Jumat, 19 November 2010

Harry Potter and the Deathly Hallows part. 1 (2010)

Director : David Yates
Cast : Daniel Radcliffe, Emma Watson, Rupert Grint, Ralph Fiennes, Bill Nighy, Alan Rickman, Tom Felton, Brendan Gleeson, Helena Bonham Carter
Rate : 3,5/5


Mula-mula saya ingin menekankan satu hal: saya bukan pembaca novel seri Harry Potter. Jadi apapun yang saya ulas ini adalah sudut pandang dari seorang non-reader yang ikut serta masuk dalam dunia sihir rekaan J.K. Rowling ini. Bahkan, saya mencoba untuk menilai film ini seobjektif mungkin walau nantinya ada satu-dua hal yang dirasa sangat subjektif. Jujur saja, pertama kali saya mengenal sosok bocah jago mantra ini saat tahun 2007. Waktu itu tidak sengaja mendapat tiket The Order of Phoenix padahal niat saya nonton Ratatouille. Mungkin waktu itu saya kurang fokus, sehingga saya tidak begitu mengerti akan seluk-beluk persekolahan sihir tersebut, namun satu poin yang tidak bisa dipungkiri adalah saya sangat kagum dengan apa yang tersaji selama 2 jam lebih tersebut. Lewat dekorasi setingnya. Sejak itu pula, akhirnya saya mendapat kesempatan untuk menyaksikan keempat sekuelnya walau cuma lewat layar kaca.

Cukup curhat dan basa-basi saya. Begini, seperti yang saya sebut di atas, saya sebagai bukan-pembaca mungkin akan merasa kehilangan arah untuk merunut subbab-subbab yang terangkum dalam dunia Hogwarts ini. Bisa jadi terlalu banyaknya tokoh serta perombakan karakter di setiap tokohnya yang membuat saya jengah tentang isi seri ini sendiri. Dan melanjuti mata rantai yang telah dimulai lewat The Sorcerer's Stone, Deathly Hallows mungkin akan menjadi anti-klimaks karena bagian pertama ini adalah pecahan dari satu novel yang dibelah menjadi 2 film. Cerita berlanjut paska kematian Albus Dumbledore yang mengharuskan trio Harry-Hermoine-Ron menghancurkan sisa Horcrux. Yah, aral rintangan yang mereka hadapi termasuk berat. Selain harus menghindar dari serangan Snatchers, mereka pun harus mengolah taktik untuk tidak masuk perangkap sang ketua Death Eaters, si You-Know-Who.

Sinopsis terlalu singkat? Sengaja! Karena niat saya me-review film ini bukan untuk merangkai jajaran cerita yang hampir keseluruhan fans sudah mengenal dengan sangat baik. Deathly Hallows, sebuah awal dari prosesi penghujung cerita saya nilai sudah hadir dengan sangat baik. Entah kenapa, segala hal yang terpampang telah menghipnotis saya; terutama untuk bagian audio visual. Mulai dari set dekorasi tadi hingga kostum, tata efek, musik, editing, serta intensitas sinematografi yang sangat menunjang satu sama lain. Betapa menyenangkan melihat pengorbanan seluruh kru agar merombak seri ini menjadi sangat mengagumkan. Tidak kacangan melainkan artistik.

Untuk paket film sambungan, David Yates jutru berjasa besar. Sisi drama, komedi, romantis, serta aksi diplot dengan tidak berlebihan. Malah, Yates berani berimprovisasi sedemikian rupa agar tidak adanya kemiripan dengan versi novelnya. Gabungan unsur-unsur tadilah yang menyebabkan tidak adanya pelencengan tujuan untuk setengah awal novelnya. Terbagi dengan rapi, rentetan perjalanan trio juga dibuat dengan begitu kelam, penuh petualangan yang berencana. Jangan lupakan ini: masalah internal di antara ketiganya yang dieksploitir dengan penuh makna. Kecemburuan yang membabi buta. Dan juga ketika mereka harus kehilangan sosok yang mereka sayangi, seperti misalnya Mad Eye, Hedwig dan si lucu Dobby.

Saya belum menilai para pemainnya? Sudahlah, mereka di sini bermain sangat bagus. Kalau boleh, saya ingin memberi kredit khusus untuk Rupert Grint, Helena Bonham-Carter, dan Ralph Fiennes yang menghadirkan kualitas akting di atas rata-rata. Rupert dengan muka blo'onnya sukses menjadi pemicu komedi sekuens, Carter untuk teritori kekejaman verbal, serta Fiennes dengan seringai khasnya.

Setelah ini, saya berniat untuk mencicil membaca keseluruhan novelnya. Maksud saya cuma satu: alangkah sempitnya hidup saya jika hanya mengenal sosok fiksi ini hanya lewat tampilan gambar bergerak. Untuk pemuja kegemilangan rangkaian seri ini, Deathly Hallows sangat tidak mengecewakan dan untuk yang biasa-biasa saja menanggapi euforianya, silahkan terpukau saat Anda duduk manis di bangku studio. Karena isu global sekarang ini tentang Harry Potter benar adanya jika saga ini benar-benar menghibur dalam artian luas. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar