Sabtu, 26 Januari 2013

Gangster Squad (2013)


Director: Ruben Fleischer
Cast: Sean Penn, Ryan Gosling, Emma Stone, Nick Nolte, Josh Brolin
Rate: 2,5/5


Meramu sebuah filem aksi susah-susah gampang. Action movie yang berbobot lemah cenderung hanya memaksimalkan adegan yang melibatkan adu jotos ataupun dentuman senjata api dengan mengesampingkan kekuatan cerita yang sebenarnya menjadi hal penting bagi sebuah filem, apapun genrenya. Menyimak sekelumit pesan moral yang dituangkan dari filem Gangster Squad, sialnya tidak ada moral lesson yang bisa kita petik. Jika Anda pernah menonton Public Enemies, duet Johnny Depp dan Christian Bale, yang lemah di beberapa sisi, Gangster Squad lebih parah lagi. Memakai metode yang sama si baik versus si jahat, Gangster Squad terjun ke lembah serba tanggung. Kendati Gangster Squad diisi dengan parade superstar yang sedap di mata, namun nyatanya hal tersebut tidak membuat nilai filem ini bertambah tinggi.

Sean Penn sebagai dalang dan mafia dari serentetan kejadian di filem ini memang telah menunjukkan feel kejamnya dengan hampir sempurna. Terlihat dari mimik dan gesture, Sean Penn sukses menjelma menjadi ketua kriminal yang pantas disegani hanya lewat gaya bicaranya saja. Sayangnya, poin positif tersebut tidak diimbangi oleh aktor lain. Trio Gosling, Brolin, dan Stone bermain sangat biasa. Terlebih lagi Stone yang perannya bisa digantikan oleh aktris tidak terkenal sekalipun. Nama tetaplah nama, pemakaian mereka mungkin sebagai kiat mengiklankan filem ini jauh lebih luas dan menjual nama mereka adalah taruhan yang cukup ampuh. Namun, penampilan mereka sungguh mengecewakan. Ruben seperti kehilangan arah dalam menangkap nuansa-nuansa penting di filemnya untuk digenjot lebih eksklusif.

Gangster Squad memang tidak separah itu. Filem ini masih memiliki cerita, walaupun bisa kita tebak akhirnya setengah jam setelah filem ini mulai. Mengambil seting waktu tahun 1949, di mana bisnis Mickey Cohen sedang marak-maraknya. Pun dengan kriminalitas yang ia geluti secara diam-diam akhirnya tercium oleh polisi setempat yang juga punya dendam dengan Cohen, John O'Mara. Perseteruan semakin sengit, John akhirnya merekrut beberapa agennya untuk bekerja sama dalam menumpas seluruh bisnis haram yang Cohen pegang. Karena Cohen memunyai antek yang tidak sedikit, otomatis battle ini berlangsung sengit dan sempat memincangkan kubu John. Bagaimana ending-nya yang seluruh khalayak ramai tau, Gangster Squad pasti akan memuaskan penonton dengan akhir yang bahagia.

Yang patut diberi nilai mungkin atmosfer yang dibangun oleh tim dekorasi seninya. Kota Los Angeles disulap kembali ke tahun 40-an dengan segala kostum dan kendaraan yang memang menjadi momen pada masa itu. Pemilihan musik juga amat jitu, seluruh instrumen bermain dengan baik saat adegan klimaks muncul di layar.

Kombinasi Sean Penn, Ryan Gosling, dan Emma Stone tetap akan menjadi magnet bagi filem ini untuk menjaring penonton sebanyak-banyaknya. Semoga saja kelemahan filem ini tidak berimbas pada karir mereka. Lagian, Hollywood tidak semudah itu membuang aktor mapan hanya karena bermain di satu/dua filem buruk. Catatan kecil itu mungkin berlaku bagi sutradaranya, Ruben, dengan filemografi yang belum terlalu menonjol, penggarapannya di sini bisa jadi sebagai amunisi untuk terus membuat filem bagus. Yah, anggap saja Gangster Squad kelinci percobaan yang hampir gagal. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Kamis, 17 Januari 2013

Silver Linings Playbook (2012)



Director: David O. Russell
Cast: Bradley Cooper, Jennifer Lawrence, Robert De Niro, Jackie Weaver, Julia Stiles, Chris Tucker, Anupam Kher
Rate: 3,5/5


Langsung saja. Silver Linings Playbook sedikit mengecewakan saya. Dalam artian, filem ini adalah salah satu yang saya tunggu, dan saya berekspektasi besar-besaran terhadap filem ini sebelumnya. Yang membuat saya antusias adalah isu yang mengalir beberapa bulan terkahir di berbagai festival filem yang banyak menganugerahi Silver Linings Playbooks (SLP) kemenangan di kategori akting. Dan betul, filem ini hanya hebat di sektor tersebut, dan sedikit timpang jika membicarakan filem ini secara keseluruhan. SLP tidak ada elemen yang membuat saya akan dengan gampang menontonnya untuk kesekian kalinya. Beda dengan karya Russell sebelumnya, The Fighter, yang walaupun tidak se-happy SLP, namun memunyai daya pikat yang seimbang. Disadur dari novel berjudul sama karangan Matthew Quick, SLP, in my humble opinion, hanya sekedar filem romansa.

Tokoh utama kita, Pat, mantan guru yang baru saja keluar dari rumah sakit jiwa karena mengidap penyakit bipolar order. Berusaha mengembalikkan kembali rumah tangganya yang rusak, Pat dipertemukan secara tak sengaja dengan Tiffany, seorang janda yang juga depresi akibat kematian suaminya dan dibalas dengan perilaku menyimpangnya sehingga menjadi gosip hangat di jajaran masyarakat kota tersebut. Kedua anak Adam yang 'aneh' dan berperilaku menyimpang ini terkoneksi satu sama lain dan melakukan banyak rencana dan perjanjian unik di antara keduanya. Kepulangan Pat awalnya juga disambut dingin oleh sang ayah. Dan berkat penjelasan sang ibu, akhirnya Pat lambat laun diterima dan menerima lingkungannya lagi.

Penggambaran Russell terhadap dua karakter utama yang sakit terbukti mampu mematahkan argumentasi jika filem bertemakan serupa akan jatuh ke tangis-tangisan saja. SLP lebih dari itu, karena secara langsung juga memaparkan refleksi perjuangan dan kisah cinta unik yang harus mereka terima akibat kesalahan mereka sendiri. Hanya saja, hadirnya sub-plot yang seakan dipaksa menyempitkan durasi cerita jelas menjadi titik kelemahan filemnya sendiri. Bagi saya, awal yang manis filem ini seakan dibuat berantakan di pertengahan, yang untungnya kembali digenjot lagi di akhir filemnya. Penafsiran yang bersifat semu memang akan sangat sulit diterima oleh penonton pada umumnya. Harus diakui filem ini memunyai cerita yang unik, gaya penyutradaraan Russell dengan memasukkan karakter-karakter disfungsional juga tak kalah hebat.

Masuknya nama Bradley Cooper beserta tiga aktor lainnya di bursa Oscar jelas prestasi tersendiri untuk filem ini. Jackie Weaver dan Robert De Niro sebagai pendukung main sangat efektif, namun jika untuk sampai di barisan penerima piala, Weaver tidak sekarismatik sebagai ibu seperti yang ditampilkan Melissa Leo di The Fighter. Jennifer Lawrence dengan ajiannya sukses mengelabui dan membuai penonton dengan akting naturalnya sebagai janda yang gila seks. Tatapan serta intonasi dialog yang ia lakukan tersirat dengan amat meyakinkan. Dan, Bradley Cooper, dia bermain bagus, tidak seperti biasanya. Ketotalannya menjadi pria delusional dan optimistik ditransfer dengan baik, hanya saja performanya terlihat masih standar jika harus bersanding di deretan nominator Best Picture Oscar. Bagi saya masih banyak aktor lain yang kemampuannya jauh di atas Cooper. Titik balik Chris Tucker boleh dibilang sebagai permulaan yang menggembirakan karena tidak asal memilih filem yang akan dibintanginya.

SLP pada akhirnya bercabang menjadi dua tema yang keduanya sama-sama menarik. Sebuah filem komedi yang dibalut dengan percintaan pasangan berumur dan sudah memiliki pengalaman dalam membangun rumah tangga sebelumnya. Beberapa adegan yang mudah sekali ditebak memang membuat filem ini berkurang unsur teka-tekinya. Dipenuhi dengan empat aktor mapan yang sukses bekerja sama membentuk kesatuan akting yang apik, SLP menjadi tontonan berkualitas tetapi tidak untuk ditonton berulang-ulang. Setidaknya, semoga ini menjadi pembuktian Russell dalam berkomitmen secara serius untuk menghasilkan karya yang benar-benar mampu dipandang kedua mata oleh kritikus. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Les Misérables (2012)


Director: Tom Hooper
Cast: Hugh Jackman, Russell Crowe, Anne Hathaway, Helena Bonham-Carter, Sacha Baron Cohen, Amanda Seyfried, Eddie Redmayne, Aaron Tveit, Samantha Barks
Rate: 3,5/5


Dua tahun lalu, saat sineas hasil eraman dari media tv seketika memanaskan jagad perfileman dunia dengan karya epiknya, The King's Speech, hingga menjadi nomor satu di bursa Oscar. Filem bertemakan kerjaan Inggris itu memuncakkan karir Hooper sebagai pendatang baru yang tak boleh dipandang sebelah mata. Sekarang, Hooper kembali memberikan persembahan spesial yang temanya sangat jarang disentuh akhir-akhir ini. Filem musikal memang terkesan segmented dan tidak banyak yang suka model filem seperti ini. Apalagi Les Misérables tidak berisikan dialog pada umumnya, melainkan serangkan kalimat yang dinyanyikan dengan melodi bernuansa opera. Sangat jauh dari penerawangan kita jika filem ini layaknya Chicago, Dreamgirls, atau bahkan Glee yang enerjik itu. Les Misérables mencoba mengambil jalur yang sangat anti-mainstream. Trik jitu yang dipakai Hooper untuk menjaring mangsa penonton sebanyak mungkin ialah merekrut belasan pemain yang sudah memiliki nama di mata fans mereka.

Berceritakan di negara Perancis, abad ke 19, saat otokrasi sedang memuncak. Sementara itu, Jean Valjean, seorang sipir yang melarikan diri dari perbudakan yang merajalela kala itu. Singkat cerita, Valjean akhirnya mendapatkan persetujuan untuk merawat anak dari Fantine, Cossette, yang awalnya tersiksa sebagai anak asuh dari keluarga Thenardier. Revolusi Perancis di filem ini tidak begitu jelas digambarkan, karena hanya menekankan pada drama yang dilatar-belakangi perang belaka. Makanya, kompleksitas yang terkait di filem ini tidak begitu berat. Soalnya, mau tak mau Hooper memang memutuskan untuk menonjolkan sisi teknis untuk filem ini dan sedikit keteteran saat menarasikan ceritanya sendiri.

Letak keseriusan Hooper dalam menata desain grafis serta seting yang meyakinkan memang patut dinilai lebih. Dengan lokasi yang begitu gelap, apa yang terpampang sedikit meningkatkan tensi. Namun, sebagai filem yang menitik-beratkan pada musikalitas, filem ini juara pada bagian tata suara, teknis irama, serta pemilihan lagu dan adu vokal. Seperti yang sudah dijelaskan, dialog filem ini semuanya dilagukan. Didendangkan dengan ritme dan intonasi layaknya membaca skrip. Tugas berat ini akhirnya bisa dikerjakan dengan semangat oleh para aktornya, termasuk untuk seluruh para ekstras yang muncul satu sampai dua frame saja. Duel suara antara Hugh Jackman dan Russell Crowe kendati kokoh tapi saya merasa Russell Crowe seperti miscast. Ketidak seimbangan mereka berdua dalam satu layar saya rasakan terlalu timpang. Di lain pihak, Anne Hathaway justru mengeluarkan seluruh jiwa raganya untuk filem ini. Akting menangis saja susah, apalagi harus diiringi dengan bernyanyi, jelas bukan pekerjaan mudah. Tak heran Anne banyak membawa piala dan penghargaan atas kerja kerasnya di filem ini. Untuk para pemeran pembantu, keeksentrikan serta kepiawaian mereka menggubah lagu menjadi enak didengar juga harus diapresiasikan sebesar-besarnya. Karena kendala utama menjalankan sebuah filem musikal terletak pada kemampuan aktor dan membari nyawa ke filem itu sendiri.

Les Misérables, sudah banyak pentas musikal atau bentuk karya lain dengan mengambil sudut pandang yang berbeda-beda. Bagi saya, karya teranyar Tom Hooper ini tidak memberikan hal yang baru yang bisa saya banggakan, atau setidaknya memberi dampak kagum seperti halnya saya menyaksikan Chicago yang begitu superior itu. Sekalipun filem ini sudah didukung dengan sangat baik, baik dari sektor musik hingga penataan busana dan make-up, tetap saja bagi saya filem ini hanya akan bertengger di filem bagus saja. Jika saja penampilan para aktornya biasa-biasa saja, mungkin filem ini akan dengan mudah terlupakan untuk saya. Namun, penampilan extraordinary yang diberikan Anne Hathaway dan Samantha Barks memang terlalu manis untuk ditinggalkan begitu saja. Tak salah dengan raupan 8 nominasi Oscar untuk filem ini. Akhir kata, sebagai pilihan di akhir pekan Les Misérables sangatlah cocok, namun sebagai love letter untuk masa keemasan era musical movie, jelas bukan. Happy watching!

by: Aditya Saputra

The Impossible (2012)

Director: Juan Antonio Bayona
Cast: Naomi Watts, Ewan McGregor, Tom Holland, Samuel Joslin, Oaklee Pendergast
Rate: 4/5


The Impossible mau tak mau akan membawa kita kembali ke akhir tahun 2004, saat tsumani meluluh-lantakkan beberapa negara di kawasan Asia bagian Tenggara, termasuk Aceh yang dibumi-hanguskan oleh jutaan galon air dan meratakan perumahan dengan tanah. Salah satu bencana alam terdahsyat itu menggebrak dunia. Paska kejadian maha besar tersebut, mulailah banyak karya yang dilatar belakangi oleh peristiwa itu. Sebut saja serial, sinetron buatan anak negeri, novel kisah nyata maupun fiksi, serta filem-filem yang juga mengejewantahkan spektrum nahas 'hasil tangan' Tuhan itu.

The Impossible mengambil sudut pandang dari sebuah keluarga yang awalnya bersenang-senang liburan Natal dan Tahun Baru di salah satu beach and resort di Thailand. Tuhan seakan membalikkan telapak tangan dan seketika goncangan keras dan menampar alam Asia saat itu juga. Tsunami merusak suasana suka dan berujung ke suam duka tak ada habisnya. Wisata indah itu hilang dalam sekejab dan banyak keluarga yang terpencar tak tentu arah, termasuk keluarga Henry. Maria dan Lucas akhirnya bertemu walaupun luka yang mereka derita juga tidak membuat mereka lantas bergembira. Berpisah dengan suami dan kedua anak lelaki lainnya, Maria beserta Lucas berupaya sekuat tenaga mencari bantuan dan akhirnya terdampar di sebuah pemukiman rumah sakit.

Terpana dan terenyuh, itulah kondisi saat saya menyaksikan pagelaran singkat bagaimana permainan Tuhan kepada umatnya. Sang sutradara beserta kru yang terlibat membuat spesifikasi tsunami terlihat amat nyata dengan miniatur rekaan dan disulap lewat teka-teki komputer dan hasil akhirnya seperti yang kita lihat di filemnya. Sungguh menyeramkan bagaimana air laut yang merombak dan menghancurkan segala yang tertata rapi hingga tertata rata. Set decoration yang dimaksimalkan tanpa cela, berikut dengan pemukiman serta rumah sakit yang berantakan. Emosi penontonpun akan terjaga hingga ke bagian ini. Sebenarnya, filem ini penuh emosi hingga di akhir filem. Bahkan, ending filem inilah yang membuat kita tidak mampu lagi membendung luapan air mata.

Filem ini memang mengandung sedikit dialog, bahkan ceritanya pun sangat umum kita jumpai. Kalau boleh saya koreksi, segala kebetulan filem ini bisa diterka. Tapi saya memaklumi, karena pada dasarnya cerita ini diangkat berdasarkan kisah nyata. Naomi Watts dengan briliannya berhasil mewujudkan kehendak skrip dan sukses menipu penonton dengan aktingnya. Jeritan kesakitannya di medan berantakan bersama Tom Holland memang yang paling menyita perhatian. Pedih yang mereka rasakan menular ke penonton. Efek yang mereka dera pun secara tidak langsung berdampak ke penonton. Kesakitan mereka terpancar dengan penuh amarah dan iba dan menimbulkan rasa simpatik yang mendalam.

The Impossible memang bukanlah filem yang akan bertengger di deretan filem terbaik pada siapa saja yang menontonnya. Tapi, menyaksikan filem dengan gumpalan emosi seperti ini jelas sajian yang memikat untuk para penyuka tearjerker drama. Kesederhaan yang diberlakukan Bayona lewat filem ini seakan seperti pintu utama baginya untuk menyentuh Hollywood lebih dekat. Dan inilah kuasa Tuhan, kita tidak akan pernah tau apa yang direncanakan-Nya untuk kita, seperti halnya tenggelamnya kota Jakarta akibat kelalaian kita sendiri sebagai perusak ekosistem Bumi, dan mungkin Tuhan sudah jengah atas tindakan tidak bertanggung jawab sebagian besar manusia yang memanfaatkan ciptaan-Nya dengan semena-mena. Dan, tsunami adalah salah satu amarah terbesar yang pernah Tuhan berikan kepada kita secara nyata. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Senin, 07 Januari 2013

Weekend (2011)


Director: Andrew  Haigh
Cast: Tom Cullen, Chris New, Jonathan Race, Laura Freeman
Rate: 4/5


Yang katanya cinta itu bersifat universal memang sangat benar, tapi jika melihat dari sudut agama, percintaan sesama jenis nyatanya tidak dibenarkan. Untuk lebih bijaknya, saya tidak akan menyerempet masalah ini lewat unsur agama. Katakanlah, filem ini akan dijauhi oleh para homophobic dan penonton awam yang mencari unsur 'menyenangkan' dari sebuah filem. Namun, jika kita sedikit membuka mata dan menelah Weekend lebih dalam, ada pesan manis yang terselubung di sini. Bukan sebagai pandangan yang kabur antara para homo (gay/lesbian) tapi sebagai cinta yang menyeluruh. Weekend yang heboh di seantero festival yang diikutinya, menjelma menjadi salah satu filem indie segmented yang memunyai sejuta makna. Tidak terus-terusan membuka tabir kasih sayang terlarang.

Weekend adalah semacam maklumat dari sutradaranya dan target yang ditujunya adalah penonton yang memiliki kecenderungan yang sama dengan karakter di Weekend. Pernah kita merasakan kehilangan seseorang yang sangat kita sayangi? Atau bertemu seseorang yang sangat mengerti kita sehingga kita susah untuk melepaskan diri dari hidupnya? Hal inilah yang diutarakan Andrew Haigh dan menjelaskan dengan padat berisi metafora yang terjalin kuat antara Russell dan Glen yang bertemu di sebuah gay bar dan selanjutnya menjalin hubungan layaknya sahabat-sayang-sahabat. Hingga suatu ketika, mereka berdua harus merasakan takdir Tuhan, dipisahkan oleh keadaan yang mereka sendiri tidak sanggup menolaknya.

Cerita filem ini sungguh kokoh. Sepanjang filem, kita akan temui uraian singkat penuh sarat makna yang menjelaskan keluh kesah mereka sebagai gay. Naluri yang telah tumbuh semasa kecil hingga hukum bullying yang harus mereka terima. Weekend tidak serta merta menghasut bahkan menulari benih 'kelainan' mereka kepada penonton. Seperti yang saya katakan sebelumnya, filem ini mengambil jalur yang lebih terbuka. Tumpuan personal yang memang sangat melekat dijabarkan dengan santai tanpa menghilangkan kesan dramatis romantis. Pencarian jati diri pada salah satu karakter juga tergambar dengan amat jelas. Dirangkai dengan sangat indah oleh sinematografi yang cantik. Sudut-sudut saat mereka merenung hingga memadu birahi tersorot dengan tegas. Percakapan yang terjalin juga ditangkap tanpa keklisean yang biasa terjadi di filem-filem serupa.

Sebenarnya, filem ini sedikit kurang dieksplor. Ada kala saat Glen merekam aktivitas Russell dan sebaliknya, sebaiknya dimatangkan lagi. Padahal, mereka berdua memiliki cara pemikiran yang berbeda yang seru untuk dikomentari lebih jauh. Cara Haigh ini sebenarnya mujarab untuk mengintenskan drama dan emosi lebih kuat lagi. Walaupun demikian, tanpa adegan tersebut filem ini juga sudah kelewat kokoh berkat narasi dan dialog yang sangat menggigit.

Saya tidak akan merekomendasikan filem ini. Biarlah pembaca review ini yang mencari sendiri keunggulan Weekend. Berbagi kepedihan dan kebahagian kepada orang yang kita sayangi kadang kala membuat sebagian dunia kita yang dulu meredup seakan terang kembali. Kedua tokoh filem ini mengalami fase itu. Namun, part saling tinggal-meninggali memang tidak ingin terjadi di kehidupan kita. Sekalipun jika kita harus membelokkan goresan tangan Tuhan. Kesulitan Russell dan Glen menanam, memupuk, merawat, dan memetik hasil cinta mereka mungkin sulit untuk direalisasikan. Tapi kejujuran mereka terhadap satu sama lain dan juga kepada orang di sekitar mereka, hal inilah yang sepatutnya dihargai. Happy watching!

by: Aditya Saputra