Sabtu, 14 Januari 2012

Mission: Impossible - Ghost Protocol (2011)


Director: Brad Bird
Cast: Tom Cruise, Jeremy Renner, Paula Patton, Simon Pegg, Michael Nyqvist, Lea Seydoux
Rate: 4/5


Kapan terakhir kali Anda melihat Tom Cruise memegang senjata dan mengejar musuh dengan kakinya sendiri? Knight & Day, bukan? Dan film itu seperti mencoreng nama Ethan Hunt yang kadung melekat di jidatnya sebagai aktor yang mampu menjadi agen bak James Bond. Sepanjang karir selebritasnya, terhitung Cruise sudah tiga kali memerankan sosok agen tampan yang mampu berkelana dan bertarung dalam kondisi apapun. Menjengkelkan memang melihat sosok Ethan yang tak pernah kalah dan dipuja para wanita di seluruh dunia berkat Tom Cruise. Tapi bagaimanapun juga, kehadiran Ethan di tangan Cruise memang pas badan, dan sukses menghantarkannya ke seluruh dunia sebagai aktor favorit hingga sekarang. Kini, berkat bantuan Brad Bird, untuk kali keempatnya Cruise mencoba berpetualang ke Dubai guna mencari untung sebesar-besarnya.

Filmnya jelas sudah meraup laba yang fantastis. Bukan berkat Bird maupun filmnya yang full aksi, tapi tunggal oleh Cruise. Tom Cruise ditambah action movie adalah big office, hal itu tak bisa ditepis. Sekalipun Brad Bird adalah pemegang Oscar lewat The Incredibles dan Ratatouille, tetap Cruise menjadi tersangka atas suksesnya Ghost Protocol. Cerita untuk filmnya sendiri secara umum hanya pengulangan dari tiga seri sebelumnya. Sosok Simon Pegg kembali diundang guna mengisi slot komedi dari dirinya, dan untung saja berhasil. Michelle Monaghan yang muncul sekelibatpun gunanya untuk menyambungkan tali dari serentetan seri sebelumnya. Kehadiran Paula Patton yang black-exotic-nya, serta Jeremy Renner yang siap mengambiul tongkat estafet dari Cruise memainkan perannya dengan sangat pas. Pemilihan pemeran antagonispun terbilang meyakinkan. Tidak hanya rupawan namun juga mampu berolah beladiri yang berhasil menyusun adegan laga menjadi enak ditonton, Lea Seydoux contohnya.

Tidak berlebihan, karena memang di film ini segala adegan aksi serasa dioptimalkan sekali. Dari awal mereka di Budapest hingga berakhir di Uni Emirat Arab lengkap dengan sandstorm-nya ditampilkan dengan sangat takjub. Efek yang membantu serta pesona gadget-gadget terkemuka diperlihatkan secara frontal guna menggelegar kuping dan mata penonton. Yah, penonton memang mengharapkan film aksi yang demikian. Alih-alih setengah-setengah dalam bertarung, Ghost Protocol malah melanjutkan tensi hingga terus menaik dari awal hingga akhir. Sekalipun hampir tidak ada dialog yang berbibit bobot yang signifikan, tetapi terbantu oleh tampilan megah film ini. Bird yang kita kenal hanya bergelut di dunia animasi, serasa menemukan pintu gerbangnya sendiri dalam menyetir film ini menjadi paket yang layak untuk diterusi franchise-nya.

Tidak ada yang salah dengan logika pada film ini. Meskipun banyak yang menyebutkan bejibunnya adegan lebay di film ini, toh tak sedikit juga yang berdecak kagum serta gemetaran melihat tokoh kesayangan kita dirundung kesusahan. Kekuatan komedik dari Pegg mungkin mampu meleburkan segala peluh keringat kala melihat Cruise memanjat dinding kaca berpuluh-puluh lantai tingginya. Mengatur nafas saat Renner bermagnet-ria, jika tanpa Pegg di belakangnya, mungkin kita lupa jika film ini adalah Mission Impossible. Terlalu mengharapkan yang lebih, padahal apa yang terpampang di layar sudah lebih dari cukup. Satu lagi ialah permainan musik dari Giacchino. Theme song legendaris dari MI yang ciamik itu diolah menjadi sentuhan yang segar dan membahana seisi studio kala itu. Pro dengan musiknya, pergerakkan kamera dari Robert Elswit sungguh dinamis. DoP favorit saya ini memang sudah membius dengan sorotan cemerlangnya saat mengambil gambar Daniel Plainview di tanah gersang lewat There Will Be Blood tempo hari. Di sini, kerja santainya mencerminkan kerja kerasnya.

Untuk suatu kemasan hiburan, Ghost Protocol bukan sembarangan film seri yang dibuat hanya demi uang semata. Walau kemungkinan alasan itu ada benarnya, tapi toh keleluasaan Bird untuk tidak mematikan tokoh Ethan Hunt sungguh patut diapresiasi. Belum lagi ini adalah live action movie pertamanya dan bagusnya, sukses besar. Paradigma Cruise yang menua dan kenyataan jika gadget semakin mengglobal, memungkinkan franchise ini akan terus berlanjut dengan atau tanpa Cruise berdiri di tengah poster. Tidak ada pesan terselubung selain si baik dan si jahat. Nikmati saja polesan visual yang memanjakan mata. Selesaikan dengan perasaan puas, dan Mission: Impossible is impossibly worth to be hated. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Jumat, 13 Januari 2012

Bridesmaids (2011)


Director: Paul Feig
Cast: Kristen Wiig, Maya Rudolph, MElissa McCarthy
Rate: 3,5/5


Banyak yang menduga sebelumnya jika film ini tak beda dengan kebanyakan komedi pernikahan pada umumnya. Menampilkan adegan slapstick dengan gaya humor Amerika yang sedikit jorok dan kasar, desilipin dengan romansa yang old-fashion, serta ending yang diharuskan bahagia. Sekalipun ada sososk nama Judd Appatow di dalamnya, juga tak menyurutkan pandangan penonton jika film ini tak jauh sebagai film wanita dengan unsur feminis yang berlebihan. Untuk satu hal tersebut, tidak ada yang salah. Bridesmaids memang mengarah dan akhirnya mengacu sebagai film romantis komedi yang bertutur keras pada pergolakkan wanita entah dari sisi negatif maupun positifnya. Yang menarik, sang empunya projek tidak meletakkannya sebagai tontonan wanita saja, karena terus terang, banyak hal lain yang mampu dipetik dari film ini, bukan sekedar gelak tawa.

Menimbulkan sebuah pertanyaan jika pada diri kita sendiri terbungkus rasa iri dan dengki yang berkecamuk melihat sahabat kita seperti tak mau lagi mendengar pendapat kita dan sebagainya. Menyesakkan dada jika lawan kita berasal dari kalangan super elit yang terasa mustahil buat ditaklukkan. Lebih nista lagi, jika hidup kita tengah ditudung masalah baik karir, keluarga, maupun dengan kekasih. Annie Walker adalah tokoh utama kita yang ceritanya sudah saya umbar sebagian dari beberapa penggal kalimat di atas. Hidup super slenge'an dengan tingkah yang hampir keseluruhan orang sekitarnya tidak menyukainya menyebabkan Annie menjadi sosok yang cenderung semau gw. Hingga pada akhirnya, sebuah pesta yang menentukkan arah hidup Annie dan bercermin pada keadaan tentang kesalahan fatal yang telah ia perbuat.

Yang cukup menarik dari film ini adalah patut disimaknya beragam karakter yang cenderung generik tapi tetap istimewa bagi penonton. Beberapa tokoh hidup di tangan aktornya masing-masing. Pembawaan mereka yang santai menghangatkan segala adegan yang ada. Mulai dari dialog lucu hingga yang bersifat intimpun menjadi suatu paket yang segar tanpa harus diselipi dialog-dialog super berat. Segala intrikpun memang sangat nyata, semua orang di dunia bisa saja terjadi seperti kondisi mereka. Naskah yang tersusun rapih inilah sungguh dicermati pembuat filmnya dengan bijaksana dan mengadu para aktor dan skripnya tadi untuk tetap stabil di hadapan kamera.

Penguasaan Kristen Wiig sebagai pemeran utama jelas nyawa terbesar untuk film ini. Tanpa dia mungkin keseluruhan paket tadi akan menguap begitu saja. Penampilan yang santai namun prima membantu menghidupkan film feminis satu ini. Kerja keras yang sepadan dengan dampak nominasi yang seliweran belakangan ini kepadanya. Appatow selaku isi kepala untuk filmnya kali ini tidak serta merta meninggalkan atribut kekocakannya yang biasa ia bawa untuk film banyolan khas prianya. Kali ini lewat bantuan badan perempuan. Feig yang sudah pengalaman lewat The Office selama ini, mengangkat Bridesmaids ke hasil yang mengagumkan untuk kalangan pemula di layar lebar.

Kendati hampir seluruh kritikus menyebut Bridesmaids film komedi romantis biasa-biasa saja, namun pesan dan kritik yang membalutnya mampu berbicara lebih dari itu. Isu persahabatan dan tema yang umum seperti cinta dan pernikahan ini memang masih menjadi tombak yang pas jika dibuat dengan bijaksana. Beberapa adegan yang terasa baru dan segar, serta bantuan menawan dari para pekerja aktingnya, mampu melahirkan Bridesmaids disukai pria dan wanita dan diplakat sebagai salah satu keluaran terbaik tahun 2011 kemarin. Bersanding di Golden Globe, meskipun tidak optimis untuk menang, setidaknya masih lebih pantas dipilih ketimbang The Tourist yang 'dipaksakan' ikut bersaing. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Minggu, 20 November 2011

Cars 2 (2011)


Director: John Lasseter, Brad Lewis
Cast: Owen Wilson, Larry the Cable Guy, Michael Caine, Emily Mortimer, John Turturro
Rate: 4/5


Mengapa saya masih menyukai Cars sedangkan para penonton yang lain merasa tidak puas dengan film bertemakan racing itu? Bagi saya, Cars bukan cuma memberikan kesederhaan cita-cita dan tujuan hidup tapi juga mengajarkan sedikit filosofi akna pentingnya sosialisasi serta pengaruh persahabatan dan orang sekitar bagi hidup kita. Mengingat ini sebuah animasi, ditambah lagi keluar dari perut Pixar, memang tidak menyalahkan jika banyak orang yang kurang puas dengan sodoran cerita yang amat klise dan jauh dari kesan orisinalitas yang biasa Pixar ciptakan. Tapi itu tadi, bagi saya Cars adalah sebuah cermin untuk melihat gambaran hidup betapa menyenangkan berobsesi yang bertanggung jawab. Melewati Ratatouille, Wall-E, Up, serta Toy Story 3, Pixar membuka lagi perlombaan sakral itu untuk tahun ini. Cars 2 dilepas dengan harapan mampu menjadi lebih baik dari Cars pertama, atau jika perlu sanggup melebihi superioritas para mainan bernyawa.


Seri ini mengambil garis besar di tokoh Matter, sahabat Lightning McQueen yang diajak ke Jepang untuk menemani McQueen menerima tawaran lomba dari juragan minyak terkemuka. Di samping itu, ada hubungannya pula dengan pergolakkan ini, mata-mata ala James Bond hadir di layar. Entah bagiamana caranya Matter nimbrung di aksi kejar-kejaran ini. Menyenangkan semua pihak memang sulit, apalagi harus mengesampingkan hal-hal yang jelas menjadi tombak penting. Seperti Cars ini.

Cars
jelas sebuah film keluarga yang diharapkan mampu memberi pelajaran dan hiburan kepada anak-anak sekaligus menyenangkan untuk orang dewasa. Benar saja, anak-anak mungkin suka dengan penuturan dan gaya mobil-mobil mentereng ini di layar besar. Desiran suara mobil melecit, serta dentuman ledakan-ledakan yang memborbardir sepanjang film seperti amunisi yang tak terbendung dalam menyemangati anak-anak tersebut. Namun, orang dewasa kurang suka dengan ceritanya. Malah dianggap terlalu mengada-ngada. Saya membenarkan. Dan mereka juga merasa lesu dengan adegan spionase seperti pengulangan film-film live action lainnya. Tidak bisa dipungkiri memang, saya pun sesekali merasa de javu.
Ambil sisi positifnya, seluruh jajaran aksinya tadi tidak serta merta sebagai pelengkap film, tapi sudah menjadi bagian dari otak awak Pixar. Mereka seperti ingin menyelipkan sebuah selingan menghibur. Layaknya kisah superhero yang merusak kotanya, ataupun dunia angkasa Wall-E, manalagi ke-absurd-an mainan yang bisa menyetir mobil. Jelas sekali bukan, seluruh parodi di Cars kedua ini hanya sebuah luapan betapa kreatifnya mereka.

Mengesampingkan sisi cerita, polesan CGI untuk film ini semakin mengkilap. Pixar bukan sembarang studio animasi kemarin sore. Cars yang terbit tahun 2006 dulu saja sempat membuat saya menganga betapa indahnya para mobil berlenggak-lenggok di layar. Di sini, saya jadi berpikir jika Pixar menemukan program komputer terbaru untuk merender animasi mereka.
Satu hal yang menarik adalah, dengan pindahnya ruang lingkup film ini ke Jepang yang otomatis membuat kerja tambahan bagi para sineasnya. Dan mereka berhasil menunjukkan sekilas adat dan tata krama kehidupan di sana. Seperti sumo saja misalnya. Pernah terpikir olahraga ini dilakukan oleh mobil? Kebayang lucunya?

Dari sini saja detail-detail menarik tidak pernah lepas dari pengelolaan ceritanya. Belum lagi penambahan-penambahan karakter yang berarti penambahan jenis kendaraan. Interesting. Sedangkan untuk para pengisi suaranya tidak ada yang perlu ditambal. Semuanya melakukan tugas dengan baik, terutama Michael Caine yang masih pantas saja untuk mengisi proyek anak kecil seperti ini.
Jelas sudah, yang salah bukan di filmnya, tapi di pola pikir penonton yang sudah kepalang terpatri di benak untuk mengharapkan sesuatu yang wah dari Pixar. Bagi saya, seperti ini sudah lebih dari cukup.

Kombinasi yang hampir sempurna dari segi tampilan animasi hingga humor serta adegan pengikut aksinya. Minus cerita miringnya itu. Niscaya, anak-anak pasti akan menggandrungi seri kedua ini. Belum termasuk jika produk pengiringnya juga laris manis di pasaran. Bukankah salah satu tujuan utamanya tercipta Cars ini untuk memenuhi hasrat para anak kecil bermain mobil-mobilan? Selama hot wheels masih laku tentunya. Happy watching!


by: Aditya Saputra

Crazy, Stupid, Love. (2011)


Director: Glenn Ficcara, John Requa
Cast: Steve Carell, Ryan Gosling, Julianne Moore, Emma Stone, Analeigh Tipton, Jonah Bobo, Marisa Tomei, Kevin Bacon
Rate: 3,5/5


Lagi-lagi cinta. Poin yang tak akan lekang dimakan waktu untuk diangkat ke layar lebar. Baik percintaan remaja, anak-anak, hingga menyangkut rumah tangga seperti contoh satu ini. Crazy, Stupid, Love., seperti judulnya sendiri memang menyiratkan ketiga hal tersebut. Betapa gilanya, betapa bodohnya manusia jika sudah bersinggungan dengan cinta. Bahkan, manusia akan kehilangan pola pikir yang logic. Tema film ini sederhana, menyikut persoalan keluarga kebanyakan, menyentil aroma cinta yang baru mekar, menyorot cinta tak wajar, mengupas tata cara seorang playboy dalam menggaet mangsanya. Lengkap, belum lagi kita akan diberikan kejutan super pintar yang sudah jarang ditemui untuk genre seperti ini. Sutradaranya masih pemula, mereka baru membuat I Love You, Phillip Morris dua tahun lalu dengan Jim Carey sebagai wayangnya. Sekarang lagi-lagi duo director ini merekrut komedian untuk menuntaskan skrip ubahan Dan Fogelman, si pencetus ide banyak film animasi.

Mungkin karena itulah pula, Fogelman terasa santai dalam meramu naskahnya mencari komedi yang cerdas. Kendati Cars, Bolt, Tangled, dan Cars 2 beberapa proyeknya, tapi untuk film ini jauh dari kesan kekanak-kanakan. Sungguh dewasa malah. Hebatnya lagi, kejutan di seperempat filmnya malah menjurus menjadi salah satu naskah tercerdas untuk tahun 2011 ini. Tidak berlebihan mengingat saya dan beberapa orang yang sudah menontonnya juga terkesima akan suprise tak terduganya itu. Oke, tak akan lengkap jika scriptwriter-nya saja yang dipuji. Ficcara dan Requa jelas memberikan suntikan yang bagus kali ini. Mengambil pendekatan akan sosok pria yang terjebak cinta, filmnya menjadi sedikit berbelok untuk lebih mengubah pandangan jika pria bukan perusak cinta sebenarnya. Beberapa sorot dan musik yang mengalun renyah melengkapi betapa memorable-nya film ini untuk dikenang beberapa tahun ke depan.

Ceritanya ringan, pria berkeluarga ternyata dipercundangi istrinya sendiri yang berselingkuh dengan teman kantornya. Berasa gundah dan memustuskan untuk bercerai, secara tidak sengaja pria ini tadi bertemu dengan playboy di sebuah bar yang nantinya sedikit banyak mengubah attittude-nya menjadi seorang yang culas akan wanita. Si pria berkeluarga tadi belum menemukan betapa sebuah cinta itu bukan hanya sebuah cerita semu tapi juga topik yang harus dipelajari benar-benar. Di samping itu, sang playboy yang gonta-ganti pasangan hanya dengan rayuan gombalnya saja, bertemu dengan seorang gadis yang kisah cintanya juga seakan jalan di tempat bersama teman kantornya. Jauh di sana, si istri tadi juga tidak merasakan kesinambungan dengan pasangan selingkuhnya. Ditambah bibit cinta yang mulai tumbuh di darah anak mereka semakin menambah kompleks cerita.

Inilah yang melegakan, menonton drama cinta komedi tapi tidak hanya sekadar tertawa riang tapi juga meresapi sari pati isi filmnya sendiri. Banyak pelajaran penting akan cinta dan kebersamaan yang bisa diserap lewat gumpalan cerita tadi. Betapa bahayanya perselingkuhan, betapa bahayanya memainkan perasaan pasangan kita, dan betapa bahayanya egoisme di dalam diri. Sindiran tadi hebatnya berhasil dipadu hanya dengan waktu kurang dari dua jam. Sebut saya berlebihan, tapi benar, menonton film ini terasa bergulirnya waktu menjadi sangat cepat. Simple namun mengena ke hati. Jadi saya sedikit melupakan beberapa adegan konyol khas komedi bodor yang mugkin tidak disengaja oleh penyutradaraannya.

Steve Carell berakting dengan sangat mulus. Menyeimbangi kapasitas Oscar dari Gosling dan Moore, Carell tidak merasa minder bahkan sesekali malah menunjukkan sisi aktor dramanya. Memang Carell tidak pernah bermain buruk di tiap filmnya, sekalipun film ini buruknya setengah mati. Gosling, ah sudahlah, film seperti ini bisa disebut sebagai istirahat sejenak dari tabiat dan kebiasaannya bermain di film serius. Mengemban menjadi sosok playboy dijalani dengan penuh kharisma. Tidak ada canggung. Moore kendati cuma tampil sedikit juga bisa memberikan makna lebih untuk filmnya. Adegan guyuran hujannya bersama Carell sangat believeable. Stone, apa yang kurang dari dia? Setelah melejit pamornya sejak Zombieland, bintangnya tidak turun-turun mulai dari Easy-A hingga The Help yang keduanya dipuji habis-habisan. Untuk film selevel Crazy, Stupid, Love. ini dia cukup menunjukkan muka manisnya di depan kamera. Dan, scene stealer kita jatuh kepada Analeigh Tipton yang berberan sebagai pengasuh anak tapi malah jatuh cinta dengan bapak si anak. Lucu dan tidak terduga. Scene stealer lainnya jelas ada pada Marisa Tomei. Mungkin jika ada nominasi untuk special appearance, keduanya bisa masuk.

Tidak berkesudahan jika terus membahas film ini. Crazy, Stupid, Love. dengan wibawanya akhirnya membawa angin segar akan tampilan sebuah komedi drama. Tidak harus menurunkan logika untuk setiap adegannya, malah sangat realistis dan kemungkinan terjadi kepada siapa saja. Dengan dukungan maksimal dari para pekerja aktingnya serta pengejewantahan yang tidak asalan dari duo sutradaranya, menjadikan film ini masuk di dalam list saya sebagai salah satu film terbaik keluaran tahun 2011 ini. Hingga kini, baru film ini dan Cars 2 yang bisa melepaskan dahaga keringnya nafsu saya dalam menonton. Kerennya, kedua cerita film tersebut berasal dari satu otak. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Twilight Saga: Breaking Dawn part. 1 (2011)


Director: Bill Condon
Cast: Kristen Stewart, Robbert Pattinson, Taylor Lutner, Ashley Greene, Kellan Lutz, Anna Kendrick
Rate: 2,5/5

Melihat ke belakang, mulai dari Twilight, New Moon hingga Eclipse, semua menyisakan nol memori yang menjadi tolak ukur betapa membosankannya menonton sepak terjang antara si vampir penuh glitter di wajah dengan manusia serigala doyan shirtless hanya dalam merebutkan wanita menye-menye. Entah kenapa, parodi menggelikan itu malah menjadi isu global yang menyeruak di kalangan remaja dan ibu-ibu beberapa tahun ini. Tidak bisa menyalahkan mereka juga. Stephenie Meyer selaku penulis novelnya memang seakan mengobral kisah klasik tapi sedap untuk disantap para twihards. Lucunya, dari film pertama hingga keempat ini, sineas yang menyutradarainya selalu berbeda. Kali ini, bangku director diduduki Bill Condon. Condon, dialah yang membuat naskah film musikal bertutur klasik yang berhasil menganugrahi Oscar untuk Catherine Zeta-Jones, Chicago. Ia juga orang yang bertanggung jawab hingga Jennifer Hudson menang Oscar lewat Dreamgirls. Spesialis musikal?

Untuk Breaking Dawn sendiri sebenarnya tidak ada pembaharuan mutlak yang mampu membuat twi-haters banting stir untuk lantas mencintai waralaba ini. Dialog-dialog tidak kalah annoying-nya dari seri sebelumnya, akting juga masih segitu-segitu saja, konsep si baik melawan si jahat juga sekelebat muncul. Tapi ada pembeda di Breaking Dawn, situasi semakin kompleks. Klimaks semakin mengemuka. Klan werewolves dengan vampire kendati sudah melakukan perjanjian tapi tetap masih memukul gong perang. Awal mulanya, Edward dan Bella akhirnya menikah. Entahlah, Edward yang disebut pedofil atau Bella yang odipus kompleks. Yang jelas pernikahan mereka berjalan mulus hingga ke arena ranjang dalam suasana honey moon. Tak lama, bahkan terlalu singkat, Bella akhirnya mengandung anak yang tidak diharapkan untuk hidup. Bahkan Cullen menyebutnya 'makhluk'. Benar saja, jabang bayi ini menggerogoti tubuh Bella sampai pada akhirnya suatu keputusan mengubah garis besar kehidupan Bella.

Kita kesampingkan dulu minus film ini. Saya menemukan hal baru yang bisa jadi menjadi tolak ukur baru bagi saya untuk mengubah skeptis atas franchise ini. Condon yang semula saya ragukan kapasitasnya di projeknya kali ini ternyata bermain cukup menarik. Kendati awalnya sangat pelan bahkan terasa tidak habis-habis, tapi sesaat menuju ending film ini berubah total, mengasikkan. Unsur thriller-nya mengena, editing-nya juga bagus, membuat penonton ikut berkecamuk dan merasa iba terhadap tontonan di layar. Saya yakin, jika ritme kinerja sutradaranya stabil, mungkin saja seri kedua jauh lebih menyenangkan dan penuh kejutan. At least, jiwa musikalitas Condon masih berfungsi baik dengan sigapnya ia memilih lagu-lagu bagus pengiring film ini. Serupa tak sama, permainan akting para bintangnya juga lempem-lempem saja. Minus Kristen Stewart, hampir semuanya berdialog seakan membaca skrip. Flat, tanpa jiwa. Stewart sendiri yang bermain optimal, kerja kerasnya menguruskan badan sukses mengubah image cantiknya selama ini. Kencatikan seorang ibu hamil memudar begitu saja.

Jujur saja, saya lebih nyaman menonton Breaking Dawn jika dibandingkan dengan Transformers ketiga beberapa bulan lalu. Efek megah ternyata bukan segalanya, melainkan naskah yang tertata rapih. Untunglah Rosenberg kali ini bukan sekadar dapat honor tapi benar-benar bekerja. Rupanya, Condon berhasil mengatur posisi masing-masing krunya untuk memaksimalkan seri pamungkas ini. Terlebih untuk pergerakkan kamera dan sinematografi yang terlalu signifikan dan indah untuk dipandang. Nilai plus lain untuk film ini.

My verdict, euforia kebimbangan anak manusia dalam memilih cinta antara menjadi vampir atau manusia serigala memang masih membuncah dan akan terus begitu hingga filmnya usai sekalipun. Setali tiga uang dengan Harry Potter, Twilight memiliki selling point di atas rata-rata dan akhirnya memiliki dampak terkait juga terhadap perfilman masa depan nantinya. Terlihat bagaimana larisnya sebuah romansa sekalipun dibalut dengan unsur horor dan dialog super berlebihannya. Seburuk-buruknya kelima film Twilight, kelima-limanya tetap akan ditonton untuk melihat betapa fenomenalnya cinta terlarang ini. Happy watching!


by: Aditya Saputra