Minggu, 02 Oktober 2011

Transformers: Dark of the Moon (2011)


Director: Michael Bay
Cast: Shia LaBeouf, Rosie Huntington-Whiteley, Josh Duhamel, Frances McDormand, John Malkovich, John Turturro, Patrick Dempsey, Tyrese Gibson
Rate: 2,5/5


Michael Bay mempersembahkan tontonan yang jauh dari kesan bergizi dengan tampilan dan polesan yang sangat menarik perhatian siapa saja yang melihatnya. Kali ini datang dengan plot cerita yang diharapkan berbobot dan kedatangan artis pendatang baru dengan penampilan bohay namun nilai minus untuk aktingnya. Tunggu, nilai minus bukan untuk dia saja, tapi untuk keseluruhan filmnya. Kasar, hah? Biarlah, memang sudah terbukti dengan nyata jika kualitas franchise ini bak kacang goreng yang sekali makan tapi sulit buat mengenyangkan hasrat perut. Robotnya makin banyak, aksinya makin cihuy, gerakan gambarnya makin memesona, efek suaranya semakin mendentum, embel-embel 3D di ujung judulnya, Shia nya udah kerja di kantor, banyak bunyi transformasi yang bikin ngilu buat didenger. Tapi tetep, nilainya gak mampu lebih dari 5. Angka merah, Bay!

Seperti yang disinggung sebelumnya, film ini sangat brutal untuk adegan perkelahian antar robotnya. Jadi, keterlibatan para serdadu manusia di film ini jauh dari kata menarik dibanding robot war-nya sendiri. Memang, ada beberapa sequence yang memompa adrenalin saat mereka--para manusia tadi, menyelamatkan diri. Sebagai penghibur belaka. Nilai sempurna jelas ditujukan buat sumbangsih para kreator CGI-nya yang dengan sukses membuat film ini tidak menjadi lebih sebagai obat tidur. Terus terang, drama panjangnya sungguh membosankan.

Shia dengan joke-nya yang semakin garing, lupa bagaimana menjadi sosok penting saat di film pertama. Kekonyolan yang tak bisa dibendung lagi tentu saja kehadiran orang tuanya yang maunya mengocok perut tapi jatuhnya krenyes tanpa isi. Bombastisnya, kita diberi hadiah pembuka oleh Bay, tepat sebuah anugerah indah dari kemolekan Rosie. But hey, bahkan bibir Megan Fox jauh lebih menggoda dari itu. No offense.


Untung saja, Bay seakan bisa membaca lahan kosong yang harus ditempatkan oleh orang penting agar filmnya tidak terkesan murahan. Sorry, filmnya jelas mahal, maksud saya agar tidak terkesan sangat buruk. Diberikannya slot akting untuk tetua seperti John Malkovich dan Frances McDormand jelas cukup membantu membuat neraca mutunya tidak jatuh bebas ke arah yang lebih buruk. Hitung kata buruk di postingan ini!

Bay, seperti umumnya yang kita tau, salah satu sutradara yang lebih menekankan kuantitas aksi daripada pusing memikirkan dampak kualitas ke depannya. Seolah sudah tau jika patung buah raspberry akan kembali dipegangnya. Sudahlah, semakin dikecam toh film ini semakin berjalan mulus di tol box office. Ditambah lagi dengan bantuan uang sewa kacamata tiga dimensi. Tapi, saat Bay mencoba membuat cerita sekalem The Island malah bisa dikatakan rugi. Padahal film itu saya nilai cukup menarik baik dari segi cerita maupun casting. Terbukti, label lebay sudah terpatri kuat di kening Bay. Pearl Harbor dan Armageddon contoh kecilnya.

Trannsformers tidak serta merta menjadi produk sampah, bahkan jauh dari kesan sampah itu. Sampah mana yang bisa menghasilkan uang ratusan juta dolar, coba? Dilengkapi dengan audio visual yang mencengangkan mata dan telinga dan juga soundtrack khasnya, Transformers: Dark of the Moon sangat cocok sebagai plural hiburan. Menyenangkan memang jika pertempuran dahsyat yang terpampang di film ini (dan di kebanyakan film aksi Hollywood) tidak terjadi di Indonesia. Biarlah mereka saja yang cemas bagaimana situasi itu terjadi. Simpan logika saat menonton film ini, tipiskan selera humor, niscaya, film ini sangat amat layak ditonton. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Water for Elephants (2011)


Director: Francis Lawrence
Cast: Reese Whiterspoon, Robert Pattinson, Christoph Waltz, Hal Holbrook
Rate: 3/5


Beberapa bulan yang lalu, saya membaca sebuah novel yang berisikan seluk beluk dunia sirkus. Salah satu tema dan dunia yang jarang disentuh oleh penulis. Kehidupan keras yang menyelimuti aneka ragam dari layar belakang panggung sirkus tersebut, ditelaah dengan sangat lugas di novel karang Sara Gruen tersebut. Water for Elephants, judul buku tersebut yang akhirnya diterjemahkan lewat untaian pita seluloid tahun ini dengan menghadirkan pesona vampir masa kini, Robert Pattinson. Agak riskan memang saat saya mendengar kabar jika si vampir ini akan bermain drama, apalagi akan didampingi oleh aktor sekaliber OScar semacam Resse Whiterspoon dan Christoph Waltz. Yah, nasi sudah menjadi bubur, dan Rob akhirnya menjadi tokoh utama yang diharapkan mampu mengimbangi filmnya ke jalur yang lebih baik.

Sialnya, tidak. Apa yang terkisah di filmnya sangat jauh dari harapan dan dugaan saya ketika saya membaca novelnya. STOP!! Dari casting-nya saja saya sudah punya bayangan jika Rob adalah miscast. Ternyata benar. Sosok karismatik, pintar, dan pendiam seperti Jacob di lembaran kertas novelnya seakan melenceng jauh dengan panorama akting yang dibawakan oleh Pattinson. Saya tidak bilang buruk, tapi sangat disayangkan--jauh dari kesan memorable. Jadi, apa yang telaph ditopang oleh Whiterspoon dan Waltz hilang tanpa bekas. Belum lagi, sang scriptwriter dan sutradaranya membuat kesalahan dengan tidak menyertakan adegan-adegan penting di novelnya untuk dilibatkan di filmnya. Tujuannya mungkin dibenarkan, yaitu agar terlihat mampu berdiri sendiri tanpa anekdot dari cerita aslinya. Tapi kalau sudah begini, tujuannya jadi tidak dibenarkan sama sekali. Soalnya, cerita yang terpampang dengan sangat cantik dan membumi itu sudah lebih dari cukup untuk diolah kembali sedemikian rupa demi kepentingan uang dan keegoisan ide pikir.

Jacob, seorang pelajar yang tidak selesai sekolahnya mencoba peruntungan dengan mengikuti perjalanan sebuah parade sirkus. Singkatnya ia bertemu dengan banyak manusia 'aneh' dalam bertingkah dan tentu saja Marlena dan August, sepasang cinta yang sebenarnya berlabel tidak saling mencintai. Kedatangan Jacob yang semula kurang berguna perlahan menjadi sosok penting karena selanjutnya diketahui jika ia cukup mahir dalam mengobati binatang. Tak lama, grup sirkus ini kedatangan si bintang utamanya, Rosie--seekor gajah yang berperilaku unik karena mampu berkomunikasi dengan manusia dalam bahasa Polandia. Dalam hal ini, Jacob lagi-lagi cumlaude berbahasa negara itu. Permasalahan muncul tepat saat August mulai menampakkan sifat asilnya dan beringas terhadap para binatang-binatang sirkus ini.

Inilah yang kata saya sangat disayangkan. Beberapa hal utama dalam novelnya kurang tergali dengan sangat intim. Keterlibatan para animalia ini seharusnya berpotensi menyegarkan mata penonton yang sudah kelewat lelah menyaksikan drama klisenya belaka. Keikut-sertaan Rosie sang gajah serta amuk massal saat pagelaran juga kurang dieksplor lebih. Kalau boleh memuji, art direction dan tata busana film ini terbilang kolosal dan cukup mewakili apa yang didongengkan penulis novelnya. Cuma itu saja kesalahan, kurang dieksplorasi apa yang terkandung di jiwa bukunya.

Terlalu memaksa memang jika memaksakan kehendak sendiri agar apa yang tersaji di filmnya harus 100% real dari novelnya. Tidak begitu juga, saya sebagai penonton yang sudah membaca bukunya, memang mengahrapkan suatu gejolak emosi dan mungkin perasaan gundah yang sama. Okelah, sebut saja sutradaranya memang belum ahli dalam menggodok emosi penonton, dan sebut saja Robber Pattinson salah satu tumbal yang membuat film ini semakin enggan ditonton, namun jangan lupakan penampilan menarik dari sosok Reese dan Waltz yang sudah bermain cukup bagus. Mampu menghalau penampilan seadanya dari Pattinson dan ekstra lainnya. Satu poin penting film ini adalah, film ini membagi dua babak dimana pertama saat Jacob mengalami masa keemasan dan kepudarannya, dan kedua saat ia mulai renta di panti jompo menunggu sekelompok sirkus siap menerimanya kembali.

How pity, this movie is not as big as the elephant. It's not as strong as the horse, neither. The plus is, setidaknya kita sedikit mendapatkan ilmu tentang bagaimana dunia sirkus itu sendiri. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Senin, 16 Mei 2011

Blue Valentine (2010)


Director : Derek Cianfrance
Cast : Ryan Gosling, Michelle Williams, Mike Vogel
Rate : 4/5


Tentang apa Blue Valentine ini? Sekilas membaca judulnya, sudah jelas bobot utama yang diutarakan adalah lagi-lagi masalah cinta. Tagline-nya dengan tagas menyiratkan 'A Love Story' yang tertuju pada hubungan cowok-cewek dengan aroma romantisme di mana-mana. Tapi, setelah film dibuka dengan alur yang maju-mundur-maju, dan detik terakhir akhirnya berhenti, kita selanjutnya tau jika Blue Valentine bukan kisah klasik parade cinta anak abege. Jelas ini sudah berada di level atas, tingkat dewasa, kasta bermutu tinggi. Menyaksikan Blue Valentine sangat jauh berbeda saat kita menonton Before Sunrise/Sunset apalagi The Last Song. Ini lebih ke Revolutionary Road. Tidak ada warna-warna terang sepanjang film ini, sebuah membaur. Gelap, pekat, menyimbolkan cerita dan karakternya sendiri. Kegelisahan.

Dean dan Cindy adalah pasangan muda yang telah memiliki seorang anak. Hubungan mereka aem ayem saja sampai akhirnya kedua pribadi saling bermasalah dengan rasa otoritas. Masing-masing mulai meunjukkan rasa 'semau gw', dan mulai menyingkirkan rasa kasih sayang serta cinta yang telah mereka bina bertahun-tahun ke belakang. Flasback yang mengikuti alur bagaimana mereka bertemu, berkenalan, megalami cinta segi tiga, bercinta, sampai ujungnya menikah diperlihatkan dengan sangat cantik tapi kesan perih juga tak bisa dilepas. Kenapa saya bilang begitu? Pecahnya aroma rumah tangga mereka memang dimulai dari percintaan di masa remaja mereka. Saya nilai mereka tidak diharuskan menikah, cukup menjalin hubungan 'pacaran' setelah itu bubar jalan. Karena dari awal, rasa cinta mereka hanya kabut sesaat.

Jika Anda jenis penonton yang mengharapkan adegan menye-menye, lebih baik urungkan menonton film ini. Blue Valentine penuh dengan intrik, rasa depresi serta dialog-dialog ekstrim yang susah sekali diartikan secara umum. Percakapan antara Dean dan Cindy cukup dalam alias sulit ditelaah begitu saja. Adegan-adegan yang menyelimuti film ini juga sangat dewasa, dalam artian sesungguhnya. Adegan nudity, seks, serta amarah remuk-redam ditampilkan sang sutradara dengan sangat jujur dan lugas. Dengan penuhnya adegan non-semua-umur tadi film ini pernah diganjar rating NR17 sampai diberi keleluasaan dengan menyandang rating R. Kekuatan utama itu juga terletak pada kelihaian editing filmnya mengatur adegan flashback dan flashforward sehingga menjadi lebih renyah untuk disantap.

Musik yang mengalun film ini juga sangat indah. Banyak lagu-lagu pemuja cinta mengalir sepanjang film berjalan. Mengiringi adegan serta dialog yang luar biasa indah juga. Terlebih lagi dengan tingkat musik yang menyulap salah satu adegan kekerasan di rumah sakit menjadi lebih kelam. Adegan tadi meracuni penonton jika hubungan cinta itu tidak selalu berasa valentine, namun bisa saja menjadi halloween. Permainan asik ditunjukkan oleh duo Michelle Williams dan Ryan Gosling. Keintiman keduanya berhasil membentuk paralel akting yang sangat dahsyat. Performa keduanya baik dalam kondisi yang sendu maupun saat mereka beradu argumen ataupun hubungan fisik, tidak ada cela. Ini juga asalan yang membuat mereka melanjutkan relasi keduanya di luar film. Great actors!

Film ini sangat cocok ditonton oleh pasangan yang ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan. Mungkin, film ini bisa memberi sedikit masukan betapa suramnya dua menikah itu saat kita membuka pintu gerbangnya. Kita bisa membuat dunia itu dua: nyaman atau berantakan. Kenyamanan yang mutlak itu bukan hanya berasala dari diri pribadi, tapi juga ada campur tangan unsur luar. Berantakan? Satu-satunya penyebabnya adalah kesalah posisian diri pribadi dalam menempatkan sebagai pelakon rumah tangga. Blue Valentine is too nice to be true. Happy watching!

by: Aditya Saputra

The Kids Are All Right (2010)


Director : Lisa Cholodenko
Cast : Annette Bening, Julianne Moore, Mia Wasikowska, Mark Ruffalo, Josh Hutcherson
Rate : 4/5


Tiap tahun pasti ada saja film bagus yang berasal dari tangan sineas pinggiran. Lisa Cholodenko yang mengaku jika The Kids Are All Right terinspirasi dari kehidupan pribadinya, yang mana memang membuat film ini jauh lebih personil dalam artian tidak meluber ke mana-mana. Titik fokus yang diperlihatkan memang kiasan cinta, tapi taburan sisi-sisinya juga yang menjadikan lebih spesial. Menyingkirkan opsi cita tadi, LIsa menyisipkan pesan singkat bagaimana cara bergaul, relasi sejenis dalam satu atap, hubungan keluarga, serta kepercayaan diri masing-masing. Memang Lisa tidak sendiri menulis skripnya, tapi kebolehannya memadu-padankan intrik tadi harus kita apresiasikan. Saya tidak kenal siapa itu Stuart Blumberg, tapi yang jelas karyanya ini begitu menyentuh.

Nic dan Jules adalah pasangan sejenis yang hidup dengan dua orang anak. Nic 'menelurkan' Laser, sedangkan Jules beranak seorang Joni. Saat kedua anak tersebut menginjak umur 18 tahun, mereka mulai menguntit, dari sperma siapa mereka berasal. Semula, pertemanan mereka dengan pemberi bibit ini diduga biasa saja. Namun kehadirannya memberikan dampak lain. Kehidupan rumah tangga Jules dan Nic mulai ada sedikit singgungan. Anak-anak mulai membangkang, dan Jules serta merta butuh seks yang berbeda dan sialnya itu ada pada diri Paul (sang pendonor sperma tadi).

Ketika saya tahu ada siapa saja yang bermain dalam film ini, dan nama Annette Bening muncul, ketika itu pula saya memasukkan film ini dalam list wajib tonton. Bukan apa, Annette salah satu aktris Hollywood yang selalu stabil dalam memberikan suguhan aktingnya. Tak terkecuali di sini. Sebagai Nic, si 'pejantan' rumah tangga ini benar-benar bermain cemerlang. Tampilan depresi, cemburu, lucu, serta perasaan sayang ditumpahkannya begitu saja. Chemistry yang menawan dengan Julianne Moore semakin memperkuat cita rasa film ini. Moore bukan hanya sebagai pendukung, tapi juga poin penting bagaimana film ini menjadi sangat hidup. Ruffalo yang jarang bermain santai, kali ini cukup memberikan pesona yang berbeda. Inilah mengapa Ruffalo dilirik juri Oscar untuk slot nominasi aktor pendukung terbaik.

Film ini sendiri memang jatuhnya hanya sebagai sebuah film keluarga dengan intrik cinta perselingkuhan di dalamnya. Kerennya, naskahnya tadi tidak terjebak pada kubangan tadi. Dengan cerdik, penulis naskah kita berhasil melemparkan dialog-dialog lucu sarkastik yang sangat memorebel. Selain itu juga, penempatan karakter yang tidak hanya tempelan dalam dunia film belaka. Ini bisa saja terjadi di kehidupan kita (oke, kecuali dunia lesbi satu atap), lengkap dengan segala permasalahannya. Namun sayangnya, ada sedikit kekurangan The Kids Are All Right yang mungkin sedikit fatal. Mengapa Jules diibaratkan sebagai perempuan murahan dengan mudahnya jatuh cinta kepada Paul? Padahal hubungan Jules dan Nic sudah terhitung belasan tahun. Walaupun tidak dipaparkan dengan jelas, The Kids Are All Right tetap tidak kehilangan tajinya.

Lisa Chodolenko berhasil bermain dalam area kerasnya Hollywood dan sukses bersebelahan dengan film-film sineas besar semisal True Grit dan Inception. Dengan tema sederhana plus kandungan feminis dan sensualitas yang cukup pakem, The Kids Are All Right terpuji berkat sederetan akting pemainnya dan dipuji karena naskah apiknya. Pesan singkatnya: cinta memang bak sekeping cokelat. Bentuknya menggugah perhatian, aromanya menusuk indera pembau, rasanya menggigit lidah yang mengunyhnya, tapi sekali kena uap panas sekecil apapun suhunya, cinta pasti cepat melumer. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Jumat, 15 April 2011

The Fighter (2010)


Director : David O. Russell
Cast : Mark Wahlberg, Christian Bale, Melissa Leo, Amy Adams
Rate : 3,5/5


Mengapa dunia tinju selalu menarik perhatian para sineas untuk dipresentasikan ke pita seluloid? Latar belakang sang petinju yang 'gelap gulita'? Kedigdayaan sang petinju di singgasana ringnya? Atau masalah pelik dengan lingkungan baik keluarga maupun lingkungan? Apapun itu, dunia pertinjuan seakan membuka mata kritikus lebar-lebar jika tema seperti ini senantiasa bisa dijadikan 'sarapan' di pagi hari ataupun 'pencuci mulut' sebelum tidur. Martin Scorsese pernah memberi Oscar kepada Robert DeNiro, begitupun dengan Clint Eastwood yang menyumbang Oscar lagi untuk Hilary Swank. 2010 kemarin, David O. Russell yang pernah membuat kita sedikit terkesima lewat Three Kings-nya, sekarang ia mengajak kita ke pinggiran kota Amerika dan melihat perjalanan singkat dari petinju Mickey Ward.

Bersama sang kakak, Dicky Eklund, Mickey seakan 'mengemis' mencari sponsor untuk mengajaknya bertanding di atas ring. Eklund yang dulunya juga sempat menjadi primadona ring sekarang malah bobrok gara-gara kelakuannya mengkonsumsi barang haram dan candu akan wanita. Namun, ada ibu mereka yang sedikit otoriter yang menjadi manager bagi Mickey. Keegoisannya sempat menjadi jurang pemisah bagi kisah cinta Mickey dan seorang gadis pintar pelayan bar, Charlene Fleming. Permasalahan mulai muncul, Dicky harus mendekam di penjara, Dicky mengalami yang namanya depresi pengembangan diri. Yah, untung saja masih ada Charlene yang selalu memberi dorongan kepada Dicky di samping juga harus kembali mengatasi egosentris sang ibu. Roda berputar, Mickey berjaya.

Ya, David O. Russell yang selama ini hanya bermain di sektor aman, sekarang sudah berani menjamah bagian kiri festival. Walaupun nantinya kritikus tidak memenangkan film ini, setidaknya The Fighter punya taring cukup tajam yang pantas ditakuti pesaingnya. Apa yang membuat The Fighter menjadi begitu berkesan? Pertama adalah penuturan dramanya yang tidak menimbulkan kesan boring. Kita memang disajikan tampilan yang terkesan old-school, namun berkat David yang menjaga kestabilan emosi dari awal hingga akhir. Beliau tau kapan klimaks harus diberikan kepada penonton, kapan adegan tak begitu penting dimunculkan. David yang mengatur pula bagaimana isi naskah dari sang penulis juga sukses men-shoot posisi kamera agar indah dilihat. Contohnya adegan bertinju saja. Memang saya nilai adegan adu jotosnya tidak seglamor dan sekeras pendahulunya, Cinderella Man misal, tapi David tidak membodohi penonton dengan upper cut abal-abal. Singkat, sederhana, tapi tetap menggigit.

Mark Wahlberg memberikan penampilan terbaiknya. Bahkan lebih bagus daripada dia mengumpat habis-habisan di The Departed. Lihat raut mukanya yang memendam berbagai pertanyaan hidup. Amy Adams tak kalah hebat. Gadis beringasan dan mau menang sendiri diimplementasikan dengan cukup cantik. Doubt dan Junebug-nya beralasan. Christian Bale dan Melissa Leo menang Oscar dari film ini. Dan mereka pantas mendapatkannya. Bale yang rela beranoreksia ria sungguh bermain tanpa cacat. Pesona Eklund yang urakan dan kumel seperti sudah ditakdirkan untuk dirinya. Leo tak kalah hebat, sosok ibu yang peduli akan kasih cinta anaknya sama kuatnya saat ia juga harus memberi perhatian lebih kepada bocah-bocahnya di Frozen River. Yah, tugas casting director untuk film ini ditata sempurna!

My verdict: The Fighter mempunyai point of view yang kaya dalam memberikan amanatnya. Kesimpulan sebuah film memang jatuh di tangan penonton masing-masing. Bagi saya, film ini memaparkan kisah kasih keluarga dengan sangat murni lewat tampilan buram kerasnya. Tidak menjelaskan secara frontal tentang hubungan sedarah tapi tak kandung ini. Dilengkapi dengan performa nomor wahid dari sang aktornya, mari kita masukkan The Fighter di list film-film bertema tinju berkualitas yang pernah ada. Happy watching!

by: Aditya Saputra