Jumat, 13 Agustus 2010

The Expendables (2010)

Director : Sylvester Stallone
Cast : Sly dan teman-teman berbodi serupa
Rate : 2/5 + masing-masing barbel 10 kg



Dahulu kala, anak emas Hollywood, Sylvester Stallone lahir kala ia menorehkan tinta naskahnya menjadi sebuah film bintang Oscar. Rocky seakan menjadi sebuah pahlawan baru bagi Amerika, dan sejak itu pula nama Sly melambung ke angkasa dan dibanjiri orderan film oleh sineas lokal. Tapi sialnya, kepopuleritasan tidak menjadi jaminan sebuah film akan menjadi bermutu. Terbukti Stallone sering kali memakan buah simalakama dengan meneken kontrak untuk film kacangan. Untunglah nasib Sly masih bisa terselamatkan dengan kehadiran Rambo, pahlawan era baru untuk bangsanya. Dan sekarang, seperti ingin bernostalgia serta memamerkan kembali ototnya, Sly menetaskan produk andalannya di tahun 2010 ini, The Expendables.

6 pejantan tangguh yang menamakan diri mereka The Expendables adalah sebuah gerombolan kelas berat yang dikhususkan untuk menumpas kejahatan dengan cara baku hantam. Suatu ketika, mereka diberi pekerjaan untuk menghabisi oknum di sebuah pulau. Dengan bantuan seorang gadis luar biasa seksi (bahkan di mata saya sedikit seperti Megan Fox) dan penyamaran yang gak-asik-sama-sekali, The Expendables menyingsingkan lengan baju dan bertaruh nyawa demi kebaikan (dan upah kerja). Kondisi dalam The Expendables juga tidak lurus-lurus saja, karena ada seorang yang ternyata berlainan misi ditambah tukang tato doyan perempuan yang cukup sangar dengan perut gembulnya.

Film ini telah memuntahkan semua aspek yang diidamkan untuk menjadi film dengan target penonton lelaki dewasa. Jagoan-jagoan hobi fitnes yang tangguh, action yang meledak-ledak, cerita perusak nalar serta ada sisipan wanita cantik dan seksi. Hal tadi hanya sekedar klise yang tak tuntas dipertanggungjawabkan Sly yang membuat The Expendables klemar-klemer di mata saya.

Cerita. Cobaan terberat dalam mencerna film ini adalah dari segi cerita dan penggodokan naskahnya. Entah apa yang sedang Sly pikirkan dengan banyolan dialog yang tidak jelas sebab akibatnya. Malah lagi cerita tadi diperparah dengan pengeditan adegan yang membuat otak lelah. Layaknya bajing, adegan The Expendables juga melompat-lompat sekena hatinya. Kultur B-movie yang menjustifikasikan jika film ini memang di sini stratanya, malah menyebabkan kastarisasi tadi menjadi sedikit simpang siur. Stallone melupakan hal klimaks untuk sebuah film pemicu adrenalin dengan menghadirkan spot-spot adegan pengguncang darah dan jantung. Adu jotosnya pun tidak mengena di hati kendati Jet Li sudah memperagakan martial art-nya dengan cukup luwes. Sangat disayangkan, jika harus menerima kenyataan bahwa pengisi film ini adalah teman-teman seangkatan yang memang lebih menonjolkan otot daripada otak.

Efek. Mungkin hal ini tidak terlalu dititikberatkan dengan logika penonton, tapi apa yang disajikan lewat The Expendables seperti menyaksikan sebuah gimi konsol yang dikomputerisasi ala kadarnya. Tidak ada seru-serunya sama sekali, bahkan condong ke membosankan. Setali tiga uang dengan joke-joke basi yang keluar dari rongga mulut para aktor. Coba kalian semua belajar dulu sama Chris Rock, atau mungkin masuk ke sanggar Srimulat? Yap, mereka memang bukan aktor komedi, tapi tidak ada salahnya bukan belajar dialek lucu untuk memancing tawa penonton? Tapi untunglah, di tengah kegersangan parade akting, Eric Roberts hadir bak oase di saat genting. Perannya sebagai Monroe jelas tertangkap di rangka tulang mukanya.

Tong kosong nyaring bunyinya, idioma yang sangat cocok untuk dicapkan kepada The Expendables. Salah satu film musim panas yang sangat mengecewakan. Walaupun sudah ada dua nominator Oscar, ternyata hal itu tidak membantu apa-apa. Khusus untuk Slyvester Stallone, sudah saatnya Anda memberikan tongkat estafet masa keemasan kepada yang lebih pantas. Dan, silahkan Anda tidur saja di ranjang untuk beristirahat dan meregangkan otot yang sudah seperti kawat itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar