Jumat, 15 Februari 2013

The Lorax (2012)


Director: Chris Renaud
Cast: Danny DeVito, Ed Helms, Zac Efron, Taylor Swift, Betty White
Rate: 3/5


Sebagai permulaan dan sedikit perbandingan, saya sangat suka dengan filem Horton Hears A Who! yang juga diterjemahkan secara kasar dari cerita karangan Dr. Seuss. Cat in the Hat juga termasuk yang lumayan walaupun banyak yang menyayangkan kenapa harus dibuat versi live action. The Lorax, dari sumber inspirasi yang sama, mencoba mengikuti jejak saudaranya dalam menyemarakkan parade animasi sederhana dengan sisipin pesan moral yang bertaji. Sulit diakui, The Lorax malah hadir sangat biasa, jika tak mau dibilang mengecewakan. Sepanjang filem diputar, saya hanya mau mengakui filem ini terasa bagus karena dilapisi oleh titipin pembelajaran yang mampu berbicara banyak. Namun, dari segi animasi, rekayasa komputer, hingga yang paling penting semisal pemilihan musikpun, The Lorax terbilang biasa-biasa saja. Dr. Seuss layaknya Roald Doahl yang mampu berdongeng sekaligus menyisipkan sekelumit fabel yang dikemas dengan lucu, mendidik, dan segar. Nyatanya, memang tak mudah memaksakkan sastra untuk dikembangkan ulang melalui medium filem.

Berawal dari sebuah kota yang hidup tanpa udara bebas. Kesempatan inilah akhirnya dimanfaatkan secara jahat oleh (sebut saja) gubernur kota setempat untuk mengedarkan udara bebas buatan yang mungkin akan memperkaya dirinya sendiri. Kota yang tanpa rerumputan, pohon, maupun miskin reboisasi ini malah lebih mementingkan gaya hidup yang bebas demikian. Namun, ternyata masih ada satu-dua orang yang peduli dengan lingkungan hidup dan mencari kebenaran yang selama ini tersembunyi atau bahkan disembunyikan oleh gubernur. Suatu ketika, seorang anak bertemu dengan lelaki yang ternyata biang keladi atas 'bencana sosial' yang terjadi di kotanya. Flasback pun mengalir dari awal ia dikucilkan oleh keluarga hingga menjadi kaya raya akibat pengembangan bulu ajaib yang berasal dari pohon. Dan muncullah The Lorax sebagai penunggu hutan tersebut. Happy seketika menjadi hancur ke akar-akarnya. Roda kembali berputar memperburuk keadaan si lelaki tersebut.

Yang cerdas dari filem ini adalah cerita sumbangan dari Dr. Seuss. Bagaimana fiksi bisa disatukan dengan pola pikir yang matang akan kepedulian masyarakat kepada lingkungan. Mengindahkan tamak dan rakus yang berakhir pada kerugian orang banyak. Saya sendiri sangat salut bagaimana penyeimbangan ide brilian ini dengan pola hidup manusia sekarang ini. Namun, kesuksesan ceritanya tidak diikuti dengan sisi teknis yang seharusnya bisa lebih dimaksimalkan lagi. Banyak adegan yang terlalu dipaksakan lucu dan malah berakhir tragis garingnya. Ada juga beberapa adegan yang diharapkan bijaksana dan sendu namun jadinya basi dan canggung. Untuk komputerisasinya sendiri tidak ada yang baru. Bahkan animasi semisal Mary & Max saja bisa jauh lebih detil dan transparan. The Lorax yang dibiayai dengan budget yang lumayan seharusnya bisa lebih bereksplorasi dan meningkatkan daya imajinasi sutradaranya untuk mengembangkan dunia The Lorax itu sendiri. Mungkin setengah dari budget-nya dipakai untuk membayar aktor yang jasa suaranya digunakan untuk filem ini.

Jujur, tidak ada pengisi suara karakter yang berhak dilabeli 'memorable'. Semua datar dan tidak ada pengembangan sama sekali. Lagian penonton juga tidak melihat artis idola mereka di depan layar, jadi teritori ini tidak begitu penting. Tapi, satu hal lain yang penting untuk sebuah animasi bisa dikatakan berhasil adalah pemilihan lagunya yang asik. Sayangnya hal itu tidak ada di The Lorax. Sungguh sangat mengecewakan, dan lagi-lagi saya membandingkan filem ini dengan Horton yang begitu enerjik dan atraktif dan sesuai gambaran akan seperti apa filemnya.

Bagaimanapun juga, anak-anak akan tetap menyukai filem penuh warna ini. Bagi penonton dewasa, The Lorax cukup ditonton sekali saja saat menemani anak mereka yang riang menyaksikan para hewan menunjukkan ekspresi terlucu mereka, sembari menjelaskan pelajaran yang amat penting dari filem ini tentang bagaimana menjaga lingkungan dan memelihara hutan kita yang semakin gundul ini. Menyikut perihal banjir yang baru-baru ini melanda Jakarta, mungkin salah satu penyebabnya adalah kurangnya lahan penghijau yang berguna untuk menyerap air hujan dikarenakan tanah hutan sudah dipangkas habis untuk dibuatnya gedung-gedung hiburan. Ini sudah berjalan dari kemarin-kemarin dan dampaknya baru terasa sekarang. Kejelian masyarakatlah yang dibutuhkan sekarang ini untuk selalu mewaspadai apa yang akan terjadi esok jika kita terus bermain-main dengan alam tanpa tanggung jawab. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Minggu, 03 Februari 2013

Amour (2012)


Director: Michael Haneke
Cast: Jean-Louis Trintignant, Emmanuelle Riva, Isabelle Huppert
Rate: 4,5/5


Tidak banyak orang yang mengenal Michael Haneke. Dari ruang lingkup yang menyukai filem saja, nama Haneke mungkin masih terasa asing di telinga walaupun karya-karyanya hampir seluruhnya dicap bagus. Bahkan, lewat Funny Games yang sedikit komersilpun, Haneke cenderung masih dipandang kalah terkenal jika dibandingkan dengan Steven Spielberg, Martin Scorsese, dsb.. Haneke tidak jarang bermain dengan dunianya sendiri saat membuat sebuah filem. Keanehan dan kejanggalan yang meliputi cerita maupun adegan lantas membelah penonton menjadi dua, suka dan tidak suka. Keunikan filemnya memang dirasa kurang masuk akal dan seperti membodohi penonton. Namun, itu juga yang menjadi standar kejeniusan seorang Haneke dalam mengelabui penonton agar selalu fokus dengan clue yang menyebar di sepanjang filem. Datang lagi satu filem produksi Perancis yang pertengahan tahun kemarin sempat menghiruk-pikukan jagad perfileman dikarenakan temanya yang kata kebanyakan penonton adalah sisi lain dari seorang Haneke.

Haneke kali ini bermain di ranah drama percintaan. Bukan Haneke jika tidak beda, dan Amour mengambil sudut pandang romansa di usia lanjut. Georges dan Anne, sepasang suami istri yang memasuki masa usia 80 tahunan, memensiunkan diri dari pekerjaan mereka sebagai pengajar musik. Mempunyai anak perempuan yang juga berkecimpung di dunia musik, namun telah menjalin sebuah keluarga dan hidup memisah dengan orang tuanya. Suatu ketika, Anne menderita stroke yang lama-kelamaan membuat sebagian tubuhnya lumpuh dan meminimkan kinerja tubuhnya untuk bekerja dan otomatis membutuhkan perawatan penuh dari sang suami tercinta. Dan di sinilah, kadar cinta George dipertaruhkan. Memberikan perlindungan dan pemawasan kepada Anne, mulai dari hal kecil hingga hal besar semacam kemanjaan Anne yang cenderung seperti anak kecil. Kendati sudah dibantu oleh suster yang merawat Anne seminggu tiga kali, tetap saja pangkuan terbesar hidup Anne ada di tangan George.

Saya harus akui jika filem ini salah satu filem romantis yang pernah saya tonton sebelum akhirnya dibuat tercengang oleh ending dahsyat khas Haneke. Saya tidak akan membicarakan akhir filem ini, saya akan memuji apa yang telah Haneke perbuat hingga menghasilkan Amour yang sungguh cemerlang ini. Patut diwaspadai, Amour banyak mengandung adegan-adegan sepi dan kosong yang cenderung membuat lelah. Namun, jika sudah memasuki dialog, kesunyian tadi terbayar sudah berkat obrolan yang terlihat sangat natural dan dibumbui oleh kapabilitas akting yang juga sejajar naturalitasnya. Amour hanya bermain di sebuah apartemen kecil yang terdapat kamar tidur, dapur, kamar mandi dan ruangan lainnya. Haneke menggunakan jasa lokasi sempit ini dengan sangat efektif. Penonton seperti diajak merasakan bagaimana pedihnya sakit yang dialami Anne dan betapa beratnya beban yang harus diangkat oleh George, terlebih lagi mengingat umurnya yang juga tua dan susah berjalan.

Kepekaan Haneke tidak terbantahkan. Di filem terdahulunya saja ia bisa memaksimalkan set minim dengan penuh dialog berkualitas. Amour pun demikian. Naskah yang amat rapih ini diselaraskan oleh kemampuan akting kelas wahid oleh Trintignant dan Riva. Dua sejoli ini menunjukkan kekuatan akting di atas rata-rata. Believable. Penonton mungkin merasa jika mereka tidak sedang berakting, especially Riva yang dengan supernya merefleksikan seorang pesakitan yang harus menghabiskan waktu di atas tempat tidur. Wajar jika AMPAS akhirnya memberi penghormatan berupa nominasi Oscar. Selain itu, Haneke juga sering memasuki satu-dua adegan yang jauh dari cerita awal. Seperti pas bagian burung yang menjadi simbol terkuat filem ini. FYI saja, poster internasional Amour diambil dari salah satu adegan paling bagus dari filem ini dan mungkin saja salah satu dari sekian banyak adegan romantis, dari sudut pandang yang lebih umum.

Dengan bangga saya sematkan Amour sebagai salah satu filem terbaik yang pernah saya tonton selama ini. Pengeksekusian yang berani dan terlihat kurang ajar dan tidak wajar, membuat Amour memunyai cita rasa yang berbeda di antara filem bertemakan sejenis. Dan memang benar, saat Haneke menerima piala Golden Globe untuk filem berbahasa asing terbaik, dalam pidatonya ia sempat berujar, bagian bawah piala itu adalah dirinya, sedangkan bagian atasnya adalah untuk Trintignant dan Riva. Karena, tanpa mereka, Amour hanyalah semacam cerita klasik biasa. Emosi yang tercurah memang berkat kesuksesan mereka dalam memberikan makna yang lebih dalam kepada filem ini. Kepada makna cinta yang seharusnya tidak akan pernah mati dimakan usia. Happy watching!

by: Aditya Saputra

The Sessions (2012)


Director: Ben Lewin
Cast: John Hawkes, Helen Hunt, William H. Macy, Moon Bloodgood
Rate: 3/5


The Sessions diilhami dari kisah nyata yang telah dibukukan. Cerita ini juga pernah dibuatkan filem dokumenter yang juga menggambarkan kehidupan Mark O'Brien dalam menuntaskan niat untuk melepaskan virginitasnya. Mengidap polio sejak umur 6 tahun membuatnya hidup hanya di atas ranjang beroda dan menggunakan paru-paru besi (iron lung) sebagai alat bantu napasnya. Hasrat  janggalnya tadi rupanya bukan hanya omongan belaka. Dengan bantuan pakar terapi dan pastur yang menjadi penasehat baginya, akhirnya Mark mencoba menghubungi sex surrogate andal. Namun nyatanya, di tengah-tengah proses 'pelatihan' tersebut, hubungan kasar yang mereka jalani malah berdampak ke hal yang tidak diduga-duga. Sang sex surrogate bahkan mulai berpikir apakah benar atau salah yang dijalaninya selama ini.

Secara pribadi, filem ini sedikit membingungkan buat saya. Bagaimana tidak, saat menonton ini saya seperti disuruh menertawakan kesakitan orang lain. Walaupun The Sessions disadur dari kisah nyata, namun dengan tema yang 'nyentrik' seperti ini, membuat saya sedikit kewalahan bagaimana mengontrol reaksi. Entah harus jijik, mual, tertawa, sedih, simpati, atau bahkan ikut-ikutan sakit. Saya suka drama, tapi jika temanya terlalu menyimpang seperti ini juga bukan my cup of tea yang akan saya puja setinggi langit. Saya juga tidak bisa mengambil kesimpulan dan pesan moral yang hendak diangkat oleh Ben Lewin melalui The Sessions. Entah saya yang kurang cermat atau filem ini memang terkesan datar dan tidak mengandung visi dan misi yang kuat sebagai produk yang berkualitas.

Terutama untuk adegan ranjang yang membuat saya sedikit ngilu. Ketidak wajaran yang terpampang di layar memang sungguh mengganggu. Kendati efek samping di antara kedua pelaku berbeda-beda, namun 'kerja sama' mereka di sesi terapi ganjil ini memiliki dasar yang salah. Dan jangan pula mengharapkan sinematografi ataupun musik pembantu cerita yang seharusnya bisa menguatkan ceritanya sendiri. Dan kembali ke hukum alam, meskipun digerogoti polio Mark tetaplah lelaki normal yang haus akan cinta dan kasih sayang. Tujuannya mungkin tidak dibenarkan, tapi ambisinya bisa dimaklumi. Hanya saja, keegoisannya mengungkapkan cinta ke babysitter-nya malah berujung pahit. Di posisi inilah yang membuat saya tidak tega harus bereaksi apa dan bagaimana, ikut merasakan dukanya atau malah berbelok tidak simpati lagi akibat egosentrisnya tadi.

Jika berbicara soal akting, John Hawkes telah menunjukkan kapasitas juaranya. Keseriusannya di sini setara dengan apa yang telah dilakukan Javier Bardem di The Sea Inside dan Mathieu Almaric di The Diving Bell & the Butterfly. Sepanjang filem, Hawkes hanya bertalenta di atas tempat tidur. Hebatnya, dengan set sempit seperti itu Hawkes berhasil membawa perannya dengan optimal. Saya benar-benar salut saat ia harus berekspresi orgasme atau mencapai klimaks saat melakukan adegan seks. Perannya di sini jelas bertolak belakang dengan peran-perannya sebelumnya. Helen Hunt ternyata melakukan hal yang sama. Rupanya bakat sahihnya tidak tumpul, dan pengejewantahannya sebagai sex surrogate labil patut diberi kredit tersendiri. Sedangkan untuk William H. Macy, ya begitu saja. Ben Lewin termasuk beruntung karena memasang mereka di filem ini. The Sessions menjadi terasa beda.

Sulit untuk mengatakan bahwa The Sessions adalah filem ini. Dari uraian di atas, banyak justifikasi miring yang saya berikan ke filem ini. Tapi, dengan bantuan di departemen akting, The Sessions seperti berbicara lebih dalam. Namun, apabila berbicara masalah kesimpulan, ada baiknya para penonton sendirilah yang menarik kesimpulan apa maunya The Sessions ini. Setidaknya, The Sessions berhasil mengundang rasa iba sekaligus risih terhadap apa yang Mark lakukan. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 02 Februari 2013

Beasts of the Southern Wild (2012)


Director: Benh Zietlin
Cast: Quvenzhane Wallis, Dwight Henry, Levy Easterly
Rate: 3,5/5


Setiap orang pasti tidak mau hidup di daerah kumuh, rentan terkena musibah, ataupun didera kesusahan dunia sepanjang hayatnya. Intro saya ini mungkin akan terasa membosankan, karena filem yang akan saya kupas ini memang menyinggung sebuah frame yang kasat mata oleh kita. Beasts of the Southern Wild semula memang hanya berkutat di ajang-ajang non-komersil saja. Untunglah ada PH yang melihat potensi pada filem ini sehingga disebarluaskan dan jadilah produk ini menjadi bahan sanjungan para kritikus. Beast of the Southern Wild terkesan sangat sederhana, miskin cerita, namun terkontaminasi oleh pesan hidup dan bobot akting yang bisa menyeimbangkan kekurangannya tadi. Kesulitan filem ini merangkak dalam menjaring penonton tidak diikuti dengan iklan mouth-to-mouth yang efektif. Lambat laun, filem ini akhirnya bercokol di deretan filem-filem favorit para reviewer, termasuk saya.

Seorang gadis sangat kecil hidup terlunta-lunta hanya dengan ayahnya di gubuk yang super-duper kecil dan mengenaskan. Tokoh sentral kita seperti diuji oleh Tuhan untuk mengemban beratnya nasib hanya seorang diri, dengan umur begitu dininya. Segmen ini adalah segmen terkuat di filem ini. Semangat yang mendidih di darah sang belia diperlihatkan dengan sangat menohok. Gaya nomaden yang harus digunakan keluarga kecil ini mau tak mau mengantarkan mereka keduanya untuk menyelami makna hidup yang sebenarnya. Fabel unik yang menjadi bayang-bayang sang gadis juga tak lepas memperindah cerita. Dari sanapun kita bisa tertegun penggambaran yang tak akan bisa kita prediksi sebelumnya.

Beasts of the Southern Wild bukanlah filem yang penuh dengan hiburan dan tawa riang para karakternya yang akan membawa kita melepas penat. Malah sebaliknya, depresi dan delusional adalah dampak paling nyata saat kita menyaksikan sepak terjang mereka dalam mengarungi hidup. Tinggal di lahan basah dan siap menerima bencana alam sewaktu-waktu tanpa diberi aba-aba, berpikir keras dan pintar dalam menyiasati jikalau seketika dirundung penyakit, licik dan cerdas jika memang diperlukan. Yah, momen indah saat para anak kecil ada di suatu bar benar-benar menyentuh. Sang sutradaranya, dalam hal ini, berhasil memanjakan penonton dan menggodok emosi di bagian yang pas. Bohong jika tidak terenyuh saat adegan yang saya maksud. Dan pesona tunggal dari Quvenzhane Wallis adalah mahkota filem ini. Bermain tanpa minus sedikitpun. Sayapun dibuat kagum oleh naturalitas yang ia luapkan lewat filem ini. Mungkin sama halnya saat saya dibuai oleh karismatik seorang Dakota Fanning di awal karirnya saat menjadi anak Sean Penn di I Am Sam. Wallis mungkin tidak akan menduga jika kerja kerasnya di filem ini akan dihadiahi beragam penghargaan termasuk duduk manis di deretan nominasi aktris terbaik di bursa Oscar.

Banyak yang heran filem 'biasa' ini bergaung amat keras hingga lolos di mata juri Oscar. Di luar pro dan kontra, pantas tak pantas yang disematkan kepada filem ini, mau tak mau sayapun harus jujur jika Beasts of the Southern Wild adalah salah satu karya terbaik edaran tahun 2012. Sebagai pemula pun, sang sutradaranya pantas diberikan kredit tersendiri karena telah memberikan 'panutan' kecil untuk kita agar lebih menghargai hidup. Lewat sinematografi yang sejuk di mata dan gubahan musik yang sedap di telinga, disubstitusi pula oleh bakat yang mumpuni, kekurangan-kekurangan filem ini akhirnya bisa dimanipulasi dan dieliminasi dengan baik. Silakan menyaksikan filem yang akan menampar diri kita sendiri ini. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 26 Januari 2013

Hotel Transylvania (2012)


Director: Genndy Tartakovsky
Voice-over: Adam Sandler, Andy Sambeg, Selena Gomez, Kevin James, David Spade, Steve Buscemi, CeeLo Green
Rate: 3/5


Menggembirakan, para pembuat filem animasi sekarang lebih memunyai visi dan misi yang bisa membangkitkan pesona animated feature di kalangan penonton dewasa. Brave yang sangat dongeng itu tetap dinikmati oleh orang dewasa karena lelucon dan struktur ceritanya yang universal dan down to earth. Frankeweenie lebih sadis lagi karena humornya memang ditujukan langsung ke penonton berumur. Hotel Transylvania sebenarnya berada di tengah-tengah apakah filem ini khusus sebagai tontonan anak-anak atau mungkin bisa memuaskan para penonton dewasa. Masih mengusung tema yang sama paska kesuksesan luar biasa Twilight, Hotel Transylvania bermain aman namun tetap berusaha unik dan didukung oleh cerita yang tidak biasa. Jika dulu manusia yang takut dengan monster semacam frankenstein dan vampir, sekarang kebalikannya. Kaum mereka seperti memisahkan diri dari manusia karena mereka menganggap manusia sebagai pembuat onar dan mengancam kelangsungan hidup mereka.

Dracula hendak merayakan ulang tahun anaknya, Mavis, yang ke-118. Dengan alasan itu, ia akhirnya membangun sebuah hotel yang dikhususkan untuk tempat inap para monster yang juga telah menjadi teman semasa hidupnya. Reuni para monster tersebut ternyata diganggu dengan kedatangan sesosok manusia secara rahasia. Belum lagi Mavis yang masih penasaran dengan kehidupan di luar kastil, tempat selama ini ia singgahi selama 118 tahun tersebut. Kehadiran Jonathan tidak diketahui para tamu undangan lainnya. Hanya Dracula yang bersekongkol dengan Jonathan. Namun, berkat Jonathan lah pesta ulang tahun tersebut menjadi lebih megah dan meriah. Lambat laun, persembunyian itu akhirnya tercium juga dan merubah seluruh pandangan tamu terhadap Dracula.

Sejujurnya, tidak ada yang menarik dari Hotel Transylvania selain ide ceritanya yang lumayan unik. Sayangnya hal itu tidak berkembang. Ide tersebut seakan berjalan di tempat dan sang kreator lebih mementingkan bagaimana meramu humornya agar diterima penonton. Dan itu menyebabkan filem ini cenderung datar dan semakin lemah hingga mendekati akhir. Bahkan, 30 menit awal filem ini sangat biasa jika tidak mau dibilang membosankan. Joke-joke yang dilempar juga hampir kebanyakan yang tidak pas. Yang seru memang penempatan berbagai tokoh sentral yang pas pada tempatnya. Kehadiran mereka jelas membantu filem ini hingga tidak jatuh lebih dalam lagi. Serunya di dunia animasi adalah kita bisa memungkinkan apa yang di dunia nyata tidak mungkin terjadi. Untunglah seperempat akhir filem ini digenjot dengan sangat baik. Semua kebosanan di awal terbayar dengan tuntas. Kendati banyak adegan yang tidak masuk di akal, akan tetapi tetap memberikan angin segar tersendiri. Begini saja, jika saga Twilight saja bisa berbuat sebodoh itu, kenapa sebuah animasi tidak bisa?

Chris Rock pernah berujar, menjadi pengisi suara di filem animasi sangat mudah. Hanya berintonasi sesuai apa yang sutradara perintah dan dia puas, maka kita dibayar. Jadi, seluruh aktor yang menjadi penghembus nyawa untuk karakter di Hotel Transylvania tidak masalah sama sekali. Mereka menghidupkan setiap tokoh dengan pas. Pemilihan lagu-lagu juga sangat menghibur, bagaimana para monster tersebut nge-rap dan bernyanyi lantang. Satu lagi yang penting adalah pembelajaran yang bisa kita serap dari filem ini. Kita seperti diajak menertawakan diri sendiri. Manusia digambarkan sebagai trouble maker, dan memang benar. Sayangnya, dengan point of view yang sangat frontal karena menilik dari para monster, sudut pandang tersebuh serasa invalid dan hambar.

Sungguh sebuah apresiasi yang luar biasa Hotel Transylvania bisa bercokol di deretan nominasi terbaik Golden Globe tahun ini. Dan pilihan yang bijak para juri Oscar tidak menempatkan filem ini di salah satu yang terbaik. Karena sayapun setuju, untuk duduk di kasta setinggi Oscar, Hotel Transylvania terlalu lemah. Dengan tidak mengurangi rasa hormat, Hotel Transylvania jatuh berkat kekontrasannya dalam memilih plot mana yang hendak didahulukan. Setidaknya, sebagai paket hiburan dan bahan untuk tertawa riang, Hotel Transylvania masih sanggup memuaskan dahaga humor penonton. Namun, sebagai konsumsi publik yang mahal dan sehat, kandungan gizi di tubuh Hotel Transylvania kurang berbobot. Happy watching!

by: Aditya Saputra