjang mereka dalam mengarungi hidup. Tinggal di lahan basah dan siap menerima bencana alam sewaktu-waktu tanpa diberi aba-aba, berpikir keras dan pintar dalam menyiasati jikalau seketika dirundung penyakit, licik dan cerdas jika memang diperlukan. Yah, momen indah saat para anak kecil ada di suatu bar benar-benar menyentuh. Sang sutradaranya, dalam hal ini, berhasil memanjakan penonton dan menggodok emosi di bagian yang pas. Bohong jika tidak terenyuh saat adegan yang saya maksud. Dan pesona tunggal dari Quvenzhane Wallis adalah mahkota filem ini. Bermain tanpa minus sedikitpun. Sayapun dibuat kagum oleh naturalitas yang ia luapkan lewat filem ini. Mungkin sama halnya saat saya dibuai oleh karismatik seorang Dakota Fanning di awal karirnya saat menjadi anak Sean Penn di I Am Sam. Wallis mungkin tidak akan menduga jika kerja kerasnya di filem ini akan dihadiahi beragam penghargaan termasuk duduk manis di deretan nominasi aktris terbaik di bursa Oscar.

Banyak yang heran filem 'biasa' ini bergaung amat keras hingga lolos di mata juri Oscar. Di luar pro dan kontra, pantas tak pantas yang disematkan kepada filem ini, mau tak mau sayapun harus jujur jika Beasts of the Southern Wild adalah salah satu karya terbaik edaran tahun 2012. Sebagai pemula pun, sang sutradaranya pantas diberikan kredit tersendiri karena telah memberikan 'panutan' kecil untuk kita agar lebih menghargai hidup. Lewat sinematografi yang sejuk di mata dan gubahan musik yang sedap di telinga, disubstitusi pula oleh bakat yang mumpuni, kekurangan-kekurangan filem ini akhirnya bisa dimanipulasi dan dieliminasi dengan baik. Silakan menyaksikan filem yang akan menampar diri kita sendiri ini. Happy watching!

by: Aditya Saputra

1 komentar:

  1. Membaca review ini membuat saya ganti baju, siapkan sepeda, terus pergi ke tempat penyewaan dvd dekat rumah.

    Keep writing mate! you're such a talented person who describe what you watch in such a great review. love the words, love the flow, and keep 'tag' me for your next reviews.

    cheers

    BalasHapus