Sabtu, 05 Maret 2011

The Hurricane (1999)


Director : Norman Jewison
Cast : Denzel Washington, Liev Schreiber, Deborah Unger, Dan Hedaya, Vicellous Reon Shannon
Rate : 3,5/5


Lagi-lagi. Drama memikat tentang dunia adu jotos yang seakan menjadi tema favorit para kritikus. Norman Jewison, pencetus drama komedi romantis memikat, Moonstruck, mengolah naskah pilihan yang tersadur dari sebuah buku otobiografi seorang petinju Rubin Carter. Mengambil periode tahun 1966, olahragawan ring ini terpaksa harus gantung sarung tinju usai vonis penjara atas sesuatu yang tidak pernah dibuatnya. Beberapa tahun kemudian, di saat ia mendekam di penjara, sosok bocah keling menelaah buku singkat karya The Hurricane yang menegaskan secara tidak langsung jika Carter bukanlah tersangka seperti yang polisi duga selama ini.

Untuk ukuran sebuah film biopik yang otomatis ending-nya sebagian besar gampang diterka, namun keluwesan yang dipadu-padankan Jewison untuk The Hurricane terlalu kuat untuk ditinggalkan di tengah jalan. Jewison berhasil membentuk karakter seorang 'pahlawan' di mata seorang 'fans' dengan sangat hati-hati tanpa terbebani panjangnya durasi film. Betul sekali, dengan total lebih dari 2 jam film ini bergulir, The Hurricane masih bisa dinikmati dengan santai namun membuai kita dengan dramanya. The Hurricane bukanlah Million Dollar Baby yang sedu sedan itu ataupun Rocky yang ekstra hiburan. Dan Jewison bukan pula perenggut Oscar layaknya si tua Clint Eastwood. Namun, Jewison meramu The Hurricane tanpa ba-bi-bu. Titik mula masa sukses dari petinju ini hingga harus merasakan kegetiran bui dituturkan dengan rapih dan lugas.

Yang lebih menarik dan menyeimbangkan panjangnya alur, penggagas naskah menyisipkan humor yang berselera sedang namun menggelitik. Mungkin itu salah satu faktor pula yang membuat saya mencap film ini rapih dan lugas tadi. Tata kamera yang cantik dari sinematografernya juga menambah cita rasa The Hurricane. Lupakan jika formatnya seperti Raging Bull yang juga menampilkan warna pekat hitam-putih! Film ini mempunyai unsur lain untuk menekankan sisi pendramatisiran adegan di atas ring.

Dan yang paling mendukung feature ini adalah penampilan gemilang dari Denzel Washington. Dia mencuri semua adegan di film ini. Kelincahan bertinju, air muka depresi selama 'bersemedi' di tembok besi hingga muram durja di persinggahan ruang sidang diterjemahkan dengan sangat baik lewat body language-nya. Kendati demikian, akting primanya di sini harus 'diacuhkan' Oscar atas sosok ayah cabul dari raga Kevin Spacey waktu itu. Tak terkecuali untuk Shannon yang memerankan sang bocah hitam pembuka gerbang kebahagian untuk Carter. Shannon (walaupun saya tidak begitu mengenal akting dia sebelumnya) sukses menghidupkan tokoh yang antusias dan penolong.

The boxers: Robert DeNiro, Hilary Swank, Sly Stallone, Mark Wahlberg, dan Russell Crowe boleh dikatakan aktor yang mumpuni dalam gerak tinju di depan kamera. Kecuali Bob, yang lain mungkin saja pula bengong menonton kemampuan Denzel Washington yang jelas-jelas lebih menjiwai perannya ketimbang yang lainnya. The Hurricane bukan tontonan segala umat yang bisa disaksikan dengan semangkok popcorn di tangan, melainkan film yang multi sarat dan menerangkan secara singkat perjuangan orang yang tak bersalah yang harus mengais hak asasinya demi sebongkah kebebasan. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 12 Februari 2011

Penelope (2006)


Director : Mark Palansky
Cast : Christina Ricci, James McAvoy, Catherine O'Hara, Reese Witherspoon
Rate : 3/5


Kutukan lagi, setelah tahun 2001 Ricci got cursed di Cursed, 5 tahun berikutnya ia kembali terkena mantra sihir menjadi seorang gadis berhidung dan telinga babi. Penelope bolehlah sedikit sama dengan Beauty and the Beast, pangeran kodok ataupun Sleeping Beauty yang harus merajut cinta dengan sosok yang sungguh mencintainya. Yang membedakannya adalah, Penelope sebuah live action, dan itu sedikit sulit untuk meleburkan kisah dongeng yang ada dengan tampilan yang memungkinkan masuk akal. Kabar baiknya, Penelope tidak buruk-buruk amat untuk dikonsumsi apalagi mengingat temanya yang sangat sangat sangat fairytale. Topik yang akan disukai seluruh masyarakat.

Ricci sebagai Penelope, yang harus menerima nasib jika postur tubuhnya tidak seperti gadis pada umumnya. Penelope diterpa kutukan dahsyat dan mengubah bentuk hidung dan kupingnya menyerupai babi. Berbondong-bondong pria berdarah biru datang dengan maksud melepaskan aura kutukan itu dan mengubah Penelope dan keluarganya menjadi orang normal. James McAvoy datang dan menipiskan skeptis Penelope akan keterpurukan nasibnya. Ketika Penelope kabur dari rumah, ia bertemu wanita periang dan memperkenalkan dunia baru kepadanya. Hingga suatu kejadian membuat Penelope menjelma menjadi artis koran.

Sebenarnya film ini tidak ada spesial-spesialnya. Saya ralat, satu-satunya yang membuat film ini begitu spesial adalah lagu Hippoppola yang mengalun di ujung-ujung film. Di luar itu, film ini biasa saja. Cerita yang gampang ditebak, akting yang tidak begitu menonjol, dan ending yang pasti bahagia. Lantas, apa yang membuat saya suka film ini? Tema dan maksud penulis dalam mengungkapkan perguliran batin seorang Penelope. Penelope menemukan pengertian sebuah hidup yang sebenarnya, yang ironisnya, dia tau setelah ia merasakan seluruh kejenuhan yang dilimpahkan ke dirinya.

Bagian inilah yang saya suka, Penelope merujuk dirinya sendiri jika kutukan itu terlepas bukan semata karena cinta, namun juga kepercayaan yang harus ia rasakan sendiri. Dan sentilan akan orang tua yang sangat otoriter ditampilkan dengan baik, meskipun agak berlebihan pula.

Banyak lubang plot di Penelope dan beberapa karakter terkesan dangkal dan tidak begitu pentinga. Sekalipun peran untuk aktor James McAvoy. Awalnya saya mengira dialah kunci utama film ini, tapi malah dia yang sepi menunjukkan akting di layar. Kemunculan Reese Whiterspoon juga tidak membekas. Ricci pun tak ubah perannya di Black Snake Moan ataupun Monster, tapi tidak sekelam kedua film itu.

Kesialan semakin menjadi mengingat laba untuk film ini membuat penyuntik dana dan sutradaranya tersenyum masam. Apa boleh buat, Penelope sangat tanggung. Berupaya untuk menjelaskan betapa abadinya hidup dengan cinta, malah lepas bebas ke arah slapstick sia-sia. But, i still like this movie. Untuk sebuah tontonan di akhir pekan, saya rasa tidak rugi-rugi amat. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Jumat, 11 Februari 2011

The Photograph ( 2007)


Director : Nan Achnas
Cast : Lim Kay Tong, Shanty, Lukman Sardi, Indi Barends
Rate : 4/5


Sayang sekali, pakar-pakar sinema Indonesia telah kelewatan satu film untuk didengungkan lebih luas ke khalayak ramai. Mungkin karena temanya yang terlalu berat untuk dicerna atau tampilannya yang buram seburam kenyataan pahit sang pelakon utama. Sama halnya produk Shanty lain yang juga diacuhkan pembeli tiket, Kala. Keduanya dicibir untuk masalah laba, tapi keduanya memegang sertifikat terpuji. Kembali ke The Photograph, salah satu contoh film ber-budget minim namun bisa dimaksimalisir dengan sangat baik. Sineas gemilang Nan Achnas berhasil memberikan sajian sejuta makna untuk penonton lewat penuturan singkat dan sederhana akan betapa sulitnya membuang bayang-bayang masa lalu dan melewati masa depan.

Johan Tan, lelaki tua yang mengidap kesakitan mental akan kukungan masa silam. Dia seorang fotografer yang mengais rejeki lewat itu. Suatu ketika, rumahnya kedatangan seorang tuna wisma yang hendak menyewa sebuah kamar, Sita. Sita mempunyai tanggung jawab menghidupi anaknya yang telah lama ia tinggal serta berniat mengobati penyakit neneknya. Kedua tokoh kita memiliki persamaan, mereka depresi. Sita akhirnya mencoba membantu Pak Johan untuk bebas dari penjara masa lalu. Satu hal, Pak Johan membui kenangan pahitnya lewat serangkaian foto. Fisik yang akan mengupas kembali memori kelamnya.

Gerak gambar The Photograph memang hanya seputar Johan dan Sita dalam memperjuangakan hidup. Kendati begitu, Nan Achnas memanipulasinya lewat keindahan sinematografi. Film ini sangat terbantu lewat mobilitas kamera yang walaupun monoton tapi sangat membentuk karakter tokoh maupun situasi. Warna-warna buram baik untuk setting rumah Johan maupun terang pekat di setting luar seakan mewakili apa yang mereka alami. Acungan jempol juga saya salutkan kepada direksi seni yang membuat The Photograph semakin nyeni dan memiliki jiwa untuk setiap adegannya.

Pemeran Pak Johan adalah seorang WNA. Achnas mengambil resiko dan itu semua terbayar lunas. Tong mencurahkan seluruh metabolisme urat aktingnya dengan bermain dengan sangat menakjubkan. Perubahan karakter sebelum dan sesudah ia mengalami krisis kepercayaan diri tersorot dengan sangat baik. Mungkin sulit membayangkan jika peran emosional ini diperankan leh aktor lain, sekalipun ia seorang Deddy Mizwar. Begitu pula dengan apa yang diperlihatkan oleh Shanty. Setelah mulai eksis di Berbagi Suami dan Kala, aktingnya di sini kian matang. Semakin menunjukkan taring dan taji tajamnya. Lukman Sardi pas porsi, dan Indy Barends membuat kejutan dengan sandiwara sarkastiknya. Namun, penampilan sekian detik dari Nicholas Saputra lah yang akan membuat penonton tercengang. Good job, Nico!

Begitulah! The Photograph memang sedikit banyak menjelaskan betapa menderitanya jika kita masih meratapi masa lalu, terlebih jika masa lalu itu kelamnya luar biasa. Kaki tangan seakan dirantai dan sulit melangkah untuk menggapai era baru. Lewat sosok Tuan Johan kita belajar itu semua. Sebuah persembahan yang membanggakan dari seorang sutradara lokal yang berani keluar jalur mainstream. Highly recommended. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Valentine's Day (2010)


Director : Garry Marshall
Cast : Ashton Kutcher, Jessica Alba, Kathy Bates, Jamie Foxx, Patrick Dempsey, Anne Hathaway, Jessica Biel, Jennifer Garner, Julia Roberts, Taylor Swift, Emma Roberts, Taylor Lautner, Bradley Cooper, Eric Dane, Topher Grace, Queen Latifah, Shirley MacLaine
Rate : 2,5/5


Lampung, 12 Februari 2011. Dua hari sebelum hari yang bersamaan dengan judul film yang akan saya review ini. Berpengaruh buat saya? Sama sekali tidak. Amerika terlalu mengistimewakan tanggal tersebut di setiap bulan kedua. Entah ada resesi apa, atau makna yang sangat khasiat bagi mereka, yang jelas 14 Februari menjadi ajang pemaklumatan kasih sayang tiada tara. Baik berupa untaian kata-kata mesra, hubungan fisik, hingga kiriman karangan bunga yang tidak ada habis-habisnya. Film garapan Garry Marshall ini juga berkutat seputar percintaan dua sejoli yang disisipi intrik lain, berupa perselingkuhan. Ah, tema klasik dan sedikit kuno kendati selalu akan digemari penonton kebanyakan.

Valentine's Day mengitari beberapa makhluk Tuhan pria wanita baik yang remaja, dewasa, manula, hingga bocah ingusan sekalipun yang baru mengenal yang namanya cinta. Pasangan tua renta yang semakin memaknai cinta mereka, sepasang sahabat yang saling mengingatkan jika cinta mereka palsu, anak kecil yang rindu akan belaian seorang ibu, remaja tanggung yang ingin merasakan surga duniawi, hingga gejolak nafsu yang menggebu-gebu sekalipun sampai pasangan gay yang masih simpang siur mencari orientasi seksnya. Semua dikemas sedemikian rupa oleh pembesut Pretty Woman itu dalam paket yang sangat cantik dari luar, namun setelah dibuka lebih dalam, kita kurang dipuaskan oleh hasil akhirnya.

Sejatinya, dan layaknya film dengan banyak cerita seperti Paris, je t'aime, Valentine's Day juga berpotensi besar-besaran untuk meraih sukses di segi kualitas. Bedanya, Paris dipegang oleh banyak sutradara di setiap cerita sedangkan Marshall hanya termenung sendirian di kursi director. Faktor umur juga, Garry jadi kurang maksimal membagi layar untuk beberapa plot penting agar lebih intens untuk diolah. Seperti misal hubungan aneh antara Topher Grace - Anne Hathaway yang harusnya bisa lebih manis lagi. Bagian Ashton Kutcer - Jes Alba, Kutcher - Jen Garner terkesan saling tindih. Dan pemasokan unsur selingkuh terlalu berlebihan. Penulis naskahnya juga sudah terlalu lelah meramu skripnya agar lebih renyah untuk dinikmati. Jadi, penulis mungkin menggunakan sebab musabab yang lebih ringan tanpa apa klimaks yang membekas di hati penonton.

Satu hal yang tidak bisa dipungkiri adalah, betapa serunya melihat aktor-aktor kesayangan kita beradu peran satu sama lain. Lebih dari selusin. Dan itu menyenangkan. Melihat bagaimana akting lebay perdana seorang Taylor Swift, dan melihat Taylor Lautner lepas dari bayang-bayang werewolf doyan shirtless. Melihat tingkah kocak Jes Biel dan melihat betapa anggun nan seksinya Jes Alba, Jen Garner, serta Anne di atas ranjang. Atawa mau sedikit nyengir dengan lelucon (semi) garing dari Latifah, atau juga iba kepada sosok Julia Roberts.

My verdict: Pembubuhan amanat akan betapa ganasnya dampak dari sebuah perselingkuhan memang akan mengena. Tapi, pengorbanan waktu yang penonton dera mungkin tak sebanding dengan amanat yang mereka peroleh. Penonton ingin lebih. Lebih dari sebuah fairy tale yang pasti akan berujung bahagia. Waktu yang lelet dan agak dipanjang-panjangkan menjadi salah satu poin betapa jenuhnya menyaksikan film berposter hitam pekat ini. Jangan khawatir! Valentine's Day juga dilengkapi dengan alunan musik yang segar berikut dengan sorotan kamera untuk view-view sederhana tapi indah. Happy watching!

by : Aditya Saputra

Sabtu, 05 Februari 2011

The Savages (2007)


Director : Tamara Jenkins
Cast : Phillip Seymour-Hoffman, Laura Linney, Philip Bosco
Rate : 3,5/5


Di saat orang tua kita tua renta dan hanya memiliki kita--sang anak--sebagai tempat peraduan terakhir, ikhlaskah kita mengulurkan tangan? Sekalipun orang yang kita sanjungi itu bukan sosok yang baik di kala dulu. Krisis batin ini melanda dua kakak beradik yang harus mengurusi ayah mereka yang luntang-lantung mencari persinggahan yang pas untuk 'menamatkan' hidupnya. Wendy dan Jon Savage menerima telpon jika ayah mereka berbuat ulah lagi dengan menulis serangkaian huruf dengan kotorannya. Mengambil jalan aman dan pintas, dua besaudara ini berupaya mencarikan panti werda yang cocok dengan ayah mereka yang pikunnya sudah termakan usia itu. Keduanya, dengan rasa enggan dan terbebani oleh tanggung jawab pekerjaan, dengan berat hati menuntaskan tanggung jawab atas nama seorang ayah.

Sulit diungkapkan, The Savages merupakan lembaran tersendiri bagi siapa saja yang masih meragukan keharmonisan sebuah keluarga. Dari dua tokoh utama kita, diperlihatkan dengan sangat frontal bagaimana mereka masih memiliki gumpalan amarah terhadap ayah mereka. Begitu pula dengan ketidaksukaan sang ayah terhadap dua anaknya tersebut. Pertengkaran-pertengan kecil hingga adu mulut ketiganya mengantarkan penonton sesegera mungkin menyeka air mata. Dialog-dialog ironis yang terlontar menyisakan sebuah kesedihan. Joke-joke yang tersebar sepanjang film bukan untuk ditertawakan dengan kencang, melainkan menyuruh penonton sedikit iba terhadap mereka. Asa yang membumbung tinggi, harus berakhir hanya dengan kalimat 'well...that's it'. Terlalu suram untuk sebuah 'penghargaan' kepada orang tua.

Naskah orisinil yang ditulis oleh sutradaranya berhasi mengaduk emosi penonton. Kekuatan film ini memang terletak di naskahnya selain juga bertopang pada akting para aktornya. Tamara Jenkins memaksimalkan kesederhaan dan keminiman budget melalui pesan tersirat filmnya sendiri. Dan tidak dapat dipungkiri, Laura Linney dan Phillip Seymour-Hoffman telah mencurahkan seluruh keprimaan adu aktingnya di sini. Cek-cok yang menguras kadar darah.

The Savages menjadi ringkasan sebongkah keegoisan anak yang tidak memperdulikan khasanah sebuah keluarga. Sekalipun yang membutuhkan pertolongan itu adalah ayah mereka sendiri. Di samping juga memaparkan hubungan ayah-anak, The Savages juga menekankan keintiman batin antar saudara. Bagaimana mereka harus memposisikan diri dalam bertindak. Sakit hati masa lalu yang juga harus dibuang jauh-jauh.

Cerita singkat dari Tamara Jenkins dalam hal pembaktian anak terhadap ayahnya. Ditampilkan dengan sangat lembut namun menusuk, pun sokongan akting yang apik, The Savages contoh drama dalam balutan komedi yang bertujuan untuk kembali ke sebuah film drama lagi. Happy watching!

by: Aditya Saputra