Sabtu, 05 Mei 2012

The Avengers (2012)



Director: Joss Whedon
Cast: Samuel L. Jackson, Robert Downey Jr., Mark Ruffalo, Jeremy Renner, Scarlett Johansson, Chris Evans, Chris Hemsworth, Tom Hiddleston
Rate: 4/5


Wow! Itulah satu kata yang keluar dari mulut saya saat selesai menonton film reunian para superhero keluaran Marvel ini. Fantastis dan benar-benar luar biasa. Just in case, saya bukan fanboy dan juga tidak begitu antusias dengan film berbau manusia super yang mampu menjadi panutan anak-anak kecil di luaran sana. Tapi sesaat setelah pertempuran akbar di film ini, saya seperti diketukkan pintu hatinya dan disuruh sedikit terbuka tentang betapa menyenangkannya berimajinasi liar dengan kreatifitas yang dapat mengguncang dunia, dalam hal ini dunia perfilman. Kemasan luar yang sangat menarik, Joss Whedon dengan jeniusnya mengambil enam karakter superhero Marvel untuk dipertemukan dalam satu layar. Semula mereka berenam disaling silangkan oleh tetua bermata satu, Nick Fury.

Adalah Captain America, Iron Man, Hulk, Thor, Black Widow, dan Hawkeye. Seperti kita ketahui sebelumnya, hanya Hawkeye yang belum memperkenalkan diri sebagai film utuh, walaupun sebenarnya Black Widow juga nebeng di filmnya Iron Man. Kendari demikian, pemasukan karakternya di film ini sungguh sangat menyegarkan. Dan dengan adanya pengenalan tokoh-tokoh di film independen mereka sebelumnya, mau tak mau film tersebut kita jadikan pengantar untuk perang yang sesungguhnya di film ini. Thor dengan segala kedigdayaan kedewaannya lengkap dengan palu petirnya, Capt. America yang masih merasa individualistis, Iron Man yang masih nakal dengan lontaran joke-nya, Hulk yang semakin cerdas dan bersahaja, Black Widow yang semakin seksi dan mematikan, serta ditambah sosok pemanah ulung dengan segala keberaniannya.

Mungkin film ini agak sedikit 'sempit' karena terlalu banyaknya tokoh yang harus diperkenalkan satu-persatu, dan tapi untunglah film mereka yang lampau sedikit banyak memberi info karakter masing-masing, sehingga di sini Whedon hanya kebagian tugas membuat film gabungan yang mampu menghibur penonton dan berlabelkan film musim panas yang berkualitas. Dan ya, tulisan naskahnya sungguh santai. Alurnya tidak melenceng ke mana-mana. Durasinya terbilang pas porsi, penempatan leluconnya juga sesuai keadaan. Jangan lupakan adegan aksi yang mampu membuai mata dan imajinasi. Jadi betullah penilaian masyarakat jika film ini salah satu yang terbaik di sektor action fantasy movie.

Robert, Ruffalo, Evans, Jackson, Johansson, Renner, Hemsworth, dam Hiddleston telah bekerja sama dengan amat baik. Tidak ada bakat akting mereka yang ditelantarkan. Semuanya berpadu padan yang menghasilkan act stage yang pas paket. Perubahan mereka menjadi superhero pun menciptakan momen yang bisa dibilang memorable. Catatan khusus untuk Hulk yang selalu menjadi scene stealer di setiap kesempatan. Archery technic si Hawkeye yang membuat saya berpikir jika memanah tak sesulit yang dibayangkan. Belum lagi keanggunan teknologi yang diperlihatkan Tony Stark di rumah, kantor atau markasnya itu. Romanoff yang seperti sedang menari saat melawan musuh menaruh persepsi jika Johansson akan jadi melegenda sebagai salah satu superhero terbaik yang pernah ada. Berlebihan? Tidak juga.

Saya memang agak meracau. Keceriwisan saya berasalan, dan karena memang hingga detik ini film The Avengers seperti menyihir saya untuk cepat-cepat menonton Captain America serta Thor yang teaterikal buatan Kenneth Branagh itu. Satu hal saja, Transformers jelas harus merasa malu. Katakanlah Transformers & The Avengers sekonyong-konyongnya membawa dimensi lain sebagai musuh umat manusia, tapi The Avengers punya kekuatan di sisi pemain dan juga performa aksi. Lihat saja betapa mendebarkannya saat enam jagoan kita harus menghadapi ikan terbang dari dunia antah-berantah? Kolaborasi mereka menghardik kerusuhan mereka patut diapresiasikan setinggi mungkin. Terutama kebrutalan Hulk yang entah mengapa sungguh memesona kita walaupun dia terbilang hobi menghancurkan lingkungan sekitar. Happy watching!


by: Aditya Saputra

Minggu, 29 April 2012

A Separation (2011)



Director: Asghar Farhadi
Cast: Peyman Moadi. Leila Hatami, Sareh Bayat, Shahab Hosseini, Sarina Farhadi
Rate: 4,5/5

To be honest, saya kurang ahli dalam menilai film buatan orang non-Amerika. Di samping kurangnya khasanah film yang saya tonton di ranah mereka, terlebih juga saya kurang paham akan kultur dan adat yang melatar belakangi kehidupan mereka. A Separation tercatat sebagai film berbahasa asing terbaik di Oscar Februari 2012 kemarin, menjadikannya film Iran pertama yang mendapat gelar tersebut. Lantas tentang apa ceritanya hingga membuat juri Oscar teracuni dan tidak segan memberikan predikat terbaik untuk karya Farhadi satu ini? Patut diingat saat akan menonton film ini adalah, A Separation berisi dialog-dialog berbobot berat dan tanpa musik pengiring di dalamnya. Nikmati saja bagaimana cekatannya meraka beradu akting dan kepiawaian Farhadi dalam mengatur filmnya.

Nader dan Simin diujungkan oleh kenyatan jika mereka harus berpisah karena satu hal penyebab. Simin ingin mengajak keluar dari Iran tetapi di sisi lain Nader tidak bisa menuruti keinginan istrinya dikarenakan dedikasinya terhadap ayahnya yang mengidap alzheimer sehingga tidak bisa ditinggal begitu saja. Dan akhirnya, anak perempuan merekalah yang menjadi tumbal dan korban siksaan batin. Nader berada di posisi yang tiak menguntungkan yang akhirnya membuat ia menyewa seseorang untuk mengurus ayahnya selama dia bekerja pada pagi harinya. Datanglah pembantu yang mengurus rumah tangga serta ayahnya yang semakin hari kondisinya kian memburuk. Seiring film bergulir, intrik perlahan muncul dan menggantungkan segala permasalahan yang semula sedikit menjadi berangin-angin dan tidak ada penyelesaiannya. Mereka dipaksa untuk melepaskan jubah kesopanan dan kejujuran untuk melakukan pembenaran.

Tokoh di film ini cukup banyak, tapi dengan adilnya mereka mendapat porsi yang tidak berlebihan dan tidak juga kurang dalam pengeksplorasiannya. Sehingga keberadaan mereka membangun filmnya sendiri dan sukses memasuki kadar drama dengan kualitas yang lebih tinggi lagi. Masing-masing aktor bekerja semaksimal mungkin, mulai dari ekspresi, tone suara mereka baik dalam beremosi ria maupun adegan santai memang diperhatikan dengan sangat baik. Farhadi memanfaatkan momen ini dengan menciptakan dialog-dialog legit buah penanya sendiri. Ditambah dengan sorotan kamera dan editing yang rapih, Farhadi seakan telah mengajak kita berada di lokasi langsung dan ikut merasa geram dengan sifat masing-masing karakter. Yah, mereka semua tidak dijelaskan siapa yang protagonis maupun antagonis. Karakterisasi yang dibuat serealistis mungkin. Itulah manusia, kadang berbuat baik, tapi sukar untuk tidak berbuat jahat.

A Separation menjabarkan dengan sangat lugas pentingnya sebuah kejujuran, kesetiaan, dan rasa saling peduli. Juga memaparkan kita akan keraguan yang selalu menyelimuti manusia. A Separation seolah menampar kita dengan pesan moralnya. Sulit menjadi orang baik, dan kita berada di arena yang telah dibuat oleh Tuhan untuk kita mainkan dengan emosi dan amarah sebagai senjata. Mana lagi, hukum yang sangat menyiksa di Iran sana yang tidak enggan menjebloskan yang salah ke dalam penjara. Bahkan menyentuk yang bukan muhrimnya saja bisa menjadi hal yang memberatkan kita. Satu hal lagi, film ini hanya dipenuhi dialog tanpa iringan musik sedikitpun. Bahkan ending credit-nya diam seribu bahasa. Seakan menyuruh penonton untuk mencerna senddiri dan memilah akan ke mana ending yang telah tersaji.

Sekali lagi, tak salah bagi juri di manapun untuk mengganjar A Separation sebagai film terbaik di festival-festival manapun. Kepahitan dan kegetiran yang terjalin sepanjang film sungguh menguras emosi dan keinginan penonton untuk terlibat langsung di dalamnya. Dan secara tak langsung, film inipun menunjukkan jika seburuk apapun pertengkaran orang tua, anaklah yang menjadi korban pesakitannya. Asghar Farhadi (bahkan saya tidak tau orangnya yang mana!) telah memberikan kita sebuah produk abadi yang tidak akan lekang di makan jaman. Komposisi akting yang memukau menjadi salah satu alasan kenapa A Separation sangat pantas untuk ditonton. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Mirror Mirror (2012)


Director: Tarsem Singh
Cast: Julia Roberts, Lilly Collins, Armie Hammer
Rate: 3/5

Saya belum satupun menonton buah karya Tarsem Singh. Tapi dari yang sudah-sudah, kebanyakan reviewer memuji sinematografi filmnya sendiri ketimbang hasil keseluruhan karyanya. Maka tak heran pula saat saya akan menonton Mirror Mirror, satu hal yang akan saya buktikan adalah visualisasi yang telah mendarah daging di dirinya. Dan setelah lagu India yang mengalun di ending credit film Mirror Mirror, saya mengakui kehebatan Singh dalam memola gambar layar agar enak untuk dinikmati. Lukisan-lukisan bergerak sepanjang film seakan menutupi kekurangan cerita film ini yang sedikit menggelikan jika tak mau dibilang konyol.

Siapa yang tidak mengenal Snow White aka. Putri Salju? Dongeng yang telah melanglang buana ddan seringkali dibuatkan proyek filmnya. Tahun ini saja ada dua film yang mengambil tema tentang gadis cantik baik hati ini. Menunggu versi Kristen Stewart dan Charlize Theron, adalah Mirror Mirror yang mencuri start dengan bantuan Lily Collins dan Julia Roberts sebagai putri salju dan ratu jahat. Anehnya, film maker melakukan pendekatan yang sangat komedik sehingga sedikit melunturkan kesan klasik akan cerita Snow White sendiri. Tidak seratus persen jelek, tapi terasa aneh dengan segala macam pembaharuan yang terpampang sepanjang durasi kurang dari 2 jam ini.

Untungnya kejelian Tarsem Singh dalam mengandalkan bakat visualisasinya. Dari opening saja sudah terlihat animasi serta penggunaan CGI sesuai porsi ddan terlihat menakjubkan. Pemakainan warna-warni untuk kostum serta tata kamera yang berjalan mulus dan dinamis menjadi poin positif untuk Mirror Mirror. Urusan make-up pun film ini terbilang jempolan. Bisa terlihat dari paras cantik dan buruknya si ratu jahat serta pancaran aura berkat riasan tak berlebihan di muka Lily Collins. Hanya saja, menilai film tidak cukup di sisi teknis. Banyak hal lain yang lebih penting untuk menjadi tolak ukur penilaian seseorang akan sebuah film. Kita pinggirkan cerita yang dari awal sudah terkesan 'maksa', eksekusi film ini juga terbilang dangkal. Untung saja tidak dibuat terlalu bertele-tele, kalau tidak dukungan humorisasi tadi bisa saja tak akan terlalu membantu.

Porsi Julia Roberts di sini saya rasa melebihi kapasitas dari Lily Collins sendiri. Benar saja, di tangan Roberts peran ratu sinting yang terobsesi akan kecantikan dan harta duniawi menjadi terlihat lebih culas. Darah komedipun berhasil mengalirkan gerak akting yang menghibur. Berbanding terbalik dengan Lily Collins yang saya nilai cukup merusak nilai kecantikan seorang putri salju. Saya rasa masih banyak aktris muda lainnya yang jauh lebih cantik ketimbang Collins. Para pemeran pembantu di film ini hebatnya mampu memberi semangat kelucuan mulai dari tingkah mereka serta petikan-petikan dialog yang menyenggol urat geli kita.

Mirror Mirror akhirnya harus cukup puas dicap sebagai film hiburan saja. Tidak jelek, tapi selain visualnya yang sangat anggun dan menyejukkan mata, sektor lain sungguh sulit untuk dimasukkan ke taraf istimewa. Setidaknya kita melihat come back-nya Julia Roberts dan melihat modernisasi Putri Salju yang dulu tertolong oleh seorang pangeran, bukan sebaliknya. Dan sambil menunggu Charlize Theron meneror Kristen Stewart Mei nanti. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Jumat, 30 Maret 2012

The Raid (2012)




Director: Gareth Evans

Cast: Iko Uwais, Joe Taslim, Ray Sahetapy, Yayan Ruhian, Donny Alamsyah, Pierre Bruno

Rate: 3,5/5




Rindu dengan film Indonesia nan berkualitas dan bergema ke seantero dunia, dan The Raid adalah jawaban sakralnya. Tapi diingatkan dari sekarang untuk tidak terlalu mengharapkan cerita yang punya twist berlapis-lapis ataupun kadar drama yang berlebih, karena The Raid condong ke film aksi menggebu-gebu dan lebih menekankan tensi penonton agar tidak kendor. Dan memang betul, The Raid seakan tidak memberikan sedikitpun ruang jeda untuk penonton agar mengatur nafasnya. Karena, sepanjang film kita akan dengan frontalnya disuguhi adegan-adegan pemicu adrenalin yang lepas landas dan seakan tak mau turun lagi. Jika saja film ini disempali dengan sedikit cerita yang bisa mempertegas plotnya, bukan tidak mungkin jika The Raid nanti menjadi salah satu bahan agungan bagi siapa saja yang berdiskusi tentang film aksi.


Kekuatan utama dari The Raid adalah begitu Indonesia sekali dengan memperagakan kekhasan budaya kita melalui pencak silat ke seluruh dunia. Iko Uwais yang juga pernah bekerja sama dengan Evans di Merantau yang mana juga menonjolkan aksi beladiri silat ini, mau tak mau menjadi tenar seketika. Bahkan sekarang ia akan menjadi koreografer untuk film Hollywood yang desas-desusnya adalah remake The Raid. Menyebalkan memang mendengar berita tersebut, tapi ya sudahlah. Singkatnya, The Raid menceritakan tentang pemusnahan dan penyergapan para gegana untuk memberantas gembong narkoba di salah satu apartemen bobrok. Setelah pintu lantai bawah dibuka, mulailah berondongan peluru melesat dari lantai ke lantai lengkap dengan martial art membabi buta yang dipraktekkan oleh para pemainnya.


Satu-satunya akting yang berhasil membius saya adalah penampilan Ray Sahetapy sebagai bos keparat. Dia tidak bertampang sangar, tapi lebih memperlihatkan lewat keverbalan berbicara yang seakan apa yang keluar dari mulutnya sama saja membunuh secara perlahan. Selebihnya, tidak ada akting yang patut diperbincangkan. Di luar sektor akting tadi, teritori koreografi silatnya lah yang patut diacungi jempol. Bukan saja pertempuran polisi versus penghuni apartemen yang dibuat senyata mungkin, tapi juga adegan perkelahian tangan kosongnya yang membuat tegang penonton. Penjahat yang super kuat juga menjadi alasan kenapa penonton dibuat begitu gregetan. Sang pahlawan kita yang diserbu bertubi-tubi dan berpeluh ria seperti merasakan kepedihan dan kekalahan fisik saat itu juga. Walaupun juga, penonton Indonesia masih membutuhkan happy ending, dan dibuatlah ujuang cerita yang sedikit terbuka dan sedikit berkesan.


Berjaya di benua orang lain dan disanjung juga di negeri sendiri jelas menandakan jika film ini adalah bukan produk abal-abal. Kendati dibuat oleh WNA, bukan berarti tampilannya pun akan terasa hamburger. The Raid jelas-jelas ketupat yang dibungkus sedemikian anggunnya hingga menarik bagi siapa saja yang mencobanya. Ditambah dengan gubahan musik dari Mike Shinoda, penggedor jantung satu ini bertambah pula kualitasnya. Evans jelas tau porsi ke-Indonesia-an yang harus ditekankan agar diterima di negeri kita, dan juga peka sisi komersil jagad raya agar berkenan di hati dunia luar. And he completed it.



Angin segar yang dibawa Evans serta rombongannya di negara kita jelas membangkitkan semangat perfilman Nasional kita yang seakan membeku dan stagnan oleh komedi dan horor kotor sekarang-sekarang ini. Apalagi ini film aksi yang sangat jarang ditemui di bioskop-bioskop kita. Walaupun ceritanya yang super dangkal dan tidak ada kejelasan yang pasti, toh ditutupi dengan gambar gerak yang sepadan untuk harga tiket yang kita bayar. Memperkenalkan silat ke area yang lebih luas sekaligus mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia, otomatis menjadi kepuasan dan kelegaan tersendiri bagi kru-kru yang berada di lingkup The Raid ini. Sekarang, tinggal bagaimana mempertahankan posisi ini atau jika perlu menambah stamina, otot, dan otak agar mampu menciptakan karya seni yang jauh lebih bagus. Happy watching!@


by: Aditya Saputra

Young Adult (2011)




Director: Jason Reitman

Cast: Charlize Theron, Patton Oswalt, Patrick Wilson

Rate: 4,5/5



Pernah mencoba Juno? Atau Up in the Air? Jika sudah, pertanyaan selanjutnya apa persamaan paling mendasar di kedua film tersebut selain pembesutnya yang merupakan orang yang sama? Jika Anda menjawab garis besar tentang pendewasaan diri karakter utamanya, berarti Anda sepaham sama saya. Untuk kali ketiganya, Reitman mengajak kita untuk mendalamai dan sedikit berintrospeksi lewat tokoh rekaannya di karya terbarunya, Young Adult. Meskipun banyak massa yang bilang karyanya yang ini tidak begitu spesial, namun bagi saya pribadi film ini sungguh mengesankan. Mengambil perspektif dari seorang wanita gaul yang urakan, kita seakan diajarkan (namun tidak sedang digurui) menyelami sikap dan kehidupan parlente masyarakat tuna kesopanan.


Penulis yang kini tinggal di kota metropolitan, menjalani hidup dengan penuh kesimpangan norma. Keglamorannya mengendapkan dia di sebuah apartemen dengan gaya hidup penuh alkohol dan amburadul. Suatu hari ia kembali ke kota masa kecilnya dan bersua dengan teman-teman lamanya, dan salah satunya adalah cinta monyetnya, bernama Buddy. Mendapat wejangan slang dari Matt, hingga merasa dirinya pecundang tepat setelah dia kehilangan kesabaran akan ulahnya sendiri. Kekonyolan motif hingga kebodorannya dalam bersikap lambat laun malah membuat lubang nista sendiri bagi dirinya. Walaupun akhirnya perlahan dia merasa apa yang sepatutnya disalahkan dan dibenarkan pada dirinya.


Nilai hampir sempurna yang saya torehkan ke film ini jelas bukan tanpa alasan. Dari segi cerita saja sudah begitu membumi. Oke, sulit untuk dikatakan sempurna, bahkan cenderung biasa. Hanya saja, kekuatan plot yang disemayamkan oleh Diablo Cody selaku scriptwriter-nya terlampau bagus. Melihat rantai kehidupan yang diwakilkan oleh Mavis Gary seakan menohok kita ke tenggorokan paling dalam. Apa yang terpampang di layar bisa terjadi ke siapa saja, tanpa bekal alasan apapun karena manusia memang tercipta dengan obsesi yang berlebih dan dangkal dalam pembenahannya. Kita tidak akan dibimbing untuk membenci Mavis, melainkan iba dengan apa yang diperbuatnya. Akibat tabiat perkotaannyalah yang memaksakan dia untuk merasa 'besar' saat tinggal di kota kecilnya. Dan Reitman benar-benar memperhatikan detail ini. Layaknya Ryan Bingham yang merasa bersalah akan sifat flamboyan nakalnya, di sinipun Gary dituntut untuk menyesal akibat kebusukan pola pikir cerdasnya.


Selain seting yang mendukung serta sound mixing yang bersenyawa dengan filmnya, penampilan akting dari para pemain wataknyalah yang memberi ketegasan mengapa Young Adult menjadi salah satu film yang wajib ditonton. Jujur, baru di sini saya tau ada aktor bernama Oswalt. Dan gesture-nya sudah dalam posisi yang bagus, dengan akting santai namun berkelas. Wilson yang selalu mendapat film bagus tapi jarang dilirik kritikus, bertolak belakang dengan Charlize Theron yang di sini sebagai dewinya. Luapan emosinya di adegan puncak, tanpa bermaksud apapun, merupakan salah satu performance paling memukau sepanjang tahun 2011 ini. Bitchy style-nya hingga ke lirikan nakal matanya pun seolah mencerminkan secara lugas sosok Mavis Gary yang diinginkan Cody dan Reitman. Seakan kita disuruh membenci Gary lewat omongan kasarnya namun juga kasian dengan tabiat kotornya.


Penilaian publik akan terpecah dua ke film Young Adult. Dan saya akan masuk ke komunitas yang mengagumi film ini karena tampilannya yang segar, down-to-earth namun berkelas dan penuh dengan sindiran. Ditambah dengan Theron yang akting gila-gilaan, lengkaplah sudah jika Young Adult menjadi persembahan yang istimewa dari Reitman selang 2 tahun setelah diajak keliling kota oleh Ryan Bingham. Cody pun mungkin tidak dilirik Oscar kali ini, meskipun tetap saja dia lebih bagus duduk manis di ranah drama satir seperti ini daripada memaksakan membuat naskah horor yang jatuhnya komedi seperti Jennifer's Body tempo hari. Happy watching.


by: Aditya Saputra