Kamis, 10 Juni 2010

The Imaginarium of Doctor Parnassus (2009)


Director : Terry Gilliam
Cast : Christopher Plummer, Heath Ledger, Johnny Depp, Colin Farrell, Jude Law, Lily Cole, Andrew Garfield
Rate : 3/5

Voila! Terry Gilliam kembali dengan karya teranyarnya setelah 5 tahun berhenti sejenak sejak Tideland. Jika boleh jujur, hampir semua film besutan Terry agak susah dicerna. Walaupun penuh dengan imajinasi tanpa batas, tapi kegelapan yang ditampilkan di setiap filmnya agak membuat kening berkerut. Berkonsentrasi dengan tinggi, apa yang mau diutarakan oleh si sutradara. LIat saja Brothers Grimm, yang meskipun film tentang seorang pendongeng dan visual yang boleh dikatakan mengagumkan, tapi akhirnya terpuruk masuk ke lobang hitam seperti filmnya sendiri. Kali ini, lewat The Imaginarium of Doctor Parnassus, Terry berusaha sekuat tenaga berdedikasi di jalurnya. Tetap bernuansa gelap, tapi fokus di pengkarakteran.

Adalah seorang tua yang telah berusia 1000 tahun lamanya, Doctor Parnassus, memiliki sebuah sirkus keliling yang mengitari kota London. Ia tak sendirian tentu saja, karena ia ditemani oleh anaknya Valentina, sahabat anaknya Anton serta kaki tangan mini Percy. Mereka berempat berkelana tanpa ada yang terlalu memperhatikan pekerjaan mereka. Sebenarnya cukup unik, karena sirkus ini memiliki sebuah kaca ajaib-katakanlah begitu, yang bisa membuat seseorang yang masuk ke dalamnya mendapatkan keindahan luar biasa. Itu berkat Doctor Parnassus! Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan seorang muda yang kelak bernama Tony.

Tony ini ditemukan ketika ia sedang menggantung di bawah sebuah jembatan.
Pendek cerita, kehadiran Tony menimbulkan keuntungan yang lumayan bagi memperpanjang umur usia sirkus keliling itu. Dengan ide yang muncul dari kepala Tony, perlahan tapi pasti sirkus pimpinan Doctor Parnassus digilai banyak orang, khususnya wanita. Sayangnya, intrik terjadi saat ketauan jika Tony adalah orang yang tidak seperti mereka kira sebelumnya. Belum lagi, pada jaman bahuelak Doctor Parnassus pernah mengadukan sebuah perjanjian dengan Mr. Nick yang bisa dikatakan sebuah setan dengan tampilan unik. Apa itu? Lebih enak jika Anda menyaksikan sendiri seperti apa kelanjutan kisah film ini.

Jika saya boleh berumbar, sebenarnya tokoh yang dimainkan oleh Heath Ledger (Tony) di film inilah yang sangat vital. Karena ialah penggerak semua kejadian yang menjadi serba-serbi perjalanan sirkus Parnassus. Tapi, yang patut diacungi jempol adalah permainan menawan dari seorang Christopher Plummer. Dengan dia, tokoh Parnassus yang renta eksentrik diterjemah dengan sangat baik. Dengan pengalaman akting yang tidak bisa dihitung jari, barang tentu tokoh Parnassus bisa dilahap dengan muda. Terbukti baru-baru ini, performanya di film The Last Station dihargai dengan sebuah nominasi Oscar 2010. Tunggu! Heath Ledger? Bukannya ia sudah meninggal tahun 2008 kemarin?

Yap. Ini adalah film terakhir Heath Ledger yang tidak sempat ia selesaikan. Hebatnya, sebelum melepas roh-nya, Ledger berhasi mengukuhkan namanya di Hollywood dengan satu Oscar di tangan berkat kerja kerasnya sebagai Joker via The Dark Knight. Lalu? Yak, perannya sebagai Tony diganti oleh tiga sahabatnya sendari yang notabene juga piawai di bidang akting. Mereka muncul ketika Tony masuk ke dalam cermin ajaib dan hidup di alam imajinasi yang berbeda. Johnny Depp, Jude Law, dan Colin Farrell, mereka bentuk lain dari Heath Ledger. Sangat menarik dan ide yang cukup berhasil. Mengingat dengan kematian Ledger, Imaginarium of Doctor Parnassus akan terbengkalai. Untunglah, Terry Gilliam berpikiran demikian.

Balik lagi ke filmnya dan seperti yang sudah dikatakan, bahwa film ini sangat memukau dalam hal visualisasi. Panorama imajiner dari otak Gilliam berhasil mewujudkan keindahan luar biasa dari orang-orang yang masuk ke cermin ajaib. Sayangnya, cerita di film ini agak absurd sehingga agak sulit diterima oleh beberapa kalangan yang belun terbiasa dengan hasil kerja Gilliam. Di luar itu, film ini bergaya dengan jiwanya sendiri, berdiri dengan kaki Gilliam sendiri, dan maju dengan langkah cepat untuk menjadi salah satu favorit bagi fans Terry Gilliam.

Menutup review saya, ingin menegaskan sedikit sebuah pepatah. Sejauh buntang dibuang, baunya akan tercium juga. Mungkin itu pelajaran yang sangat berharga yang bisa dipetik dari film yang mendapat nominasi Oscar kategori Art Direction dan Coustume Design ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar