Jumat, 04 Juni 2010

Prince of Persia : The Sands of Time (2010)


Director : Mike Newell
Cast : Jake Gyllenhaal, Ben Kingsley, Alfred Molina, Gemma Arterton
Rate : 3/5

Akhirnya, film ini saya review juga. Mengalahkan egoisme saya akan tidak memaparkan dengan rinci film adaptasi gimi. Lantas, kenapa saya melanggar 'adat' itu? Jawabannya mudah, Prince of Persia telah membuka lembaran baru bagi movie based on game yang belakangan ini selalu dijelali hasil yang buruk. Nista memang, mengingat game populer yang seharusnya populer juga di kancah perfilman, harus menelan pil pahit akibat keegoisan sutradara yang menyadurnya. Liat saja Resident Evil, yang meskipun tidak bobrok amat, tetap saja ada kekurangan yang mendasar, khususnya di kalangan penikmat game-nya. Kali ini, Prince of Persia dengan modal jor-joran dan cast yang boleh dibilang mumpuni, mengadu nasib untuk mematahkan rekord box office kelak. Seru juga.


Dibuka dengan seorang anak kecil nakal tapi lihai dalam melarikan diri yang akan dipenggal, ternyata takdir berrbicara lain. Ia akhirnya diangkat oleh raja setempat menjadi seorang anak. Dastan dengan segala kelihaiannya melompat kesana-kesisi (dia bukan kodok!) tumbuh besar di dunia kemegahan. Tetapi ia tetap begundal, nakal dan nyeleneh yang memang sifat aslinya. Bersama Garsiv dan Thus yang merupakan saudara tririnya, mereka bertiga kelak akan menggantikan posisi sang raja. Sialnya, di sela kehidupan mereka, juga ada seorang paman yang berniat buruk. Apa itu? Tonton sendiri.

Sebelum itu, mereka mengepung pihak lawan guna mendapatkan sesuatu yang jika diambil alih bisa menjadi sesuatu yang luar biasa. Di sana, Dastan akhirnya bertemu dengan Putri Tamina yang luar biasa cantiknya. Putri ini ternyata memiliki sebuah pedang-pasir yang jika dipencet tombolnya si pemencet akan mengadakan perputaran waktu ke masa lalu atau depan. Persenjataan yang menarik bukan? Di perjalan melarikan diri dari tuduhan yang tidak dilakukannya, Dastan bertemu dengan orang-orang yang entah kenapa akhirnya ikut berdedikasi menyelamatkan negara mereka tercinta.

Dengan Mike Newell sebagai sutradaranya, rasa optimistis sudah pasti dibumbung tinggi mengingat ia sebelumnya piawai mengubah lembaran novel menjadi film Harry Potter and the Goblet of Fire sekaligus saya kukuhkan sebagai seri Potter terbaik hingga kini. Tapi, perlu diingat, sebelum membuat Harry, Newell ahli dalam bidang drama seperti Love in the Time of Cholera, Monalisa Smile, Four Weddings and A Funeral, Donnie Brasco serta Pushing Tin. Sehingga jangan terlalu terlalu bosan dengan kadar drama di Persia ini. Dengan sokongan yang megalomia dari Jerry Bruckheimer, Prince of Persia bisa memanfaatkan pundi modal dengan membuat efek yang sedemikian menghibur meski ada beberapa scene agak keteran dengan efek spesialnya.

Anda percaya sosok kelam Darko, si gay Jack Twist, tentara perang di Jarhead serta adik Tobey Maguire di Brothers bisa bertransformasi menjadi sosok perkasa-lucu Dastan? Dengan penampilannya di film ini, Anda boleh bertepuk tangan. Ia sukses walaupun agak kurang greget di beberapa adegan. Jake Gyllenhaal juga didukung para pemain yang sudah mempunyai nama di jagad film dunia. Misal Ben Kingsley sebagai paman yang culas dan maruk, Alfred Molina yang lumayan lucu serta tak ketinggalan si ex gadis Bond Gemma Arterton. Setelah bermain di padang luas di Clash of the Titans, ia kembali lagi dengan paras cantiknya menyegarkan lautan pasir yang gersang. Selamat memandangi masa depanmu yang cerah, Neng!!!!

Film ini tak lantas harus puas diri dengan segala kedigdayaanya melebihi kapasitas film dari permainan konsol. Karena ada beberapa kelemahan yang saya lihat sangat signifikan dan bisa menjadi bumerang bagi dilm ini sendiri. Yang paling mutlak saja, film ini meminimalisasikan adegan Dastan lompat-melompat yang notabene di giminya sendiri, Pangeran Persia ini snagat piawai dalam meloncat dari gedung satu ke gedung lain. Tanpa jaring laba-laba tentunya. Lagi, adegan klimaks yang agak kurang mengena sehingga hanya sekali lewat mata yang menonton.

Finally, film ini boleh saja menghibur dan mencoret skeptis akan buruknya film adaptasi game. Dengan pesan moral agar tidak rakus atas kekuasaan dan harta, Prince of Persia menjadi calon kuat salah satu summer movie paling menghibur, bukan terbaik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar