Sabtu, 22 Desember 2012

Get Low (2009)

Director: Aaron Schneider
Cast: Robert Duvall, Bill Murray, Lucas Black, Sissy Spacek
Rate: 3,5/5


Sebagai seorang anti-sosial (terlebih lagi dikurung oleh kecaman dan gosip tetangga) memang sangat tidak mengenakkan. Walaupun tindakan memisahkan diri ini adalah tujuan pribadi, tapi tetap saja campur tangan orang sekitar bisa jadi tersangka juga kenapa para anti sosial enggan memperkenalkan diri mereka. Begitupun yang dirasakan oleh Felix Bush yang mendekam di tengah hutan tempat dia bernafas selama 40 tahun dari rongrongan masyarakat. Gosip lama yang menyebar seantero kota mau tak mau memberi jarak antara Felix dan mereka. Entah pada suatu hari Felix datang ke kota untuk mencanangkan aksi 'pensiun'-nya. Bertemu dengan pengurus kematian, Frank Quinn beserta anak buahnya, Buddy, Felix menyusun rencana untuk mengundang para warga di pemakamannya nanti. Namun, di tengah alur tadi, Felix bertemu dengan masa lalunya yang meninggalkan banyak bekas dan ternyata yang menjadi alasan akan perilaku anti sosialisasinya tersebut.

Tidak masalah mengapa film ini sangat lamban sekali. Dengan tempo lemah dan musik yang minim, Get Low memang berpotensi membosankan. Keadaan sepi di tengah hutan tidak membantu banyak bagaimana filmnya akan disegani penonton awam. Dan, sebagai penyangkal dari sang sutradara, film ini memang tidak ditujukan untuk komersialitas, namun untuk dilajukan ke festival-festival. Untungnya, film ini mendapat sambutan yang baik saat diputar di Toronto Film Festival. Pengakuan saya, film ini berjalan dengan sangat pelan tapi misteri yang melapisi sepanjang film memang memerlukan durasi selama itu. Dan, dengan kurangnya bantuan musik di film ini mau tak mau membantu memberi aspek ketegangan.

Film ini dianugerahi gambar yang indah. Porsi landscape hutan dan latar lainnya ditangkap dengan cantik. Dan inilah keistimewaan dari film yang mengambil seting jauh dari pusat kota, banyak view menawan yang bisa dijadikan nilai tambahan untuk film. Robert Duvall, Bill Murray, dan Sissy Spacek yang menyemarakkan film ini telah bekerja dengan sangat baik. Akting mereka melampaui perkiraan saya sebelumnya. Di tangan mereka, simbiosis terjalin dengan sangat memukau sehingga bantuan dari Lucas Black seperti sangat berpengaruh. Film ini lembut dan menusuk layaknya The Last Station, film yang juga dipenuhi kakek-nenek bertalenta super. Bedanya, film tadi seperti jor-joran sekali dalam hal publikasi hingga bisa menitipkan para aktornya untuk menjadi nominator di ajang Oscar.

Kecerdasan Get Low murni berasal dari tulisan naskahnya. Scriptwriter film ini dengan jelihnya melihat dan menyeleksi poin penting untuk membuat pola misteri tadi untuk tetap dinikmati tanpa meninggalkan esensi filmnya sendiri. Kendati ending film ini terhitung lemah, tapi atmosfer awal yang telah dibangun seperti membungkam endingnya yang tidak terlalu relevan itu. Saya bisa memaklumi dengan keterbatasan ide tersebut, tapi akan lebih baik jika lebih diteliti. Aaron Schneider, yang sangat jarang saya dengar namanya, memberikan permulaan baik di kancah perfilman dunia. Dengan bantuan bintang-bintang tenar kelas kakap, Get Low menjadi sangat manis saat dilempar ke permukaan festival. Puja-puji semakin meningkat. Tidak ada yang salah dengan film yang berdurasi panjang tanpa warna yang segar, yang salah adalah saat kita langsung skeptis terhadap sebuah film karena alasan yang tidak masuk di akal. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Habibie & Ainun (2012)


Director: Faozan Rizal
Cast: Reza Rahardian, Bunga Citra Lestari
Rate: 3,5/5


Sebagai seorang presiden, bohong sekali rasanya jika masyarakat Indonesia ada tidak mengenal sosok B.J. Habibie. Sebagai orang yang pertama kali mencetuskan dan memroklamirkan pembuatan pesawat terbang dan teknologi lainnya, Pak Habibie patut dijadikan contoh nyata bagaimana superioritas sebuah bangsa adalah bagaimana tokoh besar di belakangnya. Masa kepemimpinan Pak Habibie dengan rentang waktu yang sebentar memberikan sedikit gambaran bagaimana nahasnya negara ini pada waktu itu. Pak Habibie dengan begitu gentarnya berupaya sekuat tenaga untuk kepentingan negeri ini, sekalipun mesti mengorbankan dirinya sendiri. Panutan yang berharga. Kehidupan rumah tangganya yang berjalan sempurna bersama ibu negara, Ainun, bahkan bisa dijadikan contoh untuk sebuah realita percintaan yang memerdekaan kebersamaan dalam kondisi apapun.

Love story antara Habibie dan Ainun inilah yang menjadi fokus utama film garapan sutradara baru, Faozan Rizal. Menyadur dari buku yang ditulis sendiri oleh Pak Habibie yang berisikan kumpulan-kumpulan hidupnya dengan sang istri tercinta, buku tersebut menjadi best-seller di tahun perilisannya. Dan beberapa tahun kemudian, salah satu sineas muda kita yang dibentengi oleh sosok Hanung Bramantyo di belakangnya, buku semi-otobiografi tersebut mengemuka di layar lebar. Siklus cinta itu dimulai dari bagaimana Habibie dan Ainun di satu sekolah, kemudian mengenal cinta ketika remaja. Memadu janji di sebuah becak, dan akhirnya membina silsilah kecil sembari mengerjakan proyek di negara seberang benua.

Jujur, harus diakui film ini mengandung banyak pesan bergizi yang diutarakan langsung ke pemuda pada khususnya dan kepada seluruh rakyak ini pada umumnya. Keberhasilan Habibie dalam menyejajarkan dirinya di lapisan orang-orang atas dan pembinaan kerukunan rumah tangga diimplementasikan dengan sangat baik oleh sutradara kita. Fase reformasi yang mengharuskan beliau menjabat menjadi presiden, meringkuh di tengah penyakit TBC-nya, menomor duakan jalinan keluarga, memang mengajarkan kita untuk menjadi sosok bertanggung jawab di mata masyarakat. Pergolakkan kinerja Habibie yang terus-terusan dirudung masalah terkait politik suap-menyuap juga mewarnai kehidupan beliau. Tapi, walau bagaimanapun juga film ini menyorot sepenuhnya akan perjalanan cinta beliau dengan sang istri hingga akhirnya harus ditinggal pergi karena penyakit kanker ovarium yang didera Ibu Ainun.

Inilah negara kita, berlian paling mahal semacam Pak Habibie harus memutar arah ke negara orang lain terlebih dahulu untuk bisa diakui di tanah kelahirannya sendiri. Krisis percaya diri dan kekurangan audiens dalam berkarya memang menjadi dasar mengapa negeri kita akhirnya jalan di tempat di dalam hubungan bilateral internasional. Belum lagi dengan kecakapan para politikus tak bermoral yang menyalip dan menyulap uang untuk kepentingan pribadi. Fragmen ini bukti nyata, dan dalam film Habibie & Ainun walaupun dipersempit dengan durasi yang hanya kurang lebih 2 jam saja, masih bisa diperlihatkan betapa kotor dan culasnya negara ini. Faozan memanfaatkan momen ini dengan menyisipkan beberapa rekaman asli pemerintahan pada zaman itu. Mengubah perkotaan menjadi sangat kuno, sayangnya pada kesempatan adegan di Jerman, kepalsuan sangat jelas terlihat. Andaikata adegan salju itu tersebut tidak dipaksakan ada, pasti kenyamanan menonton akan lebih sempurna.

Sama halnya dengan dipaksakannya kemunculan para sponsor di sepanjang film. Hadirnya bedak merek terkenal, cokelat yang dimodeli Nikita Willy, dan lain sebagainya itu memang sangat merusak citra film ini secara keseluruhan. Bagaimana film yang sedari awal sudah dibuat semanis dan senyata mungkin harus dicoreng dengan para 'bintang tamu' tadi. Sangat disayangkan. MD Pictures selaku yang membiayai film ini sepatutnya tidak berlaku egois hanya karena kepentingan uang semata. Sebuah karya yang dicampur tangani oleh materi memang akan melemahkan nilai karya tersebut. Contohnya film ini. Musik yang mengalun indah dibekali akting yang luar biasa dari Reza Rahardian di film ini berujung hanya lucu-lucuan belaka.

Yah, Reza Rahardian berhasil menempatkan dirinya di posisi yang serba beruntung. Dipilihnya Reza sebagai perwakilan layar Pak Habibie bukan tanpa alasan dan bukan tanpa hasil. Mengingat ia adalah satu aktor muda berbakat yang sudah memainkan banyak peran beda, kehadirannya di sini memang sangat dibutuhkan. Gesture dan body language yang sempurna serta cara berbicara yang sangat Habibie sekali terbukti menenggelamkan penonton untuk merasakan dawai film ini. Tapi, ketika harus berbagi frame dengan Bunga Citra Lestari selaku pemeran Ibu Ainun, kolaborasi mereka terasa sangat tidak kena. Bunga masih ingin terlihat cantik dan egois walaupun dalam keadaan tua renta. Make up saat Ibu Ainun pada masa pesakitan tidak terlihat dengan jelas. Tidak ada dari wajah Bunga yang membuat saya percaya jika ia sedang berakting. Ibu Ainun di tangan Bunga seperti satu masa satu umur dengan anak-anaknya.

Kendati banyak minus yang tersebar dari film ini, bukan berarti sisi positifnya menjadi hilang tak berarti. Film ini masih memiliki pesan moral yang tinggi. Memang sangat disayangkan, jika poin kritis tadi bisa diminimalisir dengan bijak, pasti Habibie & Ainun akan terlihat lebih kokoh tanpa memandang bulu jika ini film buatan sutradara minim pengalaman. Dan satu hal lagi, Pak Habibie telah menerbangkan negara ini ke kancah internasional dalam menelurkan teknologi yang jarang ditemui oleh anak bangsa untuk ukuran zaman tersebut, dan zaman sekarang. Seperti hanya ia menerbangkan pesawat terbang rangkaiannya yang menjadi tolak ukur sebuah kecerdasan hingga sekarang. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Sabtu, 08 Desember 2012

The Hunger Games (2012)

Director: Gary Ross
Cast: Jennifer Lawrence, Josh Hutcherson, Liam Hemsworth, Stanley Tucci, Wes Bently, Elizabeth Banks, Woody Harrelson, Toby Jones
Rate: 2,5/5


The Hunger Games muncul sesaat sesudah usainya saga Harry Potter dan sebelum tamatnya franchise Twilight. Sebuah start yang bagus mengingat kedua seri besar itu harus dilanjuti dengan waralaba yang diharapkan bombastis juga. Tidak banyak novel berseri yang akhirnya sukses menjamu fans dan penonton awam ketika diangkat ke media film, seperti Eragon dan The Golden Compass misalnya, yang kelanjutannya masih berupa hembusan angin. Seperti mengikuti jalur seniornya, The Hunger Games yang di novelnya ditujukan ke pembaca remaja, versi filmnyapun ikut-ikutan dibuat seaman mungkin untuk menarik banyak peminat dan dilabeli PG-13 saja. Untuk beberapa sektor, ide yang jitu melihat box office filem ini yang lumayan saat masa edarnya. Namun, untuk beberapa kondisi dan keperluan film, rating PG-13 tadi malah menjadi kendala mengapa filmnya menjadi sangat kekanak-kanakan.

Sekumpulan anak dari berbagai distrik di suatu jaman distopian, diharuskan mengikuti kontes musiman yang diselenggarakan panitia setempat dan kru tv untuk saling menyelamatkan diri di lokasi hutan yang sudah dipersiapkan. Mereka 'wajib' saling bunuh jika ingin menjadi pemenang tunggal. Adalah Katniss Everdeen yang menggantikan sang adik yang awalnya terpilih secara acak untuk mewakili daerahnya bersama pasangannya Peeta. Katniss harus rela meninggalkan keluarga dan sahabatnya, Gale, untuk ikut serta di turnamen kematian tersebut. Singkat cerita, selama masa survival in the woods itu para kontestan saling baku hantam, dan menyisakan beberapa orang saja, termasuk Katniss dan Peeta. Perjuangan mereka dengan segala trik dan ide untuk menyambung nyawa berujung sebuah kebahagiaan yang kita (penonton-red) sudah tau bagaimana akhir film ini. Happy ending!

Sebagian besar film ini mengingatkan saya kepada film fenomenal Battle Royale yang memiliki rating 'Dewasa'. Dan memang di situ kandungan thriller-nya sangat kental. The Hunger Games, alih-alih ingin menyamakan (walaupun si penulis novelnya tidak berniat demikian) unsur yang ada di Battle Royale, adegan kekerasannya serba tanggung. Suzanne Collins selaku novelis yang bertanggung jawab atas ceritanya sudah memberikan permulaan untuk dieksekusi Gary Ross sebaik mungkin. Sayangnya Ross terlalu berpatokan pada pasar. Tidak ada ketegangan saat melihat tokoh utama kita lari-larian menyelamatkan diri dari berbagai serangan dari musuh. Nihil adrenalin yang diciptakan. Apalagi adegan aksi di film ini terlampau sedikit mengingat durasi film ini lebih dari 2 jam. Drama untuk satu jam pertama saya nilai terlalu berlebihan, apalagi jika cuma diisi hal-hal kosong yang tidak bergitu penting.

Set dekorasi film ini juga tidak mengisyaratkan jika film ini dimaksudkan untuk menjadi waralaba besar. Pesona hutan dan 'kantor' para kru dibuat begitu saja. Poin plusnya, kostum dan make-up film ini diperhatikan dengan cukup baik sampai-sampai ingin tertawa saat melihat Stanley Tucci dan Toby Jones dengan dandanan seperti itu. Gary Ross juga pelit menyelipkan adegan-adegan berani serta dialog yang bisa membangun semangat penonton. Untung saja film ini memakai jasa Jennifer Lawrence. Aktris muda yang sudah diakui bakat aktingnya ini sukses membawa peran pahlawan dadakan seorang Katniss. Kepiawaiannya dalam memanah dan aksi bak-bik-buk cukup membuat kita percaya jika ia seorang hero. Sisa aktor lainnya tidak begitu bermasalah kendati tidak ada satupun dari mereka yang bermain total bagusnya.

The Hunger Games mungkin tidak tujukan sejauh seperti saya utarakan di atas. Walau bagaimanapun juga film akan terasa buruknya jika diolah dengan serba kekurang-matangan di departemen apapun yang melengkapinya. Jika Ross ingin serius membesarkan novel berseri ini, Catching Fire harus lebih berkualitas dari ini. Ingat, The Hunger Games bukanlah Twilight yang memunyai banyak komponen majis di dalamnya. Jika harus menaruh beban di pundak Jennifer Lawrence seorang, The Hunger Games ujung-ujungnya akan jatuh di penilaian yang sama. Happy watching!

by: Aditya Saputra

End of Watch (2012)

Director: David Ayer
Cast: Jack Gyllenhaal, Michael Pena, Anna Kendrick, Natalie Martinez, America Ferrera
Rate: 4/5


Apa yang menarik dari kehidupan kepolisian sampai sutradara-sutradara Hollywood sering sekali mengangkat dunia kelam mereka ke layar lebar. Entah sebagai contoh baik maupun cermin buruk seorang polisi, sineas sana mencoba membuka tabir sesungguhnya bagaimana wakil rakyat tersebut dalam memberantas (dan menimbulkan) keonaran. Dekade ini saja sudah puluhan film yang menceritakan sepak terjang pekerja berseragam cokelat/hitam tersebut. Denzel Washington pernah menerima Oscar atas perannya sebagai polisi kejam di Training Day, Nicolas Cage dan Michael Shannon baru-baru ini merefleksikan tabiat buruk seorang polisi. Richard Gere dan Mel Gibson pun tak mau ketinggalan dalam memerankan tokoh masyarakat ini. Sekarang, Jake Gyllenhaal dan Michael Pena kebagian tugas yang sama. Bedanya, yang ini lebih intens dan nyata.

Dibuat oleh David Ayer, orang yang juga pernah memroduksi film polisi-polisian juga lewat Street Kings (2008), film menceritakan tentang 2 orang polisi muda yang merekam aktifitas mereka selama mengabdi di kepolisian setempat. Dengan kerja sama yang baik, mereka lambat laun mendapatkan suatu penghormatan berkat keuletan mereka dalam menemukan gembong-gembong kejahatan di kota kecil tempat mereka patroli. Suatu hari, aksi pemergokan obat-obatan terlarang dan sejumlah senjata api ke kumpulan warga negro berujung panjang. Konklusi dan keputusan yang mereka ambil menyebabkan benang kusut yang mereka sendiri tidak bisa lagi merapihkannya. Kehidupan keluarga mereka yang tentram damai harus berujar kepada nasib yang memang sebagai eksekutor.

David Ayer menyulap End of Watch seperti sebuah film dokumenter berkat teknik hand held camera yang ia gunakan hampir di keseluruhan film ini. Kamera pengintai yang dipegang oleh pemeran utama menangkap kejadian-kejadian keseharian mereka baik dalam keadaan bertugas maupun saat sedang memadu kasih dengan pasangan masing-masing. Itulah yang membuat film ini begitu istimewa. Penonton diajak mengarungi apa yang mereka kerjakan, tidak hanya sebagai penonton tunggal. Keefektifan tersebut berdampak positif karena membuat tensi emosi menjadi terkontrol. Banyak adegan yang terlampau keji dan menjijikan di film ini disorot dengan sangat pintar berkat teknik tadi. Walaupun film ini tidak begitu mengandalkan sisi musikalitas, namun berkat kejelian Ayer dalam menggunakan jasa shaking camera tadi sektor musik jadi tidak begitu penting. Pun dengan kejutan-kejutan kecil yang bisa membuat saya puas bahwa masih ada sineas yang begitu peduli dengan penonton.

Pemanis kita semisal Anna Kendrick, Natalie Martinez, dan America Ferrera sudah mengerjakan tugasnya dengan cukup baik. Pendamping main casts yang super duper bermain total dan luar biasa apik. Jake Gyllenhaal dan Michael Pena menunjukkan bakat terbaik mereka di bidang ini. Keduanya melebur dan membuat kita percaya jika mereka adalah teman sejawat sehidup semati. Candaan mereka di mobil yang tersorot kamera benar-benar nyata dan tidak dibuat-buat, dialognya mengalir dengan santai dan mengharu biru. Terlebih lagi saat sudah mendekati ending film. David Ayer beruntung casting director film ini bekerja dengan sangat baik.

David Ayer naik kelas berkat filemnya kali ini. Bantuan di belbagai departemen pelengkap film yang beroperasi dengan amat baik membantu meningkatkan bobot kualitas End of Watch. Tahun depan Ayer akan mengajak Arnold Schwarzenegger untuk mengisi slot film Ten. Semoga saja akan sebagus atau bahkan melebihi kapasitas yang telah ia persembahkan lewat End of Watch. Serta merta tuah baik juga bersimbah kepada Gyllenhaal dan Pena yang dari sekarang sudah digadang-gadang untuk menempatkan posisi aktor utama & pendukung terbaik di ajang-ajang film pra-Oscar. Kita tunggu saja kelayakannya. Satu poin yang pasti, End of Watch mendewakan sekali asas persahabatan. Dan sudut pandang itulah yang menjadi pokok persoalan film ini. Happy watching!

by: Aditya Saputra

Jumat, 07 Desember 2012

Hope Springs (2012)


Director: David Frankel
Cast: Meryl Streep, Tommy Lee Jones, Steve Carell
Rate: 2,5/5


Meryl Streep (dengan 3 piala Oscar yang telah diraihnya) adalah salah satu dari sekian banyak aktris yang di usia senjanya masih menapakkan karir di dunia showbiz Hollywood. Tancapan bakat aktingnya dalam mengisi setiap film yang ia lakoni acap kali berakhir pada sebuah nominasi di ajang-ajang perfileman manapun. Dengan segala sertifikat terbaik yang pernah diterimanya, bukan berarti Streep tidak pernah terpleset di lini karirnya. Walaupun aktingnya sudah bagus, kesialan jatuh pada naskah film yang serba lemah, seperti saat ia memerankan seorang Margaret Thatcher di The Iron Lady dan di film terbarunya sekarang, Hope Springs. Film ini dibuat oleh David Frankel yang pernah sekali bekerja sama dengan Streep di The Devil Wears Prada, peran ringan yang mampu membawa Streep kembali bercokol di deretan nominator aktris terbaik. Sayangnya, di kerja sama mereka yang kedua ini malah terkesan biasa saja kalau tak mau dibilang jelek. Tidak istimewa apalagi bernafaskan festival.

Dari segi cerita saja mungkin film ini sudah terkesan segmented walaupun tujuan Frankel pasti mengharapkan tema ini akan bersifat universal. Sepasang suami istri yang telah memasuki masa pubertas kedua sedang dilanda masalah percintaan. Kay (Streep) dan Arnold (Lee Jones) terpaksa pisah ranjang tapi tetap satu atap hanya karena keduanya tidak lagi memiliki gairah satu sama lain. Walaupun Kay bersikeras menyatukan kembali hubungan keduanya, namun Arnold tetap pada pendiriannya untuk menjalani hidup seperti saat ini. Kay yang jenuh memutuskan untuk mengikuti pola kisah cinta ke Dr. Feld (Carell). Perjalanan rumit keduanya untuk menemukan kembali romantisme yang hilangpun dimulai.

Sayangnya, aktris sekaliber Meryl Streep dan Tommy Lee Jones pun tidak bisa menyelamatkan film ini lebih jauh lagi. Kapasitas naskahnya yang sudah melemah dari awal menjadi tersangka utama mengapa film ini kehilangan tajinya. Tidak susah untuk menjustifikasi film ini sebagai salah satu film terjelek aktor-aktor dedengkot itu. Bandingkan saja performa Streep di film ini dengan di It's Complicated yang serupa dan sama ringannya. Bedanya, It's Complicated lebih terarah dan tidak membuat Streep terkesan konyol. Dan memang iya, Steve Carell dengan peran anti-slapstick-nya di sini semacam isu baru. Melihat track record-nya yang sejenis, peran kalem bijaksananya di sini seperti terobosan singkat. Kita tidak akan melihat muka karetnya, yang ada bagaimana ia merespon dan memberi saran motivasi untuk pasiennya dengan amat santai. Hmmm, Carell memang tidak pernah mengecewakan.

Seperti yang saya bilang, film ini tidak memiliki komponen penting yang membuat filmnya menjadi layak ditelaah lebih jauh. Frankel yang sudah makan asam garam di sektor penyutradaraan beberapa episode serial tv dan membuat Streep seperti 'setan busana' di The Devil Wears Prada, tidak meneruskan keberuntungannya saat mengolah naskah yang ada. Kinerjanya saat memadukan Streep dan Lee Jones tidak terasa efektif. Frankel tidak berusaha membuat permasalahan sang tokoh utama terasa believable. Walaupun film dibuat semanis dan sekocak mungkin, tetap saja jatuhnya kasar dan sedikit melecehkan kaum tua. However, film ini juara di penggarapan musik dan pemilihan lagu-lagu pengiring. Beberapa judul lagu yang mengalun memang pas dengan suasana adegan dan mendukung atmosfer film menjadi lebih sedu sedan.

Frankel, jika saja tidak terlalu pongah karena memiliki 3 nama besar di filmnya, kemungkinan besar akan fokus kepada narasi film. Sialnya, aktor mumpuni saja tidak cukup untuk menyelaraskan sebuah film. Banyak contoh mutlak bagaimana sebuah film diisi aktor-aktor mapan dalam berakting, jika penggarapannya tidak maksimal tetap saja akan menjadi bual-bualan kritikus. Frankel dengan bijak memaksimalkan kerja kerasnya, tapi dia lupa jika penonton -apalagi temanya sangat orang tua sekali- dewasa tidak hanya sekadar mau diceremahi tapi juga diajak berdiskusi bersama setelah menonton filmnya. Yah, persoalan seks di film ini terlalu sensitif bagi orang tua seumur mereka. Apalagi film ini bukan konsumsi satu wilayah negara saja. Happy watching!

by: Aditya Saputra