Minggu, 11 November 2012

Wreck-It Ralph (2012)



Director: Rich Moore
Cast: John C. Reilly, Sarah Silverman, Jack McBrayer, Jane Lynch, Alan Tudyk
Rate: 3,5/5


Tampaknya dunia animasi mempermudah sineas untuk mengeksplorasi apa yang ada di benaknya. Imajinasi liar yang bersarang di kepala lantas distimulasi berkat bantuan dunia digital jaman sekarang. Semua diperalat oleh teknologi terkini yang akhirnya dipoles sedemikian rupa menjadi sebuah animated feature film. Lihat saja studio-studio animasi raksasa yang sekarang memaksa kita percaya jika film-film kartun mereka memang hidup layaknya manusia normal. Tidak masalah, toh penonton dimanjakan berkat visual cantik dan menarik lewat CGI tersebut. Dunia sempat dibuat terperangah dengan adanya mainan yang mampu berjalan dan bertengkar seperti halnya manusia. Pixar membuat suatu hal yang tak mungkin menjadi masuk akal sekaligus lucu dan mengharukan. Setelah itu, barulah dunia animasi semakin merajalela. Dunia robot, kaum Who yang hidup di bulir bunga, tikus pandai masak, kampung otomotif, serta hewan purbakala yang sibuk mengungsi.

Wreck-It Ralph hadir bukan hanya sebagai pelengkap perkartunan yang ada, tapi lebih kepada tribute dan nostalgia kita terhadap game arcade atau yang lebih dikenal sebagai ding-dong. Itulah yang unik, penonton diajak ke dunia ding-dong lebih dalam lagi. Kehidupan dan latar belakang serta problema karakter ding-dong menjadi pusat dan inti dari film ini. Tokoh sentral adalah Ralph si penghancur dari game Felix the Fix, yang merasa dirinya lelah menjadi orang jahat dan bersikukuh berubah menjadi yang lebih baik. Semua ditenggarai oleh tetua wahana yang merasa Ralph tidak pantas gabung dengan mereka dan membuat kecemburuan sosial Ralph semakin meradang. Bertaruh mendapatkan medali, Ralph bertemu dengan Vanellope, tokoh dari Sugar Rush yang ternyata mengalami malfungsi dan akan dimatikan karakternya. Ternyata, ada udang dibalik batu. Sosok tokoh jahat lainnya yang ternyata glitch juga mencoba memanipulasi program Vanellope. Keadaan semakin runyam saat monster jahat mulai mengganggu ketentraman jagad raya per-ding-dongan. Dibantu Felix dan Calhoun, Ralph berusaha menyelamatkan nasib Vanellope sekaligus game Felix the Fix itu sendiri.

Yang menyenangkan saat menonton film ini adalah penonton tidak hanya diberi kelegaan saat menikmati audio visual dan gimmick lainnya (baca: 3D), tapi juga diberi pelajaran lewat pesan moralnya. Kendati ceritanya tipikal film konsumsi anak-anak kebanyakan, namun film ini juga tidak merasa sok dewasa. Humornya masih dalam kadar yang bisa dicerna anak-anak. Dari awal hingga akhir, cerita memang bergulir tanpa jeda dan adegan kosong. Wreck-It Ralph memang tidak sesempurna itu, adegan Ralph yang mengajari Vanellope serta tokoh antagonis yang manipulatif banyak kita temukan di film lain. Hanya saja, Wreck-It Ralph sangat lugas dalam penyampaian point of view-nya. Hal-hal umum soal persahabatan, kesenjangan sosial, serta ketamakan akan sesuatu juga disampaikan dengan sangat jenaka. Rich Moore berhasil membuat film yang whole package-nya mampu menyenangkan segala pihak.

Pengisi suara semacam John C. Reilly, Sarah Silverman (main bagus di Take This Waltz), dan Jane Lynch memberikan nyawa kepada tokoh-tokoh di film ini. Kombinasi pemilihan aktor yang sangat pas. Terlebih lagi Wreck-It Ralph dibantu dengan lagu-lagu pengisi film yang amat segar. Sumbangan AKB48, Owl City, dan lagu lamanya Rihanna mampu menyemangati film ini lebih jauh lagi. Semuanya bersinyalir dan melengkapi hiruk pikuk dunia game arcade yang saling menyatu lewat aliran paralel listrik. Kita tak akan pernah tau kalau arcade universe bisa saling terhubung dan berkesinambung menjadi sebuah dunia yang ramai, warna-warni, dan penuh problematika sebelum menonton film ini.

Meskipun Pixar seolah menaikkan kembali pamor Disney yang sempat meredup, tapi Disney kembali maju dengan menghasilkan film-film yang berkualitas Oscar. Hadirnya Tangled dan Wreck-It Ralph ini sebagai bukti jika Disney masih fokus dengan tujuan utamanya dalam hal memberikan produk yang bermutu tinggi tapi bisa dinikmati oleh segala jenis usia. Bahkan sekarang Pixar yang seperti sedang merangkak dan terseok-seok akibat Cars 2 dan Brave mereka yang dinilai biasa-biasa saja. Pertarungan antar PH semakin sengit, apalagi Dreamworks Animation semakin dewasa dalam melempar produknya. Belum lagi desakan dari Blue Sky, dan lain-lain. Wreck-It Ralph pada akhirnya tidak akan menjadi sesuatu yang klasik laiknya filmografi Disney terdahulu, tapi film ini jelas memiliki taring yang harap menjadi ancaman bagi film animasi lainnya dalam hal perebutan piala Oscar tahun depan. Happy watching!

by: Aditya Saputra


post.script: Ada short movie sebelum Wreck-It Ralph dimulai, yaitu Paperman. Bercerita tentang pertemuan singkat tak disengaja antara seorang cowok dan cewek di sebuah stasiun. Storytelling-nya sangat menarik, bahkan romantis. Animasinya pun sangat menawan dan lucu. Banyak hal yang terkandung dari animasi berdurasi kurang dari 5 menit ini. Black and white mode, silent mode, but it's astonishing.

Sabtu, 10 November 2012

A Single Man (2009)


Director: Tom Ford
Cast: Colin Firth, Julianne Moore, Nicholas Hoult, Matthew Goode
Rate: 4/5


Percayakah Anda jika seorang designer yang nol-directing experience dalam menyutradarai film lantas membuat film berkelas Oscar? Dan percayakah Anda jika designer tersebut menulis naskahnya seorang diri dan menghasilkan sebuah film yang sangat personal bagi dirinya? Tom Ford, designer jebolan fashion house kenamaan, Gucci, membuat kritikus membuka mata akan talenta barunya selain mendisain dan menyketsa baju-baju orang ternama. Tanpa promo yang berlebihan, film ini malah mengejutkan semua pihak dan dicap sebagai salah satu karya terbaik keluaran tahun 2009. Cerdasnya lagi, Tom Ford membuat sendiri script yang ia terjemahkan langsung dari buku karangan Christopher Isherwood. Bakat terpendam, jika diasah memang akan muncul kualitasnya.

A Single Man memang menceriterakan sepak terjang seorang dosen yang terjebak dalam masa lalu dan terperangkap dalam cinta matinya. George Falconer, dosen Bahasa Inggris - seorang gay, menjalani hidup monotonnya tanpa warna-warni percintaan lagi. Sang kekasih, Jim, yang telah hidup bersamanya selama 16 tahun meninggal karena kecelakaan saat akan mengunjungi keluarganya. Sial bagi George, kematian sang kekasih harus ia cari tau sendiri karena sang keluarga tidak memberi kabar atas kepergian Jim. George semakin terpuruk dan merencanakan untuk memperpendek masa hidupnya. Menutup akun di bank-nya dan membuat sebuah catatan singkat untuk orang terdekatnya. Namun, satu pagi George berkontak mata dengan anak didiknya, Kenny, yang mempunyai rasa penasaran tinggi dengan sosok si dosen. Affair yang tidak wajar terjalin walaupun hasil akhirnya tidak akan terbayangkan. Belum lagi George harus terlibat cinta bertepuk sebelah tangan yang didera oleh sahabat lamanya, Charley. Drama kehidupan George makin pelik, dan kebahagian masih mengambang entah kemana.

Opening film ini sangat menggugah, bagaimana kita diperlihatkan 'panorama air' yang sangat classy dan indah. Namun sarat makna. Semuanya tersimbolkan dengan amat lugas. Naskah yang dikarang Ford mengalir lembut namun tegas, serupa dengan penggarapannya yang matang kendati ini adalah debut penyutradaraannya. Bahkan Ford dengan pintarnya mengolah beberapa adegan yang memang sarat emosi. Editing yang cantik, pergerakan kamera yang dinamis, serta pemilihan lagu dengan tempo yang pas. Tom Ford seakan telah mempersiapkan segalanya untuk film ini. Termasuk dengan memilih cast yang sempurna. Colin Firth meraih nominasi Oscar dari film ini, dan memang sangat beralasan. Tokoh George Falconer adalah contoh karakter yang susah dimainkan. Firth dengan kemampuan dan pengalamannya sukses bertransformasi menjadi sosok yang depresi, tempramental, dan cenderung introvert. Kegagalan drama percintaannya dilukiskan dengan air muka yang minus senyum. Penyeimbang dari aktor lainnya juga terhitung maksimal. Julianne Moore yang lagi-lagi kebagian peran wanita terpuruk berhasil menjabarkan maksud Ford akan tokohnya ini. Terlebih lagi untuk Nicholas Hoult yang tampil berani dan mampu jalan berdampingan dengan si senior Firth.

Walaupun Goode tampil sebentar, tapi perannya menjadi dalang dan sebab musabab serentetan kejadian di film ini. Flashback story yang menceritakan bagian bahagia George dan Jim, memang membantu menguatkan cerita itu sendiri. Dan pada akhirnya, prosa film ini memang terasa kokoh berkat seluruh elemen yang terkandung di dalamnya. Dan Tom Ford, di film perdananya, patut diacungi jempol, karena telah meramu sebuah film yang sangat intim dan personal. Bukan saja mendeklarasikan kemelut dan gundah seorang diri yang ditinggal mati kekasih, tapi juga bagaimana menempatkan diri di lingkungan saat keadaan mulai perlahan mengekang.

A Single Man is a highly recommended movie I must share. When a loner get a distraction, he might be not give himself a suicidal life. Saat sajak awal film mengalun, A Single Man memang berjalan di arah yang positif dalam memberi sudut pandang dan arti lain dari sebuah kehidupan. Naskah yang berpotensial mengaduk emosi, pemilihan aktor yang berkadar tinggi, mengaratkan semua persepsi awal akan tampilan film eksklusif seorang designer ini. A Single Man, with a single humble quote from Tom Ford: If you spend an hour and a half in a movie theater, it should challenge you. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Jumat, 09 November 2012

Unfaithful (2002)



Director: Adrian Lyne
Cast: Richard Gere, Diane Lane, Olivier Martinez
Rate: 3/5


Mungkin sudah rahasia umum jika Adrian Lyne adalah salah satu sineas spesialis film-film dewasa yang bermaterikan perselingkuhan dan kental akan unsur seksualitasnya. Nine 1/2 Weeks dan Fatal Attraction adalah dua karya terbaiknya yang menjadi sampel bagaimana sebuah cerita yang kuat dibarengi dengan sex appeal dari para pemainnya. Ketika itu, Kim Basinger dan Glenn Close menjelma menjadi sex bomb atas kerja keras mereka menunjukkan kapasitas sebagai aktris jempolan yang bisa memainkan segala jenis karakter, termasuk sebagai wanita yang hobi main seks. Di tahun 2002, Lyne mencoba rumus serupa yang kali ini menggunakan bakat Diane Lane, salah satu aktris yang cantiknya abadi dan juga punya acting talent yang memukau. Menyadur judul produksi Perancis, Le Femme infidele, Lyne membawa atmosfer yang sama namun dengan gengsi Hollywood.

Mungkin berkat gengsi itulah film ini agak sedikit timpang meskipun tetap enak diikuti. Unfaithful yang perlahan sudah sangat seru, dipatahkan dengan setengah akhir filmnya yang tidak adanya unsur thriller sedikitpun. Saya belum menonton versi aslinya, jadi tidak akan membandingkan film ini dalam bentuk apapun. Film bermula saat Connie Summer yang tidak sengaja bertemu dengan pemuda penyuka sastra, Paul Martel. Ternyata pertemuan singkat mereka berlanjut ke arah yang tidak semestinya. Paul yang nantinya ketauan adalah seorang playboy, tertarik dengan kecantikan Connie dan begitu pula dengan Connie yang terpukau akan karisma dari seorang Paul. Manalagi setelah hubungan intim terjadi dan Connie merasakan hasrat seks yang luar biasa. Kecanduan hubungan terlarang ini membawa kisruh rumah tangga Connie dan suaminya, Ed Summer. Tapi apa daya, bau bangkai akan tetap tercium sejauh manapun kita menyimpannya. Tabiat perselingkuhan ini diketahui Ed sehingga hal-hal yang tidak diinginkanpun terjadi.

Unfaithful, saya akui memang memiliki kisah yang menarik dan bisa terjadi oleh keluarga manapun yang kurang harmonis. Tapi, keluarga harmonis pun bisa berantakan jika salah satunya memang tidak mempunyai rasa saling percaya. Unfaithful dengan lugas menyampaikan jika ketenteraman rumah tangga adalah bukan patokan jika nantinya tidak akan terjadi perselingkuhan. Kesempatan, ya kesempatan yang membawa neraka itu. Lyne dengan cerdasnya meramu awal kisah dengan amat klasik dan cara mempertemukan tokoh Connie dan Paul pun terbilang lucu dan romantis. Perseteruan batin Connie juga dipaparkan dengan amat baik kendati kadang penonton akan dibuat kesal dengan kebohongan pribadi yang diperbuatnya. Sayangnya, saat bagian sang suami balas dendam, Unfaithful terasa kurang gregetnya. Semua dibuat terasa cepat dan tidak ada sedikitpun perasaan mencekam. Kalau saja eksekusinya tidak terlalu lemah seperti ini. Untung saja musik dari Kaczmarek mengubah atmosfer awal yang sendu berakhir dengan tempo yang cukup seru.

Gere bermain total, dan sama halnya dengan Diane Lane. Richard Gere telah berhasil menjadi sosok suami 10 betul yang nantinya berubah menjadi hantu yang mencoreng seluruh sifat baiknya. Tapi Lane lah juru kunci film ini, selain panorama dan liukan tubuhnya yang menjadi sorotan, aktingnya pun berkelas Oscar. Sebagai wanita yang fakir hasrat libido, Lane bertransformasi ke sosok yang berada di zona serba salah. Ketakutannya terekspresikan dengan sangat pas. Memancing Oliver Martinez untuk bermain dengan santai, yah walaaupun Martinez di sini tidak begitu spesial selain menunjukkan sixpack body dan senyum beracunnya itu.

Di tahun yang sama, Unfaithful harus bertarung dengan fim bertema serupa, Far From Heaven. Walaupun beda subjek dan objek, Unfaithful kalah sedikit dalam menciptakan suasana ending yang diharapkan penonton kebanyakan. Walaupun begitu, Lane dan seluruh jajaran cast dan crew-nya telah memastikan kita jika film bertema tabu seperti ini akan tetap diproduksi. Lihat saja Chloe yang masih dinilai positif. Sekaligus mengajarkan kita bagaimana mengatur sifat negatif kita dalam berumah tangga. Bukan mengajarkan kita untuk berselingkuh secara aman dan tidak kepergok orang rumah. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Jumat, 02 November 2012

Skyfall (2012)


Director: Sam Mendes
Cast: Daniel Craig, Judi Dench, Ralph Fiennes, Javier Bardem, Naomi Harris, Ben Wishaw, Berenice Lim Marlohe
Rate: 4/5
Dr. No adalah permulaan yang bagus sekaligus menjadi mata rantai bagaimana sebuah franchise tentang spionase agent menjadi alat pengeruk uang. Cerita rekaan dari Ian Fleming mengglobal seantero dunia dan dari tahun ke tahun mengalami kematangan yang signifikan diiringi dengan pergantian pemeran Bond itu sendiri. Sean Connery tentu saja tidak akan selamanya menjadi James Bond, dan bisa saja menjadi Bond terbaik yang pernah ada. Dari mulai Roger Moore hingga Pierce Brosnan yang berupaya menggantikan keparlentean seorang Connery, start berujung pada pemilihan sosok Daniel Craig yang awalnya tidak terlalu disegani untuk membawa karakter legendaris ini. Namun nyatanya, lewat Casino Royale, Craig bisa mematahkan segala asumsi negatif tentang dirinya sekaligus membuktikan jika ia bisa melebihi kapasitas dari yang diharapkan sebelumnya. Bond di tangan Craig jelas bukan agen 007 yang sudah-sudah. Flamboyan yang sudah terlabel sejak awal dibiaskan oleh kemunculan awalnya di Casino Royale yang urakan, namun mematikan. Daniel Craig ditinjau lebih jauh lewat Quantum of Solace yang semakin mengukuhkan tajinya jika ia adalah Bond generasi baru.
Lain Craig, lain pula hanya Sam Mendes, nahkoda dari seri teranyar agen 007 ini, Skyfall. Mendes yang kita kenal sebagai sutradara berciri khas kisruh rumah tangga, sekarang langsung naik tahta untuk mengangkat saga ini lebih tinggi lagi. Dengan predikat Oscar yang sudah disandangnya, mau tak mau Mendes akhirnya mengemban beban berat juga agar hasil akhir film ini tidak anjlok. Betul saja, Mendes tidak main-main. Mengajak 3 orang scriptwriter andalan, merekrut Roger Deakins di sektor penggarapan gambar serta Thomas Newman di teritori penggarapan musik, memang berdampak pada kualitas Skyfall secara keseluruhan. Semuanya bekerja dengan sangat baik dan Skyfall berhasil menghapus dahaga penonton yang was-was akan kualitasnya. Score music yang sangat luar biasa membius dan juga tampilan cerita yang jauh lebih dewasa dan berbobot. Mendes menyeimbangi antara porsi action dan dramatisasinya.
Lihat saja opening scene-nya yang sangat classy dan simbolisasi sepanjang theme song bergulir memang adalah kumpulan singkat bagaimana filmnya kelak akan bercerita. Opening scene-nya mungkin salah satu yang terbaik yang pernah ada. Konfliknya pun semakin menggigit. Bond tidak hanya sekadar mengentaskan misi tapi juga harus merasakan kehilangan yang pahit. Boleh dibilang seri ini adalah kemaklumatan bagi sosok M yang mana emosi seorang Judi Dench dikuras habis-habisan. M tidak pernah sedramatik ini. Tokoh-tokoh tambahan yang mana nantinya mendapat peran penting juga patut disimak sepak terjangnya.
Kehadiran Daniel Craig sejak ia menerima tongkat estafet dari Brosnan memang sedikit mencengangkan. Aktor kemarin sore yang dikemas sedemikian rupa dan sekarang menjadi sosok yang dielu-elukan. Perombakan drastis pada dirinya sebagai persiapan menyelami tokoh 007 ini patut diberi kredit tersendiri. Craig diciptakan untuk peran yang seperti ini. Judi Dench, filosofis sosok M yang demokratis namun juga berjiwa pemimpin yang sangat solid. Tidak bisa dibayangkan jika karakter M harus dipegang oleh aktor lain. Kejutan yang diselipi di tengah dan akhir cerita memang akan menguak rasa penasaran penonton. Musuh Bond kali ini diprakarsai Javier Bardem, sosok kelam Anton Chigurh yang memberikannya Oscar atas peran mematikannya itu. Bardem sama halnya Mathieu Almaric yang kejam dan keji hanya lewat raut muka. Shiva di tangan Bardem dibimbing untuk kesetanan pada waktunya. Sorotan mata Bardem ditambah kekuatan suara yang membuat dialog menjadi begitu horor.
Sam Mendes akhirnya terbukti kuat di luar zona amannya. Budget besar yang dicurahkan kepadanya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Pemilihan cast yang sempurna, pembuatan adegan yang memanjakan mata, serta memilih Adele untuk mengisi theme song nya bertajuk sama juga merupakan hasil kinerja dan tanggung jawab dari Mendes. Melepas Skyfall ke pasaran dengan hasil jutaan dolar dan timbunan review positif dari siapa saja yang menontonnya. Dan siapa tau, juri Oscar melirih film ini untuk diikut sertakan di bursa Oscar 2013 kelak. Happy watching!
by: Aditya Saputra


Kamis, 25 Oktober 2012

The English Patient (1996)

 
Director: Anthony Minghella
Cast: Juliette Binoche, Ralph Fiennes, Kristin Scott Thomas, Willem Dafoe
Rate: 4/5
 
 
FYI saja, saya harus empat kali nonton untuk menuntaskan film ini, dan kegagalan sebanyak tiga kali itu dikarenakan saya selalu ketiduran. Saya rasa tidak ada masalah dengan filmnya, mungkin saya yang terlalu lelah menyaksikan film panjang satu ini. Apa ini berarti filmnya cenderung membosankan? Dengan bangga saya mengatakan tidak. Film ini jauh dari kesan itu, bahkan The English Patient banyak berisi drama yang berbobot di luar durasi yang ekstra panjang tadi. Banyak poin positif yang bisa diambil dari film ini. Kendati si film maker-nya sudah tiada, namun The English Patient akan menjadi salah satu karya monumentalnya yang tak akan mati dimakan jaman. Apalagi untuk para komunitas penonton yang menjunjung tinggi nilai kualitas di suatu film.
 
Film bermula dari kemunculan Count Almasy, seorang map maker yang terjebak di gurun pasir Sahara. Mengambil latar belakang perang dunia kedua, perjalanan gersang Almasy harus bentrok dengan unsur cinta, pengkhianatan, hingga kerja keras tanpa ujung. Di perjalanan tugasnya, ia dipertemukan dengan seorang wanita bersuami. Melodramatik yang terjalin di antara mereka memang melalui arus yang simpang siur. Nyatanya, bagian pembuatan peta tadi adalah ingatan singkat seorang Almasy yang harus terbaring lemah di atas ranjang pesakitan. Dia diurus oleh seorang suster budiman yang mencurahkan segenap tenaga feminisnya untuk menyelamatkan hidup Almasy. Di tengah persinggahan dan juga dalam keadaan suasana perang yang mencekam, mereka kedatangan tamu (tak) asing, David Caravaggio yang lambat laun mengupas segala perjalanan panjang hidup Almasy.
 
Kemenangan 9 piala Oscar termasuk sebagai film terbaik untuk film ini memang sangat beralasan. Filmnya memang amat sangat menggugah. Skrip olahan tangan Minghella sendiri yang merupakan saduran dari novel berjudul sama, membuat film ini kokoh dari segi penggarapan. Minghella menerjemahkan sastra tadi dengan begitu syahdu. Tidak ada segi cerita yang kedodoran. Ditampung dengan tangkapan kamera yang sedap dipandang. Pelataran pasir Sahara terlihat begitu oranye dan indah, jadi sangat wajar jika teritori sinematografi juga memenangkan piala Oscar. Musik gubahan Gabriel Yared juga terdengar amat syahdu. Melengkapi adegan demi adegan baik dalam keadaan mengenaskan maupun yang bahagia.
 
Keunggulan lainnya adalah Minghella disokong oleh aktor-aktor yang bermain dengan sangat apik. Terutama Fiennes dan Binoche selaku pemeran utama film ini. Binoche sanggup membawa tokoh sentral menjadi pusat perhatian di luar keayuan rupa yang dimilikinya. Bertransformasi sebagai wanita di tengah hiruk-pikuk perang dunia, Binoche tak lantas menjadi sosok yang lempem dan lemah. Keperkasaannya diperlihatkannya lewat air muka yang pas dengan situasi adegan. Fiennes apalagi, berakting di gurun bukanlah hal mudah. Dan bersama Thomas, ia bersikeras menunjukkan kekompakan akting yang memukau. Raut korban pengkhianatan yang dideranya memang terasa pedih untuk dilihat.
 
Sepanjang sepengetahuan saya, Minghella baru menelurkan sedikit film. Bahkan masih bisa dihitung jari. Tapi, hampir keseluruhan dilabeli film bermutu, mulai dari Truly, Madly, Deeply, The Talented Mr. Ripley, Cold Mountain, hingga karya terakhirnya, Breaking and Entering. Dan baru tiga saja film beliau yang saya konsumsi. Dan dari tiga itu pula saya berani menjabarkan maksud yang kesan yang terkandung di film-film beliau. Menitikberatkan suatu kisah cinta yang dilatar belakangi dengan unsur dramatikal yang kental. Memosisikan peran utama di kondisi yang pelik tapi tetap berusaha mati-matian. Tak heran jika karyanya sangat humanis sekali. The English Patient sampel mutlak bagaimana suatu hidup akan terasa bahagia jika kita menjalaninya dengan tanggung jawab sekalipun taruhan atas kepergian orang terkasih sudah di depan mata. Happy watching.
 
by: Aditya Saputra