Sabtu, 30 Oktober 2010

Almost Famous (2000)

Director : Cameron Crowe
Cast : Patrick Fugit, Billy Crudup, Jason Lee, Kate Hudson, Frances McDormand, Anna Paquin, Zooey Deschanel
Rate : 3,5/5


Cameron Crowe adalah salah satu penulis naskah ulung yang sudah memiliki fanbase tersendiri untuk karya-karyanya. Buah penanya memang tidak perlu diperdebatkan lagi. Tulisan skrip mulai dari Fast Time at Ridgemont High, Jerry Maguire, Say Anything hingga yang paling lemah semisal Elizabethown pun masih menyisakan suka cita mendalam kepada seorang Crowe. Perheletan Oscar 2001 lalu disemarakan oleh salah satu film terbaik Crowe yang mengatasnamakan musik sebagai latar belakang cerita. Adalah Almost Famous yang oleh sebagian pihak dicap sebagai film terbaik tahun 2000 memang terbukti memberikan warna baru untuk pattern drama memikat yang mengalurkan pendewasaan diri di tengah lingkungan yang keras untuk dijalani.

William Miller adalah remaja tanggung yang berkesempatan meliput tur band favoritnya, Stillwater, dan menjadi freelance editor untuk majalah musik terkenal, Rolling Stone. Namun ternyata, keterlibatannya itu tidak dipikir ulang karena dunia yang sekejab dimasukinya adalah sebuah dunia yang keras dengan beragam aneka personaliti. Bercermin pada sosok gitaris Stillwater dan seorang grupis, Penny Lane, hidup Miller semakin hiruk-pikuk. Walaupun di rumah nan jauh di sana, sang ibu dengan segala kecemasan batin merasa dilema dengan ketidakberadaan anak-anaknya di pelupuk matanya.

Crowe telah mengolah naskah buatannya sendiri menjadi sebuah karya yang sangat monumental. Crowe berhasil mengeksplorasi dunia musik khususnya rock 'n roll tahun 70-an. Dan sebenarnya, Crowe membuat dunia musik tadi hanya sebagai background cerita sedangkan masalah primernya terletak pada tokoh utama yang mencoba menemukan jati diri di luar lingkungan ibunya yang over protected. Miller yang anak baik-baik akhirnya terbawa ke suasana hippies dan mulai mentolerir apa saja yang hendak diperbuatnya. Pada sisi lain, Almost Famous juga mengutarakan tentang pendewasaan diri yang saya kemukakan sebelumnya. Bagaimana lingkungan membentuk hidup seseorang dan warna-warni lingkungan menjadi sebuah visual yang tak bisa dielak mata.

Di sinilah kelihaian Crowe dalam mengeksposisi kekayaan batil remaja yang serba canggung dan mulai memata-matai lingkungan dengan pola pikir yang lebih terbuka. Layaknya Jerry Maguire yang terketuk batinnya oleh lingkungan dan keadaan. Ditambah lagi jika menyinggung kalau inti cerita ini mengambil segelintir masa yang dialami secara langsung oleh pengalaman Crowe sewaktu muda. Jadi tak heran jika Crowe 'mendaur ulang' masa indahnya itu dengan sangat independen. Semarak lagu-lagu aroma tujuh puluhan juga tak lepas mengikutsertakan perjalanan film berdurasi 2 jam ini.

Dan yang lebih menarik adalah menyaksikan para aktornya bermain sangat natural. Crowe yang mengajak talenta-talenta muda seperti Patrick Fugit, Kate Hudson, Anna Paquin, dan Zooey Deschanel patut diacungi jempol ke atas. Pesona mereka keluar dengan sangat alami. Pun terjadi dengan generasi atas semisal Billy Crudup, Phillip Seymour-Hoffman hingga Frances McDormand yang berhasil mengasimilasikan temperamental seorang ibu dikekang dilematis.

Nah, selagi kaki masih berpijak di tanah bumi dan langit masih berhiaskan matahari, mungkin saya sarankan untuk menyempurnakan hidup Anda untuk menonton Almost Famous. Bukan saja bernyawa entertaining, namun sajian cerita dan pesan di ruang lingkup filmnya memang setara dengan perilaku manusia pada dunia nyata, setidaknya bagi kaum remaja. Ingin sekali rasanya mengumbar seluruh adegan di film ini kalau mengingat spoiler bukan sesuatu yang diharamkan. Happy watching!

by : Aditya Saputra

Notting Hill (1999)

Director : Roger Michell
Cast : Julia Roberts, Hugh Grant, Rhys Ifans, Lorelei King
Rate : 3/5


Cobaan terberat saya saat harus menonton sebuah film drama romantis adalah bagaimana saya agar tidak terbuai dengan jalan cerita yang ada. Walau kebanyakan film bernada romantis tidak memiliki alternatif penyelesaian cerita dengan kebahagian, biasanya saya menyiasatinya dengan penampilan aktornya. Dramrom lawas banyak yang menyuguhkan keberanian bercerita tapi tidak cenderung mengalami stagnansi ending. Saya ambil sampel Alice dan Hannah and Her Sisters buatan Woody Allen. Walau predikat drama berbobot dipegangnya, namun unsur prima yang menjalin ceritanya adalah karakterisasi yang pas. Jadi saya lebih bisa memaklumi jika romansa itu harus berujung pada kebahagiaan. Malam itu saya menyaksikan Notting Hill, rekomendasi dari beberapa teman saya. Saya rela membuang waktu saya untuk mengetahui bagaimana film ini bisa menjadi favorit banyak orang.

Pemuda penjaga toko buku tak sengaja didatangi oleh aktris ternama yang hendak mencari book guide. Love at the first sight. Pada suatu kejadian yang membuat mereka terlihat sangat akrab, suatu kejadian yang membuat mereka pisah dan saling mengerti keadaan, suatu kejadian yang membuat mereka dekat kembali. Seterusnya, pemuda dan aktris cantik itu melewati hari mereka dengan kesenjangan di mana-mana.

Magnet penting film ini adalah Julia Roberts dan Hugh Grant yang telah diplakat sebagai raja dan ratu drama romantis abad ini. Pertemuan mereka di Notting Hill saya nilai memang sangat bersenyawa satu sama lain. Tidak ada rasa canggung dan mereka saling mengisi slot adegan yang ada mereka di dalamnya. Roberts berhasil mengeluarkan aura kebintangannya untuk perannya ini dan Grant sukses mengimbangi Julia dengan paras polosnya itu. Sutradaranya yang kelak mengatur Peter O'Toole di Venus ini sanggup memadupadankan talenta keduanya.

Sayangnya, sang sutradara terlalu kecut dalam mengeksekusi ending. Menurut saya pribadi, jika saja ending-nya tidak (dipaksakan) mengalir ke jenjang kebahagian, pasti filmnya akan jauh lebih realistis. Memang cinta tidak mengenal strata dan profesi, tapi dalam kasus pemuda di film ini sangat timpang baginya untuk berjibaku mendapatkan cinta emasnya. Apalagi hal itu terjadi di tengah pers yang merasa 'gosh! Were there any options for the director to execute that scene?' Padahal, dari awal film ini sudah mengimun saya dengan dialog cerdas dan manisnya walaupun durasinya tidak umum untuk ukuran drama romantis.

Namun, seperti yang saya uraikan di prolog review saya kalau saya masih memaafkan keklisean tadi jika karakteristik tokohnya sanggup menopang keseluruhan paket cerita. Untungnya hal itu bisa men-subsitute hal minor itu di mata saya. Setiap watak di film ini saya suka termasuk untuk wanita berkursi roda yang tak jarang mengeluarkan quote bermakna. Kerja penulis naskahnya patut dipuji untuk sesi ini.

Jika teman saya bilang sense of romance saya aneh, mungkin saya bisa menerimanya. Tapi bagi saya, menilai sebuah film tidak hanya memerlukan unsur romance tadi melainkan sepenuhnya butuh logika. Notting Hill masih saya ponten 3/5 karena saya masih merasa kemajisan di pertautan kisahnya. Lengkap lagu pengiring yang cukup merdu didengar. Notting Hill pun memberitahu kita untuk tetap terus berjuang akan cinta meski kemungkinan terpahit akan kita terima. Bisakah saya bertemu Saoirse Ronan dan langsung mendapatkan cintanya? Kenapa tidak? Happy watching!

by : Aditya Saputra

Shrek Forever After (2010)

Director : Mike Mithcell
Voice-over : Mike Meyers, Eddie Murphy, Cameron Diaz, Antonio Banderas, Walt Dohrn, John Cleese, Julie Andrews
Rate : 2,5/5


Oscar membuka tudung untuk Best Animated pertama kalinya pada tahun 2001, gegap gempita dunia animasi tiga dimensi malah sudah di-start oleh Toy Story. Walau Pixar menyumbang Monsters, Inc. namun yang juara pada waktu itu malah Shrek, perwakilan Dreamworks Animation. Memang tidak bisa ditepis jika Shrek memang menyajikan sebuah film tunggal yang lengkap dalam moral lesson, humor, dongeng, serta animasinya sendiri. Beberapa tahun kemudian Shrek menambah umbul-umbul 2 untuk hadir kembali di layar perak. Tak terduga, sekuel ini malah mensahihkan sebagai animasi perolehan laba terbesar hingga saat ini meski mutunya berada di belakang pendahulunya.

Gelap mata akan godaan dolar, ph serupa membangkitkan kembali saga ini dengan tambahan The Third di belakang tajuknya. Sial menerpa, kualitasnya terseok-seok namun labanya sangat bombastis. 3 tahun kemudian, Shrek dan kawan-kawan kembali lagi melambikan tangan untuk tayang Mei silam dengan judul kali ini: Shrek Forever After. Ceritanya singkat saja, Shrek merasa dirinya kosong di antara keramaian lingkungannya. Bertemu Rumpelstiltstin, ia meneken kontrak yang ternyata menjerumuskannya ke liang penderitaan. Sutradaranya mungkin berhasil membuat visual Shrek sedap di mata, tapi bertolak belakang dengan penceritaannya sendiri. Kendati tidak semurni Pixar, tapi Shrek masih kaya warna dan penokohan yang terbilang cukup mahfum dalam menghibur.

Sekali lagi, sayang bagi sang sutradara yang kurang membawa Shrek jauh dari kubang lumpur. Ide cerita yang klise tadi malah dibobrok dengan pengerjaan yang asal-asalan. Jadi penonton tidak lagi menemukan penuturan berdongeng seperti yang kita rasakan di prekuelnya. Tergesa-gesa untuk sampai ke ending yang riang gembira. Kekecewaan lain adalah begitu banyaknya karakter yang meliputi keseluruhan durasi. Memang ada beberapa yang mengena dan lucu, tapi tak sedikit pula yang tak sudi nongol di layar. Sekali lewat sekejap mata. Humor sarkastik yang sering dilontarkan pun terasa basi dan lembek. Terutama tokoh keledai yang seperti kita ketaui bersama adalah sumber pengocok perut penonton.

Untuk para voice-over mungkin ini sebagai mata pencaharian tambahan yang bisa menambah kocek mereka. Garis besar untuk Mike Meyers dan Eddie Murphy yang sepi job. Patut diingat, meski tidak vital, sumbang suara dari kuartet Meyers-Murphy-Diaz-Banderas masih cukup ampuh dalam menjaga kekonsistenan watak tokoh.

Biarlah Shrek Forever After menjadi tumbal bagi franchise raksasa ini. Dan anggap saja Shrek Forever After sebagai penutup yang manis untuk membiarkan oger hijau ini kembali ke kawahnya. Pemberian tongkat spin off ke Puss mungkin ada benarnya. Yah, nikmati saja Shrek Forever After sebagai hiburan pengisi waktu luang, dan diharapkan untuk tidak membandingkan hasil akhirnya dengan pendahulunya. Apalagi dengan How to Train Your Dragon yang juga peranakan Dreamworks. Happy watching!

by : Aditya Saputra

Selasa, 26 Oktober 2010

Erin Brockovich (2000)

Director : Steven Soderbergh
Cast : Julia Roberts, Albert Finney, Aaron Eckhart
Rate : 3,5/5

Kesempatan ini akhirnya datang juga, menonton Erin Brockovich dan menjadi saksi kedigdayaan Julia Roberts sampai dia dikadoi piala Oscar. Filmnya sendiri keluaran tahun 2000, milenium baru, dari seorang Steven Soderbergh yang di tahun yang sama juga menelurkan sebuah proyek yang tak kalah berkualitasnya, Traffic. Bersama Traffic, Eric Brockovich bertengger di nominasi Best Picture Oscar 2001 plus sutradara terbaik untuk Soderbergh di 2 film secara bersamaan. Erin Brockovich memang sebuah film yang mengangkat kejadian nyata tentang seorang janda beranak tiga yang mengalami banyak cobaan hidup. Brockovih, mantan pemenang ajang kontes kecantikan namun memperoleh nasib yang tak sebanding dengan kemenangannya.

Hidupnya luntang-lantung dan bergigih mencari pekerjaan untuk menghidupi anaknya. Suatu ketika ia ditabrak oleh sebuah mobil, ia mengontrak pengacara murah namun tak kunjung memperoleh hasil yang menyenangkan. Keruwetan yang dihadapinya akhirnya menghentikannya di sebuah biro hukum. Bekerja di sana ternyata mengalami perbaikan nasib. Erin yang mencoba mendalami masalah pencemaran air oleh perusahaan PG&E yang menyebabkan sumber penyakit bagi warga sekitar. Pelan tapi pasti apa yang ia korbankan--kekasih dan anak-anak, akhirnya dibalas dengan keberhasilan beliau mendapatkan tempat di hati rekan kerjanya.

Di sinilah letak kehebatan sang sutradara, menerjemahkan naskah dan kejadian nyata menjadi suatu tontonan yang sangat layak disaksikan. Seperti yang kita ketahui, Soderbergh memang piawai dalam memposisikan cerita yang sedikit berat dan penuh pendiktean diri di tengah-tengah jasa aktornya. Lihat saja film ini, walaupun bersifat dramanya terlalu pelik dan riskan akan kebosanan dengan durasinya, Soderbergh menyiasatinya dengan memaksimalkan performa aktornya, dalam hal ini Julia Roberts.

Bukan apa, bisa dibilang film ini adalah ajang Julia Roberts sebagai pembuktian jika ia memang seorang aktris berkaliber Oscar. Peran penuh masalah ia wakilkan lewat mimik, body language seorang bitchy dan ekspresi yang meyakinkan. Kerja kerasnya memang patut dihargai berbagai kemenangan di berbagai ajang perfilman dunia. Bantuan dari Albert Finney dan Aaron Eckhart juga cukup mengimbangi permainan penuh semangat dari Julia Roberts.

Sorry to say jika review ini terlalu membanggakan Julia Roberts. Memang tidak bisa disangkal jika Julia Roberts telah mencurahkan seluruh kemampuannya untuk bermain total dan seakan berteriak jika ia pantas untuk Oscar. Roberts berhasil menyeleksi tempo emosi baik saat dalam pekerjaan maupun sebagai seorang ibu. Salah satu adegan dan emosi terbaik dari film ini adalah saat Erin mengetahui jika anaknya sudah berhasil mengucapkan kata pertamanya. Jujur, walaupun Roberts hanya berdialog minim namun aura mukanya berbicara banyak dan mengungkapkan apa yang sedang ia rasakan. Julia gave fabulous performance in her leading role.

Erin Brockovich semakin berharga dan kaya karena meluapnya emosi-emosi yang terpantul lewat dialog-dialog cerdasnya. Dan tidak bisa dipungkiri, ini menjadi salah satu kelebihan yang tidak bisa digugat. Sepanjang film kita memang disuguhi sebuah pentas drama yang berbobot yang meletup-letup dari penulis naskahnya.Kesimpulannya, Erin Brockovich sajian yang sangat pas untuk mengetahui seluk-beluk dunia kriminal pada waktu itu yang dituntaskan oleh Erin Brockovich. Hiburan lainnya adalah bagaimana kita dipuaskan oleh Julia Roberts berkat kematangannya berakting. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Calendar Girls (2003)

Director : Nigel Cole
Cast : Helen Mirren, Julie Walters, Linda Bassette, Annette Crosbie
Rate : 3/5


Sebelum Helem Mirren memegang senjata laras api di Red maupun menjadi seorang ratu Inggris di The Queen, beliau ternyata sudah jauh malang melintang dan mencicipi berbagai peran seperti sebagai selirnya Peter O'Toole, menjadi Elizabeth III dan menjadi seorang 'model' untuk kalennder tahunan kampungnya. Peran terakhir inilah yang saya coba telisik di film Calendar Girls. Memang film ini bertajuk komedi situasi, namun banyak hal positif lain yang bisa kita ambil setelah menontonnya. Dan Helen Mirren sebagai bintang utamanya memang telah bermain dengan baik. Okelah, bukan yang terbaik darinya, bahkan jika dibandingkan dengan perannya di The Queen terasa kebanting. At least, di sini ia diberi kesempatan untuk mengeksplorasi sisi humoris yang kental dengan aksen Britania-nya.

Ceritanya begini: Segerombolan wanita berumur di sebuah kota kecil mencoba menjadi model kalender guna untuk mendalang dana. Latar belakang kematian dari seorang penting semakin mengukuhkan mereka untuk bersikeras sekuat mungkin agar proyek terlaksana dengan lancar. Walaupun awal mulanya masih ada beberapa orang yang buang muka dengan mereka dan sempat disalah-artikan, ternyata lambat laun cukup menyita perhatian masyarakat dunia, terutama Hollywood dan menjadikan mereka bintang sekejap mata.

Jujur saja, saya sungguh menikmati jalinan komedi yang ada di film ini. Bukan karena para pemainnya tampil konyol serta mengumbar adegan seks vulgar, tapi seperti yang saya katakan sebelumnya kalau humorik yang ada di film ini muncul karena situasinya yang mengharuskan lucu. Tidak ada keterpaksaan ketawa maupun kebingungan mencerna unrus joking-nya. Bahkan untuk adegan sekelibat pun ada secuil humor walau tidak menambah kadar kualitasnya. Patut dihargai adalah bagaimana kekuatan tangan yang scriptwriter-nya yang sudah berhasil membuat ceritanya jalan lebih santai namun juga berisi.

Kelengkapan akting adalah jantung untuk film ini yang memang sangat vital. Pesona memukau dari seorang Helen Mirren dan Julie Walters memang menjadi tombak bagaimana mereka bisa mendeklarasikan apa maksud sang sutradara memakai mereka. Bahkan Dame Mirren didapuk nominasi aktris terbaik genre musikal/komedi di Golden Globe Award. Jika saja, film 'renta' ini tidak dimainkan oleh aktor yang mumpuni, ya sudah, alamat bobrok mungkin saja diterima oleh Calendar Girls.

Calendar Girls selain memfokuskan pada pembuatan sebuah almanak tahunan juga menjelaskan tentang konflik internal yang mendera para tokoh wanitanya. Seperti kepedihan ditinggal suami, perselingkuhan, kesalahpahaman, gejolak terhadap lingkungan dan norma serta beberapa ada yang merasa risih dengan kondisi fisik. Celetukan yang paling saya ingat mungkin: 'saya 55 tahun, kapan lagi saya bisa menunjukkan tubuhku'. Kira-kira begitu. Tapi, di sinilah letak kelemahan film ini. Cerita yang terbilang unik bin aneh ini malah harus dirusak oleh terlalu dimudahkannya mereka menyelesaikan masalah. Kehidupan mereka seperti berat sesaat-indah selamanya, saya maksud dengan berbagai keadaan pelik yang menimpa mereka, tak satupun dari mereka yang sungguh menyesal akan terjadinya masalah itu. Yah, sutradaranya cari aman dan semuanya terasa dieksekusi secara cepat dan tidak matang.

Calendar Girls sekilas memang bukan suguhan komedi yang mengocok perut layaknya Be Kind Rewind ataupun A Fish Called Wanda, namun moral lesson yang ingin disampaikan cukup kuat. Mungkin film ini ingin memberitahu kita jika tidak terlalu memaksakan kehendak, tapi di sisi lain jika kita terus berusaha pasti ada saja jalannya. Ambiguitas yang tidak sulit untuk diikuti. Satu hal lagi, mungkin parade ibu-ibu telanjang di sini tidak seksi tapi cukup diapresiasikan keberanian mereka untuk peran menantang itu. Happy watching!

by : Aditya Saputra