Selasa, 01 Januari 2013

Philadelphia (1993)

Director: Jonathan Demme
Cast: Tom Hanks, Denzel Washington, Antonio Banderas, Jason Robards, Buzz Killman
Rate: 4,5/5


Saya tidak akan menyinggung masalah manusia dan penciptanya, yang akan saya singgung adalah hubungan antar manusia yang sering kali menyalahi hukum negara, bahkan hukum Tuhan untuk saling menghargai satu sama lain. HAM sekarang terancam kekukuhannya dikarenakan sifat jelek manusia yang sering menjatuhkan satu sama lain demi kepentingan pribadi. Tema serupa tidak jarang diangkat ke media filem, salah satunya Philadelphia yang secara terang-terangan menguak tabir gelap di kota bernama Philadelphia yang terkenal tentram dan aman kehidupan sosialisasinya. Kali ini, sosok Andrew Beckett diumbar dengan segala keterbatasannya sebagai pesakitan. Dia, yang menderita AIDS harus rela dipecat dari perusahaannya gara-gara virus yang ia tuai di dalam tubuhnya. Merasa ada yang tidak beres dan harus menuntaskan lubang kosong atas pemecatannya itu, Beckett menyewa pengacara terkenal, Joe Miller - seorang homophobic, untuk membantu memenangkan kasus sebelah pihak ini.

Awalnya, Joe ragu untuk memulai simbiosis ini. Namun, apa yang ia lihat di arena ruang sidang membukakan mata dan hatinya lebar-lebar dan bertaruh atas nama pekerja hukum yang disandangnya. Saya kira filem ini akan memuat banyak adegan vulgar mengingat filem bertemakan sejenis biasanya mengandung adegan seks sejenis yang semakin menyempitkan genre yang diusung. Namun, terkaan saya salah besar, filem ini full drama tanpa ada muatan adegan seks sejenis yang dimaksud. Bahkan untuk sekedar ciuman dari mulut ke mulut pun tidak ada. Demme dengan pintarnya memfokuskan cerita yang terkait dan melepas egoisme untuk menambahkan adegan kotor tersebut. Titik mula filem ini berkiblat adalah paska pemecatan si Andrew dan bagaimana dia melawan pesaing di meja hukum. Merentaskan semua daya dan upaya meyakinkan juri dan hakim atas aniaya yang ia terima. Atmosfer filem ini mengudara ke banyak cabang. Pertama kita ditempatkan dengan rasa persaudaraan yang kental di lingkungan minoritas. Bagaimana mereka saling mendukung kaumnya untuk tidak jatuh dan dicela masyarakat.

Kedua optimistis di dalam kejamnya hukum jika kita memang berada di jalur yang benar. Penulis naskah filem ini dengan sangat teliti memberikan bab-bab kehidupan Andrew sehingga bisa dieksplor lebih jauh lagi. Demme selaku si pembuat juga tak kalah jago. Emosi yang stabil dari awal hingga ending diramu dengan amat baik. Suasana di ruang sidang dan rumah sakit menjadikan alasan kuat betapa besarnya kadar drama yang terkandung. Semua tak lepas dari permainan maha dahsyat dari para aktornya. Tom Hanks pantas mendapatkan Oscar. Transformasinya sebagai ODHA layak diacungi jempol. Badannya yang menceking dan mukanya yang tirus adalah perubahan yang serius oleh Hanks untuk menghidupkan perannya menjadi lebih nyata. Lihat saja cara ia jatuh di ruang sidang, membuat hati miris dan merasa iba. Setali tiga uang dengan partner-nya, Denzel yang telah menunjukkan sosok pengacara yang total dan berdedikasi tinggi. Koar-koarnya membela yang benar dan lemah sangat menghentak. Dan kemunculan Antonio Banderas yang tidak sekadar tempelan juga dipergunakan secara pas.

Filem ini juga menyumbang Oscar untuk Bruce Springteen di departemen musik gubahan. Dan memang benar, salah satu nyawa Philadelphia adalah musik dari arahan Springteen. Sayang, Demme dan filemnya sendiri tidak ditoleh juri untuk masuk di deretan nominator sekalipun. Namun cukup jelas, 2 tahun sebelumnya, Demme sukses membungkam AMPAS dengan kehadiran The Silence of the Lambs yang langsung menyabet 5 piala di nominasi penting.

Verdict, secara terang-terangan Philadelphia menyikut paradoks sebuah hukum, tapi secara garis besar memaparkan cinta kasih terhadap sesama. Sajian yang memikat yang akan selalu saya ingat dan singgung jika ada yang membahas masalah human right. Performa ciamik dari duo Hanks dan Washington pun sukses memberi nyawa filem ini. Sebagai penyegaran dan introspeksi di awal tahun, Philadelphia akan saya kutip sebagai pembelajaran yang bagus. Seperti halnya quote cantik yang keluar dari mulut Andrew Beckett: Every problem has a solution. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 29 Desember 2012

Frankenweenie (2012)


Director: Tim Burton
Cast: Catherine O'Hara, Martin Short, Martin Landau, Winona Ryder, Robert Capron, Atticus Shaffer
Rate: 3,5/5


Tim Burton, seperti yang kita tau, hampir keseluruhan filemnya mengandung unsur kekelaman baik di sektor cerita maupun karakter yang mengisi proyeknya. Mulai dari Edward Scissorshand, Ed Wood, Big Fish, Alice in Wonderland, hingga animasi semisal Corpse Bride dan yang sekarang, Frankenweenie. Uniknya dan hebatnya, hampir keseluruhan karyanya diterima baik oleh masyarakat baik dari segi financial maupun kritik dari para reviewer. Dengan kesehariannya yang gothic dan sedikit menyeramkan, memang tidak heran jika ia juga menyematkan jiwa quircky ke setiap tokohnya. Tidak perlu heran, karena berkat keanehan yang ia perlihatkan di setiap filmnya memang memancing topik yang akan diperbincangkan lebih jauh. Namun, kali ini tanpa mengajak Johnny Depp dan Helena Bonham-Carter, yang sering muncul di setiap feature-nya, Frankenweenie contoh animasi yang sederhana dan loveable, dan juga sarat makna dan gambar yang menarik.

Diceritakan Bob harus kehilangan anjing kesayangannya yang telah menjadi teman di masa hidupnya. Kepergiannya membuat Bob galau sepanjang hari dan tidak bersemangat mengerjakan apapun, termasuk mengikuti pelajaran di sekolah. Namun, suatu hari gurunya menjelaskan cara untuk menghidupkan kembali makhluk yang sudah mati dengan bantuan listrik. Terperangah dan penasaran dengan science project itu, Bob akhirnya memilih untuk me-reinkarnasi peliharaannya yang sudah tiada. Hiduplah kembali si Sparky. Namun kemunculan walking dog itu mengundang temannya untuk mencoba apa yang telah Bob berhasil lakukan. Teknik listrik tadi disalah gunakan dan membuat daerah kota menjadi gempar tak terkendali. Bob yang merasa bersalah akhirnya mendapat wajangan dari orang tua serta gurunya agak lebih bijaksana dalam memanfaatkan hukum fisika. Lambat laun, permasalahan kembali aman dan Bob kembali merajut hidupnya lagi.

Seperti biasa, Tim Burton sekalipun membuat filem animasi ataupun bertemakan anak-anak pasti tidak membuang sisi dewasanya. Corpse Bride jelas bukan tontonan bocah di bawah umur. Charlie and the Chocolate Factory kendati bernuansa menyenangkan, tapi juga banyak adegan sarkastik yang akan sulit diterima oleh anak-anak. Begitupun dengan Frankenweenie, walaupun sudah bermain aman dengan topik yang sangat kekanakan sekali tapi tetap ujungnya tidak jauh dari apa yang Burton lakukan selama ini. Volume of violence masih dalam kadar yang sukar dicerna oleh anak-anak namun bisa dipastikan orang dewasa akan menyukai filem ini. Cerdasnya, Burton tidak hanya membumbui animasi ini dengan humor kosong, tapi juga menyelipkan genre sci-fi yang jarang ditemui di filem animasi. Jimmy Neutron yang membual mimpi tak berkesudahan terasa berlebihan dan sulit dijangkau oleh anak-anak. Frankeweenie tidak seekstrim itu walaupun proyek mematahi kodrat Tuhan juga tak kalah ambisiusnya.

Satu hal yang bisa menambah nilai di tiap filem Burton adalah musiknya yang heboh, dalam artian yang bersenyawa dengan adegan filemnya sendiri. Jasa Danny Elfman selama ini sangat berperan penting dan sudah tau betul kehendak 'negatif' Burton untuk menyeramkan filem-filemnya, termasuk Frankenweenie. Para aktor 'kurang terkenal' di sini berhasil menyemarakkan dan menghidupkan tokoh mereka masing-masing. Jadi memang, Burton tidak terlalu berpangku tangan dengan para pengisi suaranya karena ia lebih menekankan pada cerita, memantapkan animasi komputernya, serta memfokuskan pada hasil akhir yang tidak lain adalah editing yang sempurna. Berarti, memang sangat wajar jika film ini dijagokan dalam ajang-ajang filem sebagai animasi terbaik.

Ide filem ini langsung dari otak Tim Burton, maka tak heran jika melihat Frankenweenie seperti ini. Maksud saya, dengan gaya parlente gelapnya, Frankenweenie pun jatuhnya di lobang yang sama. Salah satu persembahan yang menarik dari Burton. Pesan moral yang paling membekas adalah dalam penggunapan teknologi dan ilmiah. Jika kita memanfaatkan hukum dasar alam secara adil, influence dan dampak yang dihasilkan pasti sama besarnya. Sebaliknya, jika kita menggunakan hal-hal tersebut untuk hal-hal yang sembarangan, bukan tidak mungkin hal-hal negatif juga akan timbul. Seperti apa yang kita lihat di besutan terbaru Tim Burton ini. Verdict, mungkin ini bukan pilihan utama keluarga untuk menghabiskan waktu senggang mereka dalam menonton filem. Tapi Frankeweenie tidak akan menjebloskan pola pikir anak-anak yang menontonnya ke arah yang menyimpang. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Jumat, 28 Desember 2012

Flight (2012)

Director: Robert Zemeckis
Cast: Denzel Washington, Don Cheadle, John Goodman, Kelly Reilly, Tamara Tunie, Melissa Leo
Rate: 4/5


Seperti yang kita ketahui, Denzel Washinton adalah satu dari sedikit aktor kulit berwarna yang berhasil dengan konstan memantapkan karir aktingnya di Hollywood. Mencoba berbagai jenis peran dan menjalankannya dengan sangat baik berhasil membawa namanya di turnamen-turnamen pernghargaan filem di seluruh dunia. Dengan bekal 2 patung piala Oscar dari filem Glory dan Training Day serta beberapa nominasi dari filem lainnya, tidak lantas membuat Denzel menjadi incaran para sineas untuk mengisi tokoh filme-filem mereka. Uniknya lagi, Denzel seringkali diberi kesempatan untuk mendalami karakter di tengah keadaan genting. Seperti di Man on Fire, Deja Vu, The Taking of Pelham 1 2 3, dan lain sebagainya. Beliaupun pernah sekali diuji dalam mengatur kerja kereta api yang melaju dengan sangat kencang dan sulit dihentikan di Unstoppable. Di posisi yang sama namun beda kendaraan dan profesi, kali ini di Flight Denzel Washington bertanggung jawab atas nyawa ratusan penumpang di sebuah pesawat yang dikomandoinya.

Sejatinya, mengemban tugas yang mewajibkan kita untuk mendedikasikan setengah dari hidup dan nyawa kita memang terasa memberatkan. Apapun itu pekerjaannya, termasuk menjadi seorang pilot. Mereka, mau tak mau harus membuang kebiasaan buruk yang dapat mencelakakan dirinya sendiri dan juga orang lain, dalam hal ini penumpang. Itulah yang menjadi pokok permasalahan yang terkait pada filem terbaru Robert Zemeckis ini. Denzel berperan sebagai Whip Whitaker, seorang alcoholic yang beberapa jam sebelum tugas terbangnya mengonsumsi minuman keras dan menyebabkan dia ditiban banyak masalah. Paska kecelakaan pesawat yang dia sendiri mati-matian dalam menstabilkan kokpit dan kinerja si burung besi, ia ternyata diinterogasi oleh pihak yang berkenan dikarenakan dituduh kelalaian dalam bekerja. Kendati saat disinyalir kesalahan ada pada keadaan pesawat yang tidak layak, namun tetap saja pengaruh alkohol menjadi pintu menuju neraka bagi Whitaker. Usahanya menyelamatkan ratusan orang menjadi tidak berlaku tatkala bukti fisik berkata lain. Kisah percintaan sesaat dan hubungan dengan keluarga yang semakin runyam, membawa alur kehidupan Whitaker menjadi sedikit terbuka.

Adegan pembuka di mana sang kapten pengudara mencoba menyeimbangkan pesawat agar tidak terlalu fatal adalah salah satu adegan di dalam pesawat terbaik yang pernah saya saksikan di filem. Mungkin tidak seintens apa yang dikerjakan Paul Grengrass di United 93-nya, tapi Zemeckis telah berhasil menggodok emosi penonton berkat gambaran yang sangat meyakinkan. Tempo yang semakin kencang diiringi teriakan di sana-sini memaang membuat sedikit mual dan paranoid yang tidak terkontrol lagi. DoP film ini bekerja dengan sangat baik, bahkan bukan untuk di adegan pesawat saja. Perhatikan bagaimana pergerakan kamera saat di ruang sidang. Ketegangan dan kemirisan di wajah Whitaker terlihat amat jelas. Skrip yang ditulis dan diterjemahkan pun tergolong apik dan tidak timpang. Menyenangkan jika menonton film yang kombinasinya penuh dengan semangat positif seperti ini.

Dan, sang pilot yang telah bermain dengan penuh energi adalah Denzel Washington. Baik sebagai pilot, pecinta yang ditinggal cinta, hingga pemabuk diperankan dengan sangat memuaskan. Mungkin tidak seekstrim Nicolas Cage di Leaving Las Vegas, namun Denzel di sini dengan sangat brilian mewujudkan kehendak watak tokoh. Perfoma kuat yang tak terbantahkan. Peran semi-penting yang muncul juga bisa memaksimalkan keelokan film ini secara keseluruhan. Kemunculan sesaat Melissa Leo pun mampu membuat Flight menjadi lebih berisi. Walau bagaimanapun juga, pesan moral dari film inilah fokus utama si sutradara. Bagaimana menjadi pecandu minuman keras akan merugikan diri sendiri. Dampak yang terlihat di depan mata sebaiknya menjadi pelajaran berharga bagi kita, apalagi jika mengingat tugas yang harus diemban Whip Whitaker sebagai pilot.

Flight akhirnya membuat penonton bersimpati dan kesal kepada Whitaker secara bersamaan. Kesal karena ia salah satu penyebab hancurnya hidup orang lain, iba karena keperkasaan dia dalam mengoptimalkan keselamatan harus dihadiahi jeruji penjara. Zemeckis sukses membangun teror kepada penonton lewat filem ini. Dan dengan senang hati filem ini saya masukkan ke daftar salah satu filem terbaik keluaran 2012. Dan tidak ada salahnya jika AMPAS memberikan nomor di slot nominator aktor terbaik untuk Denzel Washington. Doa yang tidak berlebihan memngingat Flight adalah contoh filem sarat makna dan pembelajaran serta juga memberikan pengalaman sinematik yang segar. Di luar kesalahan-kesalahan kecil yang menimbulkan sedikit pertanyaan. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 22 Desember 2012

The Amusing Movie-Life

Hidup di dunia hobi ibarat membangkitkan roh baru dan kemudian dijalani dengan penuh warna yang dikreasikan oleh diri sendiri. Entah saya harus menyebut kebiasaan saya ini adalah hobi atau hanya habit yang kelewat berlebihan, namun yang jelas saya menyelami hobi bukan untuk sekali-dua-kali dinikmati tapi juga terjun ke kisi-kisinya paling dalam.

Balita menjelang anak-anak hingga memasuki masa remaja, segelintirpun saya tidak mengerti apa itu film. Tidak seperti beberapa teman saya yang dari usia dini sudah dicekoki media layar lebar tersebut, saya mungkin salah satu dari sekian banyak anak yang mengisi dunia kanak-kanaknya dengan permainan kampung saja. Saya lahir di tahun 1989, tahun di mana Driving Miss Daisy dikumandangkan sebagai film terbaik versi Oscar. Menapaki era SMP, saya ingat sekali jika televisi Nasional sering menyiarkan berbagai film yang di jamannya disinyalir sebagai yang terbaik. Bodohnya saya (dulu yang masih senang didongengkan oleh kartun dan sinetron remaja), keacuhan dan keegoisan saya membuang saya lebih jauh ke dunia film tatkala saya memonopoli layar kaca dari ayah saya yang sedang menonton film Platoon. Double bodohnya, Platoon pun dicap sebagai film terbaik di tahun perilisannya.

SMA adalah periode di mana saya perlahan menaiki derajat kedewasaan dengan memilah dan memilih tontonan berkualitas dan mendidik untuk diisi di otak saya. Dengan bioskop yang hanya memakan waktu 5 menit dari sekolah saya, bioskop menjadi pelarian utama jika saya sedang malas pulang ke rumah. Tentu saja dengan teman-teman. Namun, weekly schedule itu hanya berlaku jika ada film yang menurut saya layak tonton. Jauh sesudahnya, bab baru kembali terbuka, film menjadi sebuah wadah tersendiri bagi saya untuk menampung dan membungkam rasa introvert di dalam kepribadian saya. Semenjak salah satu bioskop baru dibuka, di saat itulah saya merasakan menonton film di bioskop seperti sebuah pengalaman yang indah. Kendati demikian, pertama kali saya memasuki gedung bioskop saat usia 6 tahun, film India entah judulnya apa, itupun semacam modus oleh tetangga saya.

Lanjut ke inti, tahun 2006 - 2007 boleh dikatakan menjadi tahun penting bagi saya yang untuk pertama kalinya mulai memahami apa itu seni. Cakrawala saya semakin terbuka lebar, imajinasi liar yang selama ini terpendam tanpa ada aplikasinya perlahan mulai menguap dan menggumpal menjadi semangat. Saya seperti disiram air dingin dan dibangunkan dari tidur saya yang lama, dan angin seraya berteriak, 'Inilah kehidupan ekstramu, jadikan film sebagai keluargamu dan bioskop menjadi tempat tinggal sampinganmu'. Dijamu oleh kemegahan suara dan arsitektur gambar yang apik, menonton bukan lagi sebuah kebiasaan lumrah, tapi sudah menjadi suatu barang komplementer. Tom Ford pernah berujar, "If you spend an hour and a half in a movie theater, it should challenge you". Dan benar saja, memandangi layar putih dengan dentuman dari loudspeaker seperti ditantang dan diajak mengarungi apa yang tersaji di depan mata.

Akhir 2007, untuk pertama kalinya saya menonton film sendirian dan film yang beruntung itu adalah I Am Legend, dan di tahun itu pula saya mengenal facebook dan bergabung di grup sebuah majalah, Cinemags. Sejak itu, rutinitas setiap bulan untuk membeli majalah selalu dilakukan walaupun kadang harus memangkas uang jajan dan berpasrah untuk tidak jajan berlebihan. Haus akan film membuat saya semakin tertantang. Menonton Transformers membuat saya kagum bukan tanpa alasan. Film ini mengajarkan saya jika ilmu bukan cuma seperti yang saya dapati selama ini. Ilmu dan juga teknologi ada di belakang pintu yang bernama seni peran, dan film secara umumnya. Komputerisasi yang sudah mengglobal seperti sekarang ini semakin memudahkan sineas untuk memacu dan mengendalikan perbioskopan dunia dengan film mereka masing-masing dalam hal memamerkan bakat dan imajinasi. Perlahan namun pasti, walaupun masih berada di jalur mainstream, keistimewaan yang melingkupi jajaran film mulai saya kuasai.

Steven Spielberg, Martin Scorsese, Roman Polanski, Michael Bay, dan sutradara lainnya dengan segala tetek bengek film lama dan baru mereka banyak memberikan kesan yang mendalam untuk saya pribadi. Salah satu dan yang paling baik menurut saya hingga sekarang adalah Babel hasil tangan Alejandro Gonzales Innaritu. Bagi saya, film itu sangat personal dan 100% positif. Tangisan yang keluar saat meratapi film itu bukan sebagai arti jika saya lemah dan film itu hanya menyajikan hal tearjerker semata, tapi lebih dari itu. Terhitung itulah, saya tidak hanya berkutat ke film yang menghibur saja tapi juga ke film yang selain menghibur, tapi juga berisi, dan mendidik. Jujur saja, dari film inilah yang membuat mata saya tidak lagi buta akan dunia. Dari Saving Private Ryan saya dapat gambaran singkat bagaimana perang yang sesungguhnya. Forrest Gump memupuk rasa optimisme yang tinggi, dsb..

Sebetulnya, genre favorit saya adalah drama, tapi tidak menutup kemungkinan bahwa saya juga menyukai jenis film lainnya. Hanya saja, bobot rasa suka ke drama, apalagi biopik, jauh lebih besar ketimbang genre lainnya. Mengapa demikian? Karena film full drama seringkali lebih masuk di akal dan sangat manusiawi dalam artian nyata. Terlebih lagi biopik yang berjuta kali lebih banyak manfaatnya. Sebelum 'hidup' di dunia film, saya tidak tau siapa itu Truman Capote, Alfred Hitchcock, Harvey Milk, dan Idi Amin. Berkat mediasi ini dan berbagai film yang mengungkapkan secara bijak orang-orang terkenal dan berpengaruh di eranya membuat saya tidak begitu norak jika diajak membahas kaum bersahaja tersebut. Saya sudah tiga kali menonton Amadeus, sebuah film biopik musikal langka. Mengapa saya sebut langka? Karena film tentang Wolfgang Amadeus Mozart tersebut jika diibaratkan sebuah menu makanan, maka Amadeus adalah menu komplit. Mulai dari tata busana, musik, direksi dan dekorasi seni, akting, hingga make up dan naskah saling berkesinambungan dan melengkapi dan menjadi satu film secara utuh.

Alfred Hitchcock: "In feature films, the director is a God; in documentary films, God is the director". Quote itu sangat mutlak benarnya dan saya sampai sekarang belum bisa menemukan letak nikmat dari menonton sebuah film dokumenter. Oleh sebab itu, seingat saya hingga detik ini belum ada satupun film dokumenter yang saya tonton. Walaupun keinginan menonton The Cove dan March of Penguins sudah sangat membuncah. Memang, mungkin sebagai penikmat film yang bijak tidak boleh mengotak-kotakkan sebuah sub-genre, tapi secara pribadi saya sekarang memang belum 'membutuhkan' film yang berpola dokumentasi tersebut. Makanya saya juga tidak begitu suka film-film yang memakai teknik serupa, seperti beberapa film horor yang merekam langsung adegan nyatanya.

Berbicara cita-cita dan prospek di lingkaran ini, saya seringkali berkeinginan mejadi seorang penulis naskah ataupun aktor. Karena saya mampu menjalani 2 profesi itu secara beriringan. Sayangnya, dengan minimnya organisasi sejenis dan wadah yang tidak memadai di kota saya membuat saya berhenti sejenak di tempat dan menunggu aba-aba jika memang ada yang menyuruh jalan kembali. Akting telah menghipnotis dan mengajak saya ke alam bawah sadar. Bagi saya, menyumbang roh untuk menghidupi suatu tokoh itu adalah tantangan. Bagaimana kita merubah watak menjadi orang yang kita tidak kenal sama sekali. Mungkin, jika ada kesempatan untuk mementaskan suatu drama, chance itu tidak akan saya sia-siakan.

Sebagai penutup, menjajaki sebuah forum di mana saya sendiri nyaman mendalaminya, sudah pasti akan membekas dan menghadiahi sebuah pengalaman yang luar biasa. Saya tidak sedang menggombal karena saya merasakannya sendiri secara langsung. Atribut dan komponen yang terkandung di dalam labirin yang bernama film memang telah berkumpul menjadi satu membentuk elemen utuh untuk saya pribadi sebagai barang konsumsi yang suatu saat akan menjadi barang produksi. Mudah-mudahan, jika Tuhan melebarkan jalan setapak di depan saya ini, rangkaian partikel yang saya sebut doa selama ini bisa diselaraskan dengan tujuan postif dan hasil yang menggembirakan. :)


This side project is presented by ours: (click the name!)

Merista Kalorin, Lucky Ramadhan, Bahana Damayana, Algitya Pratomo, Natanael Christianto, Heru Chrisadi, Arief Noor Iffandy, Tyas Indanavetta.

The Perks of Being A Wallflower (2012)


Director: Stephen Chbosky
Cast: Logan Lerman, Emma Watson, Ezra Miller, Paul Rudd, Joan Cussack
Rate: 4/5


Masa lalu memang paling enak untuk diungkit, terutama pada kenangan-kenangan yang masih bermotifkan cinta dan sahabat. Kadang kala, apa yang telah kita perbuat bisa dijadikan bahan renungan dan imajinasi serta acuan untuk berbuat lebih baik lagi. Dan entah kenapa, menonton The Perks of Being A Wallflower seperti memutar kembali memori saya ke tahun ketika saya masih mengenyam pendidikan di bangku SMA. Tempat di mana saya mengenal betul bentuk seorang teman, mencicipi hasrat anak muda dalam bercinta, serta menimbulkan keonaran serta memunyai rahasia besar yang tidak ingin orang lain mengetahuinya. Bernostalgia lewat film adalah salah satu cara paling indah, apalagi film ini disuguhi dengan cerita yang sangat remaja sampai-sampai lagu pengisi filmnya pun bernafaskan anak muda sekali.

Logan Lerman memerankan tokoh geek and jerk di sekolah barunya. Melewati masa kelam di mana menjadi bahan olokan membuat ia semakin minder dengan posisinya di bangku SMA. Sebagai wallflower, akhirnya ada seorang guru yang membaca bakatnya untuk menjadi seorang penulis. Tak lama, Charlie berteman dengan Patrick dan Sam, kakak beradik tiri yang juga menjadi partner di kelasnya. Hidup Charlie mulai berubah terlebih dengan begitu eksistensinya terlihat oleh teman-teman yang lain. Di perjalanan persahabatan mereka, fase menyebalkan kembali muncul saat percintaan tak seimbang hadir di tengah mereka. Cinta terlarang yang juga menjadi bumbu film ini semakin meningkatkan dan menguatkan cerita serta blunder kekecewaan di masa remaja. Ending yang sangat indah menambah keistimewaan film yang diangkat dari novel berjudul sama ini.

Yap, film ini disadur dari sebuah novel karangan Stephen Chbosky yang juga menyutradarai dan membuat naskah untuk film ini. Peran banyak Stephen untuk film ini berkhasiat sekali. Ia seakan tau apa yang harus diperbuat dalam mengimplementasikan tulisan di karya sastranya. Dan memang benar, hasil akhir film ini menjadi kuda hitam dan diperbincangkan di ajang-ajang perfilman manapun. Semangat keremajaan yang dirangkai sangat manis memang menjadi kekuatan utama filmnya. Propaganda dalam hubungan sejenis dan tak sejenis sebagai bab penyedap untuk dieksploitasi semaksimal mungkin. Menggunakan sudut pandang  orang pertama, film ini memang terasa sangat hidup. Kemudian adalah porsi tata busana yang menghiasi layar sepanjang film. Sangat pas di jamannya walaupun kita tidak diberi tahu secara eksplisit kapan film ini mengambil seting waktunya.

Film ini beruntung memiliki aktor-aktor muda berbakat yang berhasil menghidupi peran mereka masing-masing. Logan Lerman sebagai tokoh utama sekaligus narator sukses menjiwai karakternya sebagai seorang yang geeky dan linglung dalam bersosialisasi. Emma Watson yang sudah melepas almamater Hogwarts-nya pun berhasil menjadi yang tercantik di film ini berkat akting dan pesonanya. Namun, tanpa mendiskreditkan keterlibatan aktor lainnya, penampilan yang paling berkesan muncul dari seorang Ezra Miller. Sehabis membantai keluarga di filmnya terdahulu, Miller merubah watak menjadi seorang yang sangat berbeda. Bahkan, di film ini akting Miller dipuji dan mampu bersanding dengan aktor-aktor besar lainnya untuk ikut di ajang-ajang film pra-Oscar belakangan ini. Kolaborasi mereka melengkapi film ini secara keseluruhan. Persahabatan yang niscaya akan membuat penonton kembali ditarik ke masa lalu. Begitu manis dan memukau.

Cukup memuja film ini, dan susah mencari kelemahan dari film ini. Kemampuan bercerita yang jauh dari kesan mendikte di film ini adalah alasan kuat mengapa film ini menjadi sangat mudah diterima penonton di seluruh dunia. Aura positif di segala aspek telah berhasil memberi nilai bagus untuk film ini di bawah kepemimpinan sutradara yang masih minim di dunia penataan kamera ini. Quote manis dari film ini: We accept the love we think we deserve, memang kunci dari film ini. Memaknai cinta yang pantas kita dapat dan layak kita cintai.  Jika tahun lalu Flipped muncul dan mengejutkan karena temanya yang unik, tahun 2012 ini kita punya The Perks of Being A Wallflower dengan tingkat kematangan yang pas dan layak dikonsumsi siapa saja. Happy watching!

by: Aditya Saputra