Sabtu, 22 September 2012

Test Pack (2012)

Director: Monty Tiwa
Cast: Reza Rahardian, Acha Septriasa, Renata Kuswanto, Uli Herdinansyah, Gading Marten, Dwi Sasono
Rate: 3,5/5


Rata-rata, sutradara di Indonesia begitu mudah merekrut bintang-bintang besar untuk diajak main di proyeknya. Itu pula yang membuat film mereka terasa ensemble cast-nya, entah untuk menjaring penonton atau sebagai tempelan saja. Monty Tiwa salah satu yang beruntung itu, dan terjadi untuk film terbarunya ini. Test Pack yang merupakan saduran singkat dari novel berjudul sama, disesaki dengan barisan aktor ternama. Mungkin track record Monty seperti pasang surut, kadang menelurkan yang berkualitas prima sampai yang abal-abal. Namun, berkat kepiawaiannya dalam mengolah data novel atau juga karena pengalaman di balik kamera, Test Pack terasa sekali sisi positifnya. Lengkap dengan naskah dan dialog cerdas yang tertuang di dalamnya.

Acha dan Reza berperan sebagai suami istri yang diambang kehancuran. Mereka dihadapkan akan suatu momok apakah mereka sanggup mempunyai momongan atau tidak. Sang istri yang selalu didesaki kata 'bayi' seperti siap terjun dari jurang jika kenyataannya dialah yang mandul. Namun takdir dan nasib berkata lain. Kendala rumah tangga yang dibangun kokoh awalnya, malah seperti tempat mengerikan bagi mereka berdua. Mereka saling mencari apa arti keluarga sebenarnya. Dan, pada bagian inilah, Monty mengajak kita menyelami keluarga mereka lebih intim sekaligus belajar secara bijaksana bagaimana jika kita yang berada di posisi mereka.

Secara drama, film ini memang layak diacungi jempol. Di samping, ceritanya yang asik dan penuh teori yang bertanggung jawab, permainan akting dari para aktornya juga bukan sekadar berakting. Mereka menjiwai. Terutama Reza dan Acha yang sangat melebur dengan tokoh mereka. Di mana saat mereka bercanda, bercengkrama, bertengkar, diperlihatkan dengan sangat natural. Ditambah pula dengan teknik slow-motion dan alunan lagu yang menyunting adegan tadi jadi lebih nyata. Selain itu, kemunculan para peran pembantu memang pas adanya, tidak mubasir. Yang kerennya lagi, bagaimana Monty mengeksekusi ending-nya menjadi sangat believable. Sangat jarang film Indonesia dibikin semenarik ini.

Terus terang, jika film Indonesia berkelanjutan dibuat dengan penuh visi dan misi yang positif seperti ini, plus, dengan keberagaman tema tentunya, sudah pasti perfileman Indonesia tidak akan tertatih-tatih seperti ini. Dan Test Pack akan menjadi salah satu pintu gerbang. Dengan tema yang sangat Indonesia, penggarapan yang maksimal, dan gerak akting yang lihai, sang empunya novel pasti berbangga hati jikalau karyanya diapresiasikan dengan tidak semenjana seperti ini. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Jumat, 24 Agustus 2012

Ice Age: Continental Drift (2012)



Director: Steve Martino & Mike Thurmeier
Cast: Ray Romano, John Leguizamo, Denis Leary, Queen Latifah, Nick Frost, Sean William Scott, Peter Dinklage, Azis Ansari, Jennifer Lopez, Nicki Minaj
Rate: 3/5


Mayoritas bilang film ini seharusnya tidak perlu dibuat jika hanya ingin mengeruk laba semata. Mayoritas juga bilang film ini sama bodohnya dengan film dahulunya. Mulai dari humornya yang dangkal hingga cerita yang itu-itu saja menjadi penyebab buruknya penilaian mayoritas ke film ini. Namun hanya saja, secara pribadi film ini justru sarat akan hiburannya. Ice Age pertama yang sempat menggoncang box office mingguan bahkan mendarat di nominasi Oscar, filem keduanya berjaya di tangga pencapaian untung, ketiga yang walaupun sukses tapi menjadi sasaran empuk cacian para kritikus. Memang, seri ini seperti kaleng kosong. Tidak ada isi namun jika kita ketuk akan menghasilkan suara yang besar. Sebagai minoritas yang menyukai film ini, tak lantas membuat saya jadi mengelu-elukan kualitas standardnya ini.

Geng Manny, Sid, dan Diego lagi-lagi harus terpisah dengan komunitasnya. Naasnya, di tengah lautan mereka bertemu komplotan bajak laut pimpinan Capt. Gutt yang mencoba menguasai daerah perairan. Sid yang diberi 'hadiah' oleh keluarga untuk mengasuh neneknya dan Diego yang berkenalan dengan singa cantik, menjadi bumbu menarik lainnya untuk film ini. Belum lagi anak Manny dan Ellie yang mulai beranjak dewasa dan mengalami problem cinta dengan spesiesnya. Dan masalah itu pula yang menjadi cikal bakal kicruhnya ketentraman keluarga mammoth ini.

Plotnya masih sama, lebih menyenangkan penonton di bawah umur daripada menambah kadar bobot agar enak ditonton kaum dewasa. Tapi tak apa, Ice Age masih mempunyai segudang kelucuan yang bisa meregangkan otot bagi siapa saja yang menontonnya. Selain humornya yang universal, gambarnya juga sangat halus. Blue Sky memang telah belajar banyak dari sejak pertama mereka melempar Ice Age tahun 2001 silam. Kinerja sineas disain grafisnya semakin bagus. Tapi harus diakui, untuk tampilan airnya, masih kalah bersih dan halus jika dibandingkan dengan Finding Nemo silam. Kendati begitu, franchise Ice Age ini menang berkat adanya karakter sampingan yang selalu mencuri perhatian. Di sini, Scrat masih bersusah payah mencari dan menyelamatkan buah kenari dambaannya. Lucunya, ada satu adegan bagaimana muka bumi darat dan lautan ini terbentuk oleh ulah konyol si Scrat.

Musik film ini dewanya, diisi oleh beberapa penyanyi di sektor sulih suaranya, Jennifer Lopez dan Nicki Minaj, lagu We Are Family mungkin salah satu yang terbaik keluaran tahun ini. Denis Leary, John Leguizimo, dan Ray Romano seperti biasa menghidupkan tokoh dengan penuh jiwa. Terutama Sid yang semakin ceriwis, apalagi ditambah dengan karakter sang nenek. Seperti saya sebutkan di atas jika Ice Age 4 ini memang banyak kejutan yang tersembunyi di dalamnya. Kemunculan para bintang bajak laut juga cukup mengundang perhatian. Battle-battle di atas kapal es menjadi poin penting buat film ini. Intinya, penambahan beberapa karakter untuk film ini boleh dibilang tidak sia-sia. Sekecil apapun perannya, tetap menampilkan kelucuan mereka.

Namun, saya rasa saga ini tidak usah memanjangkan tali kelambu saja. Keenam, ketujuh, dan seterusnya itu semoga tidak akan pernah ada. Apalagi sampai menfilemkan Scrat secara personal. Biarlah Ice Age menjadi salah satu animasi yang memanjakan penontonnya bukan saja dengan tampilan luarnya, tapi juga dengan pesan moral yang tersirat di dalamnya. Bagaimana persahabatan dan cinta kasih keluarga adalah nilai mutlak untuk menyelaraskan diri kita sendiri dalam hidup. Jangan terlalu egois dengan pendirian, karena kadang keegoisan itulah sumber dari rasa penyesalan. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Perahu Kertas (2012)



Director: Hanung Bramantyo
Cast: Adipati Dolken, Maudy Ayunda, Reza Rahardian, Elyzia Mulachela, Kimberly Ryder, Ira Wibowo, August Melasz, Titi DJ
Rate: 3/5


Hanung Bramantyo sering kali mengadaptasi sebuah buku untuk dijadikan cerita panjang berbentuk pita seluloid di layar lebar. Selama ini, kiprah beliau di kancah perfileman Nasional selalu diisi dengan angin segar baik secara dramatikal maupun komedikal berkelas. Ingat sekali bagaimana saya dibuat tertawa terpingkal-pingkal saat menonton Get Married, dan tersedu sedan kala menyaksikan Sang Pencerah. Persamaan keduanya dengan Perahu Kertas secara pribadi, ketinganya saya tonton H-1 Lebaran Idul Fitri. Itulah target pasar yang selalu Hanung terapkan selama ini. Mematok libur lebaran untuk menjaring penonton sebanyak-banyaknya.

Beda dengan Ayat-Ayat Cinta yang kental nuansa agamisnya, melalui Perahu Kertas Hanung bercerita tentang tema yang sangat umum tapi sarat akan kesan dongengnya. Sebelum itu, saya ingin memberi tahu jika Perahu Kertas adalah buah pena dari salah satu penulis terkemuka di Indonesia, Dewi 'Dee' Lestari. Jebolan RSD itu lambat laun telah menelurkan banyak karya seperti tetraloji Supernova, Madre, Rectoverso, Filosofi Kopi, dan Perahu Kertas ini sendiri. Kesemuanya menjadi best seller nasional. Dan di sini saya tidak akan me-review buku-buku fantastis itu, melainkan mengupas tentang apa yang ada di pikiran saya setelah menonton tulisan Dee versi gambar bergerak. Karya Hanung Bramantyo, yang melalukan blooper hidupnya saat mengadon naskah Sundel Bolong dengan begitu parahnya.

Suatu waktu, dipertemukanlah Kugy dan Keenan yang memiliki kepribadian dan latar belakang yang sama uniknya. Keduanya juga terperangkap pada seni yang harus melebur sejalan dengan paksaan nasib. Satu pendongeng, satunya lagi pelukis. Sisi lain dari Kugy adalah dia antek dari Dewa Neptunus. Menulis surat buah pikirannya lantas dijadikan perahu kertas lalu dialiri ke air, karena ia percaya seluruh air di muka bumi ini akan bermuara ke lautan jua. Pertemuan unik mereka ternyata berjalan dengan sangat hidup. Hingga satu hari mereka diharuskan oleh penulis untuk berpisah sejenak dan menjalani kehidupan masing-masing. Keenan bertapa di Bali dan Kugy kembali menyelami hiruk-pikuk kota Jakarta. Happy ending? Iya.

Mungkin ada benarnya Hanung membagi novelnya menjadi 2 film secara terpisah, karena saya sendiripun susah menulis sinopsis singkat tanpa melepaskan ditel-ditel menarik dari bukunya. Secara cerdas, Dee menulis ulang skripnya tanpa membuang poin-poin penting yang ada di karya sastranya. Sampai sesi ini, Perahu Kertas berhasil membuai saya. Di teritori penggarapan Hanung, Perahu Kertas indah berkat pencapaian terbaik tata kemeranya. Sinematografi yang menyorot lenskep seting dipotret dengan apik. Banyak adegan yang terbentuk berkat ambience fotografinya. Pemilihan cast pun tidak sembarangan. Walaupun Dolken dan Maudy masih asing di telinga, setidaknya mereka cukup telaten dalam memperagakan karakter novelnya menjadi nyata. Kugy yang selalu tampak ceria sekalipun pada saat bersedihpun dapat dimainkan dengan santai oleh Maudy. Setali tiga uang dengan kegalauan Keenan yang diserap dengan pas oleh Dolken. Sedangkan untuk para ekstranya, terutama August Melasz, mereka penyempurnanya.

Namun sayangnya, fiksi indah ini harus diretak oleh kualitas musik, yang entah bagaimana mengatakannya, seperti 'kebetulan' sama. Ada satu instrumen dan nada yang sama persis dengan musik latar dari film Babel karya Alejandro Gonzales Innaritu yang berjudul Bibo No Aozora. Tanpa mengesampingkan peran 'kebetulan' tadi, bagi saya slot itu sungguh-sungguh mengganggu. Kendati soundtrack-nya cukup easy listening, tetap saja 'kebetulan' tadi jadi disturbing sequence yang teringat sampai sekarang.

Terlepas dari itu semua, Perahu Kertas tersaji dengan penuh filosofi. Penonton seakan sedang diajarkan untuk menilai hidup mereka sendiri. Karena, Perahu Kertas adalah paket lengkap bagaimana kita mengenal apa itu cinta, apa itu cita-cita, apa itu persahabatan, apa itu keluarga, dan apa itu tujuan hidup. Cermin klasik yang akan kita tahan untuk melihat sambungan ceritanya beberapa bulan ke depan. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Selasa, 21 Agustus 2012

The Expendables 2 (2012)


Director: Simon West
Cast: Silvester Stallone, Jason Statham, Jet Li, Dolph Lundgren, Chuck Norris, Jean-Claude Van Damme, Arnold Schwarzenegger, Bruce Willis, Terry Crews, Randy Couture
Rate: 2,5/5


The Expendables, 3 tahun lalu, hadir di dunia dengan membawa nama-nama aktor macho yang kurang lagi dipakai sutradara terkemuka. Mungkin karena keterbatasan kualitas akting merekalah yang menyebabkan kinerja mereka stagnan di peringkat kelas B saja. However, they still have fanatic fans. Film-film (lama) mereka masih digandrungi para fans, sejelek apapun itu. Seperti misalnya Sly, mahsyur sejak Rocky dan Rambo yang perlahan namun pasti terperosok lewat film-film kualitas murahan. Mungkin yang mendingan adalah Jason Statham, yang sudah jelas kiprah adrenalinnya di genre adu jotos tanpa ampun.

Yah, berhubung filem pertamanya laris bukan main begitupun dengan penonton pria banyak yang suka, maka tak heran film keduanya langsung diproduksi. Jika dulu Arnold dan Bruce muncul sebagai cameo, di seri ini peran keduanya semakin besar. Malah Jet Li yang kebagian jatah dipersempit, cuma muncul di paruh awal pertama film. Misi merekapun tak ubahnya di prekuelnya. Menyelamatkan yang lemah dan membasmi yang jahat. Dari teritori cerita memang tidak ada hal yang baru, apalagi spesial. Dari awal hingga akhir film ini memang hanya mengandalkan kemampuan otot dan memacu kekuatan adrenalin semata. Oleh sebab itu, untuk sebuah filem hiburan, The Expendables 2 boleh dikatakan berhasil.

Dentuman musik mulai dari lagu hingga editing suara saat peluru keluar dari selongsongnya, saya garansikan jika itu memang sangat menggelegar. Namun saja, visual yang tersaji sangat meresahkan mata. Banyak adegan yang dilakukan di depan layar hijau terlihat sangat jelas. Efeknya masih terasa kasar, dan sedikit menggelikan. Lebih seperti menyaksikan video game ketimbang adegan filem yang lebih realistis. Apalagi pihak pahlawan kita jarang sekali merasakan kesalahan. Selalu ingin dan akan menang. Mungkin di sinilah letak egoisme si penulis naskahnya. Tidak 'mensahkan' si tokoh baik dalam mencicipi kekalahan. Walaupun ada beberapa part yang memperlihatkan kalau the expendables berada di titik terendah mereka, tetap saja ke-cheesy-annya sangat kental. Belum lagi untuk celetukan-celetukan yang maunya humoris malah jatuhnya garing bukan main.

Opa-opa perkasa ini tentu saja ingin tetap mengeksiskan diri di dunia perfileman dunia. Sampai-sampai perekrutan Chuck Norris menjadi sangat 'wajib' untuk dipersembahkan. Bisa jadi filem ini seperti tribute, dan serunya berita yang digembar-gemborkan jika nanti akan ada The Expendables versi wanita. Can't hardly wait. Berhubung ini filem musim panas, jadi yang terpampang di layar besar memang khas summer movies. Aksi yang jor-joran, efek yang super-duper dramatis, kumpulan-kumpulan aktor-aktor terkenal, dan tempelan wanita cantik memang dipenuhi dengan sangat pas. Oh ya, ada wanita Mandarin yang muncul sebagai bagian dari para binaragawan ini. Dan untung saja peran dia di sini tidak sekadar tempelan semata.

Tahun ini desas-desusnya sekuel keduanya akan segera diproduksi melihat perolehan dolar untuk weekend-nya bisa mematahkan hasil si Bourne-nya Tony Gilroy. Yah, saya sih tidak mengharapkan filem selanjutnya akan menjadi lebih baik jika sineasnya masih itu-itu saja. Walaupun asa tetap membumbung setinggi-tingginya. Satu poin yang penting, andai dulu Indonesia memiliki serdadu layaknya para expendables ini, yah penjajahan negara asing atas negara tercinta ini pasti tidak akan berlangsung segitu lamanya. Lihat saja bagaimana mereka membasmi para sekutu di Myanmar dan Kamboja seperti sedang membunuh serangga. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Minggu, 08 Juli 2012

The Amazing Spider-Man (2012)



Director: Marc Webb
Cast: Andrew Garfield, Emma Stone, Rhys Ifans, Sally Field, Denis Leary, Martin Sheen
Rate: 3/5


Beberapa tahun ke belakang, kita pernah dikejutkan oleh penampilan memukau manusia laba-laba di layar lebar berkat pembawaan yang humanis oleh Sam Raimi. Apalagi sekuelnya yang turun di tahun 2004 dilabeli sebagai salah satu sekuel superhero terbaik. Tobey Maguire juga dicap sebagai salah satu tersangka film tersebut menjadi luar biasa dan manarik perhatian penonton awam maupun kritikus. Tahun ini, melihat fan base spiderman yang masih mendunia serta melihat potensi menggeruk uang lebih banyak lagi, tak heran jika akhirnya terjadilah sebuah reboot. Reboot yang menurut saya pribadi tidak begitu perlu dilakukan mengingat rentang waktu antara Spider-Man 3 dan The Amazing Spider-Man hanya terpaut 5 tahun. Dan lagipula, tiga film besutan Sam Raimi sudah lebih dari cukup untuk menetralisir dahaga fanboy akan visualisi manusia laba-laba di layar perak. Marc Webb yang dahulu membuat film drama komedi romantis sukses, (500) Days of Summer, dipercaya untuk mendalangi film ini dengan mengajak aktor kemarin sore, Andrew Garfield, dan si cantik jelita Emma Stone. Namun uniknya, Stone di sini tidak memerankan Mary Jane, melainkan Gwen Stacy.

Memang banyak perubahan dan pembaharuan yang dilakukan Webb dan rekan-rekannya lewat film ini. Seperti kostum yang lebih signifikan dan penekanan akan dramanya yang lebih menonjol. Karakter villain yang dipilihpun ternyata cukup menyita perhatian. The Lizard yang digadang-gadang sebagai musuh yang paling emosional juga diturutkan untuk menghancurkan dunia, yah minimal New York. Di sinipun Peter Parker masih bergejolak dengan paman dan bibinya yang akhirnya menyisakan kematian Uncle Ben seperti pada film Raimi. Tentu saja dengan cara dan dampak yang berbeda. Kisah cintapun tak luput dari perhatian. Hanya saja, kepingan-kepingan adegan bagaimana Parker dan Stacy sampai akhirnya memadu kasih, menurut saya begitu cheesy. Kikuk yang diperlihatkan Parker terkesan mengganggu dan yang lebih parah saya tidak menemukan kesinambungan antara Andrew Garfield dan Emma Stone. Namun, opening film ini yang menceritakan sedikit tentang ayah dan ibunya, mungkin menjadi satu-satunya kelebihan dibanding yang Raimi buat.

Penonton manapun yang menonton spiderman versi Webb mau tak mau pasti akan membandingkannya dengan kepunyaan Raimi. Kemampuan Webb untuk setidaknya menyamakan filmnya dengan Raimi pun saya anggap belum kesampaian. Banyak poin yang melemahkan The Amazing Spider-man. Satu, Andrew Garfield. Sebelum dan saat dia menjadi spiderman pun terasa tidak nyaman dinikmati. Garfield terlalu over-acting dan menyebabkan tidak mencairkan suasana di dalam kondisi apapun. Padahal, banyak aspek di adegan tersebut yang menjurus ke dalam adegan yang lebih emosional. Lihat saja saat dia menolong bocah yang hampir jatuh. Banyak kenangan buruk yang menyelimuti Peter Parker di adegan itu, tapi nyatanya akting Garfield dan juga anak kecil itu malah memperkeruh sehingga adegan tadi nihil dan tidak bisa dirasakan apa-apa. Dua, Emma Stone. Dia bermain dengan sangat baik, dan ekspresif. Bagaimanapun juga, Stacy di sini jadi lebih komedik, dan itu mengganggu. Ingat adegan saat dia menolong Parker? Dengan kursi? Itu sungguh konyol. Tiga, adalah penempatan adegan. Entah kenapa, ada beberapa sekuens yang tidak digarap dengan sangat baik, bahkan ada beberapa lubang plot yang masih menjamur. Tak pelak, pertengahan film ini adalah saat di mana saya harus menahan rasa kantuk saya akibat tidak jelasnya pengarahan Webb yang serba tanggung ini.

Positifnya, visualisasi film ini sangat di atas rata-rata. Bahkan saya berani bilang, visual The Amazing Spider-Man jauh lebih memukau dari Spider-Man. Mungkin di sini arti judulnya bergaung. Amazing Visual of Spider-Man Movie. Entah tugasnya siapa, yang pasti kerja keras mereka saat menggerakkan gambar terlihat sangat lincah dan jauh dari kesan amatir. Musik yang membahana sepanjang film juga asik. Terutama saat untuk pertama kalinya si spiderman merangkak di atas dinding. Dan, untuk beberapa pemain pendukung semisal Rhys Ifans, Sally Field, Martin Sheen, dan juga Denis Leary bermain dengan sangat biasa. Dengan sosok Thomas Haden Church saja, Rhys Ifans tidak sebanding, apalagi saya menyebutkan seorang Willem Dafoe. Martin Sheen? Sedikit meledak-ledak, itu saja. Sally Field juga kurang greget, Denis Leary bahkan bisa diganti aktor yang tidak terkenal sekalipun. Sulit menemukan sisi patriotik dan jiwa pemimpinnya sebagai komisaris di film ini.

Jadi, 'the untold story' yang dikumandangkan di beberapa teaser poster-nya tidak seluruhnya benar. Penonton hanya diberi makanan sama dengan bumbu dan racikan yang berbeda. Sayangnya, ada beberapa yang terasa hambar. Mungkin saya adalah satu dari sedikit yang tidak begitu menyukai The Amazing Spider-Man. Tapi inilah yang saya temukan saat menonton superhero penjaring ini. Bisa dimaklumkan jika Garfield lemah di sini, karena mungkin track record-nya masih minim. Tidak seperti Tobey yang sebelum jadi manusia laba-laba sudah dipuji lewat Pleasantville dan The Cider House Rules misalnya. Dan saya mungkin terlalu banyak berceloteh. Oh ya, ending film ini menurut saya salah satu ending superhero terbaik yang pernah saya tonton. Happy watching!

by: Aditya Saputra