Sabtu, 29 Mei 2010

Last Chance Harvey (2008)

Director : Joel Hopkins
Cast : Dustin Hoffman, Emma Thompson, Kathy Baker, Eileen Atkins

Rate : 3/5

Saya pikir film ini sangat under-rated dengan tidak adanya pemberitaan yang wah serta review yang tidak begitu bagus dari para kritikus. Padahal, jika ditelaah lebih lanjut film ini sangat manis dan berpotensi menjadi dwilogy Before Sunrise/Sunset versi usia tua. Last Chance Harvey menyajikan sudut pandang lain sebuah arti cinta dari penuturan kuat antar tokohnya.


Bermula dari Harvey Shine seorang penulis lagu iklan yang lagi bermasalah dengan kemonotonan pekerjaan yang dijalaninya serta berada di ujung pemberhentian kerja. Sedih memang, ditambah lagi di hidup sendirian di kota kecil. Pada saat sang bos berniat memberikan kesempatan (yang mungkin) terakhir baginya, ia ditakdirkan harus datang ke pesta pernikahan putrinya yang berada di London. Tibalah ia di ibukota Inggris itu. Lagi-lagi sedih dan kekecewaan menerpa Harvey ketika melihat bahwa sang putri telah mendapat pendamping di altarnya, ayah tirinya sekaligus suami dari ex-istrinya. Mengubur kekesalan yang tak dilampiaskan akhirnya dia memutuskan untuk kembali pulang ke kotanya. Oh, Harvey! Kedapatan sial lagi karena tiket ke kota yang dituju sold-out akhirnya Harvey menghabiskan waktu di sebuah bar di airport. Di situlah ia bertemu seorang wanita yang sebelumnya pernah berpapasan di boarding pesawat, Kate Walker.

Kate Walker adalah wanita karir yang sudah cukup berumur tetapi kesulitan dalam hal mencari pasangan hidup. Nah, semenjak pertemuannya dengan Hrvey yang ternyata klop, hingga akhirnya mereka berbincang-bincang. Uniknya, mereka masih di meja masing-masing tanpa berhadapan satu sama lain. Kedua anak Tuhan ini melanjutkan obrolan mereka ke tempat-tempat yang memang indah. Salut buat kreator yang memilih lokasi yang membuat film ini jadi semakin indah dan manis.

Joel Hopkins, dialah yang bertanggung jawab atas film ini. Walaupun masih terbilang amatir, tapi ia sukses membuat aktor sekaliber Oscar bermain bagus walaupun tidak bisa dibilang megah. Yang menulis naskah film ini juga Hopkins dan ia sukses mengatur kata-kata yang terlontar dari mulut tokohnya menjadi sebuah kalimat yang enak didengar dan penuh makna jika diartikan. Banyak adegan yang memorable di film ini. Seperti ketika Kate menemani Harvey bermain piano. Dustin Hoffman, peraih 2 patung Oscar dari Kramer vs. Kramer dan Rain Man menunjukkan kualitas nomor satunya. Sekalipun ia bermain ringan, namun hawa raksasa akting terlihat sangat jelas di raut menuanya. Pun yang ditampilkan oleh Emma Thompson sebagai Kate. Rombakan batin dan emosi memang ia transfer dengan penuh kejiwaan. Memang enak melihat film ringan tapi dipenuhi dengan akting yang megalomia. Laiknya The Bucket List yang cupu tapi tetap enak ditonton akibat sokongan hebat dari Morgan Freeman dan Jack Nicholson.

Akhirnya, saya memang harus bilang. Cinta itu nyatanya tidak mengenal usia dan tempat. Meskipun beda kota bahkan negara jika Tuhan telah menarik lurus di antara keduanya, bukan hal mustahil beda jarak dan usia itu tetap saja harus ditemukan. Jadi, jangan takut dengan cinta. Umur tua bukan kartu mati untuk berhenti mencari pencerahan untuk mencari pendamping hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar