Jumat, 02 November 2012

Skyfall (2012)


Director: Sam Mendes
Cast: Daniel Craig, Judi Dench, Ralph Fiennes, Javier Bardem, Naomi Harris, Ben Wishaw, Berenice Lim Marlohe
Rate: 4/5
Dr. No adalah permulaan yang bagus sekaligus menjadi mata rantai bagaimana sebuah franchise tentang spionase agent menjadi alat pengeruk uang. Cerita rekaan dari Ian Fleming mengglobal seantero dunia dan dari tahun ke tahun mengalami kematangan yang signifikan diiringi dengan pergantian pemeran Bond itu sendiri. Sean Connery tentu saja tidak akan selamanya menjadi James Bond, dan bisa saja menjadi Bond terbaik yang pernah ada. Dari mulai Roger Moore hingga Pierce Brosnan yang berupaya menggantikan keparlentean seorang Connery, start berujung pada pemilihan sosok Daniel Craig yang awalnya tidak terlalu disegani untuk membawa karakter legendaris ini. Namun nyatanya, lewat Casino Royale, Craig bisa mematahkan segala asumsi negatif tentang dirinya sekaligus membuktikan jika ia bisa melebihi kapasitas dari yang diharapkan sebelumnya. Bond di tangan Craig jelas bukan agen 007 yang sudah-sudah. Flamboyan yang sudah terlabel sejak awal dibiaskan oleh kemunculan awalnya di Casino Royale yang urakan, namun mematikan. Daniel Craig ditinjau lebih jauh lewat Quantum of Solace yang semakin mengukuhkan tajinya jika ia adalah Bond generasi baru.
Lain Craig, lain pula hanya Sam Mendes, nahkoda dari seri teranyar agen 007 ini, Skyfall. Mendes yang kita kenal sebagai sutradara berciri khas kisruh rumah tangga, sekarang langsung naik tahta untuk mengangkat saga ini lebih tinggi lagi. Dengan predikat Oscar yang sudah disandangnya, mau tak mau Mendes akhirnya mengemban beban berat juga agar hasil akhir film ini tidak anjlok. Betul saja, Mendes tidak main-main. Mengajak 3 orang scriptwriter andalan, merekrut Roger Deakins di sektor penggarapan gambar serta Thomas Newman di teritori penggarapan musik, memang berdampak pada kualitas Skyfall secara keseluruhan. Semuanya bekerja dengan sangat baik dan Skyfall berhasil menghapus dahaga penonton yang was-was akan kualitasnya. Score music yang sangat luar biasa membius dan juga tampilan cerita yang jauh lebih dewasa dan berbobot. Mendes menyeimbangi antara porsi action dan dramatisasinya.
Lihat saja opening scene-nya yang sangat classy dan simbolisasi sepanjang theme song bergulir memang adalah kumpulan singkat bagaimana filmnya kelak akan bercerita. Opening scene-nya mungkin salah satu yang terbaik yang pernah ada. Konfliknya pun semakin menggigit. Bond tidak hanya sekadar mengentaskan misi tapi juga harus merasakan kehilangan yang pahit. Boleh dibilang seri ini adalah kemaklumatan bagi sosok M yang mana emosi seorang Judi Dench dikuras habis-habisan. M tidak pernah sedramatik ini. Tokoh-tokoh tambahan yang mana nantinya mendapat peran penting juga patut disimak sepak terjangnya.
Kehadiran Daniel Craig sejak ia menerima tongkat estafet dari Brosnan memang sedikit mencengangkan. Aktor kemarin sore yang dikemas sedemikian rupa dan sekarang menjadi sosok yang dielu-elukan. Perombakan drastis pada dirinya sebagai persiapan menyelami tokoh 007 ini patut diberi kredit tersendiri. Craig diciptakan untuk peran yang seperti ini. Judi Dench, filosofis sosok M yang demokratis namun juga berjiwa pemimpin yang sangat solid. Tidak bisa dibayangkan jika karakter M harus dipegang oleh aktor lain. Kejutan yang diselipi di tengah dan akhir cerita memang akan menguak rasa penasaran penonton. Musuh Bond kali ini diprakarsai Javier Bardem, sosok kelam Anton Chigurh yang memberikannya Oscar atas peran mematikannya itu. Bardem sama halnya Mathieu Almaric yang kejam dan keji hanya lewat raut muka. Shiva di tangan Bardem dibimbing untuk kesetanan pada waktunya. Sorotan mata Bardem ditambah kekuatan suara yang membuat dialog menjadi begitu horor.
Sam Mendes akhirnya terbukti kuat di luar zona amannya. Budget besar yang dicurahkan kepadanya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Pemilihan cast yang sempurna, pembuatan adegan yang memanjakan mata, serta memilih Adele untuk mengisi theme song nya bertajuk sama juga merupakan hasil kinerja dan tanggung jawab dari Mendes. Melepas Skyfall ke pasaran dengan hasil jutaan dolar dan timbunan review positif dari siapa saja yang menontonnya. Dan siapa tau, juri Oscar melirih film ini untuk diikut sertakan di bursa Oscar 2013 kelak. Happy watching!
by: Aditya Saputra


Kamis, 25 Oktober 2012

The English Patient (1996)

 
Director: Anthony Minghella
Cast: Juliette Binoche, Ralph Fiennes, Kristin Scott Thomas, Willem Dafoe
Rate: 4/5
 
 
FYI saja, saya harus empat kali nonton untuk menuntaskan film ini, dan kegagalan sebanyak tiga kali itu dikarenakan saya selalu ketiduran. Saya rasa tidak ada masalah dengan filmnya, mungkin saya yang terlalu lelah menyaksikan film panjang satu ini. Apa ini berarti filmnya cenderung membosankan? Dengan bangga saya mengatakan tidak. Film ini jauh dari kesan itu, bahkan The English Patient banyak berisi drama yang berbobot di luar durasi yang ekstra panjang tadi. Banyak poin positif yang bisa diambil dari film ini. Kendati si film maker-nya sudah tiada, namun The English Patient akan menjadi salah satu karya monumentalnya yang tak akan mati dimakan jaman. Apalagi untuk para komunitas penonton yang menjunjung tinggi nilai kualitas di suatu film.
 
Film bermula dari kemunculan Count Almasy, seorang map maker yang terjebak di gurun pasir Sahara. Mengambil latar belakang perang dunia kedua, perjalanan gersang Almasy harus bentrok dengan unsur cinta, pengkhianatan, hingga kerja keras tanpa ujung. Di perjalanan tugasnya, ia dipertemukan dengan seorang wanita bersuami. Melodramatik yang terjalin di antara mereka memang melalui arus yang simpang siur. Nyatanya, bagian pembuatan peta tadi adalah ingatan singkat seorang Almasy yang harus terbaring lemah di atas ranjang pesakitan. Dia diurus oleh seorang suster budiman yang mencurahkan segenap tenaga feminisnya untuk menyelamatkan hidup Almasy. Di tengah persinggahan dan juga dalam keadaan suasana perang yang mencekam, mereka kedatangan tamu (tak) asing, David Caravaggio yang lambat laun mengupas segala perjalanan panjang hidup Almasy.
 
Kemenangan 9 piala Oscar termasuk sebagai film terbaik untuk film ini memang sangat beralasan. Filmnya memang amat sangat menggugah. Skrip olahan tangan Minghella sendiri yang merupakan saduran dari novel berjudul sama, membuat film ini kokoh dari segi penggarapan. Minghella menerjemahkan sastra tadi dengan begitu syahdu. Tidak ada segi cerita yang kedodoran. Ditampung dengan tangkapan kamera yang sedap dipandang. Pelataran pasir Sahara terlihat begitu oranye dan indah, jadi sangat wajar jika teritori sinematografi juga memenangkan piala Oscar. Musik gubahan Gabriel Yared juga terdengar amat syahdu. Melengkapi adegan demi adegan baik dalam keadaan mengenaskan maupun yang bahagia.
 
Keunggulan lainnya adalah Minghella disokong oleh aktor-aktor yang bermain dengan sangat apik. Terutama Fiennes dan Binoche selaku pemeran utama film ini. Binoche sanggup membawa tokoh sentral menjadi pusat perhatian di luar keayuan rupa yang dimilikinya. Bertransformasi sebagai wanita di tengah hiruk-pikuk perang dunia, Binoche tak lantas menjadi sosok yang lempem dan lemah. Keperkasaannya diperlihatkannya lewat air muka yang pas dengan situasi adegan. Fiennes apalagi, berakting di gurun bukanlah hal mudah. Dan bersama Thomas, ia bersikeras menunjukkan kekompakan akting yang memukau. Raut korban pengkhianatan yang dideranya memang terasa pedih untuk dilihat.
 
Sepanjang sepengetahuan saya, Minghella baru menelurkan sedikit film. Bahkan masih bisa dihitung jari. Tapi, hampir keseluruhan dilabeli film bermutu, mulai dari Truly, Madly, Deeply, The Talented Mr. Ripley, Cold Mountain, hingga karya terakhirnya, Breaking and Entering. Dan baru tiga saja film beliau yang saya konsumsi. Dan dari tiga itu pula saya berani menjabarkan maksud yang kesan yang terkandung di film-film beliau. Menitikberatkan suatu kisah cinta yang dilatar belakangi dengan unsur dramatikal yang kental. Memosisikan peran utama di kondisi yang pelik tapi tetap berusaha mati-matian. Tak heran jika karyanya sangat humanis sekali. The English Patient sampel mutlak bagaimana suatu hidup akan terasa bahagia jika kita menjalaninya dengan tanggung jawab sekalipun taruhan atas kepergian orang terkasih sudah di depan mata. Happy watching.
 
by: Aditya Saputra

Kamis, 27 September 2012

Premium Rush (2012)


Director: David Koepp
Cast: Joseph Gordon-Levitt, Ramirez, Michael Shannon, Jamie Chung
Rate: 4/5


JGL sepertinya kena tuah keberuntungan untuk tahun 2012 ini. Tiga filemnya rilis hamper berdekatan. The Dark Knight Rises lahir dengan segala puja-puji atas karya Nolan tersebut dan otomatis JGL kebagian getah baiknya. Karakter yang dia mainkan sangat kuat seimbang dengan sumbangan aktingnya yang juga memuaskan segala pihak. Berlanjut ke Premium Rush dan Looper yang sama-sama dicap sebagai tontonan yang berkualitas dan menghibur. Khusus Looper, filemnya bahkan belum dirilis luas tapi gembar-gembor sebagai salah satu sci-fi terbaik sudah menyeruak ke khalayak dunia. Untuk pemanasan, JGL mengajak kita menyelamatkan dokumen penting sambil bersepeda di jalan raya lewat Premium Rush. Dikomandoi oleh David Koepp, Premium Rush muncul dengan semangat tinggi dan positif.

Diceritakan adalah salah satu kurir sepeda terbaik yang kebagian ‘malapetaka’ untuk mengantarkan dokumen berbahaya dari dan ke orang Cina. Hanya saja, kerahasiaan dokumen tersebut tercium oleh oknum yang ingin menyalahgunakan barang tersebut. Adalah polisi bertabiat iblis yang kecanduan judi dan terlilit banyak hutang. Bayangan uang di depan mata membuat polisi bejat tersebut melakukan segala cara untuk mencegat si kurir di tengah jalan. Sebagai cerita sampingan, si kurir ternyata sedang ada masalah percintaan dengan kekasih yang juga seorang kurir sepeda. Sekilas, premis di atas seperti kebanyakan filem aksi kebanyakan. Dalam benak kita, premis seringan itu akan menjadi tontonan sekali lewat saja. Hanya saja, paradoks tadi akan menguap seiring dengan tempo film yang sudah dibuat keren lewat prolognya.

Premium Rush layaknya Unstoppable buatan Tony Scott. Cerita biasa-biasa saja tapi diadon dengan sangat mahir. Unstoppable memang menggiring penonton ke wahana kereta api yang memacu ketegangan dari awal hingga akhir. Begitu pula dengan filem ini, Koepp seakan tidak ingin memberikan jeda ke penonton untuk ke toilet sekalipun. Karena, tiap adegan diisi dengan emosi yang sama bahkan bertambah dari menit ke menit. Bagaimana teknik kamera dan teknik bersepeda yang dipaparkan di layar dengan begitu aduhai, cantik, dan membius. Diiringi pula dengan musik yang bersenyawa langsung, durasi singkat filem ini menjadi amat-amat singkat saking tidak terasanya waktu berlalu. Laiknya pelakon yang kebut-kebutan di jalan, film ini melaju juga dengan kecepatan penuh tapi bertanggung jawab. Tidak ada adegan kosong yang sia-sia yang akhirnya mengefek ke aktornya.

Main cast kita, JGL, seperti yang sudah-sudah selalu memamerkan akting yang maksimal. Levitt dengan cekatan mengayuh kendaraan roda dua tersebut disertai dengan permainan air muka yang pas. Sebenarnya, yang membuat film ini spesial adalah teknik kamera dari tangan Koepp, tapi disempurnakan oleh para wayangnya. Oleh sebab itu, talenta Levitt dan lainnya sebagai penyokong yang sangat klik. Selain Levitt, satu aktor lagi yang menyita perhatian adalah Michael Shannon. Selepas mengacau jiwa Winslet dan menyelamatkan Chastain dari bencana, peran polisi kotornya di sini dimainkan dengan penuh jiwa. Setali tiga uang dengan Nic Cage di Bad Lieutenant yang sama-sama tokoh yang mencoreng nama baik kepolisian, Shannon adalah cermin busuk NYPD di Amerika sana. Mulai dari ekspresi kesal, kecewa, hingga kebingungan dilampiaskan dengan amat bengis dari wajah melankolis Shannon. Chung, Ramorez, dan lainnya cukup sepadan dalam mensubtitusikan bakat akting mereka di tengah-tengah kegarangan Levitt dan Shannon.

Parade kejar-kejaran yang dikerjakan sepanjang filem memang menyenangkan untuk disaksikan. Saling salip-menyalip di tengah keramaian, forbidden way, baku hantam, keringat yang mengucur, adalah bukti betapa hebatnya film ini. Seharusnya film ini dilempar saat musim panas yang siapa tau bisa mengeruk laba lebih banyak. Tapi dengan hadirnya di bulan September di mana film berbudget megalomia kurang menggema, perilisan Premium di bulan ini sangat beralasan. Sebagai penutup, setelah menjadi Robin dan bersikukuh menyelamatkan arsip berharga atas nama pedal sepeda, saya semakin penasaran dengan darah akting segar dari Levitt di Looper. Dan semoga aksi Willis bisa menyeimbangi bahkan melebihi apa yang Shannon sumbangsihkan untuk Premium Rush. Happy watching!

By: Aditya Saputra

Magic Mike (2012)


Director: Steven Soderbergh
Cast: Channing Tatum, Alex Pettyfer, Matthew McCanaughey, Matt Bomer, Adam Rodriguez, Olivia Munn
Rate: 3,5/5


Soderbergh lagi kejar setoran. Beberapa tahun terakhir, Soderbergh terhitung sangat produktif. Setelah membuat Contagion dan Haywire, tahun ini proyeknya sangat diwanti-wanti, salah satunya Magic Mike. Jika melihat premisnya, mungkin sebagian kaum pria akan menjauhi filem ini. Namun, jika lebih bijaksana lagi, film ini murni sebagai hiburan yang memotivasi dan isu tentang akan banyaknya pria berotot yang semi-naked akan terelimanasi. Dan jujur saja, film ini akan membuat penonton wanita melompat kegirangan, tapi sebaliknya timbul perasaan tak enak hati untuk penonton testosteron. Cerdasnya lagi, Soderbergh menyiasatinya dengan tidak membubuhi senyawa-senyawa gay di tengah-tengah ketelanjangan ini. Menyeleksi aktor tampan lagi bulky memang mudah di Amerika sana, tapi yang pandai meliukan badan layaknya professional dancer, mungkin memiliki kerumitan tersendiri. Dan inilah, salah satu karya Soderbergh yang paling membumi.

Diajaknya Tatum di Magic Mike pasti dengan banyak alasan. Selain good looking dan berotot, Tatum memiliki poin plus lainnya selain sudah bermain banyak proyek filem, yaitu pintar menari. Dengan basic sebagai stripper dan pernah menjadi juru kunci di filem Step Up, yang membuat Soderbergh tidak segan membawa Tatum ke hot stage-nya. Bergabunglah Pettyfer, Bomer, dan McCanaughey yang dengan bitchy-nya semakin memanaskan arena stripping mereka. Para aktor ini melakukan tugasnya dengan amat baik, terutama McC yang juga dengan piciknya memanfaatkan talenta anak buahnya menjadi sumber mata pencaharian. Tapi sebagai tokoh utama, Tatum juga tidak kalah dalam mengeluarkan bakatnya, apalagi ada sisi cerita yang lebih drama di luar mempertontonkan aurat di atas panggung panas Magic Mike. Emosi yang terpancar cukup mewakili kehendak karakternya. Pettyfer pun kebagian getah manis film ini. Stripper yang tidak kemayu diperlihatkan dengan cukup bagus.

Magic Mike bermula saat Mike membantu Adam di tengah jalan. Adam yang sedang patah arang akibat kehidupannya yang berantakan, mau-mau saja saat diajak Mike untuk join di ‘bisnis’ yang sedang dikelolanya. Setelah tau jika jalan pintas itu yang dipilih dan juga tuntutan financial yang lumayan yang membuat Adam tergiur dengan dunia barunya tersebut. Ternyata, Mike cenderung berubah menjadi sosok yang lebih berwibawa dan mulai berpikir untuk berhenti dari kehidupan instannya itu, sedangkan Adam semakin liar dan menggelutinya sebagai sumber uang bagi dirinya. Apalagi Adam condong ke abege yang masih bimbang dalam memilih jalan hidupnya. Love-life Mike juga bergelombang, setelah dicampakkan dengan gadis pujaannya, dan sejak itu pula ia menyadari akan makna kehidupan sebenarnya. Kearifan melangkah itulah ujung ending filem ini.

Walaupun agak cliché, bagaimanapun juga Magic Mike adalah senjata terbaru Soderbergh untuk menjerit pada dunia bahwa ia masih eksis di siklus perfileman ini. Kalau boleh saja usul, jika saja peran Tatum diberi ruang sedikit untuk dieksplorasi bakat aktingnya, dan menebalkan kualitas dramanya, bukan tidak mungkin Soderbergh akan mengulang lagi kedigdayaan Erin Brockovich beberapa tahun lalu. Sayangnya, jeda panjang Traffic dan sekarang membuat karisma dan keajian Soderbergh kian menumpul, dan lantas menghasilkan produk semacam Contagion yang gemuk aktor bagus tapi tetap kurang greget. Soderbergh lebih menekankan sepak terjang bisnis ekstrim di film ini daripada kesusahan menambahkan bobot filmnya ke ranah yang lebih festival. Tapi tak apalah, toh mungkin tujuan Soderbergh juga tidak sampai ke sana.

Setelah ini, Channing Tatum tetap kebanjiran job, dan Soderbergh masih harus melunasi hutang filmnya dengan beberapa produser besar. Meninggalkan Magic Mike sebagai sejarah bagi mereka berdua dalam menajamkan ambisi di dunia showbiz ini. Magic Mike hadir dengan totalitas tinggi dari aktor dan sineasnya, dan juga berujung pada kualitas di atas rata-rata. Tinggal penonton bagaimana menilai film ini bagi khasanah hidup mereka. Dan bisa jadi, penonton awam akan sedikit kebingungan dengan filem yang menampilkan banyak lekuk tubuh dan perut enam kotak ini. At least, Magic Mike mengajarkan banyak petuah dalam memilih jalan hidup serta mempertanggung jawabkannya. Happy watching!

By: Aditya Saputra

Ted (2012)


Director: Seth MacFarlane
Cast: Mark Wahlberg, Mila Kunis, Set MacFarlane
Rate: 3,5/5


Sedikit untuk yang akan menonton film ini: Ted diselipi dengan banyak trivia dari filem-filem terkenal jaman dahulu dan sekarang baik yang bagus maupun yang buruk sekalipun. Jadi mudah diprediksi jika nanti sering terjadi momen ‘kurang paham’ akan lelucon di filem ini, karena sayapun merasakan demikian. Di luar itu, kita akan disuguhi sebuah filem pendewasaan diri yang kental akan pesan moral walaupun tampilan luarnya sangat amat tidak patut dicontoh. Kendati pemeran utama kita adalah boneka beruang, bukan berarti film ini sangat kekanak-kanakan, malah sangat kontradiktif. Maka dari itu, jauhi filem ini dari jangkauan anak-anak yang belum cukup umur. Ditemani dengan aktor macho Mark Wahlberg dan ‘balerina’ dari Black Swan, Mila Kunis, Ted akan mengajak kita menyelami sikap dan perilaku seorang dewasa yang masih dihantui oleh kehidupan ciliknya.

Di pinggiran kota Boston, hidupnya seorang anak laki-laki yang tidak ada seorangpun yang mau berteman dengan dirinya. Merasa kosong dari tahun ke tahun, akhirnya pada satu perayaan Natal ia dihadiahi sebuah boneka Teddy Bear oleh kedua orang tuanya. Berharap bonekanya bisa hidup layaknya manusia pada umumnya, pagi itu dunia akhirnya dibuat gempar oleh si boneka yang benar-benar hidup. Hidup dalam artian bisa berbicara dan mengerjakan kegiatan manusia kebanyakan. Anak kecil tadi sudah beranjak dewasa. Usia pertemanan mereka bahkan sudah menyentuh angka 27 tahun. Mereka hidup bertiga dengan gadis pujaan si pria. Namun nahasnya, habit buruk keduanya semakin jadi. Ternyata boneka tadi berdampak negatif bagi hubungan si pria. Hidup semakin salah dan urak-urakan, Dan wajarlah akhirnya problema pelik timbul dan berakhir akan penyesalanan di kedua belah pihak.

Sesungguhnya film ini jelas sekali ke-absurd-annya. Boneka hidup layaknya Chucky saja sudah membuat kening berkerut. Bedanya Chucky kemasukan setan keji lagi mungkar, Ted? Hanya untuk joke dan sentilan akan sifat childish anak manusia. Di luar keanehan tadi, Ted sebenarnya memberikan banyak pelajaran hidup. Tentang kesetiaan, persahabatan, serta keseriusan berkomitmen. Ted sejatinya menjadi pelipur lara pula bagi kaum dewasa dalam menyikapi hidup. Kita tidak serta-merta langsung beranak pinak tanpa mengalami berbagai gejolak dan terjalnya hidup. Sayangnya, filem ini terlalu ekstrim dalam mengambil sudut pandang. Boneka beruang bernyawa tadi difokuskan sebagai pemicu masalah dan eksekutor filemnya sendiri. Banyak adegan yang menjurus kurang ajar dan vulgar. Uniknya, bagian-bagian itu justru adalah kunci mengapa filem ini sungguh digandrungi penonton. Jujur, blak-blakan, dan apa adanya. Untuk menyindir beberapa filem yang burukpun bagi saya terlalu frontal. Si empunya cerita yang juga menulis skrip, menyutradarainya, sampai mengisi suara Ted sendiri mengerjakan multi tugasnya dengan sangat apik.

McFarlane adalah conton sineas yang menyetir filemnya dengan peran ganda. Cerdiknya, semua disorot dengan tajam. Sebagai penulis, ia berhasil memanfaatkan prosa dengan membalut ceritanya lebih masuk di akal, kendati pada bererapa sekuens guyonannya sangat terasa sekali ke-Amerika-annya yang membuat terasa garing bagi yang tidak paham. Sebagai pengisi suara sang boneka, Farlane lebih luar biasa lagi. Ted di tangannya benar-benar hidup. Ditambah dengan kemistrinya yang kuat bersama Wahlberg dan Kunis, walaupun awalnya saya sempat beranggapan jika Mark terlalu tua untuk disandingkan bersama Mila. Beruntungnya Farlane menggunakan jasa Mark dan Mila, sebab keduanya juga bermain sangat lucu. Mengisi satu sama lain. Dan Farlane sebagai sutradara, menyulap part-part bodoh menjadi lebih masuk akal. Saat kemunculan Sam Jones dibuat dengan sangat otentik dan menggelikan. Adu mulut Ted dengan seluruh lawan mainnya, Ted sebagai pegawai mini market dan kencan dengan gadis cantik, Ted si biang onar, adalah buah akal Farlane yang jadi tolak ukur penilaian film ini. Dan yang paling gila adalah kemunculan kameo yang menurut saya paling WTF setelah Nicholas Saputra yang hadir mengagetkan di The Photograph dan Bill Murray yang spontan hadir di Zombieland.

Sekali lagi, berhubung asupan dan unsur ketidaksenonohan film ini begitu tinggi, semoga anak-anak tidak diberikan kesempatan nonton film bad Teddy Bear ini. Pembelajaran yang universal tapi bukan berarti anak-anak sanggup mencernanya. Ted boleh saja dimasukkan ke kategori adult movie yang cukup berpengaruh dan salah satu yang terbaik tahun ini. Farlane sebagai dalang dan perekrutan Wahlberg dan Kunis yang efektif, serta letupan luar biasa berkat kameonya, membuat Ted sangat saying sekali untuk dilewati begitu saja. Sesudah ini, semoga Ted tidak berlanjut ke seri-seri berikutnya. Amin. Happy watching!

By: Aditya Saputra